Kelangsungan hidup pasien kanker payudara masih menunjukkan ketimpangan yang signifikan antarnegara, dan faktor yang menyebabkan kesenjangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan karakteristik biologis tumor. Sebuah studi mengkaji bagaimana karakteristik biologis, stadium saat diagnosis, akses terhadap pengobatan multimodal, layanan survivorship, dan kapasitas sistem kesehatan saling berinteraksi di negara berpendapatan rendah dan menengah (low- and middle-income countries/LMICs), dengan Indonesia sebagai studi kasus. PubMed/MEDLINE serta sumber resmi dari World Health Organization (WHO), International Agency for Research on Cancer (IARC), Union for International Cancer Control (UICC), dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ditelusuri hingga 20 Juli 2026. Bukti yang memenuhi kriteria mencakup kerangka kerja internasional, tinjauan sistematis, studi berbasis populasi, serta studi observasional yang relevan secara regional mengenai epidemiologi, diagnosis, patologi, pengobatan, survivorship, pembiayaan, tenaga kesehatan, atau kebijakan pengendalian kanker. Bukti dipilih dan diinterpretasikan menggunakan pendekatan tinjauan naratif terstruktur berdasarkan prinsip SANRA.
Hasilnya, menurut estimasi GLOBOCAN 2022, terdapat 66.271 kasus baru kanker payudara pada perempuan dan 22.598 kematian akibat kanker payudara di Indonesia. Studi di Indonesia menunjukkan adanya keterlambatan diagnosis yang cukup besar, ketimpangan sosial-demografis dalam stadium saat pertama kali datang, akses yang belum optimal terhadap pengobatan yang disesuaikan dengan biomarker, masalah waktu tunggu dan penyelesaian radioterapi, serta ketidaksesuaian antara biaya perawatan di rumah sakit dan penggantian biaya. Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, usia pasien yang lebih muda dan variasi distribusi subtipe kanker dapat memengaruhi risiko. Namun, diagnosis pada stadium lanjut dan berbagai hambatan dalam rangkaian pelayanan kanker sering kali memberikan dampak yang lebih besar pada tingkat populasi. Perbaikan layanan kanker payudara memerlukan strategi yang terintegrasi, bukan intervensi yang dilakukan secara terpisah. Target WHO Global Breast Cancer Initiative, yaitu lebih dari 60% kanker invasif didiagnosis pada stadium I–II, penyelesaian evaluasi diagnostik dalam 60 hari, dan penyelesaian lebih dari 80% pengobatan multimodal yang direkomendasikan, dapat menjadi tolok ukur yang terukur. Bagi Indonesia, prioritas meliputi deteksi dini berdasarkan gejala, rujukan dan diagnosis jaringan secara cepat, pemeriksaan ER/PR/HER2 yang terjamin mutunya, alur pengobatan berbasis stratifikasi sumber daya, perluasan layanan radioterapi, navigasi pasien, integrasi layanan survivorship, serta penguatan akuntabilitas yang terhubung dengan registri kanker.
Selengkapnya https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2468294226003072