Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) di seluruh dunia, dan hipertensi adalah faktor risiko penyakit kardiovaskular yang paling penting serta dapat dimodifikasi, baik secara global maupun di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah. Studi dilakukan untuk menelaah tren nasional dan determinan diagnosis, pengobatan, serta pengendalian hipertensi di Indonesia, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pelayanan hipertensi pada tiga gelombang survei kesehatan nasional. Desains tudi menggunakan analisis potong lintang berulang dari tiga survei kesehatan nasional yang representatif secara nasional (2013, 2018, dan 2023). Orang dewasa usia ≥18 tahun yang termasuk dalam Survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2013, 2018, dan 2023. Peserta dengan pengukuran tekanan darah lengkap serta informasi mengenai diagnosis dan pengobatan diikutsertakan; mereka dengan data yang tidak lengkap dikeluarkan. Ukuran sampel tertimbang merepresentasikan populasi dewasa Indonesia berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, dan tempat tinggal perkotaan–perdesaan. Prevalensi kasar hipertensi meningkat dari 27,9% (95% CI 27,7%–28,2%) pada tahun 2013 menjadi 31,6% (95% CI 31,4%–31,8%) pada tahun 2023. Tingkat diagnosis menurun dari 33,0% pada tahun 2013 menjadi 24,1% pada tahun 2018, kemudian sedikit meningkat menjadi 26,9% pada tahun 2023. Tingkat pengobatan meningkat dua kali lipat dari 10,4% menjadi 22,4% selama satu dekade, yang setara dengan sekitar 10 juta orang dewasa tambahan yang menerima terapi antihipertensi. Namun, tingkat pengendalian hanya meningkat secara terbatas, dari 2,3% menjadi 4,2%, sehingga lebih dari 95% orang dewasa dengan hipertensi masih memiliki tekanan darah yang tidak terkontrol. Perempuan, penduduk perkotaan, dan individu pada kuintil kekayaan lebih tinggi secara konsisten menunjukkan hasil yang lebih baik pada seluruh tahap pelayanan. Indonesia menghadapi beban hipertensi yang terus meningkat, dengan sebagian besar kasus masih belum terdiagnosis. Meskipun cakupan pengobatan telah meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, tingkat pengendalian tetap stagnan, dan kesenjangan antar kelompok ekonomi masih berlanjut. Penguatan strategi jangka panjang sangat diperlukan untuk meningkatkan deteksi dini, pengobatan, dan pengendalian hipertensi secara merata di seluruh populasi.
Selengkapnya https://bmjopen.bmj.com/content/15/12/e109588.abstract