KABUT ASAP: Menkes Tetapkan Kondisi Darurat Kesehatan

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila FA Moeloek menetapkan kondisi darurat kesehatan pada 79 kabupaten/kota di Sumatera dan Kalimantan yang terkena dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kami sudah membuat surat edaran kepada kabupaten/kota yang terkena dampak asap kebakaran hutan dan lahan untuk segera ambil tindakan pada masyarakat jika melihat indeks standar pencemar udara (ISPU) sudah diatas 400,” kata Nila kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (22/10).

Nila mengatakan status darurat kesehatan ditetapkan ketika pemerintah daerah menyatakan sudah tidak sanggup mengatasi masalah sendiri.

“Saat itulah, pemerintah pusat wajib mengulurkan bantuan,” ujarnya.

Isi edaran itu, lanjut Nila, antara lain melakukan langkah pencegahan dengan mendirikan rumah singgah dan tenda isolasi. Dinas Kesehatan juga diminta ikut memantau perubahan indeks standar pencemaran udara (ISPU) setiap 24 jam.

Tindakan lain yang harus diambil, Nila menyebutkan, antara lain, meliburkan sekolah agar anak-anak tidak beraktivitas di luar rumah.

“Dalam rumah pun perhatikan apakah ventilasinya tertutup dengan baik. Tutup ventilasi dengan kain basah agar partikel beracunnya tidak masuk rumah,” ujarnya.

Jika kondisi rumah tidak memiliki ventilasi yang baik, Nila mengusulkan agar pemerintah daerah melakukan tindakan evakuasi ke fasilitas umum yang diubah menjadi rumah penampungan.

“Gedung olahraga atau gedung pertemuan bisa dipergunakan untuk evakuasi masyarakat. Perhatikan ventilasinya apakah terjadi. Begitupun sanitasinya. Evakuasi dilakukan terutama pada anak-anak dan orangtua yang memiliki gangguan pernafasan,” katanya.

Untuk mengatasi kondisi darurat kesehatan ini, Nila mengatakan, pemerintah pusat telah membagikan 33,8 ton alat medis, seperti obat, masker, oksigen, dan sumber daya kesehatan lainnya. Semua itu, menggunakan dana operasional Kemenkes.

Selain itu, Nila mengatakan, pihaknya juga telah membagikan penjernih air dan penjernih udara ke shelter atau rumah singgah.”Di Palangkaraya sudah ada tiga shelter. Kita butuh lagi lima dan malam ini akan didirikan,” ujarnya.

Tak cukup rumah singgah, Kemenkes dan lintas sektor juga mengutus Pemda setempat untuk mendirikan tenda isolasi untuk bantuan evakuasi korban kabut asap.

“Tenda isolasi yang sudah didistribusikan ada 15 unit. Karena tenda ini tidak mudah dan murah, kami minta kepada lintas sektor, LSM dan NGO untuk membantu mendistribusikan tenda isolasi secepatnya,” ucap Nila. (TW)

{jcomments on}

Wapres: Perbanyak Upaya Promotif dan Preventif

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Kementerian Kesehatan untuk memperbanyak upaya promotif dan preventif. Karena seberapa pun besar uang digelontorkan untuk kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif, hal itu tak akan pernah cukup.

“Mari kita giatkan lagi kegiatan yang bersifat promotif dan preventif seperti Jumat bersih, senam kesehatan jasmani, senam poco-poco, kerja bakti lingkungan. Ini adalah hal sederhana yang bisa membuat kita hidup sehat,” kata Jusuf Kalla saat rapat kerja dengan jajaran Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (21/10).

Wapres mencontohkan, kasus tahunan saat terjadi perpindahan dari musim kemarau ke musim hujan. Pada masa transisi itu, kasus penyakit demam berdarah dengue meningkat tajam. Begitupun pada kebutuhan darah untuk transfusi.

“Mulai dari sekarang kita lakukan bersih-bersih. Karena kasus DBD bisa ditekan jika lingkungan bersih, air selokan mengalir dan tidak ada genangan air,” ucap JK yang pada kesempatan itu didampingi Menteri Kesehatan (Menkes), Nila FA Moeloek dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Sofyan Djalil.

Wapres juga meminta pada kepala daerah untuk tidak menjadikan pengobatan gratis sebagai materi kampanye. Sebab kampanye pengobatan gratis jelas tidak mendidik.

“Pola berpikir masyarakat akan tidak terfokus pada sakit gratis. Jadi tidak apa-apa jatuh sakit karena toh tidak perlu keluar biaya untuk berobat,” ujarnya.

Karena itu, wapres menilai lebih baik masyarakat sehat tetapi produktif dan bisa menghasilkan uang. Daripada sakit meski pengobatannya gratis.

Sementara itu Menkes Nila mengatakan, perubahan pola berpikir tidak hanya pada masyarakat tetapi juga dokter dan para medisnya. Sehingga mereka mulai memikirkan kegiatan yang bersifat promotif dan preventif, tak hanya berkutat dikuratif. (TW)

{jcomments on}

World Health Organization Seeks National Smoke-Free Law for China

One million people per year in China die of tobacco-related illnesses, a number that could be if the country adopted a nationwide smoke-free law similar to Beijing’s smoking ban, the World Health Organization (WHO) announced Monday.

“China’s addiction to tobacco is taking a dreadful toll on its health, its society, and its economy. And China’s smokers are not only hurting themselves, but also their friends, family, and others around them. The rates of exposure to second-hand smoke are extraordinarily high, with devastating health consequences for those affected,” said Dr. Bernhard Schwartländer, WHO Representative in China, in a statement.

More than 1 million people die each year in China from tobacco-related illnesses. If current smoking habits continue, this number is expected to triple by the year 2050, WHO said.

An additional 100,000 people die in China every year as a result of exposure to second-hand smoke, which can make indoor venues more polluted than the air outside even on the most heavily polluted days.

“China is unfortunately a world leader in second-hand smoke exposure: among the countries we work in, China has the highest rates of smoking in workplaces and homes, and among the highest rates in restaurants and bars. This puts the health of millions of non-smokers at risk every single day,” said Dr. Geoffrey T. Fong, principal investigator, of the International Tobacco Control Policy Evaluation Project (ITC Project).

The new report issued Monday demonstrates that there is likely to be strong popular support for a national smoke-free law. The ITC Project data shows that even smokers are supportive of smoke-free laws, particularly in workplaces. Support for smoke-free bars among smokers is higher in China than it was in other countries, such as Ireland, Scotland (United Kingdom), and France before such smoking bans were introduced.

Beijing banned smoking in public spaces on June 1, which coincides with WHO’s No Tobacco Day. While the ban has been largely successful so far, the arrival of colder weather – and the continued willingness of Beijingers to report smoking citizens that is the key enforcement mechanism of the new law – will determine its long-term success.

Photo: World Health Organization

source: http://www.thebeijinger.com

 

 

Kabut Asap: Masker N95 Tak Boleh Dipakai Seharian

Kepala Pusat Komunikasi Publik (Puskompublik) Kementerian Kesehatan, Murti Utami mengingatkan penggunaan maskes bedah N95 yang banyak dipergunakan masyarakat di wilayah yang terkena kabut asap akibat kebakaran hutan. Masker tersebut tidak boleh dipergunakan seharian.

“Setelah 8 jam, kualitas masker N95 sudah tak efektif lagi menahan partikel dari asap. Untuk itu segera pakai yang baru jika sudah lebih dari 8 jam,” kata Murti Utami dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (19/10). Ia menjelaskan, komponen asap yang terjadi atas dampak kebakaran hutan terdiri atas gas, partikulat dan uap. Masing-masing komponen asap tersebut memiliki dampak terhadap kesehatan.

“Sebenarnya belum ada satupun jenis masker/respirator yang dapat memproteksi semua komponen gas dari asap kebakaran hutan. Masker yang beredar saat ini dipergunakan untuk keperluan bedah, yang didesain untuk memfilter partikel besar,” ujarnya.

Sedangkan komponen dalam asap sisa pembakaran memiliki partikel besar dan kecil. Penggunaan masker bedah N95 masih tetap bisa memasukkan 60-70 persen partikel ke dalam saluran pernafasan.

“Ada beberapa jenis respirator yang beredar di masyarakat, yaitu air purifying device dan air supplying device. Air purifying device memiliki beberapa jenis seperti N100, N95, R100, P100 dan lainnya yang didasarkan pada kemampuannya memfiltrasi partikel,” ujarnya.

Ditambahkan, jenis masker N95 merupakan masker yang cukup baik karena dapat menghalangi 95 persen partikel yang masuk (terutama PM 10) jika digunakan dengan teknik dan cara yang tepat,” ujar Murti Utami.

Karena merujuk pada beberapa penelitian, penggunaan masker N95 dan masker bedah tidak berbeda dari segi kejadian ISPA, akibat pajanan asap kebakaran hutan. Hal itu berhubungan dengan teknik penggunaan masker N95 yang tidak tepat.

“Hampir sama dengan penggunaan masker bedah biasa. Jika digunakan dengan teknik dan cara yang benar, masker N95 dapat mengurangi gejala pernapasan yang timbul akibat pajanan asap kebakaran,” tuturnya.

Murti kembali menegaskan, penggunaan masker N95 mempunyai keterbatasan berupa ketidaknyamanan penggunanya dan penggunaannya terbatas, yaitu maksimal hanya 8 jam (disposable).

Berdasarkan literatur, penggunaan masker N95 direkomendasikan pada kondisi berikut ini, yaitu pada seseorang yang harus berada diluar ruangan saat kondisi asap cukup pekat (dilihat dari kualitas udara PM 10 atau ISPU). Selain harus dengan “individual fit test” agar kemampuan proteksinya terjamin dengan baik.

Penggunaan masker N95 tidak direkomendasikan pada anak-anak, ibu hamil, orang tua (lansia), pasien dengan penyakit kardiovaskuler, penyakit paru kronik serta untuk penggunaan di dalam rumah.

“Sampai saat ini, penelitian tentang penggunaan berbagai jenis masker pada kondisi kebakaran hutan masih terus berjalan,” ujarnya. (TW)

 

Fasyankes Didorong Pakai Produk Lokal

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mendorong rumah sakit, Puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan lainnya menggunakan alat kesehatan (alkes) produk dalam negeri. Mengingat alkes yang beredar di pasar saat ini sudah 46 persen buatan lokal.

“Dari 46 persen itu sayangnya hanya 10 persen yang dipakai fasilitas layanan kesehatan (fasyankes). Sisanya pakai produk impor,” kata Darmin Dahuri saat membuka pameran alat kesehatan, Jumat (16/10).

Pameran yang berlangsung 16-17 oktober 2015 itu diikuti 87 peserta industri alat kesehatan.

Ditambahkan, ketergantungan fasyankes pada alat kesehatan impor jelas akan memberatkan anggaran kesehatan. Terlebih, jika nilai dolar naik mengingat pembelian alat kesehatan itu menggunakan kurs dolar.

“Ini tantangan bagi pemerintah bagaimana mendorong rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya seperti klinik dan Puskesmas mau pakai produk lokal. Apalagi jika itu rumah sakit swasta,” ujarnya.

Terkait dengan penggunaan alkes lokal, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek mengatakan, pihaknya telah membuat roadmap yang menjadi acuan bagi rumah sakit untuk menggunakan alat kesehatan buatan lokal. Kerja sama akan dilakukan dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

Jumlah populasi Indonesia merupakan potensi pasar yang dapat dimanfaatkan industri alat kesehatan lokal guna ketahanan komoditi alat kesehatan,” tuturnya.

Ditambahkan, hal itu sejalan dengan agenda pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat sebagai antisipasi ketergantungan pada produk luar negeri. Sekaligus merupakan proses terstruktur agenda alih tehnologi.

Beberapa alat kesehatan yang saat ini sudah diproduksi dalam negeri antara lain hospital furniture, sphygmomanometer & stethoscope, handschoen, alkes elektromedik, alkes disposibel dan lainnya.

Adapun sertifikasi kesehatan buatan asing, menurut Menkes Nila, harus wajib mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan, sama halnya dengan alat kesehatan produk lokal.

“Semua standar alat kesehatan produk lokal, harus punya kualitas sama dengan asing. Untuk itu, ada kebijakan baru yang mengharuskan rumah sakit pakai alat kesehatan lokal,” kata Nila menandaskan. (TW)

{jcomments on}

PHBS Tekan Kasus Diare hingga 94 Persen

Pemerintah kembali mengajak masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), agar kasus penyakit menular berbasis lingkungan bisa ditekan seminimal mungkin.

“Karena banyak penyakit yang timbul akibat tak menjaga kebersihan air, sanitasi dan lingkungan,” kata Direktur Penyehatan Lingkungan, Ditjen Pengendalian Prnyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Kementerian Kesehatan (Kemkes), Imran Agus Nurali, di Jakarta, Kamis (15/10).

Imran menyebutkan beberapa penyakit yang berhubungan dengan PHBS yaitu diare, cacingan, tifus, penumonia, demam berdarah, dan kaki gajah. Penyakit yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan ini menyumbang 3,5 persen dari total kematian di Indonesia.

“Diare mendapat perhatian tertinggi, karena penyakit tersebut menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menjadi penyebab kematian nomor satu pada balita, sebesar 25 persen,” ujarnya.

Selain itu, Imran menambahkan, diare juga berada di urutan nomor tiga sebagai penyebab kematian pada semua umur, sebesar 3,5 persen. Kerugian ekonomi menurut penelitian World Bank 2007 diperkirakan mencapai 2,3 persen dari produk domestik bruto.

“Penerapan PHBS terbukti mampu menurunkan sekitar 94 persen penyakit diare. Caranya sangat sederhana yaitu cuci tangan pakai sabun (CTPS),” kata Imran menegaskan.

Karena itu, lanjut Imran Agus Nurali, kampanye CTPS harus terus digelorakan untuk menjamin meningkatnya kesadaran masyarakat lewat perubahan perilaku secara berkesinambungan.

Adapun perilaku CTPS yang tepat, disebutkan, dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan terasa kotor, setelah buang air, setelah menceboki anak/bayi, setelah menggunakan pestisida dan sebelum menyusui bayi. (TW)

{jcomments on}

Pengobatan Hemofilia Kini Tersedia di RSUD

Guna memudahkan pasien hemofilia berobat, kini sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) membuka layanan hemofilia. Karena penderita hemofilia harus berpacu dengan waktu, jika terjadi perlukaan.

“Kurangnya faktor pembeku, membuat darah yg mengalir dr luka sekecil apapun sulit berhenti. Karena itu, diupayakan fasilitas hemofilia tersedia di RSUD,” kata Kepala Group Komunikasi Publik dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan, Ikhsan di sela acara bertajuk “We Care Hemofilia” di RSUD Kabupaten Tangerang, Rabu (14/10).

Hadir sebagai moderator dalam acara itu, aktris yang juga bintang iklan BPJS Kesehatan, Ria Irawan.

Ditambahkan, meski pasien hemofilia jumlahnya tidak terlalu banyak, namun biayanya sangat besar. Hingga September 2015, BPJS Kesehatan telah membayar Rp 68 miliar untuk 19.072 kasus hemofilia.

“BPJS Kesehatan juga menanggung seluruh biaya pengobatan penderita hemofilia. Diharapkan semua penderita hemofilia bisa mengakses layanan kesehatan semakin dekat lagi,” ujarnya.

Ikhsan menambahkan, hemofilia merupakan jenis penyakit yang membutuhkan biaya sangat mahal. Karena itu negara harus hadir memberikan solusi. “engobatan hemofilia sangat mahal dan berlangsung seumur hidup,” kata Ikhsan.

Diakui sejak awal penyakit diluncurkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hemofilia masuk dalam cakupan manfaat pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan. Tetapi banyak masyarakat yang tidak tahu. Untuk itu, BPJS Kesehatan gencar melakukan sosialisasi.

Sementara itu Rini Purnamasari, dokter spesialis anak daro divisi hematologi onkologi RSU Tangerang menyebut, obat untuk hemofilia yakni faktor pembeku VIII harganya sekitar Rp 2,5 juta per botol dan faktor pembeku IX sekitar Rp 4,3 juta per botol.

Untuk menentukan jenis faktor pembeku darah, dikatakan Dr Rini, pada awal pengobatan seorang pasien hemofilia harus memastikan jenis yang dideritanya, apakah tipe A akibat tubuh kekurangan faktor VIII pembekuan darah, atau hemofilia tipe B akibat kekurangan faktor IX pembekuan darah.

“Karena itu luka sekecil apapun dapat berakibat fatal, karena darahnya tidak dapat berhenti mengucur. Jika tidak ditangani segera maka bisa berakibat fatal berupa kematian,” kata dr Rini menandaskan. (TW)

{jcomments on}

 

Tenaga Kesehatan di Tangsel Ikut Sosialisasi UU Tenaga Kesehatan

Sebanyak 80 tenaga nonmedis di Tangerang Selatan mengikuti sosialisasi Undang-Undang Tenaga Kesehatan. Mereka diharapkan memahami mekanisme kelengkapan administrasi.

Kegiatan yang diikuti tenaga nonmedis klinik dan rumah sakit ini difasilitasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Toni Kusdianto menjelaskan kegiatan ini erat kaitannya dengan penerbitan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan.

“Memang terkadang banyak tenaga kesehatan yang sulit untuk membuat STR. Kami coba memfasilitasi tenaga kesehatan yang memiliki permasalahan surat izin yang lama keluar,” kata Toni di Rumah Sakit Medika, BSD, Tangerang Selatan, Kamis (8/10/2015).

Menurut Toni, STR penting sebagai tanda tenaga kesehatan tersebut kompeten. STR sebagai syarat seorang tenaga kesehatan bekerja di klinik atau rumah sakit.

“Tenaga kesehatan perlu memiliki SIP (Surat Izin Praktik) atau SIK (Surat Izin Kerja) yang dikeluarkan Dinas Kesehatan. Untuk mendapatkan SIP atau SIK ini, mereka harus punya STR yang dikeluarkan oleh MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia),” ujar Toni.

Ketua Divisi Pembinaan Profesi MTKI, Mujiarto, juga menekankan pentingnya STR. Dia menyebut STR bisa jadi dasar kepastian hukum bagi petugas kesehatan terkait pelayanannya pada masyarakat.

“Jadi semua tenaga kesehatan yang melakukan praktik harus memiliki STR. Bagi tenaga kesehatan yang baru lulus sekolah di jurusannya wajib mengikuti uji kompetensi untuk melakukan STR yang berlaku selama lima tahun,” jelas Muji.
TRK

sumber: http://news.metrotvnews.com/

 

Circulating vaccine-derived poliovirus – Lao People’s Democratic Republic

On 8 October 2015, the National IHR Focal Point of the Lao People’s Democratic Republic (PDR) notified WHO of one confirmed type 1 vaccine-derived poliovirus (VDPV) case.

Details of the case

In Lao PDR, one case of circulating vaccine-derived poliovirus type 1 (cVDPV1) was confirmed, with onset of paralysis on 7 September. The patient was 8 years old when he died on 11 September.

Genetic sequencing of the virus confirmed on 6 October that it is vaccine-derived and suggests that it has been circulating in the area for more than two years. The child was in the district of Bolikhan, in Bolikhamxay Province. The district has chronically low immunization rates: reported coverage with 3 doses of oral polio vaccine (OPV) was of 40% to 66% between 2009 and 2014; and 44% in 2015 to date.

Lao’s last case of indigenous wild poliovirus was reported in 1993.

Public health response

Comprehensive outbreak response activities are taking place in response to this outbreak, in line with the Global Polio Eradication Initiative Standard Operating Procedures for responding to a poliovirus outbreak. A joint team of the Ministry of Health, the World Health Organization, UNICEF and the Lao Office of US Centers for Disease Control and Prevention team travelled to the province for further assessment on 7 October. A rapid survey conducted in the affected village showed low vaccine coverage for OPV. Active case finding in the surroundings of the case’s household is ongoing; stool specimens are being collected from healthy children in the case household and community.

Emergency Operations Centers (EOCs) at the national and province level have been activated to coordinate outbreak response activities. Preparations are under way for large-scale supplementary OPV immunization campaigns covering Bolikhamxay province and several adjacent provinces. The scope of additional campaigns will be ascertained following completion of the ongoing investigations.

WHO risk assessment

Circulating vaccine-derived polioviruses (cVDPVs) are rare but well-documented strains of poliovirus mutated from strains in oral polio vaccine (OPV). They can emerge in some populations that are inadequately immunized.

Ending polio for good requires eliminating both wild and vaccine-derived polio, and due to the risk of cVDPVs, use of OPV must be stopped to secure a lasting polio-free world. OPV will be withdrawn in a phased manner, beginning with the removal of type 2-containing OPV. The switch from trivalent to bivalent OPV, planned in April 2016, will reduce the risk of cVDPV substantially (as 90% of cVDPV is caused by type 2) and sets the stage to eventually stop using OPV altogether and transition to the inactivated polio vaccine (IPV), which cannot cause cVDPV.

Because of relatively limited travel to and from this area and the planned immunization activities , the World Health Organization (WHO) assesses the risk of international spread of the cVDPV1 from Lao to be low.

WHO advice

It is important that all countries, in particular those with frequent travel and contacts with polio-affected countries and areas, strengthen surveillance for acute flaccid paralysis (AFP) cases in order to rapidly detect any new virus importation and to facilitate a rapid response. Countries, territories and areas should also maintain uniformly high routine immunization coverage at the district level to minimize the consequences of any new virus introduction.

WHO’s International Travel and Health recommends that all travelers to polio-affected areas be fully vaccinated against polio. Residents (and visitors for more than 4 weeks) from infected areas should receive an additional dose of OPV or inactivated polio vaccine (IPV) within 4 weeks to 12 months of travel.

source: http://www.who.int/

 

 

Resistansi Antibiotik di Negara Miskin Naik, Ini Penyebabnya

Riset terbaru The Center for Disease Dynamics, Economics and Policy (CDDEP) Washington, DC, menunjukkan konsumsi global antibiotik meningkat 30 persen selama periode antara 2000 dan 2010. Penggunaan antibiotik yang terus meningkat di seluruh dunia itu terutama didorong oleh naiknya permintaan pasokan dari negara-negara berpendapatan menengah dan miskin.

Penelitian CDDEP mendokumentasikan tingkat resistansi bakteri terhadap antibiotik pamungkas dan akhirnya dapat mengancam kehidupan di seluruh dunia. Pertumbuhan konsumsi antibiotik didorong mayoritas oleh sejumlah negara berkembang, seperti Afrika Selatan, India, Kenya, dan Vietnam.

Laporan ini menyajikan gambaran yang paling jelas bagaimana dan di mana saja antibiotik digunakan dan prevalensi resistansi antibiotik dari tipe bakteri yang berbeda. Di Afrika Selatan dan India, misalnya, antibiotik tersedia secara bebas dan bisa dibeli tanpa resep dokter. Sanitasi di sejumlah daerah di sana juga buruk yang mendorong penyebaran bakteri.

“Untuk pertama kalinya, kami memiliki data dari negara-negara miskin dan menengah, tempat resistansi antibiotik sangat serius tapi jarang fokus pada solusi kebijakan,” kata Direktur CDDEP, Ramanan Laxminarayan, saat memaparkan hasil penelitiannya pada 17 September lalu.

CDDEP juga menyajikan Resistance Map secara online yang mencakup seluruh dunia. Mereka berharap peta resistansi itu dapat membantu memberdayakan negara-negara miskin untuk mengambil langkah mencegah perkembangan yang lebih buruk.

Data penelitian berasal dari berbagai sumber, dari laboratorium swasta kecil di India sampai kumpulan data di European Centre for Disease Prevention and Control yang mencakup 30 negara. Data juga dipasok dari Afrika Selatan, India, Thailand, Vietnam, Kenya, Australia, dan Selandia Baru.

Organisasi non-profit ini menggunakan data tersebut untuk memetakan tingkat resistansi antibiotik untuk 12 jenis bakteri di 39 negara dan tren penggunaan antibiotik di 69 negara dalam lebih dari 10 tahun. Dari 12 jenis bakteri umum dan berpotensi mematikan itu, termasuk Escherichia coli, salmonella, dan methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

sumber: http://tekno.tempo.co/