Reportase

Leimena Conference 2026

BRIN Auditorium, Jakarta    |   27-29 Juli 2026

Keynote Speech

PHC Today, Tomorrow, and Beyond: A Global Vision for Our Region – Lluis Vinyals Torres  (Director Division of Health Systems and Services, WHO WPRO)

WHO WPRO menyoroti bahwa cakupan Kesehatan semesta tidak mungkin dapat tercapai tanpa layanan primer yang kuat. OOP turun ke 20% dalam 40 tahun terakhir, salah satunya didorong oleh pengurangan kemiskinan dan tersedianya mekanisme cakupan Kesehatan semesta.  Untuk memastikan layanan primer yang kuat, Indonesia harus segera mengatasi isu kesenjangan dan maldistribusi SDM Kesehatan, karena hanya 65% Puskesmas di Indonesia yang memiliki seluruh profesi Kesehatan yang diperlukan untuk menyediakan layanan yang komprehensif.  Walau pun Indonesia telah menerapkan Jaminan Kesehatan Nasional, di antara kelompok termiskin populasi, 80% lebih masih memiliki risiko pengeluaran katastropik Ketika mengakses layanan Kesehatan. Oleh karena itu, WHO WPRO berharap Indonesia terus melanjutkan upaya dan prioritisasi layanan primer. WHO WPRO akan mendukung dalam kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia untuk menerjemahkan bukti dan praktik baik global yang cocok untuk diterapkan di Indonesia.

Regional Policy Dialogue on Primary Health Care – Learning from the Western Pacific: Innovations in Integrated Primary Health Care
(Moderator:  Lluis Vinyals Torres   (Director, Division of Health Systems and Services, WHO WPRO))

Japan – Haruka Sakamoto – Healthy Ageing and Community-Based Integrated Care

Fokus Utama dari pembicara adalah tentang sistem perawatan terintegrasi berbasis komunitas untuk menghadapi populasi yang menua (aging population). Jepang memiliki system cakupan Kesehatan semesta pada tahuan 1961 ketika populasinya masih “muda”, namun kini harus mengadaptasi layanannya karena populasinya semakin menua.

Poin Pembelajaran (Key Takeaways):

  • Pengembangan layanan jangka panjang (long-term care insurance) yang terhubung langsung dengan fasilitas kesehatan primer.
  • Layanan terintegrasi yang berbasis komunitas di Jepang difokuskan kepada kombinasi antara GP dan home visit, frailty screening untuk usia 75 tahun ke atas, perumahan yang diadaptasi untuk kebutuhan lansia, dan daily allowance support serta system transportasi yang juga disesuaikan. Layanan berbasis komunitas ini dikomandoi oleh care manager (seorang perawat), dan sistemnya dikepalai oleh masing-masing municipality, bukan oleh sektor Kesehatan.
  • Kolaborasi erat antar-sektor di tingkat komunitas (community-based) guna memastikan lansia tetap mandiri, aktif, dan mendapatkan akses perawatan kesehatan yang berkesinambungan di lingkungan tempat tinggal mereka.

 

Fiji – Roderick Salenga, Delivering Primary Health Care in Small Island and Remote Settings

Fokus Utama pembicara adalah strategi distribusi layanan kesehatan primer di wilayah kepulauan kecil dan daerah terpencil (remote settings), karena Fiji merupakan salah satu negara kepulauan kecil di Pasifik.

Poin Pembelajaran (Key Takeaways):

  • Adaptasi model pelayanan kesehatan yang fleksibel untuk mengatasi tantangan geografis, keterbatasan logistik, serta akses transportasi.
  • Penguatan peran petugas kesehatan garis depan (frontline health workers) dan pendekatan penjangkauan (outreach services) guna menjangkau populasi yang terisolasi secara geografis.
  • WHO mendukung 21 negara kepulauan di Pasifik melalui Multi country Cooperation Strategy (MCCS) 2024 – 2029. Fiji sebagai negara kepulauan kecil (populasi kurang dari 1 juta penduduk) menjadikan layanan primer sebagai tulang punggungnya.
  • Bulan lalu, dokumen kebijakan strategis Fiji yang baru mengubah focus dari fragmented program menjadi coordinated team-based primary care, dan pola layanan yang seragam diubah menjadi fleksibel sesuai kebutuhan wilayah.
  • Essential health benefit package kemudian disesuaikan untuk mencerminkan pola layanan tersebut. Hal ini penting karena titik awal essential health benefit tidak dilihat sebagai paket manfaat seragam yang cenderung ‘over-promised’ untuk sisi penyedia layanan yang belum tentu siap untuk melaksanakannya.

 

China, Ruikan Yang, NPO WHO Office China – Integrated People-centered care

Fokus Utama pembicara adalah transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan yang berpusat pada masyarakat dan terintegrasi (Integrated People-Centered Care / IPCC). Hal ini penting karena kebutuhan Kesehatan yang berubah membutuhkan cara yang berbeda untuk menyediakan layanan, padahal saat ini terjadi beberapa mismatch antara kebutuhan dengan setting layanan. Sebagai contoh, dengan kelompok Masyarakat yang semakin menua membutuhkan layanan yang bersifat long-term dan continuous care, sedangkan system Kesehatan saat ini diorganisir untuk layanan yang bersifat episodic.

Poin Pembelajaran (Key Takeaways):

  • Pentingnya integrasi layanan mulai dari tingkat pencegahan, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif dalam satu sistem rujukan yang mulus. PCIC difokuskan pada kesetaraan dan akses, integrasi dan kontinuitas, kualitas dan efisiensi, dan tujuan akhirnya adalah ketahanan Kesehatan.
  • Komponen PCIC adalah model layanan sepanjang life course, didukung oleh team cased care and input dari spesialis, didukung oleh pembayran menginsentif continuity of care, quality and outcome, serta digitalisasi.
  • PCIC menggunakan siklus belajar : global evidence menginformasi reform design, proses adaptasi menjadi local reform, dan akhirnya ditetapkan sebagai national policy.

 

Mr. Jinam Choi, Republic of Korea – Digital tools supporting quality improvement

Fokus Utama pembicara adalah pemanfaatan digitalisasi untuk meningkatkan mutu dan efisiensi layanan primer.

Poin Pembelajaran (Key Takeaways):

  • Integrasi teknologi dan pengelolaan data kesehatan berbasis digital membantu tenaga medis dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat.
  • Di Korea, HIRA (big data infrastruktur) menjadi jembatan antara data Kementrian FDA, penyedia layanan/faskes, NHIS (system informasi asuransi), Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehakiman (untuk informasi imigran), Kementerian Dalam Negeri (untuk informasi penduduk). HIRA menjalankan system untuk 140juta kasus per tahun, dan memungkinkan pemanfaatannya untuk AI.
  • Namun, untuk memastikan HIRA dan bridging berbagai system ini, diperlukan standarisasi data.
  • Digitalisasi mempercepat pemantauan indikator mutu layanan, pelaporan, serta akses pasien terhadap rekam medis yang terintegrasi.

 

Dr.  Mrunal Shetye, UNICEF Indonesia – Strengthening Community Health Systems for Integrated Primary Health Care

Fokus Utama pembicara adalah bagaimana penguatan sistem kesehatan komunitas untuk mendukung integrasi layanan primer (ILP) di Indonesia.

Poin Pembelajaran (Key Takeaways):

  • UNICEF menyampaikan pentingnya community-outreach sebagai tulang punggung layanan primer. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan desa sebagai garda terdepan promotif-preventif.
  • Pentingnya dukungan lintas sektor dan kemitraan strategis sektor Kesehatan dengan sektor lain (seperti bersama UNICEF) dalam memastikan sistem kesehatan di tingkat akar rumput memiliki resiliensi dan sumber daya yang memadai.


Reporter:

Shita Dewi (PKMK FKKMK UGM)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.