Alih Program ke BPJS Tenaker, Asabri Desak Revisi UU SJSN

PT Asabri (Persero) mendesak pemerintah untuk merevisi Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), menyusul ketentuan wajib agar perusahaan mengalihkan programnya ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

“Kami akan membuat saran untuk revisi, karena tidak mungkin (peralihan program). Kami diskusi dulu, maunya bagaimana dan kekhususan masing-masing seperti apa? Kami kan belum pernah duduk bersama,” ujar Direktur Utama Asabri Sonny Widjaja, Selasa (30/3).

Menurut Sonny, ada beberapa hal yang menjadi kendala peralihan program Asabri ke BPJS Tenaker. Bentuk usaha Asabri yang berbeda dengan pemberi jaminan sosial lain. Misalnya, Asabri hanya memberikan asuransi bagi TNI, Polri, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Pertahanan.

“Asabri itu unik. Kalau kami masuk ke sana (BPJS Tenaker), mau ditaruh dimana penghargaan kepada prajurit dan polisi yang menghadapi musuh? Ini tidak bisa. Tidak nyambung,” katanya.

Bahkan, ia menyebut negara-negara lain pun, seperti Malaysia, memberikan penugasan khusus jaminan sosial bagi prajurit yang dikelola oleh institusi yang berbeda.

Hal lainnya, sambung Sonny, seharusnya UU SJSN tidak menganggu kinerja masing-masing perusahaan. Apabila BPJS Tenaker ingin menambah jumlah pesertanya, seharusnya tidak diambil dengan peralihan program milik Asabri.

“Kenapa tidak BPJS Tenaker itu mengambil (potensi) tenaga kerja yang sekarang masih ada sekitar 20 juta yang belum masuk ke sana. Kenapa memikirkan Asabri yang sudah settle (tetap),” imbuh dia.

Namun begitu, ia melihat kerja sama antara Asabri dan BPJS Ketenagakerjaan tetap bisa terjalin melalui sinergi program tertentu. Hanya saja, ia belum bisa memberi contoh kerja sama tersebut.

Berdasarkan UU SJSN dikatakan bahwa Asabri harus menyelesaikan pengalihan program milik Asabri pribadi dan program pembayaran pensiun ke BPJS Ketenagakerjaan paling lambat 2029 mendatang.

Tak hanya Asabri, UU juga memerintahkan hal yang sama kepada PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Persero) atau Taspen paling lambat 2029 mendatang. (bir)

sumber; https://www.cnnindonesia.com/

 

Modus rumah sakit bebani peserta BPJS

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dijalankan oleh Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak lepas dari masalah. Selain adanya defisit keuangan, pelaksanaan jaminan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan juga banyak menemui kritik.

Salah satu keluhan berasal dari masih adanya pungutan tambahan yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan, baik klinik maupun rumah sakit mitra BPJS Kesehatan. Kasus tersebut menjadi temuan BPJS Watch. Pungutan itu menjadi indikasi adanya kecurangan yang dilakukan rumah sakit dan klinik.

Koordinator advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, kecurangan dilakukan dengan berbagai modus. Selain memungut biaya tambahan yang tidak seharusnya, peserta BPJS Kesehatan juga sering harus membayar biaya administrasi yang tidak perlu. Ada juga RS dan klinik yang mengizinkan pulang pasien sebelum sembuh. “Ada juga pasien yang kena beban pembelian obat terpisah,” katanya kepada KONTAN, Rabu (7/3).

Dugaan kecurangan teranyar, kata Timboel, ditemukan BPJS Watch dalam pelayanan peserta BPJS di Tangerang Banten. Menurutnya ada pasien BPJS Kesehatan yang berobat ke klinik dan dikenakan tindakan nebulizer atau penguapan, dikenakan biaya Rp 90.000. Padahal seharusnya layanan dan tindakan medis tersebut tidak perlu lagi dibayar pasien karena sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

“Temuan itu kami advokasi dengan meminta pejabat BPJS Kesehatan pusat membantu, dan ternyata benar biaya ditutupi dan uang yang sudah dibayarkan oleh pasien dikembalikan,” katanya.

Menurut Timboel, kecurangan yang dilakukan rumah sakit dan klinik disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat tentang program JKN. Hal itu membuat masyarakat tidak tahu haknya sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Selain itu, kecurangan juga disebabkan terbitnya Permenkes No. 4 tahun 2017 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Timboel bilang, peraturan tersebut membuka celah bagi rumah sakit memungut biaya tambahan bagi pasien yang kelas rawat inapnya naik dengan alasan kamar penuh.

Padahal merujuk Permenkes 28/2014, ketika ruang perawatan penuh, pasien bisa naik kelas tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.

Kepala Humas BPJS Kesehatan Nopi Hidayat bilang, jika pasien dibebani iuran di luar ketentuan maka bisa diadukan ke BPJS Kesehatan. “Bila laporan terbukti, BPJS Kesehatan tidak segan memberikan teguran dan sanksi memutus kerjasama dengan mereka,” katanya.

sumber: https://nasional.kontan.co.id/news/modus-rumah-sakit-bebani-peserta-bpjs

 

Dokter Tolak Kenaikan Gaji: Kiat Sukses Kanada Jaga Kesehatan Warga

Tuntutan naik gaji dari kelompok pekerja itu normal. Tapi jika menolak? Anomali tersebut benar-benar terjadi di Kanada. Lebih dari ratusan mahasiswa kedokteran di Provinsi Quebec yang menamakan diri Médecins Québécois Pour le Régime Public (MQRP) menandatangani surat terbuka untuk menolak kenaikan upah tahunan.

“Kami, dokter Quebec yang percaya bahwa dalam sebuah sistem publik yang kuat, menolak peningkatan gaji yang dinegosiasikan oleh federasi medis kami,” demikian isi surat yang dipublikasikan melalui website resmi MQRP pada 25 Februari 2018, sebagaimana dikutip dari The Globe and Mail.

Kenaikan gaji itu akan diterima oleh total 20.000-an spesialis medis dan praktisi umum di provinsi terbesar di Kanada itu. Besarannya antara 1,4 persen hingga 1,8 persen per tahun selama delapan tahun ke depan. Federasi petugas medis yang membuat pemerintah mau menaikkan anggarannya untuk upah dokter menyatakan kesepakatan itu adil, namun dokter-dokter di Quebec berseberangan pendapat.

MQRP mengkritik kenaikan gaji di tengah pemotongan drastis anggaran untuk layanan pasien dalalm beberapa tahun terakhir dan sentralisasi kekuasaan di Kementerian Kesehatan. Mereka juga menyoroti gaji dan kondisi kerja yang layak dari pekerja medis non-dokter di Kanada. Profesinya meliputi perawat, petugas klinik, dan lain sebagainya.

Penandatangan melonjak dari angka 200-an menjadi lebih dari 700 dalam kurun waktu satu minggu. Isabelle Leblanc, pemimpin kelompok yang melahirkan surat terbuka itu, mengatakan bahwa sikap para koleganya diambil berdasarkan solidaritas. Pasalnya sejak beberapa bulan terakhir para perawat Quebec sedang mendorong pemerintah untuk mengatasi kekurangan perawat yang membuat perawat aktif kelebihan jam kerja.

Kelebihan jam kerja berpengaruh terhadap kualitas beraktivitas, dan ini bisa berdampak buruk bagi pasien. “Kami pikir (penolakan kenaikan gaji) ini akan membantu lebih banyak pasien jika uang yang banyak itu dialihkan ke sistem pelayanan, bukan ke kantong para dokter,” jelas Isabelle.

Total anggaran untuk kenaikan upah dokter Quebec sedianya akan naik dari $4,7 miliar menjadi $5,4 miliar. Pada 2016 gaji rata-rata untuk dokter di Quebec sebesar $403 ribu per tahun. Gaji tertinggi dipegang oleh radiolog dengan gaji mencapai $700 ribu per tahun. Gaji perawat lebih rendah dibanding keduanya, namun intensitas kerjanya kerap lebih tinggi.

Pada Januari, isu ini diviralkan seorang perawat Quebec bernama Emilie Richard melalui akun Facebook-nya. Ia mengunggah foto diri dengan mata sembab dan keterangan yang menjelaskan dirinya sangat kelelahan usai lembur semalaman. Richard harus mengurus lebih dari 70 pasien di satu lantai di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia dilanda stres yang menyebabkan kram hingga membuatnya susah tidur. Unggahan tersebut mendapat 42 ribu tanggapan dan dibagikan hampir 58 ribu kali.

Perjuangan federasi perawat Quebec pernah membuahkan pertemuan dengan Menteri Kesehatan provinsi pada akhir Februari kemarin. Sayangnya tak menghasilkan kesepakatan yang menggembirakan. Ketuanya federasi Nancy Bedard berkata pada Global News bahwa kawan-kawannya sudah tak tahan dengan kondisi kerja yang menyiksa. Terlebih lagi, pada akhirnya para pasien tak akan mendapatkan perawatan yang maksimal.
Medicare untuk Semua
Jika negara-negara lain punya stereotip yang buruk, Kanada adalah pengecualian. Masyarakat Kanada sering dipandang sebagai rombongan orang-orang paling baik hati sedunia. Sikap MQRP tak hanya menegaskan stereotip ini, namun juga menunjukkan betapa seriusnya Kanada dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi warganya.

Sineas Michael Moore pernah membuat film dokumenter Sicko (2007) yang secara pedas mengkritik sistem pelayanan kesehatan di Amerika Serikat yang terlampau liberal hingga kerap mengorbankan pasien. Ia mencontohkan Kanada—selain Perancis dan Kuba—yang mampu bertindak sebaliknya. Kanada mengaplikasikan sebuah sistem pelayanan kesehatan yang bersifat universal, dan kini menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Sistem pelayanan kesehatan Kanada bernama Medicare, kependekan dari Medical Care Act, yang disahkan melalui Undang-Undang Kesehatan Kanada pada 1984. Prinsip universalitas membuat semua orang berhak menerima pelayanan medis yang dibutuhkan, demikian menurut website resmi pemerintah Kanada.

Ada 13 provinsi dan teritorial yang mengelola program Medicare-nya sendiri-sendiri—dengan sedikit perbedaan, misalnya dalam hal perawatan gigi atau obat yang diterima pasien. Mayoritas pelayanannya bersifat gratis alias ditanggung negara. Pemerintah Kanada menghabiskan dana yang besar untuk menjalankan Medicare. Dana itu mereka dapat dari pemberlakuan pajak progresif kepada warga Kanada dan kerja sama dengan pihak swasta.

Dalam catatan Commonwealth Fund, 30 persen pengeluaran pemerintah untuk Medicare didapatkan dari sektor swasta. Sementara dalam riset Carlos Quinonez dan Paul Grootendorst di tahun 2011 menyatakan hampir seluruh pengeluaran pemerintah Kanada untuk pelayanan perawatan gigi berasal dari pemasukan non-pemerintahan.

Sejumlah legislator Kanada telah lama berjuang agar ada peningkatan anggaran untuk membiayai program pelayanan kesehatan nasional—yang sebetulnya sudah tergolong tinggi dibandingkan negara lain. Harapannya, peningkatan anggaran bisa dipakai untuk menutupi biaya layanan-layanan lain. Sayangnya perjuangan ini belum mencapai hasil yang diharapkan.

Menurut laporan Washington Post, pada 2009 pemerintah Kanada menghabiskan 11,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk menjalankan Medicare. Persentase ini tergolong salah satu yang tertinggi di antara anggaran kesehatan negara-negara Barat lain, apalagi jika disandingkan dengan anggaran di negara-negara ekonomi menengah-bawah.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD rajin memuji hasil Medicare, terutama dalam perbandingan dengan negara lain. Dalam riset OECD yang dirilis tahun 2011 silam, Kanada meraih prestasi bagus dalam kesembuhan pasien penderita kanker payudara dan kanker kolorektal.

“Kanada juga melakukan pekerjaan yang baik dalam perawatan penyakit primer, sehingga mencegah rumah sakit mengeluarkan biaya mahal untuk mengatasi kondisi kronis seperti asma dan diabetes yang tak terkontrol,” catat OECD.

Tahun lalu Global Burden of Disease merilis hasil risetnya di jurnal The Lancet. Mereka melakukan analisis terhadap akses dan kualitas pelayanan kesehatan dari 195 negara dalam periode tahun 1990-2015. Variabel utamanya pada 32 penyakit yang seharusnya bisa dicegah atau disembuhkan, antara lain kanker testikular, kanker kulit, diabetes, penyakit jantung, tuberkulosis, tetanus, gangguan maternal dan neonatal, dan sebagainya.

Kanada mendapat skor yang baik, yakni 88, dan menempati urutan ke-17 bersama Belgia, Perancis, Austria, dan Irlandia. Kanada berhasil dalam mencegah kematian akibat penyakit radang usus buntu, tuberkulosis, dan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Prestasi negara dengan lambang daun maple merah itu melampaui tentangganya, AS, yang merosot di urutan ke-35.

Melalui Medicare, Kanada juga mendapat reputasi membanggakan lain. Misalnya berada di urutan ke-16 dalam daftar negara dengan sistem kesehatan terbaik versi Legatum Institute (2016), urutan ke-20 negara terbaik untuk menjadi ibu versi Save the Children (2015), urutan ke-12 negara tersehat untuk tinggal pendatang versi InterNations (2017), dan urutan ke-12 di indeks harapan hidup versi WHO (2015) dengan rata-rata 82,2 tahun.

Medicare bukan sistem tanpa cela. Selama ini salah satu kritikan terbesar kepada Medicare adalah waktu tunggu pasien untuk mendapatkan perawatan masih lebih lama dibanding negara lain. Kembali ke riset Commonwealth Fund, pada 2010 ditemukan bahwa 59 persen pasien Medicare harus menunggu hingga lebih dari empat minggu untuk bisa bertemu dengan dokter spesialis.

Pemerintah Kanada tahu jika persoalan tersebut tergolong klasik. Sejak 2005 pemerintah di ke-13 provinsi dan teritorial mulai membuat beragam kebijakan baru untuk memangkas waktu tunggu. Commonwealth Fund mencatat kebijakan-kebijakan baru berhasil mempersingkat waktu tunggu bagi pasien pergantian sendi, masalah penglihatan, operasi jantung, dan pemindaian area tubuh.

Kebijakan Medicare tentu tak terlepas dari kondisi politik di tingkat elite pusat maupun daerah. Jika sudah dirasa mengkhawatirkan, sebagaimana perjuangan para perawat Quebec dalam beberapa bulan terakhir, para pekerja medis Kanada tak segan-segan menekan pemerintah mulai dari bentuk petisi hingga aksi demonstrasi. Muaranya tak jauh-jauh dari pelayanan kesehatan terbaik yang ingin diberikan pada seluruh warga Kanada.

sumber: https://xyz.tirto.id/

 

 

Kemenkes Fokus Eliminasi TBC, Penurunan Stunting serta Peningkatan Cakupan dan Mutu Imunisasi pada 2019!

MENJADI persoalan sekarang ketika dunia semakin canggih akan teknologi, tapi kualitas kesehatan manusianya masih belum mencapai titik baik. Indonesia sendiri masih banyak menyimpan manusia dengan kualitas kesehatan buruk dan tidak bisa dipungkiri, mereka belum bisa mendapatkan akses kesehatan tersebut.

Pemerintah pusat terus berupaya untuk menciptakan kesejahteraan hidup manusia secara menyeluruh. Hidup yang sehat tentunya menjadi impian semua manusia dan untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya banyak pihak yang harus membantu.

Nah, bicara mengenai kesehatan menyeluruh, Indonesia pada awal Januari 2019 akan mencanangkan Universal Health Coverage (UHC). UHC ini sendiri merupakan kondisi di mana setiap orang dapat menerima kebutuhan dasarnya berupa layanan kesehatan. Mulai dari upaya promotif, preventif, dan kuratif, serta rehabilitatif.

Tentunya dengan tercapainya konsep besar tersebut, status kesehatan masyarakat Indonesia bisa mencapai titik lebih baik tanpa adanya kekhawatiran kesulitan finansial dalam mengaksesnya. Dalam mewujudkan mimpi ini, tidak bisa kemudian Anda mengandalkan 100% pada pemerintah pusat. Anda sendiri juga bisa menjadi penentu mimpi besar ini dengan menjalani hidup yang lebih sehat.

Lebih lanjut lagi, dalam UHC ini, Pemerintah pusat dala hal ini Kementerian Kesehatan RI lebih berfokus pada 3 hal. Pertama adalah eliminasi TBC yang mana sampai sekarang angkanya masih tinggi. Kedua adalah penurunan stunting, dan yang terakhir adalah peningkatan cakupan dan mutu imunisasi.

“Pemilihan tiga topik prioritas ini dilatarbelakangi berbagai persoalan kesehatan terutama mempertimbangkan potensi kasus jika tidak diantisipasi guna menghindari terjadinya risiko peningkatan atau penyebaran ke tempat lain,” ungkap Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, saat memberikan sambutan di Rakerkesnas 2018 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (6/3/2018).

Perlu diketahui juga bahwa upaya menciptakan UHC yang berkualitas ini juga tentunya tidak terlepas dari tantangan. Bukan sekadar melihat angka cakupan kepesertaan jaminan kesehatan nasional (JKN) melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang terus mengalami peningkatan, tetapi ada hal lain yang bisa saja menghambat tercapainya tujuan ini.

Untuk informasi, akhir 2014 tercatat sudah ada 133,4 juta peserta JKN dan angka ini terus meningkat sampai 1 Februari 2018 sudah mencapai 192.029.645 jiwa. Angka ini pastinya akan terus meningkat dan dengan begitu cangkupan pemenuhan hak hidup sehat setiap warga negara bisa terpenuhi.

“Peningkatan angka ini tentu perlu diimbangi dengan kecukupan jumlah dan distribusi fasilitas pelayanan kesehatan baik di tingkat primer maupun rujukan. Karena itu, penguatan fasyankes menjadi salah satu komitmen utama untuk mejaga kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,” tambah Menkes.

Sementara itu, mesti diperhatikan juga masalah demografi. Sebab, belasan tahun mendatang diprediksi jumlah penduduk usia produktif menjadi sangat besar. Ini menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki statsu kesehatan masyarakat.

Lebih lanjut, utamanya adalah memperispkan generasi masa depan yang akan lahir agar status kesehatan mereka baik dan tumbuh kembangnya bisa terpantau dengan baik. Yang terpenting, mereka terbebas dari masalah penyakit infeksi yang membahayakan atau mengancam nyawa.

https://lifestyle.okezone.com/

 

 

Indonesia Prioritaskan Diplomasi Ekonomi Bidang Kesehatan

Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri, Febrian A. Ruddyard mengatakan diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas nasional untuk periode 2014-2019.

Beberapa bidang menjadi fokus utama diplomasi ekonomi Indonesia, yaitu perdagangan, investasi, pariwisata, kerja sama pembangunan, serta penempatan tenaga kerja terampil.

“Bidang kesehatan termasuk salah satu yang potensial untuk terus didorong melalui diplomasi ekonomi,”kata Febrian dalam keterangan resminya, Jumat pekan lalu.

Selain dalam kerangka pemasaran produk kesehatan, diplomasi ekonomi di bidang kesehatan juga dapat digunakan dalam kerangka Kerja Sama Selatan–Selatan dan Triangular, serta penempatan tenaga kerja terampil di bidang kesehatan.

Febrian menyebutkan salah satu forum yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat diplomasi ekonomi di bidang kesehatan adalah Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang anggotanya mayoritas berada di kawasan Afrika dan Timur Tengah.

Pada pertemuan para Menteri Kesehatan OKI di Jeddah, Desember 2017, Indonesia diputuskan sebagai Co-Lead Country Coordinator untuk medicines, vaccines and medical technologies.

“OKI juga menyepakati Indonesia untuk menjadi tuan rumah OIC Centre of Excellence on Vaccines and Biotechnology Products,” ungkap Febrian

Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Rustan mengatakan saat ini Bio Farma terus membuka pasar baru di negara-negara OKI, khususnya potensi dalam mendukung Indonesia sebagai Center of Excellence (CoE).

“Dukungan Pemerintah Indonesia dalam marketing diplomacy yang dilakukan oleh Bio Farma dalam membuka pasar negara-negara OKI, karena G to G akan lebih diperhitungkan,” pungkasnya.

sumber: https://www.wartaekonomi.co.id/

 

Lassa fever: The killer disease with no vaccine

Since the beginning of the year, Nigeria has been gripped by an outbreak of a deadly disease. Lassa fever is one of a number of illnesses which can cause dangerous epidemics, but for which no vaccine currently exists.

Lassa fever is not a new disease, but the current outbreak is unprecedented, spreading faster and further than ever before.

Health workers are overstretched, and a number have themselves become infected and died.

The potentially fatal disease is a so-called “viral haemorrhagic fever”, which can affect many organs, and damage the body’s blood vessels.

But it is difficult to treat.

Most people who catch Lassa will have only mild symptoms such as fever, headache and general weakness. They may have none at all.

However, in severe cases, it can mimic another deadly haemorrhagic fever, Ebola, causing bleeding through the nose, mouth and other parts of the body.

Lassa fever normally has a fatality rate of about one per cent. But in the Nigerian outbreak it is thought to be more than 20% among confirmed and probable cases, according to the country’s Centre for Disease Control.

Lassa fever outbreak in Nigeria

22% fatality rate among confirmed and probable cases

1081 suspected cases (1 January – 25 February)

90 deaths

14 health care workers affected in six states

Nigeria Centre for Disease Control and World Health Organization

About 90 people are thought to have died so far, but the true number may be much higher, because Lassa is so hard to diagnose.

Women who contract the disease late in pregnancy face an 80% chance of losing their child, or dying themselves.

In the early stages it’s almost impossible to distinguish from other common diseases like malaria and dengue.

With no readily available test, the only way to confirm a diagnosis is to analyse a blood or tissue sample in one of small number of specialised laboratories.

The disease was first identified in the Nigerian town of Lassa in 1969, after an outbreak in a mission hospital.

It has since been seen in many West African countries including Ghana, Mali and Sierra Leone.

However, this outbreak is causing particular concern because the number of cases is unusually high for the time of year.

Health officials are working to understand why.

Outbreaks can be influenced by seasonal weather conditions, which affect the numbers of the virus’s natural host – the multimammate rat.

These small mammals are common across West Africa, where they easily find their way into homes.

Another possibility is that the high number of cases reflects heightened public awareness.

Or it’s possible that something about the virus has changed.

Most people catch Lassa fever from anything contaminated with rat urine, faeces, blood or saliva – through eating, drinking or simply handling contaminated objects in the home.

It can also pass from person to person through bodily fluids, meaning healthcare workers and people taking care of sick relatives without protective equipment are particularly at risk.

The incubation period for Lassa is up to three weeks. Researchers are trying to work out whether – like Ebola – Lassa can stay in the body and be passed on through sexual contact even after illness subsides.

Nigeria has a strong public health system, and is used to dealing with epidemics like this.

The World Health Organization (WHO) is working with Nigerian authorities to help coordinate the response and the UK government has deployed a team of experts from its Public Health Rapid Support Team.

Those living in affected areas are being advised to take basic precautions: blocking holes that may allow rats to enter their homes, disposing of rubbish in covered dustbins, and storing food and water in sealed containers.

People are advised to wear protective gloves when caring for anyone who may have Lassa fever, and to carry out safe burial practices.

Despite these measures, the fight against Lassa – and other infectious diseases – is hampered by a lack of effective medical tools like diagnostic tests, treatments and vaccines.

It is likely that a vaccine could be found for Lassa – reducing the possibility of an outbreak becoming a global health emergency – but as with other epidemic diseases that mainly affect poorer countries, progress has stalled.

Vaccine development is a long, complex and costly process. This is especially true for emerging epidemic diseases, where a prototype vaccine can usually only be tested where there is an outbreak.

A new organisation called CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) – set up in 2017 with financial support from the Wellcome Trust, national governments and the Bill & Melinda Gates Foundation – hopes to accelerate vaccine production.

Lassa is one of the diseases on its hit list and it’s hoped one or more promising vaccines will be ready for large-scale testing in the next five years.

The WHO has drawn up a list of other serious, but often poorly understood diseases, with the potential for devastating outbreaks, including MERS, Nipah, Rift Valley Fever and, of course, Ebola.

It plans to highlight gaps in our knowledge of these diseases and to begin further research.

But research alone isn’t enough.

Stronger health systems are needed in the countries where epidemics are most likely to arise.

This could mean building better healthcare facilities and training staff to recognise and respond to outbreaks.

It will also mean working with communities to understand how to identify outbreaks at an early stage and prevent their spread.

 

source: http://www.bbc.com/

 

 

OKI sasaran diplomasi ekonomi bidang kesehatan Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara adalah salah satu kekuatan ekonomi global yang menyodorkan berbagai peluang ekonomi yang perlu dimanfaatkan Indonesia.

“Dengan total pendapatan domestik bruto sekitar 6.5 triliun dolar AS pada 2016, OKI maka hal itu sangat potensial bagi diplomasi ekonomi bidang kesehatan,” tegas Dirjen Kerja Sama Multilateral Kemlu saat Febrian Ruddyard membuka diskusi panel “Optimalisasi OKI untuk Peningkatan Diplomasi Ekonomi bidang Kesehatan” yang diselenggarakan Kemlu di Jakarta,Kamis.

Sejalan dengan pandangan itu, Dirjen Febrian mendorong pelaku usaha dan segenap unsur pemerintah untuk bersama merumuskan strategi yang tepat dalam memanfaatkan potensi ekonomi negara anggota OKI.

Penyelenggaraan diskusi panel menerima tanggapan positif dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah dan OKI. Asisten Utusan Khusus bidang Hubungan Infrastruktur dan Investasi, dalam pernyataannya yang dibacakan oleh Asisten Utusan Khusus bidang Hubungan Investasi dan Infrastruktur,Aditya Perdana menegaskan bahwa industri kesehatan yang baik akan menghasilkan kualitas generasi yang lebih baik.

Dengan demikian, industri kesehatan harus didukung seluruh pihak terkait, agar Indonesia dapat menjadi influential player baik di dalam maupun di luar negeri.

Diskusi membahas tiga tema yaitu pemasaran vaksin, obat, dan alat kesehatan; penempatan TKI kesehatan; dan kerja sama Selatan-Selatan bidang kesehatan. Sejumlah narasumber menyampaikan pandangan yaitu Dirut PT. Bio Farma, Rahman Roestan; Sekjen Asosiasi Produsen Alat Kesehatan, Ardia Karnugroho; Ketua bidang Industri GP Farmasi, Roy Lembong; Direktur Kerja Sama Luar Negeri BNP2TKI, Freddy Panggabean; Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kemenkes, Acep Somantri; dan Kepala Biro Kerja Sama BPOM, Diana Soetikno.

Selain nara sumber tersebut, diskusi juga menghadirkan tiga orang penanggap, yaitu Aditya Perdana, Asisten Utusan Khusus Presiden RI; Di rektur Timur Tengah Kemlu Sunarko, dari Direktorat AfrikaFirdaus Dahlan dan Etty Wulandari dari Kerja Sama Teknik Kemlu.

Para narasumber sepakat untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan ekonomi nasional di forum OKI, terutama karena Indonesia memiliki potensi besar. Sebagai contoh, hanya dua anggota OKI yang industri vaksin-nya diakui WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yaitu Indonesia dan Iran. Indonesia juga ditetapkan OKI sebagai Lead Country Coordinator Group untuk kerja sama obat-obatan, vaksin dan teknologi medis; dan sebagai centre of excellence untuk pengembangan vaksin dan bio-teknologi.

Diskusi juga mencatat tantangan pengembangan industri kesehatan tetap ada. Sebagai contoh, pasar alat kesehatan nasional yang masih didominasi produk impor. Namun demikian, peluang pasar di luar negeri tetap perlu dipertimbangkan, terutama di negara atau kawasan di mana Indonesia memiliki citra baik.

Indonesia adalah negara dengan jejak politik yang baik di OKI, berkat keterlibatan dalam berbagai isu penting, seperti Palestina dan Rohingya.

“Namun demikian, citra politik yang baik itu harus dapat ditransformasikan ke dalam aspek yang lebih luas, bidang ekonomi misalnya. Dunia usaha nasional perlu menjadikan citra positif Indonesia sebagai modal dalam pemasaran merek,” demikian Dirjen Febrian.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani

sumber: https://www.antaranews.com/berita/689994/oki-sasaran-diplomasi-ekonomi-bidang-kesehatan-indonesia 

 

 

The World Health Organization Wants You To Worry About “Disease X”

Every year, the World Health Organization commissions an expert committee identify the most threatening infectious diseases of the upcoming year. The idea is to prioritize research and development on diseases and pathogens that pose a major risk to global health, but lack effective treatments or vaccines.

The committee met early in February this year, and the prioritized list of diseases has been released. The list is made up of familiar threats, including Ebola, Zika, Lassa Fever and a respiratory illness in the Middle East known as MERS.

And then there’s “Disease X.” It is the last on the list, and most mysterious.

What is Disease X?

Disease X is quite literally a mystery disease. It’s a recognition that we can’t see everything coming. In 2018, it’s entirely possible that we’ll see a brand-new pathogen. Or, as with Zika, an old disease will suddenly demonstrate a new way to harm us.

Disease X is a placeholder for disaster we can’t imagine yet.
New diseases appear all the time. Deadly Nipah virus appeared in Malaysia in the late 90s; we have no prior evidence of the disease. Severe fever with thrombocytopenia syndrome appeared in China in 2009, mostly likely carried by a tick from a wild animal reservoir. Heartland virus, another tick-borne pathogen with a wild animal reservoir, was first isolated in the US in 2009. Disease X could be one of these such diseases.

Will Disease X come from animals?
While there are a lot of possible sources for Disease X, one very likely reservoir of pathogens is the zoonotic disease. These are disease present in animals – wild or domestic – than can also be transmitted to humans. HIV was originally a zoonotic disease, which probably transmitted to humans for the first time when someone killed and ate a wild chimpanzee. HIV was present in chimpanzees long before it made the jump to humans – at some point the virus evolved to infect us well. Ebola virus disease is also a zoonosis; the most recent pandemic began when a one-year-old boy in Guinea was bitten by an Ebola-infected bat. Approximately 70% of new diseases are zoonotic.

One candidate for disease x could be Brucellosis. This is a bacterial infection that’s a lot like tuberculosis and is prevalent in an estimated 10% of farmed dairy cattle around the world. Humans are infected when they eat dairy products from infected animals. Right now, it’s kept in check by testing of commercial dairy products and cattle vaccination, and it doesn’t spread among people. Raw milk consumption, and a minor bacterial mutation could change that.

Avian influenza is a similar case. It can already be transmitted by birds to humans, but it doesn’t spread human-to-human — not yet, at least. There are plenty of flu viruses that do spread person-to-person, though, so it is probably just a matter of time before avian influenza evolves to do it. Avian influenza and brucellosis, or other domestic livestock diseases, then, could be Disease X.

Disease X could also be a previously unknown pathogen from an animal reservoir. Human beings are pushing into the last wild spaces on the planet, and those wild places also contain new diseases. Farming the rainforest or developing the jungles of Madagascar means exposing humans to diseases we’ve never met before. In 1999, Nipah virus killed 109 people in Malaysia – infected fruit bats infected pigs which infected people – and we’d never even heard of the virus before 1998. Disease X could be an utter wild card like Nipah, a hemorrhagic virus or virulent airborne bacteria previously unknown to global health.

Will Disease X come from people?
Humans have been using diseases as weapons since 1500 BC, when the Hittites sent people infected with plague into enemy territories. In recent history, both the US and the USSR experimented with bioweapons. One favorite among the Soviets was anthrax; an accidental release in 1979 killed 66 people. Anthrax can last for decades in storage and remain dangerous, and we don’t know how many former Soviet republics still possess poorly protected anthrax stockpiles.

Newer bioweapons are a threat, too. Just a year ago, North Korean leader Kim Jong-Un’s half-brother was killed by a biological nerve agent called VX. In December, a North Korean defector was found to have anthrax antibodies in his immune system, indicating he had probably been vaccinated for anthrax. Security observers are reasonably certain that North Korea develops secret bioweapons on an ongoing basis.

Disease X could come from a deliberate attack. It could be an act of war from a state entity using bioweapons developed for the purpose, or a terrorist attack from a group who was able to purchase a bioweapon on the black market.

How do we prepare for Disease X?
Disease X thinking is big thinking.

First, it admits that even the best tools we current possess cannot forecast every problem. We had absolutely no idea that Zika could cause microcephaly in pregnancies until 2015, even though the disease was first identified in Uganda almost seventy years prior.

To fight a disease outbreak – any disease outbreak – you need health care providers who can treat the disease, laboratories to diagnose the disease, and supplies and equipment to support diagnostics and treatment. Those things together make up a health system. Strengthen the health system means better preparedness for Disease X, no matter what X may be.

That means we prepare for disease X by using systemic approaches that make us better at fighting every disease. If we improve the skills of laboratory technicians in developing countries, and equip those laboratories with better equipment, we increase our global ability to diagnose and treat all diseases. If vaccine manufacturers are able to rapidly change their production lines from one kind of vaccine to another, we’re more prepared to fight a new pandemic. New technology can also help – the faster and closer to an outbreak we can start lag diagnostics, the more rapidly we can develop treatments, cures, and vaccines.

 

 

Human infection with avian influenza A(H7N4) virus – China

On 14 February 2018, the National Health and Family Planning Commission (NHFPC) of China notified the World Health Organization (WHO) of one case of human infection with avian influenza A(H7N4) virus. This is the first human case of avian influenza A(H7N4) infection to be reported worldwide.

The case-patient was a 68-year-old woman from Jiangsu Province with pre-existing coronary heart disease and hypertension and she developed symptoms on 25 December 2017. Seven days later, she was admitted to a local hospital for treatment of severe pneumonia and was discharged after 21 days. On 12 February, the Chinese Center for Disease Control and Prevention (China CDC) confirmed that the case-patient’s samples were positive for avian influenza A(H7N4). The NHFPC confirmed the diagnosis on 13 February 2018. The case-patient had reported a history of exposure to live poultry before onset of symptoms.

Genetic sequencing of this A(H7N4) virus shows that all the virus segments originated from avian influenza viruses. This virus is sensitive to adamantanes and neuraminidase inhibitors based on genetic sequencing.

Twenty-eight close contacts of the case-patient have been under medical observation. Among close contacts, no abnormal findings have been found and all throat swabs from her contacts have tested negative.

Public health response
The Chinese government conducted a risk assessment, and has enhanced prevention and control measures, surveillance and epidemiological investigations including contact tracing and laboratory testing. Public risk communication and information sharing is ongoing.

WHO is in contact with national authorities and is following the event closely. WHO is facilitating information-sharing with Member States and is closely monitoring the situation, in line with the International Health Regulations (2005).

WHO risk assessment
This is the first report of a human case of avian influenza A(H7N4) infection globally and the case reported exposure to live backyard poultry before illness onset. Genetic analysis of this influenza A(H7N4) virus indicates that it is of avian origin.

Close contacts of the case-patient tested negative for avian influenza A(H7N4) and remained asymptomatic. Current evidence suggests that this virus does not have the ability of sustained transmission to humans, thus the likelihood of sustained human to human transmission is low. Any animal influenza virus that develops the ability of human to human transmission can theoretically cause a pandemic.

It is possible that additional human cases of avian influenza A(H7N4) will be detected, however only one human case has been detected so far, and information on the circulation of avian influenza A(H7N4) in birds is not currently available. Further information needs to be gathered to increase the confidence in this assessment.

WHO advice
The public should avoid contact with high-risk environments such as live animal markets/farms and live poultry, or surfaces that might be contaminated by poultry feces. Hand hygiene with frequent washing or use of alcohol hand sanitizer is recommended. WHO does not recommend any specific different measures for travellers.

WHO does not advise special screening at points of entry with regard to this event, nor does it recommend that any travel or trade restrictions be applied.

source: http://www.who.int

 

PT Pharos: Albothyl dalam Proses Penarikan di Seluruh Wilayah Indonesia

JAKARTA — PT Pharos Indonesia selaku produsen Albothyl saat ini sedang melakukan proses penarikan Albothyl melalui jalur distributor dari seluruh wilayah Indonesia.

“Saat ini perusahaan tengah melakukan proses penarikan Albothyl melalui jalur distributor dari seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Direktur Komunikasi Perusahaan PT Pharos Indonesia, Ida Nurtika dalam keterangan resmi, Rabu (21/2/2018).

Langkah tersebut diambil untuk menindaklanjuti rilis dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lada Kamis (15/2/2018) lalu yang membekukan izin edar Albothyl yang selama ini biasa digunakan sebagai antiseptik dan obat sariawan itu.

BPOM juga telah menginstruksikan PT Pharos Indonesia untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar.

Dalam edaran resminya, BPOM menyebut produk Albothyl adalah obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan hemostatik dan antiseptik saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi, dan vaginal (ginekologi).

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, BPOM sudah menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan, yaitu sariawan semakin membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi.

BPOM, ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat.

Kajian itu memutuskan policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit, THT, sariawan dan gigi.

Untuk itu, PT Pharos Indonesia juga bekerjasama dengan institusi pendidikan dokter gigi dan lembaga profesi dokter gigi dan mulut, akan melakukan uji pre-klinis dan klinis penggunaan Albothyl pada pasien di Indonesia.

“Tujuan dari uji pre-klinis dan klinis ini sebagai langkah awal bagi upaya perbaikan indikasi sebagaimana diamanatkan oleh BPOM,” tukas Ida.

sumber http://www.tribunnews.com/