Sebuah studi mengkaji pola spasio-temporal kejadian dan kematian akibat TB, mengidentifikasi hotspot geografis, serta menilai keterkaitannya dengan faktor risiko guna memberikan dasar bagi kebijakan kesehatan masyarakat. Penelitian retrospektif ini menganalisis kasus TB yang dilaporkan dan kematian selama pengobatan dari Sistem Surveilans Tuberkulosis Nasional Indonesia di 514 kabupaten/kota selama periode 2017–2022. Insidensi TB berfluktuasi dengan penurunan selama pandemi COVID-19 dan secara keseluruhan menunjukkan peningkatan, sementara angka kematian meningkat dari waktu ke waktu. Hotspot insidensi terkonsentrasi di wilayah yang lebih urban, sedangkan hotspot kematian tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Model terbaik untuk memperkirakan faktor risiko pada kedua luaran menggunakan likelihood Poisson.
Hasilnya menunjukkan bahwa insidensi TB secara spasio-temporal berkaitan positif dengan akses layanan kesehatan yang lebih baik dan Indeks Pembangunan Manusia tingkat kabupaten/kota (MHDI) yang lebih tinggi. Sementara itu, kematian terkait dengan rendahnya cakupan pengobatan dan tingkat keberhasilan pengobatan. Fluktuasi insidensi TB, hotspot yang terkonsentrasi di wilayah perkotaan dengan akses layanan kesehatan lebih baik dan MHDI lebih tinggi, serta peningkatan angka kematian yang berkaitan dengan hasil pengobatan yang buruk menunjukkan perlunya intervensi kesehatan masyarakat yang lebih terarah. Upaya tersebut mencakup perluasan akses layanan, peningkatan kepatuhan pengobatan, serta penanganan kesenjangan sosial ekonomi yang berkontribusi terhadap kematian akibat TB.
Selengkapnya https://link.springer.com/article/10.1186/s12963-026-00458-5