Sebuah studi potong lintang dilakukan untuk menilai perbedaan aktivitas fisik dan kebiasaan makan pada remaja di Indonesia. Penelitian menggunakan desain klaster bertingkat (multistage cluster) dengan sampel representatif sebanyak 375 siswa, terdiri dari 234 perempuan dan 141 laki-laki, berusia 11–18 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Physical Activity Questionnaire for Adolescents (PAQ-A) dan Adolescent Food Habits Checklist (AFHC). Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Pearson Chi-square. Penelitian ini menemukan bahwa remaja dengan indeks massa tubuh (IMT) kategori overweight lebih banyak ditemukan pada remaja perempuan. Sebanyak 30 peserta (26,9%) memiliki riwayat obesitas dalam keluarga. Mayoritas peserta bersekolah di sekolah negeri, dengan proporsi remaja perempuan yang lebih tinggi (49,9%). Kurangnya aktivitas fisik atau durasi olahraga lebih sering ditemukan pada remaja perempuan (49,3%). Perbedaan yang lebih besar ditemukan pada pilihan jawaban PAQ-A nomor 3, 5, 6, dan 7. Pada nomor 3, remaja perempuan lebih banyak memilih aktivitas duduk seperti berbicara, membaca, atau mengerjakan tugas sekolah (42,1%). Pada nomor 5, sebanyak 21,1% remaja perempuan melaporkan tidak melakukan aktivitas fisik atau olahraga selama seminggu. Pada nomor 6, sebanyak 22,8% hanya melakukan aktivitas fisik atau olahraga satu kali dalam seminggu. Sementara pada nomor 7, sebanyak 30,8% menyatakan hanya sesekali (1–2 kali dalam seminggu terakhir) melakukan aktivitas fisik pada waktu luang, seperti berolahraga, berlari, berenang, bersepeda, atau senam aerobik. Tingginya risiko kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan makan yang kurang sehat pada remaja perempuan menunjukkan perlunya edukasi gaya hidup untuk mendukung pencapaian berat badan yang sehat pada remaja. Program intervensi tersebut perlu mempertimbangkan faktor gender agar lebih efektif dalam meningkatkan aktivitas fisik dan pola makan sehat di kalangan remaja.
Selengkapnya https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1360859226000653