Sebuah studi mengkaji perilaku pencarian pelayanan kesehatan pada individu dengan disabilitas fisik dan sensorik di Indonesia serta faktor-faktor yang berhubungan dengan preferensi mereka dalam mengakses fasilitas kesehatan dengan memanfaatkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menanggung biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Pada tahun 2024, survei dilakukan terhadap 2.666 penyandang disabilitas di enam kabupaten/kota, yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang. Wilayah tersebut dipilih untuk merepresentasikan variasi dalam akses terhadap pelayanan kesehatan, kapasitas fiskal, dan perkembangan sistem kesehatan.
Hasilnya, sebagian besar penyandang disabilitas di wilayah penelitian melaporkan kebutuhan yang tinggi terhadap pelayanan kesehatan. Namun, hanya sekitar 50% yang mengakses fasilitas kesehatan. Meskipun tingkat kepesertaan asuransi kesehatan tergolong tinggi, yaitu sekitar 88%, hambatan dalam aksesibilitas dan kemampuan finansial untuk mengakses fasilitas pelayanan kesehatan masih tetap ditemukan. Analisis regresi menunjukkan adanya diagnosis yang diberikan oleh tenaga kesehatan berhubungan dengan berbagai luaran penelitian, sedangkan kepesertaan JKN berhubungan dengan perilaku mencari bantuan pelayanan kesehatan. Biaya pelayanan kesehatan bagi mereka yang mengakses fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer dan klinik swasta tergolong terjangkau, sedangkan biaya pelayanan di tingkat rumah sakit masih belum terjangkau. Akses penduduk terhadap pelayanan kesehatan dan pemanfaatan JKN juga menunjukkan perbedaan antarkabupaten/kota.
Selengkapnya https://link.springer.com/article/10.1186/s12913-026-14572-5