HUT Kemerdekaan: Kemenkes Gelar Jalan Sehat

Guna mengajak masyarakat bergaya hidup sehat, Kementerian Kesehatan menggelar kegiatan jalan sehat bersama sekitar 500 orang karyawannya. Kegiatan tersebut bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia.

“Kami ingin masyarakat mau peduli atas kesehatannya dengan melakukan jalan sehat,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Nila FA Moeloek sambil berjalan sehat didampingi dua cucunya, mengitari lapangan Monas, Jakarta, Minggu (16/8)

Dalam sambutannya, Menkes mengatakan, kualitas kesehatan masyarakat menjadi penting guna memperkuat pondasi dan membangun kekuatan untuk mencapai lompatan kemajuan di masa seoab.

“Untuk target besar tersebut, Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang sehat berkualitas,” kata Menkes.

Kementerian Kesehatan, lanjut Prof Nila, memiliki tugas untuk memastikan terselenggaranya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan manusia berkualitas.

Karena itu melalui kegiatan jalan sehat, Menkes mengharapkan seluruh jajaran pegawai di Kemenkes melakukan kampanye untuk hidup sehat dan berperilaku bersih dalam keseharian.

“Selain jalan sehat, kami juga menggelar kegiatan sosialisasi minum jamu untuk kebugaran,” kata Menkes menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Menkes: SDM Berkualitas Jadi Modal Utama

18ags15

18ags15Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Nila FA Moeloek mengingatkan kembali pentingnya pembangunan kesehatan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional. Untuk itu, menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas menjadi modal utamanya.

“Tanpa kesehatan, IQ tidak akan berkembang. Karena itu, saya titipkan kepada masyarakat agar mulai menjaga kesehatan mulai dari diri sendiri,” kata Prof Nila Moeloek dalam pidatonya pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, di Jakarta, Senin (17/8).

Menkes mencatat, selama 70 tahun Indonesia merdeka telah banyak capaian di bidang kesehatan yang ikut mendukung pembangunan nasional. Misalkan, dokter Indonesia telah bisa melakukan cangkok ginjal.

“Sehingga kita tak perlu berobat keluar negeri. Hemat devisa negara. Dalam bidang kesehatan, kemampuan kita tak kalah dibandingkan negara-negara lain, terutama di Asean,”ujarnya.

Menkes menambahkan, hal terpenting dalam dunia kesehatan adalah bagaimana meningkatkan pelayanan kesehatan di tingkat hulu, sehingga yang sehat tidak sampai sakit, dan yang sakit tidak semakin parah.

“Tentu kita tidak mengharapkan semua orang diganti ginjalnya. Karena itu, kita perlu memberi perhatian kepada pejuang-pejuang di layanan kesehatan primer, agar kita betul-betul bisa mendapatkan manusia yang sehat,” ucapnya. (TW)

{jcomments on}

World Humanitarian Day: WHO launches campaign to protect and honour health workers in conflict zones

The UN agency, World Health Organization (WHO), has launched a campaign as a part of World Humanitarian Day (WHD, August 19) to draw attention of world community to the threats faced by health workers and the need for intensifying action to protect health workers in conflict zones.
According to WHO, in the year 2014, as many as 372 attacks in 32 countries on health workers were reported in which 603 of them got killed and 958 injured while doing humanitarian work in various conflict zones.

Launching the campaign, Dr Margaret Chan, WHO Director-General said, “WHO is committed to saving lives and reducing suffering in times of crisis. Attacks against health care workers and facilities are flagrant violations of international humanitarian law. Health workers have an obligation to treat the sick and injured without discrimination. All parties to conflict must respect that obligation,” reported the WHO website.
According to WHO, in 2015, hundreds of health workers have died in conflict zones and fighting disease outbreaks such as Ebola that inflicted 875 health workers of which 509 have died so far.

Similarly in Iraq, more than 180 front line health services in 10 governorates have been withdrawn due unwanted attacks on health workers leaving millions of refugees, internally displaced persons and host communities without access to health care.

In the light of the foregoing, WHO has made a call to world community for honouring and protecting health workers during all kinds of crises.

source: http://www.merinews.com/

 

 

Rayakan Kemerdekaan, Menkes Apresiasi Pahlawan Kesehatan

Semangat memperingati kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diapresiasikan untuk para pahlawan tenaga kesehatan.

Menteri Kesehatan Prof Dr dr Nila Moeloek, SpM(K), mengatakan Indonesia membutuhkan sumber daya manusia berkualitas dan modal utamanya adalah kesehatan. Oleh karena itu ia ucapkan apresiasi dan terima kasih kepada para tenaga kesehatan yang berjuang terutama di fasilitas primer.

“Kami mengharapkan sekarang pejuang-pejuang di layanan kesehatan primer ini, mari kita berikan perhatian lagi agar kita betul-betul mendapat manusia yang sehat,” kata Nila di Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2015).

Sejak Indonesia merdeka 70 tahun lalu, menurut menkes sudah banyak kemajuan di bidang kesehatan Indonesia yang patut dibanggakan. Namun tetap masih banyak juga angka kejadian orang sakit sehingga peran para pahlawan kesehatan sangat dibutuhkan.

“Sudah cukup banyak (pencapaiannya -red), kita sudah 70 tahun. kalau kita lihat dari keahlian sumber daya manusia kesehatan di RSCM cangkok ginjal itu sudah bisa dilakukan jadi tak perlu lagi ke luar negeri,” kata Nila.

“Manusia Indonesia itu banyak yang sakit,” pungkasnya.

sumber: http://health.detik.com/

 

BPJS Kesehatan: Biaya Dijamin Penuh Asalkan Sesuai Prosedur

14ags15-1

14ags15-1Direktur Pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Fadjriadinur menegaskan, pihaknya akan menjamin seluruh biaya pengobatan peserta asalkan sesuai prosedur dan indikasi medis.

Pernyataan itu disampaikan Fadjriadinur kepada wartawan di Jakarta, Jumat (15/8) terkait kasus bayi pasangan Aldoria dan Ignatius Sumardi asal Depok dan kasus bayi bernama Khiren Humaira Islami, yang marak diberitakan media massa dalam sepekan terakhir ini.

Hadir dalam kesempatan itu Dirut RS Jantung Harapan Kita, Hananto Andriantono.

Fadjriadinur menegaskan, pihaknya memutuskan untuk membebaskan biaya pengobatan kepada bayi pasangan Aldoria dan Ignasius Sumaryadi yang kini masih dirawat di RSCM Jakarta.

Biaya kesehatan itu akan diberikan lantaran bayi Aldoria telah terdaftar sebagai peserta aktif BPJS kesehatan pada 30 November 2014. Pasangan suami istri itu juga telah mendaftarkan calon bayi dalam kandungan pada 10 Juni 2015 dan membayar iuran calon bayinya pada 24 Juni 2015.

“Kami berharap nyonya Aldori tak perlu mengkhawatirkan soal pembiayaan, karena akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak BPJS Kesehatan dan RS Cipto Mangunkusumo,” ujar Fadjriadinur.

Sebelumnya BPJS menolak membayar tagihan biaya kesehatan bagi bayi nyonya Aldoria sebesar Rp 150 juta. Sebab, bayi Aldoria berdasarkan catatan BPJS belum aktif sebagai kepesertaan BPJS Kesehatan.

Namun, BPJS berubah sikap dengan menanggung biaya tersebut dengan mempertimbangkan ketentuan medis dan syarat prosedural BPJS.

“Akhirnya kita putuskan mencari solusi. Setelah pertemuan antara BPJS, pihak rumah sakit dan keluarga nyonya Aldoira diputuskan untuk membebaskan biaya kesehatan bayi nyonya Aldoria,” ucapnya.

Sedangkan pada kasus bayi bernama Khiren Humaira Islami, Fadjriadinur menegaskan, pihak ya tidak bisa membebaskan biaya kesehatan lantaran orangtua bayi Khiren dianggap menyalahi prosedur. Karena tidak mengurus Surat Eligibilitas Peserta (SEP) seperti saat dilakukannya tindakan operasi pertama dan kedua kalinya.

Seperti dijelaskan, Dirut RSJ Harapan Kita, Hananto bayi Khiren saat datang untuk pengobatan yang ketiga kalinya dari RS Dr M Jamil Padang tidak melakukan prosedur layaknya pasien BPJS Kesehatan, karena tidak membawa SEP.

“Karena itu kami memberlakukan sebagai pasien umum,” ucap Hananto.

Fadjriadinur menambahkan, pihaknya memberi kesempatan pada peserta BPJS untuk mengurus surat-surat paling lama 3 hari setelah pasien dirawat. Jika lewat dari 3 hari, maka akan menjadi pasien umum, yang mana biaya pengobatannya ditanggung sendiri.

“Pada bayi Khiren, orangtuanya baru ngurus setelah perawatan selama 17 hari. Itu sudah melebihi batas waktu. Makanya biaya bayi Khiren tidak bisa ditanggung BPJS Kesehatan. Tidak sesuai prosedur,” kata Fadjriadinur menandaskan. (TW)

{jcomments on}

SDM Kesehatan: 136 Nakes Dapat Penghargaan Teladan

14ags15

14ags15Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Nila FA Moeloek memberi penghargaan teladan kepada 136 tenaga kesehatan (Nakes). Mereka terdiri atas kelompok dokter, bidan, perawat, ahli gizi dan tenaga kesehatan masyarakat yang selama menjadi garda terdepan di Puskesmas.

“Penghargaan ini merupakan wujud terimakasih pemerintah atas pengabdian para nakes di Puskesmas,” kata Prof Nila Meoloek dalam acara pemberian penghargaan tenaga kesehatan teladan, di Jakarta, Kamis malam (16/8).

Keberadaan para tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas tersebut, ditambahkan Menkes, telah berhasil meningkatkan akses dan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu capaian dalam peningkatan akses adalah tersedianya 9.740 puskesmas di seluruh Indonesia.

“Untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK), kami punya program bernama Nusantara Sehat. Itu merupakan strategi penempatan tenaga kesehatan berbasis tim di layanan primer DTPK,” ujarnya.

Disebutkan, peserta Nusantara Sehat terdiri dari tenaga dokter, perawat, bidan, apoteker/ahli farmasi, tenaga sanitasi lingkungan, ahli gizi, tehnisi laboratorium medis dan tenaga kesehatan masyarakat.

“Melalui program Nusantara sehat 2015, ditargetkan penempatan bagi 960 tenaga kesehatan ke 120 puskesmas di DTPK secara bertahap,” katanya.

Menkes berpesan agar para tenaga kesehatan teladan mendukung dengan sungguh-sunggguh suksesnya pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Yakni dengan memberi pelayanan kesehatan terbaik di Puskesmas kepada seluruh masyarakat.

“Upaya promotif preventif hendaknya benar-benar mendapat perhatian khusus, termasuk langkah memperluas cakupan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat dengan pendekatan berbasis keluarga,” ucap Prof Nila Moeloek.

Menkes mengemukakan, sejak diberlakukannya program JKN pada 1 Januari 2014 hingga saat ini peserta JKN telah mencapai 148 juta jiwa. Jumlah tersebut telah melebihi target yang ditetapkan pemerintah sebanyak 125 juta jiwa.

“Untuk itu kami berharap para nakes bekerja lebih keras lagi, karena makin banyak penduduk indonesia yang sakit berobat ke layanan kesehatan, berkat adanya kartu JKN,” tuturnya.

Ditambahkan, hasil evaluasi selama 1 tahun pelaksanaan JKN menunjukkan dana JKN sebagian besar terserap untuk pengobatan beberapa penyakit, seperti penyakit jantung, ginjal, diabetes melitus, dan penyakit katastropik lainnya menyedot biaya yang sangat besar.

“Ini menjadi keprihatinan kita semua. Penyakit yang seharusnya bisa dicegah lewat berbagai program promotif dan preventif di Puskesmas ini, belum berjalan optimal,” kata Menkes menegaskan. (TW)

{jcomments on}

Africa Goes One Year Without Polio, Celebrates Milestone

Africa has achieved a huge milestone in global health by going a full year since reporting a case of polio, a disease the continent has been battling for years.

The poliomyelitis virus attacks the nervous system and can cause irreversible paralysis within hours of infection. Africa’s goal of eradicating the disease has been in the offing for a while now, but cases of polio continued to be reported from somewhere across the continent, especially Nigeria, the one country where the virus had never been eradicated, even temporarily.

The last African case of polio was detected in Somalia on Aug. 11 of last year, but the last case in Nigeria was recorded on July 24, 2014, a situation which has given health workers a reason to cheer.

“This is a big success, but it’s still fragile. There’s always a worry that there could be an undetected case in a population you’re not reaching,” said Dr. Hamid Jafari, the initiative’s World Health Organization (WHO) director, according to Today Online.

Nigeria celebrated its polio-free year on July 25 with a modest tree-planting ceremony in which Muhammadu Buhari, the country’s new president, was photographed putting vaccine drops into the mouth of his infant granddaughter. The campaign was subdued because it “did not want to send out the wrong message to political officeholders and donors that polio has been eradicated,” said Dr. Faisal Shuaib, a Health Ministry official, The New York Times reported.

Apart from battling polio, many nations of the continent have been fighting Islamist militant groups al-Shabaab and Boko Haram. Experts are worried that vaccines will not reach children displaced by conflict, according to The Guardian.

“I just hope Boko Haram will not be the achilles heel of our work. Unless we get rid of the insurgency, we cannot be sure we will eradicate polio,” said Oyewale Tomori, professor of virology at the Nigerian Academy of Science, who has dedicated four decades of his life to polio research.

source: http://www.hngn.com/

 

Kesehatan Calhaj Terus Dipantau

Melalui program pembinaan kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau kondisi kesehatan jamaah calon haji (calhaj) agar mereka benar-benar siap diberangkatkan ke Tanah Suci.

”Para calhaj ini akan terus dipantau kesehatannya hingga masuk ke asrama haji,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Fidiansjah kepada Republika, Selasa (11/8).

Ia menjelaskan, pembinaan kesehatan calhaj sudah dilakukan sejak mereka menjalani pemeriksaan di puskesmas. Melalui Dinas Kesehatan, para petugas puskesmas mendapat arahan untuk memberikan pembinaan kesehatan kepada calhaj.

Selain petugas puskesmas, Kemenkes juga dibantu oleh Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia yang terdiri atas para mantan petugas haji. Mereka menjadi fasilitator dalam memberikan rangkaian tes kesehatan kepada calhaj. Rangkaian tes tersebut meliputi tes kebugaran dengan berjalan kaki sejauh 1,6 kilometer. Dilakukan pula pengukuran tekanan darah, gula darah, dan pendeteksian penyakit.

Para calhaj juga akan diberi pelatihan untuk menghadapi kondisi cuaca dan lingkungan di Tanah Suci. Misalnya, berlatih membiasakan diri minum air dua liter sehari, membiasakan terpapar panas matahari karena suhu di Tanah Suci saat musim haji nanti diprediksi di atas 40 derajat Celsius, serta membiasakan diri memakai masker. Hal ini penting karena mereka akan berinteraksi dengan jamaah dari berbagai negara, termasuk jamaah dari sejumlah negara tertentu yang dinilai rentan menularkan virus berbahaya, seperti ebola dan virus korona yang menyebabkan sindroma pernapasan Timur Tengah (MERS).

Fidiansjah menekankan, konsep pembinaan kesehatan ini tidak dimaksudkan untuk menghalangi seseorang berhaji. Program bertujuan memberikan pedoman agar calhaj tidak terjebak pada hal-hal yang memberatkan dirinya sehingga tidak mampu melaksanakan ibadah haji.

Saat penilaian akhir di asrama haji, kata dia, para jamaah yang kondisi kesehatannya memburuk akan dirujuk terlebih dahulu ke rumah sakit untuk dipersiapkan kembali agar bisa berangkat ke Tanah Suci. Namun, jika ditemukan kondisi-kondisi yang berubah dari status kesehatan yang sudah dibina, tak tertutup kemungkinan calhaj yang bersangkutan dinyatakan tidak layak berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Saat ini, calhaj yang masuk dalam kategori pembinaan kesehatan berjumlah 2.600 orang. Kemenkes menargetkan, sebanyak 60 persen calhaj tahun ini sudah terperiksa dan terbina dengan baik. Target itu, kata Fidiansjah, sudah tercapai karena saat ini calhaj yang sudah terperiksa dan terbina mencapai 63 persen. ”Ke depan, target itu akan terus dinaikkan sebanyak lima persen setiap tahun.”

Menurut dia, sangat penting untuk mempersiapkan kesehataan calhaj lebih awal. Sebab, hal ini akan membuat calhaj lebih siap untuk melakukan ibadah haji di Tanah Suci sehingga secara otomatis angka kematian jamaah haji pun akan berkurang.

Ia mengatakan, jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci selama empat tahun terakhir cenderung menurun. Pada 2011, jamaah yang wafat mencapai 497 jiwa, 2012 turun menjadi 428 jiwa, 2013 turun lagi menjadi 266 jiwa, dan 2014 sebanyak 297. Ia mengakui, pada 2014, jumlah jamaah yang wafat bertambah. Namun, angka itu masih berada dalam target indikator, yakni di bawah dua per mil.

Selain terdapat 2.600 calhaj yang masuk kategori pembinaan kesehatan, menurut Fidiansjah, terdapat 142 calhaj yang tak layak diberangkatkan ke Tanah Suci. Hal ini karena mereka menderita penyakit yang tergolong berisiko tinggi dan lanjut usia.

Persiapan haji
Seiring kian dekatnya penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, berbagai persiapan pun telah dilakukan oleh pemerintah. ”Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya agar tugas pelayanan, perlindungan, dan pembinaan kepada jamaah haji tahun ini berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan paparan pada rapat koordinasi tingkat menteri tentang persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2015 di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (11/8).

Menag menjelaskan, persiapan haji 2015 terbagi dalam dua kegiatan utama, yakni kegiatan di dalam negeri dan kegiatan di luar negeri. Kegiatan di dalam negeri meliputi pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), pembuatan paspor, pelunasan BPIH, pengurusan visa, dokumentasi, manasik, dan transportasi udara. “Adapun, kegiatan luar negeri menyangkut pelayanan transportasi darat bagi jamaah saat di Makkah dan Madinah, pemondokan, pelayanan kesehatan, katering, dan tenda di Arafah dan Mina,” papar Menag seperti dilansir laman Kemenag.

Menag juga menginformasikan, saat ini buku manasik haji sudah didistribusikan kepada jamaah. Kemenag juga sudah melakukan bimbingan manasik di kecamatan, kabupaten, dan kota. n c16 ed: wachidah handasah

Tren Kematian Jamaah Haji 2011-2014

– 2011 : 497 jiwa
– 2012 : 428 jiwa
– 2013 : 266 jiwa
– 2014 : 297 jiwa

Sumber: Kementerian Kesehatan

sumber: http://www.republika.co.id/

 

Pramuka Saka Bakti Husada Didorong ikut Sosialisasikan Gaya Hidup Sehat

Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Nila FA Moeloek meminta anggota Pramuka Saka Bakti Husada (SbH) ikut mensosialisasikan gaya hidup sehat mulai dari dalam keluarga, yang nantinya berdampak ke masyarakat.

“Kami berharap Pramuka Saka Bakti Husada bisa jadi kader kesehatan,” kata Prof Nila Moeloek dalam peringatan Hari Ulang Tahun SBH ke-30, di Jakarta, Rabu (12/8).

Menurut Menkes, upaya sosialisasi gaya hidup sehat menjadi penting karena kesehatan adalah hak fundamental setiap manusia. Pramuka, sebagai wadah kegiatan kaum muda menjadi potensial untuk mendukung keberhasilan program-program kesehatan.

“Sebenarnya kesehatan itu tanggungjawab kita bersama, tak hanya milik pemerintah atau SBH. Kesadaran itu menjadi penting agar program yang digulirkan pemerintah bisa diterapkan bersama-sama,” ucap Prof Nila.

Menkes menambahkan, SBH sangat potensial dalam pembangunan kesehatan, karena kelompok muda merupakan kelompok usia dalam menerima dan mengolah informasi dengan cepat dan tanggap. Selain lebih mudah mengembangkan keterampilan dan menggerakkan orang lain.

“Karena itu, pemerintah membidik Pramuka SBH sebagai mitra potensial dalam pembangunan kesehatan,” ujarnya.

Prof Nila menjelaskan, Kemenkes bersama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada 17 Juli 1985 membina sekelompok generasi muda di Indonesia dalam bidang kesehatan melalui pembentukan Satuan Karya Pramuka Bakti Husada (SBH).

Pada awal terbentuknya SBH terdapat 5 krida, yaitu Krida Bina Obat, Krida Pengendalian Penyakit, Krida Keluarga Sehat, Krida Bina Gizi dan Krida Bina Lingkungan Sehat. Kini dengan penambahan Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menggenapkannya menjadi 6 Krida yang terdiri dari 37 Syarat Kecakapan Khusus (SKK).

“Beberapa kegiatan antara lain kampanye PHBS di beberapa sekolah dan lingkup masyarakat kecil, peningkatan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan tuberkulosis, kampanye pentingnya imunisasi, pengendalian vektor penyakit serta pemahaman tentang obat,” tutur Menkes.

Di samping kegiatan tersebut, SBH juga dididik untuk tanggap dalam situasi bencana. Kesigapan Pramuka dalam pertolongan pertama gawat darurat telah ditunjukkan dalam simulasi tanggap bencana, sebagai manifestasi peran SBH pada penanggulangan bencana berbasis masyarakat. (TW)

{jcomments on}

Reformasi Birokrasi: Level Kapabilitas PIP bisa Diturunkan jika Tutupi Kecurangan

Kepala Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Ardan Adipermana mengingatkan pada Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) untuk tidak menutup-nutupi tindakan kecurangan yang ada di jajarannya. Level pengawasnya bisa diturunkan satu tingkat dibawahnya.

“Untuk naik level dari satu menuju dua, bukan hal mudah. Karena kami berharap APIP tidak menutup mata jika melihat kecurangan. Sanksinya penurunan level,” kata Kepala BPKP, Ardan Adipermana dalam pertemuan nasional Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang digelar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), di Jakarta, Senin (10/8) petang.

Ardan menambahkan, level tertinggi APIP di Indonesia adalah 3. Namun, jumlahnya sangat terbatas hanya sebanyak 1 persen dari sekitar 86 APIP. Terbanyak pada level 1 sebanyak 85 persen dan 14 persen di level 2.

“Kondisi ini berbeda dengan APIP di negara maju yang mana sudah mencapai level 4 dan lebel 5. Artinya, kualitas mereka sudah mencapai kelas dunia. Kami berharap APIP Indonesia ada yang mencapai level 4 dan 5,” ucap Ardan Adipermana.

Dari 86 APIP itu, lanjut Ardan, terbanyak atau 55 persen ada di daerah, 28 persen ada di BPKP dan 15 persen ada di pemerintah pusat.

“Keberadaan APIP di daerah menjadi sangat penting karena ada sekitar 400 kepala daerah yang berpotensi terkena masalah dengan hukum,” katanya.

Ardan menjelaskan APIP level satu memiliki kemampuan fundamental sebagai auditor publik. Namun, jika sudah level 2, APIP harus memiliki kemampuan mendeteksi penyimpangan dana dengan baik. Sehingga potensi penyimpangan anggaran bisa segera diluruskan.

“Kami menargetkan APIP level dua bertambah tahun ini, sehingga anggaran pemerintah bisa lebih dikendalikan,” ucap Ardan.

Pada kesempatan itu BPOM melakukan terobosan, yang dipuji Kepala BPKP Ardan Adipermana yaitu penandatangan
Internal Audit Charter (Piagam Audit Internal) dan penandatanganan Pakta Integritas disaksikan oleh BPKP.

“Melalui penandatanganan itu, kami berharap APIP di BPOM lebih profesional dalam melakukan pengawasan internal,” kata Kepala Badan POM, Roy Sparringa.

Roy mengaku senang karena BPKP sebagai Pembina akan meningkatkan level kapabilitas APIP. Untuk itu, pihaknya akan melakuka pembangunan infrastruktur APIP, SDM dan Kecukupan anggaran. Serta membangun standar untuk pengawasan intern.

“Dan yang tak kalah penting meningkatkan kompetensi auditor inspektorat melalui pendidikan dan pelatihan,”kata Roy menandaskan. (TW)

{jcomments on}