3 Left in Running to Lead World Health Organization

The list of candidates to become director-general of the World Health Organization was whittled to three Wednesday, with a final choice due in May.

The U.N. agency said those left in the running were Ethiopian Foreign Minister Tedros Adhanom Ghebreyesus; medical doctor David Nabarro, who served as U.N. envoy on Ebola; and Sania Nishtar, the Pakistani founder of a health think tank, Heartfelt, who served one year as a federal minister.

The next WHO chief will replace Margaret Chan, who took over its reins 10 years ago and came under fire for the agency’s sluggish reaction to the Ebola epidemic, which spread across West Africa, one of the world’s poorest regions, and killed of thousands of people. Chan’s second five-year term ends June 30.

The final choice is to be made by the World Health Assembly, the annual ministerial gathering of WHO’s 194 member states, held May 22-31.

Some public health policy experts called for a leader with political experience to revive the WHO’s international standing and bring in funding for flagship programs.

“International organizations like WHO have lost lots of luster,” Lawrence Gostin, professor of global health law at Georgetown University Law School, told Reuters. “WHO was wounded very badly with Ebola, and now even its new emergencies program is underfunded. It should be easy to fund. That is why somebody who has a lot of political stature has to direct it.”

http://www.voanews.com/

 

OPINI: Big Data untuk Revolusi Industri Kesehatan Indonesia

Pada Mei 2016, pemerintah Indonesia menyelenggarakan ajang Penghargaan Top 25 Public Service Innovation Awards di Jakarta. Kompetisi tahunan ini mengundang kementerian, lembaga, dan pemerintah provinsi dari berbagai daerah untuk menciptakan setidaknya satu produk inovatif setiap tahunnya.

Dari 35 inovasi yang terdaftar, hampir setengahnya merupakan inovasi di bidang layanan kesehatan. Salah satu yang paling menonjol yaitu program “Home Care”, yang mengimplementasikan konsep telemedika (telemedicine) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Program kesehatan yang telah diimplementasikan di Makassar sejak 2014 ini memungkinkan para tenaga kesehatan untuk mengakses catatan kesehatan di masa lalu maupun catatan kesehatan terbaru milik pasien melalui Kartu Pintar, tanpa keduanya harus secara fisik bertatap muka.

Kartu ini juga berisi informasi penting tentang tempat tinggal seseorang, termasuk e-KTP, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), serta informasi asuransi nasional (BPJS Kesehatan). Kartu Pintar ini dikeluarkan oleh pemerintah Makassar yang bekerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk semua penduduk Makassar.

“Home Care” memungkinkan warga untuk mendapatkan perawatan kesehatan tanpa harus mendatangi klinik atau rumah sakit. Cukup dengan menelepon call center Home Care, dokter dapat dengan mudah serta efisien mengakses data pasien via Kartu Pintar.

Ini kemudian diikuti dengan kunjungan langsung kepada pasien menggunakan kendaraan Home Care, Dottoro’ta, yang dilengkapi dengan fasilitas ultrasound (USG) dan electrocardiogram (EKG). Data medis yang dibuat peralatan ini lalu dikirimkan ke server yang aman agar bisa diakses dokter spesialis sebagai dasar dari diagnosa dan rekomendasinya dari jarak jauh.

Melalui inovasi teknologi yang sederhana tetapi efektif ini, Kartu Pintar memungkinkan para pekerja kesehatan di rumah sakit manapun di Makassar mengakses catatan medis pasien dari jarak jauh dengan mudah dalam situasi apapun, terutama dalam keadaan darurat dimana setiap detiknya menjadi sangat penting.

Dengan menggunakan pendekatan manajemen big data, ada beberapa manfaat yang bisa diambil, salah satunya adalah menghilangkan silo sehingga berbagai pemangku kepentingan tidak lagi bekerja sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, kinerja manajemen meningkat dan strategi yang dihasilkan pun menjadi lebih baik. Berkat sistem pengelolaan data yang komprehensif ini, data yang ada dapat dimanfaatkan sebagai basis pengambilan keputusan yang lebih baik.

Studi kasus ini menggambarkan manfaat revolusioner dari telemedika – inovasi terbaru dalam layanan kesehatan. Teknologi telemedika ini memungkinkan para praktisi kesehatan untuk memberikan diagnosa dan penanganan pasien dari jarak jauh, tanpa mengurangi kualitas layanan professional tenaga kesehatan yang ada. Pemanfaatan konektivitas dan data server yang aman memungkinkan catatan medis pasien untuk diakses dan dianalisa sebelum dokter bertemu langsung dengan pasien.

Manfaat dari telemedika ini juga dapat langsung dirasakan oleh penyedia layanan kesehatan maupun pasien sebagai penerima layanan tersebut.

Dengan telemedika, keterbatasan tenaga medis akibat tidak meratanya penyebaran tenaga kesehatan di seluruh Indonesia–termasuk akibat keterbatasan jumlah dokter spesialis di sejumlah kota–bisa diatasi karena telemedika memungkinkan pasien mendapatkan konsul dari dokter yang praktik di kota lain dengan jumlah penyedia jasa kesehatan lebih banyak. Dengan demikian, akses masyarakat Indonesia atas layanan kesehatan pun menjadi semakin luas.

Berdasarkan laporan dari Menteri Kesehatan Indonesia tahun 2014, Jakarta memiliki jumlah dokter umum terbanyak. Rata-rata 16.000 dokter ditempatkan di kota-kota besar di Indonesia dan melayani lebih dari 10 juta penduduk. Daerah pada urutan terakhir dengan jumlah dokter paling sedikit adalah Sulawesi Barat, dengan 100 dokter lebih untuk melayani sekitar 1,3 juta penduduk.

Ada begitu banyak cara untuk menggunakan dan memanfaatkan telemedika. Seperti misalnya pengawasan secara real-time atas kondisi kesehatan pasien melalui perangkat wearable berkat dukungan teknologi Intel sehingga memungkinkan dokter untuk memberikan diagnosa yang jauh lebih baik. Dengan inovasi ini, kondisi medis yang fatal pun bisa dicegah dan sudah bukan tidak mungkin lagi untuk ditangani.

Bahkan pada kenyataannya teknologi ini telah digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson melalui kombinasi konektivitas, cloud data center dan analisa Big Data. Konektivitas memungkinkan para peneliti medis untuk mengumpulkan lebih banyak data dari pasien yang menderita Parkinson.

Meskipun demikian, informasi yang terkumpul dari perangkat Internet of Things (IoT) sudah begitu banyak sehingga akan memicu terjadinya ledakan data di seluruh industri. Oleh karena itu, data center berbasis cloud dan kemampuan pengelolaan layanan data diperlukan untuk menyimpan data dalam jumlah besar sekaligus memastikan kelengkapan data dengan menggunakan fasilitas back-up dan pemulihan data berbasis cloud.

Data ini kemudian akan dianalisa menggunakan big data analytics sehingga para peneliti dapat menyimpulkan pola perilaku pasien penderita Parkinson dan memberikan penanganan yang lebih baik.

Industri kesehatan harus mampu menyimpan dan mengelola data dalam jumlah besar untuk pasien mereka, apalagi dengan pertumbuhan suplai informasi yang terus meningkat cepat. Termasuk dalam hal ini kemampuan untuk memproses data dalam jumlah besar dari berbagai sumber, seperti misalnya perangkat wearable.

Fasilitas TI juga harus hemat biaya dan dapat memindahkan data dengan mulus atau seamlessly untuk mengolah dan menganalisis sehingga menghasilkan analisa prediktif yang efektif.

Sederhananya, penting bagi industri kesehatan untuk mempermudah dan menyederhanakan pengelolaan data dengan memanfaatkan IoT dan big data analytics untuk membuat sistem lebih efisien, hemat biaya, dan yang paling penting meningkatkan cara kerja praktisi kesehatan dan menghasilkan layanan kesehatan berkualitas tinggi untuk pasien.

Bagaimana cara kita melakukannya? Pertama-tama, industri kesehatan di Indonesia perlu melakukan digitalisasi catatan medis pasien. Praktik ini sebenarnya sudah dilakukan perawat atau petugas kesehatan diseluruh nusantara. Tapi perlu diingat bahwa data-data yang ada harus disimpan dalam protokol standar untuk memastikan interoperabilitas data tersebut.

Keamanan data juga perlu dijamin dengan menyediakan penyimpanan data dan backup yang kuat menggunakan online backup atau penyimpanan cloud. Selain itu, praktik komputasi aman perlu dipertahankan dengan membuat arsip sistem data secara regular apakah itu pada siang hari atau malam hari.

Saat ini revolusi big data dalam bidang kesehatan terus berlangsung. Bayangkan berapa banyak data yang dihasilkan dan digunakan seseorang untuk catatan medis mereka? Bagaimana kita bisa mengatur semua data dan informasi yang sangat banyak dan mengambil semua manfaat yang ditawarkan?

Kita bisa menyelesaikan isu-isu kritis dalam pelayanan kesehatan ini dengan memanfaatkan IoT untuk mengumpulkan data secara digital dan menggunakan konektivitas untuk menyimpan data pada cloud data center sekaligus melakukan big data analytics. Sekaranglah saatnya untuk mengembangkan sektor kesehatan dengan fasilitas pengelolaan data yang tepat guna di Indonesia.

http://tekno.liputan6.com/

 

A guide to the selection of the new head of the World Health Organization

The process of choosing the next director-general of the World Health Organization starts in earnest this week. While the final selection won’t be made until May, the current field of six will shrink to five, then no more than three before the week is out.

If you haven’t been paying much attention up until now, you’re not alone. With Brexit and the US election, this campaign has been getting little attention.

So let’s explore the three Ps — the people, the process, and the predictions.

Who wants to lead the WHO?

Four Europeans, one African, and one South Asian are vying to succeed Dr. Margaret Chan, whose second term as WHO director-general ends on June 30. (Directors-general can only serve two five-year terms. Chan, who was nominated by China, served a little longer because her predecessor, J.W. Lee of South Korea, died before his term ended.)

All but one of this year’s candidates is a medical doctor. Four have served as health minister for their respective countries and two of those four have also served as foreign minister. Two have had extensive WHO experience. Most have done work for global institutions — the United Nations, the World Bank, UNICEF, or prominent players in the global health sector such as Roll Back Malaria and Gavi, the Vaccine Alliance.

The candidates are:

  • Tedros Adhanom Ghebreyesus, 51, from Ethiopia. Tedros (he goes by his first name), who was until recently foreign affairs minister, and health minister earlier in his career, is the only non-physician; he has a PhD in community health.
  • Dr. Flavia Bustreo, 55, from Italy. Bustreo is WHO’s assistant director-general for family, women’s, and children’s health (on leave while she campaigns). She has also worked at UNICEF and the World Bank.
  • Dr. Philippe Douste-Blazy, 64, of France. A former health and foreign affairs minister, he founded UNITAID, which works to prevent, diagnose, and treat HIV.
  • Dr. David Nabarro, 67, of Britain. Nabarro has spent much of his career at the WHO and then the UN. He is currently the special adviser to the UN secretary general on sustainable development and climate change.
  • Dr. Sania Nishtar, 53, of Pakistan. A former health minister, Nishtar has extensive experience both nationally and internationally in the civil society sector.
  • Dr. Miklós Szócska, 56, from Hungary. Szócska is a former health minister, and a professor in the Health Services Management Training Centre, at Semmelweis University in Budapest.

How does this election work?

The first few steps in this process are taken by the WHO’s executive board, which holds its annual meeting in Geneva this week. It is composed of representatives from 34 countries who are elected to serve on the board for three-year terms.

The United States currently has a seat on the executive board, held by Dr. Tom Frieden, who until Friday was director of the Centers for Disease Control and Prevention. He was not asked to stay on by the incoming Trump administration.

The US government has not made public who it is backing in this race and Frieden will not say for whom he’s been instructed to vote. “That is confidential,” he told STAT in an email.

Voting throughout this process will be done by secret ballot, a decision some observers have criticized.

On Tuesday, the executive board will vote to select a short list of five candidates who will be interviewed Wednesday. The interviews — one hour per candidate — will be held behind closed doors. Canada and Colombia have put forward a motion to make the interviews public, but it was not accepted.

After the interviews, executive board members will pare the list of candidates down to no more than three. The finalists will continue to campaign until the World Health Assembly — the WHO’s annual general meeting — in May, when the 194 member states will elect Chan’s successor. He or she will take office July 1.

Anyone want to place a bet?

If you’re tempted, you may not find someone to take it.

“I do think the outcome is going to be unpredictable,” Suerie Moon, director of research at the global health center of the Graduate Institute of International and Development Studies in Geneva, told STAT. “Everybody has their hunch. But I haven’t spoken to a single person who thinks they know or will admit that they know.”

Many observers are skeptical that Szócska will make it to the interview stage. His CV is thinner than those of his rivals.

After that, it becomes much harder to forecast. Voting for a position like this involves backroom diplomacy and often, frankly, horse-trading — things that are impossible to track with secret ballots and when few if any countries openly declare their preference.

Another factor adds to the opacity: When voting on the final three, board members will have three votes apiece. The system may have been devised to try to ensure that the three strongest candidates go forward to the final round, but observers are not so sure things will work that way.

Some countries may choose to cast one vote for the person they hope will win, and use the other two to strengthen his or her chances by supporting weaker candidates to knock out their favorite’s strongest rivals. Or the executive board as a body might favor a candidate, and nominate that person plus two weaker candidates — putting its thumb on the scale, essentially.

Who would be best for WHO may not be top of mind. “I would be highly skeptical that that is the driving force behind voting decisions,” said Moon. “I think countries will vote based on strategic calculations.”

While the outcome is uncertain, there are a few tea leaves in the bottom of the cup.

For a while, the word in international circles was that it was Africa’s turn; an African has never led the WHO. And though a number of potential African candidates tested the waters early on, only one emerged. Early last year, the African Union said all African countries were supporting Tedros. That would make a 54-country bloc for him if he makes it to the final three. But only eight African Union countries are on the executive board. And rumors have swirled for months that France has pried away some African support for Douste-Blazy, for whom France has been campaigning hard.

Having four candidates from Europe doesn’t help any of them, as it likely splits what might otherwise might have been a significant bloc. Likewise, Britain’s departure from the European Union may cost Nabarro — who on experience alone would appear to be one of the strongest candidates. “I imagine that Brexit isn’t helping David Nabarro,” Moon said.

It’s also not clear, given the appetite for change manifested in the Brexit vote and the US election, whether being a WHO insider is an advantage at this point. That said, Moon noted that none of the five expected to go through to the interview round could be seen as a true outsider.

She wouldn’t make a prediction on who will win this race — or even who will be in the final three. But Dr. Ashish Jha, director of the Harvard Global Health Institute, said he thought Douste-Blazy, Tedros, and either Nishtar or Bustreo would be the candidates who make it through to the final voting round.

Watch this space.

https://www.statnews.com/

 

Terbilang Paling Baik, Nilai Indeks Kesehatan Indonesia Alami Peningkatan

Sun Life Financial Asia merilis Indeks Kesehatan terbaru yang menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kondisi kesehatan masyarakat di kawasan Asia merosot ke angka yang terendah.

Berdasarkan rilis itu, hanya 60% dari responden di Asia yang menyatakan puas dengan kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan, turun dari angka 65% di tahun 2015.

Sementara itu, Indonesia tercatat sebagai satu-satunya negara yang tidak mengalami penurunan pada Indeks Kesehatan terbaru ini, bahkan justru mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan.

Selain itu, untuk kawasan Asia, juga terdapat penurunan tajam pada persentase jumlah masyarakat yang berpandangan positif berkenaan dengan kondisi kesehatan jasmani (turun 7%) dan kesehatan mental (turun 8%) mereka.

Hal ini memperkuat temuan-temuan terdahulu pada studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai adanya kekhawatiran tentang munculnya penyakit terkait gaya hidup modern serta makin meroketnya jumlah masyarakat di Asia yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu dan menurun motivasinya dalam menjalani kehidupan yang lebih sehat.

Secara keseluruhan, terjadi penurunan tingkat kepuasan masyarakat di wilayah Asia terhadap kondisi kesehatan, menjadi hanya 60% saja.

Responden yang berasal dari Hongkong adalah yang paling negatif terkait kesehatan mereka dengan hanya menunjukkan 29% saja responden yang puas dengan tingkat kesehatan mereka secara keseluruhan saat ini (turun dari 44% di tahun lalu).

Responden India, Indonesia dan Filipina secara umum adalah yang paling positif berkenaan kondisi kesehatan mereka.

Hampir sepertiga dari jumlah total responden (29%) menyatakan bahwa terdapat penurunan kondisi kesehatan mereka dibandingkan dengan kondisi tiga tahun lalu dan menyebutkan kurangnya olahraga sebagai alasan yang paling sering diutarakan sebagai penyebab penurunan angka tersebut (36%).

Lebih dari setengah (52%) responden dari wilayah yang disurvei mengatakan tidak rutin berolahraga. Sedangkan jenis olahraga yang paling banyak disebut oleh responden sebagai jenis olah raga yang paling diminati, berturut-turut adalah lari (54%), renang (45%) dan bersepeda (44%).

Kebiasaan tidak sehat yang paling sering dikutip adalah kurangnya waktu tidur, yakni kurang dari 6 jam per hari (31%) dan mengkonsumsi makanan tidak sehat secara rutin (28%).

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Angka persentase untuk responden Indonesia terbilang paling baik dibandingkan dengan angka rata-rata responden di negara-negara Asia.

Sebanyak 62% responden dari Indonesia menyatakan bahwa mereka merasa lebih sehat dari kondisi 3 tahun yang lalu. Angka ini tertinggi di kawasan Asia.

Hanya 21% responden Indonesia yang merasa menurun kesehatannya dibandingkan dengan 3 tahun lalu. ‘Kurangnya berolahraga’ juga menjadi alasan yang paling sering diungkapkan.

Meskipun 51% responden memberikan indikasi bahwa mereka tidak berolahraga secara rutin, namun jenis-jenis olahraga yang paling ingin dilakukan oleh orang Indonesia serupa dengan rata-rata keinginan orang Asia lainnya, yaitu berlari (60%, tertinggi di wilayah Asia), bersepeda (55%), dan berenang (45%).

Tak Ada Waktu, Tak Ada Motivasi

Di tahun 2014, Sun Life Financial Asia Health Index menemukan adanya peningkatan jumlah populasi ‘Generasi O’ di Asia – yang terlalu banyak bekerja, kelebihan berat badan, dan hidup makin kewalahan.

Riset terbaru menyebutkan bahwa ‘Gen O’ memiliki hidup yang makin keras, terlihat dari banyaknya responden yang menyatakan kegagalan mereka untuk meneguhkan diri menjalani hidup yang lebih sehat dan kurangnya motivasi pribadi yang mendorong mereka bangkit melakukannya.

Ketika diminta untuk menyebutkan faktor-faktor yang dapat menghambat terwujudnya kehidupan yang lebih sehat, responden Indonesia menyebutkan tiga hal yang menjadi kendala utama mereka, yakni berkurangnya waktu akibat tuntutan pekerjaan (44%), distraksi (36%) dan besarnya biaya yang harus dialokasikan guna mewujudkan kehidupan yang lebih sehat (35%).

“Hasil survei ini menunjukkan tumbuhnya kesadaran masyarakat Asia, termasuk Indonesia, akan kesehatan diri dan perjuangan yang mereka hadapi dalam memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan modern di masa kini,” tutur Shierly Ge, Chief Marketing Officer, Sun Life Financial Indonesia.

“Sun Life berkomitmen untuk menyediakan solusi asuransi dan investasi yang membangun masyarakat agar lebih kuat, sehat dan aman dan terlindungi secara finansial. Hasil temuan dalam studi terbaru kami menegaskan kembali akan pentingnya dan perlunya mewujudkan tercapainya hidup yang lebih sehat di kawasan Asia, “ungkap Shierly Ge.

Teknologi kunci yang mendorong terwujudnya hidup sehat?

Satu elemen penting dalam kehidupan modern manusia masa kini yang membawa harapan positif bagi masyarakat di kawasan Asia untuk terus menjalani hidup sehat adalah meroketnya penggunaan aplikasi dan peranti gawai-pakai untuk mendukung aktivitas kebugaran/wellness mereka.

Survei menyebutkan bahwa 42% responden dari Asia dan sebanyak 43% responden Indonesia memakai aplikasi dan gawai wearables yang bisa mendorong mereka makin intensif dalam melakukan aktivitas kebugaran.

Dari sekian banyak responden Indonesia yang menggunakan aplikasi, yang menuturkan lebih merasa puas akan kondisi kesehatan mereka tercatat 13% lebih tinggi dari pada angka rata-rata angka secara umum di Indonesia.

Kesehatan yang Makin Bagus di Tahun Ayam

Berita gembira mengenai kesehatan yang makin bagus ini datang seiring jutaan masyarakat di Asia merayakan datangnya Tahun Ayam di kalendar Cina tahun ini.

Mereka yang lahir di tahun Ayam diyakini adalah individu-individu yang aktif dan menikmati hidup mereka yang sehat.

“Kami berharap bahwa seluruh masyarakat di Asia, termasuk Indonesia, dapat mencontoh mereka yang terlahir di tahun Ayam tersebut yang memiliki kemauan tinggi untuk terus aktif dan selalu menerapkan pola hidup sehat,” pungkas Shierly Ge.

http://www.tribunnews.com/

 

Here’s how the next director-general can rebuild the World Health Organization

Nearly nine months have passed since the last Ebola patient was declared free of the disease in West Africa. Yet one body — the World Health Organization — is still ailing, stung by criticism that it responded slowly to that local and global emergency.

Despite encouraging signs that it learned valuable lessons from the Ebola outbreak, faith in the WHO hasn’t yet fully returned. The organization has been chronically underfunded for years, and its outdated structure has resisted reform over many decades. This has led to a vicious spiral of underachievement.

The WHO needs to lead on global health — and its member states must allow it to do so. But its problems are undermining its position as the global leader responsible for moving the world toward a better, healthier future.

This week, the WHO will announce the finalists for the director-general post. He or she will take over its public health, strategic, and political leadership on July 1, 2017. This offers the organization a real chance to resolve these issues and return to working effectively toward improving global health.

My foundation, Wellcome, which often partners with the WHO on research and advocacy for our shared interests, such as tackling drug-resistant infection worldwide and vaccine development, won’t be endorsing any of the candidates. But we will be looking carefully at their platforms.

Here are several qualities we believe the new director-general needs to have, along with several actions the WHO should take to recapture the world’s confidence.

First and foremost, the WHO needs more effective political leadership to regain trust. It is the only organization charged exclusively with speaking for public health and for health care workers around the world, with a mandate that trumps the interests of individual countries. At a time when health budgets around the world are under increasing pressure, the new director-general must strengthen the case for investing in improving health outcomes.

That includes encouraging greater investment in stronger national health systems and epidemic preparedness, and being fearless in calling out countries that fail to take action where it is needed. Movement in this direction has begun, notably the joint evaluation exercise on epidemics, support for universal health coverage, and the naming and shaming of countries not meeting air pollution standards. But the new director-general must go further.

The WHO must also strengthen its unique role in alerting the world to health emergencies and coordinating the responses to them. While the WHO’s new emergencies team has shown that it can mobilize resources and action at a pace unprecedented in the organization’s history, the new director-general needs to convince national leaders that the world doesn’t yet have the capability to respond to cross-border emergencies. He or she must also make sure the WHO clearly sees the gaps that exist and the steps needed to close them.

The new director-general should also be fearless in calling out global health risks, such as the growth of artemisinin-resistant malaria in Southeast Asia, particularly where national and regional authorities are not doing enough to combat such threats.

The next director-general can expect greater pressure on the WHO to ensure access to health care, drugs, and services at prices that countries and citizens can afford. He or she is also likely to see new arguments about access to innovative therapies as medicines become more personalized and expensive. The WHO should lead the fight for access to innovative health care for all.

Clear, decisive leadership on all of the above will go a long way to restoring confidence in the WHO — a vital prerequisite to attracting the financial support the organization so desperately needs. Other essential steps to rebuilding trust should include an ambitious internal reform program that simplifies the WHO’s complex governance structures, and challenging poor-performing offices at the national, regional, and global levels. Key to that would be ensuring that staff are selected for posts based on their competence, not their politics.

To fully ensure that the WHO has sufficient funds for its mission, the new director-general will need to work effectively with the increasingly mixed economy of health care funders and providers. We’ve already seen encouraging signs of this in the research and development blueprint for epidemics, where Wellcome is working with the United Kingdom’s Department for International Development, the Gates Foundation, and other global funders to improve the research pipeline for epidemic disease risks. In exchange, all of WHO’s funders must be transparent about their expectations and be held accountable for their activities.

The next director-general should also make a greater effort to better develop the WHO’s relationships with civic society and the private sector — every dollar invested by private companies not only reduces the burden on finance ministries and taxpayers, but also delivers innovations and technical advances that can improve health.

While noting the challenges the WHO currently faces, we must not lose sight of its remarkable achievements, from eradicating smallpox to the near-eradication of polio and vastly reducing deaths from malaria. No organization can speak for the improvement of global public health as powerfully as the WHO, and such a role is vital in uncertain and volatile times. At the same time, we mustn’t mince words: Today the WHO is not fulfilling its mission and isn’t adequately funded for it. In its current form, it is failing.

The arrival of a new director-general in a few months offers an opportunity for reform that the WHO must put to good use.

https://www.statnews.com/

 

Perguruan Tinggi di Indonesia Kekurangan 38.000 Dosen Kesehatan

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan perguruan tinggi kekurangan 38.000 dosen kesehatan.

“Saat ini perguruan tinggi kekurangan 38.000 dosen di bidang kesehatan baik itu di program studi perawatan, kebidanan maupun gizi,” ujar Nasir usai pertemuan dengan Asosiasi perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) di Jakarta, Senin (23/1/2017).

Dia mengatakan masalah kekurangan dosen ini disebabkan bertambahnya jumlah mahasiswa. Saat ini, jumlah rasio dosen untuk perguruan tinggi swasta masih 1:100. Padahal idealnya 1:40.

Selain itu juga, jumlah penyelenggaraan pendidikan program pascasarjana tumbuhnya tidak sesuai dengan jumlah permintaan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, lanjut dia, pihaknya akan memberikan mandat ke beberapa perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan program pascasarjana.

“Ke depan, kami akan bantu untuk peningkatan kompetensi dosen,” ujar Nasir.

Untuk mengatasi persoalan itu, Nasir mengatakan, kementerian akan merekrut dosen dari industri.

“Jadi nanti dosennya bisa diambil dari industri, yang selama ini belum pernah masuk ke perguruan tinggi. Selain itu permintaan dari Aptisi ada 15 PTS yang akan menyelenggarakan pendidikan program S2,” lanjut dia.

Sementara itu Ketua Aptisi, Budi Djatmiko, meminta Kemristekdikti untuk tidak membedakan antara perguruan tinggi swasta dan negeri.

“Agar perguruan tinggi swasta juga bisa membuka kelas pascasarjana. Kami meminta dosen di perguruan tinggi negeri diperbantukan di perguruan tinggi swasta juga,” kata Budi.

http://regional.kompas.com/

 

Kepala Daerah Terancam Dinon-aktifkan, Jika Tak Integrasikan Jamkesda ke JKN

13jan2Pemerintah saat ini tengah menyiapkan regulasi guna menekan pemerintah daerah (pemda) agar mengintegrasikan program jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Kepala daerah yang “ngeyel” akan dapat teguran.

“Jika 2 kali teguran tak dijalankan, kepala daerah itu akan dapat sanksi administratif. Kalau masih “ngeyel” akan dikenakan sanksi pemberhentian tetap,” kata Direktur Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerjasama, Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Rizari dalam diskusi media seputar program JKN-KIS, di Jakarta, Senin (9/1).

Pembicara lain dalam diskusi itu, Andi Zainal Abidin Dulung, anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Timboel Siregar, koordinator BPJS Watch dan Bayu Wahyudi, Direktur Komunikasi Publik dan Hubungan Antar Lembaga, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

Rizari menambahkan, sanksi terhadap kepala daerah tersebut nantinya termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) tentang Sanksi, sebagai amanat dari Undang-Undang (UU) No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Sanksi itu tak hanya terkait masalah Jamkesda, tetapi mengatur kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah secara keseluruhan yang berhubungan dengan pelaksananan program strategis nasional. Dan program JKN-KIS masuk didalamnya,” ucap Rizari menegaskan.

Ditambahkan Andi Zainal Abidin Dulung, pengintegrasian program Jamkesda ke JKN-KIS menjadi penting, guna memberi kepastian pada seluruh masyarakat Indonesia atas jaminan kesehatannya. Apalagi, pemerintah telah menargetkan cakupan semesta (universal health coverage) tercapai pada 2019.

“Kami berharap proses integrasi Jamkesda ke JKN-KIS bisa diselesaikan dalam dua tahun kedepan. Sehingga target cakupan semesta 2019 bisa tercapai,” ucapnya.

Bayu Wahyudi menyebut hingga saat ini masih ada 81 kabupaten/kota yang belum mengintegrasikan program Jamkesdanya. Diperkirakan jumlah pesertanya mencapai 2,7 juta orang.

“Dari 512 kabupaten/kota di Indonesia, sebenarnya sudah ada 433 kabupaten/kota yang sudah mengintegrasikan program Jamkesdanya,” tutur Bayu Wahyudi.

Ditambahkan, dukungan pemda itu meliputi penganggaran APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), kepesertaan, Peraturan Daerah (Perda), maupun pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan. Karena UU 36 Nomor 2009 tentang Kesehatan mewajibkan pemda mengalokasikan 10 persen dari APBD untuk sektor kesehatan, sedangkan APBN sebanyak 5 persen.

“Besaran anggaran tersebut di antaranya untuk promosi kesehatan masyarakat, pemenuhan fasilitas layanan kesehatan beserta kelengkapannya termasuk dokter,” ucapnya.

Jika dana APBD tak mencukupi, maka Pemda dapat menyesuaikan jumlah kepesertaan yang didaftarkan atau menyesuaikan jumlah kepesertaan yang diusulkan sebagian ke dalam Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang ditanggung APBN. (TW)

{jcomments on}

Dinilai Berhasil, Pendaftaran Program Nusantara Sehat 2017 Kembali Digelar

Program Nusantara Sehat (NS) yang digulirkan Kementerian Kesehatan (Kemkes) sejak 2015 akan terus dilanjutkan. Pasalnya, dalam 2 tahun terakhir terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat, terutama daerah pinggiran Indonesia.

“Pendaftaran program NS 2017 masih terbuka hingga 19 Januari. Infonya bisa dilihat di website Kemkes,” kata Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemkes, Usman Sumantri, di Jakarta, Rabu (11/1).

Pada kesempatan itu ia didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemkes, Siswanto dan Staf Khusus Menkes bidang Peningkatan Kemitraan dan SDG’s, Kemkes, Diah S Saminarsih.

Menurut Usman, keberhasilan NS karena program tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dengan program dokter pegawai tidak tetap (PTT). Program NS lebih komprehensif karena dalam 1 tim terdiri dari 5-9 orang tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang.

“Ada tenaga dokternya, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, lingkungan, laboratorium medik, gizi hingga tenaga kefarmasian. Mereka bersatu padu melakukan penguatan pada layanan kesehatan primer,” tutur Usman.

Disebutkan, masalah kesehatan yang terjadi di daerah pinggiran, umumnya berhubungan dengan kekurangan gizi, penyakit menular, pola hidup tak sehat serta minimnya pelayanan medis di tingkat primer.

“Intervensi yang dilakukan tim NS adalah melakukan penguatan tenaga kesehatan di Puskesmas setempat sehingga bisa penanganan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Upaya itu, antara lain berupa pembinaan pengolahan limbah medis, manajemen pelayanan kesehatan yang lebih terstruktur dan pelatihan medis pada sebagian besar kader Posyandu di wilayah tersebut.

Usman mengemukakan, jumlah tenaga kesehatan yang terlibat dalam program NS sepanjang 2015-2016 ada 1.421 orang yang tersebar di 251 Puskesmas seluruh Indonesia. Masing-masing tim bertugas di Puskesmas selama 2 tahun guba melakukan intervensi terhadap pelayanan kesehatan primer di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan terluar (DTPK).

“Hasil capaian tim NS menunjukkan terjadinya peningkatan pada kesehatan masyarakat di masing-masing daerah. Misalkan, kasus diare di Puskesmas Empanang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang turun hingga 80 persen.

“Sementara di Puskesmas Morotai, Maluku Utara, hasil laporan menunjukkan terjadinya peningkatan kepatuhan meminum obat pada penderita kusta hingga 89,47 persen,” kata Usman menandaskan. (TW)

{jcomments on}

IDI Desak Pemerintah Revisi UU Pendidikan Kedokteran

13janKetua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Marsis Oetama mendesak pemerintah untuk segera merevisi Undang-Undang (UU) Pendidikan Kedokteran. Karena UU tersebut kurang mengakomodir percepatan produksi dokter spesialis dan subspesialis.

“Saat ini kita butuh banyak sekali dokter spesialis dan subspesialis. Jika tidak peluang itu akan diisi dokter-dokter asing,” kata Prof Marsis dalam dialog awal tahun seputar pendidikan kedokteran Indonesia, di Jakarta, Rabu (11/1).

Pembicara lain adalag Wakil Ketua Badan Legislasi DPR-RI, Arif Wibowo, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Prof Bambang Supriyatno dan Ketua IDI bidang Pendidikan Kedokteran Masa Kini dan Mendatang.

Prof Marsis menyebut jumlah dokter spesialis di Indonesia saat ini ada sebanyak 26.896 orang. Maka rasio dokter spesialis dengan jumlah penduduk adalah 1 dokter berbanding 10 ribu orang.

“Sebenarnya rasio ini masih terbilang ideal. Namun, masalahnya sekarang adalah kebanyakan dokter spesalis itu praktik di kota-kota besar. Untuk itu, hal yang harus dibenahi pemerintah adalah soal distribusi dokternya,” ucap dokter spesialis kandungan tersebut.

Prof Marsis menyayangkan kekurangan dokter spesialis di daerah justru ditanggapi pemerintah dengan membuat program studi dokter layanan primer (DLP). Mengingat kompetensi yang ditawarkan pada prodi DLP tak jauh berbeda dengan dokter umum.

“Sekarang ini sudah eranya dokter subspesialis, tak lagi spesialis. Kompetensinya lebih detil. Karena itu disayangkan anggaran yang mencapai Rp10 triliun itu justru untuk penyelenggaraan DLP yang kompetensinya mirip dengan dokter umum,” ujar Prof Marsis.

Hal senada dikemukakan Ketua IDI bidang Pendidikan kedokteran Masa kini dan Mendatang, Muhamad Akbar. Menurutnya,
DLP harus berbeda dengan dokter keluarga dan dokter umum yang ada saat ini.

“Jika DLP mengambil 80 persen kompetensi Dokter Keluarga maka hal itu adalah pelanggaran terhadap amanat putusan MK,” ucap Akbar menegaskan.

Sementara itu, Arif Wibowo mengungkapkan adanya tumpang tindih regulasi pendidikan kedokteran antara Undang- Undang (UU) No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran dengan 3 UU lainnya.

“Tiga UU lainnya itu adalah UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU No 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi,” ucap anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu.

Menurutnya, tumpang tindih itu terkait dengan pengaturan jenis profesi kedokteran, kewenangan profesi, organisasi profesi dan standar pendidikan kedokteran.

Wakil Ketua Badan Legislasi DPR-RI, Arif Wibowo memaparkan politik legislasi terkait dengan usulan perubahan UU No 20 tahun 2013. Karena perubahan UU tak semata proses prosedural penyusunan suatu rancangan Undang-Undang, melainkan suatu proses pertarungan ideologi dan politik, bahkan kepentingan fragmatis.

“Apalagi UU No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran adalah salah satu peraturan yang bersifat fragmentatif, sektoral dan pragmatis. Selain menimbulkan potensi konflik hukum maupun konflik sosial dunia kedokteran.

Kendati demikian, Arif menambahkan, perubahan UU No 20 Tahun 2013 itu telah masuk dalam daftar program legilasi nasional (proglenas) 2015-2019.

Proglenas 2017ada 50 RUU disertai 12 RUU daftar antrian termasuk salah satunya RUU Perubahan Atas UU No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran.

Untuk itu, Arif meminta pada IDI agar menyiapkan bahan masukan yang dapat difahami para pengambil keputusan. Selain memetakan dan mengkomunikasikan bahan masukan tersebut kepada fraksi-fraksi di DPR dan pemerintah.

“Dan yang tak kalah penting adalah IDI perlu bekerja sama dengan para pihak yang memiliki kekuatan strategis agar revisi UU No 20 tahu 2013 bisa tercapai,” kata Arif menandaskan. (tri wahyuni)

{jcomments on}

The Briton vying to become the world’s most powerful doctor

He was the UN troubleshooter tasked with galvanising the world’s response to the Ebola epidemic and led the fight against cholera in Haiti, just as he did earlier against global pandemic flu. So on paper, David Nabarro may seem the ideal candidate to become the world’s most powerful doctor.

In practice, the Briton faces a stiff contest, with five other candidates also vying to take over from Margaret Chan in May 2017 as head of the World Health Organisation, the troubled UN body much criticised for its slow response to the 2014 Ebola outbreak. The job has always in the past been decided between governments trading political alliances behind closed doors. But this time, with the WHO’s credibility still on the line, Nabarro and his allies think his CV may be the right one.

“I’m actually a doer who delivers,” Nabarro in an interview with the Guardian. “And a doer who is not scared of being accountable at all times. And I think that is known.”

Nabarro, sitting in the London office of the chief medical officer, Prof Dame Sally Davies, has the support of the UK government.Davies says Nabarro is uniquely well-qualified and that will be recognised at a time when the WHO badly needs the best possible leader.

“I think he’s likely to get it because he’s the best candidate, and at the end of the day I’m hopeful that the politics will fall aside and the best person will come through,” she says.

Davies, who has the British seat on the WHO’s executive board, points to an editorial she co-authored with other board members in the Lancet in January, describing the criteria for nomination as DG. They include high-level public health and international health experience, excellent communication, leadership skills and commitment. Quite simply, she says, Nabarro has all of them.

This is not about favouring the UK. “In fact, David might not always do what I would want because he is independent and thoughtful in his own way,” she says. “It is about having a strong leader for the WHO who understands the changing global architecture and the needs of low- and middle-income countries, particularly around two things – emergency response and the SDGs [sustainable development goals] – and can work effectively with ministers and prime ministers.”

Above all, Davies and others are concerned that the reforms of the WHO, in which Nabarro has already been centrally involved, should be implemented to make the institution stronger and fit for purpose as the world’s bulwark against devastating outbreaks of infectious diseases, as well as malnutrition and chronic diseases caused by obesity and changing lifestyles.

The future of the WHO was in question after its failure to spot and close down Ebola early enough in west Africa, which led to a global crisis. All the reports written in the aftermath said that if it were to survive, the organisation needed stronger and more focused leadership in emergencies.

Nabarro led the UN response to bolster the WHO as the envoy of the outgoing UN secretary-general, Ban Ki-moon, and afterwards chaired the advisory committee on reform that Chan set up. A lot of excellent innovations have strengthened the organisation in the past year or two, but it is not yet in good enough shape, he says.

“The new health emergencies programme that we advised on and that’s being implemented, which is a cross-organisation programme with single cadre of staff, single budget, single performance standards, clear lines of responsibility, is being built up,” he says.

“But it also needs to be properly financed – and at the moment it’s not. And so we need to get the money, improve performance, get more money, improve performance more. It’s about a five-year project and I personally would like to be moving more quickly on that because we never know when the next outbreak is going to come. We had a bit of a scare this year with yellow fever and I want to be sure that this is done quickly.”

The WHO needs to be one unified organisation. Ebola exposed the fracture lines between the regions, with Africa failing to communicate with the Geneva HQ. Davies says all staff have to be appointed on merit, not as a political favour to governments, and they must not be advocates for any specific interest.

Nabarro agrees there must be no more fiefdoms. “Part of that is ensuring that all staff are appointed on merit. Part of it is about ensuring they are not just pursuing money for their own interests and part of it is ensuring that they find the organisation something that they believe in and are prepared to work for it as an entire organisation,” he says.

It’s a culture change but it also depends on having enough money, so that WHO staff do not think they have to bargain with governments, organisations or special interest groups to raise it.

The WHO’s finances are a difficult issue. The amount given by governments for general purposes has steadily declined. The coffers have been topped up by voluntary donations from specific governments or organisations, such as the Gates Foundation, that are tied to particular projects. The UK is the third biggest donor, says Davies, and some of the money is for priorities that are agreed with the WHO, but, she says: “I think I would like to see, personally, an increase in the subscription, so that there is less voluntary funding and more that is just routine and under the absolute direction of the DG.”

Nabarro’s solution is for the organisation to become what he calls “catalytic”. It does not have the money to do everything that is needed. There are many health organisations as well as healthcare systems in every country. The WHO can lead and encourage them to do what is needed, like the conductor of an orchestra, rather than doing it itself.

Chan has been was a technocrat, maintaining that her role was to carry out the bidding of member states, while Norwegian former prime minister Gro Harlem Brundtland was criticised when she held the job for telling countries in no uncertain terms what they should do. Nabarro, who once worked for Brundtland when she was DG, diplomatically says he is a bit of each of these leaders but also his own person, able to court consensus on issues such as anti-tobacco treaties while taking tough decisions if necessary in emergencies.

Whether that pleases the voting governments will be seen at the end of January, when the six will be reduced to a shortlist of three, and then in May when the puff of white smoke goes up at the World Health Assembly in Geneva.

https://www.theguardian.com/