Pemerintah Terapkan Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan

21jun

21junGuna mengoptimalisasi pelayanan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemerintah menerapkan Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBK) pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

“Jika layanan di FKTP buruk, maka kapitasinya akan dikurangi,” kata Sekjen Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Untung Suseno usai penandatanganan Peraturan Bersama antara Kemenkes dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tentang Petunjuk Teknis KBK, di Jakarta, Selasa (21/6).

Untung menambahkan, upaya itu dilakukan karena FKTP merupakan ujung tombak pelayanan primer dalam JKN. Sehingga kinerjanya harus berfungsi dengan baik.

“Karena hingga kini masih banyak pasien yang dirujuk ke rumah sakit tanpa alasan yang jelas. Seharusnya 144 jenis penyakit bisa ditangani di FKTP, tanpa perlu dirujuk ke rumah sakit,” tuturnya.

Bentuk FKTP sendiri bisa berupa Puskesmas, dokter praktek perorangan maupun klinik pratama. Oleh karena itu dia mendukung adanya KBK agar performa FKTP bisa ditingkatkan.

“Kami mendukung adanya KBK ini agar pelayanan primer bisa bekerja lebih baik lagi. KBK ini didukung dengan sistem reward and punishment,” katanya

Untung menjelaskan, penilaian dilihat dari bagaimana FKTP ini berupaya meningkatkan kinerjanya dalam melakukan promosi preventif.
“Jika kinerjanya bagus, maka pemerintah akan memberi insentif,” ucapnya.

Namun, Untung menambahkan, jika FKTP ini sering merujuk pasien bahkan pada pasien yang tidak sakit pun, maka sanksi yang akan dijatuhkan ialah pengurangan kapitasi.

Diketahui, untuk klinik pratama atau dokter perorangan satu peserta tiap satu bulan kapitasinya maksimal Rp8.000-Rp10.000 dan puskesmas Rp6.000. Ia mengaku perubahan ini memang tidak mudah, namun dalam bisnis asuransi KBK ini sudah biasa diterapkan.

Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, pemerintah menginginkan FKTP itu berperan dalam pelayanan promotif dan preventif.

Dia menjelaskan, FKTP minimal pernah bertemu dengan peserta terdaftar melalui home visit. Lalu bagi pasien dengan penyakit berat misalnya jantung atau diabetes yang sudah stabil dan hanya memerlukan obat bisa dilayani kembali di FKTP.

“Jadi ada komitmennya. Jika FKTP sudah berkomitmen dalam layanan yang dimaksud maka kapitasinya akan full. Jika tidak komitmen konsekuensinya kapitasinya dikurangi. Tetapi jika layanannya melebihi komitmen, maka akan ada reward,” kata Fachmj nenegaskan.

Fachmi menerangkan, saat ini ada 34 provinsi yang bersepakat untuk menerapkan KBK di puskesmas provinsi. Sebanyak 33 provinsi telah melaksanakan KBK di 960 puskesmas dan satu provinsi yang belum merealisasikan adalah Jawa Timur yang masih menunggu petunjuk teknis KBK.

“Petunjuk teknis KBK sendiri sudah ditandatangani, sehingga bisa menjadi acuan yang lebih memantapkan penerapannya,” tutur Fachmi.

Ditambahkan, petunjuk teknis KBK yang disepakati meliputi persiapan penerapan pembayaran kapitasi berbasis komitmen, pelaksanaan pembayaran kapitasi, penilaian komitmen pelayanan dan monitoring dan evaluasi.

Lalu indikator penilaian komitmen pelayanan yaitu angka kontak komunikasi, rasio rujukan rawat jalan non spesialistik, rasio peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis rutin berkunjung ke FKTP dan indikator tambahan rasio kunjungan rumah. (TW)

{jcomments on}

Gandeng BCA Perluas Jaringan Kepesertaan dan Pembayaran Iuran

20jun

20junBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggandeng Bank Central Asia (BCA) untuk memperluas jaringan kepesertaan dan pembayaran iuran bulanan.

“BCA diharapkan bisa menjadi pendorong bagi bank swasta lainnya untuk yang bergabung dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” kata Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris usai penandatanganan kerja sama dengan BCA, di Jakarta, Senin (20/6).

Hadir dalam kesempatan itu, Presdir BCA Yahya Setia Atmaja.

Fachmi menambahkan, pihaknya sangat mengapresi permintaan BCA untuk bergabung, mengingat saat ini BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia.BCA memiliki 14,6 juta nasabah, 1.194 kantor cabang, 16.999 ATM dan ratusan ribu EDC.

Dengan demikian, BCA menjadi bank swasta pertama yang bergabung dalam program JKN.
Sebelumnya, ada 4 bank pemerintah yang bergabung yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Mandiri dan Bank Tabungan Negara (BTN).

“Bergabungnya BCA dalam program JKN diharapkan dapat mempermudah peserta BPJS Kesehatan yang juga nasabah BCA untuk membayar iuran bulanan dengan cara autodebet. Sehingga tidak perlu ada biaya tambahan,” ujarnya.

Fachmi Idris kembali berharap dengan bertambahnya saluran pembayaran, kesadaran peserta JKN untuk membayar iuran bulanan juga semakin meningkat. Untuk itu, upaya sosialisasi terus dilakukan guna membangun kesadaran baru tentang pentingnya peserta membayar iuran bulanan.

“Jangan sampai saluran sudah diperbanyak, tapi kesadaran peserta untuk membayar semakin berkurang,” kata Fachmi.

BPJS Kesehatan sebelumnya juga telah memanfaatkan jasa pembayaran dari jaringan non perbankan atau disebut Payment Point Online Bank (PPOB)yang dilakukan baik tradisional (melalui agen perorangan) maupun modern (melalui minimarket), serta kantor Pos dan Agen Pos.

Fachmi menyebutkan, jumlah peserta BPJS Kesehatan pmphingga minggu ke-2 Juni pada 2016, tercatat sebanyak 166.858.548 orang. (TW)

{jcomments on}

World Health Organization: Global stockpile of yellow fever vaccine running low

NEW YORK, NY – The global stockpile of the yellow fever vaccine may not be sufficient if simultaneous outbreaks hit the densely populated areas not covered by emergency responses, the United Nations health agency has warned, noting that by mid-June 2016, almost 18 million doses have been distributed in Angola, Democratic Republic of the Congo (DRC), and Uganda this year.

In particular, the Angola outbreak has depleted six million doses twice this year already, a level never seen before. In the past, no more than four million doses have been used to control an outbreak in one country.

According to the World Health Organization (WHO), which raised the concern today, the world’s four major vaccine manufacturers have been working around the clock to replenish the stockpile, bringing the global stockpile to 6.2 million doses in early June.

Urban yellow fever can spread rapidly in densely populated cities, causing thousands of deaths and very serious humanitarian consequences. Vaccination is the most important measure for preventing the disease. But production takes a long time – around 12 months – and it is difficult to forecast in advance the quantities that will be needed each year to respond to outbreaks.

In 1997, WHO, in partnership with the UN Children’s Fund (UNICEF), Médecins sans Frontières (MSF) and the International Federation of the Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), created the International Coordinating Group (ICG) to manage emergency vaccine stockpiles for future outbreaks and coordinate the distribution of vaccines to the affected areas.

Yellow fever was first confirmed on 19 January 2016 in Angola. Nine days later, the Angolan Ministry of Health requested 1.8 million doses from the global stockpile of emergency vaccine supplies, which was approved the same day.

Since then, the country has made several additional requests for vaccines from the emergency stockpile and by 18 May had received 11.7 million doses in total. Ongoing vaccination campaigns due to the further spread of the disease are putting continuous demands on the stockpile.

In addition, outbreaks in Uganda and the DRC have stretched the global supply with demands for more than 700,000 and 2.2 million doses respectively.

Yellow fever is an acute viral haemorrhagic disease transmitted by infected mosquitoes. The ‘yellow’ in the name refers to the jaundice that affects some patients. Symptoms of yellow fever include fever, headache, jaundice, muscle pain, nausea, vomiting and fatigue.

http://www.eturbonews.com/

 

BPJS Kesehatan Gandeng PBNU Optimalkan Kartu Indonesia Sehat

BPJS Kesehatan menggandeng Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjalin kerjasama dalam rangka mengoptimalisasi penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat. Kerjasama yang tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) ini sesuai amanah Undang-Undang (UU) terkait pelaksanaan program jaminan kesehatan di Indonesia.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, adanya sinergi kedua belah pihak ini, PBNU diharapkan dapat mendukung BPJS Kesehatan mencapai universal health coverage pada 2019 mendatang. Apalagi PBNU merupakan salah satu organisasi terbesar dalam bidang sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan, dengan jaringan kepengurusan yang sangat luas di Indonesia.

“Dengan kondisi tersebut, diharapkan PBNU memiliki kekuatan yang besar dalam mengajak masyarakat untuk menjadi akselerator dalam mencapai tujuan pemerintah, baik di bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan kesehatan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Dia berharap, nota kesepahaman ini juga dapat menjadi awal kerjasama yang baik antara BPJS Kesehatan dengan PBNU se-Indonesia dalam rangka bersinergi meningkatkan derajat kesehatan para PBNU dan seluruh rakyat Indonesia melalui penyediaan jaminan kesehatan dalam program JKN-KIS.

Terdapat beberapa ruang lingkup cakupan nota kesepahaman tersebut di antaranya (1) Perluasan Kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat, (2) Optimalisasi pemanfaatan fasilitas kesehatan yang digunakan oleh peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat, (3) Sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (4) Kolekting Iuran Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat dan (5) Kerjasama lainnya yang disepakati para pihak.

Nota kesepahaman ini berlaku untuk jangka waktu dua tahun, terhitung sejak 8 April 2016 sampai dengan 8 April 2018.

http://economy.okezone.com/

 

FK Akreditasi A Boleh Buka Prodi Pendidikan Dokter Layanan Primer

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) akan membuka program studi (prodi) pendidikan dokter layanan primer setingkat spesialis. Prodi tersebut diprioritasnya untuk Fakultas Kedokteran dengan akreditasi A.

“Kepada 17 FK negeri dan swasta dengan akreditasi A, mulai September tahun ini kami tawarkan mereka untuk membuka prodi baru setara pendidikan spesialis untuk dokter layanan primer,” kata Menristekdikti, Muhamad Nasir usai rapat koordinasi seputar pembukaan prodi baru tersebut dengan Menteri Kesehatan Nila FA Moeloek di Jakarta, Kamis (16/6).

Disebutkan, sudah ada 4 FK yang menyatakan siap membuka prodi pendidikan dokter layanan primer yaitu Universitas Pajadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga. “FK lain akan menyusul. Mereka masih menghitung-hitung sumber daya manusia dan fasilitas pendidika lainnya,” ucap mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang itu.

Nasir menjelaskan, prodi baru tersebut dibuka sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran. Prodi tersebut setara dengan spesialis, namun tanpa gelar dokter spesialis.

“Lama pendidikannya dua tahun. Mereka nantinya akan ditempatkan di pusat layanan primer guna menjaga agar masyarakat tak banyak berobat. Sehingga dana kesehatan bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran,” ujarnya.

Nasir menjelaskan pendidikan dokter layanan primer tersebut diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang fakultas kedokterannya terakreditasi A.

Ditambahkan, pembukaan prodi baru tersebut merupakan permintaan dari Kementerian Kesehatan yang meminta pada Menristekdikti untuk menyelenggarakan pendidikan dokter layanan primer. Layanan kesehatan penting diterapkan di era program Jaminan Kesehatan Nasional.

Seperti dikemukakan Menkes Nila F Moeloek, prodi pendidikan dokter layanan primer merupakan kebutuhan guna memberi edukasi tentang kesehatan di masyarakat.

“Dokter tersebut nanti bertugas mengedukasi, mengadvokasi agar berkomunikasi dengan masyarakat tentang kesehatan. Ini yang kita galakkan adalah tindakannya preventifnya,” kata Nila.

Selama ini, lanjut dia, tindakan yang dilakukan lebih banyak bersifat kuratif dan 80 persen berada di rumah sakit bukan pada layanan primer, seharusnya hal itu dibalik.

“Prodi ini merupakan perluasan kemampuan bagi dokter umum. Karena di era JKN, seorang pengelola layanan primer harus mampu menangani 155 jenis penyakit dasar yang ada di masyarakat,” tutur Nila Moeloek.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Dr Meilani Kumala, mengatakan pihaknya siap menyelenggarakan pendidikan dokter layanan primer. “Sekarang kami sedang mempersiapkan diri, untuk menyelenggarakan prodi itu,” kata Meilani. (TW)

{jcomments on}

Rumah Sakit Didorong Transparan Soal Ketersediaan Kamar

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan mendorong rumah sakit untuk transparan soal ketersediaan kamar, lewat alat bernama Anjungan Daftar Mandiri (ADM). Teknologi tersebut memberi informasi seputar kamar untuk rawat inap secara real time.

“Melalui ADM, masyarakat bisa tahu ada berapa kamar yang kosong di rumah sakit. Lengkap dengan pembedaan kamar laki-laki, perempuan dan anak-anak,” kata Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris saat melihat dari dekat penggunaan ADM di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara, Kamis (16/6).

Menurut Fachmi, transparansi soal keberadaan kamar untuk rawat inap menjadi sangat penting. Karena akhir-akhir terjadi kesalahfahaman seputar ketersediaan kamar kosong, yang berdampak pada kecurigaan para pihak.

“Memang ada kamar kosong tetapi untuk pria, sedangkan pasiennya perempuan. Lalu keluarga marah-marah, karena ada kamar kosong tetapi menolak pasien. Hal-hal semacam itu diharapkan tak terjadi lagi di masa depan,” ucap Fachmi yang pada kesempatan itu didampingi RSUD Koja, Theryoto.

Fachmi mengungkapkan, ADM sudah diterapkan di beberapa rumah sakit pemerintah, terutama di DKI Jakarta. Alat tersebut diharapkan bisa diterapkan secara nasional. Sehingga layanan terhadap pasien BPJS menjadi lebih optimal.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan RSUD Koja. Sehingga pasien yang tidak dapat kamar bisa segera dirujukan ke rumah sakit lain yang masih tersedia,” tuturnya.

Melalui transparansi ini, diharapkan rumah sakit tidak memberi perlakuan diskriminatif saat melayani pasien. “Ini adalah komitmen bersama antara BPJS Kesehatan dan rumah sakit untuk memberi layanan yang aman, bermutu, efektif, dan tak diskriminatif,” ujarnya.

Fachmi menegaskan, saat ini BPJS kesehatan terus berupaya memastikan jaminan kesehatan kepada peserta JKN berkualitas, terpercaya dan berkeadilan melalui kemitraan yang strategis.

“Jumlah peserta JKN setiap tahun semakin banyak, guna meningkatkan pelayanan harus diimbangi dengan jumlah faskes yang cukup untuk melayani peserta,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Fachmi, layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) perlu diperkuat agar mampu menangani diagnosa-diagnosa penyakit yang seharusnya bisa di tangani di layanan tingkat pertama atau FKTP ini. (TW)

{jcomments on}

Pendaftaran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan Kini Dibuat Satu Pintu

15jun

15junPendaftaran Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kini dibuat satu pintu. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan program Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Lewat portal terintegrasi ini calon peserta bisa mendaftar keanggotaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan jadi lebih mudah,” kata Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris usai penandatanganan naskah kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, di Jakarta, Rabu (15/6).

Fachmi menjelaskan, pembuatan portal pendaftaran terpadu tersebut merupakan salah satu bentuk kerja sama BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan untuk percepatan rekrutmen dan akuisisi peserta program jaminan sosial.

“Ini sekaligus tindak lanjut atas kebijakan Menteri Dalam Negeri terkait Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di seluruh Indonesia,” kata Fachmi yang pada kesempatan itu didampingi Dirut BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto.

Dengan disediakannya portal pendaftaran satu pintu, diharapkan perusahaan-perusahaan yang belum mendaftarkan entitas dan pekerjanya ke dalam program jaminan sosial, dapat segera mendaftar.

Ditambahkan, ruang lingkup kerja sama juga meliputi edukasi dan sosialisasi program jaminan sosial, mendorong Pemerintah Pusat dan Daerah untuk menerbitkan regulasi terkait percepatan rekrutmen atau akuisisi peserta program jaminan sosial, serta optimalisasi pemanfaatan forum komunikasi dan kerja sama operasional kedua badan tersebut.

“Kami akan lakukan sinkronisasi dan validasi data peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) dan peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU),” ujarnya.

Fachmi Idris menambahkan, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan juga akan bersinergi dalam melaksanakan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan dan pemberi kerja untuk memenuhi kewajiban dalam program jaminan sosial.

Bentuk kerja sama tersebut antara lain mencakup pertukaran informasi, optimalisasi forum, dan sosialisasi bersama kepada stakeholders terkait pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan pemberi kerja. (TW)

{jcomments on}

The Coming Evolution Of Executive Health Programs

Many hospitals and medical practices provide executive health programs. Basically, they entail complete physicals with evaluations and recommendations. These programs are geared to busy executives and others such as business owners who are concerned about their health. While they are quite beneficial for patients, executive health programs are a solid source of revenue for medical institutions. The result is a progressively competitive environment for medical institutions providing them.

With advancements in healthcare and increasingly discriminating prospective patients, executive health programs are going to evolve. This evolution is a function of advances in medical technology and care, more demanding patients able to afford the healthcare advances, and the economic needs of the hospitals and medical practices.

The medical institutions, for example, are probably going to build into their executive health programs ongoing evaluation capabilities. This is possible because of new and continuing developments in tele-medicine. According to Daniel Carlin, M.D., founder and CEO of WorldClinic, one of the foremost concierge healthcare firms, “mHealth is a burgeoning field that will enable hospitals to provide continuous care and connection to their executive patients. These technologies will also enable hospital-based physicians to diagnose, treat and coordinate care for patients when they are away from home.”

Another example of a likely change in executive health programs will be the medical institutions expanding into delivering comprehensive longevity planning. “Most likely, the majority of patients for executive health programs today will be drawn to comprehensive longevity planning. The cutting edge hospitals will integrate both genomic and biomarker testing with the design of a holistic and enduring preventive healthcare and risk management plan” say Carlin, “At the same time, the patients’ wealth managers will be called upon to create the fiscal ‘nest egg’ to cover the ongoing costs of these programs. This resource is truly critical and should also be put in place for any patient desiring the means to pay for credible cutting edge treatment options not yet covered by conventional health insurance or Medicare.”

For some hospitals and medical practices, executive health and wellness programs are important to their financial prosperity, especially looking forward. The opportunities that are available to these healthcare providers from incorporating mHealth evaluations and treatment to comprehensive longevity planning are considerable. With the economics of healthcare many times working against providers, the evolution of executive health programs will prove very beneficial to all involved.

http://www.forbes.com/

 

Jokowi: Indonesia Belum Ratifikasi FCTC karena Ada Kebijakan Kesehatan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, Indonesia sampai saat ini belum meratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) karena telah memiliki kebijakan yang mengatur tentang kesehatan.

“Saya tidak ingin kita sekadar ikut-ikutan atau mengikuti tren, karena sudah banyak negara yang sudah ikut (meratifikasi FCTC, Red), kemudian kita juga lantas ikut,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas Kabinet Kerja di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/6).

Pemerintah, lanjutnya, tetap konsisten mempertimbangkan kepentingan nasional, khususnya terkait masyarakat dan anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan yang disebabkan tembakau. Di sisi lain, lanjut Jokowi, pemerintah juga menjaga kelangsungan hidup petani tembakau dan buruh yang bekerja di sektor industri tembakau.

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum meratfikasi FCTC. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), hingga akhir Desember 2015 sebanyak 180 negara telah meratifikasi dan mengaksesi FCTC. Jumlah itu mewakili sekitar 90 persen populasi dunia.

http://www.beritasatu.com/

 

World Health Organization calls for donating blood to save lives

Amman, June 13 (Petra)–The World Health Organization (WHO) called, on the occasion of World Blood Donor Day, for donating blood to save the lives of millions of people around the world.

WHO Regional Director, Dr Ala Alwan, said in a message on this occasion, a copy of which was obtained by Petra, that “blood donation saves the lives of millions of people around the world every year. It also supports complex medical and surgical procedures and is an essential component of health care during man-made and natural disasters.

“However, in many countries, the demand for blood exceeds available supplies. As a result, blood services face challenges in making sufficient blood available, while also ensuring its quality and safety”.

In this context, it is important to reiterate that an adequate and safe supply of blood can only be assured through regular donations by voluntary, unpaid blood donors. However, today, less than 60% of the blood supply in the Eastern Mediterranean Region is collected from such donors. Therefore, we urgently need to exert greater effort to fill this gap.

“As we celebrate the world blood donor day around the world this event serves to thank voluntary, unpaid blood donors for their life-saving gift of blood and to raise awareness of the need for regular blood donations to ensure the quality, safety and availability of blood and blood products for patients in need,” he added.

The director said that World Blood Donor Day is also an opportunity to urge leaders in the health sector to commit to do their utmost to ensure sufficiency in safe blood and blood products based on 100% voluntary, unpaid donations.

He also thanked those donors who regularly give blood to save the lives of others and we encourage others to begin doing so.

http://www.petra.gov.jo/