Sebuah studi menilai prevalensi penggunaan telemedicine serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidakgunaannya pada pasien dengan hipertensi dan/atau diabetes, mengingat pasien-pasien ini membutuhkan pengelolaan dan pemantauan pengobatan jangka panjang. Studi potong lintang nasional ini menggunakan data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 yang mencerminkan kondisi demografi pascapandemi di 38 provinsi di Indonesia. Pemanfaatan telemedicine dan informasi sosiodemografi dinilai berdasarkan kuesioner yang dilaporkan sendiri oleh responden. Analisis regresi logistik dilakukan untuk mengidentifikasi faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan tidak digunakannya telemedicine. Studi ini melibatkan 63.012 pasien dengan diabetes dan/atau hipertensi. Sebagian besar responden adalah perempuan (65,1%), menikah (78,3%), dan berusia 55–64 tahun (30,9%). Hampir seluruh responden (98,0%) belum pernah menggunakan telemedicine. Faktor yang berhubungan dengan tidak digunakannya telemedicine antara lain status tidak menikah, usia di atas 34 tahun, tingkat pendidikan di bawah perguruan tinggi, pekerjaan sebagai petani/nelayan dan pekerja informal (pembantu/buruh/sopir), serta tinggal di luar Jawa dan Bali. Responden dengan hipertensi saja lebih cenderung tidak menggunakan telemedicine dibandingkan dengan mereka yang memiliki diabetes dan hipertensi sekaligus. Penggunaan telemedicine pada pasien dengan hipertensi dan/atau diabetes di Indonesia masih rendah. Diperlukan pendekatan yang lebih personal dengan mempertimbangkan karakteristik pasien serta integrasi telemedicine yang lebih luas dalam sistem pelayanan kesehatan untuk meningkatkan adopsinya.
Selengkapnya https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1155/ijta/5333547