Letter: Why we need the World Health Organization

To the editor:
The outbreak of the Ebola virus in the West African nations of Guinea, Liberia, Sierra Leone, and Nigeria has brought into sharp focus the importance of the United Nations global health affiliate the World Health Organization (WHO). With respect to matters of global health, no other organization is capable of mobilizing the resources, responding to, and combatting threats to public health. It is a vital actor on the world stage as it must confront some of the deadliest diseases known to man.

The WHO is guided by six main roles as stipulated by the organization’s Eleventh General Programme of Work 2006-2015. The roles are:

  1. Providing leadership on matters critical to health and engaging in partnerships where joint action is needed;
  2. Shaping the research agenda and stimulating the generation, translation and dissemination of valuable knowledge;
  3. Setting norms and standards and promoting and monitoring their implementation;
  4. Articulating ethical and evidence-based policy options;
  5. Providing technical support, catalyzing change, and building sustainable institutional capacity;
  6. Monitoring the health situation and addressing health trends.

Precision Response is Key

How WHO responds to public health threats, such as disease outbreaks or natural disasters, requires a precise and coordinated plan. The disproportionate share of the affected people WHO serves reside in the developing world. They are the poorest and most vulnerable individuals. Any delay in responding to their needs can mean the difference between life and death, particularly as it relates to a virus like Ebola. As a result, WHO set forth a “roadmap” this past week to put an end to any further transmission of Ebola in the next 6-9 months. In addition the global health body plans to minimize its spread, while also focusing on the larger societal and economic consequences as a result of the outbreak. WHO knows time is of the essence, and there is no entity better equipped to handle this crisis than them.

No End in Sight

According to Margaret Chan, director-general of WHO, writing in the New England Journal of Medicine, “No one is talking about an early end to the outbreak.” She added that she anticipates Ebola continuing for “many more months.” There is one issue that the director-general believes has exacerbated the problem – poverty. These West African nations of Guinea, Sierra Leone, and Liberia rank well below the poverty line. These countries have had to endure years of conflict and civil war that has decimated their ability to combat this virus. The health infrastructure is essentially non-existent; it is estimated that there are one or two doctors per 100,000 people in West Africa, according to Dr. Chan.
Poverty forces individuals to flee their homeland in search of work. This migration causes a spread of the virus that threatens areas not previously inflicted. Liberia recently closed many of its borders to prevent such an occurrence from happening. However, this is not something that is easily accomplished. As the death toll continues to mount, the challenges for the health professionals on the ground becomes greater every day.

U.N. Broadens Its Efforts

In an effort to assist in stemming the tide of the Ebola virus, U.N. Secretary-General Ban Ki-moon last week appointed Dr. David Nabarro as Senior U.N. System Coordinator in charge of Ebola. Dr. Nabarro will work closely with Dr. Chan of WHO in coordinating their efforts. Dr. Nabarro, in an interview with UN News Centre, indicated that WHO’s primary responsibility is to diagnose and treat those who may be infected. This is a massive undertaking and an important reason why we need WHO. In his interview, Dr. Nabarro noted that when he met with the leadership of the various nations affected by Ebola he noted that they said to him they wanted WHO to take the lead to assist them in treating their respective citizens. In order to properly inform the public and to avoid widespread panic, the health professional remarked that social media has a crucial role to play in getting the right message out to people. If the public receives incorrect information, this will only complicate an already dangerous situation.

Unmatched Success

The accomplishments of WHO in the area of global health is unrivaled. The most notable achievement came in 1950 when the eradication of smallpox was realized. As a result, life expectancy in the developing world has seen a 60% rise. Furthermore, according to the Center for Global Development, children under the age of five now have a greater chance of survival. WHO has largely been responsible for controlling tuberculosis in China; eliminating childhood polio in Latin America; many regions on the continent of Africa have experienced the containment of river blindness; and Sri Lankan women do not fear dying during childbirth all as a result of the efforts of WHO.

Should the U.S. be worried?

We have all seen the images of the doctor and aid worker be transported back to the U.S. from the region after contracting Ebola. Thankfully they both appear to be doing well at this point and time. However in an era of globalization where people, goods, and services move about so freely, how can one say we will ever be truly free from these epidemics? No one can, but what is known is that there are many dedicated professionals from WHO giving their very best each day in an attempt to manage this crisis. They are essential players in bringing this matter under control. There will always be naysayers who will try to dispute why we need the U.N., or WHO for that matter; but to all those opposed to the U.N. and its agencies think about this question for a moment: If you were ever to find yourself in a country where you were threatened by such a crisis, would you not want the assistance of a global health organization like WHO to assist you? Of course you would! For you to say otherwise would simply be foolish. There is no disputing the fact that their work is crucial to the survivability of many around the world today.

MICHAEL CURTIN
Editorial Chair and Blogger
United Nations Association of the USA (UNAUSA-NNJ)
unausannj.com

source http://www.nj.com/

 

Sosialisasi Tarif Baru Layanan Kesehatan Belum Merata

Sosialisasi tarif baru pada sebagian kelompok Indonesia Case Based Groups atau INA-CBGs yang dipakai dalam klaim layanan kesehatan di fasilitas kesehatan lanjutan belum merata. Padahal, tarif baru layanan kesehatan di rumah sakit itu mulai berlaku per 1 September.

Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Junus, Bengkulu, Daisy Novira, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (1/9), mengatakan, pihaknya belum tahu ada tarif baru INA-CBGs. Ia sebatas mengetahui akan ada perbaikan tarif, tetapi belum tahu kapan tarif baru itu berlaku dan bagaimana perubahannya.

“Saya tahunya tarif INA-CBGs akan dievaluasi. Tetapi, kalau ternyata tarif baru sudah ada dan mulai berlaku, saya tak tahu. Biasanya, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) memberi tahu kami kalau ada perkembangan terbaru. Sekarang belum ada informasi apa pun dari BPJS. Mungkin mereka juga belum tahu,” tutur Daisy.

Setelah mengetahui ada penyesuaian tarif pada sebagian kelompok INA-CBGs, Daisy berencana secepatnya mengunduh aplikasi terbaru terkait itu.

Sementara itu Kepala Humas RS Moh Hoesin, Palembang, Emma Huzaimah mengatakan, pimpinan RSMH pada minggu lalu telah menginformasikan akan ada tarif baru INA-CBGs. Informasi itu lalu diteruskan kepada seluruh karyawan RS. Namun, ia tak tahu pasti informasi lebih rinci soal tarif baru itu, misalnya kapan berlaku dan kelompok apa saja yang tarifnya disesuaikan.

Berbeda dengan Daisy dan Emma, Kepala Humas RSUD Tangerang Ahmad Nizar mengaku sudah mengetahui ada tarif baru pada sebagian kelompok INA- CBGs dan siap menjalankan kebijakan itu. “Sebagai RS pemerintah, kami tak ada masalah. Kami bahkan sudah memakai INA- CBGs sejak masih masa Jamkesmas,” ujarnya.

Pantau pelaksanaan

Ahmad menegaskan, meski penyesuaian tarif itu diapresiasi, pihaknya akan memantau perkembangan terbaru di lapangan dalam beberapa bulan ke depan. Pihaknya juga akan memberi masukan jika ada hal mengganjal di lapangan.

Evaluasi dan penyesuaian tarif baru INA-CBGs pada 39 kelompok tarif sudah dilakukan Kementerian Kesehatan. Tarif pada 39 kelompok yang dinilai terlalu rendah itu lalu dinaikkan, di antaranya layanan bedah ortopedi, bedah saraf, dan layanan rawat jalan dengan pemeriksaan penunjang. Untuk mengompensasi kenaikan sebagian tarif itu, 60 kelompok rawat inap yang dinilai terlalu tinggi diturunkan sehingga keseimbangan pendapatan dan pembiayaan terjaga.

Penyesuaian tarif itu diharapkan memperluas keikutsertaan RS dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan demikian, masyarakat mendapat layanan kesehatan yang baik.

Sebelumnya, Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan Donald Pardede menjelaskan, Peraturan Menkes tentang tarif baru INA-CBGs ditandatangani Menkes dan mulai berlaku September ini. Jadi, klaim terhadap tarif baru bisa dilakukan RS pada Oktober 2014. Sabtu (30/8), Menkes Nafsiah Mboi menyatakan, bahan sosialisasi tarif baru sudah dikirim ke sejumlah RS.

Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan Fajriadinur mengatakan, setelah sebagian tarif INA-CBGs berubah, BPJS harus memperbarui aplikasi verifikasi dan klaim biaya RS. Lalu, RS bisa mengklaim dengan tarif baru pada Oktober dengan syarat sudah merampungkan klaim tindakan pada Agustus ketika tarif belum berubah. (ADH/A04)

sumber http://health.kompas.com/

 

Negara Rugi 56,7 Triliun Akibat Sanitasi Yang Buruk

2sept14

2sept14Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan masih ada 40,2 persen penduduk Indonesia belum mendapat sanitasi yang layak. Akibat sanitasi yang buruk, setiap tahunnya negara mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 56,7 triliun.

“Itu berdasarkan hitung-hitungan badan kesehatan dunia WHO, bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan untuk perbaikan sanitasi akan memberi imbal hasil paling sedikit 8 dolar,” kata Direktur. Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Wilfried H Purba dalam temu media, di Jakarta, Selasa (2/9).

Dalam kesempatan itu didampingi Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo.

Menurut Wilfried, upaya perbaikan sanitasi tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Karena itu, pemerintah sejak tahun lalu meluncurkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) agar problematika sanitasi bisa diselesaikan lebih cepat.

“STBM menggunakan pendekatan yang mengubah perilaku hiegienis dan sanitier melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan,” ucapnya.

Melalui program STBM, lanjut Wilfried, diharapkan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak berkelanjutan naik dari sebelumnya sebesar 59,71 pada 2013 menjadi 60,63 pada 2014. Angka itu diharapkan naik lagi menjadi 62,41 persen pada 2015 dan sebesar 100 persen pada 2019.

“Ini merupakan tantangan yang sangat besar, bagaimana pada 2019 nanti seluruh penduduk Indonesia mendapat sanitasi dan sumber air minum yang layak. Dua hal itu sangat penting untuk mendukung kesehatan masyarakat,” ucap Wilfried Purba menegaskan.

Begitupun pada persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum yang layak berkelanjutan, dari sebelumnya 67,02 pada 2013 menjadi 67 pada 2014. Jumlahnya diharapkan terus meningkat menjadi 68,87 persen dan 100 persen pada 2019.

“Pada 2013 lalu sudah ada 16.228 desa/kelurahan yang menerapkan STBM. Hingga pertengahan 2014 sudah ada 18.339 desa/kelurahan dan jumlahnya terus meningkat menjadi sekitar 2000 desa/kelurahan,” ujarnya.

Disebutkan, 5 pilar STBM adalah stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah dan pengamanan limbah cair rumah tangga.

“Jika 5 pilar STBM dipatuhi maka akses masyarakat mendapatkan sanitasi dan sumber air minum akan berjalan lebih baik,” ujarnya.

Sementara Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo memaparkan peluang dan tantangan pembangunan air minum dan sanitasi. Disebutkan, ada sejumlah usaha yang bisa dilakukan antara lain program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, implementasi Undang-Undang (UU) Desa dan kerjasama dengan masyarakat hingga regionalisasi air minum dan sanitasi.

“Diharapkan pada 2019 ada 100 juta penduduk yang mendapat akses air minum layak dan sekitar 120 juta penduduk mendapat sanitasi yang layak,” katanya.

Ia menyebutkan, dana investasi untuk peningkatan akses air minum dan sanitasi lebih dari 550 triliun. Dari jumlah itu, untuk air minum sebesar 275 triliun yang bisa diambil dari dana APBN, APBD, PDAM dan KPS.

Sedangkan dana investasi untuk sanitasi, dijelaskan, sebesar 273 triliun untuk pengelolaan air limbah sebesar 202,4 triliun, persampahan 57,7 triliun dan pembangunan dan perbaikan drainase sebesar 13,7 triliun. (TW)

materi Presentasi

{jcomments on}

Ditunggu Revolusi Mental Jokowi Bidang Kesehatan

Program revolusi mental Presiden terpilih Jokowi, kini ditunggu pelaksanaannya. Terutama dalam bidang kesehatan, yang dicanangkan sejak anak-anak.

Revolusi mental diharapkan bisa diperkuat pada wilayah kesehatan, karena mental yang kuat bersumber dari kesehatan.

“Gagasan tentang menyambungkan revolusi mental dengan revolusi kesehatan ini jelas dalam kerangka berpikir dan berkaitan secara langsung,” ujar Asisten Deputi Sumber Daya kesehatan Departemen Perumahan Daerah Tertinggal, Dr. Hanibal Hamidi M.kes dalam diskusi bertema “Revolusi Kesehatan Menuju Revolusi Mental untuk Indonesia Baru,” yang digelar Pusat Kajian Aksi Revolusi Mental (PERMANEN), Senin (1/9/2014).

Continue reading

Ibu Hamil Di Daerah Epidemi HIV Wajib Ikut Tes

menkes-konas

menkes-konas

Guna menekan angka penularan HIV/AIDS dari ibu ke anaknya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan kepada para ibu hamil di daerah epidemi HIV untuk menjalani tes HIV. Ibu hamil yang positif HIV akan diberi pengobatan dan layanan PDP (perawatan dukungan pengobatan).

“Setiap tahun jumlah anak yang tertular HIV dari ibunya terus meningkat. Kondisi ini sangat memperihatinkan,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi saat membuka seminar bertajuk “Menyusui dan HIV” yang digelar Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI), di Jakarta, Sabtu (30/8).

Menkes menjelaskan, tes HIV bagi ibu hamil sebenarnya telah dilakukan uji coba di sejumlah daerah epidemi HIV/AIDS sejak 2012 lalu. Dari 40.866 ibu hamil yang dites, sebanyak 1.264 diantaranya dinyatakan positif. Pada 2013, dari 100.840 ibu hamil yang dites, 3.153 orang dinyatakan positif, dan hingga Juni 2014 dari 27.888 ibu hamil yang dites, ada 278 orang yang ditemukan positif.

Data Kemkes 2013 menunjukkan, dari 1.630 bayi yang lahir dari ibu HIV positif, sebanyak 1.539 bayi berhasil diselamatkan sehingga tidak sampai tertular HIV. Sedangkan tahun ini hingga Juni 2014, dari 926 bayi yang lahir dari ibu HIV positif, hanya 54 bayi yang tertular. Sebagian besar bayi berhasil diselamatkan berkat pengobatan ARV sejak masa kehamilan.

“Tekad dan komitmen kita adalah tidak ada lagi bayi yang lahir positif HIV. Dengan semakin banyaknya ibu hamil yang ditest dan diberikan ARV, tentunya akan semakin banyak bayi yang bisa diselamatkan, sehingga generasi berikutnya bisa terbebas dari HIV/AIDS,” kata Nafsiah menegaskan.

Sedangkan data anak usia 0-4 tahun yang diketahui tertular HIV, Kemenkes mencatat pada 2010 ada sekitar 390 anak. Jumlah itu meningkat menjadi 547 anak pada 2011 lalu pada 2012 jumlahnya menjadi 541 anak. Pada 2013 jumlahnya sudah mencapai 759 anak.

“Untuk data 2014, hingga Juni lalu. Sudah ada 370 anak usia 0-4 tahun yang tertular. Jika kita tidak melakukan tindakan secara serius, bukan tidak mungkin angkanya menjadi lebih dari 1.000 anak,” ujar Menkes.

Hingga Februari 2014, Kemenkes telah memberi pengobatan antiretroviral (ARV) kepada 1.814 anak. “Perkiraan saya jumlah anak yang membutuhkan ARV masih banyak, tetapi sulit ditemukan. Karena tidak semua orangtua anaknya saat berobat,” ujar Nafsiah.

Sedangkan kasus AIDS cenderung menurun dalam rentan waktu yang sama. Pada anak usia 0-4 tahun masing-masing ditemukan sebanyak 234 orang pada 2012, 154 orang pada 2013, dan 8 orang pada 2014. Sedangkan usia 5-14 tahun masing-masing sebanyak 79 orang pada 2012, 59 orang pada 2013, dan 1 orang pada 2014.

“Sedihnya sebagian dari anak-anak ini ketika ditemukan sudah dalam keadaan AIDS,” kata Menkes.

TAKUT PERIKSA

Nafsiah mengungkapkan, masih banyak perempuan yang enggan melakukan
test HIV. Alasannya, kebanyakan takut diketahui suami, padahal tanpa sadar suamilah yang menularkan. Sebagian ibu hamil yang datang ke fasilitas kesehatan juga hanya untuk bersalin.

“Padahal dengan deteksi dini dan pengobatan ARV, penularan kepada bayi bisa dicegah seminimal mungkin,” ujarnya.

Dijelaskan, risiko penularan ibu ke bayi mencapai 30 persen, atau 1 dari 3 ibu hamil bisa menularkan kepada bayi. Risiko penularan ini akan bertambah jika
kedua orang tua sama-sama positif, dan melakukan hubungan suami isteri
tanpa kondom. Padahal risiko ini bisa ditekan hingga 3 persen hanya dengan
ARV.

“Anak yang sudah terlanjur lahir dengan HIV, bisa diobati dengan ARV. Sayangnya, sebagian orang tua juga tidak mau membawa anaknya untuk diperiksa,” kata Menkes.

Menurut Menkes, HIV/AIDS tidak lagi vonis mati. Buktinya, kematian
akibat AIDS terus menurun setiap tahun. Pada 2004 angka kematian
mencapai 16 persen dari seluruh kasus yang positif dan masuk pengobatan.
Angka ini mulai menurun ke 13,5 persen (2005), 10,9 persen (2006) sampai ke 1,6 persen pada 2013.

Menkes menambahkan, sebagian besar yang mendapat ARV bisa hidup dengan
kualitas baik. Namun, sekali ketularan HIV seumur hidup bisa menularkan.

Karena itu, setiap orang yang mengetahui dirinya positif bertanggung
jawab tidak menularkan kepada orang lain. Antara lain dengan mengubah
perilaku, seperti hubungan seks aman dengan menggunakan kondom, dan bila memakai alat suntik narkoba selalu yang steril.

Kemenkes sendiri sudah melakukan berbagai upaya pencegahan ibu ke anak
(PPIA). Di 26 rumah sakit sudah ada alat pemeriksaan deteksi dini HIV/AIDS. Semakin banyak pula rumah sakit yang bisa melakukan tes pada bayi baru lahir.

“Saat ini terdapat 236 puskesmas yang sudah punya tenaga terlatih unuk
pencegahan penularan ibu ke anak, di mana 166 di antaranya didukung
oleh Gobal Fund, dan 93 kabupaten kota melaksanakan intensifikasi PPIA
terintegrasi pada post natal care.

Kemkes juga menjamin stok ARV untuk anak aman, dengan empat jenis
rejimen, yaitu pediatric tiple FDC, pediatric dual FDC, ZDV 100 mg,
dan ABC 300 mg.

Menurut Menkes, semua upaya sudah dilakukan pihaknya dalam menurunkan angka HIV/AIDS di Tanah Air. Namun, masih tingginya perilaku seks berisiko di kalangan pria menjadi tantangan
besar. Diperkirakan ada 4,9 juta wanita yang berisiko terkena HIV, lantaran menikah dengan 6,7 juta pria yang diduga membeli seks.

ILMUNYA JADUL

Pada kesempatan yang sama Menkes Nafsiah mengingatkan para dokter agar pempuan dengan HIV/AIDS yang hamil tetap harus minum obat antiretroviral (ARV) selama masa kehamilannya. Ia juga diperbolehkan melahirkan secara normal, bukan tindakan caesar seperti dimasa lalu. Operasi caesar baru dilakukan jika ada indikasi medis.

“Dokter kandungan yang melarang perempuan dengan HIV/AIDS melahirkan secara normal itu ilmunya masih jadul,” ujarnya.

Menurut Nafsiah, pada dasarnya ibu hamil yang positif HIV/AIDS harus diberikan obat ARV sedini mungkin dan selama masa kehamilannya. Dengan demikian, peluang terjadinya penularan dapat dicegah seminimal mungkin.

Untuk bayinya sendiri, jika tertular virus HIV baru bisa diberikan setelah umur 6 bulan. Semakin dini obat ARV diberikan, virusnya semakin mudah dikendalikan.

Berdasarkan Surat Edaran (SE) Menkes No GK/MENKES.001/I/2013, disebutkan, ibu hamil yang positif menderita HIV wajib diberi obat ARV dan layanan PDP (Pengobatan, Dukungan dan Perawatan. “Ini bukan lagi himbauan, tetapi saya katakan wajib minum obat ARV. Soalnya masih banyak dokter kandungan yang ngeyel,” ucap Menkes menegaskan.

Begitupun dengan pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 33 Tahun 2012, ASI wajib diberikan pada anak secara ekslusif selama 6 bulan dan bisa diteruskan hingga selama-lamanya 2 tahun. Hal itu penting untuk meningkatkan antibodi dalam tubuh anak.

“ASI itu tidak bisa digantikan oleh susu formula secanggih apapun. Karena ASI itu diciptakan untuk bayi, sedangkan susu sapi untuk anak sapi. Berikan ASI ekslusif selama 6 bulan setelah itu beri makanan tambahan yang bergizi agar daya tahan tubuhnya terbangun,” ucap Nafsiah.

Ia kembali menegaskan, siapapun yang menolak memberikan ASI kepada bayinya, berarti tak menaati peraturan. Bila dalam kondisi tertentu ibu memilih pengganti ASI, maka ia berhak mendapatkan konseling makanan bayi yang memenuhi persyaratan teknis.

“Bayi diberikan susu formula jika ada indikasi tertentu, misalkan ibunya meninggal saat persalinan. Tetapi jika ASI-nya hanya keluar sedikit, biarkan anak menyedotnya. Karena tindakan itu justru merangsang produksi ASI,” katanya.

Menkes menambahkan, anjuran pemberian ARV bagi ibu hamil dengan HIV/AIDS dan menyusui, juga selaras dengan rekomendasi badan kesehatan dunia WHO.

“Jika para dokter tidak mau mendengarkan omongan menkes, paling tidak mematuhi anjuran WHO,” ucap Nafsiah menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Healthy Indonesia Cards may subsume JKN insurance program

President-elect Joko “Jokowi” Widodo may rename the existing national health insurance (JKN) program the Healthy Indonesia Card (KIS) program, as both health programs share a similar purpose, observers have said.

Hasbullah Thabrany, professor at the University of Indonesia’s School of Public Health, said that if the KIS, a free health-care program promoted by Jokowi during his presidential campaign, were to stand on its own, it would require new legislation that would consume too much time and resources.

If Jokowi decides to continue or expand the current nationwide JKN program, which is run by the Social Security Management Agency (BPJS), it would save time and it would be faster in reaching those people who are still waiting for better quality health care.

“Replacing the [JKN] cards with KIS cards is a very practical thing to do, by allowing the new president to focus on improving the program’s quality,” Hasbullah said during a discussion on the two health programs on Tuesday.

During the presidential campaign, Jokowi said he would implement the KIS as a national program.

Few details about the program have been made available but many consider it to be similar to the Healthy Jakarta Card (KJS) program, which Jokowi implemented in the capital during his two years as governor.

The KJS essentially expanded existing health-care programs, namely Gakin and SKTM, with the Jakarta administration issuing cards and providing health care, not only to those people who were considered poor, but to anyone with a Jakarta identity card who applied to join the program.

Hasbullah said that expanding the JKN would require more work, including a possible revision of the current framework for the insurance, and the BPJS as its provider.

“For example, the new government should be aware that only marginalized people are entitled to free health coverage under the JKN program. Even if it is good, if everyone ends up being covered, that would contravene our regulation,” he said.

Article 14 of the National Social Security System (SJSN) Law stipulates that the government is obligated to pay premiums for medical treatment for impoverished people.

The health coverage for the poor, once known as Jamkesmas, is one of the programs currently provided by the BPJS.

The non-profit body also manages health insurance offered by PT Askes (a former entity that became the BPJS), PT Jamsostek and PT Asabri.

Based on BPJS data, as of Aug. 8, the program covered 126.4 million people in total and cooperated with 1,551 hospitals nationwide. The program aims to cover the entire Indonesian population by 2019.

Rieke Diah Pitaloka, a member of the House of Representatives’ Commission IX overseeing health and manpower, emphasized that KIS was initiated as a refinement to the BPJS’ national health insurance program.

Rieke, who is also a politician with the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P), said the current JKN program had yet to reach many marginalized people.

“We even see in the news that sometimes people are rejected treatment by hospitals due to financial issues,” she said.

Hasto Kristiyanto, deputy head of Jokowi’s transition team, said they were optimistic that the KIS would be approved by House lawmakers.

source http://www.thejakartapost.com

 

 

Wamenkes: ”Tidak Semua Pemda Prioritaskan Bidang Kesehatan”

PEMERINTAH membuat kebijakan mengirimkan tenaga perawat ke Jepang dengan mekanisme G to G yang tertuang dalam Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Ironisnya, distribusi perawat di daerah masih bermasalah, karena tak terpusat di kota-kota besar.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, PhD mengatakan bahwa jumlah perawat di Indonesia sudah cukup, tetapi masalahnya hanya kemampuan perekrutan di Puskesmas dan Rumah Sakit di daerah yang masih kurang.

“Jumlah perawat cukup. Tetapi masalahnya karena menyangkut kemampuan daerah untuk merekrutnya. Tetapi, kalau jumlah perawat apalagi bidan itu malah menurut saya berlebih,” ujarnya di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2014).

Menurut Ali Ghufron, menyangkut soal perekrutan tenaga kesehatan, termasuk perawat di Puskemas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) merupakan tanggungjawab Pemerintah Daerah (Pemda). Ali Ghufron mengatakan bila permasalahannya adalah tidak semua Pemda memiliki prioritas di bidang kesehatan, sehingga timbul masalah pada perekrutan tenaga-tenaga kesehatan, termasuk perawat.

“Tanggungjawab untuk merekrut tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Daerah itu sebenarnya Pemerintah Daerah, tetapi disitulah mulai ada masalah. Meskipun sudah mulai banyak Pemda yang focus untuk masalah ini, tetapi masih belum semuanya menempatkan bidang kesehatan sebagai prioritas,” tuturnya.

“Makanya kita lihat nanti pemerintah baru ini, karena kartu Indonesia sehat dan program kesehatan menjadi prioritas, itu kita punya harapan dan senang,” tutupnya.

sumber http://health.okezone.com

 

 

WHO: Dua puluh ribu orang akan terinfeksi Ebola

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan wabah mematikan Ebola di Afrika Barat dapat menginfeksi lebih 20.000 orang sebelum dapat dikendalikan.
Badan PBB tersebut mengatakan jumlah kasus kemungkinan sudah lebih tinggi empat kalinya dibandingkan 3.000 orang yang tercatat saat ini.

WHO juga meminta maskapai penerbangan untuk melanjutkan penerbangan “penting” di kawasan, dengan mengatakan pelarangan penerbangan mengancam usaha mengatasi epidemi.

Sampai sejauh ini 1.552 orang tewas di Liberia, Sierra Leone, Guinea dan Klik Nigeria.
Saat mengumumkan rencana aksi WHO dalam mengatasi wabah ini, Asisten Direktur Jenderal WHO Bruce Aylward mengatakan “jumlah kasus sebenarnya kemungkinan dua hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan yang saat ini dilaporkan” pada sejumlah daerah.

Pejabat WHO tersebut mengatakan kemungkinan adanya 20.000 kasus “adalah sebuah skala yang saya pikir tidak pernah terpikirkan sebelumnya terkait dengan wabah Ebola”.
Rencana aksi WHO memerlukan dana sebesar US$489 juta dalam sembilan bulan ini, di samping 750 pekerja internasional dan 12.000 pekerja nasional di Afrika Barat.

source http://www.bbc.co.uk/

 

Kebijakan Pemerataan Tenaga Dokter di Indonesia

menkes-lokakarya

menkes-lokakarya

Dokter yang biaya pendidikannya ditanggung pemerintah daerah wajib mengabdikan diri di kampung halaman, minimal selama 5 tahun. Jika menolak, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) akan menahan surat tanda registrasi (STR) sehingga para dokter tidak bisa praktik diluar wilayahnya.

“Saya akan usulkan ke KKI kalau dokter yang mbalelo itu ditahan saja STR-nya, biar mereka tidak bisa praktik di luar daerahnya,” kata Nafsiah Mboi saat membuka Lokakarya Nasional Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan 2014, di Jakarta, Kamis (28/8).

Menkes menjelaskan, usulan tersebut akan disampaikan ke KKI dalam waktu dekat. Sehingga masalah pemerataan dokter bisa terjadi di Indonesia, bahkan hingga ke pelosok negeri.

“Selama ini kan para dokter masih menumpuk di kota-kota besar. Apalagi rumah sakit swasta saat ini makin bertumbuh,” ujarnya.

Menurut Nafsiah, penahanan STR merupakan satu-satunya cara guna mendorong para dokter mengabdi di daerahnya masing-masing. Mengingat, sanksi berupa denda uang sebanyak 3 kali lipat dari biaya pendidikannya, ternyata tidak membuat gentar para dokter.

“Apalagi mereka yang sudah bekerja di rumah sakit swasta besar. Sanksi denda uang, meski dinaikkan jadi 10 kali lipat pun tampaknya tak masalah. Mereka bisa bayar,” ucap Nafsiah menandaskan. (TW)

 

 

 

Health needs to become a priority in Indonesia

When Indonesian president-elect Joko Widodo takes power in October, he will be confronted by a laundry list of pressing issues, ranging from budget-sapping energy subsidies and urgently needed infrastructure projects to figuring out why heavy spending on education does not seem to be paying off.

Then, there is health. After making steady progress through the 1990s in lowering the country’s infant mortality rate, Indonesia has stagnated and will probably fail to meet next year’s Millennium Development Goal (MDG) of 28 deaths per 1,000 live births.

According to the United Nations Children’s Fund (Unicef), a child below the age of five dies somewhere in Indonesia every three minutes. That is about 150,000 a year, with many of those deaths due to a lack of simple sanitation and hygiene.

Every hour, a mother dies because of complications related to pregnancy or during child birth.

More bad news, this time on the HIV front. Bucking a worldwide downward trend in deaths related to acquired immune deficiency syndrome (Aids), a new United Nations report says Indonesia is one of six countries being left behind, with a massive 427 per cent increase in cases between 2005 and 2013.

Tuberculosis (TB) is another priority. With 91,000 deaths among the 528,000 cases of the disease recorded each year, Indonesia has the third highest TB rate in the world, behind China and India.

That is a troubling 6.3 per cent of total recorded diseases, compared with 3.2 per cent across the rest of the South-east Asian region.

Poor health-care system

Healthy economic growth is supposed to bring equivalent dividends in the quality of health care. Yet despite this year’s promising roll-out of Universal Health Care (UHC) for 86.4 million of the nation’s poor, the 1 per cent of GDP invested in health remains one of the lowest in the world.

That leaves it on a par with neighbouring countries like Laos, Cambodia and the Philippines, but behind Malaysia and Brunei on 2 per cent, and Vietnam and Thailand, both on 3 per cent.

Neo-natal deaths – when a baby dies within 28 days of birth – point to flaws in the efficient and effective delivery of quality round-the-clock mid-wifery and referral services, which in turn are often related to larger health system issues.

Infant deaths may have been reduced from 97 to 31 (per 1,000 live births) since 1990, but the rate has plateaued now that the large-scale introduction of immunisation, vitamin A distribution and what health professionals call other so-called “low-hanging” fruit has run its course.

Of course, there are much bigger geographic and demographic challenges for a sprawling archipelago of 250 million people, but, all the same, compare that 31 figure to the Philippines (30), Vietnam (23), Thailand (13) and Malaysia (nine).

But even today, in a country where a surprising number of urban dwellers prefer going to a traditional healer rather than a real doctor, Indonesia has the third highest number of non-immunised children. As a result, it still experiences outbreaks of vaccine-preventable diseases like measles and diphtheria.

While president Susilo Bambang Yudhoyono’s government may have increased access to health services over the past decade, better-quality advice is needed when it comes to such things as swaddling and longer-term breast-feeding.

Malnutrition and poor water and sanitation are major contributors to child mortality. It is sobering to read that Indonesia has the fifth highest number of stunted children in the world and the second highest number of people – 52 million – practising open defecation.

Frustratingly, increasing coverage on interventions is not translating into reduced mortality. The same lack of progress applies in a different way to education, despite the fact that public spending absorbs 3 per cent of GDP.

Outer Islands

While rates of mortality soar in less populated parts of Indonesia, it is the high population pockets that contribute to the greatest numbers in terms of morbidity and deaths. Health experts say both require radically different approaches.

Isolated groups of small islands and parts of Papua require more “waiting homes” so expectant mothers have somewhere to go to await birth. It has taken time to explain to husbands why this is necessary, particularly in Papua where under-five mortality rates stand at 90 per 1,000 live births.

In many parts of less-developed eastern Indonesia which, along with Kalimantan, accounts for 15 per cent of the total population, a 24/7 service just is not there. There may be health clinics dating back to president Suharto’s days, but they often do not have proper facilities or even basic medicines.

The reason seems obvious. Decentralisation may have been politically crucial when it was launched in 2001, but it has also blurred the lines of authority and impacted negatively on accountability.

The lack of a regular mechanism to track progress masks serious regional inequalities. What is needed is a systems approach to health service delivery, such as the better distribution of skilled health-care providers and the identification of bottlenecks.

The challenge of HIV

Indonesia’s HIV epidemic is a related threat. About 10 people die of Aids-related illnesses every day. Six years ago, an estimated 200,000 children and young people under 25 were living with HIV. Today, they are now believed to be responsible for a fifth of new cases, or at least seven a day.

Along with the Central African Republic, the Democratic Republic of the Congo, Nigeria, Russia and South Sudan, Indonesia faces the triple threat of a high HIV burden, low treatment coverage and little if any decline in new HIV infections.

Experts attribute the increase to the high number of people from traditionally low-risk population groups contracting HIV and to the government’s failure to ensure access to anti-retroviral therapy for those already living with the disease.

About 3 per cent of those infected with HIV also have active tuberculosis. This prevents people from earning wages and leads many already-poor families ever deeper into poverty because of the high cost of sustained treatment.

Mostly, the disease preys on those living in rural areas, those with weak immune systems and those seeking health services from centres that do not treat the disease in the directly-observed, low-cost way recommended by the World Health Organisation.

Joko has some major challenges ahead. But given the huge toll that preventable and curable disease is taking on the nation’s children, it is hoped health will become as much a priority as education.

source http://www.thejakartapost.com