World Health Day 2015 to Focus on Food Safety

The World Health Organization (WHO) has announced plans to focus on food safety for World Health Day––April, 7, 2015. WHO has pinpointed this particular topic due to the increasing globalization of our food supply, which requires additional and improved systems both in and between all countries.

According to WHO, food safety is increasingly threatened by a number of factors––food production, distribution and consumption; changes to the environment; new and emerging pathogens and antimicrobial resistance. The spread of contamination is also made possible with increases in travel and trade.

In conjunction with their food safety campaign, WHO will also release estimates of how much foodborne diseases––the cause of 2 million deaths annually, mostly children––cost on a global scale. This will be the first time such numbers are published.

WHO’s overarching goal is to provide various sectors within the food industry––farmers, health practitioners, farmers, government agencies––with the food safety knowledge they need in order to ensure safe food for all. In fact, WHO developed its own Five Keys to Safer Food for both vendors and consumers:

Key 1: Keep clean

Key 2: Separate raw and cooked food

Key 3: Cook food thoroughly

Key 4: Keep food at safe temperatures

Key 5: Use safe water and raw materials

Visit WHO.int for more information.

source: http://www.foodsafetymagazine.com

 

Widodo’s health care reform must cover poor with HIV, protect youth

HIV/AIDS knows no boundaries. The virus spreads to every corner of the country, including Aceh, where sharia law takes effect and gives no room for promiscuity. It has infected people from all walks of life, including loyal housewives.

The constant rise of the number of people in Aceh infected with the virus over the past 10 years to a current total of 272 has shocked Hayati, a local female politician from the Muslim-based Prosperous Justice Party (PKS). We will all closely watch the statistics for HIV infections every time we commemorate the World AIDS Day on Dec. 1.

As of Sept. 30 of this year, HIV has infected 150,296 people in Indonesia, including 55,800 with AIDS, according to the Health Ministry. The virus has killed nearly 9,800 people since April 1, 1987.

What should give us cause for concern is the fact that citizens of productive age between 19 and 40 years old make up the majority of people with HIV/AIDS. More worryingly, though, there is a phenomenon in the pattern of the global spread of HIV that youths are becoming easy prey.

UNICEF data revealed that the virus claimed the lives of about 110,000 young people aged between 10 and 19 years old in 2012, up by 50 percent within only seven years. Indonesia must not be complacent about the trend, given a finding that the young generation in the country is mostly uninformed and, hence, unaware of HIV/AIDS despite a widespread campaign.

A Health Ministry study in 2010 discovered young people’s poor understanding of reproductive health, especially when it comes to risky sexual behavior, prevention of unwanted pregnancy, perceptions about the dangers of the virus and stigmas embedded about people with HIV.

Such lack of knowledge, if not ignorance, comes on the heels of the mushrooming new values and easy access to drugs, which have given a boost to HIV spread. Without knowledge, youth are more vulnerable to HIV.

Youths account for one-fourth of the Indonesian population today and their bill of health will determine whether the country will profit from its demographic bonus in the next few decades.

It is therefore the responsibility of the state and society, including parents and NGOs, to protect the young generation. The initiative of the National Population and Family Planning Board (BKKBN) to join the fight against HIV through educating youths is therefore worth merit.

No less challenging is the fact that many people with HIV live in destitution and therefore are deprived of access to antiretroviral medication, which has proven to improve the quality of life of those infected and help curb virus infection.

The Indonesia Health Card (KIS), launched by President Joko “Jokowi” Widodo, should and could include poor people with HIV among its beneficiaries. There will be a question of moral hazard if the national medical program also covers people with HIV, but for the sake of our as well as our children’s future, such a move will do more good than harm.

This is an editorial published by The Jakarta Post on Dec. 1.

source: http://www.chinapost.com.tw/

 

Tiada Henti Lawan Epidemi AIDS

Menanggulangi epidemi HIV ibarat berkejaran dalam lingkaran yang tak kunjung putus. Intervensi di satu populasi kunci mungkin akan memberikan hasil positif. Akan tetapi, kemudian pola infeksi meningkat di populasi kunci yang lain. Begitu seterusnya. Ibarat sepak bola, diperlukan upaya yang total football dalam menanggulangi epidemi virus tersebut.

Menurut Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara Poonam Khetrapal Singh, epidemi human immunodeficiency virus (HIV) di kawasan Asia Tenggara terkonsentrasi pada populasi paling rentan terhadap penularan HIV, yaitu lelaki suka lelaki (LSL), transjender, pengguna narkoba suntik (penasun), penjual seks, orang yang di penjara, dan kelompok lain. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan pada populasi rentan, lebih kurang separuh dari mereka tetap belum mengetahui status HIV mereka.

Hampir 5 juta orang hidup dengan HIV di Asia Pasifik pada 2013 atau seperenam beban global. Beban itu merupakan yang terbesar setelah kawasan sub-Sahara Afrika dengan jumlah kasus infeksi baru pada 2013 mencapai 350.000 orang.

Di Indonesia, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 hingga September 2014, HIV/AIDS tersebar di 386 dari total 498 kabupaten/kota di semua provinsi di Indonesia. HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali dan yang terakhir melaporkan adalah Sulawesi Barat pada 2011.

Bagi Indonesia, ke depan, ancaman penularan virus HIV pada ibu hamil dan bayi masih tinggi seiring pertambahan jumlah laki-laki berisiko tinggi yang membeli seks, LSL, dan penasun. Karena itu, perlu terobosan intervensi untuk menekan laju penularan HIV.

Dulu, ketika infeksi HIV umumnya berasal dari penggunaan jarum suntik tak steril di kalangan pengguna narkoba, intervensi dilakukan dengan menyediakan alat suntik steril dan terapi rumatan metadon. Prevalensi HIV di kalangan penasun berkurang atau setidaknya tertahan.
Perilaku seksual

Namun, perilaku seksual berisiko tetap menjadi cara infeksi virus yang berpotensi menyebabkan bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi. Perilaku seksual jadi faktor risiko terbesar dalam penyebaran HIV (57 persen), di atas penasun (15 persen), LSL (4 persen), dan ibu terhadap anaknya (3 persen).

Data Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) 2007 menunjukkan, prevalensi laki-laki berisiko tinggi pembeli seks 0,1 persen. Angka itu naik menjadi 0,7 persen pada 2011. Prevalensi LSL juga naik dari 5,3 persen (2007) jadi 12,4 persen (2011).

Bahkan, di beberapa daerah baru yang sebelumnya tak dihitung dalam STBP, prevalensi LSL naik dari 7 persen (2009) menjadi 12,8 persen (2013).

Direktur Eksekutif Asia Pacific Coalition on Male Sexual Health (APCOM) Midnight Poonkasewattana mengatakan, sembilan dari 10 kasus HIV baru di Manila terkait LSL. Satu dari tiga LSL di Bangkok positif HIV. Mayoritas kasus baru HIV di Tiongkok adalah LSL.

Situasi itu menempatkan anak muda sebagai kelompok yang rentan tertular HIV. Hal ini terjadi di banyak tempat. Namun, tak banyak investasi yang dilakukan negara untuk menanggulangi hal itu. LSL terus saja mendapat stigma.

APCOM selama ini mengalokasikan sumber daya serta melakukan penelitian dan pendekatan berbasis hak dalam penanggulangan HIV, terutama pada LSL.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kemal N Siregar menyebutkan, melalui pemodelan yang menjadi strategi rencana aksi nasional, laju epidemi HIV pada 2010-2014 dapat ditekan, terutama pada penasun, lelaki berisiko rendah, serta penjual dan pembeli seks.

Ibu rumah tangga

Namun, laju epidemi kelompok ibu rumah tangga dan LSL justru tetap tinggi. Ibu rumah tangga umumnya terinfeksi dari suami atau pasangannya. Namun, banyak istri tak berani menginformasikan status HIV kepada suaminya. Padahal, suami yang menularkannya.

Laki-laki pembeli seks dengan HIV positif hampir pasti menularkannya pada istri ataupun pasangan. Jika perempuan itu hamil, janin yang dikandungnya amat berisiko terinfeksi HIV. Penularan akan meluas jika laki-laki tersebut juga termasuk kelompok LSL.

Ancaman penularan itu tergambar dari kenyataan bahwa pada 2012 jumlah kasus HIV pada perempuan mencapai 10.016 kasus. Jumlah itu meningkat jadi 12.334 kasus pada 2013. Pada triwulan I-2014 tercatat 1.779 kasus HIV positif pada perempuan.

Jumlah kasus HIV positif pada bayi dari tahun 2012 ke 2013 juga naik dari 86 kasus menjadi 106 kasus. Kasus pada anak di bawah usia empat tahun naik dari 563 (2012) menjadi 653 kasus (2013).

Manajer Program Nasional AIDS Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia mengatakan, tantangan Indonesia ke depan dalam penanggulangan HIV ialah menemukan kian banyak lagi orang dengan HIV. Sebab, dari estimasi jumlah orang dengan HIV 591.000 orang, baru 30 persen yang ditemukan.

Kemenkes menargetkan menemukan 60-70 persen orang dengan HIV. Target yang tak mudah dicapai di tengah stigma membelenggu.

Salah satu terobosan yang akan diambil Kemenkes adalah mengintegrasikan pemeriksaan status HIV dalam upaya penapisan yang merupakan manfaat program Indonesia Sehat. Sasaran pemeriksaan status HIV di antaranya ibu hamil, pasien tuberkulosis, pasien infeksi menular seksual, pasien hepatitis, dan pasangan orang dengan HIV.

Harapannya, dengan mengetahui status HIV sejak awal pengobatan, bisa segera dilakukan upaya untuk menurunkan jumlah virus dalam darah. “Di DKI Jakarta, ibu hamil bisa melakukan tes HIV di puskesmas. Puskesmas juga menyediakan obat HIV,” kata Nadia.

Upaya lain adalah memanfaatkan media sosial untuk menyosialisasikan pentingnya pemeriksaan status HIV dan pengobatannya. Sulit mengubah perilaku meski sudah diketahui perilaku itu memiliki risiko kesehatan. Meski demikian, hal itu harus terus dilakukan demi menekan prevalensi HIV.

sumber: http://health.kompas.com

 

Hari AIDS Sedunia

Situasi HIV/AIDS di Indonesia sejak pertama kali ditemukan pada 1987 hingga September 2014 semakin memprihatinkan. Hal itu terlihat dari penyebaran penyakitnya yang sudah merebak di 386 kabupaten/kota atau 78 persen dari 498 kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia.

Demikian siaran pers yang dikirimkan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (2/1).

Saat ini Kementerian Kesehatan sedang berupaya untuk meningkatkan cakupan tes HIV, cakupan terapi ARV dan retensi ARV. Inisiatif ini sebagai tindak lanjut dari Kajian Cepat dan Konsultasi Nasional, yang diluncurkan Kementerian Kesehatan pada 2013 yang dikenal dengan sebutan Strategic Use of ARV (SUFA).

Dalam inisiatif ini, disebutkan, untuk meningkatkan cakupan tes HIV telah dilakukan penawaran rutin tes HIV kepada pasien infeksi menular seksual (IMS), ibu hamil, pasien tuberkulosis (TB), pasien hepatitis, pasangan ODHA (orang dengan HIV/AIDS), warga binaan masyarakat (WBP) dan populasi kunci (pekerja seks, penasun (pengguna jarum suntik), waria, transgender dan lelaki seks dengan lelaki).

Untuk meningkatkan cakupan terapi ARV, dikataklan, terapi ARV dapat segera diberikan– tanpa melihat jumlah CD4– kepada ibu hamil dengan HIV, pasien ko-infeksi TB-HIV, pasien ko-infeksi hepatitis-HIV, ODHA yang pasangannya HIV negatif dan populasi kunci (WPS, LSL, penasun dan waria/transgender).

Sementara, untuk meningkatkan retensi pengobatan ARV, Kementerian Kesehatan telah menyediakan obat ARV triple fixed dose combination (triple FDC), yaitu satu tablet obat yang berisi 3 rejimen ARV.

Obat ini mempunyai toksisitas dan efek samping yang lebih rendah dan jadual minum obat lebih mudah. Selain pelibatan ODHA, keluarganya serta komunitas dalam pengobatan ART juga dapat membantu meningkatkan retensi pengobatan.

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun 2008 (10.362), tahun 2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031), tahun 2012 (21.511), tahun 2013 (29.037), dan tahun 2014 (22.869).
Sampai dengan September 2014, jumlah kumulatif HIV yang dilaporkan sebanyak 150.296 orang dan AIDS sebanyak 55.799 orang.

Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (32.782), diikuti Jawa Timur (19.249), Papua (16.051), Jawa Barat (13.507), dan Bali (9.637)

Faktor resiko penularan HIV terutama adalah melalu jalur seksual (57 persen), penggun narkoba suntik (15 persen) Penularan LSL (4 persen),penularan dari Ibu ke anak sebesar 3 persen.

Estimasi Orang dengan HIV dan AIDS di Indonesia tahun 2012 adalah sebanyak 591.823 sedangkan saat ini ODHA yang sudah kita ketahui baru berjumlah 150.296. Data itu menunjukkan untuk membongkar fenomena gunung es baru sekitar 30 persen ODHA yang terdeteksi.

Dengan demikian, saat ini pemerintah masih harus mengintensifikasikan penemuan ODHA sehingga setidaknya cakupan sasaran kita mencapai 70 persen.

Dari data jumlah kasus yang dilaporkan setiap tahun terjadi peningkatan jumlah pengidap HIV sedangkan jumlah penderita AIDS semakin menurun. Ini bisa disimpulkan bahwa semakin banyak orang yang diketahui status HIV nya masih belum masuk kedalam stadium AIDS.

Jika dibandingkan dengan sekitar 10 tahun yang lalu, dimana jumlah kasus AIDS lebih banyak dilaporkan dibandingkan kasus HIV.

Deteksi dini ini semakin baik seiring dengan makin banyaknya jumlah fasyankes yang dapat memberikan layanan bagi ODHA baik tes HIV, pengobatan IMS, dan pengobatan ARV sehingga semakin banyak orang yangmengetahui status HIV nya lebih dini sebelum muncul gejala-gejala AIDS. (TW)

Fact Sheet hari AIDS Sedunia 2014

{jcomments on}

 

PBB: Harus Ada Revolusi untuk Pendidikan, Kesehatan, dan Akses Informasi di Indonesia

Menurut sensus 2010 bahwa terdapat 65 juta anak muda di Indonesia atau 28 persen dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Hal tersebut tentunya sering disebut-sebut sebagai bonus demografi bagi Indonesia.

Kepala Perwakilan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) untuk Indonesia, Jose Ferraris, mengungkapkan, besar kecilnya bonus demografi bergantung pada bagaimana setiap negara melakukan investasi kepada pemuda, sehingga mereka dapat memaksimalkan seluruh potensi mereka. Karena bila tidak diinvestasikan dengan baik bisa berubah menjadi bencana demografi.

“Harus ada revolusi di sektor pendidikan, kesehatan, dan juga infrastruktur terkait akses informasi digital di Indonesia,” ujarnya pada acara peluncuran Laporan Situasi Kependudukan Dunia 2014 bertajuk “Kekuatan 1,8 Miliar: Remaja, Pemuda, dan Transformasi Masa Depan”, di Jakarta, Jumat (28/11).

Ia memaparkan, menurut data sensus 2010, hanya sekitar 40 persen anak yang yang memiliki pendidikan hingga ke tingkat SMA dan tidak sampai 20 persen yang melanjutkan ke pendidikan tersier. Dan terdapat 36,47 persen pemuda yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan primernya. Papua, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan adalah daerah yang memiliki proporsi paling tinggi untuk pemuda dengan pendidikan yang rendah.

“Tantangan besarnya adalah kualitas dari pendidikan itu sendiri. Otomatis isu pendidikan ini juga sangat terkait dengan isu lainnya. Di mana pendidikan atau informasi adalah kekuatan utama,” pungkas Ferraris.

Ia mengaitkan isu pendidikan ini dengan teknologi informasi dan kesehatan di mana dua hal tersebut merupakan jembatan untuk kesejahteraan hidup anak-anak muda di Indonesia.

“Infrastruktur terutama untuk mengakses informasi masih belum merata untuk di daerah terpencil. Padahal bila akses atau teknologi informasi bisa optimal, anak-anak muda bisa mencari tahu segala informasi mengenai kesehatan reproduksi yang masih menjadi masalah di negara ini,” katanya,

Diungkapkannya, bahwa setiap tahun 1,7 juta perempuan di bawah usia 24 tahun melahirkan seorang anak. Beberapa dari mereka juga meninggal karena komplikasi saat kehamilan atau pada saat melahirkan. Dengan begitu, perlu adanya edukasi pencegahan dan layanan yang mudah dijangkau untuk menekan angkanya.

“Pemberdayaan akses informasi dan layanan adalah kuncinya untuk bisa mengoptimalkan bonus demografi ini,” katanya.

sumber: http://www.beritasatu.com

Open dataset of the week: Healthcare in Jakarta

Primary health centres are the most basic unit of the public healthcare network. Jakarta’s open dataset on its primary health centres can uncover a host of services for Indonesians and benefits for the government. This is why FutureGov has chosen this dataset as its open dataset of the week.

The dataset lists the names, addresses and contact details of 394 clinics across Jakarta. It also indicates a breakdown of staff and the state of infrastructure in each of these clinics, including the condition of the buildings, ambulances, internet connections.

The locations and names of clinics in the city can be mapped out if combined with their geographic coordinates. This could be turned into a handy application for residents which lights up the nearest clinics on a map.

The government can use the information on the staff and the condition of infrastructure to create a dashboard of its primary health network. It could use this to plan when a clinic needs a new ambulance or when it’s time for an internet connection.

Both of these ideas can be improved if the government can combine the existing data with the number of patients visiting each of these clinics. The app could then show residents the closest clinic with the shortest queue, so that patients can plan their visits better. The dashboard could predict more accurately how resources should be allocated across the clinics based on the number of patients they receive.

Some rows in the dataset are still incomplete and the latest data is from 2012, so there is potential for the data to be more accurate and comprehensive.

FutureGov also loved the graph and map tools built into Indonesia’s open data portal, so you can have a peek at how a visualisation might look without even downloading the dataset. However, this doesn’t seem to be available for all of the datasets and it would surely be useful to make that happen.

source: http://www.futuregov.asia

Menkes: kesehatan adalah hulu kesejahteraan

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menegaskan pentingnya kesehatan sebagai awal dari kesejahteraan dan mengimbau masyarakat untuk dapat menjaga kesehatan dengan mengutamakan perilaku promotif-preventif dibandingkan kuratif.

“Kita sendiri harusnya menjaga kesehatan kita, karena harus kita sadari dengan kita sehat, kita akan bisa berpendidikan karena otak kita berkembang. Dan kalau otak kita berpendidikan, kita akan sejahtera. Jadi kesehatan adalah hulunya,” ujar Menkes usai peringatan puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis.

Meski demikian, Menkes mengatakan pemerintah tetap memperkuat pelayanan kesehatan terutama fasilitas pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas sebagai tujuan awal pasien dalam sistem rujukan di BPJS Kesehatan.

“Jadi memang harus dimulai dari layanan primer. Yang memang harus dirujuk (ke fasilitas kesehatan sekunder) nanti akan dirujuk,” ujarnya.

Program BPJS Kesehatan saat ini telah diikuti oleh lebih dari 125 juta warga Indonesia dengan 86,4 juta orang diantaranya merupakan penerima bantuan iuran (PBI) yang preminya dibayarkan oleh pemerintah.

Presiden Joko Widodo kemudian memperluas program tersebut dengan memasukkan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) kedalam program Kartu Indonesia Sehat yang telah dibagikan kepada 400 ribu warga dari total 1,7 juta orang yang terdata.

Sedangkan cakupan universal BPJS Kesehatan terhadap seluruh warga Indonesia diharapkan terwujud pada tahun 2019.

“Semua rakyat Indonesia harusnya tercakup oleh JKN,” kata Menkes.

Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menyebut pemerintah akan memperbarui data terkait pelayanan kartu-kartu tersebut dibawah BPJS Kesehatan.

“Kita kerja sama dengan BPJS, kita memerlukan masa transisi untuk membuat seluruh kartu jadi satu kartu untuk kami integrasikan. Masih dalam proses untuk kemudian dikoordinasikan dengan seluruh pihak terkait,” ujarnya.

sumber: http://www.antaranews.com

Is the Black Death Coming and Who’s to Blame?

The country of Madagascar is known for its tranquil beaches, exotic wildlife and rich culture. But something else also inhabits the island that is now making headlines: The Black Death.

Perhaps best known as the Bubonic Plague that is generally associated with the Middle Ages when rats, fleas and poor hygiene resulted in the deaths of approximately 200 million people, the disease remains an enduring threat in third-world nations.

Madagascar has been one of the world’s last remaining hotspots for the plague but the illness has been mostly isolated in rural villages and self-contained… until now.

On Friday, Nov. 21, the World Health Organization announced an “outbreak of the plague” in Madagascar, with two people in the country’s capital being infected and one having died from the disease.

Cases have been reported in 16 districts of the seven regions, according to WHO, and the health ministry said there had been 138 suspected cases since the beginning of the year and warned that the death toll was likely to rise in the coming months.

Now that the disease has made it to a densely populated area, a major outbreak seems inevitable. The capital of Madagascar, Antananarivo, houses the prime conditions for a disease such as the plague to spread, similar to those in 14th century Europe – garbage is dumped in the streets and public restroom conditions are terrible. Black rats, which were the primary vector for the disease in the Middle Ages, also roam freely between buildings.

“There is now a risk of a rapid spread of the disease due to the city’s high population density and the weakness of the health care system,” the WHO said in its report, while noting that a national task force has been activated to manage the outbreak.

Contraction of the bubonic plague results in the swelling of the lymph nodes, but can be treated with antibiotics. The pneumonic version, affecting the lungs, can be spread from person to person through coughing. Death can result in as little as 24 hours. The third form of the disease, septicemic plague, is the rarest form and occurs when the blood is directly infected.

Whichever variety of the plague, as the disease progresses its victim lapses into recurrent seizures, Alzheimic confusion, coma and internal hemorrhaging.

The plague is almost impossible to eradicate from Madagascar, due to interaction of natural and sociocultural factors. According to a 2013 report by the US National Library of Medicine, the high percentage of animals carrying the disease lays the foundation for transmission, and social and economic conditions further encourage the periodic leap to humans.

Outbreaks of the plague usually occur in villages at high altitudes in the northern region of Madagascar, spiking between October and April when the warm rainy season keeps temperatures well above 70 degrees day and night.

Without funds coming in from developed nations, the country doesn’t have much to work with to fight the plague. The African Development Bank is allocating $200,000 however, but those resources could quickly dwindle in the coming months. All of these conditions leading up the outbreak mirror those that caused the Ebola virus to spread throughout West Africa.

“Belief in old practices, rampant misinformation, and apathetic, corrupt politicians have combined to make the current outbreak much more widespread than it should be,” VICE correspondent Ben Shapiro said in a documentary that was released in September where he helicoptered into a village about 1,000 kilometers north of the capital that was considered a hot zone. “For Madagascar, though, it’s unclear how many more people will die of plague before things start to change.”

For now, the World Health Organization does not recommend any travel or trade restriction based on the current information available.

source: http://www.healthcareglobal.com

 

Ketua IDI: Dokter Tak Boleh Tergoda Materi

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zainal Abidin mengingatkan para dokter agar tidak menulis resep berdasarkan pesanan perusahaan farmasi.
Dokter juga dilarang melakukan diagnosa abu-abu yang bisa menjadi dasar untuk menggiring pasien menebus obat sesuai pesanan perusahaan farmasi.

Menurut Zainal, dokter harus jujur dan melakukan diagnosa sesuai pertimbangan profesional. Ia juga minta para dokter senantiasa memilih obat yang paling murah untuk pasiennya.

“Kalau ada lebih dari satu pilihan obat dan dokter tahu semua obat itu khasiatnya sama, kasih yang lebih murah supaya tidak merugikan pasien,” kata Zainal kepada Tribun di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Zainal menuturkan, para dokter juga harus independen dan berhati-hati dalam menuliskan resep. Para dokter tidak boleng terpengaruh iming-iming materi dari produsen-produsen obat.

Zainal menjelaskan, perusahaan obat boleh memfasilitasi dokter mengikuti kegiatan ilmiah yang bertujuan meningkatkan pengetahuan di bidang kedokteran.

Misalnya memberangkatkan dokter mengikuti seminar luar negeri. “Asalkan istri dan anak si dokter tidak ikut,” katanya.
Fasilitas tersebut tidak mengikat si dokter. Artinya, sepulang dari mengikuti seminar, dokter tidak wajib meresepkan obat buatan perusahaan yang telah memfasilitasinya. Dokter tetap independen dalam menulis resep.

Zainal juga mengatakan, memang ada perusahaan obat yang selalu mengutus staf pemasarannya untuk menemui para dokter dan menjelaskan produk-produk terbarunya.

Mereka biasanya juga memberikan brosur tentang obat baru tersebut.Namun, menurut Zainal, dokter tetap harus independen dalam menulis resep.
Menurut Zainal, bila ada produsen obat yang menyuap dokter, hal tersebut tetap akan ketahuan.

“Perusahaan obat itu sendiri pasti akan ngomong. Kalau terjadi masalah maka perusahaan obat itu pasti akan teriak, akan ngomong, saya sudah kasih ke dokter ini… ini… ini… Kalau begitu yang malu dokternya,” katanya.

Zainal menjelaskan bahwa antara IDI dan asosiasi perusahaan farmasi ada kerja sama. Isi kerja sama itu, IDI dan asosiasi perusahaan farmasi mengawasi anggota masing-masing.

Menurut Zainal, asosiasi perusahaan farmasi juga memiliki aturan yang melarang staf-staf pemasaran obat atau medical representative menawarkan hadiah kepada dokter.

“Bagi yang melanggar ada sanksi dari perusahaannya. Medrep menemui dokter untuk menjelaskan tentang produk barunya, bukan menawarkan uang atau yang lain. Kalau ada yang menawarkan hadiah, itu kampungan,” katanya.

Bagi dokter yang melanggar larangan menerima hadiah dari perusahaan obat juga bisa dituduh melanggar kode etik dan dikenai sanksi.
Zainal juga mengatakan, para medrep juga kerap meminta tanda tangan dokter. Namun hal itu bukanlah tanda tangan yang menunjukkan dokter telah menerima hadiah dari medrep.

Menurut Zainal tanda tangan itu menjadi bukti bahwa si medrep telah menemui dokter dan telah menjalankan tugasnya dalam memasarkan produk.

Zainal menerangkan, pelaksanaan sistem jaminan sosial nasional (SJSN) bakal menutup peluang terjadinya kongkalikong antara perusahaan farmasi dan dokter.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), sebagai pelaksana SJSN dan pengganti Askes, sudah menentukan obat-obat yang dapat diresepkan oleh dokter.

“Kalau dokter meresepkan obat di luar daftar itu, bisa-bisa dokter tersebut tidak dibayar oleh BPJS. Kan yang rugi dokternya. Karena itu bersamaan pengaktifan BPJS, sektor obat juga ditata. Para dokter diberi daftar obat yang ditanggung BPJS,” ujarnya.

Pada kasus lain, bisa saja pasien bersedia membeli sendiri obatnya. Karena itu, ia bisa meminta dokter menuliskan resep obat di luar daftar obat yang ditanggung BPJS.

BPJS akan melakukan pengawasan terhadap dokter. Zainal yakin mekanisme seperti itu akan mengikis kecurigaan para dokter kongkalikong dengan perusahaan obat.

Apalagi, setiap dokter akan diaudit. “Ada audit medik. BPJS bisa melihat, dokter mana yang menulis obat di luar daftar,” ia menegaskan.

sumber: http://www.tribunnews.com/

 

Kalbe Farma Fokus pada Obat Penyakit Degeneratif

Product Manager PT Kalbe Farma Budi Hartono mengatakan, dari sisi produk Kalbe Farma sudah cukup lama fokus pada pengobatan penyakit degeneratif. Bahkan tahun ini, sebanyak 20% dari seluruh produk Kalbe merupakan obat-obatan untuk penananganan penyakit degeneratif ini baik dari pencegahan hingga pengobatan.

“Tahun depan kami akan meluncurkan produk baru untuk penyakit degeneratif ini yaitu autostis. Ini obat khusus bagi hyper kolesterol,” ujarnya.

Workshop Kalbe Academia digelar bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang DIY. Workshop tersebut diikuti lebih dari 600 lebih dokter dan farmasi dari seluruh Indonesia.

Kalbe fokus menggarap penyakit tersebut karena berdasarkan hasil riset kesehatan dasar Kementrian Kesehatan 2013 diketahui prevalensi penyakit degenaratif di Indonesia cukup tinggi terutama untuk jantung koroner, stroke dan diabetel militus.

“Berdasarkan angka prevalensi jantung koroner sebesar 1,5 persen, penyakit stroke 12,1 per seribu penduduk dan diabetetes militus 2,1 persen. Sedangkan hipertensi 9,4 persen, angka yang cukup tinggi. Karena itulah, Kalbe Farma sebagai produsen obat-obatan konsen terhadap pengobatan penyakit tersebut,” kata Budi.

sumber: http://www.solopos.com/