Kemkes Gelar “Bulan Pengukuran Tekanan Darah”

Memperingati Hari Hipertensi Sedunia, Kementerian Kesehatan (Kemkes) menggelar Bulan Pengukuran Tekanan Darah mulai 17 Mei hingga 17 Juni 2016 di seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) atau Puskesmas di seluruh Indonesia.

“Melalui kegiatan ini diharapkan makin banyak orang di Indonesia yang menyadari bahaya dari hipertensi yang tidak terkontrol,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemkes, Mohamad Subuh di Jakarta, Senin (16/5).

Subuh pada kesempatan itu didampingi Direktur Penyakit Tidak Menular, Ditjen P3 Kemkes, Lily Sulistyowati.

Subuh mengutip data Sample Registration System (SRS) Indonesia 2014 yang menyebutkan kasus hipertensi dengan komplikasi mencapai 5,3 persen dan menjadi penyebab kematian nomor 5 pada semua umur.

“Hipertensi yang tak mendapat penanganan yang baik menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal dan kebutaan. Tertinggi pada stroke (51 persen), sedangkan jantung koroner sebesar 45 persen,” tuturnya.

Di tingkat dunia, lanjut Subuh, data WHO 2011 menunjukkan 1 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Dari jumlah itu, 2/3 diantaranya ada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah dan sedang.

“Prevalensi hipertensi di dunia terus meningkat tajam. Diprediksikan pada 2025 ada 29 persen orang dewasa di seluruh dunia terkena hipertensi. Delapan juta orang meninggal setiap tahunnya karena hipertenau, dan sebanyak 1,5 juta ada di Asia Tenggara,” kata Subuh.

Padahal, Subuh menambahkan, penyakit hipertensi bisa dikendalikan lewat perilaku CERDIK yang merupakan akronim dari Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang dan Kelola stress.

“Sosialisasi CERDIK ini akan kami lakukan terus agar muncul kesadaran diri di masyarakat tentang bahaya hipertensi. Caranya dengan memeriksakan diri periksa tekanan darah secara rutin minimal sebanyak 1 kali satu bulan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Subuh mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi kopi dan teh secara berlebihan. Karena kopi dan teh memiliki kafein yang berpotensi meningkatkan tekanan darah kita.

“Kopi sering disebut sebagai sumber kafein. Namun sebenarnya beberapa jenis teh memiliki kafein yang lebih tinggi dari pada kopi,” ujar Subuh. (TW)

{jcomments on}

RSPI Sulianti Saroso Jadi Unggulan Penatalaksanaan Kasus Infeksi Nasional

16mei

16meiRumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Sarosa akan menjadi contoh layanan unggulan dalam pengendalian dan penatalaksanaan kasus infeksi di tingkat nasional. Bahkan, tak menutup kemungkinan di tingkat internasional.

“Kasus infeksi dapat sorotan dunia, jika kita mampu menyelesaikan persoalan di negeri sendiri. Untuk itu pentingnya meningkatkan kualitas diri,” kata Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemkes), Bambang Wibowo pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Jumat (12/5).

Untuk itu, Bambang Wibowo dalam siaran persnya mengatakan, keberadaan rumah sakit khusus penyakit infeksi terkadang seperti tidak dicari. Namun, suatu saat menjadi sangat dibutuhkan dan bahkan menjadi perwajahan suatu negara.

“Penyakit infeksi terkadang bisa muncul tanpa bisa diprediksi. Pada saat tertentu hampir tidak ada, namun bisa jadi suatu saat melonjak banyak,” tuturnya.

Karena itu, Bambang Wibowo menilai, persoalan akreditasi adalah persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh rumah sakit. Akreditasi bukan hanya stempel semata. “Akreditasi menggambarkan tata kelola sebuah organisasi,” ujar Bambang.

Ia kembali menegaskan, bila ke depan RS Khusus semacam Sulianti Sarosa akan dikelola secara khusus dan mendapat fasilitas khusus, kekhususan atau privilage ini mesti dilampirkan dengan prestasi yang luar biasa.

Menjawab tantangan tersebut, Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Rita Rogayah menyatakan memasuki usia ke 22 tahun, pihaknya tengah mempersiapkan diri untuk melaksanakan Akreditasi Versi 2012 dengan target “Lulus Paripurna”.

“RSPI Sulianti Sarosa sedang dalam proses peningkatan menjadi RS Khusus Kelas A, dan dalam proses penetapan sebagai RS Pendidikan.

“RSPI senantiasa berupaya melakukan fungsi pelayanan rujukan penyakit infeksi sesuai standar yang didukung dengan pelaksanaan riset yang terarah,” kata Rita.

Selain itu, lanjut Rita, pihaknya juha memperkuat jejaring dengan mitra kerja di lingkup layanan, pendidikan maupun penelitian penyakit infeksi.

Saat ini, RSPI Sulianti Saroso merupakan RS pendidikan afiliasi dari FK UI yang menerima program pendidikan profesi dokter (ilmu kesehatan anak dan pulmonologi) serta Residen (pulmonologi dan penyakit dalam divisi infeksi tropis).

Selain itu, lanjut Rita, pihaknya juga bekerja sama pelayanan rujukan penyakit infeksi telah dijalin RSPI dengan 31 RS di Jabodetabek.

“RSPI juga telah menjalin kerjasama dengan PT Bio Farma untuk penelitian dan pengembangan vaksin, juga lembaga pelayanan, pendidikan dan penelitian lainnya di dalam negeri,” kata Rita menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Malaria Masih Bunuh 400 Ribu Orang di Seluruh Dunia Tahun 2015

WHO mengatakan, teknologi baru perlu dikembangkan untuk menangani penyakit ini dan perjuangan akan membutuhkan komitmen politik yang kuat dan pembiayaan dari pemerintah-pemerintah di dunia.

Dalam empat tahun mendatang, enam negara di Afrika di kawasan di mana penyakit malaria paling sering berjangkit, dapat bebas dari penyakit itu, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan yang diterbitkan untuk memperingati Hari Malaria Dunia, Senin lalu.

“Strategi Teknis Global untuk Malaria 2016 -2030,” yang disetujui oleh WHO tahun lalu, diharapkan berhasil menghentikan penularan malaria di sedikitnya 10 negara sebelum tahun 2020, tetapi kini WHO memperkirakan bahwa 21 negara dapat mencapai sasaran itu, termasuk enam negara di Afrika.

“Untuk Hari Malaria, temanya adalah memberantas malaria untuk selamanya. Jadi itu terkait dengan sebagian “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” dan dalam hal itu kita bermaksud mengurangi timbulnya kasus dan angka kematian akibat malaria sampai sekitar 90 persen selambatnya tahun 2030,” kata pejabat WHO, Richard Sidoskous.

Richard Sidoskous menambahkan, sejak tahun 2000, angka kematian akibat malaria telah menurun 60 persen di seluruh dunia. Di kawasan Afrika, angka kematian akibat malaria turun 66 persen di antara semua kelompok usia dan anjlok 77 persen di antara anak-anak usia di bawah lima tahun.

“Ke-enam negara di Afrika yang dapat bebas dari malaria sebelum tahun 2020 adalah Aljazair, Botswana, Cape Verde, Comoros, Afrika Selatan dan Swaziland,” lanjutnya.

WHO mengatakan angka infeksi malaria turun karena penggunaan kelambu yang diobati dengan insektisida, semprotan serangga secara teratur di dalam rumah dan pemeriksaan yang cepat untuk mengetahui diagnosis yang diperlukan, walaupun lambat laun teknik-teknik demikian semakin kurang ampuh.

“Keampuhan sarana dalam keberhasilan pemberantasan malaria pada tahun-tahun awal abad ini sekarang terancam,” ujar pejabat WHO itu. Dikatakan, kekebalan nyamuk terhadap insektisida yang digunakan pada kelambu dan sisa semprotan di dalam rumah kini meningkat. Demikian juga kekebalan parasit terhadap satu komponen salah satu obat anti-malaria yang paling keras.

Walaupun prospeknya menjanjikan, WHO memperingatkan bahwa hampir setengah populasi dunia atau sekitar 3,2 miliar orang, masih berisiko tertular malaria. Tahun lalu, 214 juta kasus baru malaria dilaporkan muncul di 95 negara. Lebih dari 400.000 orang meninggal akibat penyakit itu.

Laporan itu mengatakan sembilan dari sepuluh kematian akibat malaria pada tahun 2015 terjadi di sub-Sahara Afrika.

Ke depan, WHO mengatakan, teknologi baru perlu dikembangkan untuk menangani penyakit ini dan perjuangan akan membutuhkan komitmen politik yang kuat dan pembiayaan dari pemerintah-pemerintah di dunia.

WHO mengatakan, untuk mencapai tujuan “Strategi Teknis Global” akan diperlukan peningkatan tajam pendanaan global dan domestik, yakni dari $2,5 miliar sekarang, menjadi sekitar $8,7 miliar setiap tahun selambatnya tahun 2030. [lt/as]

http://www.voaindonesia.com/

 

Pemerintah Naikkan Insentif Tim Nusantara Sehat

11mei

11meiKementerian Kesehatan (Kemkes) menaikkan penghasilan pokok dan insentif bagi para dokter dan tenaga kesehatan yang tergabung dalam Tim Nusantara Sehat (NS). Kenaikan itu diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para dokter dan tenaga kesehatan untuk ditempatkan di daerah terpencil.

“Pada tahun kedua ini, tim NS akan berangkat akhir Mei 2016 sebanyak 38 tim, mencakup 196 dokter dan tenaga kesehatan,” kata Sekjen Kemkes, Untung Suseno Sutarjo usai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan 27 bupati daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK) terkait program NS, di Jakarta, Rabu (11/5).

Dijelaskan, MoU dengan kepala daerah dilakukan guna menjamin keselamatan dan keamanan tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim. Selain menyediakan sarana, prasarana dan fasilitas tempat tinggal yang layak bagi tenaga kesehatan.

“Pemerintah juga akan menerbitkan Surat Izin Praktik (SIP) untuk mereka sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujar Untung.

Ditambahkan, program yang dilaksanakan sejak 2015 lalu itu telah sebanyak 696 tenaga kesehatan yang tersebar lebih dari 100 Puskesmas di 14 provinsi. Tim diberangkatkan dalam dua tahap pada Juni dan Oktober.

“Tahun ini, 38 tim NS pada tahap pertama akan berangkat 194 tenaga kesehatan. Mereka akan bekerja di 38 Puskesmas yang tersebar di 25 Kabupaten DTPK,” katanya.

Tim NS adalah tenaga kesehatan dengan beragam keahlian mulai dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, analisis laboratorium, tenaga gizi dan tenaga kefarmasian.

Pelaksanaan program NS melalui 6 tahap yaitu survey dan penentuan lokasi, seleksi online dan penilaian langsung, hingga pelatihan pembekalan peserta sebelum berangkat. Mereka akan menjalani tugas selama 2 tahun.

Tentang penghasilan dan insentif bagi tim NS tahun ini ada kenaikan yang cukup signifikan. Untung Suseno menyebutkan untuk profesi dokter umum/gigi diberikan Tim NS Rp11,1 juta, dan Rp9,6 juta untuk S1 profesi selain dokter umum/gigi.

Ditambahkan, untuk lulusan S1 dan diploma IV diberikan sebesar Rp7,9 juta serta dana Rp 6,2 juta bagi lulusan diploma III kesehatan lainnya. “Penghasilan tim NS tahun ini lebih besar dibanding tahun 2015 lalu yang diberikan sebesar Rp 4,4 juta hingga Rp7,8 juta,” ucap Untung menegaskan. (TW)

 

PROGRAM IMUNISASI: Mencari Solusi Pemerataan Vaksin Di Indonesia

Tiga tahun lalu, Soesi bermimpi dapat memberikan kehidupan yang lebih layak untuk putra semata wayang-nya yang baru lahir dengan hijrah ke Jakarta. Dalam bayangannya, hidup di Ibukota akan melepaskannya dari jerat kemiskinan di kampung halamannya di Jawa Tengah.

Pekerjaan sebagai tukang cuci-setrika dan asisten rumah tangga di sebuah rumah kos pun dilakoninya agar bisa terus menyuapi anaknya, Najwa. Si kecil yang kini menginjak usia tiga tahun kerap ditinggal sen-diri saat ibunya sedang bekerja.

Kesibukan tak jarang membuat Soesi lupa akan kebutuhan dasar balitanya akan imunisasi. Di benaknya, dia berpikir ‘Tak perlulah kontrol rutin ke Puskesmas atau Posyandu, toh anakku sehat-sehat saja sejauh ini; usianya sudah menginjak 3 tahun.’

Menurutnya, kelengkapan vaksinasi bukan hal yang harus dirisau-kan. Lebih penting baginya untuk mencari uang agar perut anaknya bisa kenyang setiap hari dan kelak, bila sudah waktunya, bisa masuk sekolah. “Biaya sekolah mahal. Mikirin itu saja susah,” kesahnya.

Soesi hanyalah secarik guntingan potret sebagian orang tua di Indonesia yang belum menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati mereka. Vaksin dan imunisasi, oleh sebagian kalangan, belum dinilai sebagai ‘investasi’ bagi masa depan tumbuh kembang jasmani anak.

United Nations Children’s Emergency Fund (Unicef) bahkan menempatkan Indonesia pada posisi keenam sebagai negara yang memiliki jumlah terbanyak bayi yang tidak divaksinasi atau belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Di republik ini, setiap tahunnya ada sekitar 700.000 bayi yang tidak menerima layanan imunisasi. Ironisnya, banyak di antara mereka justru berada di daerah perkotaan berpendapatan rendah. Sebut saja, seperti di Cilincing, Jakarta Utara.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memprediksi 1,5 juta nyawa meregang setiap tahun akibat kurangnya vaksinasi. Satu dari lima anak juga diprediksi tidak mendapatkan imunisasi rutin untuk tetanus, difteri, dan pertusis.

Bayi yang hidup di tengah jerat kemiskinan ditengarai lebih berisiko kurang imunisasi. Itu pula yang menjadi penjelasan mengapa di Indonesia penyakit seperti wabah campak, polio, dan diphtheria masih saja ditemukan.

Menilik latar belakang tersebut, Unicef meminta agar Pemerintah Indonesia segera bertindak untuk mengubah situasi ‘darurat imunisasi’ tersebut.

Organisasi naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengajak pemerintah melakukan intervensi. Salah satu gagasan yang diusulkan Unicef adalah penggunaan teknologi komunikasi mutakhir untuk membenahi sistem pemantauan bayi yang diimunisasi, sebagai ganti dari sistem pendataan yang selama ini gagal berfungsi.

Innovation Lead Unicef Indonesia Jeffrey Hall, dalam newsletter terbarunya yang diterima Bisnis.com, memaparkan di daerah berpendapatan rendah, petugas kesehatan kerap dihadang kendala dalam melacak dan memonitor setiap anak yang menerima vaksin yang diperlukan.

“Itulah mengapa dibutuhkan program baru ini. Tahun lalu, Unicef mulai membuat percontohan teknologi RapidPro; sebuah program yang menggunakan pesan singkat SMS untuk mengumpulkan, memonitor, dan menyebarkan informasi kesehatan,” jelasnya.

Teknologi RapidPro memungkinkan petugas kesehatan untuk mengidentifikasi lokasi lingkungan yang berisiko tinggi dan memverifikasi vaksin bulanan pada pusat-pusat kesehatan.

Di samping itu, teknologi tersebut dapat melacak bayi-bayi yang belum mendapatkan dosis vaksinasi yang tepat. Keunggulan lainnya, RapidPro dapat mengirimkan reminder kepada orang tua tentang jadwal vaksinasi bagi buah hatinya.

“RapidPro adalah software open source yang memungkinkan spesialis program dan noncoder menjalankan pemantauan dan pelaporan berbasis SMS. Ini memanfaatkan teknologi komunikasi dalam mempercepat dan memperkuat hasil untuk anak-anak,” kata Jeffrey.

PARTISIPASI PEMUDA

Solusi yang ditawarkan oleh Unicef tersebut dibangun di Innovations Lab dengan meli batkan partisipasi pemuda untuk memikirkan, menciptakan, mencoba, dan menguji solusi alternatif untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Innovations Lab baru dimulai pada 2013 dan disokong bantuan dana dari U.S. Fund’s Next Generation, yang teridiri atas kelompok pemimpin muda, pengusaha, dan inovator berusia 20-30 tahun yang menjadi supporters aktif Unicef.

Belum lama ini, mereka terbang jauh-jauh dari Negeri Paman Sam khusus untuk melihat langsung kondisi di lapangan bagaimaa Indonesia menangani pelayanan vaksinasi bagi bayi-bayi di lingkungan berpendapatan rendah.

Salah satu dari kegiatan selama sepekan itu adalah meninjau kawasan Cilincing untuk memantau bagaimana ratusan anak menerima vaksinasi polio. Dengan melihat langsung ke lokasi, mereka dapat memikirkan alternatif solusi bagi masalah darurat vaksin di Tanah Air.

“Saya memutuskan untuk mengunjungi Indonesia karena saya ingin tahu mengenai peran Unicef di negara-negara berpenghasilan menengah, terutama bagaimana peran ini berinteraksi dengan program pemerintah,” ujar salah satu peserta, Bonner Campbell, yang juga analis keuangan senior di Netflix.

Sebenarnya, pemerintah tidak tutup mata dan lepas tangan terhadap masalah darurat vaksin untuk anak di Tanah Air. Melalui Kementerian Kesehatan dan kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), berbagai upaya pemerataan imunisasi telah digencarkan.

Sehubungan dengan Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April, upaya untuk membangun infrastruktur kesehatan guna memudahkan akses terhadap vaksinasi di seluruh pelosok Tanah Air pun kembali digaungkan.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Yosephine Hutapea, menjelaskan pemerintah akan semakin menekankan akses terhadap imunisasi bagi bayi di bawah 1 tahun serta booster bagi anak sekolah dasar.

“Dengan imunisasi, cacat dan penyakit menular bisa dicegah. Ini adalah intervensi yang paling efektif. Bahkan, bisa dikatakan, angka kematian bisa dicegah sampai 1,5 juta jiwa jika situasi imunisasi global membaik,” ujarnya.

Sejauh ini, RI telah berhasil membasmi wabah cacar dan mengklaim pembersihan terhadap wabah polio dengan bukti sertifikat dari WHO. Target pemerintah selanjutnya adalah mengeradikasi pertusis, tetanus, dan campak.

“Tantangan kita saat ini adalah meningkatkan cakupan imunisasi dan vaksinasi. Sebab, selama ini masyarakat berpikir bahwa imunisasi itu hanya untuk anak bayi saja.

Apalagi, dukungan layanan kesehatan masih relatif kurang. Belum lagi, adanya provokasi kontraimunisasi yang bertentangan dengan harapan kita bersama.”

Lantas, kapan hak-hak anak untuk mengakses imunisasi bisa benar-benar terpenuhi? Jangan sampai slogan Pekan Imunisasi yang dibuat pemerintah, “Menutup Senjang Imunisasi: Imunisasi untuk Semua Sepanjang Hidup”, hanya berakhir menjadi kata-kata mutiara semata.

http://lifestyle.bisnis.com/

 

 

Tingkat Keberhasilan Bayi Tabung di Indonesia Sudah 49 Persen

4mei

4meiFaktor usia ternyata memainkan peran dalam keberhasilan program bayi tabung. Program tersebut sebaiknya dilakukan pada usia antara 20-30 tahun. Diatas usia itu, kesuburan seorang perempuan sudah mulai menurun.

“Kebanyakan pasien ikut program bayi tabung sudah diatas 35 tahun, dalam kondisi tingkat kesuburan yang menurun,” kata Irsal Yan, dokter spesialis kebidanan dr Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, Jakarta, Rabu (4/5).

Dijelaskan, Klinik Teratai yang berdiri sejak 2006 berhasil mengembangkan program bayi tabung dengan tingkat keberhasilan sekitar 49 persen. Angka itu masih lebih tinggi dari angka keberhasilan di dunia sekitar 30 persen.

“Kami berharap pada pasangan pasutri yang tahu ada masalah pada organ reproduksinya, bisa segera berobat ke dokter. Karena semakin dini usia, peluang keberhasilannya semakin tinggi,” ucapnya.

Irsal Yan menyebut, pasutri yang berhasil memiliki anak yang diidamkan secara keseluruhan sejak 2006 sebanyak 300 orang. “Bayi tabung lahir pertama pada 2008. Hingga Desember 2011, lahir 160 bayi, terdiri dari 92 bayi tunggal, 50 bayi kembar dua dan 18 bayi kembar tiga,” tuturnya.

Ditambahkan prevalensi gangguan kesuburan di Indonesia diperkirakan 10-11 persen dari pasangan usia subur. Sementara badan kesehatan dunia WHO menyebut angka infertilitas global mencapai 50-80 juta dari pasangan usia subur.

“Kini masalah infertilitas bisa diatasi lebih mudah berkat kemajuan teknologi di dunia medis,” ucap Irsal Yan yang didampingi koleganya, dr Indra NC Anwar.

Klinik Fertilitas Teratai memiliki konsep “One Stop Fertility Services” yang ditunjang fasilitas canggih seperti laboratorium andrologi, laboratorium embriologi, instalasi Radiologi dan ruang Laparoscopy. Teratai sendiri merupakan akronim dari Teknologi Reproduksi Anak Tabung Indonesia.

Hal senada dikemukakan Indra Anwar. Katanya, infertilitas karena faktor istri mencakup 45 persen. Masalahnya bisa terdapat pada saluran telur (40 persen), ovulasi (15-25 persen), periterium/endometriosis (25 persen), mulut rahim (5 persen) dan rahim (5 persen).

Sedangkan faktor suami sekitar 40 persen. Dari pria, sumber masalahnya kemungkinan berasal dari kelainan pengeluaran sperma (3 persen), kelainan produksi dan pematangan sperma, penyempitan saluran mani karena infeksi bawaan (6 persen).

“Selain itu lada faktor imunologik/antibodi, anti sperma (2,9 persen), serta faktor gizi. Sisanya sebesar 10-15 persen merupakan faktor-faktor yang tidak terjelaskan,” kata Indra menandaskan. (TW)

 

Teknologi DBS, Membuat Penderita Parkinson Kembali Bebas Bergerak

3mei-2

3mei-2Teknologi Deep Brain Stimulation (DBS) saat ini telah menjadi standar pengobatan di dunia bagi penderita parkinson yang ingin kembali bebas bergerak. Teknologi tersebut kini sudah bisa dilakukan sejumlah rumah sakit di Indonesia.

“Teknologi DBS membuat kualitas hidup penderita parkinson menjadi lebih baik,” kata
dokter spesialis bedah syaraf Rumah Sakit (RS) Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Frandy Susatia dalam diskusi media di Jakarta, Selasa (3/5).

Dijelaskan, parkinson adalah satu penyakit yang menyerang otak. Gejala utama berupa gangguan gerak yang disebabkan berkurangnya dopamin (zat yang membantu mengirimkan sinyal dalam sistem syaraf) di otak.

Kondisi ini terjadi akibat kematian sel substansia nigra atau otak tengah. Hingga kini belum diketahui pasti penyebab terjadinya parkinson. Namun diduga parkison disebabkan oleh gabungan dari sejumlah faktor seperti genetik (keturunan), lingkungan dan juga penuaan.

“Karena semakin tua, jumlah dopamin dalam otak akan semakin berkurang. Kalau berkurangnya sudah sampai 80 persen, maka biasanya muncul gejala-gejala parkinson,” ujar Frandy.

Sebelum ini, lanjut Frandy, pengobatan parkinson dilakukan dengan minum obat-obatan, yang bisa menimbulkan efek samping berat bagi penderitanya. Karena itu, teknologi DBS menjadi terobosan yang luar biasa pengobatan parkinson.

Hal senada dikemukakan dokter syaraf RS Siloam Kebon Jeruk lainnya, Made Agus M Inggas. Perasi stimulasi otak atau DBS membuat pasien bisa hidup kembali normal, dan tidak tergantung dengan obat-obatan oral lagi.

“Pada umumnya pasien bisa kembali pulih seperti semula. Tak ada lagi gemetar atau tremor, kekakuan sendi, melambatnya seluruh gerak, serta gangguan postur tubuh,” kata Made Agus.

Teknologi DBS, lanjut Made Agus, tidak bisa diterapkan pada semua penderita parkinson. Teknologi itu untuk pasien yang sudah lebih dari 5 tahun minum obat, tidak mengalami gangguan jiwa dan gangguan memori.

Operasi DBS di Siloam Hospitals dilakukan oleh tim dokter multidisiplin yang solid, terdiri dari dokter spesialis saraf, dokter spesialis bedah saraf, psikiater, rehabilitasi medis, terapi bicara hingga ahli gizi.

Sebelum ditemukannya DBS, terapi pembedahan dilakukan dengan cara lesi atau membakar bagian otak paling dalam. Terapi lesi sudah lama ditinggalkan karena hanya mengurangi gejala parkinson secara sementara.

DBS telah diakui Food Drug Administration (FDA) Amerika sejak 2002 lalu. Tindakan tersebut mulai dikembangkan tak hanya untuk parkinson tetapi juga pada untuk penyakit lainnya yang berhubungan dengan otak tengah seperti distonia, gangguan obsessive compulsive, dan epilepsi.

“Keuntungan lainnya dari DBS, selain tidak merusak otak, programnya dipasang sesuai kebutuhan,” kata Made Agus seraya menyebutkan RS Siloam saat ini telah berhasil melakukan operasi DBS pada 12 pasien parkinson.

Dijelaskan, DBS adalah tindakan pembedahan di otak dengan menaruh kabel kejut untuk mendorong dopamin agar kembali bekerja normal. Kabel kejut memiliki baterai kecil yang dipasang di dada pasien.

“Baterai bertahan selama 5 tahun. Setelah habis akan diperbaharui lagi. Sambil dievaluasi kesehatannya. Karena penyakit parkinsonnya tidak hilang. Hanya lebih terkontrol saja,” ujar Made Agus.

Disinggung soal biaya operasi DBS, pihak RS Siloam Kebon Jeruk menyebut angka Rp399 juta. Masih terbilang mahal, karena komponen berbiaya tinggi yaitu baterai pemicu dopamin masih diimpor dari Amerika. (TW)

 

Ribuan Peluang Beasiswa Pascasarjana Bagi Profesi Dosen

3Mei

3MeiKementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) meluncurkan program beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI). Tersedia 300 beasiswa pendidikan pascasarjana di luar negeri dan 2 ribu beasiswa di dalam negeri.

“Kerja sama ini diharapkan bisa menjadi milestone untuk kegiatan lintas kementerian,” kata Menristekdikti Muhammad Nasir usai penandatangan naskah kerja sama di Puspiptek Serpong, usai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Senin (2/5).

Nasir menambahkan, peluang beasiswa bagi dosen sangat penting karena hingga saat ini masih ada sekitar 59 ribu dosen yang bergelar sarjana. Padahal idealnya, menurut aturan Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen, tak boleh ada lagi dosen yang bergelar sarjana saja.

“Untuk berkompetisi mendapatkan BUDI, dosen bisa masuk ke website http://budi.ristekdikti.go.id ,” ujarnya.

Karena meski dananya dari LPDP, lanjut Nasir, proses prekrutan dilakukan Kemristekdikti. Karena itu, dosen yang berhak mendaftar dalam BUDI, harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK).

Direktur Utama LPDP, Eko Prasetyo menjelaskan, dana beasiswa yang diberikan meliputi uang kuliah dan biaya hidup maksimal 24 bulan untuk program S2. Sedangkan pada program S3, menggunakan skema 3+1, yang mana dana terdistribusi menjadi dua bagian.

“Dana diberikan penuh untuk 3 tahun dan dana 1 tahun terakhir akan dibagi dalam 2 bagian. Dana tahun ke-4 itu harus diajukan dengan karyasiswa dan diberikan kepada pihak yang memenuhi syarat,” ujar Eko Prasetyo.

Program BUDI akan menggunakan standar LPDP, baik dalam besaran maupun mekanisme penyalurkan dana beasiswanya. LPDP akan memantau perkembangan kemajuan studi para penerima beasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Kemristekditi juga meluncurkan program Sistem Verifikasi Ijazah (SIVIL). Dengan demikian, pengecekan keaslian ijazah kini bisa dilakukan secara online.

“Sistem tersebut tak hanya praktis, tetapi juga dapat menangkal peredaran ijazah palsu,” ucap Nasir.

Nasir menjelaskan, SIVIL dibuat setelah maraknya kasus ijazah palsu, selama tahun 2015-2016. Kemristekdikti, bahkan dalam 10 bulan terakhir menerima banyak surat verifikasi keabsahan ijazah baik perorangan, lembaga swadaya masyarakat dan instansi pemerintah.

“Selama kurun waktu itu, lebih dari 3.000 ijazah diverifikasi oleh Kemristekdikti. Sebanyak 90 persen ijazah dinyatakan absah, dan sekitar 10 persen ijazah harus diverifikasi Kopertis dan perguruan tinggi terkait,” ujarnya.

Melalui layanan tersebut, lanjut Nasir, masyarakat bisa lebih cepat, tepat dan akurat dalam mendapat informasi data pemilik ijazah. Namun, data yang ditampilkan tidak detil, dengan alasan kerahasiaan.

“Untuk masuk sistem cukup nomor, bukan nama orang untuk menjaga kerahasian,” tuturnya. (TW)

 

Pengendalian Malaria: Seluruh Warga di Daerah Endemis Dapat Kelambu Anti Nyamuk

2mei-2

2mei-2Guna mengendalikan penyebaran malaria di daerah endemis, setiap warga diupayakan akan mendapat kelambu anti nyamuk. Lima daerah endemis yaitu Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku dan Maluku Utara.

“Hingga akhir 2015 masih ada sekitar 209.413 kasus positif malaria di Indonesia. Jumlah itu turun dibanding tahun 2010 yang mencapai angka 465.764 kasus,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, R Vensya Sitohang dalam seminar bertajuk “Tatalaksana Kasus Malaria Terkini” di Jakarta, Sabtu pagi (30/4).

Disebutkan, sampai akhir 2015 cakupan penduduk berisiko tinggi Malaria yang mendapat kelambu anti nyamuk di daerah endemis tinggi telah mencapai 87 persen. “Diharapkan pada tahun ini cakupannya sudah mencapai 100 persen,” ujarnya.

Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di tingkat global, kendati dalam 5 tahun terakhir terjadi penurunan kasus. Menurut badan kesehatan dunia WHO, masih ada sekitar 3,2 milyar jiwa atau hampir separuh penduduk dunia yang berisiko tertular Malaria.

“Pada 2015, WHO memperkirakan ada sekitar 214 juta kasus baru malaria dengan kematian sekitar 438 ribu orang di seluruh dunia. Dari jumlah itu, sepertiga atau 306 ribu terjadi pada balita,” kata Vensya.

Sementara itu, di Indonesia tercatat masih ada 212 dari 514 kabupaten/kota rawan terhadap malaria. Untuk itu, Vensya menambahkan, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah guna meraih pencapaian eliminasi malaria.

“Tanpa dukungan daerah, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah pusat guna mencapai daerah bebas malaria akan sulit tercapai,” ujarnya.

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, dr Andreas Ciokan. Kabupaten Teluk Bintuni mencatat prestasi dalam pengendalian malaria, dari 112 kasus per 1000 penduduk pada 2009 turun menjadi 2,4 kasus per 1000 penduduk pada akhir 2015.

Ditambahkan, meski jumlah daerah endemis malaria terbilang masih tinggi, namun jika dilihat dari kasus penderita malaria dalam 5 tahun terakhir terjadi penurunan yang signifikan. Yaitu, dari 422.447 kasus pada 2011 menjadi berjumlah 217.025 pada 2015.

“Penurunan kasus malaria bisa terjadi, salah satunya karena upaya pengendalian yang pemerintah lakukan lewat program bernama Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria),” ucapnya. (TW)

 

Peristiwa Mina: 8 Bulan Dirawat di Jeddah, Culan Kasim Akhirnya Kembali ke Tanah Air

2mei

2meiCulan Kasim binti Kasim (55), jemaah haji Indonesia tahun 2015 korban heat stroke pada peristiwa Mina akhirnya kembali ke Tanah Air, setelah 8 bulan di rawat di rumah sakit di Jeddah, Arab Saudi.

Perempuan asal Sumatera Barat tersebut akan mendapat rawatan lanjutan terlebih dahulu di Rumah Sakit (RS) Fatmawati, Jakarta sebelum di pulang ke kampung halamannya.

Serah terima pasien oleh Kerajaan Arab Saudi yang diwakilkan petugas RS Garda Nasional kepada Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek dilakukan di bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Minggu (1/5) siang.

Culan Kasim tampak diturunkan dari pesawat khusus Medevac (Aeromedical Evacuation) yang diterbangkan langsung dari bandara internasional King Abdul Aziz Jeddah, pada Sabtu (30/4) sekitar pukul 7 malam waktu setempat.

Suasana haru terlihat menyelimuti keluarga Culan Kasim saat menerima kedatangan pasien yang berpisah selama 8 bulan. Mereka menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia yang telah berupaya memulangkan orangtuanya melalui hubungan diplomatik.

Pemulangan Culan Kasim merupakan bentuk pemulangan istimewa, sebab proses yang dilakukan hanya memakan waktu sekitar 5 minggu. Kejadian itu merupakan yang pertama dalam sejarah dunia perhajian di Indonesia.

Sebelumnya, upaya pemulangan jemaah sakit yang memerlukan fasilitas khusus seperti ventilator telah berulang kali diusahakan Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI) KJRI Jeddah, namun hal itu tak dapat dilakukan mengingat tidak ada maskapai regular yang siap dengan ventilator.

“Hanya Medevac yang menyediakan hal demikian. Selain itu, biaya pemulangan jemaah sakit dengan ventilator juga cukup besar yaitu lebih dari Rp 2 miliar,” ujar Menkes.

Pemberangkatan Culan Kadim dari RS Garda Nasional dilepas oleh segenap jajaran pejabat Perwakilan Konsulat Jenderal RI (KJRI) dan KUHI.

Hadir petugas RS Garda Nasional Saudi Arabia, Nikmah Nur Hasan Matasif dan Zuheir Thahir Abdurrahim Jawa, warga negara Arab Saudi keturunan Indonesia itu yang selama ini memonitor dan mendorong pemulangan pasien, Culan Kasim pulang ke Tanah Air.

Sebelumnya, Menkes Nila FA Moeloek sempat menjenguk Culan Kasim saat melakukan kunjungan kerja ke RS Garda Nasional Arab Saudi pada Maret 2016. Dengan itikad baik, Menkes Nila berharap agar pasien dapat dirawat dan berkumpul dengan keluarga di Tanah Air.

Menkes selanjutnya menjajagi kemungkinan melakukan pendekatan dengan pihak Arab Saudi melalui ibu Nimah warga negara Arab Saudi asal Palembang yang bekerja di RS Garda Nasional, untuk membawa Culan Kasim kembali dan dirawat di Indonesia.

“Kami senang karena upaya ini membuahkan hasil. Hingga ibu Culan Kasim hadir saat ini,” tutur Menkes.

Pasien dievakuasi dengan menggunakan alat bantu nafas. Saat ini kondisi Cullan Kasim tampak stabil, setelah sebelumnya sempat koma sejak sakit pada September 2015.

Anak dan suami Culan Kasim pada Desember 2015 lalu diundang dan tinggal di kota Jeddah selama satu bulan.

Menkes menjelaskan, heat stroke merupakan salah satu ancaman kesehatan bagi jemaah haji hingga 10 tahun kedepan, sebagai konsekuensi periode haji yang bersamaan dengan musim panas di Arab Saudi.

Untuk itu Menkes mengimbau calon jemaah haji untuk senantiasa menjaga kondisi untuk tetap sehat melalui Pemeriksaan Kesehatan dan Pembinaan Kesehatan.

“Pemeriksaan kesehatan dan tindak lanjutnya paling baik dilakukan setidaknya 9 bulan sebelum keberangkatan ibadah haji,” ujar Nila Moeloek.

Selain itu, calon jemaah haji harus memiliki kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Selain selalu menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

“Dan tak kalah penting adalah mengikuti tata cara menjaga kesehatan saat ibadah haji dan antisipasi cuaca ekstrim panas. Serta waspadai ancaman penyakit pernafasan seperti MERS-COV,” kata Menkes menandaskan. (TW)

{jcomments on}