Kemkes Evaluasi Program Internship Dokter Indonesia dan Dokter PTT

23nov15

23nov15Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan mengevaluasi program internship dokter Indonesia (PIDI) dan dokter pegawai tidak tetap (PTT). Evaluasi menyangkut anggaran program, teknis pembimbingan dokter internship, dan kelanjutan program dokter PTT.

“Evaluasi itu termasuk kesejahteraan dokter, baik biaya hidup maupun insentifnya,” kata Sekjen Kemkes, Untung Suseno Sutarjo pada temu media di Jakarta, Jumat (20/11).

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan, Kemkes, Usman Sumantri.

Dijelaskan, perbedaan PIDI dengan dokter PTT. PIDI adalah program internship (pemahiran) dan pemandirian untuk dokter umum yang baru lulus guna memantapkan mutu profesi dokter. PIDI juga menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan surat tanda registrasi (STR).

“PIDI ini bersifat wajib, karena bagian dari proses pendidikan dokter. PIDI adalah konsekuensi dari kurikulum kedokteran berbasis kompetensi yang diamanatkan Undang-Undang Pendidikan Kedokteran Nomor 20 Tahun 2013,” ujarnya.

Di bawah supervisi dokter pendamping yang merupakan dokter setempat, dokter peserta PIDI menjalani program pemahiran selama 12 bulan. Rinciannya 8 bulan di rumah sakit daerah dan 4 bulan di Puskesmas yang ada di dekat rumah sakit.

Sedangkan dokter PTT atau tim Nusantara Sehat adalah dokter yang sudah lulus dan punya STR. Program tersebut bersifat sukarela. Keberadaan dokter PTT berfungsi untuk menutupi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil.

“Karena itu mereka ditempatkan di Puskesmas terpencil untuk memenuhi kekurangan dokter di wilayah tersebut,” katanya.

Ditambahkan, tahun ini program dokter PTT untuk sementara dihentikan karena peminatnya jauh dari target yang diharapkan. Namun, kebutuhan dokter di daerah terpencil diisi oleh Tim Nusantara Sehat. Yaitu, sekelompok dokter yang terdiri dari 8 orang yang bertugas bersama di satu tempat guna memberi pelayanan di daerah yang membutuhkan.

Ditambahkan, evaluasi PIDI termasuk dari sisi
anggaran. Kemkes berupaya agar bantuan hidup bagi dokter internship mulai tahun depan dinaikkan hingga sebesar Rp 4 juta per bulan. Mereka juga berhak atas jasa medis di rumah sakit.

“Selain mendapat insentif tambahan dari daerah. Sehingga mereka bisa hidup layak,” ujarnya.

Untuk dokter PTT yang di daerah terpencil sudah dinaikkan dari sekitar Rp 2 juta menjadi Rp 2,9 juta. Insentifdiberikan sebesar Rp 8,5 juta. Adapun insentif dokter PTT di daerah sangat terpencil dinaikkan menjadi Rp 11,1 juta per bulan.

Untung mengatakan, hal lain yang akan diperbaiki adalah keberadaan dokter pendamping. Untuk itu, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan diajak untuk lebih berperan.

“Fakultas-fakultas kedokteran akan didorong untuk membina para dokter pendamping dalam program internsip sehingga lebih efektif dalam mendampingi peserta PIDI,” tuturnya. (TW)

 

BPJS Kesehatan Cetak 55,53 Juta Kartu Indonesia Sehat

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melaporkan telah mencetak lebih dari 60% atau sekitar 55,53 juta Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari target 86,4 juta kartu.

Seusai pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris mengatakan program KIS yang diusung Presiden terus digulirkan. Targetnya pada akhir 2015, 86,4 juta KIS sudah selesai didistribusikan ke seluruh Indonesia.

“Menuju Desember harus selesai 86,4 juta kartu dan hari ini kartu yang sudah tercetak 55.534.623 kartu,” ujarnya di Kantor Presiden, Jumat (20/11/2015).

Sejalan dengan perkembangan pencetakan kartu, distribusi KIS juga terus disebarkan kepada masyarakat berpendapatan rendah yang berhak menerima KIS.

Fahmi menambahkan pada 2016, pemerintah telah sepakat untuk menaikkan premi kelompok penerima bantuan iuran (PBI) atau pemegang KIS dari Rp19.225/orang/bulan menjadi Rp23.000/orang/bulan.

Dengan tarif premi PBI Rp23.000, subsidi iuran yang ditanggung pemerintah mencapai lebih dari Rp23,8 triliun pada 2016, naik dari pagu tahun ini yang sebesar Rp19.9 triliun.

“Iuran itu mestinya tahun depan kelas 3 hitungan kami dan DJSN Rp36.000/orang/bulan. Tapi pemerintah tetapkan Rp23.000. Pasti ada mismatch,” tuturnya.

Selisih antara pemasukan dari premi dan klaim, kata Fahmi, berisiko menimbulkan selisih pada kas BPJS Kesehatan. Untuk menutup selisih tersebut, pemerintah berencana menyuntik BPJS Kesehatan dengan penyertaan modal negara (PMN) yang dialokasikan dalam APBN 2016.

“Dengan suntikan dana pemerintah, pemasukan dan pengeluaran jadi seimbang. Tapi kalau dibelah suntikan dana dan iuran, tentu iuran harus ditingkatkan,” pungkasnya.

sumber: http://industri.bisnis.com/

 

 

How to stop antibiotic resistance? Here’s a World Health Organisation prescription

Today, if you get a bacterial infection – even a serious one that lands you in a hospital bed – you probably feel confident an antibiotic will cure you.

My parents lived in a different world. When I was three years old, I became seriously ill with tuberculosis. I can only imagine their anguish. I had to be hospitalised for a full year, and I would probably have died were it not for the availability of a new form of treatment that combined three antibiotics. I was one of the first people in Europe to receive it.

The advent of antibiotics introduced a new era in medicine. But now, I fear we are moving backwards – to the world in which my parents lived, when bacterial infections were often lethal because there were no specific treatments available.

Many such infections are rapidly becoming resistant to life-saving drugs. This development can be attributed, to some extent, to biology. It is inevitable that each drug will lose its ability to kill disease-causing bacteria over time. That is because bacteria, through natural selection and genetic adaptation, become resistant to antibiotics.

However, we are speeding up the process dramatically by using antibiotics too much and often in the wrong contexts. We need to slow down the development and spread of resistance so that the antibiotics we have continue to work for as long as possible. We also urgently need to devote more resources to the research and development of new antibiotics.

Here is the prescription for action from the World Health Organisation (WHO).

Doctors, nurses, veterinarians and other health workers
Don’t prescribe or dispense antibiotics unless they are truly necessary and you have made all efforts to test and confirm which antibiotic your human patient or the animal you are treating should have. Today, it is estimated that in half of all cases, antibiotics are prescribed for conditions caused by viruses, where they do no good. You can also do more to prevent infections in the first place by ensuring your hands, instruments and environment are clean, and employing vaccines where appropriate.

People using healthcare
Take antibiotics only when prescribed by a certified health professional, but also don’t be timid about asking if you feel you really need them. If you take an antibiotic, always complete the full prescription, even if you feel better, because stopping treatment early promotes the growth of drug-resistant bacteria.

Farmers and others in the agriculture sector
Ensure that antibiotics given to animals are used only to control or treat infectious diseases and under veterinary supervision. Misuse of antibiotics in livestock, aquaculture and crops is a key factor contributing to antibiotic resistance and its spread into the environment, food chain and humans. Clean and uncrowded conditions and vaccination of animals can reduce the need to use antibiotics.

Governments
We need robust national action plans to tackle antibiotic resistance. Critical steps are improved surveillance of antibiotic-resistant infections, regulation of the appropriate use of quality medicines, and education about the dangers of overuse.

Development organisations
Compared with populations in industrialised nations, people in low-income countries are not getting fair access to antibiotics. Countries seeking donor help to strengthen their health systems need guidance to ensure essential antibiotics are affordable, reach the people who really need them, and are used responsibly.

Industry
Industry needs to move faster and more aggressively to research and develop new antibiotics, but we also have to implement new ways of stimulating research and development. Many talk of an antibiotic “discovery void” since the late 1980s. We are currently in a race between drug development and bacterial evolution.

Incentives for developing new antibiotics can help. There are some encouraging trends.

For example, the EU, the UK, the US and Canada have moved forward on projects to fill this knowledge gap by directly funding basic and clinical research by scientists; working with pharmaceutical companies; and offering monetary prizes for new diagnostics needed to use antibiotics more responsibly.

But it is clear that a new, more global approach is needed. The WHO global action plan on antimicrobial resistance calls for the creation of new partnerships to foster the development of antibiotics. The WHO and the drugs for neglected diseases initiative are working on the creation of a global antibiotic research and development facility that will collaborate closely with the pharmaceutical industry, universities, civil society and health authorities worldwide. The partnership will also ensure that new drugs are affordable for all and embed the need for conservation of new antibiotics in the development process.

Without a novel system for using antibiotics, we will repeat failed historic efforts to capitalise on one of the greatest scientific discoveries the world has ever seen.

Time is running out.

Marc Sprenger is director of the World Health Organisation’s secretariat for antimicrobial resistance

source: http://www.theguardian.com/

 

 

KKI Dorong Diterbitkannya Peraturan Gratifikasi Dokter

Kongsil Kedokteran Indonesia (KKI) mendorong pihak berwenang untuk membuat peraturan tentang gratifikasi dokter. Hal itu sangat penting sebagai bentuk pengawasan agar tidak ada para pihak yang dirugikan.

“Pemberitaan yang menyebutkan dokter menerima suap dari perusahaan farmasi, dikhawatirkan menimbulkan kesalahfahaman terhadap profesi dokter. Mengingat, aturan tentang gratifikasi dokter hingga kini belum ada,” kata Komisioner KKI, Bambang Suptiyatno dalam penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/11).

Bambang menjelaskan, pihaknya sebenarnya telah menggelar sejumlah rapat dengan organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) terkait dengan gratifikasi dokter. Namun, materinya belum mencapai titik final.

“Pembahasan materinya jeda dulu, karena IDI saat ini lagi bermuktamar. Nanti hasilnya akan kita ajukan ke pihak berwenang sebagai bahan masukan,” tutur dokter spesialis anak tersebut.

Bambang menegaskan, dokter dan dokter gigi sepatutnya tidak terlibat dalam praktik suap dan gratifikasi dengan perusahaan farmasi. Apalagi bila berdampak pada pengambilan keputusan klinisnya (clinical judgement).

“Oknum dokter yang menerima gratifikasi dengan imbal jasa penulisan resep atau penggunaan alat tertentu adalah pelanggaran disiplin profesi. Jika terbukti mereka layak mendapat hukuman,” ujar dokter yang sehari-hari praktik di RS Ciptomangunkusumo.

Namun, Bambang kembali menegaskan, tindakan yang tidak terpuji beberapa oknum dokter tersebut tidak seharusnya mencederai kinerja dokter yang sudah bersungguh-sungguh menjalankan profesinya.

“Pelurusan ini penting agar masyarakat tidak ragu dalam memperoleh layanan kesehatan dari dokter,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Bambang, KKI tengah melakukan sejumlah upaya guna menanggulangi situasi itu secara sistemik. Disebutkan, bila ada pengaduan terhadap oknum dokter tentang praktik peresepan atau kolusi penggunaan obat dan alat, maka KKI melalui Majelis Kehormatan Disiplin kedokteran indonesia (MKDKI) akan diproses untuk membuktikan kebenarannya.

“Jika terbukti KKI akan memberi sanksi pada oknum dokter tersebut,” ujarnya.

Ditambahkan, KKI juga akan mengkaji berbagai hal untuk mencegah terjadinya tindakan yang secara profesi dikategorikan tidak terpuji. Apa saja yang tidak boleh dilakukan dokter, terkait denga sponsorhip dan pengembangan keilmuan dokter.

“Apakah biaya akomodasi yang diterima dokter saat seminar oleh perusahaan farmasi di luar negeri untuk peningkatan keilmuan dokter itu dianggap sebagai gratifikasi atau bukan. Itu harus dijelaskan karena peningkatan ilmu itu penting bagi dokter,” kata Bambang menandaskan. (TW)

 

A Global Health Crisis: Is Antibiotic Resistance Dangerous? Find Out What WHO Has to Say

A recent survey conducted describes the misconceptions about antibiotic tolerance as a “global health crisis” was found to be all over the place.

With the effort to put an end to the threats posed by antibiotics tolerance, The World Health Organization has surveyed a number of 10,000 people across 12 countries as part of the CDC’s “Get Smart About Antibiotics Week,”

Surprisingly, although 64 per cent of the respondents claimed that antibiotics can cure common cold and flu and 32 per cent have noted that an individual should stop taking antibiotics once they feel better, Dr. Holly Phillips, CBS News medical contributor have identified both information as unsubstantiated.

As stated by Dr.Phillips, antibiotics have no effect against the common cold and flu, since they’re both viruses. He says that the chances of increasing the risk of your infection not being cleared out properly becomes higher when you stop taking your antibiotics rather than completing the prescribed course.

As per CBS News, the survey found that 76 per cent of the respondents have misunderstood the concept of “resistance”. They had a notion that antibiotic resistance meant the body was becoming resistant where in fact it’s actually the bacteria that becomes resistant.

Furthermore, as Dr. Phillips explains it, if a bacterium has been exposed with antibiotics on a regular basis, they tend to adapt to it and evolve until antibiotics can no longer kill them. Thus making them clever microorganisms.

Dr. Phillips believes that this phenomenon should be considered as a global issue because a deadly and contagious kind of bacteria, known as superbugs are now emerging and this kind of bacteria are also known to be resistant to all antibiotics.

Currently, authorities are now taking a large scale initiative on the use of antibiotics for livestock as it has been lately found that 80 per cent of antibiotics used across the world was generated from animal feed and/or water for growth promotion and prevention of disease. Just last month, Jerry Brown, Governor of California has also passed a legislation to limit the use.

source: http://www.foodworldnews.com/

 

 

Dokter Layanan Primer Penting di Indonesia

JAKARTA – Sebagian besar masyarakat bertumpu pada aktivitas pusat kesehatan masyarakat. Dengan demikian penguatan pusat kesehatan masyarakat di tingkat primer harus dilaksanakan secepatnya. Seperti mutu pelayanan, sistem pelayanan dan pebiayaan kesehatan yang harus ditingkatkan.

Tidak hanya sarana dan prasarananya, namun juga peningkatan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan di layanan primer. Dokter Layanan Primer (DLP) pun dinilai berperan penting dalam menguatkan layanan kesehatan tingkat primer (FKTP).

“Kita ingin memperkuat sistem layanan kesehatan primer. Layanan kesehatan di Indonesia itu kan berjenjang dari tingkat primer, sekunder, dan tersier,” papar Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Pelayanan, Prof Dr dr Akmal Taher SpU(K) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Rabu (18/11/2015).

Dijelaskan Prof Akmal, dengan keunikan geografis, serta spesifikasi masyarakat, Indonesia membutuhkan pelayanan kesehatan yang sesuai masalah kesehatan di masa depan.

“Tahun 2015 diprediksi adanya pergeseran penyakit kearah tidak menular, namun tingginya penyakit yang belum tuntas menjadi beban tertinggi saat ini. Saat ini BPJS kesulitan dana Rp5 triliun sampai Desember 2015. Dengan demikian penguatan layanan primer sangat strategis,” jelasnya.

Menurut Prof Akmal, saat sakit, pasien harus datang ke layanan primer, seperti puskesmas atau klinik untuk mendapatkan rujukan. Bukan ke dokter spesialis. Dengan memperkuat layanan primer, dokter di layanan primer juga akan melakukan upaya preventif dan promotif untuk mencegah masyarakat sakit.

“Kalau kuat layanan primernya, pasien nggak perlu dirujuk ke fasyankes sekunder. Yang dicegah supaya nggak sakit juga banyak. Dengan begini, masyarakat untung karena biaya transportasi nggak tinggi, fasyankes primer kan dekat dengan mereka,” ujarnya.

Saat ini, di layanan primer adalah dokter yang lulus dari Fakultas Kedokteran atau sering disebut dokter umum. Ada juga yang bersekolah lagi menjadi dokter spesialis yang menambah pengetahuannya khusus di satu bidang.

“Ini yang disebut dokter spesialis layanan primer. Ditambah kemampuan dia untuk melakukan pencegahan penyakit. Penambahan area kompetensinya yaitu manjemen fasyankes primer, pengelolaaan kesehatan yang berorientai pada komunitas dan masyarakat, dan kepemimpinan. Ini pun akan sangat membantu masyarakat,” tandasnya.

source: http://lifestyle.sindonews.com

 

Ignorance about antibiotics propelling global ‘superbug’ crisis

Antibiotic resistance threatens to reverse gains in life expectancy and undermine surgical advances like joint replacements — and misconceptions about the problem may be making it worse, the World Health Organization warned on Monday.

A multi-country survey conducted by the WHO uncovered dismaying — and dangerous — misunderstandings about the problem, which arises when bacteria mutate into new strains that can withstand most or all the antibiotics in the modern medicine chest. Those bacteria, often dubbed “superbugs,” can be deadly.

Concerted action is needed to stem the rising tide of resistance, the Geneva-based global health agency said. Without it, some procedures that are now routine in health care may be too risky to undertake, said Dr. Keiji Fukuda, the WHO’s special representative for antimicrobial resistance.

“Antibiotics are really one of the miracles of the time that we live in. They are a global good. And they are also a global good that we cannot take for granted,” Fukuda told reporters.

“By reducing the ability to handle infections, we are really talking about the ability to treat many chronic diseases — diseases like diabetes, like cancer. Patients who have these kinds of diseases are susceptible to infections. … Consequently people are going to have infections for longer. More people are going to die. It’s going to cost more.

“Resistant bacteria cause 23,000 deaths and more than 2 million illnesses in the US each year, according to the Centers for Disease Control and Prevention. A British report last year predicted the global death toll from superbugs could reach 10 million a year by 2050.

The WHO survey found people don’t understand the problem. A third of survey respondents thought they should stop taking an antibiotic prescription when they start to feel better — a practice that helps to drive resistance, because bacteria that haven’t been killed by the initial doses may multiply and mutate.

Overuse of antibiotics also spurs resistance, and the survey found more troubling news in that arena: Nearly two-thirds of respondents thought antibiotics were effective treatments for colds and the flu, even though those illnesses are caused by viruses — which are immune to the drugs. And one-quarter of respondents felt it was OK to take antibiotics that had been prescribed for someone else, as long as they were being used to treat the same illness.

Other questions revealed that respondents didn’t understand how resistance works. Two-thirds thought people who take their drugs correctly are not at risk, and 44 percent felt that that resistance is only a problem for people who regularly take antibiotics. In fact, a person who has never taken antibiotics could be infected with a resistant strain of bacteria and so could a person who only takes the drugs as directed.

The way resistance plays out also eluded most people, with 76 percent believing it means antibiotics stop working for them because their bodies become resistant to the drugs. In fact, it’s the bacteria that become resistant. They can then spread to infect other people.

The survey did suggest that people are open to potential solutions. Seventy-three percent of respondents said farmers should reduce the amounts of antibiotics used in food production. Agricultural use of antibiotics is enormous, exceeding human use many times over. The drugs are mostly used to promote growth of livestock, not to treat sick animals.

A few countries — Denmark and the Netherlands among them — have stopped using antibiotics as growth promoters, said WHO’s director-general, Dr. Margaret Chan, who noted farmers are able to charge premium prices for their meat as a result.

Fukuda said the WHO hopes to see signs of progress over the next five to 10 years, with countries uniformly adopting good practices for the prescription and use of antibiotics. That should lead to a decline in the numbers of people hospitalized with and deaths caused by antibiotic resistant infections. But he cautioned there is tough slogging ahead.

“To turn this around in all parts of the world is going to take us decades. And it’s not going to be a one-time action. We’re going to have to sustain it. It’s basically a race against the pathogens that we deal with,” Fukuda said.

The survey was completed by more than 10,000 people in 12 countries. Two countries from each of the WHO’s six regional divisions were selected to be surveyed. The United States was not among the countries selected.

source: http://www.statnews.com

 

 

Memotret Kondisi Kesehatan Indonesia

IT is health that is real wealth and not pieces of gold and silver. (Mahatma Gandhi)

Sehat merupakan hak asasi setiap warga negara yang diatur dalam konstitusi Indonesia. Tidak hanya sebagai hak, “sehat” menjadi kewajiban negara karena sejatinya komponen tersebut merupakan investasi penting bagi suatu bangsa.

Rakyat yang sehat bukan hanya sehat fisik, melainkan juga sehat secara mental, sehat dalam pergaulan sosial, dan tak lepas dari pembinaan aspek spiritual.

Kini rakyat Indonesia mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak “double burden” alias beban ganda. Keempat transisi tersebut adalah transisi demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku.

Transisi demografi ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat, berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap saja belum berkurang.

Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok kasus penyakit, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan HIV tetap eksis dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan dalam jumlah yang tidak sedikit.

Transisi ketiga terjadi pada sektor gizi. Di satu sisi kita berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/ obesitas), sementara kasus gizi kurang masih tetap terjadi.

Transisi keempat adalah pada pola perilaku (gaya hidup). Perilaku hidup “modern”, atau lebih tepatnya “sedentary” mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya seseorang.

Dari keempat transisi tersebut, yang paling berat membebani kita saat ini adalah peningkatan prevalensi penyakit tidak menular. Dulu, penyakit jantung, pembuluh darah, gagal ginjal, stroke, hipertensi, kencing manis, kanker, dan lainlain penyakit kronis akrab dengan populasi penduduk kaya. Kini, penduduk dengan penghasilan menengah ke bawah juga sudah banyak yang mengalami sakit serupa.

***

Jika dirunut di mana masalahnya, akan kita temukan bahwa penyelamatan dan pengelolaan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai dari pembuahan hingga anak berusia dua tahun, memiliki peran yang sangat besar. Setelah fase HPK tersebut, akar penyebab ikutan yang makin memberatkan kita adalah “sedentary life style” pola hidup yang tidak sehat akibat penerapan diet yang keliru dan rendahnya aktivitas fisik.

Langkah pencegahan dan penanggulangan masalah ini bisa kita mulai sesegera mungkin. Adapun langkah-langkahnya adalah selamatkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan penerapan diet sehat serta aktivitas fisik yang teratur. Karena itu, perlu ada gerakan bersama untuk dua hal ini, gerakan masyarakat sadar gizi dan gerakan masyarakat sadar olahraga.

Guru besar administrasi kesehatan dari Universitas Berkeley Henrik L Blum menyatakan bahwa ada empat faktor yang memengaruhi status kesehatan manusia/rakyat, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik/keturunan.

Secara sederhana, Hodgetts dan Cascio membagi dua pelayanan kesehatan, yaitu pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan perorangan. Pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh ahli kesehatan masyarakat, dengan perhatian utama pada upaya memelihara kesehatan rakyat dan mencegah penyakit.

Sasaran utama layanan kesehatan masyarakat adalah kelompok atau masyarakat secara keseluruhan dan selalu berupaya mencari cara yang efisien.

Pelayanan kesehatan berikutnya adalah layanan kesehatan perorangan yang tenaga pelaksana utamanya adalah dokter, dengan perhatian utama pada penyembuhan dan pemulihan penyakit. Sasaran utama adalah perorangan dan keluarga. Jenis layanan ini menurut Hodgetts dan Cascio kurang memperhatikan aspek efisiensi.

Untuk Indonesia, pelayanan kedokteran (kesehatan perorangan) masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dari segi kuantitas, dokter umum per 17 November 2015 (Data KKI) sebanyak 108.028 dokter umum yang memiliki STR saat ini mestinya cukup untuk melayani 152.721.329 peserta JKN.

Faktor distribusi dokter yang kurang baik kemudian menjadi catatan tersendiri sehingga sebagian peserta JKN terutama di daerah pedalaman, kepulauan, dan perbatasan, menjadi sulit mendapatkan akses ke dokter.

Terjadi penumpukan dokter di kota dan daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi karena pendapatan dokter sekitar 80% dari praktik pribadi. Sekalipun memang dalam era JKN pendapatan dari praktik pribadi pelan-pelan berkurang/menghilang. Aspek ini tidak bisa tidak harus diperhitungkan bila ingin menata persebaran dokter.

Jumlah dan kondisi puskesmas saat ini ada 9.799. Persebarannya tidak seimbang dengan jumlah dokter umum dan pertambahan dokter sekitar 5.000 orang per tahun profesional dokter per tahun. Akibatnya, BPJS sebagai pelaksana JKN belum dapat mengandalkan seluruh puskesmas tersebut sebagai ujung tombak pelayanan.

***

Saat ini, setelah hampir dua tahun JKN berjalan, dokter umum yang ditempatkan pada garda terdepan pelayanan kesehatan masih dibayar lebih rendah dari kepantasan dan beban kerja, serta tidak mempunyai kepastian pendapatan.

Model pembayaran kapitasi yang besarannya kurang layak menjadikan dokter (terutama yang bukan PNS) berada dalam kekhawatiran beban finansial yang cukup mengganggu. Hal ini secara tidak langsung berpotensi menyebabkan berkurangnya kualitas pelayanan yang dapat merugikan pasien.

Tahun 2015 ini Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kembali bermuktamar dan menawarkan konsep pelayanan kesehatan terstruktur yang merata dan berkeadilan untuk mengurai sebagian dari masalah kesehatan dalam era JKN sekarang ini. Disebutkan bahwa pelayanan kesehatan baik kesehatan masyarakat maupun kesehatan per orangan (kedokteran) hanyalah memiliki kontribusi 15% dalam meningkatkan derajat kesehatan penduduk.

Memang boleh dikatakan sangat kecil, namun bila tanggung jawab ini dilaksanakan dengan sebaikbaiknya tentu memiliki makna yang sangat berarti. Bagian yang lebih besar lagi merupakan tanggung jawab sektor di luar pelayanan kesehatan dan pelayanan kedokteran.

Karena itu ke depan Indonesia perlu merumuskan sistem kesehatan nasional (SKN) yang mengintegrasikan sektor-sektor lain di luar kesehatan, yang diyakini mempunyai pengaruh besar dalam meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia.

Bahkan karena sistem kesehatan mengatur dan mengintegrasikan sektor di luar sektor kesehatan, SKN perlu diatur dalam melalui undang-undang. Sebagai padanannya adalah mengatur sistem pembiayaan diatur melalui UU SJSN dan UU BPJS. Salam Sehat Indonesia!

source: http://nasional.sindonews.com/

 

Yogyakarta Raih Anugerah Desa Pangan Aman 2015

Desa Wirogunan, Bantul, Yogyakarta mendapat penghargaan Desa Pangan Aman 2015 dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM). Penghargaan tersebut diberikan karena desa tersebut memiliki komitmen tinggi terhadap keamanan pangan.

“Selain juga memiliki kader keamanan pangan yang aktif dan program mandiri keamanan pangan yang mampu meningkatkan perekonomian desa,” kata Kepala Badan POM, Roy Sparingga dalam acara malam penganugerahan “Desa Pangan Aman” di Jakarta, Selasa (17/11) malam.

Desa lain yang mendapat penghargaan serupa adalah desa Nagari Cupak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, desa Lokatabat Selatan, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatann Desa Kuala Secapah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Desa Pujiharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Desa Mendalo Darat, Kota Muaro Jambi, Jambi dan Cibubur, Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Dijelaskan, pemberian anugerah “Desa Pangan Aman” merupakan bagian dari Program Nasional Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat ekonomi desa dengan program keamanan pangan melalui kemandirian masyarakat desa.

“Diharapkan, upaya tersebut menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang aman dan bermutu hingga tingkat perseorangan. Serta memperkuat ekonomi desa dengan meningkatkan daya saing usaha pangan desa,” ujar Roy.

Ditambahkan, Program Nasional GKPD yang diluncurkan Badan POM sejak 2014 itu telah mengintervensi 390 desa di 31 provinsi. Kegiatan tersebut menghadilkan sekitar 3.600 Kader Keamanan Pangan Desa terdiri dari ibu PKK, karangtaruna, guru, tenaga Penyuluh Keamanan Pangan (PKP) dan District Food Inspector (DFI) serta 10.800 komunitas desa/kelurahan.

“Program GKPD sarat dengan keterpaduan dan koordinasi, karena melibatkan semua pihak terkait, baik jajaran pemerintahan, tatanan masyarakat termasuk pelaku usaha pangan desa sebagai pilar ekonomi di pedesaan,” tuturnya.

Tujuh desa yang mendapat anugerah Desa Pangan Aman diharapkan dapat menjadi percontohan bagi desa/Kelurahan lainnya untuk dapat melakukan GKPD secara mandiri dan swadaya untuk masyarakat desa.

Roy mengajak desa-desa lainnya di Indonesia untuk terus berkomitmen terhadap keamanan pangan. “Selain dapat menyediakan pangan yang aman untuk masyarakat, program keamanan pangan juga mampu meningkatkan daya saing usaha pangan desa,” kata Roy menandaskan. (TW)

 

World Health Day 2016: Diabetes

Background

In 2008, an estimated 347 million people in the world had diabetes and the prevalence is growing, particularly in low- and middle-income countries.

In 2012, the disease was the direct cause of some 1.5 million deaths, with more than 80% of those occurring in low- and middle-income countries. WHO projects that diabetes will be the 7th leading cause of death by 2030.

Diabetes is a chronic disease that occurs either when the pancreas does not produce enough insulin or when the body cannot effectively use the insulin it produces. Insulin, a hormone that regulates blood sugar, gives us the energy that we need to live. If it cannot get into the cells to be burned as energy, sugar builds up to harmful levels in the blood.

There are 2 main forms of the diabetes. People with type 1 diabetes typically make none of their own insulin and therefore require insulin injections to survive. People with type 2 diabetes, the form that comprises some 90% of cases, usually produce their own insulin, but not enough or they are unable to use it properly. People with type 2 diabetes are typically overweight and sedentary, 2 conditions that raise a person’s insulin needs.

Over time, high blood sugar can seriously compromise every major organ system in the body, causing heart attacks, strokes, nerve damage, kidney failure, blindness, impotence and infections that can lead to amputations.

World Health Day 2016: Key messages

WHO is focusing the next World Health Day, on 7 April 2016, on diabetes because:

  1. The diabetes epidemic is rapidly increasing in many countries, with the documented increase most dramatic in low- and middle-income countries.
  2. A large proportion of diabetes cases are preventable. Simple lifestyle measures have been shown to be effective in preventing or delaying the onset of type 2 diabetes. Maintaining normal body weight, engaging in regular physical activity, and eating a healthy diet can reduce the risk of diabetes.
  3. Diabetes is treatable. Diabetes can be controlled and managed to prevent complications. Increasing access to diagnosis, self-management education and affordable treatment are vital components of the response.
  4. Efforts to prevent and treat diabetes will be important to achieve the global Sustainable Development Goal 3 target of reducing premature mortality from noncommunicable diseases (NCDs) by one-third by 2030. Many sectors of society have a role to play, including governments, employers, educators, manufacturers, civil society, private sector, the media and individuals themselves.

Goal of World Health Day 2016: Scale up prevention, strengthen care, and enhance surveillance

The main goals of the World Health Day 2016 campaign will be to:

  1. Increase awareness about the rise in diabetes, and its staggering burden and consequences, in particular in low-and middle-income countries;
  2. Trigger a set of specific, effective and affordable actions to tackle diabetes. These will include steps to prevent diabetes and diagnose, treat and care for people with diabetes; and
  3. Launch the first Global report on diabetes, which will describe the burden and consequences of diabetes and advocate for stronger health systems to ensure improved surveillance, enhanced prevention, and more effective management of diabetes.

source: http://www.who.int