Kemenkes Luncurkan Faralkes Online

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan sistem baru dalam pengelolaan perizinan farmasi dan alat kesehatan. Peluncuran farmasi dan alat kesehatan (faralkes) online tersebut dilakukan Menkes Nila FA Moeloek, di Jakarta, Selasa (16/6).

Menkes menjelaskan, sistem pengelolaan perizinan yang transparan sangat penting di era penyenggaraan pemerintah yang bersih dan bebas KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Untuk itu, diperlukan konsistensi, efisien, akurasi, simplisitas dan koordinasi lintas sektor.

“Kami butuh dukungan bersama agar sistem ini bisa bekerja baik,” ucap menkes.

Faralkes yang diluncurkan hari ini, disebutkan, track and trace system e-regalkes, satu sistem pembayaran dengan metode e-payment. Selain, pelayanan surat keterangan secara online atau disebut e-suka.

“Melalui sistem track and trace e-regalkes, tahapan proses evaluasi sertifikasi/perizinan bisa dilacak dan ditelusuri,” ujar Nila.

Sistem itu, lanjut Menkes, terkoneksi dengan portal Indonesia National Single Window (INSW) yang akan memfasilitasi perdagangan baik ekspor maupub impor. Dengan demikian, pemohon dapat memantau proses perizinannya sesuai janji layanan.

Ditambahkan, melalui e-payment maka pembayaran penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dilakukan secara online yang terkoneksi dengan sistem informasi PNBP Online (Simponi) milik Kementerian Keuangan.

“Kementerian Kesehatan merupakan K/L pertama yang menerapkan e-payment,” kata dokter spesialis mata tersebut.

Tentang e-Suka, Menkes menjelaskan, sistem pelayanan surat keterangan yang dilakukan secara online. Hal itu diterapkan guna mempercepat waktu layanan. Surat keterangan itu dibutuhkan untuk mendukung proses ekspor-impor alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) tertentu.

Menkes menambahkan, Kemenkes sejak 2010 telah membentuk Unit Layanan Terpadu (ULT) yang menghimpun seluruh pelayanan publik yang ada.

Layanan publik yang dilayani dalam bidang alat kesehatan dan PKRT antara lain izin penyalur alat kesehatan, izin produksi alat kesehatan dan PKRT, izin edar alat kesehatan dan PKRT, pemberian certificate of free sales (CFS) dan surat keterangan alat kesehatan dan PKRT. (TW)

{jcomments on}

World Health Organization: MERS not spreading outside S. Korea hospitals

The MERS virus in South Korea, which has killed 14 people and infected nearly 140 in the largest outbreak outside the Middle East, hasn’t spread outside hospitals among the wider community or become easier to transmit between humans, the World Health Organization said.

After a weeklong review of the outbreak of Middle East respiratory syndrome, experts from WHO and South Korea told reporters Saturday there was no evidence to suggest the virus, currently confined around health facilities, is spreading. It has been occurring among hospital patients, visiting family members and medical staff.

Overcrowded emergency rooms and hospital wards might have contributed to a wider-than-expected transmission of the virus, which usually spreads poorly between people, said WHO Assistant Director Keiji Fukuda.

South Korea’s habits of “doctor shopping” — visiting multiple facilities to treat the same infection — and having many friends and family members visiting hospitalized patients also might have contributed, he said.

The continued discovery of new cases — including 12 on Saturday — has created an impression that the outbreak is getting bigger, but Fukuda noted that many of the cases being reported involved people who already had been infected. New infections appear to be declining, which suggests that the government’s control measures are having an impact, he said.

“Now, because the outbreak has been large and is complex, more cases should be anticipated,” he said.

The virus has spread at a pattern similar to previous outbreaks in the Middle East, and the sequencing studies of samples from South Korea show no signs that the virus has increased its ability to transmit between humans, he said.

While the infections seem to be stagnating, Fukuda called on the South Korean government to continue with strong control measures, including tracing patients’ contacts and preventing suspected cases from traveling.

The outbreak of the poorly understood disease, which has no vaccine and had a mortality rate as high as 40 percent , has caused widespread fear in South Korea and criticism that health workers and the government failed to initially recognize and quickly contain it.

A 67-year-old woman who had been combating thyroid problems and high blood pressure before she was diagnosed withMERS became South Korea’s 14th and latest fatality, the Health Ministry said.

Nearly 140 people have been diagnosed with MERS since last month. Among those infected, 16 are in serious condition, said Jeong Eun-kyeong, a senior official from the Korea Centers for Disease Control and Prevention.

About 2,900 schools and kindergartens remained closed and more than 4,000 people isolated after possible contact with those infected, the Health Ministry said.

Two hospitals, including one in Seoul, also were temporarily shut down after MERS patients were found to have had contact with hundreds of people at the two facilities before they were diagnosed.

Experts think MERS can spread in respiratory droplets, such as by coughing. But transmissions have mainly occurred through close contact, such as living with or caring for an infected person.

MERS belongs to the family of coronaviruses that includes the common cold and SARS, and can cause fever, breathing problems, pneumonia and kidney failure. Most of the deaths in South Korea have been of people suffering from pre-existing medical conditions, such as respiratory problems or cancer.

source: http://www.timesfreepress.com/

 

Iklan Susu Fomula Membodohi dan Melewai Batas Etika

Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Mia Sutanto menilai keberadaan iklan susu formula di Tanah Air saat ini sudah melewati batas etika.

“Kehadiran iklan susu formula hari ini cenderung membodohi, yang sebelumnya pasarnya tidak ada malah sekarang menciptakan pasar,” kata Mia di Padang, Minggu (14/6).

Ia menyampaikan hal itu saat tampil sebagai pembicara dalam talkshow dan peresmian AIMI Sumbar dengan tema ASI Investasi Menuju Generasi Minangkabau Berprestasi.

Menurut dia dengan gencarnya iklan susu formula melalui berbagai media menjadi penghalang utama untuk mewujudkan program pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif.

Sejalan dengan itu Ketua AIMI Sumbar Ria Oktorina mengaku prihatin atas gencarnya iklan susu formula di berbagai media massa yang dikhawatirkan akan merusak cara pandang masyarakat terhadap pemberian ASI ekslusif.

“Iklan susu formula dikemas semenarik mungkin sehingga muncul pandangan jika diberikan kepada bayi maka akan terpenuhi semua nutrisi yang dibutuhkan dan anak menjadi cerdas,” kata dia.

Ia mengatakan, tidak memusuhi susu formula namun realitas yang ada di masyarakat pemahaman dan kesadaran terhadap pemberian ASI ekslusif kepada bayi masih rendah. Jika iklan susu formula demikian masif maka akan semakin membuat pemberian ASI ekslusif kepada bayi menjadi berkurang, kata dia.

Sementara, pendiri Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli mengatakan hanya di Indonesia ada iklan susu yang bermacam-macam mulai susu untuk anak satu tahun, dua tahun, empat tahun, susu langsing, susu untuk berotot, susu ibu hamil dan menyusui.

“Bahkan ada susu untuk perempuan berjilbab, hingga susu untuk orang naik haji, mengapa kita harus dibodoh-bodohi seperti itu,” kata dia.

Ia memastikan ibu menyusui tidak memerlukan susu khusus karena belajar dari hewan yang menyusui tidak ada diantara mereka yang minum susu.

Menurut dia ASI adalah minuman terbaik untuk bayi yang tidak ada tandingannya.

sumber: http://www.beritasatu.com/

 

World Health Organization recognition for public health centre

A University of Manchester research centre has been awarded World Health Organisation Collaborating Centre status for its work on improving the health of people across Europe and in the Greater Manchester area.

Following a launch event yesterday (8 June), The Manchester Urban Collaboration on Health (MUCH) will now be working with the WHO to shape the co-ordination of health information across Europe, building on long-standing ties.

Dr Arpana Verma who leads the Centre said: “Essentially what we do is provide guidance, based on research, which lets countries use the best methods possible for improving health in their populations.

“The most vulnerable often have the worst health and well-being outcomes. By using information better, we can understand how to reduce the inequalities that have been steadily growing across Europe.

“This includes understanding the patterns to work out why we see the differences in health and well-being across our communities, improve the uptake of vaccinations, help improve people’s knowledge of why early diagnosis and cancer screening is important, and promoting healthy lifestyles to combat obesity.

“WHO Collaborating Centre status places us in a much stronger position to carry out this work, so we’re delighted to have received it.”
MUCH is an important element for the implementation of the WHO’s Health 2020 strategy to significantly improve the health and well-being of populations, reduce health inequalities, and strengthen public health in Europe.

Dr Verma is part of the steering group for the European Health Information Initiative project, and the WHO Collaborating Centre will be able to work more closely with the WHO on what will make a difference to the health information that is all around us being used to help the most vulnerable.
As well as working at the European level, MUCH also works with NHS and local authority figures in Greater Manchester on health initiatives such as reducing blood-borne diseases and creating better links between health workers across the region.

One result of this work has been the International Festival of Public Health, held in Manchester for the last three years and next taking place on 2 July.
The Festival attracts hundreds of delegates and leading NHS and government figures to debate everything from the smoking ban to obesity and this year features addresses by Natalie Bennett, leader of the Green Party and Baron O’Neill of Gatley, retiring Chairman of Goldman Sachs Asset Management.

The launch event was attended by the University’s President and Vice-Chancellor, Professor Dame Nancy Rothwell, Professor Martin Tickle, Director of the Institute of Population Health and leading figures from the WHO.

One of these, Dr Claudia Stein, Director of the Division of Information, Evidence, Research and Innovation, World Health Organization, Regional Office for Europe, said: “We are delighted to welcome the Urban Collaboration on Health on board as the newest of our collaborating centres.
“This is a significant step towards realising the objectives of the European Health Information Initiative, through which we want to improve the information that underpins health policy and ultimately improve the health of the people of the European Region.

“The Manchester Urban Collaboration on Health is a power house of expertise and talent and we very much look forward to standing shoulder to shoulder to take health in Europe into a new era.”
MUCH has become the second WHO Collaborating Centre at the University after the Centre for Global Women’s Health was also given the status last year.

source: http://www.manchester.ac.uk/

 

 

Menkes Bantah Ada Kasus MERS di Indonesia

Menteri Kesehatan Indonesia Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek SpM (K) membantah adanya kasus MERS di Indonesia. Tetapi ia telah menggalakkan sosialisasi hidup sehat dan meminta seluruh warga yang merasa kesehatannya memburuk sekembalinya dari negara-negara Timur Tengah untuk waspada dan memeriksakan kesehatan mereka.

Sebuah rumah sakit khusus infeksi juga telah ditunjuk sebagai rujukan menangani orang-orang yang mungkin tertular MERS.

“Dulu memang pernah ada, tetapi sekarang tidak,” demikian penegasan yang disampaikan Menteri Kesehatan Indonesia Nila F. Moeloek ketika dihubungi melalui telepon oleh VOA.

Diakuinya bahwa penyakit yang menular lewat udara ini memang rentan merebak di Indonesia karena banyaknya warga yang melakukan ibadah umroh dan haji, atau pulang kampung setelah masa kerja sebagai pekerja migran di negara-negara Timur Tengah habis. Itulah sebabnya kini Departemen Kesehatan kembali menggalakkan kampanye pola hidup sehat lewat media cetak dan elektronik, serta memasang poster-poster di bandara dan pelabuhan utama.

“Ini kan penyakit yang berasal dari Timur Tengah, dan warga kita banyak yang naik haji dan umroh dan sebagainya, sehingga membuat kita khawatir. Mereka yang pulang haji atau umroh masuk dari pelabuhan atau bandara tertentu, kita sudah semakin lebih hati-hati melakukan pengawasan. Kita berulangkali umumkan dan minta mereka yang memiliki suhu tubuh di atas rata-rata sepulangnya dari negara-negara itu untuk segera diperiksa dan diobservasi kesehatannya. Kami juga sosialisasikan kembali pola hidup bersih misalnya rajin-rajin mencuci tangan, jika daya tahan tubuh turun maka harus hati-hati dan berdiam di rumah saja, jika kita flu mohon gunakan masker atau penutup wajah, dan jika terpaksa sekali harus ke rumah sakit yaa tidak usah dekat-dekat dengan orang yang sedang sakit, terutama jika positif MERS,” paparnya.

MERS atau Middle East Respiratory Syndrome atau penyakit virus pernafasan akut Timur Tengah ini merupakan jenis baru penyakit akibat virus “corona” jenis baru yang pertama kali dilaporkan terjadi di Arab Saudi bulan September 2012.

Hampir serupa dengan SARS atau sindrom pernafasan akut yang pernah merebak di kawasan Asia tahun 2003, MERS juga menyerang saluran pernafasan, dengan gejala demam, batuk dan sesak nafas akut yang jika tidak tertolong akan berakhir dengan kematian. Sejauh ini semua kasus MERS dikaitkan dengan negara-negara di dekat Semenanjung Arab. Tetapi kini kasus MERS juga ditemukan di Korea Selatan.

Hingga laporan ini disusun sudah ada 87 kasus MERS di Korea Selatan, termasuk enam pasien yang meninggal dunia. Mengingat penularan MERS yang lebih cepat dan sulit dideteksi – yaitu lewat udara – pemerintah Korea Selatan telah melakukan karantina terhadap lebih dari dua ribu orang yang diketahui pernah berhubungan dengan ke-87 pasien tersebut. Mereka baru dinyatakan bebas MERS jika berhasil melalui masa inkubasi 14 hari tanpa gejala penularan.

Hari Senin (8/6) ini lebih dari dua ribu sekolah ditutup dan ratusan acara – termasuk darmawisata sekolah dan kompetisi olahraga menjelang akhir tahun ajaran sekolah – dibatalkan. Pemerintah Korea Selatan juga mengumumkan enam rumah sakit rujukan dan 24 klinik khusus MERS. Sementara WHO mengirim tim-nya ke Korea Selatan untuk membantu mengatasi penyebaran wabah lebih jauh.

Indonesia – menurut Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek – juga telah mempersiapkan rumah sakit khusus penyakit infeksi RSPI Sulianti Saroso di daerah Sunter Jakarta Utara sebagai rumah sakit rujukan penyakit MERS. Rumah sakit ini juga memiliki laboratorium khusus dan unit karantina.

“Sudah disiapkan rumah sakit khusus infeksi – RSPI Sulianti Saroso. Jika memang ada maka pasien akan dirujuk dan diperiksa disana. Kita juga ada BCLT – semacam laboratorium khusus virus. Sebenarnya virus ini tidak mudah menular antar manusia dan bisa ditangani segera begitu diketahui,” ujar Nila.

Tetapi Nila F. Moeloek juga meminta masyarakat tidak panik karena kunci pemberantasan penyakit mudah menular sejenis MERS ini sesungguhnya ada pada pola hidup sehat. Mencuci tangan, tinggal di rumah jika sakit dan menggunakan masker jika terpaksa keluar rumah, serta segera ke rumah sakit jika mengalami gejala demam dan batuk pilek parah yang tidak sembuh dengan penanganan biasa. Terlebih jika baru kembali dari perjalanan ke Timur Tengah atau berhubungan dengan orang-orang yang baru kembali dari Timur Tengah.(voa/A-147)***

sumber; http://www.pikiran-rakyat.com/

 

World Health Experts Ask G7 Countries to Create Infection Rapid Response Unit

Health leaders from around the world are calling on the leaders of the G7 countries to help create a rapid response unit to deal with outbreaks of deadly infections. The World Health Organization (WHO) was not well prepared for the outbreak of Ebola in West Africa.

The rapid response unit that is envisioned would be a part of WHO, but would be able to respond within days to an outbreak of serious infectious disease, said Jeremy Farrar, director of the health charity Wellcome Trust. “With Ebola, it’s taken too long,” he said. “It’s nonsense to say: ‘Isn’t it great? We’ve done in a year what normally takes four or five years’. We’ve got to get into a mindset that says these infectious diseases can emerge in days and weeks, so we need to respond to that, not to some fanciful notion of an ideal world.”

The leaders of the G7 member states, the seven most advanced economies in the world plus the European Union, are meeting at Schloss Elmau, Germany this weekend. The meeting includes Canada, France, Germany, Italy, Japan, the United Kingdom, and the United States.

Angela Merkel, the chancellor of Germany and host for the meeting, met in advance of this meeting with health specialists in May to discuss international health reforms. UK Prime Minister David Cameron has said he will support the idea of a rapid response unit.

The rapid response unit would include epidemiologists and specialists in viruses and other infectious diseases. The unit would include perhaps about 100 people from a reserve of up to 1,000 experts. Farrar has stated that it would cost up to $100 million in U.S. dollars to keep the unit ready, but that this amount pales in comparison to the direct and indirect costs of a large outbreak. The Ebola outbreak in West Africa may have cost that region up to $500 million, and it is still not over as yet in Guinea and Sierra Leone.

source: http://www.youthhealthmag.com/

 

MERS Mengganas di Korsel, RI Keluarkan Travel Advice

Wabah virus MERS yang mengganas di Korea Selatan (Korsel), membuat Pemerintah Indonesia mengeluarkan travel advice bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan pergi ke Korsel. Kebijakan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, Senin (8/6/2015).

“Kita sudah mengeluarkan travel advice, kita juga sudah bicara dengan Ibu Menteri Kesehatan,” kata Retno usai membuka seminar internasional bertajuk “International Workshop on Democracy and Innovation in Good Governance” di Jakarta.

“Jadi, kita hanya berikan advice mengenai situasinya, ini detail, kemudian jika lihat situs Kemlu, ada link-nya dengan Kementerian Kesehatan. Karena yang lebih berwenang menyampaikan hal mengenai MERS adalah Kemenkes, dan saya sudah bekerja sama dengan Ibu Menteri Kesehatan soal hal ini,” lanjut Menlu Retno.

Ketika diminta menjelaskan detail perihal isi travel adivice, Retno mencontohkan soal wilayah-wilayah mana saja yang terdampak virus mematikan itu. Dia menyarankan kepada WNI di Korsel untuk selalu berhati-hati. Retno menyatakan, rincian detail soal travel advice bisa ditanyakan ke Kemenkes.

Retno enggan berspekulasi apakah status travel advice ini bisa meningkat menjadi travel warning. “Kita lihat perkembangannya seperti apa,” imbuh Menlu perempuan pertama Indonesia itu.

source: http://international.sindonews.com/

 

Indonesian academics and experts call for an evidence-based public health response to drugs in Indonesia

JAKARTA, Indonesia, June 5, 2015 /PRNewswire-USNewswire/ — The following is being released by Open Society Foundations:

In an open letter to Indonesian President Joko Widodo, published in the leading health journal The Lancet, a group of prominent Indonesian academics and experts have called on the government to commit to proven public health approaches to address drug use, and to urgently discontinue strategies which have been found counterproductive such as involuntary rehabilitation and the death penalty.

“The Indonesian government has shown increased commitment to addressing drug use and guaranteeing the well-being of its citizens, but in order to achieve this it must choose public health and harm reduction strategies. The current drug war approach has been a proven failure around the globe, even causing more harm than good,” said Professor Dr Irwanto of the HIV and AIDS Research Centre at Atma Jaya University and veteran drug and HIV researcher in the country.

“We know what works: we already have the evidence and have been implementing health focused programmes that work in Indonesia since the early 2000s. We have an ethical obligation to provide our citizens with options that save lives, such as needle syringe programmes, opioid substitution therapy and community-based, voluntary drug treatment. But despite the proven success of these interventions, political commitment and funds are lacking, and current punitive strategies in Indonesia do not provide enough space for meaningful health programs. Our limited funds are instead being used to bolster fear-based approaches, which effectively drive people in need further away from health programs,” said Dr Ignatius Praptoraharjo, Researcher at the Center for Health Policy and Management in the Faculty of Medicine at Gadjah Mada University.

The group of experts question the validity of the estimates of drug use frequently used to suggest Indonesia is in the grip of a national drug emergency requiring a large-scale drug war, and call on the President to invest in more accurate data collection. The group are concerned that the government has used the estimates as the basis for national policies without providing sufficient opportunity for independent peer review.

“Obtaining valid estimates of drug use is not an easy, straight-forward process, yet we need to make sure that national policies are based on evidence that is thoroughly peer-reviewed and transparent. Each human life matters. Productive human lives may be compromised by misguided policies”, stated Prof. Dr. Irwanto.

People who use drugs face increasing stigma, discrimination and human rights violations as punitive drug control measures increasingly trump public health.

“HIV infections will continue to rise as long as drug users continue to live in fear of arrest or placement in involuntary rehabilitation,” said Dr. Kemal Siregar, Secretary General of the National AIDS Commission.

Signatories to the open letter argue in favour of establishing an independent, multi-sectoral committee on drug use comprising relevant government agencies, national ministries, researchers, service providers and community leaders tasked with reviewing available drug related data, setting priorities, recommending evidence-informed actions and monitoring progress.

“As people who use drugs, we have seen and experienced for ourselves that repressive and punitive approaches have exacerbated drug-related deaths and harms such as HIV and hepatitis C transmission,” adds Edo Agustian, National Coordinator of the Indonesian Drug Users Network. “We urge the government to work together with drug-using communities, academics and other stakeholders to build a more effective response before any more lives are lost.”

Signatories:

Prof. Dr. Irwanto, PhD, Researcher and Senior Observer, Atma Jaya HIV-AIDS Research Center;

Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, University of Indonesia’s Faculty of Law;

Dr. Siti Musdah Mulia, Muslim scholar and Chairperson of the Indonesian Conference on Religion for Peace Professor;

Professor Dr. D.N. Wirawan, Head of the Public Health Postgraduate Program at Udayana University;

Dr Ignatius Praptoraharjo, Researcher at the Center for Health Policy and Management in the Faculty of Medicine at Gadjah Mada University;

Dr. Robet Robertus, Senior Lecturer in the Sociology Department at Negeri University Jakarta;

Edo Agustian, National Coordinator of the Indonesian Drug Users Network;

Haris Azhar, Coordinator of Kontras (Commission for “the Disappeared” and Victims of Violence);

Dr A Setyo Wibowo, Lecturer and Head of Philosophy at Driyarkara Philosophy Institute;

Rafendi Djamin, Indonesian Representative to the ASEAN Intergovernmental Commission along with other signatories.

source: http://www.prnewswire.com

 

 

Pelayanan Kesehatan dari Pinggir ke Tengah

KEBUTUHAN untuk hidup sehat dan layak adalah hak dasar setiap orang yang dijamin oleh Undang-undang tanpa pandang bulu. Oleh karena itu, mestinya semua orang bisa dengan mudah mengakses pelayanan kesehatan bila dibutuhkan, tanpa harus bersusah payah. Namun itu masih merupakan cita-cita dan hanya sekadar harapan bagi sebagian orang. Bagi sebagian mereka, pelayanan kesehatan yang layak masihlah sebuah komoditi yang mewah dan eksklusif, yang sulit untuk didapat.

Layak dalam artian layak perlakuan, layak biaya, layak jarak dan waktu tempuh, layak mendapat keterangan yang sebenarnya tentang penyakit yang dialami, obat yang layak, waktu tunggu dan ruang tunggu yang layak, perawatan dan ruang rawat yang layak, suara petugas yang layak dan berbagai macam layak lainnya.

Pola pelayanan kesehatan kita hampir tidak berubah dari tahun ke tahun.Petugas hanya menunggu kedatangan pasien di poliklinik-poliklinik dan ruang rawat yang ada di puskesmas dan rumah sakit. Kalaupun ada yang turun langsung ke masyarakat, mereka adalah petugas penyuluh kesehatan (promkes) dan bidan desa untuk kegiatan posyandu dan imunisasi setiap bulannya.

Pola pelayanan seperti ini tentu sudah tidak memadai lagi. Masyarakat butuh sesuatu yang lebih. Pola pelayanan “tunggu bola” sudah saatnya kita tinggalkan, bahkan “jemput bola” pun sudah tidak bisa menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat saat ini. Metode pelayanan “rebut bola”, “rampas bola” harus dilakukan untuk memberi sesuatu yang lebih kepada masyarakat.

Uang berlimpah, transportasi seperti mobil puskesmas keliling (Pusling), sepeda motor dinas bukan barang langka lagi di Puskesmas-puskesmas. Ada Puskesmas yang mempunyai tiga sampai empat unit mobil Pusling dan mayoritas petugas yang memegang program mendapat motor dinas. Ini tentunya harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dan tidak hanya menjadi sarana transportasi petugas dari rumah ke tempat kerja saja.
Para pengambil kebijakan (policy maker) sudah harus mulai berpikir lebih dan bertindak lebih. Cukup sudah menjadi yang biasa-biasa saja. Kalau selama ini masyarakat baru bisa mendapatkan pelayanan dokter spesialis hanya di rumah sakit kabupaten dan provinsi, mengapa kita tidak pernah berpikir untuk mendekatkan akses itu ke mereka?

Tidak sulit

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk membuat kunjungan dokter spesialis ke puskesmas-puskemas pinggiran setiap satu bulan sekali secara berkala. Setidaknya empat dokter spesialis dasar saja, spesialis anak, obgin, bedah, dan internist. Percaya atau tidak ini akan memberi efek penurunan angka rujukan yang signifikan dan mengurangi tumpah ruahnya pasien di rumah sakit-rumah sakit rujukan.

Kita akui atau tidak, hampir semua dana yang dialokasikan untuk sektor kesehatan terserap untuk pengobatan (curative), padahal banyak permasalahan kesehatan lainnya yang cukup mendesak dan tidak kalah penting untuk dilakukan dan butuh biaya yang juga tidak kalah banyak. Kalau tetap fokus pada sisi curative berapa pun biaya yang dialokasikan tetap akan terserap dan malah tidak akan mencukupi. Harus lebih banyak lagi ruang dan anggaran yang dialokasikan untuk upaya promosi kesehatan.

Pola penyakit sudah bergeser. Sebagai sebuah negara berkembang yang sedang beranjak maju seperti Indonesia trend penyakit juga sudah bergeser dari penyakit infeksi/menular (communicable disease) ke penyakit tidak menular (non communicable disease) yang justru lebih berbahaya dan mematikan serta berbiaya tinggi. Apa yang harus kita lakukan? Membekali masyarakat dengan berbagai pengetahuan tentang pola hidup sehat sejak dini secara intens dan terstruktur agar bisamemilih dan memilah apa yang boleh dan apa yang tidak untuk kesehatan mereka.

Untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga penyuluh kesehatan yang lebih banyak dan handal. Tinggal di desa berbaur dengan masyarakat. Diberikan fasilitas tempat tinggal, transport dan penghasilan yang layak untuk menunjang tugasnya. Cukup berpendidikan Ahli Madya (akademi) dengan konsentrasi kesmas biar lebih fokus. Penyuluh kesehatan dengan basic sarjana kurang efektif untuk jangka panjang. Setelah sekali kenaikan pangkat mereka mulai berpikir untuk menjadi kepala puskesmas atau kepala seksi di dinas kesehatan.

Satu desa minimal seorang penyuluh. Mereka akan dievaluasi secara berkala dan terus akan ditambah pengetahuan dan diasah kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan berjenjang dan berkala. Kedengarannya sederhana. Tetapi bila dilakukan dengan benar ini akan efektif menurunkan kasus-kasus penyakit yang secara otomatis juga menurunkan biaya pelayanan kesehatan menjadi jauh lebih murah ke depannya.

Bila ada program bidan di desa, tentunya bukan suatu hal yang mustahil dan berlebihan bila kemudian ada program penyuluh kesehatan di desa, perawat di desa dan bahkan dokter di desa. Bila program tersebut belum terakomodir dalam bentuk Undang-undang atau Permenkes, bisa dipayungi dengan pergub/perbup dan atau peraturan wali kota. Tidak cukup hanya memberi raskin dan rawatan gratis kelas III kepada masyarakat yang sesungguhnya pemilik dari semua anggaran itu berasal.

Jumlah dokter spesialis jangan dibatasi. Selama ini pengadaan dokter spesialis seperti kartel, dibatasi jumlahnya. Kepala-kepala Unit Pelayanan Fungsional (UPF) di rumah sakit seperti raja-raja kecil yang mempunyai wewenang untuk menolak atau menerima spesialis yang mau masuk ke UPF-nya. Logikanya semakin banyak spesialis semakin mudah pula masyarakat mengakses pelayanannya. Stop mengondisikan eksklusivitas jasa spesialis.

Membuat regulasi

Pemerintah harus membuat regulasi agar masyarakat mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya. Ke depan pemerintah sudah harus mulai berpikir dan merencanakan agar para dokter dan dokter spesialis yang memilih berkarir di jalur PNS agar tidak dibolehkan lagi melakukan praktik private atau swasta.

Pemerintah harus sudah mulai menghitung-hitung jumlah penghasilan yang layak diberikan kepada mereka selaku profesional agar tetap fokus di tempat tugasnya dan tidak perlu mencari tambahan di tempat lain. Ini akan jauh lebih menguntungkan semua pihak bila direncanakan dengan matang dan diimplementasikan dengan arif. Tidak akan ada lagi perbedaan kualitas senyum dari seorang dokter yang sama di tempat yang berbeda.
Tidak ada masalah lagi bila kemudian para spesialis (empat spesialis dasar) ditempatkan di puskesmas-puskesmas karena pemerintah sudah menjamin kelayakan penghasilan mereka. Indahnya bila suatu ketika ini bisa terwujud. Akses pelayanan kesehatan begitu dekat dan nyata dengan masyarakat. Ada dokter di setiap desa, ada bidan, ada perawat ada penyuluh dan ada dokter spesialis di puskesmas-puskesmas kecamatan.

Saat ini mungkin terdengar lebay dan tidak mungkin. Tetapi itikat baik dan keyakinan diiringi perencanaan yang matang dan tekat yang kuat dari seluruh masyarakat dan pengambil kebijakan untuk mewujudkannya akan membuat hal ini menjadi kenyataan di suatu ketika. Bukankah orang bisa sampai ke bulan karena benar-benar yakin bahwa bulan itu bisa ditaklukkan? Bukankan sekian puluh tahun yang lalu itu juga terdengar sangat mustahil? Mengangkat kedua kaki secara bersamaan saja manusia tidak bisa bagaimana caranya bisa sampai ke bulan?

Upaya tersebut bisa kita wujudkan dengan memanfaatkan potensi yang ada secara maksimal. Ibarat dua sisi dari satu keping mata uang maka bagaimana caranya agar masyarakat bisa mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan mudah, dan petugas kesehatan juga mendapat penghasilan yang layak untuk menyejahterakan diri dan keluarganya. Marilah berhenti meminggirkan mereka-mereka yang di pinggiran. Marilah kita mulai dari sana. Maka lambat-laun segalanya akan membaik. Semoga!

Yusri Adam, SKM, MPH., Pemerhati masalah kesehatan. Saat ini bekerja sebagai Staf Teknis di Sekretariat Staf Ahli Menteri Kesehatan RI, berdomisili di Jakarta. Email :[email protected] dan [email protected]

sumber: http://aceh.tribunnews.com

 

Papua Jadi Sentra Pelayanan Kesehatan Saraf di Indonesia Timur

World Health Organization (WHO) sepakat bekerja sama dengan Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi) untuk mengembangkan pelayanan pengobatan saraf untuk Indonesia Bagian Timur, khususnya Papua.

Kesepakatan itu dilakukan, setelah tim ahli bedah saraf Indonesia dipimpin oleh Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi) Prof. Dr. Endro Basuki, Sp.BS (K), M. Kes melakukan pertemuan dengan Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr Khamchit Limpakarnjanarat di kantor perwakilan WHO gedung Kementrian Kesehatan, Jakarta, Jumat (30/5).

Dua dokter ahli bedah saraf dari Brain and Spine Centre (BSC) Surabaya, masing-masing dr Sofyanto, Sp.BS dan Dr Agus Anab, Sp.BS yang mengikuti pertemuan itu menjawab Tribun, menjelaskan bahwa untuk pertama kalinya WHO mengundang ahli bedah saraf Indonesia dalam kerangka untuk mengembangkan pelayanan saraf di Indonesia, khususnya Indonesia Timur.

“Dalam pertemuan itu, WHO menyatakan akan mendukung upaya pelayanan medis saraf di Indonesia timur. Untuk Indonesia timur akan dipusatkan di Papua,” kata Dokter Agus Anab. Dengan bantuan WHO pula, ahli bedah saraf Indonesia akan memberikan pelayanan di Papua.
“Tentu ini semua akan di bawah naungan Kementrian Kesehatan. WHO memberi support agar pelayanan bedah saraf dan penanganan saraf bisa di Indonesia timur, karena memang selama ini pelayanan bedah saraf di Indonesia sangat kurang.

Dalam presentasi di depan perwakilan WHO di Jakarta, Dokter Endro Basuki menyatakan bahwa jumlah ahli bedah saraf di Indonesia memang kecil, yaitu 280 orang saja harus melayani sebanyak 247 juta penduduk Indonesia.

“Disebutkan perbandingan antara ahli bedah saraf dengan penduduk Indonesia adalah 1:1.000.000. Jadi sangat kecil sekali,” kata Dokter Endro. Dari 280 ahli bedah saraf Indonesia yang ada terbanyak ada di Jakarta, yaitu 80 orang. Sisanya baru tersebar di seluruh Indonesia.

Persoalannya, tak satu pun dokter bedah saraf Indonesia berpraktik di Indonesia Timur, khususnya Papua. “Ini yang menjadi tantangan Perspebsi di masa mendatang,” kata Endro menegaskan.

Bandingkan dengan Jepang, negeri Sakura itu mempunyai 6.000 dokter ahli bedah saraf dengan jumlah penduduk 128 juta jiwa, dengan perbandingan 1:21.000 (satu dokter melayani 21.000 jiwa). Sedangkan Amerika Serikat memliki 5.000 dokter ahli bedah saraf untuk melayani 389 juta jiwa, dengan perbandingan 1:65.000 (sat dokter bedah saraf untuk 65.000 jiwa).

Kini Perspebsi bertanggung jawab untuk mengembangkan tenaga ahli bedah di Indonesia yang belajar di beberapa pusat pendidikan bedah saraf di Unibersitas Indonesia (1971), Universitas Padjajaran Bandung (1980), Universitas Airlangga (1983), Universitas Sumatera Utara (2010), Universitas Gajah Mada (2011).

“Sampai saat UGM belum melahirkan ahli bedah saraf, karena pendidikan ini membutuhkan waktu lama,” tegas Endro Basuki.
Kelak menyusul Universitas Dipongeoro (Semarang), Universitas Udayana (Denpasar), dan Universitas Hasanuddin (Makassar) membuka jurusan spesialis bedah saraf di Indonesia. (priyo suwarno)

sumber: http://kaltim.tribunnews.com