Secara keseluruhan, kongres ini menunjukkan semakin berkembangnya penerapan ilmu kebijakan dan pemikiran sistem di sektor kesehatan. Ketika membahas pemikiran sistem ini, pelaku utama di masyarakat dan juga pelayanan swasta semakin mendapat perhatian. Masalah pemerataan juga semakin diperhatikan karena universal health coverage bukan hanya terkait dengan pendanaan saja, melainkan juga menyangkut banyak hal. Salah satu hal yang dirisaukan oleh berbagai pembicara adalah ketika faktor politik mempengaruhi terlalu banyak. Politik di sini dapat mencakup berbagai aspek, misalnya terkait penetapan anggaran, birokrasi, kelompok yang mendapatkan manfaat, serta di pelaku kesehatan. Aspek politik ini jika tidak dikelola secara baik dapat membawa sistem kesehatan menjadi sulit berkembang. Situasi ini juga terjadi di Indonesia dimana saat ini situasi sistem kesehatan terdorong oleh pengaruh politik praktis terkait dengan pemilihan presiden dan anggota DPR sehingga ada risiko aspek – aspek teknis menjadi sulit dikelola.
Plenary 3 Evidenced Based Approached: Epidemiological Value in Advancing Public Health Policy

4 Oktober 2018
Dr Siyan Yi adalah seorang peneliti senior dari University of Singapore dan sebagai pembicara pertama dalam sesi plenary ini. Topik yang dibawakan terkait data quality in developing countries. Beberapa isu penting pada negara-negara berkembang antara lain terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap data. Dalam laporan internasional hanya 25 % populasi terdata dimana hanya 34 negara yang memiliki manajemen pendataan yang baik.
Dengan masalah ini, maka WHO berinisiatif untuk memperbaiki kualitas data dengan target hingga 2020. Beberapa perbaikan untuk meningkatkan kualitas data dengan menyusun berdasarkan kesesuaian/jenis data, mengorganisaikan, dan dengan penggunaan biaya murah. Sasaran data based ditargetkan pada registrasi sistem vital, seperti kelahiran, kematian, kesakitan, representasi dari populasi, keadilan kesehatan, dan lain – lain. Dr. Yi menutup dengan menegaskan bahwa data seharusnya menjadi isu utama yang perlu distandarkan dan dimonitor setiap saat.
DR. dr. Hariadi Wibisono sebagai ketua asosiasi epidemiologi se – Indonesia, memberikan materi terkait advancing surveillance system. Di awal paparan, Hari memetakan jenis masalah, tantangan, dan jalan keluar terhadap masalah – masalah yang terjadi berdasarkan ilmu surveilans. Seperti penanganan malaria, hal penting yang perlu dipertimbangkan seperti wilayah dan resistensi obat, kesadaran masyarakat, keterbatasan akses ke fasilitas, peningkatan factor risiko, dan sebagainya.
Dicontohkan lainnya seperti penanganan filariasis memiliki tantangan seperti transmisi penilaian dengan survey serta penetapan daerah endemik dan non endemik. Juga ditambahkan contoh pada intervensi penyakit ebola dan polio. Untuk itu Hari menyatakan bahwa sistem surveilans sangat penting ditingkatkan oleh negara berkembang.
Dr Ridwan Amiruddin, merupakan ketua Persakmi dan ketua ahli epidemiologi se- Sulawesi Selatan, memberikan materi tentang Cause and effect association: the key of effective public health policy.
Beberapa temuan penelitian yang bisa dijadikan dasar dalam penentuan intervensi. Seperti pada contoh kebijakan pengendalian tembakau. Sudah banyak bukti – bukti penelitian yang menunjukkan banyaknya masalah terkait dengan asap rokok, salah satu yang paling besar adalah kanker paru. Sehingga yang perlu dilakukan adalah bagaimana mendukung rekomendasi berdasarkan bukti-bukti nyata yang tentunya dipengaruhi oleh biaya, isu, serta bantuan dari pihak luar.
Pembeicara terakhir, Prof Virasakdi Chongsuvivatwong, berbicara tentang health service big data. Seluruhrumah sakti telah melakukan pendokumentasian tanpa menggunakan kertas melainkan system computer, dimana data besar terkumpul dalam satu sistem. Namun di lain sisi, kendala terkait dengan data yang memiliki struktur berbeda – beda sehingga terkadang penggunaan masih sangat minim.
Isu lain yang dihadapi adalah privasi data, di Amerika sendiri memiliki 16 variabel yang tidak boleh disebar ke khalayak, namun di negara – negara berkembang di Asia Tenggara hal ini belum menjadi fokus dari pemerintah. Beberapa masukan untuk kendala data yang dihadapi adalah dengan mengembangkan data variabel yang penting saja, menggunakan analisis sederhana (rata-rata, median, SD, IQR), dan membuat kluster analisis.
Reporter:
Faisal Mansur & Muhammad Asrullah
Link Terkait
{tab title=”Hari Pertama” class=”red”}
- Opening Ceremony, 13th IEA SEA Meeting and ICPH
- Keynote Speech
- Plenary 1. Public Health Achievement, where we are now
{tab title=”Hari Kedua” class=”orange”}
- Plenary 2. Global Chalenges for Good Health and well-being
- plenary 3 evidenced based approached epidemiological value in advancing public health policy
{/tabs}
Plenary 2 Global Chalenges for Good Health and well-being
Plenary 1. Public Health Achievement, where we are now
Reportase Keynote Speech
Opening Ceremony, 13th IEA SEA Meeting and ICPH – SDev
Asian Healthcare Leadership Summit 2018
Forum Ilmiah Tahunan IAKMI 2018
Forum Ilmiah Tahunan IAKMI 2018
Workshop awal
Pengembangan Kepemimpinan Kesehatan Masyarakat
di era JKN
Bandar Lampung, 16 Oktober 2018 | Pukul 08.00 – 12.30 WIB
![]()
Pengusul:
Laksono Trisnantoro, Kepala Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan.
Latar Belakang:
Jaminan Kesehatan telah berjalan 5 tahun. Telah terjadi berbagai perkembangan yang menarik termasuk adanya lembaga baru pembayar kesehatan yaitu BPJS. Sesuai hasil pengamatan, saat ini terjadi fragmentasi sistem kesehatan dimana sistem kesehatan menjadi terpisah karena adanya lembaga pembiayaan kesehatan yang mempunyai ciri sentralistik namun tidak berkoordinasi baik dengan lembaga-lembaga kesehatan yang terdesentralisasi. Hal ini ditandai dengan tidak dipergunakannya data daerah untuk pengambilan keputusan. Kegiatan promosi kesehatan yang seharusnya menjadi lebih terarah karena adanya data besar BPJS menjadi tidak terarah. Peran ahli – ahli kesehatan masyarakat di daerah menjadi tidak maksimal dan ilmu kesehatan masyarakat menjadi terpinggiurkan. Berbagai hal ini menjadi latar belakang diperlukannya para pemimpin kesehatan masyarakat yang mampu untuk mengubah situasi ini di daerah.
Pertanyaan menarik:
siapakah para pemimpin ahli kesehatan masyarakat? Apakah sudah ada di daerah-daerah? Apakah mereka terlatih untuk mengembangkan kepemimpian dan menghadapi situasi yang tidak pasti ini?
Tujuan:
- Membahas situasi yang terjadi saat ini; mengapa terjadi adanya fragmentasi dalam sistem kesehatan;
- Membahas ciri-ciri pemimpin kesehatan masyarakat;
- Melakukan identifikasi siapa pemimpin dalam kesehatan masyarakat di suatu daerah;
- Membahas pengembangan lebih lanjut secara sistematis.
Kegiatan:
Workshop 1 akan dikerjakan di Munas IAKMI pada 16 Oktober, pukul 08.00 – 12.00 Wib. Hasilnya akan dikembangkan secara sistematis setelah Munas IAKMI.
Jadwal Acara:
|
Sesi 1: 08.00 – 10.00 Wib Pemimpin Kesehatan Masyarakat, adakah? |
Pembicara: Prof. Laksono Trisnantoro
|
|
Sesi 2: 10.30 – 12.00 Wib Kepemimpinan di IAKMI dan Identifikasi siapa pemimpin kesehatan masyarakat di daerah. |
Pembicara: Dr. Ede Suryadarmawan, SKM, MDM (Ketua Terpilih PP IAKMI)
|
|
Sesi 3: 12.00 – 12.30 Wib Penutupan dan Plan of Action untuk program selanjutnya.
|
Fasilitator: Dr. Diah Ayu Puspandari Apt. M.Kes, MBA
|
Peserta
Kegiatan ini gratis bagi para Pengurus Cabang IAKMI, namun harus tetap mendaftar. Maksimum peserta dari Pengurus Cabang IAKMI yaitu 20 orang.
Para peserta non Pengurus Cabang IAKMI dikenakan kontribusi kepesertaan sebesar Rp 500 ribu rupiah untuk mengikuti acara ini.
Informasi & Pendaftaran silahkan menghubungi Sdri. Bonita (HP/WA: 081290250386) di PP IAKMI.
Seminar Smarthealth, Involving Volunteers in CVD Management in Rural Areas, a Longitudinal Study of 18000 Villagers
TERM OF REFERENCE
Seminar Smarthealth, Involving Volunteers in CVD Management in Rural Areas, a Longitudinal Study of 18000 Villagers
Yogyakarta, Selasa 21 Agustus 2018
LATAR BELAKANG
FKKMK UGM memiliki misi penting dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian dan pelayanan yang unggul, berlandaskan kearifan lokal, etika, profesionalisme dan keilmuan berbasis bukti. Sementara itu, perkembangan kemajuan teknologi dan peradaban telah mengubah kebutuhan pasar kerja dengan tuntutan penguasaan ilmu lebih komprehensif, multi disiplin, berorientasi ke masa depan serta mampu menjawab tantangan masa kini dan masa depan dengan penguasaan ilmu pengetahuan strategis. Untuk mencapai misi tersebut, Departemen-Departemen di FKKMK UGM harus terus berinovasi yang salah satunya dapat dilakukan melalui kerjasama lintas bidang keilmuan strategis. Sebagai bagian dari program pengembangan bidang ilmu strategis lintas disiplin, pada tahap awal dilakukan seminar yang melibatkan partisipasi dari lintas departemen di FKKMK UGM .
TUJUAN
Berdasarkan latar belakang diatas, seminar ini dilakukan dengan tujuan:
- Membahas hasil penelitian tentang Smarthealth, Involving Volunteers in CVD Management in Rural Areas, a Longitudinal Study of 18000 Villagers
- Knowledge sharing untuk mendukung program pengembangan bidang ilmu strategis lintas disiplin
NARASUMBER
- Dr. Gindo Tampubolon, University of Manchester
- Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen FKKMK UGM
- Kepala Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKKMK UGM
PESERTA
- Kelompok Bidang Ilmu Jantung RSUP Dr. Sardjito, FKKMK UGM
- Pusat-Pusat Studi FKKMK UGM
- Mahasiswa Pasca Sarjana (S2) Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM
WAKTU DAN TEMPAT
- Waktu: Selasa, 21 Agustus 2018, jam 10.00 – 12.00 WIB
- Tempat: Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FKKMK UGM
METODE
- Seminar dan Webinar
AGENDA
|
Waktu |
Materi |
PIC |
|
09.30 – 10.00 |
Registrasi |
Panitia |
|
10.00 – 10.15 |
Pembukaan |
Ketua Board PKMK |
|
10.15 – 11.45 |
Seminar: Smarthealth, Involving Volunteers in CVD Management in Rural Areas, a Longitudinal Study of 18000 Villagers |
Moderator: Pemateri: Pembahas:
|
|
11.45 – 12.00 |
Kesimpulan dan Penutupan |
Moderator: Prof. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD |
PENDAFTARAN
Peserta yang berminat dapat mendaftar ke:
- Dian Mawarni | Email: [email protected] | HP: 085733351604
- Maria Adelheid Lelyana | Email: [email protected] | HP: 081329760006
Reportase Bedah Buku “Analisis Kebijakan Kesehatan, Prinsip, dan Aplikasi”
PKMK – Yogya. Buku “Analisis Kebijakan Kesehatan, Prinsip dan Aplikasi” disusun oleh Dr. Dumilah Ayuningtyas, MARS (2018) telah dibedah pada 20 Juli 2018. Pembahas bedah buku kali ini ialah Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D dan moderator drg. Puti Aulia Rahma, MPH dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM. Hal yang mendasari penulisan buku ini adalah upaya untuk menguatkan proses pengembangan kebijiakan kesehatan. Proses atau penyusunan kebijakan kesehatan yang sangat praktis ini dilakukan dengan berbasis bukti atau data. Analisis kebijakan menjadi suatu instrumen penting dalam proses pengembangan kebijakan bukan hanya informasi berdasarkan data dan fakta lapangan melainkan juga kemampuan analisis untuk mengolah data dan informasi tersebut serta menindaklanjutinya.
Buku ini terbit setelah melalui pertimbangan, isu yang diangkat terkait kepentingan banyak orang dan proses pertarungan politik. Kesehatan menjadi amunisi untuk menarik fokus dengan adanya politik kebijakan kesehatan. Kegagalan kebijakan yang merefleksikan buruknya formulasi kebijakan, ketidaktepatan implementasi, rendahnya efektivitas evaluasi kebijakan, atau berbagai aktor yang kurang mendukung,faktor eksternal serta internal lain yang berperan dalam tahapan pengembangan kebijakan. Setiap tahap pengembangan kebijakan terdapat ruang untuk memberikan umpan balik bagi perbaikan kebijakan. Stakeholder dalam perumusan kebijakan tentu akan berbeda dengan stakeholder dalam implementasi kebijakan tertentu. Beberapa framework analisis kebijakan diantaranya agenda setting, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan.
Penulis menyampaikan keseluruhan topik melalui 10 bab. Bab 1 mengenai urgensi analisis kebijakan dalam proses pembuatan kebijakan kesehatan Indonesia. Bab 2 menjelaskan analisis pentingnya mempelajari kebijakan kesehatan, termasuk membedakan analisis kebijakan, studi atau riset kebijakan, advokasi kebijakan, serta analisis kebijakan dan evaluasi kebijakan, dan mengklasifikasikan bentuk analisis kebijakan untuk mewujudkan evidence based policy. Bab 3 menjelaskan pentingnya masalah publik dalam analisis kebijakan kesehatan, juga konsep agenda setting, pentingnya melakukan agenda setting, serta tahapannya dalam kontek proses kebijakan publik. Bab 4 menjelaskan formulasi kebijakan dan keterkaitannya dengan agenda setting, serta mengidentifikasi model-model formulasi kebijakan, dan analisis formulasi kebijakan. Bab 5 menjelaskan implementasi kebijakan serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambatnya. Bab 6 menjelaskan konsep, tujuan, tipe, tantangan, dan solusi evaluasi kebijakan. Bab 7 menjelaskan konsep health impact assessment, urgensi, aplikasi, metode, dan identifikasi bentuk-bentuk penilaian pengaruh kesehatan. Bab 8 menjelaskan konsep analisis lingkungan kebijakan kesehatan, langkah-langkah policy envirronment score serta menggambarkan penyajian analisis lingkungan strategis kebijakan. Bab 9 menjelaskan konsep stekeholders dan pengelompokannya dalam analisis kebijakan. Bab 10 menjelaskan policy brief dan peran pentingnya sebagai alat advokasi untuk menguatkan kebijakan yang berbasis bukti, serta strategi penyebarluasannya. Penulis berharap dengan hadirnya buku “Analisis Kebijakan Kesehatan, Prinsip, dan Aplikasi” dapat berperan pada pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Reporter: Sabran, MPH (PKMK UGM)

Dr I Nyoman Kandun membahas emergensi dari penyakit menular, dari segi upaya untuk pencegahan, deteksi dan responden. Secara nasional, agenda kesehatan global (Global Health Security Agenda), pengendalian penyakit tidak menular menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan Dunia. GHSA meliputi pencegahan penyakit, deteksi melalui sistem laboratorium yang tersistem, surveilans dan pelaporan yang real time,,pengembangan sumber daya, dan respon meliputi kerja sama lintas sektor antara sektor kesehatan dengan sektor lainnya. Kerja sama pengendalian penyakit tidak menular juga melibatkan antar negara, karena turis berpotensi menularkan penyakit.
Dr. Vinod K Srivastava dari IEA – WHO Liason mengangkat isu mengenai kesehatan ibu dan anak di negara- negara Asia Tenggara. Dr Vinod mengemukakan fakta yang menunjukkan bahwa 9,2 juta anak meninggal sebelum usia 5 tahun. Rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap kesehatan menjadi salah satu faktor penyebab kematian tersebut. Dari segi pencapaian, terjadi penurunan angka kematian anak tetapi tidak signifikan. Secara global, Asia Pasifik menyumbang sekitar 41% angka kematian anak di seluruh dunia. Perbedaan tingkat ekonomi dan jumlah kepadatan penduduk di beberapa negara menjadi kendala dalam upaya penurunan AKI dan AKB. 
