Pekan Imunisasi: Ditargetkan 23 Juta Anak Dibawah 5 tahun Terhindar dari Virus Polio

Imunisasi polio merupakan cara paling efektif untuk mencegah kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan oleh virus polio liar yang ada di lingkungan tempat tinggal. Melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio diharapkan ada 23 juta anak yang terlindungi.

Hal itu dikemukakan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek dalam acara pencanangan PIN Polio di Taman Cerdas Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Selasa (8/3).

Pencanangan PIN 2016 dilakukan Ibu Negara Iriana Joko Widodo ditandai dengan penetesan vaksin kepada bayi laki-laki bernama Raga Pendra putra, anak dari Rinto Jainudi warga Perumnas Mojosongo, Solo.

Hadir dalam kesempatan itu, Menko Pembangunan Manusia dan kebudayaan (PMK) Puan Maharani, istri Gubernur Jawa Tengah, Atiqoh Ganjar Pranowo dan istri Walikota Surakarta, Elizabeth Endang Hadi Rudyatmo.

Vaksin polio masih diperlukan bagi anak Indonesia mengingat saat ini masih ada 2 negara yang endemis polio, yaitu Pakistan dan Afghanistan. Jika tidak terlindungi, dikhawatirkan ada anak Indonesia yang terjangkit virus polio “impor” dari 2 negara tersebut.

“Kita belajar dari pengalaman 2005 lalu, yang mana Indonesia telah mendapat sertifikat bebas polio dari WHO, tetapi ada warga yang lalai. Sehingga virus polio impor yang diduga kala itu dari nigeria menjangkiti sekitar 300 anak di Sumatera dan Jawa,” tuturnya.

Untuk itu, lanjut Menkes, diperlukan komitmen seluruh negara di dunia termasuk Indonesia untuk melakukan berbagai tahapan kegiatan menuju Dunia Bebas Polio 2020. Salah satu kegiatannya adalah pelaksanaan PIN Polio secara serentak bagi anak usia 0-59 bulan di seluruh Indonesia.

“Pelaksanaan PIN Polio ini bertujuan untuk memperkuat program imunisasi rutin yang sudah ada. Selain menutup kesenjangan imunitas akibat masih adanya daerah-daerah kantong dengan cakupan imunisasi rutin yang rendah,” ucap Menkes.

Nila Moeloek menegaskan, pelaksanaan PIN Polio 3026 sedikitnya menjangkau 95 persen cakupan dari sasaran 23 juta bayi dibawah 5 tahun. Dengan demikian, generasi muda Indonesia bisa sehat, bebas dari cacat tubuh akibat polio, produktif dan berdaya saing

“Melalui PIN polio ini diharapkan kantong2 imunisasi rutin yang masih rendah bisa tertutupi. Sehingga Indonesia bisa mempertahankan status sebagai negara bebas polio,” kata Nila seraya menambahkan PIN 2016 digelar di lebih dari 300 Pos PIN di seluruh Indonesia. (TW)

{jcomments on}

BPJS KESEHATAN: Tarif Standar Pelayanaan Direvisi

Kementerian Kesehatan memastikan skema tarif Ina Cbgs akan dievaluasi setelah Presiden menetapkan tarif iuran BPJS Kesehatan.

Donald Pardede, Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (P2JK) Kementerian Kesehatan, mengatakan revisi penetapan tarif Indonesia Case Based Groups (Ina CBGs) terus dipersiapkan. Saat ini, Kementerian Kesehatan telah melakukan sejumlah simulasi. Selain itu, dikumpulkan saran lintas kementerian sebagai dasar tarif pembayaran.

” resminya setelah Perpres ditandatangani. Besarnya belum bisa disebutkan namun lebih rendah dari usulan awal,” kata Donald di komplek DPR, Jakarta, Senin (7/3/2016)

Ina Cbgs merupakan patokan tarif tertinggi yang menjadi dasar pembayaran jasa medis oleh BPJS kepada fasilitas kesehatan. Tarif ini telah memperkirakan lama perawatan, jasa medis, hingga kebutuhan obat. Dengan estimasi ini rumah sakit tidak dibolehkan memungut iuran apapun kepada pasien karena seluruh biaya telah ditanggung dalam skema ini.

Kementerian Kesehatan, kata Donald, juga tengah memperbaiki klasifikasi dalam Ina Cbgs. Saat ini terdapat 1.077 klasifikasi dalam sistem. Klasifikasi ini sepenuhnya mengadopsi dari Perserikatan Bangsa Bangsa tentang jenis penyakit yang timbul di negara berkembang.

Dengan perbaikan klasifikasi ini maka diharapkan terjadi efisiensi dan peningkatan tarif Ina Cbgs. Peningkatan diperoleh karena klasifikasi penyakit yang tidak pernah muncul kasusnya di Indonesia dapat dialihkan skenario pembiayaannya kepada penyakit yang lebih sering muncul.

“Saat ini dimulai dari mata, jika selesai terus ke klasifikasi lain. Kami harapkan dalam dua tahun selesai,” katanya.

sumber: http://finansial.bisnis.com/

 

 

Sanford Health expands world clinic model

Sanford Health’s goal in Ghana is a big one:

“To be the No. 1 primary health care provider in the country.”

That’s according to Jim Slack, vice president of Sanford International Clinics, who is helping lead clinic development in the African nation and worldwide.

Sanford International Clinics was formed as part of T. Denny Sanford’s $400 million donation in 2007 with a mission to provide care to underserved populations worldwide. And while it started with pediatric clinics in the U.S., the organization’s eye has shifted to Africa, the Argus Leader (http://argusne.ws/1TQlVXV ) reported.

In the past 60 days, Sanford has opened 12 clinics in Ghana, for a total of 17. The plan is to develop at least 300 clinics in the country.

It’s a venture that has brought Sanford into a new relationship with Global Health Corps., a New York-based nonprofit led and founded by Barbara Pierce Bush, daughter of former President George W. Bush.

“I’m very impressed and inspired by Sanford International Clinic’s commitment to working and supporting partner organizations, at every level, in the areas they work,” Bush said in an emailed response to questions.

“It’s truly wonderful to be supported by such an innovative and inspiring health care leader. There is a great deal of overlap between our work, so our relationship is a busy two-way street for sharing best practices, networks and insight.”

Global Health Corps., or GHC, was founded in 2009 to place professionals from Africa and the U.S. in yearlong paid fellowships to work with local organizations to improve health care access and outcomes. The organization plans to work with Sanford to develop health care professionals and identify and implement best practices in areas such as electronic medical records, supply change management, medication standardization and clinical education.

The two met through philanthropist T. Denny Sanford.

“Denny had a relationship with Laura and Barbara Bush and was aware of Barbara’s initiative,” Slack said. “The focus of that really looked to align with what we do with Sanford International Clinics. He brought us together.”

That was about a year ago, and the organizations started talking about what each was doing in Africa and what synergies might exist.

“For us, it was really quick to identify,” Slack said. “She’s got thought leaders and fellows and alumni she’s recruited from all over the world. She’s got top talent knocking at her door to be part of her program. Because of the depth of operations we’re building, it just lends to a great experience for these fellows to dig in and find meaningful projects.”

Bush, too, praises the new relationship.

“It’s not often that you find such a philosophical synergy in a partnership,” she said. “I think both of our organizations share that deep commitment to ensuring access to quality health care for everyone and the belief that where someone is born or lives should never dictate how healthy and empowered a life they can live.”

source: http://www.washingtontimes.com/

 

 

Vaksin Polio Tak Gunakan Bahan Bersumber Babi

7mar

7marMenteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek menegaskan, vaksin polio yang akan digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) 2016 pada 8-15 Maret mendatang tidak menggunakan bahan bersumber babi.

“Vaksin polio yang digunakan pada PIN 2016 masih berbentuk tetes, bukan suntik,” kata Menkes Nila FA Moeloek dalam siaran pers, yang ditandatangani Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kemkes, Oscar Primadi di Jakarta, Senin (7/3).

Penegasan tersebut disampaikan terkait dengan beredarnya gambar bungkus vaksin polio di media sosial. Dalam gambar tersebut tertulis “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi”.

“Gambar vaksin polio yang beredar di medsos itu produk vaksin suntik. Sedangkan vaksin polio yang digunakan dalam PIN 2016 adalah vaksin tetes,” katanya.

Ditambahkan, dalam pelaksanaan PIN Polio 2016 menggunakan vaksin dengan bungkus bertuliskan “Oral Polio Vaccine” produksi perusahaan obat Biofarma. “Tidak ada tulisan apapun terkait bahan bersumber babi dalam kemasannya,” kata Menkes.

Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi telah menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016 sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

Untuk itu, Menkes mengimbau kepada masyarakat Indonesia agar membawa anak-anaknya usia 0-59 bulan ke Pos PIN terdekat pada 8-15 Maret 2016.

“PIN Polio 2016 bertujuan mencegah anak-anak Indonesia tertular virus Polio. Dengan imunisasi polio masyarakat akan mendapatkan kekebalan yang tinggi sehingga dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio,” kata Menkes menandaskan. (TW)

{jcomments on}

PIN Polio Digelar Serentak pada 8-15 Maret

Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan menggelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio secara serentak diseluruh Indonesia, kecuali DI Yogyakarta, pada 8-15 Maret 2016. Diharapkan sedikitnya 95 persen anak usia 0-59 bulan terlindungi kesehatannya dari virus polio.

“DI Yogyakarta tidak ikut dalam PIN Polio 2016 karena sejak 2 tahun lalu sudah menerapkan pemberian vaksin polio suntik secara rutin pada anak usia 0-59 bulan di wilayah tersebut,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek dalam penjelasan pada wartawan, di Jakarta, Jumat (4/3).

Hadir dalam kesempatan itu, Sekjen Kemkes, Untung Suseno Sutardjo, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (PLP), M Subuh dan Ketua Satgas Imunisasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Cissy B Kartasasmita dan Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Niam Sholeh.

Secara bertahap, vaksin polio oral yang biasa diberikan dalam pelaksanaan PIN akan digantikan model injeksi. Karena ternyata vaksin polio oral memiliki efek samping. virus polio yang dilumpuh dalam vaksin, terbawa melalui tinja (feses) lalu sehingga berpeluang menularkan pada anak lain.

Nila menjelaskan, Indonesia sebenarnya telah mendapat sertifikat bebas polio dari organisasi kesehatan dunia WHO pada 2014 lalu. Namun, risiko terjadinya penularan masih tinggi mengingat virus polio liar masih bersikulasi di dunia.

“Saat ini masih ada 2 negara yang dinyatakan belum bebas dari polio, yaitu Pakistan dan Afghanistan. Karena itu, perlu digelar PIN untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak Indonesia terhadap virus polio liar yang mungkin “diimpor” dari negara lain,” katanya.

Dijelaskan, penularan virus polio yang berasal dari luar negeri (importasi) pernah terjadi di Indonesia pada 2005. Padahal sudah 10 tahun Indonesia tidak memiliki kasus polio.

“Kejadian itu bermula dr kasus di Sukabumi pada Januari 2005. Lalu kasusnya merembet ke Jawa dan Sumatera dengan total anak yang tertular mencapai 305 anak,” tutur Menkes.

Ditambahkan, virus polio import itu diduga berasal dari Nigeria yang menyebar melalui Timur Tengah. Penularan itu bisa terjadi karena ada sejumlah anak yang belum mendapat imunisasi polio sama sekali, lantaran orangtuanya enggan membawa anaknya ke layanan kesehatan guna mendapatkan imunisasi.

“Penularan virus terjadi cepat pada daerah-daerah kantong yang cakupan imunisasi polionya rendah selama beberapa tahun,” ujarnya.

Dijelaskan, penyakit polio disebabkan oleh virus yang menyerang saraf otot hingga pernasapan. Rata-rata penderita polio tidak langsung meninggal dunia, melainkan mereka menderita lumpuh layu.

“Semua anak-anak yang sehat umur 0-59 bulan sekarang, harus diberi polio, tanpa terkecuali. Targetnya lebih dari 23 juta anak Indonesia, melakukan imunisasi polio, ” ucap Menkes.

Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal Pencegahan Pengendalian Penyakit, Kemkes M Subuh mengatakan, pihaknya telah menjamin segala kesiapan logistik PIN Polio 2016 bisa dilakukan secara serentak. Vaksin tersebut sudah sudah disebar hingga ke pulau terpencil dan kawasan perbatasan.

“Masalah logistik dan capacity building, kita pastikan pada H-7 logistik sudah berada di Puskesmas. Kita harapkan pada H-2 dan H-1 sudah ada di pos PIN Polio. Di seluruh Indonesia ada lebih dari 300 ribu pos,” ujarnya.

Untuk Provinsi Bali, lanjut Subuh, terjadi pengunduran waktu pelaksanaan menjadi 15-22 Maret 2016. (TW)

 

Komisi Fatwa MUI: Pemberian Vaksin pada Anak Hukumnya Wajib

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengingatkan orangtua untuk memberi vaksin pada anaknya. Karena pemberian vaksin, sebagai bagian dari pencegahan penyakit itu hukumnya wajib dalam Islam.

“Jadi masyarakat tak perlu ragu, apakah vaksin yanh digunakan halal atau tidak. Selagi hal itu digunakan untuk menjaga kesehatan lingkungan, penggunaan vaksin diperbolehkan,” kata Asrorun di Jakarta, Jumat (4/3) di sela penjelasan seputar Pekan Imunisasi Nasional (PIN).

PIN kan digelar pada 8-15 Maret serentak di seluruh Indonesia, kecuali DI Yogyakarta. Karena daerah tersebut sejak 2 tahun lalu telah menerapkan pemberian vaksin polio injeksi. Secara bertahap, vaksin polio oral akan digantikan menjadi injeksi, karena tidak memiliki efek samping.

Asrorun menegaskan, perdebatan seputar kehalalan vaksin seharusnya tidak terjadi lagi, setelah MUI mengeluarkan fatwa vaksin halal. Hal itu juga sudah diatur dalam Undang-undang No 33 Tahun 2014, yang mengatur tentang produk makanan dan obat halal.

“Masyarakat seharusnya bisa menerima imunisasi jadi pengobatan preventif. Tapi jika belum ada materi yang tersertifikasi halal, bukan berarti itu tidak boleh diberikan untuk menjaga kesehatan,”ujarnya.

Apalagi, lanjut Asrorun, pemerintah saat ini juga tengah menyediakan vaksin halal, seperti yang sudah diatur dalam undang-undang tentang makanan halal dan obat halal tersebut. (TW)

{jcomments on}

Gerhana Matahari: Hindari Menatap GMT Langsung Dengan Mata Telanjang

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek mengingatkan masyarakat untuk tidak menatap langsung proses terjadinya gerhana matahari total, dengan mata telanjang.

“Karena meski gelap, sinar ultraviolet (UV) tetap ada. Sinar ultravioletnya bisa mengenai mata, sehingga menimbulkan kerusakan. Bahkan tak menutup kemungkinan menyebabkan kebutaan,” kata Nila FA Moeloek disela jumpa pers tentang Pekan Imunisasi Nasional (PIN), di Jakarta, Jumat (4/3).

Hadir dalam kesempatan itu, Sekjen Kemkes, Untung Suseno Sutardjo, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (PLP), M Subuh dan Ketua Satgas Imunisasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Cissy B Kartasasmita dan Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Niam Sholeh.

Nila menjelaskan, Gerhana Matahari Total (GMT) diperkirakan terjadi pada pagi hari, pada 9 Maret 2016. Fenomena langka itu terakhir terjadi di Indonesia pada 1988.

“Kejadian ini membuat masyarakat dunia terutama di Indonesia, memiliki antusias yang besar untuk melihat langsung kejadian itu,” ujarnya.

Namun, Menkes mengingatkan warga untuk tidak melihat proses gerhana matahari dengan mata telanjang, meski suasana menjadi gelap akibat terjadinya gerhana matahari total, namun. Karena ultra violet dalam sinar matahari tetap ada.

“Cukup lihat pantulannya saja. Atau gunakan kacamata yang benar-benar anti ultraviolet. Karena banyak juga kacamata berwarna hitam, tetapi tidak memiliki anti ultraviolet,” ujarnya.

Dijelaskan, pada saat mata menatap ke arah GMT, kondisi itu akan membuat pupil membesar dan sinar UV akan masuk ke dinding retina (macula). Fenomena itu akan menyebabkan kerusakan pada retina mata, bahkan bisa menimbulkan kebutaan.

“Bila tidak ingin kehilangan momen ini, masyarakat dapat menyiapkan alat filter atau kacamata khusus. Sehingga momen puncak yang berlangsung sekitar 3 menit ini dapat dinikmati dengan nyaman di mata,” katanya.

Disebutkan, GMT dapat disaksikan masyarakat di 11 provinsi di Indonesia, yakni Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. (TW)

{jcomments on}

Kesehatan Bayi: Cegah Lahir Cacat Bawaan Lewat Pola Hidup Sehat

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Eni Gustina mengingatkan para ibu untuk menjaga pola hidup sehat selama masa kehamilan. Karena hasil surveilans yang dilakukan di 19 provinsi ditemukan 15 jenis kecacatan bawaan pada bayi.

“Ini disayangkan karena 15 jenis kecacatan bawaan itu sebenarnya bisa dicegah dan dideteksi dengan mudah, lewat gaya hidup sehat,” kata Eni Gustina dalam siaran pers memperingati Hari Kelainan Bawaan Sedunia (World Birth Defect Day), di Jakarta, Kamis (3/3).

Hasil surveilans yang dilakukan pada September 2014 lalu, diketahui ada sebanyak 231 bayi mengalami kelainan bawaan. Sebagian besar lahir dengan 1 jenis kelainan bawaan (87 persen) dan ditemukan pula bayi lahir dengan 1 jenis kelainan bawaan (13 persen).

Kelainan bawaan yang paling banyak ditemukan adalah kelompok sistem muskulo skeletal (talipes equinovarus) sebanyak 22,3 persen, sistem saraf (anenchepali, spina bifida dan meningochele) sebanyak 22 persen, celah bibir dan langit-langit sebesar 18,5 persen dan omphalocele sebesar12,5 persen.

“Meski penyebab utama kelainan kongenital adalah faktor genetik, infeksi dan lingkungan, namun sebenarnya banyak dari kelainan itu dapat dicegah, misalkan dengan vaksinasi serta konsumsi zat tertentu, seperti asam folat dan iodium,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Eni Gustina, penting untuk menghindari konsumsi obat yang tak direkomendasikan oleh dokter, alkohol atau zat berbahaya seperti pengawet dan pewarna buatan, hindari terpapar dari bahan berbahaya dan beracun seperti timbal, merkuri dan pestisida, beraktivitas fisik atau olahraga secara teratur, serta menghindari asap rokok selama kehamilan.

Eni menyebutkan, di Indonesia hingga saat ini kematian bayi baru lahir (neonatal) masih menjadi permasalahan kesehatan. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan angka kematian bayi di Indonesia adalah 32 per 1000 kelahiran hidup dan kematian neonatal 19 per 1000 kelahiran hidup (SDKI, 2012) .

“Saat ini, kelainan bawaan mempunyai kontribusi yang cukup besar sebagai penyebab kematian neonatal,” ujarnya.

Data laporan Riskesdas tahun 2007 menyatakan bahwa sebesar 1,4 persen bayi baru lahir usia 0-6 hari pertama kelahiran dan 18,1 persen bayi baru lahir usia 7-28 hari meninggal disebabkan karena kelainan bawaan.

Data WHO SEARO tahun 2010 juga memperkirakan prevalensi kelainan bawaan di Indonesia adalah 59.3 per 1000 kelahiran hidup. Jika setiap tahun lahir 5 juta bayi di Indonesia, maka akan ada sekitar 295.000 kasus kelainan bawaan pertahun.

“Di samping menyebabkan kematian neonatal, kelainan bawaan juga merupakan penyebab bayi lahir mati dan abortus spontan. Bila bayi bertahan hidup, banyak diantaranya yang menjadi penyandang disabilitas dan mengidap penyakit kronis,” ucap Eni Gustina menandaskan.

Ditegaskan, pelayanan antenatal yang terpadu dan berkualitas memberikan kesempatan bagi para ibu hamil untuk melakukan upaya pencegahan terjadinya kelainan bawaan pada bayi. (TW)

 

Vaksin Polio Oral akan dialihkan ke Injeksi

3mar

3marKementerian Kesehatan (Kemkes) menyatakan vaksin polio injeksi yang akan diterapkan dalam pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional pada 8-15 Maret 2016, tidak memiliki efek samping dibanding vaksin oral yang masih meninggalkan efek imunitas pada feses (kotoran) bayi.

“Pada vaksin oral, zat imunnya masih terbawa pada feses bayi kemudian menyebar lewat air dan tertimbun di tanah,” kata Direktur Gizi Masyarakat, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemkes Doddy Izwardy dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (3/3).

Yang ditakutkan, lanjut Doddy, jika zat tersebut masuk rantai makanan sehingga memberi imun pada seseorang. Sedangkan vaksin injeksi akan mati, dan tidak akan keluar melalui feses,” kata Doddy seraya menyebutkan provinsi Yogyakarta sejak 2007 lalu sudah tak pakai lagi vaksin polio tetes.

Menurutnya, sudah waktunya Indonesia yang dinyatakan bebas polio sejak 2014 beralih dari vaksin oral (tOPV) ke vaksin injeksi (bOPV). Sehingga capaian bebas polio berlanjut dari tahun ke tahun.

Doddy menjelaskan, distribusi vaksin injeksi perlahan akan dilakukan ke seluruh Indonesia. Diharapkan pelaksanaan PIN serentak pada Juli 2016 sudah tidak ada penggunaan vaksin tetes.

“Vaksin tetes yang di Indonesia saat ini tidak akan dimusnahkan, tetapi distribusi vaksin polio tetap jalan. Sehingga nanti kalau sudah habis vaksin polio tetesnya, baru diberikan vaksin polio injeksi,” ujarnya.

Pelaksanaan PIN serentak diitargetkan untuk bayi usia 0 – 59 bulan dengan tujuan memastikan bahwa seluruh anak Indonesia telah memiliki tingkat kekebalan tinggi terhadap penyakit polio. Selain mengurangi risiko penyebaran virus polio dari negara lain.

PIN Polio merupakan bagian dari rencana aksi vaksin global tahun 2020 dengan tujuan mencapai dunia bebas polio, mencapai target eliminasi regional dan global serta mencapai target cakupan imunisasi regional, nasional, dan individu.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah menerbitkan fatwa halal terhadap proses dan kegiatan imunisasi untuk balita atau anak-anak. (TW)

 

“Pasukan Oranye” di DKI Jakarta Didaftarkan ke BPJS Kesehatan

Seluruh “Pasukan Oranye”, sebutan bagi petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) di provinsi DKI Jakarta akan didaftarkan sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Dengan demikian, petugas yang berstatus sebagai pegawai kontrak itu mendapat jaminan atas perlindungan kesehatan. Tak hanya dirinya, perlindungan juga mencakup keluarganya.

“Ketika sakit, mereka sudah gak pusing-pusing lagi kalau mau berobat,” kata Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama usai menyaksikan penandatanganan kepesertaan Pasukan Orange ke BPJS Kesehatan Divisi Regional IV, DKI Jakarta, Selasa (1/3).

Kontrak kerja sama itu, ditegaskan pria yang akrab disapa Ahok sudah sesuai dengan Perpres (Peraturan Presiden) No 111 Tahun 2013.

“Seluruh biaya BPJS bagi Pasukan Oranye akan ditanggung Pemprov DKI. Selain PPSU, pegawai kontrak di kelurahan serta SKPD (satuan kerja perangkat daerah) juga akan mendapat fasilitas yang sama,” ujar mantan Bupati Belitung itu.

Ahok menambahkan, para pegawai kontrak berhak mendapatkan perlindungan gak hanya BPJS Kesehatan, tetapi juga BPJS Ketenagakerjaan. Mengingat, para pekerja itu hanya digaji sesuai upah minimum regional (UMP) dan jumlahnya dibayar maksimal 13 kali selama setahun.

“Jika pekerjanya sakit, atau bahkan meninggal dunia sering kali keluarganya terbebani secara ekonomi. Keberadaan BPJS baik Kesehatan dan Ketenagakerjaan sangat membantu,”ujarnya.

Dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan, lanjut Ahok, PPSU dan pegawai kontrak lainnya tidak perlu mikir uang saat sakit. Jika meninggalpun, mereka akan dapat “warisan” dari BPJS Ketenagakerjaan hingga Rp 137 juta.

Disebutkan, saat ini ada sekitar 15 ribu pegawai PPSU atau Pasukan Oranye. Mereka bertugas membersihkan sampah dan lumpur yang menumpuk di selokan air, agar tidak menimbulkan genangan dan banjir saat musim hujan tiba.

Pasukan Oranye berada dibawah kendali kelurahan. Setiap kelurahan mendapat jatah 40-70 personel. Penempatan jumlah personel berdasarkan luas wilayah kelurahan. Semakin luas semakin banyak pasukan oranye yang ditempatkan.

Petugas PPSU ini tidak hanya mengurus kebersihan selokan air atau kebersihan jalanan saja. Personel PPSU harus serba bisa, seperti mengganti lampu jalan yang rusak, atau menebang ranting-ranting pohon yang menjulur ke jalanan. (TW)

{jcomments on}