Skip to content

Exploring Indonesian Midwives’ Training Experiences and Knowledge Related to Cervical Screening and HPV DNA Testing in East Nusa Tenggara Province

Indonesia memiliki angka kematian akibat kanker serviks tertinggi di Asia Tenggara, terutama disebabkan oleh rendahnya akses dan pemanfaatan layanan skrining kanker serviks. Bidan di Indonesia memiliki peran utama dalam pelaksanaan skrining kanker serviks, namun penelitian mengenai pengetahuan, pelatihan, dan kapasitas mereka dalam memberikan layanan skrining masih sangat terbatas. Sebuah studi mengeksplorasi pengalaman bidan dalam mengikuti pelatihan skrining kanker serviks serta pengetahuan mereka terkait kanker serviks (CC), skrining kanker serviks menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), dan pemeriksaan DNA Human Papillomavirus (HPV) di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif berdasarkan data primer yang dikumpulkan melalui kegiatan lapangan menggunakan wawancara semi-terstruktur dan dilengkapi dengan kuesioner penilaian pengetahuan. Sebanyak 24 bidan dari dua kabupaten, yaitu satu wilayah semi-perkotaan dan satu wilayah pedesaan, berpartisipasi dalam penelitian ini. 

Hasilnya, rata-rata skor pengetahuan bidan adalah 75%, dengan bidan yang telah mendapatkan pelatihan skrining kanker serviks memiliki skor lebih tinggi dibandingkan bidan yang belum mendapatkan pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan akses terhadap pelatihan, di mana bidan di wilayah yang lebih perkotaan memiliki akses pelatihan yang lebih besar dan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Bidan menekankan bahwa pelatihan yang memadai dan praktik IVA secara berkelanjutan sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dalam memberikan layanan. Kesenjangan pengetahuan utama meliputi pemahaman yang kurang mengenai hubungan antara infeksi HPV, lesi prakanker, kanker serviks, dan upaya pencegahannya. Rendahnya pengetahuan bidan mengenai penyebab kanker serviks dan lesi prakanker yang tidak bergejala menyebabkan skrining hanya dilakukan pada perempuan yang datang dengan gejala terkait. Ketimpangan geografis dalam investasi sumber daya manusia di wilayah terpencil membatasi akses perempuan terhadap layanan skrining kanker serviks yang berkualitas dan menghambat kemajuan menuju eliminasi kanker serviks. Dukungan terhadap bidan melalui pelatihan yang menyeluruh dan mutakhir, termasuk pemeriksaan DNA HPV, sangat penting untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan skrining serta mendukung transisi menuju metode pemeriksaan DNA HPV.

Selengkapnya https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/17455057261487155

 

Mempelajari
UU No.17/2023 Tentang Kesehatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.