How to Write a Good Paper and Get it Published:
Publishing, Peer-Review and Innovation

Reporter: Putu Eka Andayani

hsr14-2simon fraser University (www.sfu.ca)

  Pengantar

Sesi ini dibawakan oleh para narasumber dari BioMedCentral, sebuah open access journal yang berbasis di Inggris. Para narasumber berbagi mengenai mengapa sebuah manuscript diterima atau ditolak dan bagaimana nilai sebuah manuscript dari sudut pandang reviewer. Banyak aspek teknis penulisan hasil penelitian dan proses publikasi dibahas pada sesi ini, sehingga cocok diikuti oleh penulis/peneliti pemula atau yang belum berpengalaman menjadi first author dalam sebuah publikasi ilmiah. Sesi ini berlangsung sejak pukul 08.00 – 17.00 waktu setempat, di salah satu ruang kuliah di Simon Fraser University, Vancouver.

Apa yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Mengirim Artikel ke Jurnal Ilmiah?

Diana Marshall (publisher di BMC series journal) menjelaskan bahwa tulisan yang menarik bagi jurnal ber-impact tinggi adalah yang mengangkat isu yang yang in-line dengan agenda internasional maupun regional. Bagi reviewers tulisan menarik untuk dibaca lebih lanjut jika abstract-nya ditulis dengan baik dan jelas, karena abstract ini yang akan menentukan apakah manuscript tersebut akan diteruskan untuk proses peer-review atau dikembalikan pada author. Oleh karenanya, penting bagi author untuk merencanakan penulisan dengan baik, yaitu dengan menjelaskan dengan baik apa masalah yang diteliti, mengidentifikasi siapa readers-nya, dan yang terpenting mengenali journal yang dituju, apakah memiliki scope yang sesuai dengan manuscript yang sedang atau akan ditulis.

Struktur dari sebuah tulisan ilmiah merefleksikan proses ilmiah, dimana terdiri dari latar belakang, metode dan hasil, diskusi, kesimpulan, judul dan abstrak. Setiap jurnal memiliki aturan sendiri sehingga penting bagi author untuk mempelajari dengan benar setiap guideline pada jurnal tersebut sebelum men-submit sebuah manuscript. Selain itu, terdapat banyak guideline yang berlaku secara umum dan tersedia secara online. Contohnya STROBE (guideline untuk penelitian observasional) dan PRISMA (guideline untuk systematic review dan meta analysis). Sebagai instruments, semua guideline ini sangat penting untuk diketahui dan dipelajari oleh author agar probabilitas manuscript ditolak karena masalah teknis penulisan makin mengecil.

Hal yang tidak boleh terlupakan adalah masalah etik. Banyak jurnal mensyaratkan adanya pemenuhan standar etika penelitian maupun penulisan artikel ini. Masalah etika yang sering terjadi selain berkaitan dengan responden adalah plagiarisme. Pengulangan sekecil apapun dari karya tulis orang lain tidak diperkenankan, meskipun dengan alasan referensi yang digunakan berbahasa Inggris yang bukan bahasa ibu dari penulis. Penggunaan data pendukung seperti foto juga harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai ada sepotong informasi yang dapat mengarahkan pada individu sehingga responden pada penelitan dapat dikenali oleh pembaca. Dalam hal etik, editor jurnal akan menggunakan COPE Guideline sebagai pedoman dan software pendeteksi plagiarisme.

Diana mengingatkan bahwa author jangan mudah menyerah jika manuscript-nya ditolak. High impact journals memiliki rate penolakan sebesar 90-95%. Jadi artikel ditolak merupakan hal yang sangat biasa. Dalam menilai sebuah manuscript, seorang editor akan mempertimbangkan hal-hal berikut: 1) apakah fit dengan journal scope? 2) menggunakan bahasa Inggris yang jelas dan baik [bukan yang canggih karena mayoritas pembaca tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai first language], 3) apakah mengandung muatan ilmiah yang cukup dan 4) apakah membawa impact yang tepat. Editor memiliki peranan penting dalam menentukan perjalanan selanjutnya dari sebuah manuscript, karena sebelum diterima oleh reviewer, manuscript tersebut dinilai dulu oleh editor. Selanjutnya, teknis penilaian manuscript diserahkan kepada reviewer, meskipun keputusan akhir apakah artikel apakah dipublikasikan atau tidak merupakan keputusan editor. Tugas editor lainnya adalah memilih manuscript mana yang akan di-peer-review, mengelola peer-review, membuat keputusan final, mendefinisikan tujuan dan journal scope serta bekerja untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas jurnal.

Getting Your Article Published

Ada banyak jurnal yang lingkupnya kebijakan dan manajemen pelayanan kesehatan, misalnya BMC Health Service Research, Cost Effectiveness and Resources Allocation hingga Human Resources for Health. Menurut Liz Hoffman (Journal Development Manager, BMC), jurnal dengan Editor yang jelas dan terindeks di Scopus, open access agar dapat dilihat (dan disitasi) oleh banyak peneliti, kecepatan proses editorial dan review serta model yang digunakan dalam peer review. Setelah mendapat feedback dari editor dan reviewer, author harus memahami masukan dan saran-saran mereka dan melakukan follow up. Jika ada masukan yang tidak dapat dilakukan, author harus memberikan argumentasi yang tepat dan jika perlu disertai dengan literatur yang dapat menguatkan argumentasi tersebut.

Pada sesi berikutnya Liz Hoffman juga mendeskripsikan mengenai proses peer review. Selain bermanfaat bagi author karena ada masukan untuk perbaikan artikelnya, peer review juga bermanfaat bagi reviewer dan jurnal itu sendiri, antara lain menjaga agar reviewer tetap update dengan perkembangan isu-isu, dan jurnal mampu menerbitkan artikel bermutu. Ada berbagai model peer review, yaitu Closed (single, double blind), open, portable dan innovation. Contoh guideline untuk peer review dapat dilihat di sini: http://publicationethics.org/files/Peer%20review%20guidelines_0.pdf 

Innovation in Publishing and Peer Review

Jurnal yang bersifat close-accessed hanya dapat dilihat isinya jika membeli lisensi atau berlangganan. Penggunaan artikelnya dilindungi oleh UU tentang hak cipta. Namun kini makin banyak jurnal yang bersifat open access dimana author membayar agar artikelnya terpublikasi dan copy right tetap ada pada author. Alasan mengapa data di-sharing antara lain enable reproducibility, accelerate scientific progress, give researchers more credit dan get more. citation Jurnal kesehatan biologi dan life science umumnya sumber dananya dari grant, lalu discretionary funds (institusi). Siapa yang bisa dipercaya (dalam dunia open access)? yaitu jika nama editor dan editorial board member-nya jelas, ownership jelas, melalui peer review, inklusi di DOAJ (ada 9200-an jurnal yang terindeks di directory of open access journal) community curated journal.

  Diskusi / Take home messages:

  1. Buka wawasan seluas-luasnya mengenai berbagai jurnal yang memuat publikasi bidang kebijakan dan manajemen pelayanan kesehatan, mulai dari skala impact-nya, siapa editor dan owner-nya, siapa saya yang biasanya menjadi reviewer (jika memungkinkan untuk diketahui) dan berbagai informasi sejenis.
  2. Pelajari guideline jurnal yang dituju karena setiap jurnal seringkali memiliki spesifikasi yang berbeda. Juga pelajari format-format yang sudah disediakan, atau ikuti format dari berbagai artikel yang sudah dipublikasi di jurnal tersebut.
  3. Baca. Baca. Baca.
  4. Practice. Practice. Practice. Bahasa Inggris bukan mother language sebagian besar penelitu Indonesia, sehingga wajar jika ada kesulitan penulisan. Padahal, penggunaan Bahasa Inggris yang baik (dan sederhana) justru menjadi faktor penting diterimanya manuscript tersebut. Oleh karenanya perlu sering berlatih menulis, mengikuti kursus atau tes-tes Bahasa Inggris yang relevan, dan bahkan meminta bantuan jasa penerjemah tulisan ilmiah.

*catatan selengkapnya ada pada penulis

Reportase Terkait

Comments   

# Rukmono 2016-11-22 05:24
Terimakasih mbak Putu atas sharingnya, ini mengingatkan kita tentang banyak hal yang mungkin selama ini agak terabaikan.
Reply

Add comment


Security code
Refresh