Pemerintah Indonesia Keluarkan Travel Advisory

Pemerintah Indonesia mengeluarkan travel advisory terkait merebaknya kasus zika di Singapura. Demikian dikemukakan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi, di Jakarta, Kamis (1/9) petang.

Oscar menjelaskan, travel advisory tersebut akan dikeluarkan melalui Kementerian Luar Negeri, agar bisa disebarluaskan. Upaya itu dilakukan untuk memberi perlindungan kepada masyarakat Indonesia agar tidak terjangkit virus zika saat berkunjung ke Singapura.

Travel advisory, ditambahkan Oscar, juga berlaku bagi seluruh masyarakat khususnya bagi WNI baru kembali dari negara terjangkit, Singapura.

Oscar mengingatkan warga negara Indonesia yang akan berkunjung ke Singapura untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk dengan cara mengenakan pakaian yang menutup lengan dan tungkai, menggunakan obat oles anti nyamuk, dan tidur menggunakan kelambu atau tidur dalam kamar dengan jendela dan ventilasi memakai kassa anti nyamuk.

Bagi wanita hamil, lanjut Oscar, dianjurkan untuk tidak berkunjung ke daerah-daerah yang diketahui sedang mengalami penyebaran virus Zika. Jika terpaksa harus melakukan perjalanan ke daerah, hendaknya melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk secara ketat.

“Sedangkan bagi wanita yang merencanakan kehamilan sebaiknya menunda selama 8 minggu pasca kepulangan dari daerah tersebut,” ujarnya.

Oscar meminta pada warga negara Indonesia yang baru kembali dari Singapura untuk memeriksakan kondisi kesehatan dalam 14 hari setelah tiba di Indonesia. Segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami keluhan atau gejala demam, ruam kulit, nyeri sendi dan otot, sakit kepala dan mata merah.

“Kepada dokter pemeriksa, pelaku perjalanan hendaknya menjelaskan riwayat perjalanannya dari daerah yang diketahui telah terjadi penyebaran virus Zika,” ujarnya.

Di wilayah pelabuhan baik laut, udara dan darat yang mempunyai akses dengan Negara terjangkit, Oscar berharap segera dilakukan upaya pengendalian vektor melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). (TW)

 

DKI Terapkan Cakupan Semesta bagi Seluruh Warganya

1sept

1septPemerintah provinsi DKI Jakarta mendaftarkan seluruh warganya sebagai kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan cakupan semesta. Dana yang digelontorkan mencapai hampir Rp1,2 triliun.

“Kalau ada orang kaya Jakarta ikutan program cakupan semesta silakan saja, asalkan mau berobat di Puskesmas dan dirawat kelas III rumah sakit,” kata Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama usai penandatanganan naskah kerja sama Pemprov DKI dan BPJS Kesehatan, di Jakarta, Kamis (1/9).

Hadir dalam kesempatan itu, Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris.

Untuk itu, Basuki atau yang akrab dipanggil Ahok, pihaknya akan mendorong para lurah di jajarannya untuk mendata kembali warganya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Dengan demikian, seluruh warga di DKI mendapat jaminan atas kesehatannya.

Jika ada warga miskin di DKI tetapi tak punya kartu tanda penduduk (KTP), Ahok mengatakan, tidak bisa didaftarkan. Karena program tersebut diprioritasnya bagi warga pemilik KTP DKI.

“Kalau mau ikut program Cakupan Semesta, syaratnya cuma satu yaitu punya KTP DKI. Karena syarat mendaftar peserta baru adalah punya KTP,” ujar Ahok.

Bagi warga kaya Jakarta, Ahok mengimbau agar ikut kepesertaan BPJS Kesehatan meski sudah punya asuransi kesehatan swasta. Karena prinsip penerapan program JKN adalah gotong royong.

“Biaya iuran BPJS Kesehatan bagi warga kaya Jakarta tiak ditanggung pemprov DKI. Mereka harus mendaftar sendiri, entah di kelas I atau kelas II,” tutur Ahok seraya menyebut jumlah mereka tak hanya yaitu sekita 30 persen dari total penduduk di Jakarta.

Sementara itu, Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris berharap upaya yang dilakukan Pemprov DKI ditiru oleh provinsi lainnya di indonesia. Sehingga target cakupan semesta pada 2019 di seluruh Indonesia bisa tercapai.

“Meski belum menjadi cakupan semesta, program JKN- Kartu Indonesia Sehat (KIS) saat ini sudah masuk kategori sebagai program jaminan kesehatan terbesar di dunia. Sebab kepesertaannya mencapai 168 juta yang dilaksanalan melalui single payer institution.

“Jumlah kepesertaan akan terus bertambah seiring dengan pendekatan cakupan semesta, yang diharapkan terwujud selambatnya 1 Januari 2019.

Fachmi menjelaskan, kesepakatan kerja sama meliputi pendaftaran kepesertaan yanh berasal dari pekerja bukan penerima upah (PBPU) kelas I, II dan III yang menunggak iuran, namun memiliki KTP dan Kartu Keluarga (KK) DKI Jakarta.

“Bisa juga peserta baru yang memiliki KTP dan KK Provinsi DKI Jakarta dan mendaftar sebagai peserta PBPU kelas III (otomatis akan didaftarkan),” ujarnya.

Selain itu, peserta baru dan bayi baru lahir dari peserta yang telah didaftarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Status kepesertaannya akan langsung diaktifkan.

Bagi calon peserta baru yang memiliki KTP dan KK Provinsi DKI Jakarta dari PBPU yang belum aktif status kepesertaannya dapat dialihkan statusnya menjadi peserta yang didaftarkan Pemprov DKI Jakarta.

Program ini juga mencakup penduduk yang memiliki KTP dan KK Provinsi DKI Jakarta yang belum terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan.

“Selain itu, ruang lingkup kesepakatan juga meliputi integrasi dan kewajiban persyaratan perizinan usaha bagi pemberi kerja atau perusahaan selain penyelenggara negara,” kata Fachmi menandaskan. (TW)

 

Pemerintah Tingkatkan Kewaspadaan di Bandara dan Pelabuhan

31ags

31agsKementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk bandara dan pelabuhan, seiring dengan makin merebaknya kasus zika di Singapura. Mengingat lalu lintas orang dari Singapura ke Indonesia atau sebaliknya, terbilang sangat tinggi setiap harinya.

“Kami terus berkomunikasi dengan otoritas kesehatan di Singapura untuk memantau penyebaran virus dan upaya pencegahan selanjutnya,” kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Muhammad Subuh di Jakarta, Rabu (31/8).

Dilaporkan, jumlah orang yang terkena virus zika di Singapura hingga Rabu (31/8) pagi sebanyak 81 orang. Dari jumlah itu, belum ada warga Indonesia yang terinfeksi virus zika. “Belum ada laporan orang Indonesia di Singapura yang terkena virus zika,” ujar Subuh.

Perkembangan kasus zika di Singapuran yang begitu cepat, diakui Subuh, diluar perkiraan banyak pihak. Bahkan, situasinya saat ini akan menjadi semacam outbreak atau wabah.

“Sejak Minggu (28/8), Kemkes sudah mengetatkan kewaspadaan terhadap zika. Bahkan, pada Senin (29/8) Kemkes juga sudah memberlakukan kartu kewaspadaan kesehatan (health alert card) yang berbentuk seperti kartu peringatan,” tutur Subuh.

Kartu peringatan itu wajib diisi setiap orang dari Singapura yang masuk ke Indonesia untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing.

“Bila dalam waktu 10 hari, warga yang baru kembali dari Singapura lalu mengalami demam tinggi dan ada ruam atau bercak pada kulit, maka segera melapor ke fasilitas kesehatan yang ada seperti Puskesmas atau rumah sakit dengan harus membawa kartu tersebut,” katanya.

Subuh menjelaskan, gejala penyakit zika mirip dengan demam berdarah dengue (DBD), seperti demam tinggi, adanya bintik merah di kulit. Karena penyakit tersebut sama-sama ditularkan melalui gigitan nyamuk. (TW)

 

Singapore confirms 41 cases of locally transmitted Zika virus

Singapore has confirmed 41 cases of locally transmitted Zika virus, mostly among foreign construction workers, and said it expected more cases to be identified.

All but seven of those infected had fully recovered, the Health Ministry and the National Environment Agency said in a statement on Sunday. The seven remain in hospital.

On Saturday, authorities confirmed a 47-year-old Malaysian woman living in southeastern Singapore as the city-state’s first case of a local transmission of the virus.

Zika, carried by some mosquitoes, was detected in Brazil last year and has since spread across the Americas. The virus poses a risk to pregnant women because it can cause severe birth defects. It has been linked in Brazil to more than 1,600 cases of microcephaly, where babies are born with small heads.

Singaporean authorities said they tested 124 people, primarily foreign construction workers employed on a site in the same part of Singapore. That site has been ordered to halt work, and workers’ dormitories are being inspected. Seventy-eight people tested negative and five cases were pending. Thirty-four patients had fully recovered.

Four Singaporean men had developed symptoms of the virus in the past week and were hospitalized on Saturday. It was not clear where the foreign workers were from or when their cases were detected. Singapore hosts a large contingent of workers from the Asian subcontinent.

None of those infected had traveled recently to Zika-affected areas. “This confirms that local transmission of Zika virus infection has taken place,” the statement said.

The ministry “cannot rule out further community transmission since some of those tested positive also live or work in other parts of Singapore,” the statement said. “We expect to identify more positive cases.”

The World Health Organization said in a statement on Sunday that it did not know “which lineage of Zika is circulating” or “what the level of population immunity is to this lineage of Zika in Asia.”

“It is important for countries to remain vigilant through surveillance for cases, to continue vector control, to inform people about Zika and how they can protect themselves, and to have the health system ready to supply the services needed to prevent and manage Zika and its consequences,” the group told Reuters.

Singapore, a major regional financial center and busy transit hub, which maintains a constant vigil against the mosquito-borne dengue virus, reported its first case of the Zika virus in May, brought in by a middle-aged man who had been to Brazil.

CLEANUP

Singapore deployed about 200 NEA officers to clean drains and spray insecticide in the mainly residential area early on Sunday to counter mosquito breeding grounds, and volunteers and contractors handed out leaflets and insect repellent.

All medical services in Singapore had been alerted “to be extra vigilant” and immediately report any Zika-associated symptoms to the health ministry.

Singapore said there were “ongoing local transmission” cases in Indonesia, Thailand and Vietnam. Other countries in the region to have detected the Zika virus since 2013 include Bangladesh, Cambodia, Laos, Malaysia, Maldives and the Philippines, according to the WHO.

Malaysia said on Sunday it stepped up surveillance at main transit points with Singapore – handing out leaflets on Zika prevention and having paramedics ready to handle visitors with potential symptoms of the virus.

In Thailand, where close to 100 cases of Zika have been recorded across 10 provinces this year, the Department of Disease Control was screening athletes returning from the Olympic Games in Brazil, but was not otherwise changing its prevention measures.

“Every country in this region has Zika transmission cases,” said Prasert Thongcharoen, an adviser to the DDC. “Thailand has, however, managed to contain the problem through early detection.”

A Foreign Ministry spokesman said Indonesia was “following developments”. Oskar Pribadi, a Health Ministry official, said there had been no recent Zika cases in the country.

Vietnam has to date reported three cases of locally transmitted Zika infection.

The current strain of Zika sweeping through Latin America and the Caribbean originated in Asia, where people may have built up greater immunity.

(Reporting by Marius Zaharia; Additional reporting by Aradhana Aravindan in Singapore, A. Ananthalakshmi in Kuala Lumpur, Amy Lefevre in Bangkok, Agustinus Beo Da Costa in Jakarta, My Pham in Hanoi, Julie Steenhuysen in Chicago and Trevor Hunnicutt in New York; Editing by Ian Geoghegan and Peter Cooney)

http://www.reuters.com/

 

Biaya Pasien Emergensi di RS Non-Mitra Ditanggung Penuh

30ags2

30ags2Direktur Hukum, Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Bayu Wahyudi menegaskan, pasien emergensi yang dirawat di rumah sakit non-mitra akan ditanggung pembiayaannya. Untuk itu, pentingnya melaporkan kejadian ke kantor BPJS Kesehatan terdekat.

“Peserta JKN-KIS berhak mendapat layanan kesehatan dari fasilitas kesehatan manapun yang terdekat dari lokasi, baik dari faskes yang sudah bermitra dengan BPJS Kesehatan maupun yang belum,” kata Bayu, di Jakarta, Selasa (30/8).

Pernyataan Bayu disampaikan terkait dengan kasus Muhammad Rizky Akbar (2,9), peserta JKN-KIS yang dikabarkan mengalami penolakan sejumlah rumah sakit saat berobat. Hasil penelusuran diketahui Muhammad Rizky Akbar bukannya ditolak, namun harus pindah-pindah rumah sakit karena tak ada dokter spesialis jantung anak di rumah sakit tersebut.

Bayu menjelaskan kronologi kasus yang dialami Muhammad Rizky Akbar, peserta JKN-KIS yang terdaftar sejak Agustus 2014 dengan hak perawatan kelas II. Pada 10 Juli 2016, Rizky mengalami sesak nafas, pembengkakan di bagian kaki dan tak mau makan ataupun minum.

“Oleh orangtuanya, Latif Asroni, Rizky dibawa ke RS Siloam Tangerang dengan jaminan BPJS Kesehatan. Pasien saat itu tidak dirawat inap dan hanya diberikan resep untuk rawat jalan,” ujarnya.

Pada 11 Juli 2016, kondisi Rizky tak membaik. Oleh ibunya, ia dibawa Klinik Sumber Asih lalu dirujuk ke RS Hermina Tangerang dengan jaminan BPJS Kesehatan.

“Hasil konsultasi dengan dokter anak, diperlukan pemeriksaan ke bagian jantung anak, sehingga dokter segera merujuknya ke RSJPD Harapan Kita,” ujar bayu.

Informasi dari pihak keluarga, di UGD RSJPD Harapan Kita, Rizk yhanya diberikan resep obat batuk. Ia tidak disarankan dirawat karena kondisi kesehatannya dinilai masih baik sesuai dengan hasil pemeriksaan klinis yang telah dilakukan.

“Pasien pun kembali ke RS Hermina Tangerang. Dokter menyarankan agar Rizki dirawat di RS yang memiliki fasilitas dan dokter spesialis jantung anak. Pasien lalu diberi rujukan ke RS Awal Bros Tangerang,” kata Bayu.

Rizky sempat akan dirawat di RS Awal Bros Tangerang dengan jaminan BPJS Kesehatan. Namun batal karena RS tersebut juga tidak ada dokter spesialis jantung anak. Kemudian Rizky dibawa ke RS Eka Hospital (non-mitra BPJS Kesehatan).

“Atas biaya sendiri, Rizky dirawat di Eka Hospital. Setelah dirawat selama 5 hari, Rizky dinyatakan sembuh dan boleh pulang,” katanya.

maka pihak RS menyarankan agar Rizky segera ditangani oleh dokter spesialis jantung anak.

Sebulan kemudian, Rizky mengalami gangguan nafas berat. Ia dibawa lagi ke Eka Hospital karena rekam medis pasien ada di rumah sakit tersebut. Pasien sempat dirawat di ICU, namun meninggal dunia pada 27 Agustus 2016.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Eka Hospital untuk membayar semua pembiayaan Rizky Akbar selama masa emergensi di rumah sakit tersebut,” katanya.

Dirut RS Jantung dan Pembuluh (RSJP) Harapan Kita, Hananto Andriantoro mengemukakan, pihaknya berusaha untuk menolak pasien. Rizky Akbar hanya diberi resep obat batuk dan disarankan tidak dirawat, karena diagnosis menunjukkan pasien dalam keadaan sehat.

Ia membantah penolakan Rizky Akbar karena biaya paket perawatan INA-CBGs untuk pasien jantung anak sangat kecil. Padahal, RSJP Harapan Kita memiliki fasilitas dan dokter spesialis jantung paling lengkap di Indonesia.

“Ini bukan soal biaya paket INA-CBGs murah atau tidak. Semua pasien dilayani sesuai dengan prosedur. Diagnosis mengatakan belum perlu dirawat, bukan masalah biayanya,” ucap Hananto.

Sebagai rumah sakit jantung rujukan se-Indonesia, permintaan perawatan di RSJP Harapan Kita sangat tinggi. Tempat tidur diberikan kepada pasien yang benar-benar membutuhkan emergensi.

“Masa tunggi untuk operasi di RSJP Harapan kita mencapai 1,5 tahun, karena begitu banyaknya pasien. Kami tengah mendidik RS pendidikan di daerah agar bisa melakukan operasi jantung ringan sehingga pasien tak perlu dibawa ke Jakarta,” ujar Hananto menandaskan. (TW)

 

Kebutuhan Tinggi, 55 Persen Alkes Masih Impor

30ags

30agsKebutuhan alat kesehatan (alkes) diprediksikan meningkat hingga 2,5-3 kali lipat, seiring dengan diterapkannya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun sayang, tingginya kebutuhan tersebut belum bisa dipenuhi industri alkes dalam negeri.

“Baru 44,9 persen kebutuhan alkes untuk kebutuhan rumah sakit kelas A, yang bisa dipenuhi industri lokal. Sisanya masih diimpor,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek saat membuka sosialisasi “Peningkatan Produk Alat Kesehatan Dalam Negeri” di Jakarta, Selasa (30/8).

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Agus Prabowo.

Padahal, lanjut Menkes, kualitas alkes dalam negeri tidak perlu diragukan. Selain itu, harganya bisa lebih murah 20-30 persen dari barang impor dengan kualitas yang sama.

“Jika kebutuhan alkes ini bisa dipenuhi industri lokal, berapa triliun devisa negara yang bisa dihemat,” kata Nila seraya menambahkan saat ini ada 2.623 jenis alkes yang telah memiliki izin edar dan memenuhi standar internasional untuk mutu dan manfaat.

Menkes menjelaskan, alkes merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan selain kebutuhan akan obat. Alkes berfungsi mendiagnosis dan meringankan penyakit, mempertahankan, serta meningkatkan kesehatan.

Disamping fungsi sosialnya, lanjut Nila Moeloek, alkes juga memiliki fungsi ekonomi. Alkes juga bisa menjadi komoditas yang memiliki nilai menjanjikan terutama di pasar ASEAN. Dan Indonesia bisa mengambil peluang tersebut.

“Era globalisasi membuka celah masuknya produk-produk global, termasuk alkes ke dalam pasar domestok secara kompetitif. Untuk itu, diperlukan jaminan ketersediaan dan aksesibilitas alkes di pasaran,” tutur Menkes.

Menkes menjelaskan, industri alkes di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami peningkatan dari 193 sarana industri pada 2015 menjadi 201 sarana industri pada Julo 2016.

Aneka produk yang dihasilkan, antara lain, stetoskop, sarung tangan karet, kateter urine, alkes elektromedik, lampu operasi, benang bedah dan alat kontrasepsi. Selain itu masih ada alat kesehatan disposables seperti instrumen bedah, rapid test dan medical apparels.

“Peningkatan itu menunjukkan potensi perkembangan industri alkes dalam negeri. Namun, hendaknya hal itu juga didukung oleh peningkatan kualitas,” ucap Menkes menandaskan. (TW)

 

Cigarette excise revenue should be channeled through healthcare services: Lawmaker

The majority of revenue the government reaps from the proposed cigarette excise increase should be used to improve prevention-centered programs and healthcare services for people with smoking-related health problems, a lawmaker said.

“As we know, Indonesia’s cigarette excise revenue amounts to almost Rp 140 trillion [US$10.5 billion] now, and if it increases, especially because of the cigarette excise increase currently debated by all elements of society, the government should allocate more of the revenues to healthcare services,” Dede Yusuf, chairman of House Commission IX overseeing health and labor affairs, told The Jakarta Post on Wednesday.

In its recent survey on cigarette prices, the University of Indonesia’s (UI) Center for Health Economics and Policy Studies found that around three-quarters of 1,000 respondents, including smokers, agreed cigarette prices should be increased to up to Rp 50,000 per pack. They also agreed the excise revenues should be used to fund the national health insurance (JKN) program.

It was earlier reported that as of April, the Health Care and Social Security Agency (BPJS Kesehatan) had suffered from Rp 7 trillion worth of losses from the JKN program.

In Indonesia, cigarettes are priced within a range of between Rp 12,000 to Rp 20,000 per pack. Cigarette tax revenues collected amounted to Rp 139.5 trillion in 2015.

However, Dede said, the use of the tax revenues had not been prioritized to fund and improve healthcare services in the country. With such huge revenues, he said, the government should be able to allocate more funds to improve community healthcare centers (Puskesmas) and dispatch more health workers to disadvantaged and outermost areas. (wnd/ebf)

http://www.thejakartapost.com/

Menkes: Kenaikan Harga Bisa Tekan Jumlah Perokok Muda

23ags-2

23ags-2Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek menyambut baik rencana pemerintah menaikkan besaran cukai rokok. Karena hal itu bisa menekan jumlah populasi perokok muda.

“Banyak pelajar merokok karena harganya terbeli oleh uang jajan mereka. Karena itu, saya sangat setuju jika harga rokok dinaikkan,” kata Nila Moeloek, di Jakarta, Selasa (24/8).

Menkes ditanya seputar rencana pemerintah menaikkan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkus, seperti diberitakan sebelumnya. Upaya tersebut selain untuk mengurangi jumlah perokok juga untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Kembali ditanya apakah harga rokok Rp 50 ribu per bungkus dianggap tepat, Nila Moeloek mengatakan, pihaknya tidak memiliki kompetensi untuk menilai besaran harga rokok. Namun, yang terpenting adalah harga rokok tersebut tak lagi terjangkau bagi kalangan muda.

“Kemkes hanya mengurusi dampak kesehatan dari rokok. Urusan harga silakan tanya pada Kementerian Keuangan,” ujarnya.

Ditambahkab, perokok sangat rentan terserang berbagai penyakit, termasuk infeksi paru-paru karena banyaknya zat kimia berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. “Tidak ada obat yang bisa menghentikan orang dari rokok, kecuali atas kemauan sendiri untuk bisa hidup sehat,” katanya.

Ditanyakan apakah anggaran dari kenaikan cukai rokok akan digunakan untuk menambah anggaran BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan yang dalam dua tahun terakhir ini selalu defisit, Menkes mengatakan, hal itu belum dibahas lebih lanjut.

“BPJS Kesehatan mengalami defisit karena harus menanggung pengobatan penyakit-penyakit degeneratif berbiaya mahal seperti jantung, stroke dan ginjal. Padahal semua penyakit itu bisa dicegah dengan gaya hidup sehat. Termasuk menghindari rokok,” kata Nila menegaskan.

Soal penggunaan rokok elektrik, Menkes menilai, hal itu tak lebih sehat dibandingkan rokok tembakau. Pasalnya, asap yang dihirup dari rokok elektrik sepenuhnya masuk ke paru-paru.

“Kami minta pada kaum.muda untuk tidak mengkonsumsi rokok elektrik. Jika rokok biasa, sebagian asapnya dibuang, beda dengan rokok elektrik yang langsung terhirup ke paru-paru. Jadi lebih berbahaya,” kata Menkes. (TW)

 

Indonesia Jadi Tuan Rumah Pertemuan GHSA

23ags

23agsIndonesia kembali menjadi tuan rumah pertemuan Global Health Security Agenda (GHSA) yang diikuti 53 negara anggota, badan kesehatan dunia WHO dan Bank Dunia. Pertemuan tersebut diharapkan memberi kontribusi terhadap kemajuan dunia yang lebih aman dari ancaman kesehatan.

“Makin banyak negara yang tergabung dalam GHSA. Ada tiga negara baru yaitu Argentina, Pantai Gading dan Mongolia,” kata Menteri Kesehatan (Menkes), Nila FA Moeloek dalam pembukaan GHSA 2016, di Jakarta, Selasa (24/8).

Hadir dalam kesempatanitu, perwakilan WHO untuk Indonesia, Jihane Tawilah.

Menkes menjelaskan, bagian penting dari GHSA adalah implementasi dari paket aksi dalam agenda keamanan kesehatan global. Ada 11 paket aksi yang akan dilakukan dan hal itu selaras dengan peraturan kesehatan internasional.

“Di sejumlah negara, banyak aturan yang sukar dilaksanakan. Kami berharap masukan, pengalaman dan praktik terbaik yang disampaikan dalam forum bisa membuat paket aksi lebih mudah diterapkan,” ucap Nila Moeloek.

Ditambahkan, komunikasi dan koordinasi di antara stakeholder memainkan peran penting dalam keberhasilan pelaksanaan Paket Aksi. Terutama, saat muncul penyakit menular yang berpotensi epidemi, bahkan pandemi yang cenderung lebih sering terjadi.

“Dalam dekade terakhir, setidaknya dua pandemi telah dilaporkan di dunia yaitu SARS pada 2002 dan influenza A pada 2009,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Menkes, dua keadaan darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia atau PHEIC telah dilaporkan yaitu penyakit ebola pada 2014 dan virus zika pada 2016.

“Melalui pertemuan ini, sesama anggota GHSA bisa memperkuat kapasitas dirinya dengan melakukan deteksi, upaya pencegahan dan tanggapan serius atas ancaman kesehatan masyarakat global,” ucap Menkes.

Sementara itu, Jihane Tawilah mengatakan, memperkuat keamanan kesehatan antara negara anggota GHSA harus dilakukan, tak hanya untuk menekan jumlah kesakitan tetapi juga dampak sosial ekonomi atas kasus yang terjadi.

“Pergerakan orang yang makin global, membuka peluang atas ancaman kesehatan global. Untuk itu, masing-masing negara diminta untuk selalu siaga dengan memperhatikan 11 langkah aksi GHSA,” kata Jihane menandaskan. (TW)

 

Health official warns Zika could spread across US Gulf

One of the top US public health officials on Sunday warned that the mosquito-borne Zika virus could extend its reach across the US Gulf Coast after officials last week confirmed it as active in the popular tourist destination of Miami Beach.

The possibility of transmission in Gulf States such as Louisiana and Texas will likely fuel concerns that the virus, which has been shown to cause the severe birth defect known as microcephaly, could spread across the continental United States, even though officials have played down such an outcome.

Concern has mounted since confirmation that Zika has expanded into a second region of the tourist hub of Miami-Dade County in Florida. Miami’s Wynwood arts neighborhood last month became the site of the first locally transmitted cases of Zika in the continental United States.

“It would not be surprising we would see additional cases perhaps in other Gulf Coast states,” Dr. Anthony Fauci, director of the allergy and infectious diseases unit of the National Institutes of Health (NIH), said in an interview on Sunday morning with ABC News.

Fauci noted that record flooding this month in Louisiana – which has killed at least 13 people and damaged some 60,000 homes damaged – has boosted the likelihood Zika will spread into that state.

“There’s going to be a lot of problems getting rid of standing water” that could stymie the mosquito control efforts that are the best way to control Zika’s spread, he said.

US health officials have concluded that Zika infections in pregnant women can cause microcephaly, a birth defect marked by small head size that can lead to severe developmental problems in babies. The connection between Zika and microcephaly first came to light last fall in Brazil, which has now confirmed 1,835 cases of microcephaly that it considers to be related to Zika infections in the mothers.

On Friday, Florida Governor Rick Scott confirmed that state health officials had identified five cases of Zika believed to be contracted in Miami Beach.
The US Centers for Disease Control and Prevention told pregnant women they should avoid the trendy area and suggested those especially worried about exposure might consider avoiding all of Miami-Dade County.

NIH’s Fauci on Sunday said the conditions of most of the country make it unlikely there would be a “diffuse, broad outbreak,” even though officials need to prepare for that possibility.

He compared it with diseases such as Dengue, which is endemic in certain tropical and subtropical regions of the world but rarely occurs in the continental United States. In Miami’s Wynwood area, experts have seen “substantial” knockdowns of mosquito populations.

Still, its containment is more complicated because Zika can be sexually transmitted, Fauci said.

“This is something that could hang around for a year or two,” he said.

The World Health Organization has said there is strong scientific consensus that Zika can also cause Guillain-Barre, a rare neurological syndrome that causes temporary paralysis in adults.

http://www.hindustantimes.com/