Menjamin akses gratis terhadap obat-obatan esensial merupakan salah satu pilar utama cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage/UHC). Studi ini meneliti faktor-faktor yang menyebabkan variasi ketersediaan obat esensial di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia, dengan fokus pada fungsi Sistem Farmasi Lokal (Local Pharmaceutical Systems/LOPHAS) serta pengaruh kondisi sosial ekonomi dan geografis. Para enumerator mengunjungi 514 dinas kesehatan kabupaten/kota dan 9.831 puskesmas untuk melakukan penilaian fasilitas kesehatan secara nasional. Data tersebut dikombinasikan dengan informasi yang tersedia secara publik terkait faktor spasial, geografis, sosial ekonomi, dan sistem kesehatan.
Hasilnya, rata-rata 66% dari 50 obat yang disurvei tersedia di puskesmas, dengan variasi antar kabupaten/kota dari 83% di daerah dengan kinerja terbaik hingga 43% di daerah dengan kinerja terendah. Puskesmas yang memiliki apoteker, pedoman yang jelas, serta infrastruktur penyimpanan yang memadai menunjukkan ketersediaan obat yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang tidak memiliki. Faktor penting lainnya meliputi penerapan prinsip manajemen persediaan (misalnya First-Expired, First-Out), otonomi dalam pengadaan, serta tingkat stok di tingkat kabupaten/kota. Ketersediaan obat esensial di puskesmas di Indonesia sangat bervariasi dan berkaitan erat dengan fungsi sistem farmasi lokal. Penguatan sumber daya manusia, khususnya dengan memastikan keberadaan apoteker di setiap puskesmas, serta peningkatan infrastruktur fisik, menjadi prioritas penting. Selain intervensi di tingkat puskesmas, upaya terarah juga diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dinas kesehatan kabupaten/kota dalam mengelola rantai pasok farmasi, terutama di wilayah pedesaan dan daerah terpencil di Indonesia bagian timur.
Selengkapnya https://gh.bmj.com/content/11/2/e019616