BPJS Kesehatan: Gandeng BKN Tingkatkan Akurasi Data Peserta PNS dan Pejabat Negara

Guna menjaga keakuratan data peserta, Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) menjalin kerja sama dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) bagi kelompok PNS, calon PNS, pejabat negara, pensiunan PNS dan pensiunan pejabat negara.

“Setiap hari data peserta BPJS Kesehatan dibawah kelola BKN selalu berubah, karena ada yang meninggal, pensiun, dipecat atau mengundurkan diri,” kata Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris usai penandatanganan MoU dengan Kepala BKN, Bima Haria Wibisana, di Jakarta, Senin (10/10).

Fachmi menegaskan, keakuratan data peserta menjadi penting agar peserta yang tak lagi menjadi PNS tak lagi masuk dalam daftar nama sistem kapitasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sehingga tak ada dana yang salah sasaran.

“Peserta yang sudah meninggal atau tak lagi menjadi PNS mosok terus kita bayarin terus kapitasinya. Pembaruan data rutin akan dilakukan dua kali dalam setahun,” ujarnya

Dengan sinergitas BPJS Kesehatan-BKN, lanjut Fachmi, maka dana yang dikeluarkan BPJS Kesehatan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Selain juga dapat dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi yang lebih akurat.

“Pertukaran data dilakukan secara periodik melalui elektronik. Untuk verifikasi dan validasi data dilakukan secara berkala paling sedikit dua kali dalam setahun,” ujarnya.

Sesuai dengan perjanjian kerja sama, maka BPJS Kesehatan berkewajiban memberikan data peserta JKN dari kalangan PNS, pensiunan PNS, pejabat negara, pensiunan pejabat negara, serta anggota keluarga mereka kepada Badan Kepegawaian Negara untuk memutakhirkan data pegawai pemerintah.

Data-data yang dipertukarkan antara lain meliputi nomor identitas pegawai/pejabat negara, nama, nomor induk kependudukan, nomor kartu BPJS Kesehatan, identitas diri dan keluarganya, instansi kerja, dan sebagainya.

Di samping itu, baik BPJS Kesehatan maupun Badan Kepegawaian Negara nantinya akan menyiapkan sistem aplikasi pengambilan data yang dapat diakses oleh satu sama lain untuk menyinkronkan data peserta JKN yang dipertukarkan.

“Diharapkan kedepannya tak ada lagi kasus ID ganda peserta JKN akibat ketidakselarasan pencatatan nomor identitas,” ucap Fachmi menegaskan.

Kepala BKN, Bima Haria Wibisana menyebutkan jumlah PNS saat ini ada sebanyak 4,5 juta orang dan 2 juta dari TNI/Polri/pejabat negara. Total biaya ditanggung dalam kepesertaan JKN, termasuk keluarga dan pensiunan sebanyak 16 juta orang.

“Penutakhiran data kami lakukan pada 2015 lalu. Nantinya bersama BPJS Kesehatan dilakukan 2 kali dalam setahun, untuk menjaga keakuratan datanya,” ucap Bima Haria menandaskan. (TW)

 

Cegah Katarak: Biasakan Pakai Kacamata Hitam saat Beraktivitas di Luar Ruangan

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek mengingatkan masyarakat untuk membiasakan diri menggunakan kacamata hitam yang anti sinar ultraviolet untuk terhindar dr gangguan mata katarak. Karena sinar ultraviolet memicu terjadinya katarak pada mata.

“Indonesia berada di kawasan tropis yang dekat dengan garis katulistiwa. Paparan sinar ultravioletnya lebih tinggi dibanding negara-negara di wilayah non-tropis,” kata Menkes Nila Moelok, di Jakarta, Jumat (7/10) dalam jumpa pers terkait peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2016.

Terlebih, lanjut Menkes, lapisan ozon di mantel bumi yang menghalangi sinar ultraviolet semakin berlubang, akibat efek rumah kaca. Dengan begitu, sinar ultraviolet semakin banyak masuk ke bumi terlebih di kawasan tropis seperti Indonesia.

Nila yang berlatar belakang dokter spesialis mata itu mengemukakan, hal itu terbukti dari data di negara tropis angka katarak lebih tinggi dibanding negara nontropis, seperti Eropa dan Amerika Serikat.

“Di Indonesia, umur penderita katarak umumnya dimulai pada usia 56 tahun. Berbeda dengan negara nontropis, yang mana gangguan mata katarak banyak diidap pada mereka yang berusia diatas 70 tahun,” tuturnya.

Menurut Nila, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terkena katarak lebih dini. Disebutkan, antara lain, memakai kacamata hitam anti ultraviolet saat melakukan aktivitas di luar ruangan. Selain itu, hindari melihat matahari secara langsung.

“Gaya hidup juga sangat mempengaruhi seseorang apakah cepat atau lambat terkena katarak. Banyak kasus katarak di Indonesia penyebabnya adalah pola konsumsi obat di luar anjuran dokter,” kata Menkes.

Karena itu, Nila menganjurkan masyarakat agar mengonsumsi obat secara rasional, tidak berlebihan dan dalam waktu yang pendek guna menghindari katarak.

Katarak adalah gangguan pada mata, yang mana pada bagian bening di seputar lensa mata menjadi keruh seperti susu. Seperti melihat sesuatu dalam udara berkabut, tak lagi sejelas saat mata normal.

“Seiring dengab pertambahan usia, lensa mata biasanta perlahan-lahan akan keruh dan berkabut. Namun, kondisi itu terjadi lebih dini pada mereka yang tinggal di daerah tropis akibat gaya hidup yang salah,” ujarnya.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah gangguan mata katarak, kata Nila, bisa dilakukan dengan operasi mata. Yakni mengganti lensa mata alami dengan lensa buatan. (TW)

 

Kerugian BPJS Kesehatan 2016 Diperkirakan Mencapai Rp 9,7Triliun

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memperkirakan kerugian pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2016 mencapai Rp9,7 triliun. Hal itu disebabkan jumlah pengeluaran untuk pembayaran klaim lebih besar, dibanding besaran iuran dari peserta.

“Kerugian itu terjadi bukan karena salah urus, tetapi jumlah peserta yang sakit lebih banyak dari mereka yang membayar iuran,” kata Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris dalam malam Anugerah Lomba Jurnalistik BPJS Kesehatan 2016, di Yogyakarta, Jumat (7/10).

Karena itu, lanjut Fachmi, pemerintah mulai September tahun ini menerapkan kebijakan pembayaran iuran peserta mandiri ditetapkan untuk satu keluarga. Jadi, tak hanya anggota keluarga yang sakit saja yang membayar, seperti terjadi dalam dua tahun terakhir ini.

“Keberhasilan program JKN adalah penerapan prinsip gotong royong. Mereka yang sehat membantu mereka yang sakit. Karena itu, kini mekanisme pembayaran iuran diterapkan untuk satu keluarga,” ujar Fachmi.

Selain itu, mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu menambahkan, kepatuhan peserta untuk membayar iuran bulan masih rendah. Sehingga menimbulkan tunggakan iuran bulanan bagi peserta mandiri yang cukup besar.

“Seharusnya iuran dibayar secara rutin setiap bulannya. Sehingga kartu siap dipakai, jika sewaktu-waktu sakit. Mengingat ada kebijakan baru, yaitu kartu langsung tak bisa digunakan jika sampai batas tanggal 10 iuran tidak dibayarkan,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Direktur Hukum, Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan, Bayu Wahyudi. Potensi kerugian hingga Rp 9,7 triliun itu bisa terjadi karena biaya manfaat yang dikeluarkan BPJS Kesehatan pada akhir Agustus 2016 mencapai Rp44,5 triliun.

“Sementara iuran peserta yang diperoleh hanya sebesar Rp44,2 triliun. Kondisi seharusnya tak boleh terjadi, dimana biaya manfaat berbanding lurus dengan pendapatan iuran peserta,” ujarnya.

Bayu memaparkan tingginya jumlah penduduk Indonesia yang sakit. Hal itu terlihat pada data jumlah peserta yang berobat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang mencapai lebih dari 100 juta kunjungan.

“Dari jumlah itu, jumlah mereka yang dirujuk ke rumah sakit untuk rawat jalan mencapai 39 juta kunjungan. Dari jumlah itu, sebanyak 6,3 juta kasus harus menjalani rawat inap di rumah sakit,” tuturnya.

Ditambahkan, biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan selama kurun waktu 2015 mencapai Rp57 triliun. Sedangkan pendapatan dari iuran peserta hanya sebesar Rp51 triliun.

Untuk jumlah peserta hingga 1 Oktober 2016, disebutkan sebanyak 169.357.677 orang. Dari jumlah itu, 91 juta orang adalah penerima bantuan iuran (PBI) dari APBN, 14 juta orang PBI dari APBD, 18,5 juta orang pekerja bukan penerima upah (peserta mandiri) dan 5 juta bukan pekerja.

Untuk pekerja penerima upah (PPU)-pegawai negeri sipil (PNS) tercatat sebanyak 13 juta orang, PPU-TNI 1,5 juta orang, PPU-Polri 1,2 juta orang, PPU-BUMN 1,2 juta, PPU-BUMD 154 ribu dan PPU-swasta 23 juta orang. (TW)

 

BPOM Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp 30 Miliar

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memusnahkan barang sitaan produk ilegal senilai Rp30 miliar dari Komplek Pergudangan Surya Balaraja, Tangerang, Banten, pada akhir pekan lalu.

“Produk tersebut adalah obat keras yang diedarkan ilegal. Dikonsumsi dan dipergunakan di luar peruntukannya,” kata Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (10/10).

Dijelaskan, pemusnahan produk ilegal oleh BPOM itu antara lain berupa 42 juta tablet produk jadi obat, obat tradisional dan produk rumah obat, dan 76 tong bahan baku obat serta bahan kemas obat.

“Sebanyak 60 truk barang bukti yang dimusnahkan tersebut memiliki nilai keekonomian yang besar, yakni sekitar Rp 30 miliar,” ujar Penny.

Kegiatan pemusnahan tersebut merupakan tindak lanjut BPOM bekerja sama dengan sejumlah pihak. Kasus produksi dan penyimpanan produk ilegal di Komplek Pergudangan Surya Balaraja terungkap sejak 2 September 2016.

“Barang bukti berupa mesin produksi obat ilegal dibawa dan disimpan di Kantor BPOM, Jakarta Pusat,” tutur Kepala BPOM menegaskan.

Dikemukakan, temuan obat ilegal di Balaraja didominasi oleh golongan Obat-Obat Tertentu (OOT) antara lain Trihexyphenydyl, Tramadol, Karisoprodol dan Dekstrometorfan yang sering disalahgunakan karena dapat menimbulkan efek halusinasi, rileks dan ketergantungan seperti efek narkoba.

Selain itu, petugas juga menemukan obat tradisional tanpa izin edar atau mencantumkan nomor izin edar fiktif dan telah masuk dalam daftar peringatan publik BPOM. Sebab, obat tradisional atau jamu tersebut mengandung bahan kimia obat jenis sildenafil sitrat yang disalahgunakan sebagai penambah stamina pria/obat kuat.

“Peredaran produk ilegal itu sangat membahayakan kesehatan masyarakat. Selain juga kejahatan kemanusiaan yang dapat meracuni generasi muda bangsa Indonesia,” ucapnya.

Hingga saat ini, kata Penny, kasus temuan produk ilegal di Balaraja akan diproses secara pro-justitia dan sedang dalam proses pemanggilan saksi serta pengumpulan bukti oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BPOM bekerja sama dengan Kepolisian RI.

“Dari hasil pemeriksaan telah ditetapkan satu orang tersangka dengan inisial IW alias K. Petugas PPNS Badan POM akan terus melakukan pengembangan guna menemukan pihak lain yang diduga terlibat dalam kejahatan ini,” kata Penny menandaskan. (TW)

 

 

World Mental Health Day – what is it and why is it important?

Mental illness – a sad thing that happens to other people, but not something to worry your head about, right?

Wrong. According to the World Health Organisation, ‘if we don’t act urgently, by 2030 depression will be the leading illness globally.’

As someone who has bipolar disorder I suppose I have a vested interest in spreading awareness of mental health conditions but, the truth is, statistically speaking, either you, or a great number of your friends or family will be affected by them at some point.

Every October 10 is World Mental Health Day – a time to educate and raise awareness of mental Illness and its major effects on people’s lives worldwide.

Here’s everything you need to know.

What is World Mental Health Day?

It’s a day first celebrated in 1992 at the initiative of the World Federation for Mental Health, a global mental health organization.

The World Health Organisation recognises World Mental Health Day on 10 October every year.

Every year has a different theme.

This year’s is psychological first aid and the support people can provide to those in distress.

What can I do to support it?

You can get involved in Tea & Talk – a national fundraising event which takes place today.

It’s pretty chill – friends, family or workmates get together, have tea (and possibly also biscuits or cakes), talk about mental health and potentially donate to mental health research charity, Mental Health Foundation.

To make a donation, text THRIVE to 70300 to give £3 or donate online.

Generally the day is on October 10 but you can organise one any time and request a pack with some ideas here.

Why is it important?

Suicide is the most common cause of death for men aged 20-49 years in England and Wales at present.

While suicide and self-harm are not mental health problems per se, they are obviously linked to mental distress.

Having said that, you shouldn’t assume that because someone has depression, or indeed any mental illness, that they are or have ever been suicidal.

Nevertheless, this awful fact shows how much still needs to be done – from improvements in mental health care provision on the NHS through to people having more open conversations about mental health, and beyond.

Some other recent stats to think about or discuss today –

  1. Mixed anxiety and depression is the most common mental disorder in Britain.
  2. As many as 10 per cent of people in England will experience depression in their lifetime.
  3. The poorer and more disadvantaged are disproprotionately affected by common mental health problems and their adverse consequences.
  4. Ten per cent of mothers and six per cent of fathers in the UK have mental health problems at any given time.
  5. One in five teens experience a mental health problem in any given year.

All statistics from The Mental Health Foundation.

While stats can be a starting point for a conversation, I think it’s the conversation – however it begins – that matters.

When you have a mental health condition it’s pretty s*** in itself, but to feel like you’re the only one going through it, and to deal with it alone, and to feel like it’s somehow your fault, something to be ashamed of, that you have to hide, can be just as bad I think.

The Mental Health Foundation’s 10 tips on how to look after your mental health

  1. Talk about your feelings
  2. Exercise
  3. Eat well
  4. Drink sensibly
  5. Keep in touch with loved ones
  6. Ask for help
  7. Take a break
  8. Do something you’re good at
  9. Accept who you are
  10. Care for others

 

http://metro.co.uk/

 

Menteri Kesehatan: Tingkat Kebutaan Nasional Tinggi

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek menyebutkan tingkat kebutaan di Indonesia cenderung meningkat. Peningkatan itu terjadi sejak 1996 hingga 2015. Pada 1996, tingkat kebutaan tercatat 1,5 persen. Namun, pada 2015, tingkat kebutaan rata-rata 2,4 persen. Bahkan, di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, angkanya mencapai 4,5 persen.

Menurut Nila, faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat kebutaan mayoritas adalah katarak. Selain itu, faktor geografis Indonesia sebagai negara tropis. “Ultraviolet kita tinggi. Lapisan ozon yang bolong membuat ultraviolet mudah masuk ke bumi,” kata dia di kantornya, Jumat, 7 Oktober 2016.

Nila menambahkan, faktor konsumsi obat juga berpengaruh pada potensi seseorang menderita gangguan mata. Ia mendorong masyarakat mengkonsumsi obat sesuai dengan indikasi dan anjuran dokter.

Bukan hanya itu, faktor bentuk rongga mata juga berpotensi mengganggu penglihatan. Rongga mata yang sempit membuat mata cenderung tumbuh memanjang sehingga menyebabkan mata minus. “Itu kalau mata tambah panjang diameternya tambah. Kalau diameternya kecil justru plus, bukan minus,” tuturnya.

Faktor teknologi pun mempengaruhi kesehatan mata. Menurut Nila, jarak mata harus ideal dan penerangan harus cukup saat menggunakan gawai. Setelah menggunakan gawai, Menteri mengimbau masyarakat melihat ke area yang lapang. “Pokoknya lihat jauh, buka jendela.”

https://nasional.tempo.co/

 

 

Indonesia Masuk Daftar CDC Terkait Kasus Virus Zika

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat, memperingatkan wanita hamil untuk tidak mengunjungi 11 negara Asia Tenggara tempat penyebaran virus Zika.

Sebelas negara Asia Tenggara tersebut yakni Brunei, Burma (Myanmar), Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Maldives, Filipina, Thailand, Timor Leste, Vietnam. Thailand dimasukkan setelah pejabat kesehatan setempat melaporkan adanya kasus pertama cacat lahir akibat virus Zika.

Sementara itu, Thailand sedang mempertimbangkan untuk menguji semua wanita hamil apakah terkena virus Zika atau tidak. Hal ini menyusul konfirmasi dari pejabat kesehatan setempat bahwa ada kasus ibu melahirkan anak dengan penyakit microcephaly atau cacat lahir ditandai dengan ukuran kepala kecil.

“Menteri Kesehatan telah meminta kami untuk mempelajari apakah ini diperlukan dan hemat biaya (untuk tes kesehatan bagi wanita hamil),” kata Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan Sophon Mekton kepada Reuters, mengacu pada tes gratis untuk semua wanita hamil.

Untuk sekali tes Zika dibutuhkan biaya sekitar 2.000 baht atau US$ 58.

“Saat ini, kami memeriksa wanita hamil di daerah Zika yang terkena dampak, tapi tidak semua wanita hamil. Sejauh ini, kami telah menguji sekitar 1.000 wanita hamil,” ujarnya.

Infeksi Zika pada wanita hamil telah terbukti menyebabkan microcephaly, atau cacat lahir parah pada kepala dan otak, serta kelainan otak lainnya.

Hubungan antara virus Zika dengan microcephaly pertama kali muncul di Brazil, sejak dikonfirmasi lebih dari 1.800 kasus microcephaly.

Thailand telah mengkonfirmasi 392 kasus Zika sejak Januari, termasuk 39 wanita hamil dan Singapura telah mencatat 393 kasus Zika, termasuk 16 wanita hamil.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mengatakan orang harus mempertimbangkan untuk menunda perjalanan ke Brunei, Myanmar, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Maldives, Filipina, Thailand, Timor Lester dan Vietnam. CDC telah mengeluarkan Singapura dari negara yang wajib dihindari karena kasus Zika.

Beberapa ahli kesehatan di Thailand menganggap risiko Thailand sebagai negara pariwisata juga mendorong penyebaran infeksi nyamuk. Namun pejabat kementrian kesehatan setempat mengatakan negara-negara lain di Asia Tenggara mungkin juga memiliki kasus microcephaly akibat virus Zika namun tidak diungkapkan.

Otoritas kesehatan di wilayah tersebut mengatakan, mereka sedang meningkatkan pengawasan dan para pejabat mengatakan jumlah sebenarnya dari kasus ini pasti akan lebih tinggi dari angka yang sudah dikonfirmasi. Filipina, Malaysia, Vietnam dan Indonesia melaporkan setidaknya ada satu kasus dikonfirmasi terkena virus Zika.

Sejauh ini belum ada vaksin untuk pengobatan virus Zika. Diperkirakan 80 peren orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala, sehingga sulit bagi wanita hamil untuk mengetahui apakah mereka telah terinfeksi.

Pada orang dewasa, infeksi Zika juga telah dikaitkan dengan sindrom neurologis langka yang dikenal sebagai Guillain-Barre, serta gangguan neurologis lainnya.

http://www.netralnews.com/

 

Anti-tobacco groups slam small cigarette excise hike

The government’s decision to raise cigarette duties will not deter tobacco consumption in the country, public health experts and activists say, as the new price will keep cigarettes affordable for smokers, even with the new excise taxes.

The Finance Ministry announced on Friday that it had issued a regulation to increase excise taxes by an average of 10.54 percent next year for several types of cigarettes. The new increase is lower than the increase set by the government for this year, which reaches 11.33 percent.

The new hike will take effect starting in January next year and will increase the retail price of cigarettes by an average of 12.26 percent.

The relatively low increase shows that the government is not particularly interested in reducing the prevalence of smoking in the country, said Tuti Soerodjo, a tobacco control special committee chairwoman at the Indonesian Public Health Experts Association (IAKMI).

“They [smokers] can still afford cigarettes, given the minuscule increase in excise tax,” Tuti told The Jakarta Post on Sunday.

The Excise and Tax Law stipulates that excise taxes on cigarettes are meant to control tobacco consumption, which many believe has reached an alarming level in Indonesia.

Indonesia is home to 72 million smokers aged 15 years and over, according to WHO data. The 2013 Basic Health Survey (Riskesdas) revealed that three out of 10 smokers are between 15 and 30 years of age and most start to smoke before they turn 19.

The cost of treating tobacco-related diseases, meanwhile, is currently estimated at Rp 11 trillion per year, or 0.29 percent of the country’s gross domestic product. By contrast, the state capital injection for the Healthcare and Social Security Agency (BPJS Kesehatan) in the planned 2017 state budget amounts to Rp 3.6 trillion.

Tuti said smokers would be discouraged from purchasing cigarettes if the excise tax was higher than the sum of the country’s inflation rate and economic growth.

“The new cigarette duties are only a little bit higher than the two, supposing we have more than 5 percent economic growth and more than 3 percent inflation next year,” Tuti said.

Tuti added that the new excise tax increases were a sign that the government still sided with the tobacco industry. “They [players in the tobacco industry] did not scream at all in response to the new increases.”

According to the new regulation, machine-made white cigarettes will be subject to excise hikes of up to 13.46 percent, while two other types, machine-rolled cigarettes and hand-rolled cigarettes, will be subject to excise tax increases of up to 10.42 percent and 8.6 percent, respectively.

The government believes that higher increases might threaten job security in the tobacco industry and create an illegal market, Finance Minister Sri Mulyani said.

The ideal excise tax increase average should be 20 percent to prevent low-income citizens from buying cigarettes, said Indonesian Consumer Foundation (YLKI) chairman Tulus Abadi.

A recent study by University of Indonesia surveyed 1,000 smokers and found that they would consider quitting smoking if cigarette prices were Rp 50,000 per pack, double the current average price.

With the new excise rates, it is likely that smokers will purchase cheaper cigarettes rather than reduce their consumption, said Komunitas Kretek general secretary Alfa Gumilang.

He said the new increases would only affect a few, such as low-income smokers who spend majority of their income to purchase cigarettes.

“They [low-income smokers] may reduce their expenditures for cigarettes due to the higher price as a result of a rising excise tax,” Alfa told the Post.

http://www.thejakartapost.com/

 

Program Dokter Layanan Primer Dianggap Hambat Program Indonesia Sehat

Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani meminta pemerintah meninjau kembali program Dokter Layanan Primer.

Alasannya, program tersebut dinilai kontra produktif terhadap program Kementerian Kesehatan yaitu program Nusantara Sehat. Dari 9.815 puskesmas di Indonesia, masih terdapat 938 puskesmas yang tidak memiliki dokter umum.

“Umumnya puskesmas tersebut berada di daerah-daerah terpencil. Akses yang sulit biasanya menjadi alasan para dokter enggan praktek di sana,” ujar Irma di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Selain tidak memiliki dokter umum, menurut Irma, sebanyak 4.121 puskesmas juga tidak memiliki dokter gigi, 255 puskesmas tidak memiliki perawat, dan 364 puskesmas tidak memiliki bidan.

Sementara, dari sekira 2.184 rumah sakit di Indonesia, 29 persennya tidak memiliki dokter spesialis anak, dan 27 persennya tidak ada dokter spesialis obstetri dan ginekologi (kandungan dan kebidanan).

“Ada 32 persen rumah sakit yang tidak memiliki spesialis bedah. Sementara, 33 persennya tanpa spesialis penyakit dalam. Ini karena 52,8 persen dokter spesialis lebih memilih praktek atau bekerja di Jakarta,” paparnya.

Berdasarkan data tersebut, Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR ini mengatakan, program Dokter Layanan Primer akan berdampak pada penambahan waktu kuliah sebanyak 3 tahun bagi dokter yang akan ditempatkan pada FKTP, dan akan menghambat pemenuhan kebutuhan dokter di fasilitas kesehatan satu.

Kondisi tersebut akan menghambat target yang hendak dicapai Menkes dalam program Nusantara Sehat.

Terkait program Nusantara Sehat, Irma mengatakan, “Untuk memenuhi kebutuhan dokter umum pada faskes satu saja kita masih belum mampu, sehingga jika pemerintah tetap ngotot memaksakan program Dokter Layanan Primer untuk FKTP, itu berarti langkah mundur bagi program Indonesia Sehat dalam mencapai target Nusantara Sehat.

“Jika pemerintah keukeuh paksakan program Dokter Layanan Primer, berarti langkah mundur pemerintah dalam mewujudkan program Indonesia Sehat,” ujar Irma.

http://news.metrotvnews.com/

 

Region of the Americas is declared free of measles by World Health Organization

The Region of the Americas is the first in the world to have eliminated measles, a viral disease that can cause severe health problems, including pneumonia, blindness, brain swelling and even death. This achievement culminates a 22-year effort involving mass vaccination against measles, mumps and rubella throughout the Americas.

The declaration of measles’ elimination was made by the International Expert Committee for Documenting and Verifying Measles, Rubella, and Congenital Rubella Syndrome Elimination in the Americas. The announcement came during the 55th Directing Council of the Pan American Health Organization/World Health Organization (PAHO/WHO), which is currently underway and is being attended by ministers of Health from throughout the Americas.

Measles is the fifth vaccine-preventable disease to be eliminated from the Americas, after the regional eradication of smallpox in 1971, poliomyelitis in 1994, and rubella and congenital rubella syndrome in 2015.

“This is a historic day for our region and indeed the world,” said PAHO/WHO Director Carissa F. Etienne. “It is proof of the remarkable success that can be achieved when countries work together in solidarity towards a common goal. It is the result of a commitment made more than two decades ago, in 1994, when the countries of the Americas pledged to end measles circulation by the turn of the 21st century.”

Before mass vaccination was initiated in 1980, measles caused nearly 2.6 million annual deaths worldwide. In the Americas, 101,800 deaths were attributable to measles between 1971 and 1979. A cost-effectiveness study on measles elimination in Latin America and the Caribbean has estimated that with vaccination, 3.2 million measles cases will have been prevented in the Region and 16,000 deaths between 2000 and 2020.

\”This historic milestone would never have been possible without the strong political commitment of our Member States in ensuring that all children have access to life-saving vaccines,” Etienne continued. “It would not have been possible without the generosity and commitment of health workers and volunteers who have worked so hard to take the benefits of vaccines to all people, including those in vulnerable and hard-to-reach communities. Indeed it would not have been possible without the strong leadership and coordination provided by PAHO, Regional Office for the Americas of WHO.”

Measles transmission had been considered interrupted in the Region since 2002, when the last endemic case was reported in the Americas. However, as the disease had continued to circulate in other parts the world, some countries in the Americas experienced imported cases. The International Expert Committee reviewed evidence on measles elimination presented by all the countries of the Region between 2015 and August 2016 and decided that it met the established criteria for elimination. The process included six years of work with countries to document evidence of the elimination.

Measles is one of the most contagious diseases and affects primarily children. It is transmitted by airborne droplets or via direct contact with secretions from the nose, mouth, and throat of infected individuals. Symptoms include high fever, generalized rash all over the body, stuffy nose, and reddened eyes. It can cause serious complications including blindness, encephalitis, severe diarrhea, ear infections and pneumonia, particularly in children with nutritional problems and in immuno-compromised patients.

As a result of global measles elimination efforts, only 244,704 measles cases were reported worldwide in 2015, representing a significant decline from earlier years. However, more than a half of these reported cases were notified in Africa and Asia.

To maintain measles elimination, PAHO/WHO and the International Expert Committee have recommended that all countries of the Americas strengthen active surveillance and maintain their populations’ immunity through vaccination.

“I would like to emphasize that our work on this front is not yet done,” warned Etienne. “We cannot become complacent with this achievement but must rather protect it carefully. Measles still circulates widely in other parts of the world, and so we must be prepared to respond to imported cases. It is critical that we continue to maintain high vaccination coverage rates, and it is crucial that any suspected measles cases be immediately reported to the authorities for rapid follow-up.”

http://en.mercopress.com/