E-learning course on Reproductive Health:
From Advocacy to Action
Kursus online ini akan dilaksanakan pada 4 September-16 Oktober 2013. Penyelenggara kursus ini yaitu World Bank. Link aplikasi kursus ini, yaitu silahkan
. Tujuan diadakannya kursus untuk membekali partisipan dengan pengetahuan yang khusus dan alat yang dibutuhkan pekerjaan mereka di bidang reproduksi kesehatan di negara dimana Health System Strengthening (HSS), pembiayaan yang mendukung program kesehatan dan strategi pengurangan kemiskinan yang dapat diimplementasikan. Sementara, kemampuan lain yang akan diperoleh partisipan diantaranya:
- Mampu mengenali hubungan antara kesehatan reproduksi, gender dan kemiskinan dan pengaruh antar ketiganya
- Mampu mengidentifikasi teknis, ekonomi, dan isu politik yang dihadapi negara dalam mencapai MDGs dalam kesehatan reproduksi
- Mampu mengenali pengaruh sistem kesehatan yang menguatkan upaya pelayanan kesehatan reproduksi dan desain program.
- Mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan kesehatan reproduksi masing-masing negara atau klien dalam konteks HSS
- Mampu mengaplikasikan perencanaan, penganggaran, pembiayaan dan efisiensi dalam mobilisasi sumber daya swasta dan publik
- Mampu mendesain scorecard sederhana untuk usaha jejak dalam meningkatkan luaran kesehatan reproduksi sebagai pertimbangan dalam World Bank Reproductive Health Action Plan di masing-masing negara atau klien.
Topik yang diangkat ialah:
- The changing policy and program environment, including resource and capacity issues in implementing the program of action agreed at the International Conference on Population and Development in Cairo (ICPD) and the Millennium Development Goals (MDGs), the changing demographic, epidemiological and economic conditions in countries, and new approaches to donor support (including budget support);
- The economic and health rationales for achieving better reproductive health outcomes, and the links between these outcomes and poverty reduction at the household and community levels;
- The boundaries of reproductive health, and the priority that should be given to reproductive health in selecting interventions that need to be included in the services and information “packages” typically supported by the Health system strengthening (HSS) process;
- The principal HSS measures (new organizational approaches, including purchasing from private providers, new financing and provider-payment mechanisms), how they are expected to improve health systems, the benefits and risks they carry for reproductive health outcomes and what can be done to mitigate such risks; and
- Action plans in the form of a scorecard to apply the tools and lessons learned during the course to participants’ specific work challenges.
The course is organized so that a topic’s background, theory, analytical framework, and policy relevance are introduced, discussed, and reiterated throughout the five modules the course. Country case examples are used to illustrate how different issues play out in different contexts. Participatory learning exercises are an important part of the course and aim to facilitate participants’ understanding of issues and ability to develop ways of addressing them.
The course is free of charge – For more information please contact Alima Coulibaly ( [email protected] )
Nafsiah Mboi memulai sambutan dengan mengajak para hadirin untuk melakukan persamaan persepsi mengenai pengertian determinan sosial kesehatan (SDH), yaitu berdasarkan definisi dari Komisi SDHWHO (“kondisi-kondisi yang mempengaruhi kesehatan seseorang mulai dari lahir, tumbuh, bekerja, dan menjadi tua yang termasuk di dalamnya kondisi sistem kesehatan. Keadaan ini terbentuk oleh faktor-faktor yang lebih luas, yaitu ekonomi, kebijakan sosial, dan politik”).
Adang Bachtiar (Pak Adang) memulai pemaparan tata kelola kesehatan masyarakat yang baik dengan memberikan definisi tata kelola yang baik dari Kofi Anan “… the rule of law, predictable administration, legitimate power and responsive regulation…”.(aturan perundangan, administrasi yang dapat diprediksi, kekuasaan yang legitimasi, dan peraturan yang responsif}.
Prof. Paul memulai presentasi dengan mengetengahkan pandangan komisi determinan sosial kesehatan (CSDH) mengenai multi dimensi ketidakberuntungan yang dialami oleh orang miskin. Banyak penelitian memberikan bukti bahwa grup populasi tertentu diabaikan secara sosial, modal sosial yang rendah, akses buruk terhadap sumber keuangan dan ketidakberdayaan. Banyak juga bukti bahwa sehat dan sakit tidak hanya ditentukan oleh faktor biologi dan genetik.
Tahun 2013 merupakan tahun keempat penyelenggaraan Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan di Indonesia yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang. Tahun pertama penyelenggaraan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada di Jakarta pada tahun 2010. Tahun ke dua diselenggarakan di Makassar bekerjasama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Pada tahun 2012, diselenggarakan Forum Nasional III bekerjasama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Surabaya. Forum nasional ini merupakan kelanjutan dari forum tahunan mengenai desentralisasi kesehatan yang diselenggarakan sejak tahun 2001.