Skip to content

Testing

Plenary Navigating Global Demographic Transition in a Time of Geopolotical Upheaval

Keynote speaker Chris Murray (Director IHME) menunjukkan modelling dengan data demografi dunia yang menunjukkan bagaimana mayoritas negara-negara di dunia akan mengalami penurunan tingkat penduduk dalam decade-dekade mendatang, namun pertumbuhan ekonomi yg buruk akan memperdalam jurang antara kelompok yang kaya dengan yang rentan. Selain itu, mayoritas penyakit-penyakit tidak menular akan mendominasi, dan bagian terbesarnya adalah penambahan despressive disorder, dan teridentifikasi pula sekitar 500 faktor risiko.  Dari 500 faktor risiko tersebut, analisis dilakukan hingga terideintifikasi 17 ancaman utama dan apa ancaman tertingginya. Dari ancaman-ancaman utama terhadap Kesehatan tersebut, terdapat 5 ancaman di posisi teratas yang dapat diubah secara perilaku dan pendekatan system, yaitu obesitas (metabolic driver), Pendidikan rendah (social economy determinant), ketidaksetaraan ekonomi (social determinant), tembakau dan unhealthy aging.

Analisis ini kemudian dibahas oleh panelis terdiri dari Dennis Carrol (AS), Gabriel Leung (Hong Kong), Keizo Takemi (Jepang), Magda Robla (Guinea-Bissou), Melebono Previous Matsoso (Afrika Selatan) untuk melihat bagaimana dampaknya terhadap system Kesehatan. Pesan kunci dari diskusi ini adalah belum ada system Kesehatan yang saat ini siap dengan pooling system yang dapat menanggung beban piramida terbalik yang akan kita hadapi dalam waktu dekat. Sehingga pertanyaan besarnya adalah: siapa yang akan membayar system Kesehatan di masa depan.

Plenary Demographic Transition, Social Equity and Population Diversity

Sesi ini merupakan panel yang terdiri dari Alexander Sasha Bodiroza (UNFPA), Eduardo Banzon (ADB) Fekdemi Akinfaderin, Gretchen Donehower, Reiko Hayashi (Directorate General Social Affairs, Japan).

UNFPA menggarisbawahi konsiderasi ekuitas harus dimasukkan dari awal, bukan sebagai “after-thought”. Sebagai contoh, hak setiap orang untuk mendapatkan dokumentasi kependudukan, karena tanpa dokumen ini mereka akan ‘insivisible’ di dalam system perlindungan sosial dan rentan terhadap berbagai ancaman Kesehatan dan sosial. ADB menyoroti pentingnya penghargaan terhadap pendekatan nasional dan juga kebijaksanaan lokal. Sebagai contoh, di kebayakan negara system perlindungan sosial saat ini masih mengesampingkan layanan Kesehatan tradisional, padahal evidence menunjukkan bahwa Masyarakat membutuhkan dan menginginkan layanan yang bersifat holistic terhadap Kesehatan mereka. 

No One Left Behind: Inclusive Policies for Vulnerable and At-Risks Groups in an Era of Demographic Change

Seiring dengan pergeseran demografi global—melalui populasi yang menua, urbanisasi, migrasi, dan perubahan struktur keluarga—kelompok rentan dan berisiko sering kali tetap dikecualikan dari manfaat pembangunan dan kemajuan sosial. Sesi ini mengeksplorasi bagaimana desain kebijakan inklusif dan intervensi inovatif dapat memastikan kesetaraan bagi kelompok rentan dan berisiko, seperti orang tua, penyandang disabilitas, migran, populasi adat, dan minoritas gender. Dengan contoh dari beragam konteks global, sesi ini menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk membangun masyarakat yang kohesif secara sosial dan inklusif di tengah transisi demografis. Prof. Ilona Kickbusch (Global Health Centre, Graduate Institute Geneva, Switzerland) menyampaikan konteks mengapa inklusi lebih penting sekarang di tengah pergeseran demografi. Berikutnya disampaikan dua studi kasus tentang kebijakan yang inklusif.

Assoc.Prof. Trirat Jarutach (Chulalongkorn University, Thailand) menghadirkan model yang komprehensif dan action-driven untuk perumahan ramah lansia—mulai dari perbaikan interior tingkat mikro hingga desain perkotaan tingkat makro. Fokus pada perubahan praktis, sensitif budaya, dan keterjangkauan membuat pendekatan tersebut inklusif dan terukur di seluruh distrik perkotaan Thailand.

Federico Graña (Kementerian Pembangunan Sosial, Uruguay) menyampaikan pengembangan dan promosi undang-undang kesetaraan trans komprehensif Uruguay, yang dikenal sebagai Undang-Undang Komprehensif untuk Trans Persons (UU 19.684), yang diadopsi pada tahun 2018. Undang-undang ini bertujuan untuk membalikkan diskriminasi dan memajukan hak-hak individu transgender, termasuk akses ke perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan pekerjaan. Ini juga mencakup ketentuan untuk perawatan kesehatan yang menegaskan gender, seperti terapi hormon dan pembedahan, yang akan ditanggung oleh negara.

Sesi di kemudian dibahas oleh para panelis. Dr. Renu Khanna (Society for Health Alternatives, India) memberikan perspektif praktis tentang tantangan dan intervensi kebijakan untuk kelompok terpinggirkan, terutama perempuan, di Asia Selatan. Alberto Vásquez (Pusat Kebijakan Inklusif (CIP) dan Presiden, Sociedad y Discapacidad (SODIS), Peru) mengomentari bagaimana menanamkan hak-hak disabilitas dalam kebijakan publik seperti membangun kebijakan fiskal inklusif untuk penyandang disabilitas, mengadvokasi pendekatan sistem perawatan disabilitas berbasis hak, berpusat pada komunitas daripada pelembagaan. Dr. Viviane Oke, MD (Benin) memberikan kisah inspiratif tentang advokasi transformatif untuk kesehatan kaum muda dan wanita. Aplikasi ELLES (yang dia kembangkan) memberikan informasi kesehatan seksual dan reproduksi yang andal dan ramah kaum muda dan menghubungkan perempuan dan anak perempuan dengan profesional kesehatan di seluruh Afrika Sub-Sahara. Dr. Patricia DaSilva (UNFPA) menyampaikan proses perumusan pedoman untuk inklusi penyandang disabilitas yang lebih besar, dan mencakup aspek-aspek seperti prinsip-prinsip partisipasi yang lebih besar, penilaian kebutuhan, dan penggunaan data dalam penyusunan pedoman ini.

 

——————————————————————-

Social Welfare System, Social Protection, and Fiscal Sustainability

Sesi ini mengeksplorasi model inovatif, tantangan yang muncul, dan solusi kebijakan untuk memperkuat sistem kesejahteraan sosial di berbagai konteks demografis. (Untuk mengeksplorasi bagaimana negara-negara dapat merancang sistem kesejahteraan sosial yang tangguh dan adil yang beradaptasi dengan perubahan demografis, populasi yang menua, dan tekanan fiskal—sambil memanfaatkan inovasi, pendekatan antargenerasi, dan kerja sama global.)

Rintaro Mori (Walikota Kota Takarazuka, Jepang) menyoroti strategi proaktif Jepang dalam pengasuhan, dukungan antargenerasi, dan investasi sosial lokal, bagaimana menyelaraskan anggaran dan layanan kota dengan kebutuhan populasi yang menua, serta menunjukkan peran penting kepemimpinan lokal dalam mengoperasionalkan kebijakan nasional

Aiko Kikkawa (Ekonom Senior, ADB) menyajikan sorotan dari publikasi unggulan ADB “Aging Well in Asia”. Kajian ini berfokus pada keamanan keuangan lansia menggunakan data mikro terperinci di delapan negara Asia, memeriksa kesiapsiagaan, kerentanan, dan kesenjangan dalam perlindungan, serta berbagi temuan pratinjau awal dari studi regional yang sedang berlangsung yang mengembangkan Indeks Kesiapsiagaan Keuangan Usia Tua. Indeks ini menyumbangkan perspektif ekonomi dan berbasis data regional tentang bagaimana merancang sistem kesejahteraan yang berkelanjutan secara fiskal dan inklusif secara sosial untuk populasi yang menua

Dr. Veerathai Santiprabhob  (Ketua, TDRI) memberikan perspektif Thailand tentang keberlanjutan fiskal, utang, dan investasi jangka panjang dalam sistem kesejahteraan. Beliau mengeksplorasi trade-off dan prioritas dalam perencanaan anggaran nasional di tengah transisi demografis, serta menyoroti peran think tank ekonomi dalam membentuk kebijakan berbasis bukti yang inklusif

Andrew Reilly (OECD) membahas inovasi desain dalam sistem pensiun publik dan ekuitas antargenerasi. Perspektif OECD yag disampaikan adalah tentang bagaimana mempertahankan sistem pensiun di negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah, serta memperkenalkan alat untuk menilai kecukupan pensiun, cakupan, dan ketahanan fiskal

Sarah Shahyar (UNICEF) menyampaikan pentingnya advokasi untuk memprioritaskan perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak di tengah kendala fiscal, serta menyoroti bukti global yang menghubungkan investasi awal dengan manfaat sosial jangka panjang. UNICEF menekankan sistem inklusif, terutama untuk keluarga yang terpinggirkan dan rentan

People-Centered Long-Term Care: Promising Multisectoral and Community-Based Approaches

Karena negara-negara di seluruh dunia mengalami transisi demografis yang ditandai dengan harapan hidup yang lebih panjang dan tingkat kesuburan yang menurun, permintaan untuk perawatan jangka panjang (LTC) tumbuh pesat. Populasi yang menua membentuk kembali struktur sosial, dinamika keluarga, dan prioritas kesehatan masyarakat. Sementara banyak sistem kesehatan tetap fokus pada perawatan akut, kebutuhan untuk memperkuat model perawatan jangka panjang, berpusat pada orang, dan berakar pada komunitas lebih mendesak dari sebelumnya. Pergeseran demografis juga menunjukkan perlunya pendekatan multisektoral yang melibatkan sektor publik dan swasta untuk memberikan perawatan yang berkelanjutan dan bermartabat di seluruh perjalanan hidup – semuanya dengan keterlibatan yang berarti dari orang dewasa yang lebih tua dalam perencanaan dan implementasi layanan ini.

Komunitas sering berfungsi sebagai garis dukungan pertama bagi orang dewasa yang lebih tua dan mereka yang memiliki kondisi kronis. Ketika diberdayakan, aktor berbasis masyarakat dapat memainkan peran transformatif dalam mengidentifikasi kebutuhan perawatan dan memastikan kesinambungan perawatan. Pada saat yang sama, LTC yang efektif membutuhkan struktur tata kelola yang menjembatani sektor dan skala—mulai dari kebijakan nasional hingga implementasi lokal. Sesi ini akan mengeksplorasi bagaimana negara-negara dapat membangun sistem LTC yang terintegrasi dan tangguh yang inklusif, dipimpin masyarakat, dan didukung oleh kolaborasi multisektoral yang kuat.

Sesi ini menghadirkan Professor Katsuya Ijima (Institute for Gerontology, Japan), yang adalah salah satu penginisasi ‘deklarasi Tokyo’. Professor Ijima menyampaikan pengalaman Jepang untuk mengatasi ‘masyarakat super-penuaan’ melalui strategi multisektoral, dan upaya terbaru menuju sistem yang lebih berkelanjutan sebagai berikut: 1) dari institusi ke komunitas, termasuk keterlibatan sosial, 2) dari penyembuhan ke perawatan, termasuk pencegahan kelemahan multi-segi (fisik, mental, dan sosial), dan 3) dari pemerintah hingga partisipasi multi-pemangku kepentingan,  termasuk untuk pembiayaan dan tata kelola.

Sesi ini juga meyampaikan beberapa pendekatan inovatif untuk layanan lansia berbasis komunitas yg dapat dibaca berikut ini:

  1. Buddy Care (Thailand), dan
  2. Pengalaman di Amerika Latin dan Karibia.

Securing the Future of Health and Well-Being for All at All Ages: Sustainable Financing Solutions

Sesi ini dilatarbelakangi oleh tantangan global khususnya tantangan pencapaian UHC yang tersisa tinggal 5 tahun lagi, perubahan demografi yang sangat cepat dengan bertambahnya kelompok usial lanjut dan juga kerentanan global akibat berkurangnya secara signifikan beberapa sumber pendanaan global. Sesi ini khususnya berfokus pada bagaimana dana bisa digalang (revenue and pooling), serta bagaimana innovative financing dapat diinisiasi khususnya untuk pembiayaan layanan Kesehatan di sepanjang siklus hidup.  

Pertama, Jon Cylus (LSE) menyampaikan bahwa kemampuan negara untuk mengumpulkan pajak dari antara kelompok Masyarakat sangat bergantung pada, salah satunya, seberapa produktif orang pada kelompok usia tertentu; padahal di sisi lain pembiayaan Kesehatan dikumpulkan dengan cara yg selalu sama (konstan). Sehingga dalam waktu dekat, Ketika populasi menua, tentu saja akan muncul ancaman ketidakcukupan, akibatnya ada gap yg harus diisi melalui OOP. Solusinya, pertamaL diversifikasi pajak (misal: health taxes). Dua, Menyusun protecktif coverage policies yang melindungi OOP dari Masyarakat berdasarkan kemampuannya (misal: menggunakan income related cap)

Sesi ini dimoderatori oleh Akihito Watabe (ADB) dan Kiesha Prem (NUS).

Para pembahas kemudian menyampaikan beberapa pandangan dari perspektif negara maju dan middle-income.

Ayako Honda (Hitotsubashi Institute for Advanced Studies, Jepang) menyampaikan mengenai program pembiayaan khusus untuk long-term care yang tersedia di Jepang, memisahkannya dari pembiayaan Kesehatan kelompok usia lain, karena pembiayaan long-term care mencakup pula layanan-layanan berbasis komunitas dan preventif/promotive.

Huijun Cynthia Chen (NUS) menyampaikan strategi yang digunakan Singapura, yaitu (1) centralised purchasing, (2) value-based purchasing, dan (3) subsidi untuk obat kanker dan layanan kanker (tadinya Medihsield menggunakan cap untuk layanan kanker, sisanya dibayar melalui asuransi swasta; namun kemudian hal ini diganti dengan negosiasi layanan yang lebih efektif dan meningkatkan subsidi di layanan tersebut).

Soonman Kwon (Seoul National University, Korea Selatan) menyampaikan strategi lain dalam pengumpulan pendapatan untuk kesehatan. Salah satu contoh negara yang menunggunakan consumption tax dengan earmarked khusus untuk Kesehatan (misalnya Ghana); cara lain adalah contribution base payment, sebagai contoh di Korea pemotongan pajak untuk Kesehatan bukan hanya dari pendapatan gaji, melainkan juga pendapatan non gaji (misal: dividen).  Selain itu, diperlukan mekanisme pembayaran lain, misalnya bundled payment karena kapitasi saja tidak akan memadai.

Lluis Vinyals Torres (WHO WPRO) menyampaikan beberapa pembelajaran utama dari regional ini. Pertama, produksi SDM yang berlebihan karena adanya masalah kekurangan tenaga tidak selalu menyelesaikan masalah, jika tidak ada kebijakan yang efektif untuk distribusi SDM tersebut. Kedua, terkadang mekanisme pembiayaan Kesehatan tidak selalu sinkron antara revenue, pooling dan payment.

Sesi ini juga menampilkan Ghina Fadhilla (Indonesia) yang menyampaikan bagaimana beberapa pendanaan (termasuk filantropi) digunakan untuk membiayai Kesehatan di Indonesia, misalnya melalui Dompet Dhuafa dan lain-lain, yang membantu pemerintah dalam pendanaan untuk penanggulangan bencara, layanan berbasis komunitas dan lain-lain. Namun tantangannya adalah pendanaan ini biasanya bersifat ad-hoc, tidak selalu terintegrasi dan tidak berkelanjutan.

Ghina menyarakankan mekanisme yang dapat digunakan Indonesia untuk memastikan bahwa filantropi terintegrasi dengan baik ke dalam prioritas kesehatan nasional. Ini meliputi: (1) Pemetaan sumber daya dan peran untuk mendokumentasikan aktor kunci di seluruh ekosistem pendanaan seperti, siapa yang memegang sumber daya keuangan, siapa yang membutuhkan pendanaan, aktor mana yang telah menerapkan program serupa, siapa penerima manfaat, siapa yang berfungsi sebagai mitra pelaksana, di mana pendanaan paling dibutuhkan. Pendekatan ini membantu memastikan pendanaan yang ditargetkan dengan baik, mendorong intervensi yang lebih komprehensif, mengurangi fragmentasi program dan jangka pendek, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan untuk program masa depan atau terkait; (2) Alat pemantauan dan evaluasi yang terpadu, terintegrasi, dan dapat diakses diperlukan untuk menangkap dan mendokumentasikan dampak pendanaan filantropi. Alat-alat tersebut dapat berfungsi sebagai instrumen pembelajaran untuk mendukung skalabilitas dan keberlanjutan program, membantu menarik pendanaan di masa depan, dan memberikan bukti kepada banyak pemangku kepentingan tentang hasil kesehatan yang didukung oleh filantropi; (3) Hasil bersama, terutama yang selaras dengan prioritas nasional dan regional, harus berfungsi sebagai referensi utama bagi organisasi filantropi saat merancang program mereka. (4) Forum multipihak yang transparan dan bebas konflik diperlukan untuk secara teratur membahas mobilisasi sumber daya domestik untuk keuangan kesehatan yang selaras dengan prioritas nasional. Forum semacam itu juga akan membantu mencegah fragmentasi dan mendukung tujuan yang lebih luas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektoral. Bersama-sama, upaya ini harus didukung dengan revisi undang-undang pengumpulan uang dan barang, dan insentif pajak yang komprehensif untuk filantropi lokal.

 


 

Beberapa acara sampingan dalam PMAC 2026

Pelaksanaan PMAC juga seperti biasa diisi oleh berbagai kegiatan lain, misalnya penyampaian berbagai E-poster dan memberikan kesempatan pada hadirin yang tertarik untuk berdiskusi langsung dengan penyusun poster. Berikut ini adalah beberapa poster yang terdapat pada PMAC 2026. 

Selain itu, PMAC juga didasari oleh prinsip penyelenggaraan acara yang sehat, yaitu pilihan makanan yang sehat, aktivitas fisik (di pagi hari tersedia program mindful walk di kuil dan taman), relaksasi (tersedia layanan pijat oleh para tunanetra) dan pameran seni yang dibuat oleh anak-anak dari wilayah pedesaan Thailand dan penjualan merchansdise berdasarkan karya seni tersebut. Seluruh kegiatan ini digunakan untuk menggalang donasi dari peserta acara.

 

Pameran Seni anak-anak terkait tema PMAC 2026.

 

Poster

 

Selain itu, PMAC juga didasari oleh prinsip penyelenggaraan acara yang sehat, yaitu pilihan makanan yang sehat, aktivitas fisik (di pagi hari tersedia program mindful walk di kuil dan taman), relaksasi (tersedia layanan pijat oleh para tunanetra) dan pameran seni yang dibuat oleh anak-anak dari wilayah pedesaan Thailand dan penjualan merchansdise berdasarkan karya seni tersebut. Seluruh kegiatan ini digunakan untuk menggalang donasi dari peserta acara.

 

 

 

 

 

 

 

 

[widgetkit id=85]

 

[widgetkit id=36]

 

[widgetkit id=37]

 

[widgetkit id=41]

Mempelajari
UU No.17/2023 Tentang Kesehatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.