Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) memerlukan pelayanan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Namun, fragmentasi pelayanan masih banyak ditemukan dalam sistem cakupan kesehatan universal (Universal Health Coverage/UHC). Sebuah studi mengkaji bagaimana tata kelola pelayanan memengaruhi integrasi layanan dan pengalaman pasien yang dilaporkan sendiri dalam perawatan DMT2 di Indonesia, serta mengembangkan rekomendasi strategis untuk memperkuat tata kelola yang terintegrasi. Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods secara konkuren, dengan pendekatan kualitatif sebagai komponen utama. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pembuat kebijakan, perwakilan asuransi, manajer rumah sakit, tenaga klinis, dan penyedia layanan kesehatan primer. Data kuantitatif diperoleh dari 107 orang dewasa dengan DMT2 menggunakan kuesioner terstruktur yang menilai pengetahuan, kepatuhan minum obat, persepsi terhadap kualitas pelayanan, dan kualitas hidup terkait kesehatan. Temuan diintegrasikan menggunakan joint display yang berpedoman pada kerangka PRECEDE Green. Temuan kualitatif mengidentifikasi empat hambatan tata kelola, yaitu jalur pelayanan primer–rujukan yang terfragmentasi, skema pembiayaan yang belum selaras, kapasitas fasilitas dan tenaga kesehatan yang tidak merata, serta mekanisme koordinasi dan pemantauan yang masih lemah. Temuan kuantitatif menunjukkan tingkat pengetahuan pasien yang tinggi (median 86,7%) dan kepatuhan terhadap pengobatan yang baik (76,6% sangat patuh). Persepsi terhadap kualitas pelayanan secara umum juga positif, meskipun aspek keandalan (reliability) menunjukkan kesenjangan terbesar. Kualitas hidup secara fisik masih belum optimal, terutama pada aspek energi dan kesehatan secara umum. Posisi strategis tata kelola DMT2 saat ini berada pada kuadran grow-and-build, yang menunjukkan adanya kapasitas untuk melakukan reformasi secara proaktif. Diperlukan pengembangan strategi tata kelola terintegrasi yang menekankan pada jalur rujukan yang terstruktur, penyelarasan pembiayaan dengan kebutuhan perawatan penyakit kronis, pelembagaan peran edukator diabetes, serta percepatan interoperabilitas sistem informasi kesehatan. Strategi ini dapat menjadi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam penguatan sistem cakupan kesehatan universal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.
Selengkapnya https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/16549716.2026.2711562#abstract