Daerah Terpencil: Kemenkes Buka Pendaftaran Dokter PTT 2015

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka pendaftaran dokter dan dokter gigi sebagai pegawai tidak tetap (PTT) untuk tahun anggaran 2015. Dibutuhkan sebanyak 1.780 orang untuk mengisi Puskesmas di daerah terpencil.

“Pendaftaran dibuka secara online mulai hari ini, 31 Juli hingga 11 Agustus 2015 mendatang melalui website www.ropeg.kemkes.go.id,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan, drg Murti Utami MPH di Jakarta, Jumat (31/7).

Murti menyebutkan, persyaratan untuk menjadi dokter dan dokter gigi PTT adalah yang bersangkutan harus Warga Negara Indonesia (WNI) dan bersedia ditugaskan di daerah terpencil dan sangat terpencil dengan lama penugasan selama 2 (dua) tahun.

Para dokter dan dokter gigi PTN akan mendapat gaji dan insentif sebesar Rp 5,4 juta per bulan untuk daerah terpencil dan sebesar Rp 7,8 juta per bulan untuk daerah sangat terpencil.

“Untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat di website karena rinciannya sangat panjang,” ucap Murti Utami.

Program dokter dan dokter gigi PTT dilakukan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Hal itu bida terjadi jika pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau oleh semua pihak.

“Fasilitas pelayanan kesehatan itu harus didukung oleh ketersediaan tenaga kesehatan dalam arti pendayagunaan maupun penyebarannya yang merata ke seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil,” kata Murti menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Menkes Lantik 6 Pejabat Eselon II

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek melantik 6 pejabat eselon II di Lingkungan Kementerian Kesehatan. Proses rotasi dan mutasi adalah hal biasa dalam sebuah organisasi yang dinamis.

“Pemimpin datang dan pergi. Siapapun dia, yang penting mampu melayani dan melaksanakan amanah rakyat, bangsa dan negara,” kata Nila Moeloek, Sp.M(K) di Jakarta, Senin (27/7).

Ditambahkan, pergantian jabatan itu sesuai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, bahwa penempatan dan promosi jabatan pimpinan tinggi dilaksanakan secara terbuka dan kompetitif. Selain memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, rekam jejak jabatan, pendidikan dan pelatihan serta integritas.

Adapun pejabat yang dilantik, disebutkan, dr Eni Agustina, MPH sebagai Kepala Pusat Promosi Kesehatan, Sekretariat Jenderal Kemenkes; dr Tri Hesty Widyastoeti Marwotosoeko, Sp.M, MPH sebagai Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan, Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes.

Selain itu ada Dr Dra Agusdini Banun Saptaningsih, Apt, MARS sebagai Sekretaris Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes; dr Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM sebagai Direktur Penyakit Tidak Menular.

Drg R Vensya Sitohang M Epid sebagai Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, dan dr Imran Agus Nurali Sp KO sebagai Direktur Penyehatan Lingkungan, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

Menkes minta para pejabat yang baru dilantik untuk selalu mengembangkan kemampuan diri, baik aspek tehnis, aspek manajerial, maupun aspek leadership. Hal itu untuk menjadi panutan terkemuka atau Out Standing Role Model for Leadership Character. (TW)

{jcomments on}

World’s First Malaria Vaccine Approved

European regulators have given the green light to the world’s first malaria vaccine. The breakthrough comes after 28 years of development, and the European Medicines Agency’s decision could clear the way for a World Health Organization recommendation and the vaccine’s eventual adoption in sub-Saharan Africa and beyond.

From Al-Jazeera:

The shot, called RTS,S or Mosquirix, would be the first licensed human vaccine against a parasitic disease and could help prevent millions of cases of malaria in countries that use it.

The vaccine was developed by British drugmaker GlaxoSmithKline (GSK) in partnership with the PATH Malaria Vaccine Initiative.

Recommendations for a drug licence made by the European Medicines Agency (EMA) are normally endorsed by the European Commission within a couple of months.

Mosquirix, also part-funded by the Bill & Melinda Gates Foundation, will also now be assessed by the World Health Organisation, which has promised to give its guidance on when and where it should be used before the end of this year.

Malaria killed an estimated 584,000 people in 2013, the vast majority of them in sub-Saharan Africa.

More than 80 percent of malaria deaths are in children under the age of five.

Read more here.

source: http://www.truthdig.com/

 

 

Demam Berdarah Masih Jadi Masalah Kesehatan di Asia

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan penting di Asia. Tak hanya di Indonesia, di negara-negara maju seperti Jepang dan Singapura, kasus-kasus DBD masih menyita perhatian otoritas kesehatan di masing-masing negara.

“Demam berdarah menjadi topik menarik dalam pembahasan pertemuan antarnegara di Manila yang kini sedang berlangsung,” tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Prof Tjandra Yoga Aditama dalam siaran persnya, kemarin.

Menurutnya, demam berdarah di Jepang tidak disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti seperti di Indonesia. Tetapi di Jepang, nyamuk vektornya adalah Aedes albopictus, atau dikenal sebagai ‘Tiger Mosquito’‎.

Di Singapura, empat jenis virus Dengue tetap ditemukan bersirkulasi, sehingga di Singapura pun sampai sekarang masih jadi masalah kesehatan penting dan bahkan ada yang menyebut DBD di Singapura sebagai ‘hyperendemic’.

Data menunjukkan bahwa DBD secara global meningkat kasusnya hingga 30 kali dalam 50 tahun terakhir ini. Jumlah kasus DBD dunia diperkirakan 390 juta setiap tahunnya yang ditemukan pada lebih dari 100 negara.

Setiap tahun sekitar setengah juta orang di dunia‎ mengalami DBD berat, dimana sebagian diantaranya seringkali diikuti dengan syok dan perdarahan. Dan sekitar 40% penduduk dunia ada dalam risiko untuk mendapat sakit DBD‎. “Di negara Asia angka ini tentu lebih tinggi lagi,” sambungnya.

Untuk mencegah DBD, ‎kata Tjandra, bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain pengendalian vektor nyamuk, khususnya dengan program 3 M plus. Ini masih tetap jadi cara penanggulangan utama, dan juga dilakukan berbagai riset di bidang ini. Lalu melalui vaksin yang kini dikembangkan meski baru menunjukkan perlindungan sekitar 60%.

sumber: http://poskotanews.com/

 

 

Health specialists call for $2 billion global fund for vaccines

Global health experts called on Wednesday for the creation of a $2 billion vaccine development fund to feed a pipeline of potential new shots against priority killer diseases like Ebola, MERS and the West Nile virus.

The fund would help bridge the gap between early stage drug discovery work carried out at universities and small biotech firms, and the late stage development and large-scale clinical trials needed to get a new vaccine to market.

“We can no longer sit back and ignore the chronic lack of progress in developing new vaccines, and improving existing ones,” said Jeremy Farrar, director of the Wellcome Trust global health charity, who co-wrote a paper calling for the creation of such a fund.

The money for the global vaccine fund should come from governments, foundations and the pharmaceutical industry, as well as from non-traditional sources such as the travel and insurance industries, the experts said in the paper, published in the New England Journal of Medicine.

Such a fund would pay for things like manufacturing vaccines to internationally accepted standards, and early and mid-stage clinical trials designed to test safety and proof-of-concept that a vaccine can generate an immune response.

Farrar praised the enormous global effort made to get clinical trials up and running to try to test experimental vaccines during West Africa’s Ebola outbreak, but he added:

“If just one of those promising vaccines had been through (early stage) phase I trials before the outbreak started, public health workers could have begun vaccinating people at the start…potentially saving thousands of lives.”

At least $2 billion would be needed at the outset, Farrar said, an amount that should be achievable even at a time when resources are scarce.

“Witness the cost of addressing the Ebola emergency –estimated at $8 billion to date with the final figure likely to be far higher,” he and his colleagues wrote.

“The lesson we take from the Ebola crisis is that disease prevention should not be held back by lack of money at a critical juncture when a relatively modest, strategic investment could save thousands of lives and billions of dollars further down the line.”

The proposed fund would invite competitive proposals from scientists, institutions and biotech firms, with an independent panel of scientists and funders required to review applications for financial support, the experts said.

sourec; http://uk.reuters.com/

 

 

Rokok Berpotensi Ancam Bonus Demografi

Sampai saat ini, sudah ada 187 negara yang telah meratifikasi FCTC (Framework Covvention on Tobacco Control). Hal itu, menyisakan sembilan negara yang belum meratifikasi, yaitu Indonesia, Andora, Eriteria, Liechtenstein, Malawi, Monako, Somalia, Republik Dominika, dan Sudan Selatan.

Dalam peringatan Hari Anak Nasional, Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia, Hery Chariansyah, mengharapkan, pemerintah dapat menunjukkan komitmennya melindungi anak-anak Indonesia dengan segera mengaksesi FCTC.

“Aksesi FCTC selain bertujuan mencegah anak menjadi perokok pemula, juga sebagai upaya pemenuhan hak konstitusional anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal seperti dijamin undang-undang,” papar Hery Chariansyah, di Jakarta, Rabu (22/7).

Hery melihat, selama ini regulasi yang ada belum mampu melindungi anak secara menyeluruh dari dampak konsumsi rokok dan paparan asap rokok. Dengan masih longgarnya regulasi tentang iklan dan promosi rokok, menyebabkan anak-anak Indonesia terpapar iklan dan promosi rokok hampir setiap saat dan di mana saja.

Hal yang lebih buruk lagi, tambah Hery, bila anak-anak Indonesia terus terpapar rokok dan tidak ada komitmen pemerintah untuk melindungi mereka dari dampak rokok, maka Indonesia berpotensi tidak mendapat bonus demografi pada 2020-2030.

“Anak-anak Indonesia yang saat ini merokok dan terpapar asap rokok, pada 2020-2030 akan menjadi penduduk yang sakit-sakitan dan menjadi beban ekonomi, sehingga berpotensi mengancam bonus demografi,” ujar Hery.

sumber: http://www.beritasatu.com

 

Turkmenistan: the health-obsessed country where nobody smokes

The health-obsessed former Soviet republic Turkmenistan is the country with the world’s lowest proportion of smokers, the World Health Organisation’s director general, Margaret Chan, said during a visit to the isolated nation on Tuesday.

“Recently a WHO overview showed that in Turkmenistan only 8% of the population smokes,” Chan told the country’s authoritarian president, Gurbanguly Berdymukhamedov, at a health forum in the capital, Ashgabat.

“This is the lowest national indicator in the world. I congratulate you on this achievement.”

Chan said the country had ratified the framework convention on tobacco control in 2011, by which time it had already banned smoking in public places.

Also speaking at the forum, was Vera Luiza da Costa e Silva, the head of the convention’s secretariat, who challenged the central Asian state to drive smoking down to 5% in the coming years.

In 1990, 27% of Turkmen men over 15 and 1% of women smoked.

A decade later Turkmenistan banned smoking in public places, state buildings and the army, and all forms of tobacco advertising.

By comparison, 31.1% of the global male population over the age of 15 smoked in 2012, and 6.2% of women were smokers.

Berdymukhamedov, who trained as a dentist and is a keen horseman, has been in power since the death of his eccentric predecessor, Saparmurat Niyazov, in 2006. Niyazov campaigned against smoking and built a 36km “path of health” into the mountains surrounding Ashgabat which government officials were forced to walk.

In April, the gas-rich country of more than five million held a month of public exercises and sporting events under the slogan “health and happiness”.

source: http://www.theguardian.com/

 

Indonesia Jadi Anggota Penanganan Epidemi Asia Pasifik

Indonesia secara resmi ditunjuk menjadi wakil ketua atau Co-Chair Technical Advisory Group Asia Pasific Strategy on Emerging Infectious Diseases/EID (APSED) pada pertemuan Badan Kesehatan PBB atau WHO 21-23 Juli 2015 di Manila.

Salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan dengan perwakilan negara-negara anggota WHO Asia Tenggara dan Pasifik Barat adalah kemungkinan penggabungan penanganan IHR, EID dan Humanitarian Health Crisis karena bencana alam dalam satu unit, dan menangani agenda keamanan kesehatan global.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan‎ (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan‎‎ Tjandra Yoga Aditama yang mewakili Indonesia di pertemuan itu, menuturkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Indonesia banyak belajar mengenai cara penanggulangan epidemi dari Korea Selatan.
Kementerian Kesehatan Korea Selatan menampilkan beberapa fakta tentang virus sindrom Pernapasan Timur Tengah atau MERS Co-V di negara mereka, yang menjadi pelajaran bagus untuk negara lain.

“Korea Selatan menyampaikan analisa penting tentang kenapa MERS Co-V di negara itu meluas dan jadi masalah besar,” kata Tjandra dalam keterangan tertulisnya, Selasa 21 Juli 2015.

Meluasnya MERS Co-V di Korea Selatan, kata Tjandra, diakibatkan kurang cepatnya upaya mendeteksi kontak yang mungkin sudah tertular. “Terlalu sempitnya definisi kontak, sehingga kurang banyak yang dikejar untuk dicek sebagai kontak,” ujarnya.

Selain itu penularan di rumah sakit banyak terjadi karena penuhnya pengunjung ruang gawat darurat, dan juga bangsal rumah sakit yang diisi beberapa tempat tidur sekaligus. Selain itu, kebiasaan ada penunggu pasien yang ikut tinggal di rumah sakit juga memicu luasnya penyebaran epidemi.‎

“Sejumlah 81 kasus atau sebanyak 44% MERS Co-V di Korea adalah sebenarnya orang yang datang atau dirawat di rumah sakit karena sakit yang lain, lalu karena mereka kebetulan ada di rumah sakit yang sama dengan pasien MERS Co-V maka mereka jadi tertular. Jadi mereka akhirnya dirawat dengan dua penyakit sekaligus,” kata dia.

Lalu, Kebiasaan pasien biasanya berobat ke satu dokter, lalu beberapa hari kemudian pindah ke dokter‎ lain, lalu pindah lagi ke dokter lain juga turut berkontribusi.

Tjandra menjelaskan, total ada 186 kasus MERS Co-V di Korea, 36 diantaranya meninggal‎. Secara total mereka menangani, memeriksa dan mengkarantina 16.668 orang sebagai kontak untuk mendeteksi kemungkinan penularan luas di masyarakat.

sumber: http://life.viva.co.id/

 

 

Posko Mudik BPJS: Kesehatan Berikan Layanan Gratis

13jul

13julBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kembali menggelar Posko Mudik di pelabuhan dan terminal untuk masyarakat yang ingin melakukan tradisi mudik lebaran. Diharapkan, masyarakat yang sakit dan kelelahan saat mudik bisa mendapat pertolongab.

“Posko Mudik BPJS Kesehatan 2015 dibuka selama 24 jam, mulai 13 Juli hingga 16 Juli di lima titik terpadat pemudik,” kata Direktur Hukum, Komunikasi, dan Hubungan antar Lembaga BPJS Kesehatan, Purnawarman Basundoro di Pelabuhan Merak, Banten, Senin (13/7).

Lima titik terpadat pemudik itu, disebutkan, Pelabuhan Merak, Banten; Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar; Pelabuhan Gilimanuk, Bali; Terminal Kampung Rambutan, Jakarta; dan Terminal Bungurasih, Surabaya.

Purnawarman menjelaskan, Posko Mudik BPJS Kesehatan telah dilakukan sejak 2014 lalu. Berbagai perbaikan dilakukan bukan saja menambah fasilitas kesehatannya, tetapi juga memperbanyak lokasi posko.

“Pada 2014 lalu, Posko Mudik BPJS Kesehatan baru dibuka di tiga titik yaitudi Pelabuhan Merak, Pelabuhan Soekarno Hatta, dan Pelabuhan Gilimanuk. Sekarang ada di 5 titik,” ujarnya.

Di Posko Mudik BPJS Kesehatan 2015 terdapat dokter, paramedis, ambulance serta petugas BPJS Kesehatan. Mereka melayani pemudik yang membutuhkan konsultasi kesehatan, fasilitas relaksasi, istirahat, pemeriksaan kesehatan sederhana, obat-obatan, tindakan sederhana bersifat emergency, dan pemberian rujukan jika dibutuhkan.

“Tahun ini fasilitas ditambah dengan dua kursi pijat yang bisa dimanfaatkan para pemudik untuk relaksasi. Seluruh fasilitas yang ada tidak dipungut biaya. Jadi, masyarakat diminta untuk tidak sungkan untuk mampir, apalagi jika badan terasa pegal atau pusing,” tuturnya.

Ditambahkan, pilihan posko diadakan di pelabuhan dan terminal, karena tempat-tempat tersebut membutuhkan perhatian khusus. “Jika di lokasi lain seperti stasiun kereta api dan jalan raya kan sudah banyak posko kesehatan yang disiapkan pihak lain,” ujar Purnawarman.

Guna memastikan posko mudik melakukan aktivitasnya dengan lancar, BPJS Kesehatan juga menggandeng Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan PT ASDP Indonesia Ferry, Kantor Kesehatan Pelabuhan setempat. (TW)

{jcomments on}

Financing new global health goal

The World Health Organisation (WHO) is urging countries to move towards universal health coverage and to scale up international investment in catalytic development funding. The call comes as world leaders travel to the 3rd UN Financing for Development Conference in Addis Ababa to discuss ways to pay for the new Sustainable Development Goals (SDG), to be launched in New York in September 2015.

“The best way to assure meaningful progress towards the new global health goal is for countries to move closer to universal health coverage,” says Dr Margaret Chan, WHO Director-General.

Progress towards the MDGs

By the end of this year, if current trends continue, the world will meet Millennium Development Goal (MDG) targets for turning around the epidemics of HIV, malaria and tuberculosis and increasing access to safe drinking water. It will also have made substantial progress in reducing child under-nutrition, maternal and child deaths, and increasing access to basic sanitation.

But wide gaps remain between and within countries. Much still needs to be done – particularly in the poorest countries and countries affected by conflict. And new health challenges have emerged, as highlighted by the Ebola crisis in West Africa and the rise of noncommunicable diseases. Within this context, countries have agreed a new global health goal with a strong focus on equity – to ensure healthy lives and promote well-being for all at all ages.

Moving towards universal health coverage

Universal health coverage, a major focus of WHO’s work for the past 5 years, aims to redress those imbalances. As a first step, the Organisation recommends reducing the need for people to pay directly for services at the point of delivery – out of their own pockets. In countries that depend heavily on out-of-pocket payments, health bills push 100 million people into poverty each year.

Public funding is key to reducing out of pocket expenditure. As public spending on health goes up, dependence on out-of-pocket payments declines. Between 1995 to 2013, government spending on health increased from 3.4 to 4.1% of GDP – on average across 190 countries. The increase in low-income countries has been greater, from 1.7 to 2.6% of GDP.

Despite this improvement, there is a long way to go. The challenge for countries is twofold: to mobilise more domestic public resources for health, and to ensure health systems use resources more efficiently.

At the Addis Ababa conference, WHO will urge the international community to strengthen cooperation with low- and lower-middle income countries to combine domestic and external funding so they provide sufficient resources to build robust health systems.

The Organisation will also emphasise the importance of getting better results from the money spent by putting in place innovative service delivery arrangements, lowering prices of key inputs (e.g. medicines) procured internationally, and reducing fragmentation in aid flows to countries.

“If the world is serious about the health-related SDG targets, it needs to make serious investments – both at domestic and international levels,” adds Dr Chan.

source: http://www.thedailystar.net/