Simposium “Menuju Jaminan Kesehatan Semesta yang Berkeadilan dan Merata”

spesertasim

spesertasimPra Simposium dan Simposium jaminan kesehatan semesta dibuka hari ini (9/10) di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta. Pra Simposium akan dilakukan selama dua hari, yaitu 9-10 Oktober 2012. Sementara simposium akan diadakan pada 11-12 Oktober 2012 mendatang. Pihak penyelenggara acara ini ialah Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kemenkes RI.

Para peserta yang mengikuti simposium ini berasal dari akademisi, praktisi, peneliti dan birokrat. ‘Kami mengundang para peserta melalui website dan undangan ke perguruan tinggi, lembaga penelitian, Balitbangda, Forum Kelitbangan dan juga para pemerhati kesehatan’, ungkap Anwar Musadad, SKM, M.Kes, Kepala Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Penelitian dan Pengembangan Kemenkes RI. Simposium ini dilakukan per tahun, nasional, regional, internasional, sehingga acara ini bersifat umum, massal dan melibatkan banyak pihak.

Fokus utama simposium ini untuk melakukan diseminasi atau mengkomunikasikan hasil penelitian dan perguruan tinggi dan balitbang Kemenkes. Diseminasi yang kami lakukan diantaranya dengan menawarkan peneliti jika ingin berbagi ilmu dengan peneliti lain. Hal yang kami lakukan menyertakan judul dan abstrak penelitian dari peneliti umum yang kemudian dimuat dalam jurnal yang dibagikan gratis, sehingga para peneliti dapat saling mengakses hasil penelitian satu sama lain atau melalui litbang. Simposium ini penting untuk memberikan nafas untuk para peneliti dan saling berbagi informasi baru dalam penelitian. Sementara, harapan dengan terselenggaranya acara ini :

  1. Hasil penelitian dapat terdistribusikan sampai pengambil kebijakan atau dapat dikatakan mampu ikut mewarnai kebijakan yang ada pada tingkat pemerintah pusat dan daerah.
  2. Kegiatan ini untuk membangun capacity building untuk para peneliti dimana komunikasi dan penyajian termasuk di dalamnya.

Pelatihan yang diselenggarakan dalam simposium ini meliputi : pertama, metode pelatihan klinis, melalui pelatihan ini para peserta akan memperoleh lisensi dan kapasitas untuk penelitian klinis. Kedua, public health law yaitu pelatihan yang membahas tentang implikasi hukum jika terjadi penyimpangan kesehatan. Ketiga, equity analysis yaitu bagaimana agar peneliti mampu menganalisis ketimpangan pembangunan kesehatan antar daerah. Pembicara dalam pelatihan ini diantaranya berasal dari WHO dan World Bank. Keempat, program satelit yang terbagi dua yaitu Kongres Asosiasi Peneliti Indonesia (APKESI) yang beranggotakan pegawai kesehatan, perguruan tinggi dan pihak yang memiliki minat dalam penelitian. Program satelit yang kedua yaitu akan diadakan temu bisnis dimana penelitian mengarah pada hak paten (produk HKI) dan bagaimana menindaklanjuti hal ini. Misalnya penelitian tentang galaktoman dimana ampas kelapa menjadi unsur yang dapat menurunkan kolesterol. Penelitian ini dilakukan oleh Litbang Kemenkes dan telah memperoleh hak paten.

Endang Sri Widyaningsih, SKM, M.Kes, Sekertaris Panitia Simposium Regional mengungkapkan tujuan simposium ini antara lain :

  1. Mempublikasikan hasil-hasil ilmiah di dalam dan di luar Litbang Kemenkes.
  2. Terwujudnya kesepahaman antar stakeholder.
  3. Para peneliti dapat meningkatkan kualitas melalui angka kredit dari simposium yang digelar tiap tahunnya. Dalam simposium regional ini akan disepakati Mou antara Kepala Balitbang Kemenkes dan Kepala Balitbang Daerah yaitu tentang penyebab kematian dan resource sharing riset kesehatan dasar 2013 (Wid).

Simposium Regional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan I

reportase

Kerangka Acuan

Simposium Regional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan I
(The 1st Regional Symposium on Health Research and Development)

Yogyakarta, 9-12 Oktober 2012

reportase

PENDAHULUAN

Penelitian merupakan bagian penting dalam pembangunan program kesehatan suatu negara. Sebagai salah satu instrument dalam pengembangan program kesehatan berbasis bukti serta dalam mengukur kinerja sistem kesehatan akan lebih mengarahkan pelayanan kesehatan yang fokus pada kebutuhan masyarakat khususnya kelompok rentan. Penelitian juga dapat menilai kemajuan kinerja sistem kesehatan pada setiap indikator baik input, proses, output, dan outcome .

Pemerintah Indonesia telah mengarahkan sistem kesehatan nasional ke arah pelayanan kesehatan yang mengadaptasi konsep “universal coverage” yang memperhatikan aspek “equity” dan “equality“. Konsep “universal coverage” yang komprehensif merupakan pendekatan yang melibatkan semua dimensi pelayanan kesehatan termasuk dari aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Penelitian yang berkualitas akan dapat memberikan bukti yang kuat untuk mendukung reformasi sistem kesehatan dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat di Indonesia maupun di negara tetangga.

Sebagai bagian dari konsep pembangunan berkelanjutan, kesehatan harus selalu ada dalam semua aspek pembangunan negara dan bangsa termasuk didalamnya aspek sosial, lingkungan dan budaya. Pendekatan ekologi kesehatan dapat menjelaskan keeratan hubungan antara determinan sosial, budaya, lingkungan dan ekonomi. Determinan sosial dan budaya dapat merupakan faktor akar rumput dari perilaku berisiko kesehatan di masyarakat. Masyarakat yang tinggal dalam kemiskinan dan mempunyai pendapatan kurang, cenderung akan mendapatkan dampak negatif dari sistem kesehatan yang tidak memperhatikan aspek “equity dan equality“. Beberapa penelitian sudah memberikan bukti keterkaitan antara faktor lingkungan dengan munculnya beberapa penyakit “emerging” dan “re-emerging” serta perubahan pola penyakit di masyarakat sebagai dampak dari perubahan iklim yang terjadi di semua bagian di dunia ini.

Dengan demikian, perbaikan status kesehatan masyarakat dapat juga berarti kebutuhan untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi, pelayanan kesehatan yang lebih merata dan adil serta menciptakan lingkungan yang sehat serta mengantisipasi perubahan lingkungan dalam upaya meminimalkan dampak perubahan iklim bagi kesehatan. Untuk itu simposium ini diharapkan memberikan informasi hasil-hasil penelitian sebagai bukti keterkaitan issu diatas yang selanjutnya dapat berkontribusi dalam proses pengembangan kebijakan kesehatan demi kepentingan kesehatan masyarakat.

TEMA

Menuju Jaminan Kesehatan Semesta yang Berkeadilan dan Merata
(Towards Universal Health Coverage and Equity)

SUB TEMA

  1. Tantangan dan ancaman dalam implementasi jaminan kesehatan semesta (Challenges and Threats Toward Universal Health Coverage)
  2. Penguatan sistem kesehatan (Health System Strengthening)
  3. Determinan kesehatan (kesehatan lingkungan, sosial budaya, gizi, penyakit menular, penyakit tidak menular) (Determinant of Health (Environmental Health, Socio-Cultural, Nutrition, Non Communicable Diseases, Communicable Diseases))

KEGIATAN

A. Tanggal 9-10 Oktober 2012 : Pre Simposium akan mengadakan Workshop and Training dengan topik :

  1. Good Clinical Practice (GCP)
  2. Bio Safety & Bio Security
  3. Public Health Law & Ethics
  4. Equity Analysis

B. Tanggal 11-12 Oktober : Simposium dan Exhibition & Poster Session dengan acara :

  1. Opening Ceremony

     Wellcome Speech : Menteri Kesehatan RI
     Keynote Speech : Wakil Menteri Kesehatan

  2. Press Conference : Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Kesehatan, Kepala Badan Litbangkes
  3. Plenary dan Parallel Session 1 dengan pembicara dari luar dan dalam negeri
  4. Gala Dinner
  5. Plenary Session 2, Parallel Session 2 dan 3 dengan pembicara dari dalam negeri
  6. Conclusion dan Clossing Ceremony

WAKTU DAN TEMPAT

Simposium regional akan dilaksanakan tanggal 9-12 Oktober 2012 di Inna Garuda Hotel Jl. Malioboro No. 60 Yogyakarta Telp. +62274 566353, 566322.

PESERTA

Peserta diharapkan dari Indonesia dan dari negara tetangga ASEAN dan dengan menggunakan bahasa pengantar Melayu.

PEMBIAYAAN

Pelaksanaan simposium regional tahun 2012 dibiayai dari DIPA Satker Sekretariat Badan Litbang Kesehatan tahun anggaran 2012.

 

Time

Activity

Speaker

Moderator

Location

Pre Symposium : October 9, 2012

08.00-09.00

Registration

 

Organizing Comitee

Lobby

09.00-17.00

Pre-Symposium : Workshop and Training

  1. Good Clinical Practices
  2. Bio Safety and Bio Security
  3. Public Health & Ethics
  4. Equity Analisis

 

 

Room 1-4

Wednesday-October 10,  2012

09.00-16.00

Pre-Symposium :

  1. GCP
  2. Bio Safety and Bio Security

 

 

Room 1-2

Satellite Programme

Tuesday, October 9, 2012

11.00-13.00

Registration

 

Organization Comittee

Lobby

13.00-21.00

Intelectual Property Rights/HKI

NIHRD IPR Commision

 

Room 4

19.30-22.00

Scientific Meeting

Indonesian Health Researcher association/APKESI

 

Room 3

Wednesday, October 10 2012

08.00-09.00

Registration

 

Organization Comittee

Lobby

09.00-21.00

Indonesian Health Researcher association/APKESI Conggress

Indonesian Health Researcher association/APKESI

 

Room 3

19.30-22.00

Intelectual Property Rights/HKI

NIHRD IPR Commision

 

Room 4

Exibitiion & Poster Session : Thursday-Friday, 11-12 October 2012

Symposium

Thursday, October  11, 2012

08.00-09.00

Registration

 

Organizing Comitte

Lobby

09.00-09.30

National Anthem & Welcome Dance

Opening Ceremony : Comitee Report (DG NIHRD)

 

 

Nakula Sadewa

09.20-09.45

Welcome Speech and Photo Session

Minister of Health

 

Nakula Sadewa

09.45-10.00

Press Conference

  1. Minister of Health, RI
  2. Professor Ali Ghufron Mukti
  3. Dr. dr. Trihono, M.Sc

 

 

10.00-10.15

 

Coffee break

 

 

10.15-11.00

Keynote Speech “Social Security Excecuting Agency/BPJS”

  1. Professor Ali   Ghufron Mukti

 

Nakula Sadewa

11.00-12.15

Plenary session 1 “Chalengges and Threat toward Universal Coverage” 

  1. WHO
    (Who support on universal health coverage implementation) 

Dr. Khancit Limpakarnjanarat

 

 

  1. Success Factor of Universal Health Coverages:
  1. Thailand
  2. India

 

 

  1. Key Findings of Health  Resources (Health Facility Survey/Rifaskes)

Dr. dr. Trihono, M. Sc

 

 

12.15-13.30

Poster Session

 

 

 

 

 

LUNCH

 

 

13.30-16.00

Parallel session 1

 

 

 

  1. Challenge and Threat  toward Universal Coverage (7 paper)
  2. Health System Strengthening (7 paper)
  3. Determination of Health (environment Health, Sosio Cutural, Nutrition, NCD, CD) (7 paper)
  • Basic Approach
  • Applide Approach

 

 

Room 1

Room 2

Room 3

 

 

  1. Others (7 paper)

 

 

Room 4

16.00-19.00

 

BREAK

 

 

19.00-finish

Gala Dinner

Friday-October 12, 2012

08.00-10.00

Parallel Session 2

  1. Challenges and threat toward universal coverage (6 paper)
  2. Health system strengthening (6 paper)
  3. Determinant of health (6 paper)
  4. Others (6 paper)

 

 

Room 1

Room 2

Room 3

Room 4

10.00-10.30

Poster session

 

 

 

 

Coffee break

10.30-12.00

Parallel session 3

 

  1. Challenges and threat toward universal coverage (4 paper)
  2. Health system strengthening (4 paper)
  3. Determinant of health (4 paper)
  4. Others (4 paper)

 

 

Room 1

Room 2

Room 3

Room 4

12.00-14.00

Poster Session

 

 

 

 

LUNCH

14.00-16.00

Plennary Session 2

 

Health System Strengthening

  1. Health System Strengthening
  2. Equity in universal health coverage movement

Dr. Soewarta Kosen, MPH, DrH

Proffesor Laksono Trisnantoro

 

Nakula Sadewa

 

Determinant of Health

 

  1. Reducing Regional Health Disparities : Challenge and Opportunities
  2. Social Determination of Health and Universal Health Coverage
  3. Spatial and Environmental Determinant of Health (EH)

Dr. Triono Soendoro, Ph.D

Proffesor Charles Surjadi

Professor Umar Fahmi Ahmadi

 

 

16.00-17.00

Conclusion

Dr. Trihono, M.Sc

 

 

 

Closing Ceremony

Professor Ali Ghufron Mukti

 

 

 

reportase 4 oktober 2012

Workshop Hari Ketiga
The Knowledge Sector ” Developing Influential Think Tanks in Indonesia”

Jakarta, 4 Oktober 2012

Reportase Hari I  Reportase Hari II Reportase Hari III

Diskusi Kelompok I : Discussion and Reflections on the Last Day

Pada hari ketiga acara workshop diawali dengan kegiatan mereview kembali mengenai lembaga think tank. Hal ini dilakukan untuk mendengarkan pendapat dari juru bicara setiap kelompok diskusi. Tujuan dari diskusi ini adalah

  • Refleksi untuk pelajaran dan pembelajaran dari hari terakhir acara pada jangka menengah tertentu
  • Mendorong peserta untuk aktif berinteraksi pada kegiatan refleksi grup ini

Diskusi Kelompok II : Visioning Indonesia’s Think Tanks of the Future

tbusanaPada sesi diskusi ini diadakan peragaan busana. Setiap kelompok telah merancang sebuah model think tanks yang competible dengan tujuan untuk merancang think tanks yang ideal. Kegiatan menjadi menarik ketika sang model memperagakan busana dan perangcangnya. Setiap kelompok akan menjelaskan setiap detail dari rancangan busananya. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa think tanks yang berkualitas perlu fokus,yang professional, memiliki jaringan mitra yang luas serta bisa beradaptasi dengan tantangan sekitar.

Tujuan dari diskusi ini adalah mengidentifikasi kekuatan think tanks Indonesia di masa mendatang dan tentang kaitannya dengan masa depan di mana think tanks Indoneisa akan dijalankan. Tantangan dan kesempatan yang akan mereka hadapi, dan melihat apa yang akan grup lihat mengenai aturan dari thinks tanks pada situasi lingkungan ini.

Diskusi Grup III : Change for Engagement: What Needs to Happen for Indonesian Think Tanks to Succesfully Indonesian Public Policy?

Pada diskusi selanjutnya setiap kelompok mendiskusikan mengenai gambaran thinks tanks Indonesia di masa depan. Adapun hal-hal yang menjadi fokus diantaranya :

  • Visi
  • Sasaran
  • Produk
  • Sumber Daya
  • Komunikasi
  • Biaya
  • Harapan
  • Hasil

Setelah kegiatan diskusi maka dilakukan presentasi dengan sistem berputar per tiga meja, yaitu untuk perputarannya terbatas pada kelompok 1,2,3 ; 4,5,6 ; dan 7,8,9. Saat perputaran, setiap meja meninggalkan dua representatif dan anggota lainnya memutar pada meja selanjutnya dan bertanya pada meja yang dikunjunginya tentang berbagai hal tentang rancangan think tanks tersebut hingga selesai. Langkah selanjutnya adalah melakukan sharing antara peserta kelompok, menceritakan kembali pengalaman peserta ketika berkunjung ke kelompok lain.

Tujuan dari kegiatan diskusi ini adalah mendiskusikan dan mengidentiifikasi think tanks Indonesia memiliki posisi yang lebih baik bagi mereka sendiri dan membantu untuk mempengaruhi kebijakan publik di Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan workshop yang disebut juga clinic. Setiap peserta hanya boleh memilih satu saja dari setiap sesinya. Think tanks clinic terbagi menjadi dua sesi dan setiap sesi terdapat tiga clinic, yaitu :

Sesi Think Tanks Clinic Part 1 : Research and Writing Skills

  1. Think Tanks Clinic A : How To Write a Good Research Proposal
    Membahas mengenai bagaimana membuat proposal penelitian yang baik, juga mencakup topik menulis proposal penelitian dan trik bekerjasama dengan banyak lembaga donor
  2. Think Tanks Clinic B : How to Write a Good Policy Brief
    Membagi pengalaman, pelajaran dan ketrampilan secara praktis untuk membuat kebijakan publik yang ringkas, mengapa kebijakan yang ringkas tersebut dapat membantu, dan proses dibalik pengembangan kebijakan yang ringkas
  3. Think Tanks Clinic C : How to Set a Research Agenda
    Membagi pengalaman, pelajaran dan ketrampilan secara praktis untuk membuat riset agenda yang baik. Sesi ini akan mencakup topik seperti mengapa agenda penelitian begitu penting, apa saja proses yang dilalui untuk terlibat di dalam mendesain agenda penelitian dan apa yang menjadi penting dari isu yang ada untuk membuat agenda penelitian.

Sesi Think Tanks Clinic Part 2 : Communication and Engagement

  1. Think Tank Clinic A : Producing a Useful Communication Strategy
    Membagi pengalaman, pembelajaran dan ketrampilan secara praktis untuk membangun suatu bentuk strategi komunikasi yang baik. Sesi ini akan mencakup topik seperti proses dari membangun strategi komunikasi dan tantangan serta keuntungan dari meluangkan waktu untuk melakukan strategi yang baik dalam berkomunikasi
  2. Writing in the Media
    Membagi pengalaman, pembelajaran dan ketrampilan secara praktis untuk terampil menulis di media. Pembelajaran ini mencakup tantangan dan keuntungan ketika kita menulis di media, apa kegunaan dari menulis di media dan dan bagaimana hal tersebut dapat membantu menjembatani pesan kita.
  3. Linking with Policy Makers
    Membagi pengalaman, pembelajaran dan ketrampilan secara praktis saat terlibat aktif dengan pembuat kebijakan. Sesi ini mencakup cara-cara untuk terlibat di dalam pembuat kebijakan, tantangan dan keuntungan dengan keterlibatan pembuat kebijakan dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk membangun relasi dengan yang baik dengan pembuat kebijakan.

Seluruh kegiatan ditutup dengan diskusi panel yaitu untuk menemukan konklusi dan evaluasi kegiatan tersebut dan sesi penutupan.

TIME

TOPIC

EXPLANATION

08.30-09.00

Recap and Review of Day 1

 

09.00-10.30

Visioning Indonesia’s Think Tanks of the Future

 

10.30-11.00

Coffee



11.00-12.30

Change for Engagement:
What Needs to Happen for Indonesia’s Think Tanks to Successfully Influence Indonesian Public Policy

At the end of this session, AusAID will be invited to respond to results of group discussions

12.30-13.30

Lunch

13.30-15.00

Think Tank Clinic 1:
Research and Writing Skills

  1. Writing a Research Proposal
  2. Writing a Policy Brief
  3. Setting a Research Agenda

Participants to choose practical skills area they are most interested in learning more about.

15.00-15.30

Coffee

15.30-17.00

Think Tank Clinic 2:

Communication and Engagement

  1. Producing a useful communication strategy
  2. Writing in the media
  3. Linking with policy makers

Same as above

17.00-17.30

Participants Reflections

Participants to share reflections of the workshop – what was interesting? What did they learn? What are they going to do differently? Hopes for other shared-learning opportunities?

17.30

Closing Remarks

 

Knowledge Sector Workshop 3 oktober 2012

Knowledge Sector Workshop
“Developing Influental Think Tanks In Indonesia”

Rabu, 3 Oktober 2012

Reportase Hari I  Reportase Hari II Reportase Hari III

Hari kedua, kegiatan workshop diawali dengan perkenalan antar peserta dengan menyebutkan keunikan dari masing-masing peserta. Workshop akan membahas mengenai peran dan hal-hal yang perlu dimiliki oleh “Think Tanks” di Indonesia, contohnya memahami isu-isu lokal yang sedang terjadi di dalam masyarakat dan sebagai penghasil dari pengetahuan khususnya riset/penelitian.

Lembaga riset atau penelitian tersebut memaketkan informasi-informasi yang telah diterima menjadi hasil yang berkualitas sehingga dapat ikut memperbaiki dan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pemerintahan.

Konsep dari workshop ini adalah Peer Sharing dengan harapan para peserta

  1. mengetahui sistem dan proses kerja di masing-masing lembaga peserta
  2. mengetahui cerita dibalik kesuksesan dari lembaga tempat para peserta bekerja
  3. dapat saling membagi pengetahuan dan pengalaman guna memperkuat think tanks di Indonesia

Para peserta dapat berbagi gagasan dalam penentuan strategi apa yang paling jitu sehingga think tank dapat mempengaruhi kebijakan.

Pada sesi debat, dalam presentasinya, Enrique Mendizabel, (on think tanks blog author and Independent Consultan) menyampaikan bahwa pengaruh kebijakan dalam masyarakat diawali dengan bagaimana kita belajar untuk memimpin suatu komunikasi yang besar guna mempengaruhi kebijakan publik yang ada. Tantangan berupa teknologi yang baru akan memberikan dampak pada kebijakan publik yaitu melalui facebook, twitter, dll. Artinya bahwa sudah terjadi keterbukaan publik dari instansi pemerintah terhadap masyarakatnya.

Poin penting yang perlu kita ketahui adalah bagaimana cara untuk mempengaruhi kebijakan publik itu sendiri, yaitu lewat pengembangan ide besar dan opini, melalui jaringan dengan pihak lain, tidak mengambil alih aturan-aturan yang menjadi milik yang lain dan juga memimpin dengan mengartikulasikan permasalahan, mempelajari dan membawa publik untuk dipimpin.

Sedangkan pada diskusi panel, Prof. Laksono Trisnantoro, (Center for Health Management UGM), lebih membahas tentang kedudukan think tanks sebagai policy maker dan di luar dari policy maker (independensi), menjadi policy maker dapat melalui birokrasi dan partai politik beserta resikonya. Di lain sisi, independensi belum didukung oleh sistem sehingga khususnya kesehatan terutama dalam aspek monitoring dan evaluasi kebijakan sehingga membawa implikasi dalam bertindak.

Kegiatan workshop dilanjutkan dengan mendengar pengalaman dari representatif think tank dari negara lain yaitu Martine Letts (Lowy Institute Australia), Antonia Mutoro (Ruwanda), Arun Mahizhnan (Singapura) dan Goran Buldioski (Hungaria). Begitu pula juga dari repesentatif dari negara kita, yaitu Rizal Sukma (CSIS), Ilham Candekia Srimarga (Pattiro), Daniel Dhakidae (LP3ES) dan Nurul Widyaningrum (Akatiga). Peran think tanks di dalam suatu Negara menjadi penting karena bisa memberikan data-data penelitian yang komprehensif dan berkualitas, berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi kepada pemangku jabatan di institusi penting pemerintah.

Selain itu, think tanks dapat memberikan suatu saran ataupun pendapat berdasarkan analisa baru yang sesuai dengan permasalahan ataupun isu yang berkembang di dalam masyarakat. Think tanks dapat menjadi institusi dalam melakukan transfer knowledge kepada institusi ataupun masyarakatnya sesuai dengan perkembangan globalisasi saat ini, juga berpegang pada misi visi dan tujuannya sehingga tidak terombang-ambing oleh keadaan, oleh karena itu independensi pun turut menjadi bagian yang penting.

Jadi pengambil kebijakan menjadi point and center dalam menentukan kesejahteraan rakyat. Antara pemerintah dan think tanks perlu terjalin komunikasi yang baik terutama dalam informasi hasil-hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan dalam memutuskan kebijakan publik.

TIME

TOPIC

EXPLANATION

08.30-09.00

Welcome Remarks

AusAID representative to welcome participants and explain the purpose of the workshop

Introduce resource persons and INSPIRIT team

09.00-09.30

Workshop Orientation and Introductions

Brief explanation of what is going to happen over the two-day workshop and participants’ introduction exercise

09.30-10.30

Debate: What are the most effective ways to influence policy?

To kick-off the workshop, the debate will present powerful provocative questions/statements that will be responded by strong advocates of: (1) advocacy NGOs; (2) think tanks and (3) consulting agencies.

Participants will also be able to join in the debate, facilitated by the facilitators.

10.30-11.00

Coffee

11.00-12.00

Learning from International Think Tanks

3 speakers share their experiences – successes, strengths, how they use their strengths to overcome challenges

12.00-13.00

Learning from Indonesian Think Tanks

3 speakers share their experiences – successes, strengths, how they use their strengths to overcome challenges

13.00-14.00

Lunch

14.00-15.00

Policy and Decision-making in Indonesia

AusAID to identify good speakers who can speak on national (and international?) policy and decision making

15.00-15.30

Questions and Answers

 

15.30-16.00

Coffee

16.00-17.30

Identifying Strengths of Think Tanks in Indonesia

 

19.00

Evening Reception followed by Dinner

Information Market and Exhibition.

Display area to be prepared for participants to share their work.

Peserta dan Fasilitator

 

Peserta dan Fasilitator

Peserta terdiri dari tim pengelola unit penelitian yang ada di perguruan tinggi masing-masing.

  1. Di dalam pertemuan tatap muka I yang diharapkan datang adalah Dekan/Wakil Dekan, Kepala atau yang akan menjadi Kepala lembaga, serta seorang Peneliti Senior. Jumlahnya 3 orang dalam masing-masing institusi.
  2. Dalam pertemuan tatap muka II: Peserta adalah 2 orang dari setiap lembaga.
  3. Dalam program jarak jauh, akan ada banyak peserta karena menggunakan metode in-service training.

Dapat dinyatakan bahwa program pengembangan ini bukan berbasis individual, namun kelompok.
 

Fasilitator :
 

  1. Ahli dalam mengelola unit penelitian
  2. Ahli dalam penulisan proposal dan penelitian
  3. Ahli dalam policy advocacy
  4. Technical Assistance dari donor agencies

Tujuan Kegiatan

  Tujuan Kegiatan

 

Kegiatan ini mempunyai sasaran kelompok yaitu unit atau lembaga penelitian yang mengembangkan penelitian kebijakan kesehatan. Dengan demikian peserta program pengembangan ini adalah tim yang mewakili perguruan tinggi. Ada beberapa tujuan yaitu:

  1. Mendukung pendirian pusat penelitian kebijakan kesehatan di berbagai universitas;
  2. Memperkuat tata kelola pusat penelitian kebijakan kesehatan yang sudah ada;
  3. Mendukung pusat – pusat penelitian untuk menyiapkan diri dalam penulisan proposal dalam menghadapi kemungkinan “call for proposal” dari dalam dan luar negeri.

Manfaat yang dapat diambil oleh unit penelitian adalah penguatan system tata kelola lembaga penelitian, mencari sumber pendanaan riset kebijakan, dan peningkatan kemampuan menyusun, melaksanakan riset kebijakan sampai ke pengelolaan advokasi kebijakan.

Deskripsi

  Deskripsi

Di sistem kesehatan yang terdesentralisasi di Indonesia, kebutuhan untuk melakukan penelitian kebijakan semakin besar. Sebagai gambaran berbagai kebijakan kesehatan tidak hanya diputuskan di level nasional, namun juga ada di propinsi dan kabupaten/kota. Di dalam UU BPJS ada pasal yang menyatakan kebutuhan untuk lembaga pengawas independen yang tentunya membutuhkan dukungan penelitian kebijakan. Di sisi lain berbagai donor semakin menekankan mengenai pentingnya bukti dalam penyusunan dan evaluasi kebijakan kesehatan.

m1Tantangan pertama adalah belum terbiasanya peneliti di bidang kesehatan dan kedokteran menyusun dan melaksanakan penelitian kebijakan. Secara tradisi peneliti di bidang kesehatan menguasai metode penelitian epidemiologi, clinical trial, biomedik, namun jarang yang memahami ilmu-ilmu sosial sebagai dasar penelitian kebijakan kesehatan. Oleh karena itu sering terjadi “call for paper” untuk presentasi atau “call for proposal” untuk menyusun proposal riset kebijakan belum banyak yang dapat menanggapinya.

m2Tantangan kedua adalah lembaga yang meneliti kebijakan kesehatan secara independen belum banyak jumlahnya di Indonesia. Sebagian besar berada di universitas dan lembaga penelitian di pulau Jawa. Sementara itu kebutuhan penelitian kebijakan meningkat di seluruh daerah. Akibat yang terjadi adalah kemajuan perkembangan penelitian kebijakan kesehatan masih lambat. Jumlah peneliti kebijakan kesehatan masih terbatas di berbagai universitas. Sementara itu banyak universitas yang tidak mempunyai peneliti dan staf pendukung penelitian yang profesional serta jaringan kerja.

m3Tantangan ketiga adalah sumber daya keuangan untuk menjalankan riset kebijakan. Tantangan ini menarik karena mempunyai ciri-ciri seperti “telur dan ayam” dengan tersedianya peneliti. Dengan adanya kekurangan peneliti kebijakan kesehatan yang baik, maka kemampuan menulis proposal, melaksanakan penelitian, dan mempengaruhi proses kebijakan menjadi lemah. Sementara itu logika dan peraturan menyatakan bahwa sebagian dari anggaran program kesehatan, termasuk kebijakan besar seperti Jaminan Kesehatan harus dimonitor dan dievaluasi oleh lembaga independen. Dapat dibayangkan apabila 1% saja (tidak 5%) dari anggaran Jamkesmas dipergunakan untuk evaluasi dan monitoring, akan tersedia sekitar Rp 60 milyar setahun untuk program monitoring dan evaluasi. Kesempatan ini belum dipersiapkan secara maksimal.

Latar belakang tersebut di atas mendorong perlunya program pengembangan Kelompok Riset Kebijakan Kesehatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran. Mengapa di dua fakultas? Fakta Tantangan kebijakan menunjukkan bahwa akar Tantangan ada yang berada di dalam ilmu kesehatan masyarakat dan ada yang di ilmu biomedik. Oleh karena itu perlu pengembangan riset kebijakan di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran. Atau kemungkinan lain, kedua fakultas di satu universitas diharapkan bekerja bersama untuk mengelola lembaga penelitian kebijakan kesehatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reportase 2 Oktober

r3okto

The Knowledge Sector Conference 2012
“Tracing Indonesia New Path : Revitalizing Knowledge To Reduce Poverty”

2 Oktober 2012

Konferensi

Konferensi Knowledge Sector yang diadakan hari ini diHotel Aryaduta, diawali dengan pembahasan mengenai Tracing Indonesia New Path : Revitalizing Knowledge To Reduce Poverty dengan pilihan tema mengurangi kemiskinan di dalam masyarakat. Fokus penting dalam hal ini ialah memberdayakan sumber daya manusianya. Langkah ini dapat dilakukan melalui peningkatan pendidikan dasar dan pendidikan lainnya sehingga memberikan manfaat bagi semua orang. Peningkatan-peningkatan tersebut akan membawa dampak positif pada kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain.

Peningkatan tersebut tidak lepas dari peran lembaga-lembaga penelitian yang memberikan kontribusinya dalam memberikan data yang akurat dan komprehensif. Penelitian dan pengetahuan dapat memberikan masukan kepada pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan sistem pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, penelitian yang terfokus dapat membantu pemerintah untuk membuat kebijakan yang mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Maka diperlukan peningkatan di bidang kesehatan dan pendidikan untuk mengurangi angka kemiskinan. Hal tersebut dilakukan melalui universitas dan lembaga riset yang ada. Lembaga penelitian dapat memberikan usulan yang independen dengan menggunakan bukti-bukti yang ada. Saran dari lembaga penelitian yang kompeten akan memberikan kualitas data dan analisis yang terjadi di dalam masyarakat sehingga dapat membantu mempengaruhi kebijakan publik yang kelak akan mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Press Conference

Debat dan dialog yang akan dilakukan pada hari kedua (3-4 Oktober) akan memberikan gambaran tentang investasi untuk sektor pengetahuan dan pendidikan. Menurut para pakar internasional dan think tank (lembaga kebijakan) terkemuka, pengetahuan dan penelitian merupakan pendukung penting dalam pembangunan negara-negara bekembang dan bependapatan menengah. Fokus dari konferensi ini adalah “Menyusuri Jejak Baru Indonesia : Revitalisasi Pengetahuan Untuk Pengentasan Kemiskinan” melalui penelitian yang berkelanjutan untuk menumbuhkan perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Kesejahteraan Indonesia di masa depan akan bergantung dalam pengelolaan dan pemanfaatan pengetahuan oleh para pimpinannya.

Dalam dialog tersebut akan dibahas mengenai perencanaan strategis apa yang akan dilakukan dalam membentuk sebuah lembaga penelitian yang komprehensif. Knowledge sector akan memberikan perencanaan strategis di dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini. Selain itu, strategi ini akan membantu untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan. Penelitian yang pernah dilakukan diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian seseorang ataupun lembaga tertentu tetapi dapat memberikan kontribusi dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah demi kesejahteraan masyarakat Indonesia (Ika).

 

r3okto

eHealth in the Americas

PAHO/WHO KMC Seminar Series:

” eHealth in the Americas “

Website: bit.ly/S7uTe3

The Member States of the Pan American Health Organization approved in 2011, the implementation of a Regional eHealth Strategy and Plan of Action to all the countries in the Americas Region. One of the key elements of the strategy is knowledge and information sharing among member states and stakeholders.

The proposed KMC Seminar series on eHealth aim at contributing to this important debate by bringing different themes of relevance and key players working on eHealth globally to ensure knowledge sharing among people and institutions and convergence in the implementation of eHealth National Strategies and plan of actions; and also to inform public health stakeholders and other decision makers in the health sector, to better take part in the debate.

Seminar Nº1: eHealth and The Rockefeller Foundation Experience and Vision

By Karl Brown, Associate Director, Applied Technology at Rockefeller Foundation

Karl Brown joined the Rockefeller Foundation in 2006. As Associate Director of Applied Technology, Brown is focused on the application of information technology to the programmatic work of the foundation. He is working on exploring and nurturing imaginative uses of technology by Rockefeller grantees, and improving collaboration and knowledge management within the Foundation.

Prior to joining the Rockefeller Foundation, Brown worked as the Chief Technical Officer of GNVC, an NGO that fostered entrepreneurship in Ghana . Previously, Brown was a technical team lead with Trilogy, where he developed and deployed enterprise systems and consumer-facing websites for Fortune 500 companies such as Ford and Nissan. Brown received a Bachelor of Science in Computer Science from Stanford University and a Master of International Affairs from Columbia ‘s School of International and Public Affairs.

When            : Friday October 5th. 2012
Language     : English
Time             : 2:00 pm – 3:00 pm – EST ( Washington , DC USA ) To check your time zone, see the World Clock

Virtual room : http://www.paho.org/virtual/ict4health

Agenda

2:00

Welcome Remarks – Marcelo D’Agostino KMC Area Manager PAHO/WHO

2:05

eHealth and The Rockefeller Foundation Experience and Vision
Karl Brown, Associate Director, Applied Technology at Rockefeller Foundation

2:30

Comments, Questions & Answers
Moderator: PAHO/WHO

3:00

Concluding Remarks :
Marcelo D’Agostino KMC Area Manager PAHO/WHO


To participate online:

To login to the Virtual session, use the link below and type your name on the sign in page:

URL: http://new.paho.org/virtual/ehealth
 

Related material:

PAHO/WHO eHealth portal: http://new.paho.org/ict4health

CD51/13 — PAHO/WHO Strategy and Plan of Action on eHealth
CD51/13 — OPS/OMS Estrategia y Plan de acción sobre eSalud
CD51/13 — OPAS/OMS Estratégia e Plano de Ação para eSaúde
CD51/13 — OPS/OMS Stratégie et Plan d’action sur la cybersanté
 

Additional information:

·  The KMC Seminar series will happen every two months
·  All Seminars will be life-streamed, and opened for participation via Elluminate, or via telephone line.
·  For those who cannot follow the live seminar, we will have the recordings and presentations available at