Kemenkes Gandeng PPATK Cegah Kasus Korupsi

30apr

30aprGuna mewujudkan pemerintahan yang bersih, Kementerian Kesehatan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sosialisasikan tata cara penggunaan uang negara.

Melalui kerja sama itu diharapkan tak ada lagi kasus korupsi di tubuh Kemenkes. Hal itu dikemukakan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek usai penandatangan naskah kerja sama dengan Kepala PPATK, M Yusuf di Jakarta, Kamis (30/4).

“Informasi semacam ini sangat penting, karena tak semua karyawan Kemenkes tahu rambu-rambu penggunaan uang negara. Padahal dana yang dikelola Kemenkes begitu besar,” ujar Nila.

Dikatakan, kerja sama meliputi pertukaran informasi, peningkatan kompetensi, dan riset di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Nila berharap karyawan buka hanya tahu, tapi menjadikan rambu tersebut sebagai bagian dari gaya hidup. Sehingga sadar uang yang ada di tangannya itu uang rakyat, dan tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan pribadi.

Sementara itu, Kepala PPATK, M Yusuf mengungkapkan, pihaknya setiap hari menemukan sekitar 300- 400 ribu pengaduan terkait transaksi keuangan yang mencurigakan. Dan semua informasi itu harus dianalisis serta diinvestigasi oleh PPATK.

“Sudah banyak pejabat negara yang terbukti melakukan korupsi setelah kita lakukan penelusuran transaksi yang mencurigakan,” katanya.

Yusuf menyayangkan, banyak transaksi dengan nilai diatas Rp 500 juta dilakukan secara tunai, untuk menghindari penelusuran PPATK. Padahal umumnya orang melakukan transaksi diatas Rp 500 juta lebih nyaman melalui transfer bank.

“Jika ada orang yang transaksi tunai diatas Rp 500 juta ini, kita segera lakukan pengawasan. Karena transaksi ini sangat tidak wajar,” ucap Yusuf.

Ia berharap kerjasama dengan Kemenkes ini akan mendorong semua pegawai dilingkungan Kemenkes terhindari dari uang-uang yang tidak jelas.

Yusuf menambahkan, profesi dokter rentan terjebak dalam pusaran tindakan korupsi. Pencucian uang itu bisa dilakukan lewat ajakan pendirian klinik kesehatan.

“Biasanya investasi ditanggung pelaku korupsi, dengan pembangian keuntungan 70 persen untuk pemilik modal dan 30 persen untuk dokternya,” ujarnya.

Karena itu, Yusuf mengingatkan pada para dokter agar hati-hati saat diajak berinvestasi atau dititipkan uang dari orang yang belum lama dikenalnya. Karena jika tersangkut dalam lingkaran tersebut, bisa terkena kasus untuk pencucian uang hasil korupsi. (TW)

{jcomments on}

Ledakan Penduduk Bisa Jadi Anugerah di Indonesia

Sejumlah pihak harus berkontribusi dan bersinergi agar bonus demografi atau ledakan penduduk yang diprediksi terjadi di Indonesia antara tahun 2020-2030 di Indonesia dimanfaatkan untuk pemerataan pembangunan nasional.

‎Penanggung Jawab Yayasan Mahkota Insan Cita, Hanifah Mursyidan Baldan mengatakan, hal itu bukan mustahil, asalkan dikelola melalui perencanaan yang matang.

“Akan menjadi anugerah jika diraih dengan perencanaan. Berbagai langkah harus diambil, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan hukum,” kata Hanifah dalam Seminar Bonus Demografi bertema “Semangat Kartini Menyongsong Puncak Bonus Demografi 2020-2030” di Jakarta, Senin (27/4/2015).

Bonus demografi yang dimaksud adalah tingginya jumlah usia produktif di Indonesia dibanding era sebelumnya. Di luar itu semua juga diingatkan, saat ini kebijakan yang diambil harus berbasis pada kependudukan.

“Jumlah penduduk tetap harus dikendalikan dan peran BKKBN juga harus dimaksimalkan,” kata Hanifah.
Lebih lanjut menurutnya, dengan kesiapan dan kehadiran negara memberikan layanan ruang gerak untuk hidup, dari kemudahan yang diberikan, fasilitas pendidikan, terbuka fasilitas kerja, pendorong lahirnya kreativitas, dirinya yakin akan memberikan kontribusi positif bangsa ‎dan negara.

Untuk mendukung semua itu, setelah melalui pembahasan yang panjang, melalui Menteri Kesehatan ‎juga ada sejumlah rekomendasi untuk disampaikan ke Presiden.

Yang pertama,‎ mendesak pemerintah untuk mendukung dan menginformasikan kepada rakyat tentang pentingnya bonus demografi melalui kegiatan kementerian dan pemberdayaan masyarakat.

“Juga meminta ‎pemerintah untuk melaksanakan kebijakan yang memprioritaskan bidang pendidikan, kesehatan, Ekonomi, kependudukan, hukum dan HAM,” kata Hanifah, yang juga istri dari Menteri Agraria dan Tata ruang, Ferry ‎Mursyidan Baldan ‎itu.

sumber: http://www.tribunnews.com/

 

 

Penyakit tak Menular Indonesia Telan 4,47 Triliun Dolar AS

Indonesia menghadapi potensi kerugian total sebesar 4,47 triliun dolar AS dari 2012 sampai 2030 yang disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan kronis, diabetes, dan kondisi kesehatan mental.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh World Economic Forum, beban ekonomi tersebut diakibatkan oleh meningkatnya permasalahan PTM di Indonesia.

Laporan terbaru dari World Economic Forum berjudul The Economics of non-communicable diseases (NCD) in Indonesia atau Perekonomian PTM di Indonesia mengenai pengaruh ekonomi yang disebabkan oleh PTM.
Laporan itu bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang kerugian pengeluaran yang dapat dialami oleh suatu negara. Laporan tersebut diterbitkan Senin (20/4) pada World Economic Forum on East Asia.
Laporan tersebut menekankan peningkatan PTM di Indonesia dari tahun 2004 sampai dengan 2014, angka kematian yang diakibatkan oleh PTM mengalami kenaikan dari 50,7 persen menjadi 71 persen. Dan nanti pada tahun 2030, peningkatan dampak penyakit kasus diabetes diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat.

Direktur Senior Global Health and Healthcare Industries Arnaud Bernaert mengatakan, PTM memberikan beban yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia yang kemungkinan akan meningkat dalam dua dekade mendatang.

“Kabar baiknya adalah permasalahan ini dapat diperbaiki dengan intervensi lewat mempromosikan status kesehatan secara keseluruhan kepada masyarakat, dimana kami telah menemukan pembuktian atas hasil investasi (Return on Investment) yang baik untuk segmen bisnis, pemerintahan dan masyarakat secara keseluruhan,” kata Arnaud Bernaert di acara World Economic Forum on East Asia di Hotel Shangrilla Jakarta, Senin (20/4).

Menurutnya, sudah terdapat bukti keberhasilan intervensi untuk mengatasi PTM. World Economic Forum memberikan enam ulasan intervensi yang menargetkan pencegahan PTM secara geografis.
Analisis hasil investasi untuk intervensi ketika diimplementasikan diperkirakan dapat mengembalikan investasi sebesar 90 persen sampai 3.700 persen.

Program intervensi tersebut terdiri dari lima pokok. Pertama, mengurangi asupan lemak jenuh melalui hibah pemerintah bagi penggunaan komposisi minyak sehat untuk makanan di luar rumah. Kedua, pencegahan serangan jantung dan stroke melalui pemeriksaan awal dan peningkatan akses terhadap obat yang dibutuhkan. Ketiga, mendukung kehamilan yang sehat. Keempat, memerangi gizi buruk di awal kehidupan. Kelima, mengurangi polusi udara.

Dalam laporan pertama dari seri Perekonomian PTM, intervensi di India telah memberikan hasil kesehatan yang menjanjikan serta keuntungan ekonomi. Seperti pemeriksaan untuk hipertensi, vaksinasi untuk Human Papilloma Virus (HPV) dan mengurangi penggunaan tembakau.

Pada World Economic Forum in East Asia yang diselenggarakan pekan ini, sesi-sesi kesehatan membahas hasil laporan yang ditemukan, mempelajari kasus yang berhasil diimplementasikan di negara-negara lain serta mencari solusi untuk mengatasi PTM di Indonesia dan Asia Tenggara.

sumber: http://www.republika.co.id/

 

 

The World’s Medical Supply Chain Is Riddled With Counterfeit Drugs

In 2012, the FDA warned physicians and medical practices that their supplies of bevacizumab, an expensive drug used in combination with chemotherapy to inhibit tumor growth, might be tainted. It turns out some hospitals were literally giving cancer patients cornstarch instead of anticancer meds: The FDA found that some batches of the counterfeit beyacizumab contained no active pharmaceutical ingredients at all.

Tim Mackey, director of the Global Health Policy Institute, said that even today it’s hard to guess exactly how many patients were exposed to the counterfeit bevacizumab; those being treated would have a high mortality rate anyway. “It’s kind of like the perfect crime,” Mackey said.

Further obscuring the extent of the ersatz drug is the maze of grey market distributors it wound through. Before the counterfeit bevacizumab arrived in the United States, investigators found, it traveled through Turkey, Switzerland, Denmark, the U.K., and Canada.

Despite the scope of this scandal, the security of our medical supply chain hasn’t improved much. “It could happen tomorrow and we wouldn’t be any more protected,” Mackey said.

The process for reporting incidents of counterfeited drugs around the world is severely impaired, a study published today in the American Journal of Tropical Medicine and Hygiene has found. Of 169 countries, 127 reported no counterfeit incidents at all, meaning, Mackey said, that many countries are simply ignoring the problem. Without an accurate picture of the security of the medical supply chain, it’s difficult for governments to crack down on drug counterfeiting. The study is the first global-scale assessment of drug counterfeiting.

The study found that counterfeit medicine turned up in a range of settings: from small community pharmacies providing anti-malarial drugs to U.S. clinics providing anticancer treatment. From 2009 to 2011, the study counted 1,799 different types of counterfeited medicine across 1,510 reports of “counterfeit incidents,” which encompass a range of situations or quantities of drugs, worldwide. A customs official unearthing multiple counterfeited drugs, for example, would be counted as one incident.

China reported the largest number of counterfeit incidents, followed by Peru, Uzbekistan, Russia, and Ukraine. However, Mackey said, these finding should be taken with a grain of salt: Countries such as China, which has a reputation for counterfeit medicine, might be looking for counterfeit drugs and therefore turn up more, while other countries, such as India, might be ignoring drug security in part to delay having to address it. “The countries and numbers would look really different,” with more accurate reporting, Mackey said.

Although the study’s data might be limited, it emphasizes the need for a standardized procedure and system for reporting counterfeit medicine worldwide. The majority of counterfeit drugs—about 53 percent—fall under “lifesaving-related drug categories,” the study found.

“There’s this global drug supply chain, and there’s gaps in it,” Mackey said. “We really need to make this a global priority.”

source: http://www.newrepublic.com/

 

 

Menyisir ke Pelosok dengan Nusantara Sehat

Membangun Indonesia dari pinggiran merupakan salah satu visi-misi kabinet kerja yang dipimpin oleh presiden Joko Widodo. Untuk mendukung rencana kerja yang termaksud dalam Nawa Cita poin ketiga ini, Kementerian Kesehatan merupakan pihak yang sangat berkepentingan. Oleh sebab itu, beberapa waktu lalu Kemenkes meluncurkan program Nusantara Sehat, setidaknya dengan program ini keterjangkauan hak fasilitas kesehatan masyarakat yang tersebar se-Nusantara ini dapat terjangkau oleh pemerintah pusat.

Disela-sela peluncuran program Nusantara Sehat pada Februari lalu, Menkes Nila Djuwita F. Moeloek mengatakan, program teranyar ini bertujuan untuk memperkuat pelayanan kesehatan primer untuk mewujudkan Indonesia Sehat melalui peningkatan jumlah, sebaran, komposisi, dan mutu tenaga kesehatan. Program Nusantara Sehat melibatkan sejumlah tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan lingkungan, analis kesehatan, dan tenaga kesehatan masyarakat di dalam satu tim kerja.

Dalam program Nusantara Sehat ini, Kemenkes akan mengirim ratusan tenaga kesehatan ke daerah perbatasan di seluruh Indonesia. Mereka akan ditempatkan di 120 Puskesmas yang tersebar di 44 kabupaten di 15 provinsi. Untuk memastikan program teranyar ini berjalan dengan baik, Menkes memastikan pengiriman tim kesehatan ini tidak akan berbenturan dengan program pengiriman dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap). Sebab kata Menkes, kedua program ini, dinilainya, akan saling melengkapi satu sama lain untuk mengisi kekosongan tenaga medis di seluruh daerah di Indonesia.

Program Nusantara Sehat, menurut Menkes, merupakan salah satu program prioritas Kemenkes untuk lima tahun ke depan. Berbasis pada tim, program ini berupaya memperkuat pelayanan kesehatan primer yang ada dengan berfokus pada tindak promotif dan preventif. “Tim ini harus pro aktif di masyarakat. Yang terpenting adalah mengubah pemikiran atau pandangan dari masyarakat agar mengerti bahwa kesehatan itu di hulu dari segala kehidupan kita,” ujar Menkes.

Sejauh ini, Menkes mengakui terdapat beberapa kendala utama dalam mewujudkan layanan kesehatan yang terjangkau bagi setiap masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah wilayah geografis Indonesia yang luas. Hal ini juga menjadi isu diskriminatif yang terus berkembang untuk pelayanan kesehatan di daerah terpencil atau perbatasan. “Geografis NKRI ini memang sulit. Tugas kami masih berat karena kami masih berupaya memberi keadilan untuk masyarakat Indonesia,” kata nya.

Seperti diketahui, wilayah terpencil dan perbatasan kerap kali kurang mendapat perhatian pemerintah pusat, termasuk dalam hal pelayanan kesehatan. Melalui program Nusantara Sehat, Menkes meyakini, permasalahan kesehatan dapat diatasi, tentu dibantu dengan dukungan dari pemerintah daerah setempat dan juga lintas kementerian terkait.

“Maka dari itu saya meminta komitmen dari para bupati dan wali kota setempat. Saya juga telah berkomunikasi dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat agar mendukung penyediaan sarana dan prasarana, seperti transportasi, listrik dan air bersih di lokasi yang menjadi fokus pengiriman tim ini,” katanya.

Masing-masing dari puskesmas tersebut rencananya akan ditempati oleh satu tim kesehatan yang terdiri dari 9 tenaga kesehatan, yakni dokter perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi dan tenaga kefarmasian yang berusia di bawah 30 tahun.

Ditegaskan oleh Menkes, tim program Nusantara Sehat ini adalah para tenaga profesional kesehatan dengan latar belakang medis seperti dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian yang berusia di bawah 30 tahun. Seperti ditetapkan oleh Menkes atas persetujuan Menteri Keuangan, tim NS akan diberi gaji/insentif sebesar 4-8 juta perbulan.

“Kami tentunya akan menjamin keselamatan tenaga kesehatan selama melakukan tugasnya dan mendukung program Nusantara Sehat ini. Selain melakukan pelatihan, kami juga akan menerbitkan izin praktek untuk tim tenaga kesehatan,” kata Menkes.

Tim pertama Nusantara Sehat akan mulai bertugas pada tanggal 29 April 2015 hingga dua tahun ke depan. Proses perekrutan yang dilakukan secara online dan direct assesment menyeleksi calon berdasarkan resume, tes tertulis, wawancara tatap muka, tes psikologi, serta Focus Group Discussion (FGD) untuk menilai individu dalam dinamika kelompok. Peserta yang telah lulus seleksi akan diberi pelatihan dan pembekalan oleh Pusdiklat Aparatur Kemenkes, bekerja sama dengan Armabar, Fakultas Kedokteran UI dan RSCM, serta Puskesmas.

Pada 2015, fokus program NS direncanakan di Puskesmas kecamatan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga baik darat dan laut di 48 kabupaten/kota pada 15 Provinsi yaitu Aceh, Sumut, Riau, Kepri, Bengkulu, NTT, Kalbar, Kaltim, Kaltara, Sulut, Salteng, Maluku Utara, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Pembekalan

Untuk memantapkan program Nusantara Sehat ini, Kemenkes melakukan pembekalan terhadap tenaga kesehatan angkatan 1 selama satu bulan. Pembekalan yang dimaksud antara lain, pelatihan fisik dan mental di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto, Jawa Barat, dan dilanjutkan dengan pembekalan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo-FKUI, Jakarta.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan Pelayanana Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan Diah Satyani Saminarsih mengatakan, pembekalan ini diberikan agar mereka bisa bertahan di daerah tertinggal dan mengembangkan pembangunan kesehatan di daerah tersebut menjadi lebih baik.

Sebab kata Diah, tak tertutup kemungkinan, ada tenaga kesehatan yang menyerah di tengah jalan. Namun, Diah optimistis, sebanyak 143 tenaga kesehatan ini mampu melewati tantangan membangun kesehatan di daerah. Mereka merupakan tenaga kesehatan terpilih dari 6671 yang mendaftar di seluruh Indonesia. “Kalau mau jadi agen perubahan, ya harus kuat. Selama 4 minggu ke depan (pembekalan) kita pastikan mereka kuat. Melihat program Pencerahan Nusantara dulu, mereka enggak ada yang minta pulang,” kata Diah.

Mereka dibekali ilmu komunikasi untuk memecahkan suatu masalah dan memperbaiki perilaku masyarakat di daerah maupun sistem pelayanan kesehatan di daerah. Mereka pun boleh saja mendesak atau mengkritisi dinas kesehatan setempat hingga kepala daerah jika ada suatu masalah di Puskesmas.

Penguatan Tenaga Kesehatan

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDM) Kemenkes, Usman Sumantri menjelaskan, proses rekrutmen tenaga kesehatan telah dilakukan secara online. Saat ini memasuki seleksi tahap kedua. “Cukup banyak tenaga kesehatan yang mendaftar menjadi tim Nusantara Sehat pada angkatan pertama ini,” ujarnya.

Jumlah pendaftar dari seluruh Indonesia mencapai 6.671 tenaga kesehatan. Dari jumlah itu, yang lolos seleksi sebanyak 630 orang. “Sebanyak 630 orang itu dipanggil ke Jakarta untuk ikut seleksi tahap II. Nanti kita ambil yang memiliki kompetensi saja, berapapun jumlahnya,” ucap Usman. Usman menjelaskan, mereka akan bekerja secara tim dengan anggota lainnya sebanyak 9 orang. Tenaga kesehatan yang menjadi tim Nusantara Sehat yaitu, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga gizi, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknologi laboratorium medik atau analis kesehatan, tenaga kefarmasian, dan kesehatan masyarakat.

“Mereka akan ditugaskan di wilayah perbatasan selama 2 tahun,” kata Usman Sumantri. Kemenkes sebenarnya menargetkan sekitar 960 tenaga kesehatan untuk disebar ke beberapa daerah di Indonesia selama 2015 ini. Sebelum diberangkatkan ke daerah, mereka akan diberi pembekalan khusus. Untuk itu, Kemenkes bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut untuk memberikan bekal pertahanan selama di laut. Sebab, mereka akan dikirim ke daerah yang akses jalannya tidak mudah.

Melalui program Nusantara Sehat diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan bayi, menurunkan angka penyakit tidak menular, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat di masyarakat. “Program Nusantara Sehat ini penekanannya pada kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan dilakukan secara tim dengan tenaga kesehatan lain yang ada di wilayah tersebut” kata Usman menandaskan.

sumber: http://www.gatra.com/

 

More Than Numbers: The Human Stories Behind Global Health Data

Numbers surround us every day, from the code used to communicate between mobile phones to the number of plates needed for lunch. It is easy to forget exactly how important these numbers really can be, especially when removed from the actual people or functions they represent. This year, I have been working as a Monitoring and Evaluation Officer for the Uganda Village Project, a NGO based out of the rural district of Iganga, Uganda. Throughout my year, I have seen numbers: HIV testing numbers, malaria bed net distribution numbers, family planning outreach numbers, obstetric fistula repair surgery numbers, among thousands more. In the daily deluge of information, I must constantly remind myself that these numbers, though aggregated for analysis, represent actual people and lifesaving situations. The 15 participants who received the Depo shot at the last outreach in Namunkesu represent 15 women who are planning their families for a brighter future for themselves and their own. The 150 participants who received HIV test results mean that there are 150 villagers in Bukaigo that can receive ART treatment if necessary, and sleep easier that night knowing their status. The people of these villages are the true representation of the numbers, but unfortunately the human story is too often divorced from them after collection in order to do mega-analyses and aggregation.

This past month I had the incredible opportunity to help lead an impact evaluation research project of the villages where UVP does their work. Currently they have worked in 24 villages out of a list of 70. Julius (my co-fellow) and I were tasked to collect data from 15 households in each village to see if the intervention villages differ from the non-intervention villages. It was a busy six weeks; we both were responsible for supervising a team of enumerators and worked Monday through Saturday 10 hours a day. All of the data collection happened in dry season, meaning better roads but also constant 95-degree temperatures (35 degrees Celsius). Despite the challenges, the collection went well and gave both Julius and I a chance to interact with the “numbers” we had been working with all year. Reading on a computer screen that a family has four children and the mother is using family planning is no substitute to seeing the pride and joy shining from her face when talking about her family’s health and wellbeing. During our 36 days of data collection, I was able to see the numbers come alive, and it left me with a profound gratitude for the life-changing work my organization is doing. Not all numbers tell a happy story, sadly, and directly viewing the challenges also has left a deep impact on me, and an insatiable desire to do more.

The Iganga District is very rural and one of the poorest for the amount of access to health the populous should have; the main artery road from Nairobi to Kampala almost bisects the district. This has traditionally resulted in greater government investment, but also in a host of problems brought in by transportation workers and other migrants. With a large government hospital already in place in Iganga, and a private one being built, there is no reason that any women should give birth without an attendant, or for any life-threatening health situation to go untreated. We found lack of access to be the case time after time and were able to see firsthand the pain of sick family members or lost loved ones. This is unacceptable to me, and shows just how far we still have to go for health equity in rural locations around the world. Health should not be something that can only be accessed by those who have the means to pay for treatment, but should rather be shared by everyone, especially those in fragile economic situations.

How de we solve these issues? I am not sure if I have the answer for that, but I am confident that programs such as Global Health Corps, Uganda Village Project and their host of other partner organizations are working towards a viable solution. The Iganga District is changing: Overall health is increasing and people are generally more knowledgeable about healthy behaviors than they were 10 or 15 years ago. This change has come slowly though, and many thousands of lives have been negatively affected in the meanwhile. I may not have the solution, but I do have my experiences and skills that I continue to use to promote health equity and justice. The journey for a healthy world is far from over, and I am ecstatic that I am able to do my part to support that important voyage.

Numbers still surround me on a daily basis, but I can take satisfaction in knowing that they are no longer only numbers. I have seen the source of these numbers, and their stories and faces will continue to be present in my daily data use for as long as I work in this field.

source: http://www.huffingtonpost.com/

 

 

IDI: Pemerintah Harus Antisipasi Serbuan Dokter Asing

Jelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Indonesia dikhawatirkan menjadi ladang basah bagi dokter asing maupun pemodal asing di bidang kesehatan. Jika tidak diantisipasi, hal itu bakal mengancam kedaulatan pemerintah, terutama sektor kesehatan.

“Dalam Asean Framework Agreement on Services yang telah ditandatangani, disebutkan penyertaan modal asing bisa mencapai 70 persen, kecuali di Makassar dan Manado, sebesar 51 persen. Jika pemerintah tidak melakukan sesuatu, habislah Indonesia,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indo­nesia (IDI) Zaenal Abidin dalam diskusi bertajuk “Kedaulatan Kesehatan Menjelang Serbuan Dokter Asing” di Jakarta, Senin (20/4).

Pembicara dalam diskusi tersebut, Ario Djatmiko, Ketua Bidang Penataan Globalisasi Praktik Kedokteran, PB IDI, Bambang Supriyatno, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia dan Gubernur Lemhanas, Budi Susilo Soepandji.

Zaenal menampik jika kekhawatiran terbesar dari pasar bebas ASEAN adalah tidak bisa bersaing­nya para dokter di Indonesia de­ngan dokter asing. Kondisinya lebih dari itu. Bahayanya, jika dalam era pasar bebas ASEAN akan memunculkan perusahaan asing di bidang kesehatan.

“Kalau hanya dokternya saja, saya tidak terlalu pusing. Tetapi jika yang masuk itu adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang kesehatan. Artinya, mereka akan membuka lahan disini, bukan sekadar dokter praktik saja,” ujarnya.

Karena, lanjut Zaenal, perusahaan asing yang akan masuk bukan bertujuan untuk memberi kemakmuran masyarakat, melainkan hanya untuk berbisnis dan mencari keuntungan.

“Masuknya asing tidak menjamin dapat meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia,” ucapnya menegaskan. Zaenal melihat keberadaan asing tersebut akan mengancam kedaulatan negara di sejumlah sektor, terutama di bidang kesehatan.

Pemerintah harus melakukan antisipasi atas kemungkinan terburuk ini dalam penerapan MEA.”Bila kedaulatan kesehatan Indonesia dianggap sebagai harkat dan harga diri negara, maka pemerintah harus memperhitungkan dan memproteksi rakyat kecil agar mampu bertarung di era MEA ini,” katanya.

Hal senada dikemukakan Ario Djatmiko. Katanya, pemerintah harrus sepenuhnya memegang kendali dalam perbaikan sistem kesehatan nasional.

“Di luar negeri, pemerintahnya mampu berperan dalam memimpin perang persaingan global dengan menyiapkan sistem terbaik. Sementara, pembangunan kesehatan kita masih sangat lemah tanpa dukungan pemerintah,” katanya.

Sementara Ketua Konsil Ke­dokteran Indonesia (KKI), Bambang Supriyanto juga mengungkapkan pendangannya bahwa MEA akan menjadi ancaman lebih untuk ketahanan kesehatan yang masih perlu perbaikan dan kerja sama dengan pemerintah. (TW)

{jcomments on}

Ini Macam-macam Kendala Untuk Perangi Diabetes Di Indonesia

Upaya untuk mengendalikan penyakit diabetes saat ini secara umum masih menghadapi beberapa tantangan.

Menurut Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Achmad Rudijanto terdapat berbagai kendala akses pelayanan kesehatan dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan masih banyaknya tenaga kesehatan yang kurang terlatih sehingga belum bisa mengimbangi peningkatan yang terjadi pada penyandang diabetes.

“Pada strategi pelayanan kesehatan bagi penyandang diabetes, peran dokter umum menjadi sangat penting sebagai ujung tombak di pelayanan kesehatan primer. Penyandang diabetes harus diedukasi agar dapat mengelola diri sendiri dengan baik karena hal ini merupakan salah satu kunci kesuksesan program pengendalian diabetes,” katanya.

PERKENI sendiri merupakan salah satu lembaga yang terlibat dalam program Patrnership in Diabetes Control in Indonesia (PDCI) yang diselenggarakan bersama Sanofi Group dan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

PDCI adalah program pelatihan peningkatan kapasitas bagi 5.000 dokter umum dan 500 internis di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam tata laksana penyakit diabetes guna mengendalikan laju angka diabetes di Indonesia.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2012 – 2015 ini, program PDCI telah dilaksanakan dalam lima gelombang dengan 33 kali pelatihan. Dari pelatihan tersebut, sebanyak 2.500 dokter umum dan 300 internis berhasil dilatih dalam hal diagnosa dan tata laksana diabetes.

“Nantinya program ini akan terus berlanjut dan diharapkan tidak hanya tercetak ribuan dokter umum, ratusan dokter ahli penyakit dalam dan puluhan konsultan tetapi terus meningkat diperiode selanjutnya,” ujar Achmad.

sumber: http://lifestyle.bisnis.com/

 

 

World Health Organization Admits Failings in Handling Ebola

The World Health Organization (WHO) has admitted serious failings in its handling of the Ebola crisis, its leadership said in a statement seen by Reuters on Sunday.

“We have learned lessons of humility. We have seen that old diseases in new contexts consistently spring new surprises,” said the statement, attributed to the WHO Director-General Margaret Chan and the deputy director-general and regional directors.

“We have taken serious note of the criticisms of the Organization that, inter alia, the initial WHO response was slow and insufficient, we were not aggressive in alerting the world … we did not work effectively in coordination with other partners, there were shortcomings in risk communications and there was confusion of roles and responsibilities…,” it said.

source: http://www.israelnationalnews.com/

 

Kenaikan Biaya Kesehatan di Indonesia Lampaui Inflasi

Biaya kesehatan di Indonesia meningkat sebanyak 11,5 persen dari tahun 2011 hingga 2012. Kemudian pada 2012 hingga 2013, biaya kesehatan melonjak menjadi 12,5 persen.

Direktur Operasi AXA Mandiri Kartono mengungkapkan hal itu merupakan hasil survei The Global Medical Trend Survey Report oleh Tower Watson dan menunjukkan bahwa naiknya biaya kesehatan itu lebih tinggi dari inflasi.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2012 inflasi sebesar 4,3 persen dan pada 2013 sebesar 8,4 persen.

Menurut dia, seiring dengan makin naiknya biaya kesehatan, kesadaran masyarakat terkait hal itu juga meningkat. Sehingga, banyak masyarakat yang mulai mencari proteksi kesehatan untuk mengantisipasi naiknya biaya kesehatan.

“Saat ini masyarakat banyak mendapatkan informasi tentang perlunya kesehatan lewat dunia maya. Apalagi sekarang ini, pengguna internet di Indonesia semakin meningkat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2015).

Terkait dengan hal itu, AXA Mandiri dan AXA meluncurkan kampanye kesehatan dan produk asuransi kesehatan terbaru di ranah digital.

Dalam kampanye ini, AXA Mandiri dan AXA juga menghadirkan dua produk kesehatan yakni Mandiri Kesehatan Optima yang dijual lewat distribusi bancassurance dan produk Family Flezi Health lewat distribusi keagenan.

Sementara itu, Chief Marketing Officer AXA Indonesia Emmanuel Wehry menjelaskan, kampanye tahun ini merupakan yang ketiga kalinya digelar AXA. Sebelumnya, kampanye serupa sudah digelar pada 2013 dan 2014 lampau. “Ini sebagai komitmen kami pada kesehatan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com