Sebuah studi dilakukan untuk mengembangkan suatu aturan prediksi dengan menggunakan faktor intrapersonal, interpersonal, organisasi, komunitas, dan kebijakan untuk membedakan anak Indonesia usia <2 tahun yang berisiko tinggi dan rendah mengalami imunisasi tidak lengkap. Aturan prediksi dikembangkan menggunakan data potong lintang dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Data status imunisasi diperoleh dari kartu imunisasi yang diisi oleh tenaga kesehatan saat pemberian imunisasi. Populasi sampel dalam penelitian ini terdiri dari 3.790 responden, dan 2.414 anak (63,7%) memiliki status imunisasi tidak lengkap. Beberapa faktor, seperti usia ibu yang masih muda, tidak memiliki telepon seluler, keterbatasan kunjungan antenatal, tidak adanya pemeriksaan post natal dalam dua bulan setelah kelahiran, tidak menerima vaksin tetanus selama kehamilan, serta status sosial ekonomi rendah, secara independen berhubungan dengan imunisasi tidak lengkap. Aturan prediksi baru yang sederhana dan mudah digunakan ini berpotensi menjadi alat yang bermanfaat untuk melengkapi strategi yang ada dan mendorong intervensi peningkatan cakupan imunisasi yang lebih terarah, khususnya bagi orang tua yang memiliki kemungkinan tinggi memiliki anak dengan status imunisasi tidak lengkap di Indonesia.
Selengkapnya https://www.frontiersin.org/journals/public-health/articles/10.3389/fpubh.2024.1485416/full