War costs the U.S. more than smoking or obesity

What are the world’s most expensive avoidable problems? The graphic below, drawn from a recent report on combatting obesity by consultancy McKinsey & Company, attempts to quantify the total economic cost of different human-created social burdens, such as smoking, obesity, armed violence and alcoholism. The graphic draws on data from the World Health Organization Global Burden of Disease database, which quantifies the number of productive years of human life lost due to early death and disease.

In the U.S., armed conflict ranks as having the highest economic impact, due mostly to America’s substantial spending on the military. Obesity ranks second: The report estimates that obesity cost the U.S. $663 billion in 2012, equivalent to 4.1 percent of GDP. In France, Japan, Indonesia and the U.K., smoking is still the most expensive social problem. China is the only country in which outdoor air pollution tops the list, while armed violence is the biggest burden in Brazil and Morocco.

 

source: http://www.washingtonpost.com/

 

Demam Berdarah Masih Jadi Ancaman Dunia Kesehatan

Seiring dengan merebaknya wabah Ebola di Afrika Barat, terdapat keprihatinan bahwa ada penyakit lain, yang mematikan dan membunuh banyak orang di dunia, yang secara luas terabaikan.

Demam Dengue atau di Indonesia sering disebut “Demam Berdarah” yang ditularkan oleh nyamuk, terus meluas di negara-negara termasuk India dan Malaysia, di mana hampir separuh dari penduduk dunia tinggal. Tetapi, vaksin yang telah lama dicari, yang memberikan perlindungan terhadap dengue itu, akan segera tersedia.

Demam dengue atau “deman berdarah” menyebabkan kelesuan seperti gejala flu, gatal, sakit kepala dan pegal-pegal pada persendian. Karena gejala itulah, maka disebut “penyakit tulang punggung”.

Seperti Ebola, dengue dianggap penyakit yang berkaitan dengan darah, menyebabkan kematian dalam kasus yang parah. Demikian keterangan penasihat senior dan ilmuwan konsorsium internasional di Dengue Vaccine Initiative, Scott Halstead, yang mengabdikan diri pada pengembangan vaksin.

Tidak seperti Ebola, yang dalam wabah sekarang ini – telah menjangkiti lebih dari 14,000 orang di Afrika Barat, Halstead mengatakan, lingkup demamdengue sangat besar, sampai 100 juta orang yang terinfeksi, kebanyakan di seluruh Asia.

“Saya pikir orang yang bekerja di bidang demam dengue merasa, ‘Ooh, kami akan diabaikan. Tetapi karena ratusan ribu, mungkin jutaan orang memerlukan perawatan klinis, maka itu merupakan masalahyang kita hadapi di semua tempat,” kata Scott Halstead.

Ada empat virus demamdengue, semuanya disebarkan oleh nyamuk. Selamat dari ke-empat jenis virus itu akan memberikan kekebalan seumur hidup terhadap virus itu, namun tidak melindungi orang itu dari infeksi lain pada masa mendatang.

Dua tahun lalu, percobaan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Perancis, Sanofi Pasteur diuji coba pada sebuah kelompok terdiri atas 4.000 anak sekolah di Thailand dan tidak manjur seperti yang diharapkan. Hanya 30 persen anak yang terlindungi dari infeksi. Tujuan para peneliti adalah menciptakan vaksin yang 70 persen manjur melawan semua jenis virus dengue.

Kini, dalam uji coba klinik lanjutan yang dilakukan di 5 negara Amerika Latin, yang melibatkan hampir 21.000 anak sehat, perusahaan itu menjanjikan hasil vaksin yang sama.

Halstead mengatakan, vaksin itu gagal di Thailand karena kebanyakan diberikan kepada anak-anak yang terjangkit dengan dengue tipe 2, virus yang terbukti paling sulit di antara ke-4 jenis virus yang paling sulit dicegah.

Dengan uji coba klinis yang direncanakan, para peneliti Sanofi berharap akan belajar tentang bagaimana vaksin itu memberikan perlindungan terhadap demam dengue, dengan meningkatkan kemanjurannya.

sumber: http://www.voaindonesia.com/

 

Kemkes Kembangkan Budaya Minum Jamu

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek akan kembangkan budaya minum herbal berkhasiat atau jamu di lingkungan kantor kementerian kesehatan. Caranya dengan menyajikan minuman jamu dalam setiap rapat maupun acara, menggantikan minuman teh atau kopi.

“Sejak seminggu lalu, dalam setiap rapat atau acara, sudah disediakan minuman herbal berkhasiat mulai dari kunyit asam, beras kencur hingga wedang jahe yang lebih bermanfaat bagi tubuh,” kata Menkes Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM (K) usai menyaksikan pengukuhan profesor riset kepada Dr dr Lestari Handayani M.Med, peneliti senior Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), di Jakarta, Senin (24/11).

Profesor Riset merupakan jabatan karir tertinggi peneliti, yang dikukuhkan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Ir Iskandar Zulkarnain. Orasi Ilmiahnya mengangkat topik “Budaya Minum Jamu dalam Mendukung Pelayanan Kesehatan di Indonesia”.

Dengan adanya Profesor Riset maka keberlangsungan pembinaan karir serta kaderisasi peneliti dapat berlangsung. Selain juga adanya sosok panutan terutama dalam menjaga kualitas peneliti dan kegiatan penelitian.

Saat ini peneliti di Balitbangkes berjumlah 444 orang, dengan rincian 176 peneliti pertama, 155 peneliti muda, 92 peneliti madya, dan 21 peneliti utama. Jumlah profesor riset di Balitbangkes saat ini sebanyak 11 orang, namun 4 orang pensiun, dan 2 orang meninggal dunia.

Menkes menambahkan, pengukuhan Lestari Handayani merupakan indikator penting bahwa kegiatan penelitian jamu telah berlangsung secara masif dan menantang untuk diteruskan. Sehingga jamu menjadi bagian penting dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat.

Mengutip data riset kesehatan dasar (rikesdas) 2013, sekitar 30,4 persen penduduk Indonesia telah memanfaatkan kesehatan tradisional, dan 49 persen diantaranya menggunakan ramuan jamu.

“Hampir semua yang mengkonsumsi jamu menyatakan bahwa jamu bermanfaat bagi kesehatan,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, sejak 2010 lalu Kemkes telah mengeluarkan kebijakan Permenkes No 3/2010 tentang saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan, yang bertujuan untuk landasan ilmiah penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.

Saintifikasi jamu, menurut Prof Lestari Handayani, menjadi penting. Keamanan suplemen itu terkait dosis yang dianjurkan, efektifitas, interaksi terhadap obat lain dan efek samping yang merugikan.

“Penelitian suplemen berbahan jahe dan bawang putih, misalkan, tak boleh diminum bersama aspirin, clopidogrel atau warfarin karena berbahaya terhadap perdarahan spontan,” ujar dokter lulusan Universitas Airlangga, Surabaya, tahun 1987 itu.

Begitupun dengan penggunaan mengkudu, lidah buaya atau jambu biji, kata Lestari Handayani, harus dihindari konsumsi bersama obat anti diabetes karena memiliki pengaruh menurunkan glukosa darah. Wanita hamil dilarang mengkonsumsi herba atau akar comfrey karena dapat menganggu kehamilan.

“Pengembangan produk saintifikasi jamu yang teruji khasiat dan keamanannya, merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memupuk budaya minum jamu,” kata perempuan dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Bidang Humaniora Kesehatan, Balitbangkes.

Untuk itu, menurut doktor lulusan Universitas Brawijaya Malang, jamu tersaintifikasi dan fitofarmaka serta OHT (obat herbal terstandar) dapat dipertimbangkan menjadi bagian dari perbekalan farmasi untuk upaya pelayanan kesehatan.

“Kelompok jamu tersebut perlu dimasukkan dalam Formularium Nasional, yaitu obat terpilih yang dibutuhkan dan harus disediakan di fasillitas pelayanan kesehatan sebagai acuan dalam pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” kata Master of Medicine in Public Health dari National University of Singapore menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Deadly Plague Surfaces in Madagascar

The World Health Organization is reporting an outbreak of plague in Madagascar, and warns the disease could spread quickly in country’s capital, Antananarivo.

The United Nations agency said Friday that 119 cases of plague have been confirmed in the African island nation, with 40 deaths.

It said only two cases and one death have been recorded in Antananarivo, but said “there is a risk of a rapid spread of the disease due to the city’s high population density and the weakness of the healthcare system.”

The first case was identified August 31 in the village of Soamahatamana.

Plague, a bacterial disease, is mainly spread from one rodent to another by fleas. Efforts to control it have been complicated by a “high level of resistance” to the insecticide deltamethrin that has been observed in the country, the WHO reported.

When an infected flea bites a human, a bubonic form of plague can develop, with characteristic swollen lymph nodes. Untreated, it can lead to pneumonia, an infection readily spread by coughing and one that can be deadly. But, if caught early, the disease can be successfully treated with antibiotics. Only 2 percent of the reported cases in Madagascar are of the pneumonic form.

The WHO said government and health partners including the Red Cross are implementing measures to contain the outbreak. Personal protective equipment, insecticides and antibiotics have been made available in the affected areas, it said.

The agency did not recommend any trade or travel restrictions.

It says personal protective equipment, insecticides and antibiotics have been made available in the affected areas. The agency notes that high levels of resistance to deltamethrin, an insecticide used to control fleas and other insects could complicate the effort.

source: http://www.voanews.com/

 

Indonesia Tuan Rumah Simposium Kesehatan Asia Pasifik

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Simposium Penelitian Pembangunan Kesehatan se-Asia Pasifik ke-2 yang diselenggarakan di Hotel Sahid, Jakarta, 18-20 November 2014.

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek Sp.M(K) mengatakan, workshop dan simposium ini sangat penting untuk menghimpun hasil riset dan kajian terkait Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan kebijakan pembangunan kesehatan yang dapat menjadi sumber informasi dalam pengambilan kebijakan kesehatan.

Menteri Kesehatan berharap simposium ini dapat memberikan poin-poin rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Kesehatan terkait dengan penguatan Sistem Kesehatan Nasional ke depan, dalam rangka pencapaian Universal Health Coverage.

Simposium ini bertujuan untuk saling bertukar pengetahuan, ide dan pengalaman berdasarkan data dan informasi hasil riset dari berbagai negara yang memiliki sistem jaminan kesehatan, khususnya di wilayah Asia Pasifik.

Simposium ini menghadirkan 71 pembicara dan diikuti oleh sekitar 543 peserta yang berasal dari Indonesia dan luar negeri seperti dari Arab Saudi, Oman, Filipina, Australia, Thailand dan Korea Selatan. Dalam acara ini, Menkes juga meluncurkan sekitar 50 buku yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemkes RI.

sumber: http://analisadaily.com/

 

TPA (Taman Pengasuhan Anak), Solusi Pengasuhan di Tempat Kerja

21nov

21novJAKARTA (Suara Karya): Meningkatnya ibu bekerja menimbulkan risiko terabaikan periode emas perkembangan anak. Untuk itu, pentingnya TPA (Taman Pengasuhan Anak) dibuka tempat kerja, agar ibu bisa menyusui sekaligus melihat anaknya secara berkala.

“Saat istirahat kerja ibu bisa ke TPA untuk menyusui dan bermain dengan anaknya, sehingga meski ibu bekerja ikatan dengan anak tetap terjaga,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek saat peresmian TPA Terintegrasi “Serama” di kantor Kementerian Kesehatan (Kemkes), di Jakarta, Jumat (21/11).

Dalam sambutannya, Menkes Nila mengapresiasi penggunaan kata ‘pengasuhan’ dalam TPA, menggantikan kata ‘penitipan’ yang biasa digunakan sebelumnya.

“Karena anak kita kan bukan barang. Kalau pakai kata penitipan nantinya seperti penitipan sepeda. Kalau menggunakan kata pengasuhan berarti kan ada sentuhan kasih sayang,” ucap Menkes.

TPA dalam paradigma baru harus menjadi sarana tumbuh kembang anak, bukan sekadar tempat menitipkan anak karena ibunya harus bekerja. Untuk itu, TPA harus identik dengan pola pengasuhan yang mengandung filosofi mencakup tugas dan tanggung jawab orangtua terhadap pemenuhan hak anak.

“Pola asuh, asah dan asih merupakan kebijakan setiap orangtua memenuhi kebutuhan anak, untuk mendidik, mencintai dan membina dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Nilai Moeloek, TPA paradigma baru juga mengembang tugas lainnya berupa kegiatan promosi dan preventif kesehatan bagi para ibu dan anak seperti deteksi dini penyakit, vaksinasi dan penyuluhan gizi. Penting pula setiap TPA dilengkapi kegiatan edukasi seperti aneka permainan edukasi untuk kecerdasan otaknya.

“Faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang antara lain pemenuhan ASI (air susu ibu), gizi lengkap dan seimbang, imunisasi bagi pertumbuhannya. Untuk perkembangan kognitif, tergantung pada stimulasi lingkungan dan kasih sayang. Selain ada faktor genetik,” katanya.

Ditanya soal penerapan Peraturan Pemerintah (PP) ASI yang mewajibkan perkantoran dengan karyawan diatas 100 orang membuka TPA, Menkes mengakui, hal itu memang belum diterapkan secara optimal. Terutama di kantor-kantor swasta.

“Kami tidak punya angkanya berapa perusahaan yang telah menerapkan TPA di tempat kerja. Karena ini sifatnya hanya anjuran. Tetapi di kantor-kantor pemerintahan hampir sebagian besar sudah ada TPA,” ujarnya.

Karena itu, Nila Moeloek berharap pada kalangan swasta untuk saling membahu membuka TPA di tempat kerjanya. Karena upaya ini bisa memperbaiki kualitas manusia Indonesia di masa depan.

Kemkes sebelumnya telah memiliki TPA dan ruang menyusui di lantai 4, namun ruangannya dirasakan kurang memadai. Sehingga perlu dibuat TPA dengan ruang yang lebih besar di lantai dasar.

“Tempat lama di lantai 4 khusus untuk bayi usia 3-18 bulan. Sedangkan lantai dasar adalah ruang bermain untuk anak usia mulai 2 tahun ke atas,” ujar Nila. (TW)

{jcomments on}

Menkes Dorong Produksi Alat Kesehatan Dalam Negeri

Bertempat di Silang Monas Jakarta, Kementerian Kesehatan (Kemkes) menggelar Pameran Pembangunan Kesehatan selama tiga hari dalam rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50, yaitu tanggal 14-16 November 2014.

Pameran ini terbuka bagi masyarakat dengan menampilkan sekitar 150 stan, mulai dari stan pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, akademisi, sampai ke penggiat dunia maya.

“Saya sangat mengapresiasi pameran pembangunan kesehatan ini dan mendorong betul produk-produk dalam negeri agar lebih giat diproduksi karena yang saya lihat tadi di pameran, inovasi alat kesehatannya ternyata banyak sekali,” kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek usai meninjau area pameran, Jumat (14/11).

Menurut Nila, Indonesia seharusnya sudah tidak lagi bergantung pada produksi luar negeri. “Inovasi alat kesehatan seperti tempat tidur untuk orang sakit, alat untuk mereposisi patah tulang, itu bagus sekali. Jadi, kenapa kita harus impor,” tambah Nila.

Pujian juga dilontarkan Nila terhadap perusahaan dalam negeri yang sudah berhasil memproduksi alat suntik sekali pakai yang dilengkapi safety lock untuk mencegah plunger terlepas dari barel.

“Banyak sekali inovasi yang harus kita angkat untuk pembangunan kesehatan di Indonesia,” tambah Nila Moeloek.

sumber: http://www.beritasatu.com/

 

Peraturan Penggunaan Rokok Elektronik, Kemenkes Siapkan Data

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tengah menyiapkan data untuk dasar peraturan penggunaan rokok elektronik di Indonesia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa Kemenkes tidak membuat regulasi untuk rokok elektronik. Menurutnya, semua itu kewenangan dari BPOM RI. Pihaknya, tambah Tjandra, hanya berwenang untuk menyiapkan data secara lengkap tentang penggunaan rokok elektronik tersebut.

“Tugas kita menyiapkan data secara lengkap. Nanti kita bicarakan kepada badan POM bentuknya seperti apa. Saat ini hanya baru 5 negara di dunia yang memiliki aturan ketat tentang rokok elektronik yang lain masih mengumpulkan data dan kita liat dampaknya secara jauh rokok elektronik ini,” papar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, saat ditemui di pembukaan simposium regional Asia Pasifik di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (18/11).

Sebelumnya, Tjandra menjelaskan bahwa rokok elektronik yang marak digunakan itu tidak layak dipakai sebagai pengganti rokok. Hal tersebut karena rokok elektronik juga sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. [ads]

sumber: http://gayahidup.inilah.com

 

More Have Access to Cell Phones Than Toilets

Wednesday is World Toilet Day, created by the United Nations in 2001 to raise awareness about lack of available sanitation around the world. Currently, 2.5 billion people globally don’t have access to improved sanitation facilities – meaning more people have access to mobile phones than to toilets.

Lack of access to sanitation creates a host of health problems, making it easier for diseases to spread, infecting drinking water and contributing to undernourishment and poverty. A child dies every 20 seconds because of poor sanitation, according to the U.N. It can also impact future economic opportunities because lack of sanitation can negatively affect school attendance, especially for girls. In 2013, 1,000 children died every day due to diarrheal disease because of poor sanitation.

The U.N. campaign to end open defecation seeks to eliminate the need for people to defecate outside, frequently with no privacy. According to a joint report from the World Health Organization and UNICEF, 1 billion people are forced to defecate in the open due to lack of sanitation facilities. This causes a range of diseases from cholera and typhoid to polio and hepatitis. It also costs the world $260 billion a year, with 20 of the most affected countries in South Asia and sub-Saharan Africa.

The U.N. promotes access to safe and clean toilets as a part of its 2015 Millennium Development Goals, a series of benchmarks countries strive to reach to reduce poverty, mortality rates and inequality around the world. Seventy-seven countries have met the goal for sanitation. U.N. Secretary-general Ban Ki-moon says 1.25 billion women and girls would have better health and safety with the improvement of sanitation facilities.

Catarina de Albuquerque, the U.N. special rapporteur on the right to water and sanitation, said women and girls in particular are negatively impacted by lack of access to sanitation facilities. Gender-based violence and sanitation is the theme of this year’s World Toilet Day.

“In many countries, social or cultural norms prevent girls and women from using the same sanitation facilities as male relatives, for instance the father-in-law, or prohibit the use of household facilities on the days women and girls menstruate,” de Albuquerque said.

Improved sanitation is also harder to come by in rural areas than urban ones. In 2012, nearly 1.8 billion people living in a rural area lacked access, while 756 million did in urban areas.

Oceania is the only developing region not to see an increase in improved sanitation between 1990 and 2012. Open defecation was highest in Southern Asia at 65 percent in 1990 but fell to 38 percent in 2012, marking the largest drop in any region. Western and Eastern Asia only rates of 3 percent and 1 percent respectively. India is the country with largest population practicing open defecation, with 597 million people lacking access to proper sanitation facilities.

 

source: http://www.usnews.com

 

 

Merkuri, Darurat Kesehatan Masyarakat

Kontaminasi merkuri merupakan “darurat kesehatan masyarakat,” menurut aktivis lingkungan hidup. Mereka meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lekas menyetop perdagangan logam beracun itu.

Yuyun Ismawati, pemenang Goldman Enviromental Prize tahun 2009 untuk upayanya dalam pengelolaan limbah, mendesak Jokowi menghentikan penyelundupan ilegal ratusan ton merkuri ke Indonesia. Sebagian besar impor merkuri alias air raksa, kata Yuyun yang juga salah pendiri lembaga pemerhati lingkungan BaliFokus, digunakan dalam operasi pertambangan emas skala kecil.

Menurut Yuyun, beberapa dokter telah mengidentifikasi 30-an lebih dugaan kasus keracunan merkuri. Ia memprediksi paling tidak 5 juta orang di komunitas penambang terpapar merkuri dari udara serta makanan.

Jumlah merkuri yang masuk ke Indonesia secara tidak sah naik tajam. Pada 2013, kata Yuyun dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, jumlahnya mencapai 500 ton.

“Kita mesti menyetop merkuri masuk ke Indonesia,” katanya. Masalah ini “merupakan darurat kesehatan masyarakat.”

Jokowi, yang baru dilantik empat pekan silam dan masih menata kabinetnya, mengampanyekan perbaikan layanan kesehatan serta layanan sosial lainnya.

Selama dua pekan terakhir, BaliFokus dan beberapa lembaga pemerhati lingkungan hidup bertemu Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya. Dalam pertemuan, mereka membahas isu prioritas lingkungan hidup di Indonesia.

Sebagian diskusi mereka berfokus pada protes sejumlah aktivis lingkungan. Mereka mempertanyakan langkah Jokowi guna menggabung pengelolaan hutan dan lingkungan hidup dalam satu kementerian. Beberapa aktivis mengkhawatirkan penggabungan bakal memperlemah perlindungan lingkungan hidup.

Sonia Buftheim, petugas program zat beracun di BaliFokus mengikuti satu dari serangkaian pertemuan. Ia mengaku sempat mengatakan kepada Siti soal perluasan penggunaan merkuri. Penyebaran penggunaannya dalam pertambangan emas skala kecil, kata Sonia, memicu darurat kesehatan publik. Siti mencatat kecemasannya, tetapi tak memberikan komentar.

Seorang juru bicara kementerian membenarkan berlangsungnya pertemuan. Tapi ia dan Siti tak merespons pertanyaan dari The Wall Street Journal soal ancaman merkuri.

Pertambangan emas skala kecil menggunakan logam cair itu untuk mengikat partikel kecil emas. Hasil bentukannya adalah sejumlah kecil amalgam. Menggunakan obor, penambang dan pedagang lalu membakar campuran itu, sehingga merkurinya menguap dan hanya tersisa emas.

Biasanya, pelaku pembakaran tak menggunakan pakaian pelindung, sehingga mudah sekali mengirup uap merkuri.

Sejumlah besar merkuri mengendap ke tanah dan udara. Mungkin sekali ikan dan lahan padi menyerap endapannya, sehingga mengganggu pasokan makanan sekaligus membahayakan kesehatan manusia.

Merkuri dapat menyebabkan tubuh gemetar, sakit kepala, otot lunglai, serta mengubah suasana hati, dari beberapa dampak lainnya. Terkadang, racun merkuri baru ditemukan beberapa tahun sesudah seseorang menunjukkan gejala-gejala yang mungkin terjadi. Sebab, gejalanya nyaris sama dengan penyakit lain. Merkuri juga dapat menyebabkan cacat pada bayi yang baru lahir.

Menurut Yuyun, setidaknya 2 juta penambang emas beroperasi di 22 dari 34 provinsi Indonesia. Termasuk Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Lombok. Merkuri dijual terbuka di toko-toko pertambangan, menurut Yuyun.

Ia mendesak pemerintah melarang penggunaan merkuri dalam pertambangan emas, serta memberikan perawatan khusus bagi mereka yang keracunan.

sumber: http://indo.wsj.com/