Perokok Pemula di Indonesia Naik 2 Kali Lipat

Desakan agar pemerintah segera merealisasikan kenaikan harga rokok menjadi minimal Rp 50 ribu per bungkus terus menguat. Usulan kenaikan harga rokok ini merupakan hasil studi dari Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI).

Selain menaikkan harga rokok, pemerintah diminta tegas mengatur tata niaga rokok yang selama ini semrawut dan terlalu bebas sehingga siapa saja dan di mana saja orang bisa membeli rokok. Pemerintah harus tegas memberi sanksi terhadap berbagai pelanggaran terkait rokok, terutama kepada para penjual yang masih seenaknya menjual rokok kepada anak-anak.

Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mengatakan di negara ini, rokok ada di mana-mana. Mulai dari lampu merah, warung hingga supermarket. Bisa dibeli dan dikonsumsi siapa saja, termasuk anak SD sekalipun. “Kalau membiarkan peredaran rokok tidak terkendali seperti ini, artinya bangsa ini sudah melanggar undang-undang perlindungan anak yang mewajibkan pemerintah menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak,” ujarnya baru-baru ini.

Setiap anak berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal. “Jadi menaikkan harga saja tidak cukup, pemerintah harus menindak tegas para penjual rokok kepada anak,” kata dia.

Fahira menyebut berdasarkan berbagai suvei, jumlah anak-anak yang mengosumsi rokok di Indonesia sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Kemenkes, perokok pemula (usia 10 hingga 14 tahun) naik dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Jika pada 2001 hanya 5,9 persen, pada 2010 naik menjadi 17,5 persen. Pada 2013, Riskesdas menemukan fakta konsumsi rokok pada kelompok usia 10 hingga 14 tahun mencapai sekitar delapan batang per hari atau 240 batang sebulan. Artinya, anak-anak kita sudah menghabiskan Rp120 ribu untuk membeli rokok.

Tidak heran, jika Global Youth Tobbaco Survei, pada 2014, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negera dengan jumlah perokok anak terbesar di mana 20,3 persen anak sekolah usia 13-15 tahun sudah merokok. Hasil riset ini juga tidak jauh beda dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015. Survei tersebut menyatakan penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang mengonsumsi rokok sebesar 22,57 persen di perkotaan dan 25,05 persen di pedesaan dengan jumlah batang rokok yang dihabiskan selama seminggu mencapai 76 batang di perkotaan dan 80 batang di pedesaan.

http://nasional.republika.co.id/

 

Kementerian Kesehatan Wujudkan Indonesia Sehat

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan berbagai terobosan pada 2016 yang penuh tantangan dalam upaya membangun kesehatan masyarakat. Dengan semangat Nawacita kelima: meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, Kemenkes hadir dari pinggir ke tengah melalui program Indonesia Sehat.

Pencapaian-pencapaian yang diraih menunjukkan perbaikan, seperti pelayanan kesehatan, inovasi, maupun mendorong masyarakat untuk mengantisipasi berkembangnya penyakit.

Promosi Kesehatan di Rumah Sakit

Rumah sakit dapat berbuat lebih bagi kesehatan masyarakat melalui kegiatan promosi kesehatan. Rumah sakit kini tidak lagi hanya bentuk memberikan informasi kesehatan kepada pasien, tetapi juga bertanggungjawab membuat kebijakan dan system pelayanan yang mendukung upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Baik bagi pasien dan keluarganya, staf, masyarakat sekitar dan lingkungan.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengatakan, revitalisasi promosi kesehatan rumah sakit di Indonesia telah dimulai sejak 2006. Kemenkes menunjuk RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi, Jawa Barat dan RSUD Pasar Rebo, Jakarta sebagai pilot project pengembangan model promosi kesehatan rumah sakit. Revitalisasi promosi kesehatan rumah sakit mengalami perkembangan yang signifikan setelah upaya promosi kesehatan masuk ke dalam standar akreditasi rumah sakit versi 2012, maupun akreditasi rumah sakit berskala internasional/Joint Commision International (JCI).

Artinya, promosi kesehatan merupakan bagian integral dari mutu layanan rumah sakit. “Rumah sakit sebagai promotor kesehatan akan menjembatani kebutuhan pasien selama di rawat dengan ketika kembali ke masyarakat,” ujar menkes baru-baru ini. Kemenkes telah menetapkan visi 2019 masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan yang ditandai dengan meningkatnya status kesehatan masyarakat, meningkatnya responsiveness dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.

Menkes juga mengungkapkan, bahwa rumah sakit yang melakukan promosi kesehatan akan lebih tumbuh dan berkembang dan peka, cepat tanggap (pro aktif) terhadap perubahan diantaranya yang menjadi isu utama dunia, yaitu perubahan iklim (climate change).

Nusantara Sehat Bentuk Negara Hadir

Program Kemenkes lainnya yang mendapat respons positif dari berbagai kalangan masyarakat ialah mengirimkan tenaga kesehatan dalam program Nusantara Sehat (NS). Sejak 2015 sebanyak 694 orang dalam 120 tim telah ditempatkan di 120 Puskesmas, dengan dua gelombang pemberangkatan, yaitu 20 tim pada gelombang pertama (batch 1)dan 100 tim pada gelombang kedua (batch 2).

Pemberangkatan tim Nusantara Sehat periode 1 tahun 2015 dilepas oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Sementara Tim Nusantara Sehat Tahun 2016 dilepas oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Wapres pun apresiasi dan mendukung tenaga kesehatan terpilih atas kesediaannya untuk mengabdi serta bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan di perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia.

Semangat NS selaras dengan Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Menkes Nila F Moeloek mengatakan, pada prinsipnya program Nusantara Sehat dibuat untuk meningkatkan akses dankualitas pelayanan kesehatan dasar (primer) di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK). “Keberadaan tim Nusantara Sehat juga bertujuan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan, menggerakkan pemberdayaan masyarakat, serta memberikan pelayanan kesehatan yang terintegrasi,” tuturnya.

Tenaga kesehatan yang telah terpilih menjadi Tim Nusantara Sehat 2016 periode I telah melalui seleksi yang cukup ketat. Mereka ditempatkan secara bertahap di 130 puskesmas di daerah terpencil atau sangat terpencil. Tahap I, tim diberangkatkan pada akhir Mei 2016 dan ditempatkan di 38 puskesmas pada 25 kabupaten dari 16 provinsi. Sementara untuk Tahap II, rekrutmennya dibuka pada Juni 2016 dan akan ditempatkan pada Oktober 2016.

Program Eliminasi Campak

Dalam mengatasi kasus-kasus penyakit, Kemenkes melaksanakan Crash Program Campakdi di 183 kabupaten/kota di 28 provinsi yang merupakan daerah berisiko tinggi campak, disertai dengan pemberian kapsul Vitamin A kepada masyarakat. Sedangkan di daerah yang tidak melaksanakan program tersebut, dilakukan integrasi antara pemberian Vitamin A dengan pemberian obat cacing. “Sebanyak 183 kabupaten/kota akan melaksanakan pemberian kapsul Vitamin A, obat cacing dan imunisasi campak secara bersamaan,” ujar Nila F Moeloek.

Menurut dia, Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak pada 2020. Kegiatan tersebut merupakan pemberian imunisasi campak tambahan kepada anak usia 9-59 bulan tanpa memperhatikan status imunisasi campak sebelumnya. Dengan demikian, kekebalan masyarakat di daerah tersebut akan meningkat sehingga dapat menurunkan kejadian penyakit campak.

Sementara itu, setiap tahun, pada Februari dan Agustus disebut sebagai bulan pemberian kapsul Vitamin A. Pada kedua bulan itu dilakukan pembagian suplementasi Vitamin A pada anak dengan kelompok umur 6-59 bulan di seluruh Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kecukupan asupan Vitamin A pada balita. Saat ini, cakupan pemberian Vitamin A secara nasional belum mencapai 80%. Pemerintah menyediakan kapsul Vitamin A tersebut agar masyarakat dapat memanfaatkannya tanpa dipungut biaya.

Pemberian Vitamin A perlu diiringi dengan pemberian obat cacing agar penyerapan zat gizi pada balita sempurna dan dapat meningkatkan status gizi masyarakat. Kecacingan pada anak akan menimbulkan masalah kesehatan berupa kekurangan gizi yang bersifat kronis yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada balita.Karena itu, penanggulangannya yaitu dengan pemberian obat cacing bagi balita, anak prasekolah dan usia sekolah.

Pada 2015, sebanyak 18,1 juta anak telah mendapatkan obat cacing, sedangkan pada tahun ini, pemberian obat cacing diberikan pada anak usia 12-59 bulan. Pemberian obat cacing dilakukan di 295 kabupaten/kota di 32 provinsi kepada kelompok 12 bulan-59 bulan. Menkes menegaskan, bahwa kesehatan anak adalah bagian penting dari pembangunan nasional karena masa depan negara ditentukan generasi bangsa yang harus senantiasa terjaga kesehatannya baik fisik, mental, maupun sosial.

Program Keluarga Sehat

Program keluarga sehat sejalan dengan gagasan Nawacita Presiden Joko Widodo yakni meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Itu sangat penting karena program yang menggunakan pendekatan keluarga dapat mengubah perilaku keluarga dan masyarakat agar mengenal diri atas risiko penyakit yang dimiliki. “Melalui pendekatan keluarga, juga dapat meningkatkan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif,” tutur Menkes di Jakarta.

Menkes menyampaikan pendekatan keluarga dalam program keluarga sehat dilakukan dengan cara pendekatan pelayanan terintegrasi antara upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM) oleh Puskemas. Karena itulah, perlu ada pembinaan juga pada Puskesmas. Pembinaan itu misalnya tertuju pada persiapan data-data yang berbasis keluarga di wilayah kerja dan pelayanan atau treatment sesuai dengan permasalahan kesehatan berbasis pada keluarga untuk memperkuat akses sistem kesehatan.

Selain itu, perlu juga dilakukan sejumlah langkah, antara lain penguatan regulasi, serta manajemen dan struktur organisasi untuk mendukung kebijakan tersebut. Menkes menjelaskan program keluarga sehat melalui puskesmas menyasar keluarga karena kelompok tersebut ialah unit terkecil dari masyarakat. Keluarga merupakan kelompok yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. “Karena itu, kesehatan anggota keluarga bisa memengaruhi kondisi kesehatan anggota keluarga lainnya,” tutur dia.

Tiga Kali Raih WTP

Kerja keras Kemenkes di bidang keuangan kembali membuahkan hasil. Ketiga kalinya, lembaga ini meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Menkes menyatakan, prestasi itu membuktikan komitmen bersama dalam mewujudkan pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel serta birokrasi yang bersih dan melayani membuahkan hasil.

Menurut Menkes, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara menjadi komitmen segenap jajaran Kemenkes dalam meraih WTP. Selama 4 tahun berturut-turut opini BPK atas Laporan Keuangan Kemenkes memperoleh Opini WTP, yaitu Tahun 2013, Tahun 2014, Tahun 2015 namun di Tahun 2012 masih WTPDPP.

“Saya berharap laporan keuangan Kementerian Kesehatan baik dalam menggunakan uang, pengelolaan aset, pencatatan pengeluaran, maupun penerimaan, kekayaan dan kewajiban semakin hari semakin membaik,” kata Nila seusai menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas laporan keuangan Kemenkes tahun anggaran 2015 dari Anggota VI BPK Bahrullah Akbar, di Kantor BPK, Jakarta beberapa waktu lalu.

Atas prestasi itu, Menkes menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajarannya di kantor pusat maupun di unit pelaksana teknis di seluruh penjuru Tanah Air. “Keberhasilan ini adalah buah kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas dari jajaran Kementerian Kesehatan,” tegasnya. Setiap tahun, Kemenkes memperoleh APBN untuk mendukung program dan kegiatan dalam pembangunan kesehatan.

Selaku pengguna anggaran, Menkes menyerahkan pengelolaan APBN tersebut kepada para pimpinan unit utama Kemenkes beserta jajarannya untuk dilaksanakan sebaik-baiknya secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel sesuai aturan yang berlaku dalam rangka mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance).

http://www.koran-sindo.com/

 

216 Nakes Puskesmas Dapat Predikat Teladan

15ags

15agsMenteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek memberi penghargaan teladan kepada 216 tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas dari 34 provinsi di Indonesia. Penghargaan diberikan secara simbolik, di Jakarta, Senin (15/8).

Nakes Puskesmas teladan tingkat nasional terdiri dari 27 dokter, 21 dokter gigi, 29 perawat, 28 bidan, 25 tenaga kesehatan masyarakat, 33 tenaga gizi, 18 tenaga kesehatan lingkungan, 16 ahli teknologi laboratorium medik dan 19 tenaga kefarmasian.

Menkes mengemukakan, penghargaan terhadap nakes menjadi penting karena mereka berperan besar dalam menentukan sukses atau tidaknya pembangunan kesehatan di masyarakat. Diharapkan, penghargaan tersebut dapat memotivasi kinerja nakes dalam pelayanan kesehatan.

“Kami juga berharap nakes teladan bisa menjadi penggerak pembangunan kesehatan, sehingga masyarakat bisa berperilaku hidup sehat,” ujarnya.

Menkes menambahkan, para teladan tersebut dipilih dari puluhan ribu nakes Puskesmas yang bekerja di pelosok pedesaan, bahkan terpencil untuk mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Para nakes teladan tersebut nantinya akan menghadiri sejumlah acara yang dihadiri Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, jelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. (TW)

 

BPOM: Banyak “Pintu” dan “Jendela” Pengadaan Vaksin pada Fasilitas Kesehatan

Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Arustiyono mengatakan, bukan rahasia lagi jika sejumlah fasilitas kesehatan kedapatan menyelundupkan vaksin dan obat-obatan dari distributor tidak resmi.

Ia menegaskan bahwa rumah sakit dan klinik hanya boleh menerima obat dari sumber yang resmi dan tercatat di BPOM.

“Banyak pintu dan jendela pengadaan vaksin di klinik atau RS. Kalau pengadaan vaksin dan obat dari banyak pintu, tidak bisa dikontrol,” ujar Arustiyono dalam diskusi di Jakarta, Kamis (11/8/2016).

Banyaknya pintu tersebut membuka celah bagi pengedar obat dan vaksin palsu untuk masuk ke fasilitas kesehatan.

Menurut dia, hal itulah yang melatarbelakangi banyaknya oknum petugas medis, mulai dari perawat hingga dokter yang dijerat Bareskrim Polri atas penggunaan vaksin palsu.

“Kalau salesman datang ke RS, murah senyum, kemudian itu dipilih, itu salah. Harus dicek lagi dia punya izin tidak, ada sertifikasi tidak dari laboratorium,” kata Arustiyono.

“Kalau tidak dilakukan dengan benar, bisa disusupi vaksin palsu,” ucapnya.

Industri obat yang resmi harus melalui serangkaian proses untuk bisa mendapatkan sertifikasi dari BPOM. Mulai dari rvaluasi protokol uji klinik, pengajuan izin edar, hingga akhirnya vaksin tersebut diproduksi.

Arustiyono ingin BPOM memiliki kewenangan untuk mengecek keaslian vaksin yang masuk ke rumah sakit dan klinik dengan melihat distributornya.

“Kalau tidak resmi, kami segel. Kemudian mami sampling vaksinnya, cek di laboratorium. Nanti akan dicek palsu apa tidak,” kata Arustiyono.

Rumah sakit dan klinik pun harus bisa menunjukkan faktur pembelian vaksin.

Jika pihak fasilitas kesehatan beralasan bukti pembeliannya hilang, kata Arustiyono, maka patut dicurigai mereka membeli vaksin palsu.

“Manajemen klinik di internalnya juga harus mengecek, tidak boleh banyak pintu dalam pengadaan. Kami minta diberi akses untuk mengetahui pengadaan, untuk membantu apakah produknya palsu atau ilegal,” kata dia.

 http://nasional.kompas.com/

 

Indonesia Saat ini Hadapi Transisi Epidemiologi

Indonesia saat ini tengah menghadapi transisi epidemiologi dalam masalah kesehatan. Satu sisi penyakit menular belum sepenuhnya teratasi, sementara di sisi lain tren penyakit tak menular (PTM) cenderung terus meningkat.

Karena itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek meminta dukungan dan komitmen pemerintah daerah untuk membantu pengendalian PTM di wilayahnya masing-masing. Caranya, lewat kegiatan yang mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat.

“Kami berharap Asosiasi Pemerintah Daerah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dapat ambil bagian dalam program ini,” kata Nila FA Moeloek usai penandatanganan kerja sama dengan Apkasi dalam pengendalian PTM, di Jakarta, Selasa (9/8).

Hadir dalam kesempatan itu, Mardani H Maming, Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan selaku Ketua Umum Apkasi.

Menkes mengutip data WHO Global Report on Non Communicable Disease 2010 yang menunjukkan persentase kematian akibat PTM memiliki proposi sebesar 63 persen, dibandingkan dengan penyakit menular.

“Di kawasan Asia Tenggara, berdasarkan data WHO Global Observatory 2011 menunjukan proporsi kematian kasus PTM sebesar 55 persen, lebih besar dibanding penyakit menular,” ujar Menkes.

Kondisi di Indonesia, menurut Nila, tren kematian karena PTM meningkat dari 37 persen pada 1990 menjadi 57 persen pada 2015.

Disebutkan, 10 penyebab kematian utama untuk segala umur berdasarkan sample registrasi sistem (SRS), 6 diantaranya adalah PTM yaitu stroke, jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dengan komplikasi, penyakit paru obstruksi kronis dan kecelakaan lalu lintas.

“Tren ini dapat berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup, yaitu pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktifitas fisik, merokok dan lainya,” ucap Menkes menegaskan.

Peningkatan prevelensi PTM, lanjut Nila, berdampak pada peningkatan jumlah layanan rawat jalan dan rawat inap. Hal itu juga berdampak pada aspek ekonomi yang harus ditanggung negara melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Pencegahan lebih mudah dan murah dibanding pengobatan. Karena itu kami harap semua pihak, termasuk Apkasi bisa membantu pemerintah dalam melakukan pengendalian PTM,” kata Menkes menandaskan. (TW)

 

Police investigate fake health cards in Jakarta

The Jakarta Police had investigated reports of alleged fake Healthcare and Social Agency (BPJS Kesehatan) membership cards in Koja, North Jakarta on Friday, said police spokesperson Sr. Comr . Awi Setiyono.

“We received a report from Suhajoyo and Isti Komaesih, a couple from Koja. They registered for health treatment at Koja community health center (Puskesmas) on July 26,” Awi told journalists recently.

The Puskesmas head, Anita Yuliasari, directed them to administration department staff to verify the documents. Unfortunately, the staff could not the couple’s data.

They reported their case to Koja sub-district head, Depika Romadi. “Suhajoyo and Isti reported to the sub-district head that they had registered the card with the head of RT 08 in Koja, with initials DF, who has issued 28 fake membership cards for seven families in his neighborhood,” Awi said.

Separately, Cimahi Police in West Java uncovered the distribution and use of fake membership cards for BPJS Kesehatan last month. The finding was made possible following a complaint filed by Budiyanto from Padalarang, West Java, who was denied access to Cibabat Regional Hospital to obtain a meningitis vaccine. The hospital management said his BPJS Kesehatan card was fake. (rez/dan)

http://www.thejakartapost.com/

 

Kepala Dinas Kesehatan Minta Warga Manfaatkan Kartu Indonesia Sehat Sebaik-baiknya

Sebanyak 57 ribu lebih warga kurang mampu di Kota Tanjungpinang sudah menerima manfaat program Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Mereka terdiri dari 41 ribu warga penerima manfaat KIS dari dana APBN, dan sebanyak 16.444 warga lainnya dianggarkan melalui APBD Kota Tanjungpinang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang Rustam mengatakan program KIS dari pemerintah pusat hanya mengcover sebanyak 41 ribu warga Tanjungpinang.

Sementara masih banyak warga kurang mampu yang belum mendapatkan fasilitas tersebut.

Karena itu, Pemko Tanjungpinang melalui Dinas Kesehatan juga melaksanakan perogram KIS yang dianggarkan melalui APBD.

“Dengan penggunaan kartu KIS, warga bisa menikmati fasilitas pengobatan kelas III di Rumah Sakit. Tidak ada perbedaan antara KIS daerah dan pusat,” kata Rustam, Senin (8/8/2016).

Untuk penerima manfaat KIS, lanjutnya, mereka merupakan warga tidak mampu yang ditentukan lurah kemudian diketahui camat.

Menurut Dia, karena KIS terintegrasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan maka warga cukup menunjukkan kartu saat berobat.

“Selama ini KIS daerah tidak ada masalah, setiap tahun kita perpanjang karena Pak Wali masih berkomitmen untuk ini. Kecuali kalau mereka sudah tidak miskin lagi, ya tidak akan diperpanjang,” katanya.

Rustam meminta warga untuk mamanfaatkan dengan sebaik-baiknya kartu tersebut.

Jangan hanya digunakan saat sakit, namun bisa digunakan untuk mengontrol kesehatan secara berkala di puskesmas, seperti mengontrol kolesterol, gula darah, tensi darah dan lain-lain.

“Jadi jangan nunggu sakit. Karena program ini kita laksanakan untuk menjaga masyarakat sehat agar tetap sehat,” katanya. (*)

http://batam.tribunnews.com/

 

 

BPOM Tarik Mie Merek Bikini

9ags

9agsBadan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) akhir menarik produk makanan ringan bermerek “Bikini (Bihun Kekinian)” karena dianggap sebagai produk ilegal. Produk tersebut selain mengandung unsur pornografi pada kemasannya, juga tidak memiliki izin edar.

“Berkreasi boleh, tetapi dalam membuat produk tetap harus memperhatikan budaya bangsa,” kata Kepala BPOM, Penny K Lukito kepada wartawan, di Jakarta, Senin (8/8).

Seperti diberitakan sebelumnya, masyarakat pada sepekan terakhir ini dikejutkan dengan peredaran makanan ringan dari bahan mie merek Bikini karya mahasiswi asal Depok, Pertiwi (19). Produk tersebut dianggap mengandung unsur pornografi karena menampilkan gambar tubuh perempuan berbikini dengan kata-kata seperti “remas aku”.

“Menanggapi laporan masyarakat, kami segera melakukan penelusuran. Ternyata produk yang dijual secara online lewat 22 reseller sejak Maret 2016 lalu itu juga tidak memiliki izin edar dari BPOM,” ujar Penny.

Padahal, lanjut Penny, produk yang dijual secara luas itu harus memiliki izin edar dari BPOM guna evaluasi keamanan, mutu, gizi dan label pangan. Selain itu, ada aspek label fiktif “halal” dalam kemasannya.

Ditanyakan apakah produk tersebut mengandung bahan berbahaya, Penny mengatakan, pihaknya belum tahu hal itu. Karena produk tidak pernah didaftarkan ke BPOM untuk pengujian kandungan bahan pangannya.

“Begitu tidak memiliki izin edar, maka produk tersebut dianggap sebagai ilegal. Makanya ditarik peredarannya. Public warning semacam ini penting diketahui masyarakat,” ujarnya.

Menurut Penny, temuan tersebut melanggar pasal 142, Undang-Undang (UU) No 18 tahun 2012 tentang Pangan. Disebutkan, pelaku usaha yang dengan sengaja tidak memiliki izin edar terhadap pangan olahan yang dibuat di dalam negeri atau diimpor akan dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda Rp 4 miliar.

“Pelaku juga melanggar peraturan pemerintah no 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan. Serta UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan sanksi pidana setinggi-tingginya penjara 5 tahun atau denda Rp 2 miliar,”tutur Penny. (TW)

 

Zika vaccine tested but will take time and money

After a successful trial in rhesus monkeys, a team of researchers, including doctors from Boston’s Beth Israel Deaconess Medical Center, is ready to start testing a Zika virus vaccine in humans, they announced this week.

U.S. Sen. Ed Markey, a Massachusetts Democrat who joined the team in Boston, chastised his Republican colleagues for withholding $1.9 billion in funding requested by President Barack Obama even as the virus has turned up in mosquitoes in South Florida.

Authorities believe the virus can cause devastating birth defects when pregnant women are infected, and confirmation of recent infections caused the Centers for Disease Control and Prevention on Monday to recommend against travel to a Miami neighborhood.

“There are people from Massachusetts and all across America who are canceling their vacations to Florida. Well, Congress should cancel its vacation, go back into session to fund the $1.9 billion,” Markey said at a press conference.

The mosquito-borne virus, believed to cause microcephaly and other problems in infants, was identified in humans in Uganda and Tanzania in 1952, according to the World Health Organization, which declared a world health emergency Feb. 1 as the virus exploded in Latin America.

“We do expect to see more Zika cases,” President Barack Obama said during a Thursday press conference where he criticized Congress for going on recess before funding Zika efforts. He added, “The situation is getting critical,” saying a vaccine is “well within reach,” but could be delayed by lack of funding.

In a Feb. 22 letter to Congress, Obama said the $1.9 billion would support efforts to “fortify domestic public health systems,” speed research and development of vaccines, provide emergency assistance to states and territories to fight the virus and provide services for pregnant women in Puerto Rico and elsewhere, among other initiatives.

Beth Israel Deaconess — Harvard Medical School’s teaching hospital — teamed up with Walter Reed Army Institute of Research and the University of Sao Paulo, in Brazil, to study three vaccine candidates, which were found to provide “complete protection” against Zika in rhesus monkeys.

Saying the findings “raise optimism” for eventually developing a Zika vaccine for people, Dan Barouch, a senior author of the findings published in Science, said clinical trials would begin in the fall with 30 to 50 human participants testing the safety of the regimen. Markey said “efficacy tests” in people would require thousands of human participants and cost “hundreds of millions of dollars.”

“By next summer, perhaps, it is there to be given as a vaccine, all over America, all over Latin America and the world, but the funding has to be there. A vision without funding is a hallucination,” Markey said.

Barouch, who is director of the Center for Virology and Vaccine Research at Beth Israel, said the plan would be for a vaccine that could be distributed similarly to flu shots, and he said authorities would “first concentrate on the highest-risk groups” in distributing vaccines.

The group tested three different versions of vaccine candidates, including a “purified inactivated virus,” which is essentially a dead virus, along with a “plasmid DNA vaccine and an adenovirus vector-based vaccine,” produced at Beth Israel Deaconess.

The tests were “strikingly effective, and no adverse effects were observed,” according to Beth Israel Deaconess. Barouch said two other vaccines are under development, including one at the National Institutes of Health, and safety tests in humans are just beginning.

“We are very supportive of all those programs,” Barouch said.

Markey said the virus would not be contained in Florida, urging Republicans to join the call for funding Zika research and prevention efforts.
“Miami, Florida, is just the beginning of the story. It is going to spread inevitably, inextricably to city-to-city, state-to-state, all across our country, but all across the planet as well. This disease is just one plane ride away from downtown Boston,” Markey said.

He added, “I think it’s great that (Florida Sen.) Marco Rubio and (Florida) Governor (Rick) Scott are calling for funding. It would be better if we heard (presidential candidate) Donald Trump calling for the funding; if we heard (House Speaker) Paul Ryan and (Senate Majority Leader) Mitch McConnell calling for the funding and that we would go back into session for one-half day in August and pass the $1.9 billion.”

http://www.dailycommercial.com

 

Jemaah Indonesia Banyak Derita Penyakit Hipertensi dan Diabetes

Kondisi jemaah haji reguler tahun ini tidak berbeda dengan tahun lalu. Hampir sebagian besar jemaah haji yang akan diberangkatkan merupakan kelompok risiko tinggi

Yakni, mereka yang berusia di atas 60 tahun dan mengidap suatu penyakit. Berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit hipertensi dan diabetes masih mendominasi.

Sekjen Kemenkes Untung Suseno menuturkan, pihaknya telah mengantisipasi kondisi tersebut. Kemenkes sudah membentuk tim promotif-preventif yang terdiri atas 18 orang.

Mereka berkedudukan di Jeddah. Kemudian, petugas panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) sudah dilatih untuk mobilisasi sesuai situasi dan kondisi dengan memperhatikan pola pergerakan jemaah haji.

Selain itu, untuk penguatan penyelenggaraan kesehatan di setiap daerah kerja (daker) dan Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), Kemenkes membentuk tim gerak cepat.

“Penguatan sistem komunikasi dan informasi antardaker serta integrasi kerja antara PPIH, tim asistensi, serta tim pendukung lainnya juga telah dilakukan.”

Mengenai cuaca ekstrem yang mengancam calon jamaah, Kemenkes telah meminta pihak Arab Saudi untuk menyediakan air zamzam yang lebih dingin dengan menambahkan es batu.

PPIH pun ditugasi untuk terus mengingatkan jamaah agar terus minum air putih selama di sana. Untuk jamaah haji, Kemenkes berpesan agar selalu menjaga pola hidup sehat dan bersih. Jamaah diimbau rajin mencuci tangan.

Itu dilakukan untuk menghindari terjangkitnya penyakit Middle East respiratory syndrome corona virus (MERS-CoV).

Sebagai informasi, petugas yang akan melayani jamaah haji terbagi menjadi dua, Yaitu, lima petugas yang menyertai jamaah di setiap kloter dan petugas PPIH Arab Saudi yang dimobilisasi untuk tugas pembinaan, pelayanan, dan per­lindungan jamaah haji.(mia/wan/c10/sof)

http://www.jawapos.com/