Environmentalist Calls On Jokowi To Address a Health Emergency

Mercury contamination is a “public health emergency,” according to a prominent Indonesian environmentalist, and the new government of President Joko Widodo should move quickly to halt trade in the toxic heavy metal.

Yuyun Ismawati, a 2009 winner of the Goldman Environmental Prize for her work on sustainable waste management, called on Mr. Widodo to halt the illegal smuggling of hundreds of tons of mercury into Indonesia, most of which is used in small-scale gold mining operations.

Ms. Ismawati, a co-founder of the environmental group BaliFokus, said doctors have identified more than three dozen suspected cases of advanced mercury poisoning. She estimates that at least 5 million people are exposed to the toxic heavy metal in the air and food in mining communities.

The amount of mercury illegally brought into Indonesia has been rapidly increasing, reaching about 500 tons in 2013, she said in an interview with the Wall Street Journal.

“We have to stop the mercury from coming into the country,” she said. “This is a public health emergency.”

Mr. Widodo, who took office four weeks ago and is still organizing his administration, campaigned on a platform of improving health care and other social services.

BaliFokus is among several environmental groups that have met over the past two weeks with newly appointed Forestry and Environment Minister Siti Nurbaya to talk about environmental priorities.

Much of their discussion has focused on complaints by environmentalists that President Widodo combined forest management and the environment in one ministry, which advocates fear could weaken environmental protection.

Sonia Buftheim, a BaliFokus toxics program officer who attended one session, said she told the minister that the widespread use of mercury in small-scale gold mining was creating a public health emergency. She said Ms. Nurbaya noted her concerns but did not comment on the issue.

An assistant to the minister confirmed that the discussion took place but the minister and her staff did not respond to questions from the Journal about the threat posed by mercury.

Small-scale gold miners use the liquid metal to bind tiny particles of gold and create a small lump of amalgam. Miners and traders then burn off the mercury with a blowtorch, leaving only the gold.
Typically, they use no protective gear to keep from inhaling the mercury vapors.

Most of the airborne mercury settles into the soil and water, where it can be absorbed by fish and rice and enter the human food supply, endangering the health of the entire community.

Mercury poisoning can cause tremors, headaches, muscle weakness and mood swings, among other symptoms. It often goes unrecognized because it can take years to develop and its symptoms are similar to other ailments. It also can cause birth defects.

Ms. Ismawati said an estimated 2 million gold miners operate in 22 of Indonesia’s 34 provinces, including on Java, Sumatra, Sulawesi, Borneo and Lombok. Mercury is sold openly at shops in mining communities, she said.

She urged the government to ban the use of mercury in gold mining and to provide treatment for people suffering from mercury poisoning.

source: http://blogs.wsj.com/

 

Menkes Konfirmasi Belum Ada Kasus Ebola di Indonesia

Hingga Sabtu malam (15/11), telah dilakukan pengecekan terhadap lima orang di Indonesia yang diduga terjangkit virus ebola. Hasil dari pemeriksaan laboratorium adalah negatif. Mereka adalah MA (32) warga negara Ghana, NN (57) asal Sumatera Utara, AN (31) dari Jawa Tengah, MS (29) Jawa Timur, dan G (46) Jawa Timur.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek, usai senam sehat bersama karyawan di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam rangkaian Hari Kesehatan Nasional ke-50, di lapangan silang Monas, Jakarta, Minggu (16/11). Dikatakan Nila, situasi global kasus Ebola berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga 11 November 2014 tercatat secara kumulatif sebanyak 14.072 kasus. Sebanyak 5.151 kasus di antaranya meninggal, atau tingkat kematian sebesar 36,60 persen.

“Kasus masih ditemukan pada empat negara terjangkit di Afrika Barat, Amerika, Spanyol, dan Democratic Republik of the Congo,” kata Nila.

Di Afrika, kasus Ebola ditemukan di Guinea dengan 1919 kasus dan 1166 kematian (60,80 persen). Liberia dengan 6878 kasus dan 2812 kematian (41,57 persen), sedangkan di Sierra Leona sebanyak 5586 kasus serta 1169 kematian (21,77 persen). Sementara di Mali, kasusnya sebanyak 4 dengan kematian 3 orang.

Di Amerika, total kasus sebanyak 4 orang, dan 1 di antaranya meninggal dengan total kematian 20,00 persen. Di Spanyol total kasus adalah 1 orang, da tidak meninggal. Di Congo, sebanyak 66 kasus, 49 di antaranya meninggal atau dengan total kematian sebanyak 74,24 persen.

sumber: http://www.beritasatu.com

 

Simposium Litbangkes Regional Asia Pasifik Digelar di Jakarta

14nov

14novBadan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan akan menggelar simposium litbangkes regional Asia Pasifik, di Jakarta pada 17-20 November 2014.

Acara yang akan dibuka Menteri Kesehatan ini akan dihadiri Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia, sejumlah pakar sistem jaminan kesehatan dan asuransi kesehatan dari Korea, Thailand, Philipina, Australia, Oman dan Arab Saudi

Demikian dikemukakan Kepala Balitbangkes, Tjandra Yoga Aditama dalam penjelasannya kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (7/11).

Ia menyebutkan pada 17 November digelar pra simposium dengan 4 tema utama, yaitu updating Indonesia Case Based Group (INA CBGs), planning based on health technology assessment (HTA) approach for pharmaceutical products, proposal and protocol development workshop for health research, assessing staffing need at health facility to support nasional health insurance.

“Itu sebabnya simposium ini diikuti ahli sistem jaminan kesehatan dan asuransi kesehatan,” ujar Tjandra Yoga.

Ditambahkan, hasil simposium nantinya akan menjadi masukan bagi penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional (SJSN) yang diterapkan di Indonesia. Termasuk juga perbaikan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sudah berjalan dalam satu tahun terakhir ini.

Dalam kesempatan yang sama, Tjandra Yoga memaparkan rencana kegiatan menyambut peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50. Sejumlah kegiatan yang akan digelar adalah open house museum kesehatan (wisata ilmiah kesehatan) di 4 museum kesehatan milik Kemenkes.

Disebutkan ke-4 museum kesehatan itu adalah Museum Kesehatan dr Adhyatma MPH di Surabaya, Jawa Timur, Museum Dunia Vektor B2P2VRP di Salatiga, Jawa Tengah, Museum Nyamuk Loka Litbang P2B2 di Ciamis, Jawa Barat dan Museum B2P2TOOT, di Tawangmangu, Jawa Tengah.

Tjandra Yoga menjelaskan, Balitbangkes selama 2014 melakukan studi diet total (SDT) berupa survei konsumsi makanan individu (SKMI) di 33 provinsi, 490 kabupaten/kota dengan jumlah sampel sebanyak 2.080 blok sensus, sebanyak 52.000 rumah tangga dan 162.045 individu. Jumlah tenaga pengumpul data (enumerator) sebanyak 2.780 orang.

“Hasil dari SDT ini untuk mengukur asupan gizi dan keamanan makanan. Pada Oktober 2014 lalu, juga sudah dilakukan uji coba analisa cemaran kimia makanan di Yogyakarta,” ujarnya.

Pada 2015 mendatang, Tjandra Yoga menambahkan, pihaknya akan menyelenggarakan riset khusus vektor dan reservoir penyakit (rikhus vektora). Dalam riset yang akan dilakukan selama 3 tahun itu, Balitbangkes akan mengumpulkan sekitar 305 ribu spesimen nyamuk, 42 ribu spesimen tikus dan 24 ribu spesimen kelelawar.

“Rikhus Vektora ini dilakukan untuk mengetahui pola jenis vektor dan resevoir penyakit yang ditimbulkan dari nyamuk, tikus dan kelelawar di Indonesia,” ucap Tjandra Yoga.

Dipilihnya ketiga hewan tersebut, menurut Tjandra Yoga, karena ketiga hewan itu jumlahnya cukup banyak di Indonesia. Mereka menimbulkan penyakit paling banyak.

“Seperti kasus ebola, diduga penularannya lewat kelelawar. Di Indonesia kan juga banyak penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, mulai dari demam berdarah hingga malaria. Sedangkan tikus bisa menimbulkan wabah pes saat banjir,” katanya.

Ditambahkan, proses uji coba telah dilakukan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang selesai pada 31 Oktober 2014 lalu. Selanjutnya penelitian akan dilakukan ke sejumlah daerah di provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Papua. (TW)

{jcomments on}

Perlu Tingkatkan Kewaspadaan Diabetes

Hari Diabetes Sedunia yang dirayakan setiap 14 November menjadi momentum bagi dunia menggalakkan kepedulian mengenai fenomena diabetes. Indonesia patut berduka sekaligus bangkit bersama melawan diabetes.

Sebanyak 9,1 juta masyarakat Indonesia hidup dengan diabetes. Dengan jumlah tersebut, saat ini Indonesia menjadi negara dengan populasi diabetes terbesar kelima di dunia dari posisi ketujuh tahun lalu, menurut data terbaru yang dikeluarkan Federasi Diabetes Internasional (IDF).

Sejauh ini, diprediksi sebanyak 14,1 juta masyarakat Indonesia akan mengidap diabetes pada tahun 2035. Dua pertiga dari mereka tinggal di perkotaan, sisanya di pedesaan. Walau pun banyak survei menunjukkan angka yang berbeda, namun ini bukti bahwa pandemik diabetes melanda Indonesia lebih cepat dari yang diperkirakan.

Perusahaan kesehatan global untuk diabetes, Novo Nordisk, beserta Kemenkes RI yang didukung Kedubes Denmark untuk Indonesia, dan sejumlah lembaga serta organisasi kesehatan nasional dan internasional, mencoba menginisiasi kerja sama untuk penanggulangan diabetes di Indonesia, termasuk fenomena di daerah urban dan pembahasan isu diabetes nasional. “Seiring dengan meningkatnya ekonomi suatu negara dan kehidupan modern di daerah urban, epidemi diabetes semakin meningkat. Dalam rangka Hari Diabetes Sedunia tahun ini, kami ingin tingkatkan global awereness terhadap ancaman diabetes, termasuk di Indonesia,” tutur Sandeep Sur, Direktur PT. Novo Nordisk, di Hotel J.W. Marriott, Jakarta, Kamis 13 November tadi.

Daerah perkotaan tidak hanya menjadi sorotan dalam acara ini. Sejumlah pakar kesehatan yang hadir dalam acara tesebut juga memperingatkan ancaman diabetes bagi masyarakat di daerah pedesaan. Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di Indonesia, turut menyulitkan akses dan motivasi kesehatan bagi masyarakat di daerah pedesaan. “Meningkatnya diabetes tidak hanya terjadi pada masyarakat urban di daerah modern. Ini juga melanda masyarakat di dearah rural. Tidak hanya karena pengetahuan, tetapi juga akses dan kapabilitas pelayanan kesehatan yang menghambat,” timpal Prof Dr dr Ahmad Rudianto, SpPD-KEMD, FINASIM, guru besar endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, dalam konferensi pers di lokasi yang sama.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut, Prof dr Hasbullah Thabrany MPH, Dr.PH, guru besar dan ahli ekonomi kesehatan dari Universitas Indonesia, serta dr Mohammad Edison, MM, AAKA dari Lembaga BPJS, yang menggarisbawahi pentingnya pengetahuan bagi pencegahan diabetes untuk menekan beban ekonomi masyarakat dan negara, akibat epidemi diabetes tersebut.

Disimpulkan butuh langkah konkret dan kerja sama dari berbagai pihak untuk mengatasi epidemi diabetes. Perlu ada pengingkatan perhatian dan pengetahuan sebagai usaha promotif dan preventif, serta aksesibilitas pengobatan dan pelayanan kesehatan. (int)

sumber: http://fajar.co.id/

 

Global Campaign to Eliminate Measles Stalls

The World Health Organization (WHO) says the global campaign to eliminate measles is in trouble as progress toward that goal has stalled. WHO reports about 145,700 children died from measles in 2013, an increase of 23,700 from the previous year.

WHO says a decline in routine measles vaccine coverage has resulted in large outbreaks of this highly contagious disease in recent years. It also has stalled global efforts to eradicate measles by 2015.

The U.N. agency says measles immunization efforts are hampered by lack of money, weak health systems and not enough awareness of the importance of vaccinating children against this killer disease. It notes it only costs about one dollar to vaccinate a child.

WHO estimates 15.6 million deaths have been prevented through vaccination between 2000 and 2013.

Dr. Robert Perry of the WHO Department of Immunization, Vaccines and Biologicals, says these huge reductions in mortality are tapering off because of poor vaccine coverage.

“So, now we are in a crossroads,” he said. “We need adequate funding. We need to find ways to increase the first dose coverage and to increase the uptake of a second dose in routine as well as conducting high quality campaigns or we are likely to see more outbreaks like we have seen in the last few years.”

The World Health Organization reports in 2013 large outbreaks occurred in China, Democratic Republic of Congo and Nigeria. It reports more than 70 percent of global measles deaths occurred last year in just six countries – India, Nigeria, Pakistan, Ethiopia, Indonesia, and Democratic Republic of Congo.

Perry says conflict-ridden Iraq and Syria and neighboring countries are having serious problems with measles outbreaks.

“These are countries, especially like Syria and Jordan that had very good coverage, had essentially eliminated measles and blocked any measles transmission,” he said. “Because of the conflict in Syria, there has been huge population movement, so now there is – the population that used to be all vaccinated now is not vaccinated in Syria and they have moved to other countries. So, now these countries have big populations of kids that are not being reached. And, the conflict in Iraq and Syria is having a bad effect on the ability of teams to reach children. So, there is a lot of measles in those countries.”

Perry notes conflict in Africa is having a similar effect on efforts to reduce death from measles.

He says the conflict between the government and Boko Haram militants in northeast Nigeria is creating great instability and making large vaccination campaigns virtually impossible.

Although Central African Republic also is hard hit by conflict, he says it was possible to mount a successful measles vaccination campaign there last year. But he adds a number of areas were off limits because of fighting, so many children have been missed.

source: http://www.voanews.com

 

Ulang Tahun Emas Hari Kesehatan Nasional

Peringatan HKN Ke-50 atau ulang tahun emas Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimaksudkan untuk menjadikan perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia selama setengah abad terakhir ini sebagai inspirasi untuk mempercepat terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat jasmani, rohani, dan sosial, serta bermutu, produktif, dan berdaya-saing.

Tema yang diangkat dalam Hari Kesehatan ke -50 adalah Sehat Bangsaku Sehat Negeriku.

Dalam filosofi 50 Tahun HKN ini terkandung makna semangat Promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan agar perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS benar-benar diterapkan setiap waktu dan sepanjang hayat oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Upaya mewujudkan bangsa dan negeri Indonesia yang sehat sejahtera adalah tanggung jawab seluruh komponen masyarakat karena pada saat ini kita berada pada tahap di mana akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan berkualitas mulai berkembang dan meningkat.

Peringatan HKN kali ini dilaksanakan secara sederhana, namun bermakna dan melibatkan publik.

Upaya ini ditujukan kepada para pengambil keputusan di jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah, petugas kesehatan, dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, kalangan swasta/ dunia usaha, serta para penggiat dunia maya. Buku Panduan HKN ke-50 ini diterbitkan untuk dijadikan

Acuan dalam menyelenggarakan peringatan HKN Ke-50 bagi jajaran Pemerintah di Tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/ Kota, kalangan swasta dan dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan.

Peringatan HKN Ke-50 diharapkan berlangsung sukses dan terlaksana secara serentak dengan sederhana tapi meriah di seluruh Indonesia dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Di samping itu, peringatan HKN ke-50 diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan Kebijakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan dan memperkenalkan program-program kesehatan guna mendapatkan dukungan politis serta dukungan sumber daya dari seluruh jajaran Pemerintah di Pusat dan Daerah, guna mensukseskan Pembangunan Kesehatan.

sumber: http://www.antaranews.com/

 

Hari Kesehatan Nasional: Dorong Pembangunan Kesehatan pada Aspek Promotif-Preventif

12nov

12novMenteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50 di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Rabu (12/11) mengemukakan 5 hal utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan kesehatan nasional.

Hal pertama, disebutkan, pembangunan kesehatan harus lebih mendorong pada aspek promotif dan preventif, namun tetap tidak melupakan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (perawatan).

“Aspek promotif dan preventif menjadi penting, karena pembangunan kesehatan merupakan investasi negara, khususnya dalam menopang peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM), bersama dengan pendidikan dan pendapatan perkapita,” ujar Menkes.

Hal kedua, sasaran pokok pembangunan kesehatan adalah ibu hamil, bayi dan balita, anak usia sekolah dan remaja, pasangan usia subur, serta usia lanjut, khususnya di daerah populasi tinggi, terpencil, perbatasan, kepulauan dan rawan bencana.

Fokus perhatian ketiga, lanjut Menkes, diperlukan keterlibatan aktif dari akademisi, komunitas, pelaku usaha dan pemerintah sebagai satu kesatuan team work sebagai bentuk tanggung jawab bersama akan masa depan bangsa. Khususnya, kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan bangsa atau negara lain.

Perhatian keempat, kata Nila F Moeloek, pola kepemimpinan perlu diubah dari pasif menjadi aktif untuk merespon serta mengantisipasi persoalan yang ada, dari sifatnya directive menjadi colaborative. Dari yang sifatnya individualisme menjadi teamwork, serta dari sifatnya serve (melayani) menjadi care (peduli).

“Yang kelima, tata kelola program dan administrasi harus terus menerus ditingkatkan ke arah yang lebih baik, melalui sinergitas pusat dan daerah. Satu kesatuan siklus menajemen, mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, hingga pertanggungjawaban serta pengadministrasiannya,” kata Menkes.

Dan yang tak kalah penting, menurut Menkes, adalah dukungan dan komitmen kuat dari pemimpin, baik di tingkat nasional maupun daerah, yang secara konsisten mewujudkan 5 hal pembangunan kesehatan nasional.

“Peringatan HKN emas tahun ini diharapkan bisa menjadi momentum bagi pemerintah bersama masyarakat untuk memberi makna pentingnya kesehatan,” ucap Menkes menandaskan.

Sedangkan untuk agenda pembangunan kesehatan 2015-2019, Nila F Moeloek menyebutkan, pihaknya ingin mewujudkan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang makin mantab.

Maksudnya, setiap orang berhak mendapat layanan kesehatan sesuai kebutuhan, di tempat pelayanan kesehatan terstandar, dilayani petugas kesehatan yang kompeten, dengan biaya terjangkau serta informasi yang akurat.

Pada kesempatan itu Menkes menceritakan sejarah lahirnya HKN. Hal itu berawal saat Presiden Sukarno mencanangkan pembasmian malaria secara besar-besaran pada 12 November 1959. Peristiwa itu merupakan titik awal kebersamaan seluruh komponen bangsa dalam pembangunan kesehatan untuk mengatasi pandemi malaria.

“Saat itu Presiden Soekarno menandai pembasmian malaria lewat kegiatan penyemprotan massal di seluruh Jawa, Bali dan Lampung. Dampak dari pencanangan itu, 63 juta penduduk Indonesia saat itu terhindar dari penyakit malaria,” tuturnya.

Kondisi ini selaras saat Indonesia memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang melindungi kesehatan seluruh rakyat Indonesia lewat sistem asuransi kesehatan. Dengan demikian, rakyat miskin Indonesia terlindungi kesehatannya lewat premi yang dibayarkan pemerintah.

“Memang sistem ini masih banyak kekurangannya. Karena itu, berbagai perbaikan tengah kita lakukan, termasuk penyediaan fasilitas baik di tingkat satu maupun dua. Selain menjaga efisiensi dan efektivitas pembiayaan lewat sistem rujukan berjenjang,” kata menkes menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Indonesia Sehat, Mungkinkah?

Jakarta 12 November 2014 disebut sebagai tahun emas kesehatan Indonesia. Selama 50 tahun tersebut, Berton-ton antibiotik sudah diberikan kepada penderita infeksi, jutaan vaksin telah diberikan kepada anak-anak kita, berbagai skema pembiayaan kesehatan seperti Jamkesmas, bantuan operasional kesehatan (BOK) hingga SJSN telah diimplementasikan. Akantetapi, kita justru dikagetkan dengan data-data kesehatan yang masih buruk.

Malaria, demam berdarah, tifoid, diare tetap menjadi pembunuh di bumi Indonesia. Kita lebih dikagetkan lagi dengan kenaikan angka kematian ibu dan anak dari 228 per 100.000 ditahun 2007 menjadi 359 per 100.000 pada tahun 2012dan hal itu terjadi ditengah upaya yang digaungkan oleh pemerintah untuk mengejar target MDGS. Sementara itu, penyakit degenaratif seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke dll hadir sebagai 60% dari penyakit yang membunuh masyarakat kita.

Hal ini membuat kualitas manusia Indonesia (human developement index) berada pada peringkat 121. Padahal sejak tahun 1991, UNDP telah mendeklarasikan bahwa “human is the real wealth of nation.” kualitas manusia Indonesia yang merosot tentu saja berdampak pada kualitas pembangunan bangsa yang menyedihkan. Rusaknya pembangunan bangsa berujung pada pemberian predikat sebagai negara gagal untuk bangsa Indonesia (fund for peace, 2012).

Jika menilik gagasan Daron Acomeglu dan James Robinson bahwa negara gagal disebabkan oleh institusi ekonomi dan politik yang ekstraktif. Institusi politik dan ekonomi yang selalu menyulitkan akan menyebabkan lambatnya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Olehnya itu, negara harus bertransformasi menjadi negara/institusi yang inklusif dimana institusi ekonomi dan politik negara tersebut memberikan kemudahan bahkan stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menaikkan daya saing bangsa.

Kita perlu segera mereformasi birokrasi kita. Presiden Amerika, Bill Clinton, bahkan menginstruksikan wakil presidennya, Al Gore, untuk memimpin pembenahan birokrasi. Setelah memiliki birokrasi yang ramah dan memudahkan, kita perlu menjalankan strategy menuju Indonesia sehat. Sebenarnya kita sudah pernah bermimpi untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010, kemudian tertunda menjadi Indonesia sehat 2015 dan terakhir ditunda lagi menjadi 2020. Apa penyebab kegagalan kita mewujudkan Indonesia sehat?

sumber: http://health.liputan6.com

 

Menkes: Kurangi Penggunaan Gadget Pada Anak

11nov

11novMenteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengingatkan orang tua untuk mengurangi penggunaan gadget pada anak. Hal itu dapat menyebabkan gangguan penglihatan pada anak.

“Trend main games di gadget harus disikapi secara bijaksana oleh orangtua. Penggunaan gadget yang berlebihan, tak hanya anak, dapat menyebabkan gangguan pada penglihatan,” kata Menkes Nila F Moeloek yang juga dokter spesialis mata itu saat berkunjung ke Kompleks SD 06, 07, 08, 09, 10 dan 11 Pagi dan Petang Penjaringan Utara, Jakarta Utara, Selasa (11/11).

Kehadiran Menkes ke sekolah tersebut bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50. Selain melihat bakti sosial yang digelar Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) bersama Yayasan Hin An Peduli serta RS Jantung Harapan Kita untuk pemeriksaan telinga, mata dan jantung.

Nila menambahkan, akibat penggunaan gadget yang berlebihan saat ini mulai banyak anak pemakai kacamata. Ia memperkirakan jumlah anak pemakai kacamata 20 persen dari populasi jumlah penduduk anak di Indonesia.

“Sudah banyak main gadget, tak ditopang pula oleh makan makanan bergizi. Anak harus tercukupi kebutuhan gizinya supaya tidak terserang gangguan penglihatan,” ucapnya.

Kebutuhan gizi anak tercukupi yang dimaksud Menkes Nila F Moeloek adalah menu makanan yang seimbang. Terutama sayur-sayuran yang kurang disukai anak-anak, dan buah-buah segar. Jika perlu ditambah susu dan vitamin.

Mengutip data dari‎ Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) 2010, Menkes menyebutkan, terdapat 10 hingga 20 persen anak SD yang memiliki gangguan penglihatan dan harus memakai kacamata.

Hal senada dikemukakan Ketua Komnas PGPKT Jakarta Utara, Radito Soesanto, melakukan deteksi dini gangguan mata dan pada anak SD Penjaringan, sebagai bagian dari tindakan promotif dan preventif kesehatan. Karena indera pendengaran dan penglihatan merupakan aspek penting dalam pendidikan, terutama pendidikan dasar.

“Coba kalau mata tidak dicek, tidak tahu kan orangtuanya kalau anaknya sebenarnya sudah mata minus. Prestasinya menurun karena tidak bisa melihat tulisan gurunya di papan tulis dengan jelas,” ujarnya.

Begitupun telinganya yang tersumbat oleh kotoran, karena tidak pernah dibersihkan selama bertahun-tahun. Akibat telinga yang tersumbat tidak bisa mendengar omongan gurunya. Akhirnya nilai sekolahnya turun.

“Bukannya anaknya yang malas atau tidak pintar, tetapi ada gangguan kesehatan organ penting yang tidak disadari orangtuanya. Melalui kegiatan deteksi dini semacam ini diharapkan orangtua mau peduli atas kesehatan penglihatan dan pendengaran anaknya,” kata Radito menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Panduan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50 tahun

Peringatan HKN Ke-50 atau ulang tahun emas Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimaksudkan untuk menjadikan perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia selama setengah abad terakhir ini sebagai inspirasi untuk mempercepat terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat jasmani, rohani, dan sosial, serta bermutu, produktif, dan berdaya-saing.

“Percepatan ini dilaksanakan dengan mengutamakan upaya promotif preventif dalam pembangunan kesehatan agar perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS benar-benar diterapkan setiap waktu dan sepanjang hayat oleh seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, tema yang diangkat untuk peringatan HKN Ke-50 adalah Sehat Bangsaku Sehat Negeriku,”ujar Menteri Kesehatan RI Dr.Nafsiah Mboi,Sp.A, MPH.

Menkes juga mengatakan, upaya mewujudkan bangsa dan negeri Indonesia yang sehat sejahtera adalah tanggung jawab seluruh komponen masyarakat. Untuk maksud tersebut, pada peringatan HKN Ke-50 dilakukan upaya menggelorakan semangat untuk mengutamakan upaya promotif preventif serta melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan komitmen kuat.

Menurut Menkes, upaya ini ditujukan kepada para pengambil keputusan di jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah, petugas kesehatan, dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, kalangan swasta/ dunia usaha, serta para penggiat dunia maya. Buku Panduan HKN ke-50 ini diterbitkan untuk dijadikan acuan dalam menyelenggarakan peringatan HKN Ke-50 bagi jajaran Pemerintah di Tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/ Kota, kalangan swasta dan dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan.

Peringatan HKN Ke-50 diharapkan berlangsung sukses dan terlaksana secara serentak dengan sederhana tapi meriah di seluruh Indonesia dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Di samping itu, peringatan HKN ke-50 diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan Kebijakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan dan memperkenalkan program-program kesehatan guna mendapatkan dukungan politis serta dukungan sumber daya dari seluruh jajaran Pemerintah di Pusat dan Daerah, guna mensukseskan Pembangunan Kesehatan, jelas Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat di sini : http://sehatnegeriku.com/ 

sumber: http://nasional.news.viva.co.id