World Health Body Records More Than 3,000 Measles Cases in Russia

Russia has seen more than 3,000 measles cases since the beginning of last year, The World Health Organization has said.

The World Health Organization in Europe called on Wednesday for measles vaccination campaigns to be stepped up across the region after recording 22,000 cases of the highly infectious disease since the start of 2014.

Saying she was “taken aback” by high case numbers, Zsuzsanna Jakab, the UN health agency’s European director, said the 22,149 reported cases from seven countries threatened the region’s goal of eliminating measles by the end of 2015.

Even though measles cases fell by 50 percent from 2013 to 2014, large outbreaks continue in both eastern and western Europe, the WHO said.

Italy has seen 1,674 measles cases since the beginning of last year, while Germany has had 583, Kyrgyzstan 7,477 and Russia more than 3,240.

Measles is a contagious and sometimes deadly viral disease which can SPREAD very swiftly among unvaccinated children.

There is no specific treatment and most people recover within a few weeks, but, particularly in poor and malnourished children and people with reduced immunity, measles can cause serious complications including blindness, encephalitis, severe diarrhea, ear infection and pneumonia.

source: http://www.themoscowtimes.com/

 

 

Alasan Indonesia Belum Miliki Regulasi Rokok Elektrik

Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mengeluarkan sikap bahwa rokok elektrik (rotrik) sangat berbahaya untuk kesehatan. Namun sampai saat ini, pemerintah Indonesia belum juga mengeluarkan regulasi terkait hal tersebut.

“Sejauh ini masih dalam pembahasan antara Kementerian Kesehatan dan BPOM,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama di seminar kesehatan yang digelar Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia di Jakarta, Selasa (3/3).

Pembahasan terkait rotrik sebetulnya sudah berlangsung sejak tahun 2014. Tapi, menurut Tjandra, ada beberapa persoalan yang membuat regulasi tentang rokok yang dikenalkan pertama kali di Tiongkok pada 2003 itu belum juga rampung.

“Ada banyak hambatan, salah satunya karena rokok elektrik ini belum masuk dalam produk kesehatan. Kalau rokok (konvensional) kan jelas sekali ada aturannya di PP 109, sementara ini (rotrik) hanya barang publik saja yang dijual tanpa izin Kementerian Kesehatan atau BPOM,” ujarnya.

Alasan lainnya juga karena rotrik memiliki jenis yang beragam. WHO sendiri memperkirakan saat ini terdapat 466 merek produk rokok elektrik global dengan nilai penjualan mencapai US$ 3 miliar.

“Rokok elektrik itu banyak macamnya, ada yang menggunakan nikotin, ada juga yang hanya memakai perasa tanpa nikotin. Inilah yang membuat kami kesulitan menyusun regulasi,” ujarnya.

Kepala Sub Direktorat Pengawasan Rokok Direktorat Pengawasan Napza BPOM, Lela Amelia menambahkan, saat ini rotrik memang dijual bebas tanpa cukai, tanpa label peringatan dan dipasarkan dengan berbagai cara, misalnya pemasukan impor dengan label barang alat elektronik, atau pembelian terbatas dengan frekuensi besar untuk menyiasati cukai.

“(Rokok elektrik) yang beredar di Indonesia itu masuk dalam barang elektronik. Jadi belum ada regulasinya apakah dilarang atau dibatasi. Saat ini (regulasinya) masih dalam proses,” kata Lela.

sumber: http://www.beritasatu.com/

RSPAD Gatot Subroto Temukan Terapi Efektif DBD

7mart15

7mart15Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta berhasil menciptakan terapi efektif penanganan oldemam berdarah dengue (DBD) berstandar internasional.

“Tim peneliti kami telah berhasil membuat ekstrak obat DBD yang bernama Propolis Extract atau Propoelix berbentuk tablet yang berstandar internasional,” kata Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Brigjen TNI dr Ponco Agus Prasojo SpB kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (5/3) petang.

Tim peneliti tersebut bekerja sama dengan PT MDxCare sebagai perusahaan netraceutical multinasional yang memfokuskan diri dalam memproduksi suplemen-suplemen dan mineral dengan intensive riset berkualitas tinggi.

Dijelaskan, Propoelix sebenarnya bukan obat utama untuk menyembuhkan DBD, tetapi merupakan obat pendukung yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh sesuai dengan kondisi pasien.

“Monitoring utama DBD adalah pada cairan, dan propoelix ini mendukung pada penambahan cairan pada pasien untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” katanya.

Ditambahkan, obat tersebut sudah bisa didapatkan di beberapa rumah sakit besar. Namun, distribusi baru akan diperluas mulai tahun ini. Harga satu botol Propoelix sekitar Rp 400 ribu dengan isi 60 tablet.

“Obat tersebut bisa dikonsumsi orang dewasa tergantung kebutuhan. Namun, belum tersedia untuk dosis anak kecil. Nantinya penggunaan obat tersebut akan disesuaikan dengan anjuran dokter dan kondisi fisik pasien terkait,” katanya.

Dengan adanya obat ini, dr Ponco Agus mengharapkan DBD bisa ditangani lebih cepat dan mengurangi resiko kematian. Kadar obat yang sesuai dengan kondisi tubuh akan mudah diserap oleh kebutuhan cairan tubuh, sehingga pasien tidak akan merasa lemas dan pusing.

“Secara singkat obat ini, mempercepat peningkatan jumlah trombosit dan menurunkan tingkat Tumor Necrosis Factor-a, sehingga mempersingkat durasi rawat inap pasien DBD,” ucapnya menegaskan.

Tim peneliti obat tersebut adalah Kolonel Ckm dr Djoko Wibisono, SpPd-KGH, Letnan Kolonel Ckm dr Bagus Sulistyo Budhi, SpKJ, Mkes, Letnan Kolonel Ckm dr Soroy Lardo, SpPD, FINASIM, dan dr Yongkie Iswandi Purnama. (TW)

{jcomments on}

Saatnya Pemerintah Evaluasi Program Imunisasi Dasar

Pemerintah harus segera melakukan evaluasi program imunisasi dasar, terkait maraknya kejadian luar biasa (KLB) atas penyakit campak dan difteria di sejumlah daerah akhir-akhir ini.

“Kondisinya saat ini seperti menyimpan bom waktu yang bisa “meledak” kapan saja ke seluruh Indonesia,”kata Sri Rezeki Hadinegoro, staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusomo, dalam diskusi media tentang program imunisasi, di Jakarta, Rabu (4/3).

Anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu menduga, munculnya KLB campak dan difteria disebabkan menurunnya animo masyarakat membawa anaknya untuk imunisasi. Hal itu terjadi akibat “termakan” oleh propaganda ketidakhalalan bahan vaksin untuk imunisasi.

“Pemerintah harus kerja cepat mengembalikan kepercayaan masyarakat akan kehalalan vaksin. Untuk itu, diperlukan klarifikasi yang jelas, baik dari produsen maupun dari Majelis Ulama Indonesia sebagai lembaga sertifikasi halal di Indonesia,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, penetapan KLB difteria terjadi di kota Padang, Bandung dan Jawa Timur pada akhir Januari 2015 lalu. Belum kelar dengan masalah itu, KLB campak pun marak di Kabupaten Aru, Maluku dan sejumlah kota di Jawa Barat seperti Bandung, Garut, Tasikmalaya, Cianjur dan Bogor.

Padahal, lanjut Sri Rezeki, penyakit seperti tuberkulosis, hepatitis B, difteria, pertusis, polio, tetanus dan campak tergolong ke dalam penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin (vaccine-preventable diseases).

“Jika kemudian penyakit-penyakit itu merebak di kalangan anak-anak, harus dilihat lagi program imunisasi dasar yang telah dilaksanakan pemerintah apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak,” ucap Sri Rezeki mempertanyakan.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Sri Rezeki, adalah edukasi ke masyarakat tentang pentingnya program imunisasi dasar pada anak. Mengingat 30 persen dari anak yang ada sekarang ini nanti menentukan arah dan tujuan negara ini. Untuk itu dibutuhkan generasi muda yang cerdas dan sehat. (TW)

{jcomments on}

On Ear Care Day, UN health agency spotlights risks of noise-induced hearing loss

More than 1 billion teenagers and young adults are at risk of hearing loss due to the unsafe use of personal audio devices such as smartphones and exposure to damaging levels of sound, prompting the World Health Organization (WHO) to devote today’s International Ear Care Day to “Making Listening Safe.”

“As they go about their daily lives doing what they enjoy, more and more young people are placing themselves at risk of hearing loss,” Dr. Etienne Krug, WHO Director for the Department for Management of Non-communicable Diseases, Disability, Violence and Injury Prevention said in a press release.

“They should be aware that once you lose your hearing, it won’t come back,” Dr. Krug continued, adding: “Taking simple preventive actions will allow people to continue to enjoy themselves without putting their hearing at risk.”

International Ear Care Day is an annual advocacy event held on 3 March. Designated at the First International Conference on Prevention and Rehabilitation of Hearing Impairment in Beijing, China, in 2007, the Day aims to raise awareness and promote ear and hearing care across the world, according to WHO.

This year, WHO is launching the Make Listening Safe initiative to draw attention to the dangers of unsafe listening and promote safer practices.

“In collaboration with partners worldwide, WHO will alert young people and their families about the risks of noise-induced hearing loss and advocate towards governments for greater attention to this issue as part of their broader efforts to prevent hearing loss generally,” the UN health agency said.

According to WHO, “some 1.1 billion teenagers and young adults are at risk of hearing loss due to the unsafe use of personal audio devices, including smartphones, and exposure to damaging levels of sound at noisy entertainment venues such as nightclubs, bars and sporting events.”

“Data from studies in middle- and high-income countries analysed by WHO indicate that among teenagers and young adults aged 12-35 years, nearly 50 per cent are exposed to unsafe levels of sound from the use of personal audio devices and around 40 per cent are exposed to potentially damaging levels of sound at entertainment venues,” the agency said.

WHO explained that safe listening depends on the intensity or loudness of sound, and the duration and frequency of listening. The agency recommends that the highest permissible level of noise exposure in the workplace is 85 decibels up to a maximum of eight hours per day. Many patrons of nightclubs, bars and sporting events are often exposed to even higher levels of sound, and should therefore considerably reduce the duration of exposure. For example, exposure to noise levels of 100 decibels, which is typical in such venues, is safe for no more than 15 minutes.

“Teenagers and young people can better protect their hearing by keeping the volume down on personal audio devices, wearing earplugs when visiting noisy venues, and using carefully fitted, and, if possible, noise-cancelling earphones/headphones,” according to WHO. “They can also limit the time spent engaged in noisy activities by taking short listening breaks and restricting the daily use of personal audio devices to less than one hour.”

“With the help of smartphone apps, they can monitor safe listening levels,” it said.

WHO said governments also have a role to play by developing and enforcing strict legislation on recreational noise.

“Parents, teachers and physicians can educate young people about safe listening, while managers of entertainment venues can respect the safe noise levels set by their respective venues, use sound limiters, and offer earplugs and “chill out” rooms to patrons,” according to WHO.

WHO went on to say manufacturers can design personal audio devices with safety features and display information about safe listening on products and packaging.

Worldwide, the UN health agency says 360 million people today have moderate to profound hearing loss due to various causes, such as noise, genetic conditions, complications at birth, certain infectious diseases, chronic ear infections, the use of particular drugs, and ageing.

“It is estimated that half of all cases of hearing loss are avoidable,” the agency said.

source: http://www.un.org/

 

FKUI: Beberapa wilayah Indonesia alami kejadian kesehatan luar biasa

Beberapa tahun terakhir, beberapa wilayah di Indonesia ada Kejadian Luar Biasa (KLB) dalam hal kesehatan. Di antaranya KLB difteri di Padang dan Bandung (Januari 2015), KLB campak di Kabupaten Aru, Maluku (2014), KLB difteri di Jawa Timur (2011), dan KLB campak di Bandung, Garut, Tasikmalya, Cianjur, serta Bogor (2011).

Terkait fenomena itu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menggelar acara temu media tentang “Perkembangan Program Imunisasi di Indonesia” oleh CRID-TROPHID (Center for Research and Integrated Development of Tropical Health and Infectious Diseases) UI. Dilangsungkan di Ruang Kuliah Parasitologi, Departemen Parasitologi FKUI kampus Salemba, Jakarta Pusat, Rabu siang (4/3/15).

Adanya kejadian luar biasa itu, menurut dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, SpOG(K), Koordinator Humas dan IRO Fakultas Kedokteran UI, padahal penyakit-penyakit seperti TB, Hepatitis B, Difteri, Pertusis, Polio, Tetanus, dan Campak termasuk ke dalam vaccine-preventable diseases, yaitu penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi.

Data tersebut menunjukkan bahwa cakupan imunisasi disinyalir menurun. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI sejak lama mewajibkan pemberian imunisasi dasar untuk pencegahan penyakit tersebut pada anak.

“Melihat kenyataan ini, diperlukan evaluasi program imunisasi yang menyeluruh oleh semua pihak terkait. Sejalan dengan hal tersebut, masyarakat pun perlu diberi edukasi secara terus-menerus tentang pentingnya imunisasi dan hal-hal yang harus dilakukan,” demikian dijelaskan dalam undangan elekroniknya yang disampaikan Kepala Kantor Komunikasi UI Rifelly Dewi Astuti, SE, MM kepada LICOM, Selasa (3/3/15).

Tak hanya itu, dia menjelaskan, maraknya propaganda mengenai kehalalan bahan vaksin membuat sebagian masyarakat menolak memberikan vaksinasi bagi anaknya. Hal ini diduga menjadi penyebab lainnya dari penurunan cakupan imunisasi di Indonesia. Diperlukan klarifikasi yang jelas, baik dari produsen maupun dari Majelis Ulama Indonesia, sebagai lembaga sertifikasi halal di Indonesia mengenai isu ini.

Tidak seperti imunisasi pada anak, pemberian imunisasi pada dewasa hingga saat ini masih belum mendapat perhatian yang semestinya baik dari penyedia pelayanan kesehatan maupun masyarakat.

“Padahal pemberian imunisasi pada dewasa seperti vaksin HPV dan vaksin Hepatitis B, memberikan manfaat yang besar dalam menurunkan angka kematian serta rantai penularan. Untuk itu, edukasi, sosialisasi dan promosi imunisasi dewasa perlu terus dilakukan.”

Acara temu media ini menghadirkan pembicara sebagai berikut:

  1. “Beban Penyakit pada Anak yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Indonesia” oleh Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, SpA(K) (Staf Pengajar FKUI, Anggota Satgas Imunisasi IDAI, dan ketua ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization))
  2. “Beban Penyakit pada Dewasa yang Dapat Dicegah oleh Imunisasi di Indonesia” oleh Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI (Staf pengajar FKUI, anggota Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI)
  3. “Cakupan Program Imunisasi di Indonesia” oleh Ditjen PP & PL, Kementerian Kesehatan RI
  4. “Perkembangan Produksi Vaksin di Indonesia” oleh Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD, SpMK(K) (Ketua Lembaga Eijkman)
  5. “Pandangan Agama Islam tentang Imunisasi” oleh Dr. H.M. Hamdan Rasyid, MA (Majelis Ulama Indonesia) @licom_09

sumber: http://www.lensaindonesia.com/

 

Peran Penting Dokter Keluarga

SATU target Millenium Development Goals (MDG’s) 2015 adalah penurunan angka kematian pada anak. Akan tetapi harapan untuk mewujudkan satu target dari MDG’s ini sepertinya tidak akan tercapai tanpa usaha yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terkait. Di Aceh sendiri ternyata angka kematian bayi juga masih sangat tinggi. Bahkan tiap tahunnya cenderung terjadi peningkatan. Sangat ironis memang, disaat begitu banyaknya dana yang disediakan oleh pemerintah untuk memberikan effort bagi pelayanan kesehatan di Aceh, akan tetapi belum seberapa memberikan kontribusi yang maksimal bagi penurunan morbidity (kesakitan) dan mortality rate (angka kematian) pada anak.

Tingginya kematian anak di Aceh ini dapat disebabkan antara lain oleh karena masih tingginya kasus gizi buruk dan banyaknya anak yang tidak diimunisasi. Berdasarkan data Riskesdas 2013 terdapat 19,8% anak umur 12-23 bulan di Aceh yang tidak diberikan imunisasi sama sekali. Dan patut disayangkan, karena Aceh berada di posisi ke-3 setelah Papua (36,6%) dan Maluku (21,7%). Di antara 33 provinsi di Indonesia, Aceh menempati peringkat tujuh besar dengan kasus gizi buruk/kurang terbanyak. Padahal jika kita tinjau dari aspek perekonomian, pertumbuhan ekonomi kita jauh lebih tinggi dari provinsi lain seperti Papua maupun Jambi. Namun ternyata kasus gizi buruk/kurang yang terjadi pada balita di provinsi kita jauh di atas kedua provinsi tadi.

Hal ini merupakan tamparan keras bagi provider pelayanan kesehatan. Fakta ini sungguh membuat kita terhenyak dan berfikir dimanakah letak permasalahannya? Apakah dari provider pelayanan kesehatan? Ataukah dari sistemnya? Atau bahkan faktor dari pasien sendiri? Namun sudah bukan saatnya lagi bagi kita untuk mencari pihak manakah yang patut dipersalahkan atas fenomena yang terjadi, saatnya kita mencari solusi guna menuntaskan permasalahan gizi buruk-kurang pada balita mengingat untuk mencapai sasaran MDG’s 2015 yaitu 15,5% maka prevalensi gizi buruk-kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4,1% dalam periode 2013-2015.

Menjaga tetap sehat
Penulis kali ini mencoba untuk mengurai simpul satu penghambat tercapainya target MDG’s 2015 melalui peran Dokter Keluarga (DK). Pelayanan DK sangat bermanfaat untuk menyehatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan konsep DK yang bekerja jauh ke hulu, yaitu menjaga masyarakat yang sehat agar tetap sehat dan tidak jatuh sakit. Kalaupun masyarakat jatuh sakit sakit, maka diagnosis awal berjalan dengan baik, dan angka pelayanan kedokteran di strata kedua dan ketiga dapat dikurangi.

Mungkin banyak di antara pembaca yang saat ini sering mendengar istilah dokter keluarga, apalagi saat program BPJS Kesehatan yang berlaku sejak 1 Januari 2014 silam mulai diimplementasikan. Akan tetapi banyak di antara kita yang masih bingung, apakah dokter keluarga itu sama seperti Dokter Praktik Umum (DPU)? Jangankan masyarakat, stakeholder kita pun juga masih kurang begitu memahami apakah perbedaan diantara keduanya, baik itu secara definitif, sifat dan cakupan pelayanan, cara pelayanan, peran keluarga serta jenis pelayanan yang diberikan.

Dokter Keluarga (DK) adalah dokter yang menyelenggarakan pelayanan medis kepada individu dan keluarga secara kontinyu, komprehensif, koordinatif, tanpa memandang jenis kelamin, golongan usia, penyakit, ataupun sistem organ. Jika kita tinjau dari berbagai aspek, maka akan semakin jelaslah perbedaan antara DK dengan DPU. DK memiliki sifat dan cakupan pelayanan yang lebih luas, menyeluruh dan paripurna serta tidak terbatas pada apa yang dikeluhkan oleh pasien saja. Sementara DPU, sifat dan cakupan pelayanannnya lebih terbatas dan hanya berdasar dengan apa yang dikeluhkan oleh pasien saja. Misalkan pada kasus seorang ibu yang datang membawa anaknya dengan keluhan demam, batuk dan pilek. Berbeda dengan DPU, DK tidak hanya mengatasi apa yang dikeluhkan pasien itu, namun ia juga akan melihat dari segala aspek, melihat dan mengukur berat badan, tinggi badan, untuk menentukan status gizi si anak, apakah termasuk normal, kurus atau gemuk.

Masalah kurus dan gemuk merupakan hal yang esensial karena berdasarkan Teori Baker, kurus dan gemuk pada umur dini dapat berakibat pada risiko berbagai penyakit degeneratif pada saat dewasa nanti. Sehingga dari awal, DK sudah dapat melakukan upaya deteksi dini dengan melakukan screening, sehingga dapat menegakkan diagnosa awal, sebelum permasalahan kesehatan itu menjadi kronik dan berakibat kurang baik bagi pasien, keluarga dan tenaga kesehatan. Apapun ceritanya, jika suatu penyakit dapat diketahui secara dini, maka akan lebih mudah untuk diobati, dan tentunya akan berefek pada hematnya dana kesehatan yang harus digelontorkan oleh pemerintah di masa depan (menyangkut cost effectiveness).

sumber: http://aceh.tribunnews.com/

 

BPJS Kesehatan: Gandeng ICMI untuk Promotif dan Preventif

3mar

3marBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggandeng Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) untuk mengembangkan kegiatan promotif dan preventif. Dua cara itu diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, sebagai salah satu keberhasilan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Jika masyarakat sehat maka biaya progran JKN bisa dikendalikan,” kata Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris dalam seminar bertema “Model dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Promotif Preventif” di kantor pusat BPJS Kesehatan di Jakarta, Sabtu (28/2).

Fachmi Idris menjelaskan, kerja sama dengan ICMI akan melibatkan para “Duta Promotif Preventif” dari BPJS Kesehatan yang bertugas memberi edukasi dan melakukan sosialisasi kepada peserta secara langsung mengenai pentingnya menjaga kesehatan.

Para Duta tersebut juga ikut memonitoring pelaksanaan program pada peserta binaan, agar hasilnya bisa tercapai sesuai harapan.”Program promotif dan preventif ini sangat penting untuk menjaga peserta yang sehat tetap sehat, dan peserta yang sakit tidak bertambah parah. Demi keberlangsungan program JKN,” ujarnya.

Sementara Ketua Presidium ICMI, Sugiharto mengatakan, kegiatan promotif dan preventif nantinya akan dimasukkan dalam program satu desa satu BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) yang dikembangkan ICMI.

“Kami akan mendorong para santri di desa untuk membantu BPJS Kesehatan untuk mempromosikan gaya hidup sehat. Sehingga nantinya semakin banyak orang sehat yang membantu orang sakit,” ujar Sugiharto.

Pada tahap awal, lanjut Sugiharto, Duta Promotif Preventif BPJS Kesehatan akan dikolaborasikan dengan program satu desa satu BMT untuk memberdayakan 50 desa di Jawa Barat. Jika program ini berhasil maka bisa diaplikasikan ke desa lain di Indonesia. (TW)

{jcomments on}

Up to $40 billion of Arab world’s spending on health care wasted

As much as half of the estimated US$80 billion in annual government spending on health care in the Arab world is going to waste due to widespread inefficiencies, a Dubai health official says.

A plague of issues such as the over-prescription of drugs and needless medical tests are costing the sector dearly, according to Haidar Al Yousuf, the head of funding at the Dubai Health Authority.

“In our region … 50 per cent of the money we spend on health, due to inefficiency, is not properly utilised,” he said.

“I don’t think we need to pump more money into the health system – we just need to use that money more efficiently and ensure that it goes to the right place.”

In the United States, a report by the non-profit Institute of Medicine estimated that 30 per cent of total healthcare spending in 2009 was wasted, amounting to total losses of $750bn.

But the proportion of spending wasted in some Middle East and North Africa (Mena) countries could be much higher, Mr Al Yousuf said.

“A lot of doctors prescribe a lot of medication – they order a lot of tests, but there is no matching of what is actually needed by the patient and what is being done,” he said.

He said the problem of inefficient healthcare spending was far less pronounced in markets such as Dubai, which introduced compulsory health insurance in 2014, and Abu Dhabi, which made health insurance mandatory for all employees in 2005.

Such systems are preferable to public-sector “block-budget” funding, prevalent in much of the wider region, where top-line spending levels are allocated by governments, Mr Al Yousuf said. “In general, these large public systems … tend to be extremely inefficient, especially for healthcare.”

Mr Al Yousuf was speaking at last week’s Telegraph Middle East Congress in London, and was part of a discussion moderated by Mohammed Al Otaiba, the editor-in-chief of The National.

Fellow panellists noted the importance of the private sector in building the Arab world’s future infrastructure needs, including in the healthcare sector.

The Middle East and North Africa’s total healthcare spending is estimated to be $125bn this year, according to Al Masah Capital, a Dubai-based alternative-investment management firm. Government spending is estimated to account for 64 per cent – or $80bn – of the total market, with private-sector healthcare spending making up the rest.

The role of the private sector is expected to increase in the Mena market, according to Al Masah Capital. It forecasts that the private-sector healthcare market will be worth $61bn in 2020, more than double its size in 2011.

Mr Al Yousuf said he expects more governments in the region to move to insurance-led healthcare systems. “We see the whole region moving away from those block-budget funding models into much more accountable health-financing systems, like health insurance and social insurance,” he said.

Political and economic leaders convened in London during last week’s conference. Speakers included Reem Al Hashimy, the UAE Minister of State; Saudi Arabia’s Prince Saud bin Khalid Al Faisal; Hany Kadry Dimian, Egypt’s finance minister; and Boris Johnson, the London mayor.

source: http://www.thenational.ae/

 

 

Masyarakat Belum Sepenuhnya Memahami Pentingnya K3

Sosialisasi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dilakukakan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri pada Car Free Day (CFD) yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Hal ini dilakukan karena tingginya kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia, 103 ribu kasus per tahun dengan angka kematian 8 orang per hari .

Dalam CFD Minggu (1/3)tersebut, tema K3 yang dikampanyekan adalah safety is my life.”Hari ini Kemnaker sengaja melakukan kampanye mengenai K3 kepada masyarakat. Tadi jalan dari Monas sampai ke Bundaran HI kemudian tadi ada demo dari beberapa teman yang menggunakan metode dan perlengkapan K3 di ketinggian dengan baik,” kata Hanif.

Selama ini, lanjutnya, masyarakat belum sepenuhnya memahami arti pentingnya K3. “K3 merupakan instrumen penting dan harus menjadi gaya hidup bagi masyarakat di lingkungan kerjanya. Kami ajak masyarakat untuk bersama-sama menggelorakan K3 di semua sektor pekerjaan, dari berangkat sampai pulang kerja intinya selamat dan sehat,” kata Hanif.

Hanif menambahkan, saat ini tingkat kecelakaan kerja di Indonesia tinggi mencapai sekitar 103 ribu per tahun.”Kondisi ini sangat memperihatinkan, pekerja yang meninggal dunia mencapai 2.400 dari 103 ribu angka kecelakaan kerja per tahun. Kalau dihitung rata-rata per hari ada delapan orang meninggal dunia karena kecelakaan kerja,” jelas Hanif.

Oleh karena itu, Hanif menginstruksikan kepada perusahaan yang tersebar di Indonesia untuk sesegera mungkin menerapkan program Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

“Kita minta seluruh perusahaan dan industri menerapkan SMK3. Perusahaan harus memastikan agar K3 bisa terlaksana dengan baik. Kita akan terus awasi dan memberikan pembinaan secara intensif agar industri dapat menerapkan K3 dengan baik,” ujar Hanif.

Menurut Hanif, kebanyakan para pekerja Indonesia kurang mementingkan keselamatannya dalam bekerja. Banyak masyarakat mengabaikan keselamatannya saat bekerja, misalnya kalau bekerja helmnya tidak dipakai padahal perusahaan sudah menyediakannya, seharusnya pekerja wajib memakai itu.

Ia mengingatkan, jangan sampai masyarakat Indonesia terus berperilaku seperti itu.” Kita ingin menanamkan kesadaran masyarakat tentang K3 sebagai safety in my life,” tegasnya.

Oleh karena itu, Hanif berharap kepada segenap masyarakat luas untuk bersama-sama berperilaku sehat dan membudayakan K3 di tempat-tempat mereka bekerja. Penerapan K3 di lingkungn kerja baik di kawasan industri maupun perusahaan mutlak diperlukan lantaran selain untuk melindungi keselamatan dan kesehatan bagi pekerja, juga dapat menekan kerugian yang diakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta menunjang tercapainya produktifitas produksi.

“Dewasa ini penerapan K3 tidak hanya diperlukan di tempat kerja saja. K3 perlu dibiasakan mulai di rumah tangga, sekolah tempat kerja. Ini yang kami kampanyekan ke masyarakat,” kata Hanif seraya menambahkan kecelakaan yang dialami pekerja tidak hanya menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material bagi pekerja dan pengusaha, tetapi dapat menganggu proses secara menyeluruh.

sumber: http://poskotanews.com/