Pengembangan SDM: Perguruan Tinggi Jangan Mengisolasi Diri

Menteri Kesehatan (Menkes) periode 1997-1999, Prof Farid Anfasa Moeloek menilai sudah waktunya perguruan tinggi mengembangkan community college (CC) di sekitar kampus. Upaya itu bila berkembang akan meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia.

“Perguruan tinggi jangan mengisolasi diri dari perubahan dinamis yang ada di masyarakat. Kampus harus mampu mengarahkan masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal,” kata Prof FA Moeloek dalam diskusi yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), di Jakarta, Selasa (3/2).

Gagasan itu disampaikan Prof Moeloek dari hasil pengamatannya saat menjadi pembicara di daerah atau mendampingi istrinya, Menkes Prof Nila FA Moeloek melakukan kunjungan kerja ke daerah.

“Saya melihat perguruan tinggi selama ini bak menara gading, yang kurang memberi perhatian kepada masyarakat di sekitar kampus. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,” kata Dewan Kehormatan PB IDI tersebut.

Prof Moeloek menambahkan, kampus melalui community college selain menggerakkan kegiatan yang memutar roda perekonomian masyarakat juga bisa menanamkan 5 pilar sehat. Lima pilar itu disebutkan ketersediaan air bersih, gizi sehat, lingkungan dan sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat dan medical check up berupa jaminan kesehatan.

“Jika community college di jalankan ini dijalankan dengan benar, masyarakat lebih sehat dan makmur. Tak perlu pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, karena lapangan pekerjaan tersedia di desa,” ucapnya.

Prof Moeloek mencontohkan, pemanfaatan kelapa untuk pembuatan nata de coco atau air kelapa dalam kemasan. Selain juga pengembangan pengolahan ikan dalam kaleng, yang produknya bisa di ekspor.

“Ikan selama ini hanya hanya dimanfaatkan untuk pembuatan ikan asin, padahal bisa dibuat ikan dalam kaleng. Konsumsi ikan asing terlalu juga tidak sehat karena banyak garam di dalamnya,” ujar dokter spesialis kebidanan tersebut.

Ditambahkan, durasi pendidilkan di community college bisa dilaksanakan selama 2 tahun dan kurikulum yang lebih diarahkan pada pendidikan dan pelatihan kerja, keterampilan teknis dan kewirausahaan.

Community college bisa berperan menjembatani kebutuhan dunia pendidikan dan masyarakat untuk pembangunan manusia Indonesia yang lebih baik di masa depan,” kata Prof FA Moeloek menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Program JKN: Masa Tunggu Aktivasi Kartu Jadi Satu Bulan

Pemerintah memutuskan memperpanjang masa tunggu aktivasi kartu BPJS Kesehatan dari sebelumnya satu minggu menjadi satu bulan. Hal itu dilakukan guna membangun kesadaran baru di masyarakat tentang berasuransi kesehatan.

Demikian dikemukakan Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil pada acara Rapat Arahan dan Strategi Nasional, di Jakarta, Jumat (30/1) malam.

Sofyan menjelaskan, langkah itu perlu diambil untuk menjaga keberlanjutan program JKN. Karena salah satu prinsip asuransi kesehatan adalah gotong royong. Orang sehat membantu yang sakit, begitu pula yang kaya menolong miskin.

“Untuk itu penting bagi masyarakat untuk mendaftar jadi peserta BPJS Kesehatan saat sehat dan membayar iuran secara rutin. Kedisiplinan peserta itu dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan program JKN,”ucapnya.

Menurut sofyan, masa tunggu satu bulan untuk peserta baru sudah paling singkat dan idealnya tiga bulan. Peraturan semacam itu wajar dilakukan oleh sistem asuransi manapun. Bahkan Sofyan mencatat asuransi swasta masa tunggunya sampai 6 bulan.

“Ini bukan soal moral hazzard, tetapi kami hanya berharap program JKN ini bisa berlangsung lama,” tuturnya.

Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, mengatakan, perubahan masa tunggu itu nantinya akan dimasukkan dalam revisi Perpres No 111 Tahun 2013 tentang BPJS Kesehatan.

Bagi Fachmi aturan itu tidak melanggar prinsip BPJS Kesehatan sebagai asuransi sosial. Karena untuk mendaftar sebagai peserta, BPJS Kesehatan tidak pernah memeriksa kesehatan calon peserta sebagaimana yang biasa dilakukan asuransi swasta.

“Dalam kondisi kesehatan apapun setiap orang dapat mendaftar jadi peserta BPJS Kesehatan. Namun, dengan ketentuan yang baru itu diharapkan masyarakat segera mendaftar selagi sehat,” kata Fachmi menegaskan. (TW)

{jcomments on}

Program JKN: Gelontorkan Dana 6 Triliun Demi Keberlangsungan

2feb15-1Pemerintah akhirnya menggelontorkan dana Rp 6 triliun sebagai cadangan agar program jaminan kesehatan nasional (JKN) 2015 bisa tetap bisa berjalan. Kondisi itu terjadi akibat sindrom “insurance effect” di masyarakat.

“Membengkaknya dana klaim bukan lantaran BPJS Kesehatan tak mampu mengendalikan biaya, tetapi karena banyak peserta yang sakit,” kata Dirut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Fachmi Idris dalam acara Rapat Arahan dan Strategi Nasional 2015, di Jakarta, Kamis (29/1) malam.

Acara dibuka Menteri Kesehatan, Prof Nila FA Moeloek.

Fachmi menjelaskan, dalam penerapan sistem asuransi idealnya jumlah mereka yang sakit 15-20 persen dari peserta. Harus banyak orang yang sehat untuk membantu orang yang sakit. Tetapi pada program JKN, hal itu tak berlaku, karena jumlah yang sakit mencapai 60 persen dari jumlah peserta.

“Kondisi ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya, sebagai sindrom insurance effect.
Mereka mendaftar BPJS ketika sudah sakit. Langsung menggunakan kartunya untuk berobat,” kata Fahmi.

Terkait kondisi rasio klaim 2014 diatas 100 persen itu, Fachmi menambahkan, pihaknya kemudian mengajukan 2 opsi kepada pemerintah. Pertama, diintervensi dengan dana talangan pemerintah. Kedua, peningkatan iuran.

“Akhirnya, pemerintah memutuskan intervensi dengan dana talangan yang jumlahnya sekitar Rp 6 triliun. Kemudian pada tahun 2016 baru akan dihitung kenaikan iuran preminya. Karena dalam aturan UU SJSN disebutkan perubahan iuran baru bisa diberlakukan setiap 2 tahun,” katanya. (TW)

{jcomments on}

BPOM Inisiasi Gerakan Keamanan Pangan Desa

2feb15

2feb15Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tengah menginisiasi program nasional “Gerakan Keamanan Pangan Desa” (GKPD) melanjutkan keberhasilan kegiatan “Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah” (ANPJAS).

“Diharapkan, masyarakat terlibat aktif mengawasi keamanan pangan yang ada di wilayahnya masing-masing,” kata Kepala BPOM, Roy Alexander Sparingga, di Jakarta, Sabtu (31/1).

Roy menjelaskan, selama lima tahun terakhir, Badan POM telah berhasil menjalankan program ANPJAS, dengan harapan meningkatkan keamanan pangan jajanan anak sekolah dan meningkatkan kepedulian masyarakat. Sebanyak 23.510 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD/MI) telah diintervensi.

“Jumlah itu mencapai 90 persen dari kuota target. Sementarw tahun lalu hanya sekutar 50 persennya,” kata Roy.

Dampak ANPJAS, menurut Roy Sparingga, diperkirakan melindungi sekitar 3,9 juta siswa dari PJAS yang tidak aman, serta 7,8 juta orang tua siswa, 236.000 guru SD, 236.000 pedagang PJAS di sekitar sekolah dan 71.000 pengelola kantin. Pencapaian target ANPJAS hanya berkisar 13 persen dari perkiraan total 180.000 SD/MI di Indonesia.

“Idealnya ANPJAS dilaksanakan di seluruh wilayah baik di perkotaan maupun di pedesaan. Namun hal ini terkendala dengan sumber daya yang tersedia. Sehingga program ini sebagian besar dilaksanakan di ibu kota provinsi dan kabupaten di sekitarnya, belum mencakup sekolah di pedesaan,” tutur Roy.

Oleh karena itu, lanjut Roy Sparingga, diperlukan program tindak lanjut ANPJAS yang mencakup pedesaan. Undang-Undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin Undang-Undang Dasar Negara 1945.

Atas dasar itu, Badan POM menginisiasi program di bidang keamanan pangan berbasis masyarakat “Gerakan Keamanan Pangan Desa”. Pada 2014, program tersebut telah dilakukan di 290 desa yang tersebar di 31 provinsi sebagai pendekatan awal. Diharapkan program tersebut menghasilkan ± 2.100 Kader Keamanan Pangan Desa.

“Kader Keamanan Pangan Desa dilatih dari kelompok masyarakat desa seperti ibu PKK, karang taruna, guru, tenaga Penyuluh Keamanan Pangan (PKP) dan District Food Inspector (DFI). Para kader ini telah melakukan bimbingan dan edukasi keamanan pangan kepada komunitas desa sekitar 24.750 orang,” ujarnya.

Program tersebut akan dilaksanakan selama kurun waktu 2015-2019 di 500 desa di seluruh pelosok Indonesia. Untuk itu diperlukan sekitar 4.000 Kader Keamanan Pangan Desa.

“Mereka yang akan membimbing dan mengedukasi komunitas desa sebanyak 450.000 orang, termasuk usaha pangan yang ada di desa seperti Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), Pedagang kreatif lapangan (PKL), koperasi dan ritel pangan desa, termasuk pasar desa,”kata Roy.

Dari hasil intervensi itu akan dikembangkan menjadi kategori Desa Pangan Aman. Adapun indikator Desa Pangan Aman antara lain adalah hadirnya Kader Keamanan Pangan Desa secara aktif untuk membimbing dan mengedukasi komunitas desa.

“Keberhasilan program diperlukan komitmen yang tinggi dari semua pihak, terutama pemerintah daerah.Desa Pangan Aman akan menjadi model atau replikasi bagi Pemerintah Kabupaten/Kota lainnya sebagai basis peningkatan keamanan pangan hingga tingkat individu di wilayah masing-masing,”ucap Roy menandaskan. (TW)

{jcomments on}

The Rising Demand for Indonesian Herbal Remedies

Traditional medicine has been practiced in the world for centuries. Passed along from generations to generations, some of the herbal remedies have over the years been crystallized and led to a number of discoveries and large developments in the modern pharmacological industry. The use of herbal remedies has expanded globally, gaining more popularity and is readily being incorporated into modern day health care, not only in the developing world but also in the developed countries.

Although herbal remedies are popular all across Asia, with companies from China and Malaysia as the current market leaders, it is Indonesia that has the biggest and fastest-growing traditional medicine business in the region. According to a report by Euromonitor International, by 2017 the turnover is expected to reach $800 million per year, up 55% from about $500 million in 2012.

Regarded as a highly lucrative market, some of the biggest pharmaceutical companies have muscled their way into what was once a solely family-operated, small-scale industry. One of the early players is Sido Muncul, which used to be a small-scale company but has now risen up the ranks. Together with Deltomed Laboratories, they are Indonesia’s two main leading contenders in the herbal medicine market. Sido Muncul sells over 200 million sachets of the cold medication Tolak Angin, currently its biggest marketable product.

With its abundant natural resources, Indonesia has no shortage of roots, herbs, spices, or fruits to be continuously examined and explored for new and improved herbal medicines. Of the 30,000 species of flowers and plants found in the many rain forests all across Indonesia, over a 1,000 have been recognized to have significant medicinal potential and many of those are regularly used to produce herbal medicines.

There has been a significant rise in the demand for Indonesian herbal remedies in the international markets as well. Huge markets like Australia, much of Europe, and America have all been successfully penetrated by companies from Indonesia. The government also provides strong support for the industry, implementing policies such as the ‘Back to Nature, Use Indonesian Traditional Medicine’ movements that safeguard the interests of the Indonesian herbal medicine developers and promote the products for health care services.

However, further development will require more concrete actions, such as establishment of Diploma programs in Traditional Medicine, to produce scientifically minded experts in the field, establishment of alternative health service centers, as well as standardization and better quality control in the production line. If done properly, these will help enable Indonesia’s herbal medicinal industry to produce better products and benefit more people.

http://www.globalindonesianvoices.com/

 

Three Global Health Threats

The tragic Ebola outbreak in West Africa has underscored the imperative of strengthening health systems at both the national and global level. But, though Ebola has focused the world’s attention on systemic shortcomings, the goal must be to combat the abiding epidemics that are quietly inflicting suffering and death on populations worldwide.

Ebola has undoubtedly wrought tremendous agony. But it is not the first – or the most devastating – pandemic the world has faced. In fact, smallpox is the deadliest disease known to humanity; until Edward Jenner developed the vaccine in 1796, it was the leading cause of death in Europe. Before its eradication in 1980, it killed an estimated 300-500 million people.

The Bubonic plague of the fourteenth century killed 75-100 million people – more than half of Europe’s population. Nearly 75 million people, or 3-5% of the world’s population, died in just a few months during the 1918 influenza pandemic – more than twice the number of people killed in World War I.

The world continues to grapple with HIV/AIDS, which has already caused more than 40 million deaths and infects a similar number of people today, with 95% of the epidemic’s victims living in developing countries. Only when HIV/AIDS began to gain traction in advanced countries were highly effective anti-retroviral therapies developed – therapy that most of the poor people suffering from the disease could not access or afford.

Similarly, the failure of governments, multilateral organizations, and NGOs to respond quickly enough to the Ebola outbreak reflects the fact that the disease has ravaged poor countries. But, at a time of unprecedented global interconnectedness, everyone has a stake in ensuring that adequate health-care systems and structures are in place to address such a pandemic. Achieving this requires providing the needed investment; after all, effective national health systems and agile surveillance are the first lines of defense against outbreaks of disease.

At this point, Ebola is not only a health crisis, but also a humanitarian, economic, and political crisis. To be sure, some progress has been made. The United Nations Mission for Ebola Emergency Response’s “70/70/60” plan – to isolate 70% of Ebola patients and ensure that 70% of burials are conducted safely within 60 days – has largely been implemented, reducing the number of new cases considerably. But people are still suffering and dying – often owing to a lack of access to credible information or adequate treatment.

Of course, when it comes to safeguarding the health of populations, there is a fine line between protecting the public and impinging on individual rights. That is why all public-health interventions must focus first and foremost on scientific facts, and avoid emotional or panicked responses.
In this context, the imposition of mandatory quarantines on travelers from Ebola-affected countries was an obvious policy failure – just as they were when authorities tried to contain the Black Death of 1350 in Europe or the Plague of London in 1665. Instead of wasting time on fear-based strategies, the international community must leverage human and financial resources to ensure fact-based, concerted, collective action. Such a united approach is possible; indeed, it has happened before.

At the turn of the century, the establishment of institutions like the Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis, and Malaria, the Bill and Melinda Gates Foundation, and GAVI, the Vaccine Alliance, coincided with a renewed effort to improve global health. The UN’s commitment to the Millennium Development Goals – which included four health-related targets, covering nutrition, maternal and child health, and infectious diseases – reflected a political consensus to improve health worldwide. This institutional architecture has facilitated considerable progress in many of these areas; for example, the under-five mortality rate has plummeted by 49% since 1990.

But there is far more to be done. In regions like Southeast Asia and Sub-Saharan Africa, maternal and child health and infectious diseases remain priorities. In fact, the ten countries with the highest child mortality rates are all located in Sub-Saharan Africa; a baby born in West Africa is 30 times likelier to die before the age of five than one born in Western Europe.

Even within countries, massive inequalities remain. For example, there is a ten-fold difference in infant mortality between municipalities in the Mexican states of Guerrero and Nuevo León.

Moreover, silent epidemics have taken hold, particularly in lower-income countries, as the combination of mega-trends like urbanization, population aging, obesity, sedentary lifestyles, smoking, and alcohol consumption has spurred the rise of chronic non-communicable diseases (NCDs). For adults in most countries, cancer, diabetes, and cardiovascular disease have become leading causes of disability and death.

Emerging infectious diseases like Ebola may be more compelling, but the health impact of chronic NCDs, not to mention their high and growing social and economic costs, is substantially larger. There is no time to waste. Policymakers must pursue aggressive action to curb the spread of risk factors like the consumption of tobacco, alcohol, and obesogenic foods.

The world is facing a three-prong health challenge: We must build sustainable national and global health systems that can respond quickly and effectively to crises like Ebola; eliminate or control infectious diseases; and address the quietly rising epidemic of chronic NCDs. To succeed on all three fronts, we need sustained investment in health infrastructure, management, and personnel.

Equality is key. This means improving access to health care and education. But it also means addressing the deeper social inequities that extend beyond the public-health agenda. In formulating the post-2015 development goals, world leaders must remember that health is a fundamental human right.

source: http://www.project-syndicate.org/

 

 

Menko PMK: Dukung Kampanye PBHS di Sekolah

puan

puanMenteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani meminta dukungan daerah dan swasta untuk ikut mengkampanyekan Gizi Seimbang dan Hidup Bersih dan Sehat (PBHS) di sekolah.

“Program PBHS ini harus didukung bersama, karena kebiasaan baik harus dilakukan sejak dini,” kata Menko PMK, Puan Maharani saat kunjungan ke SD Kartika X-3, Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (28/1).

Hadir dalam kesempatan itu, Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan dan Kepala BPOM, Roy Sparingga.

Puan mengatakan, perapan gizi seimbang bagi anak-anak bisa dimulai dengan membangun kebiasaan sarapan pagi, dan membawa bekal sekolah yang bergizi untuk pemenuhan gizinya. Selain itu, pembiasaan mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, menjaga kesehatan gigi hingga lingkungan sekolah sehat adalah butir dari PHBS.

“Sekolah seperti inilah yang memunculkan generasi penerus bangsa yang tak hanya mampu berdaya saing di dalam negeri, tapi juga dunia internasional,” ujarnya.

Menurut Puan, masalah seputar gizi anak hingga kini masih banyak yang perlu dibenahi. Ia mengaku, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri untuk menuntaskan semua permasalahan itu, tetapi harus didukung semua kalangan, termasuk dunia usaha. (TW)

{jcomments on}

Pemerintah Harus Benahi Layanan Primer

Pemerintah diminta membenahi infrastruktur di Puskesmas, sebagai garda terdepan layanan primer dalam pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Karena saat ini, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sudah kelebihan beban pasien BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan dengan penyakit ringan.

“Akibat fasilitas kesehatan di Puskesmas yang minim, mereka lebih suka memberi rujukan pasien ke rumah sakit. Pasien dengan penyakit ringan yang seharusnya bisa ditangani Puskesmas jadi menumpuk di RSUD,” kata Ahmad Riski Sadiq, anggota Komisi IX DPR RI, di gedung DPR Senayan Jakarta, Selasa (28/1) malam.

Kondisi itu, lanjut Riski, banyak ditemui saat kunjungan kerjanya di daerah pemilihannya di Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Masyarakat banyak yang mengeluhkan kualitas layanan dan infrastruktur kesehatan di Puskesmas yang dinilainya masih minim.

“Seperti jatuh dari motor, penanganannya harus dijahit. Tindakan seperti itu seharusnya bisa di Puskesmas saja. Tapi karena fasilitas Puskesmas tidak ada, pasien terpaksa dirujuk ke RSUD,” kata anggota DPR dari Fraksi PAN ini.

Untuk itu, ia meminta pemerintah memberi perhatian serius untuk mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur kesehatan. Terutama pada layanan primer seperti Puskesmas atau klinik mitra BPJS Kesehatan.

Ia menyayangkan, minimnya infrastruktur Puskesmas juga terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. “Coba bayangkan, kalau Puskesmas di Bekasi, Depok, Tangerang saja masih minim infrastruktur, bagaimana dengan yang ada di daerah pelosok,” ujar Riski mempertanyakan.

Riski mengkritisi, perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan di bidang kesehatan masih rendah. Padahal Undang-Undang (UU) Nomor 36 tentang Kesehatan mengamanatkan anggaran kesehatan minimal 5 persen dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) di luar gaji.

Namun kenyataannya, anggaran kesehatan baru sekitar 47,4 triliun rupiah atau 2,5 persen dari total APBN 2015. Anggaran kesehatan belum sampai 5 persen. Pos-pos kesejahteraan
belum diberikan alokasi yang cukup besar.

Lebih parahnya lagi, lanjut Riski, 50 persen dari anggaran Kemkes habis untuk mengkaver premi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). “Uang Kemenkes habis untuk membayar premi PBI dan gaji pegawai. Sehingga dana untuk pembangunan infrastruktur kesehatan hanya tersisa sedikit sekali,” tuturnya.

Dampaknya, menurut Riski, tak sedikit pasien BPJS Kesehatan dengan penyakit sedang hingga berat yang terpaksa dipulangkan dalam keadaan belum sembuh. Karena rumah sakit harus melayani pasien lain yang sudah mengantri.

“Saya menerima keluhan, ada pasien yang terpaksa dicopot oksigen dan infus pukul satu malam, diminta pulang untuk rawat jalan saja,” kata Riski menandaskan. (TW)

{jcomments on}

GenRe Bentengi Kaum Muda Dari Narkoba

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan menggiatkan kembali program Generasi Berencana (GenRe) guna jadi benteng kaum muda dari gempuran narkoba.

“Melalui progarm GenRe, kami ingin membangun kesadaran kaum muda betapa berbahaya narkoba sehingga tak mudah terbujuk rayuan bandar narkoba yang mengintai di luar rumah,” kata Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Sudibyo Alimoeso kepada wartawan di Jakarta, Senin (26/1) petang.

Dijelaskan, fokus BKKBN adalah menjauhkan remaja dari seks bebas, narkoba dan HIV/AIDS.
Hal itu penting, karena saat ini banyak remaja yang terjebak dalam problematika seks bebas, narkoba dan HIV/AIDS.

“Kasus paling baru adalah kecelakaan fatal di Jalan Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan. Itu dampak negatif dari narkoba yang sangat membahayakan. Untuk itu, kita harus bertindak, bersama-sama mulai dari keluarga, masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Kewaspadaan ini menjadi penting, karena menurut Sudibyo Alimoeso, jumlah remaja Indonesia ada sekitar 67 juta orang. Dan itu merupakan segmen terbesar untuk dijadikan sebagai pasar penjualan narkoba.

“Remaja ini merupakan sumber daya manusia yang memainkan di era bonus demografi beberapa tahun ke depan ini. Jika mereka terkena bujuk rayu narkoba, maka hancurlah Indonesia,” katanya.

Melalui program GenRe, Sudibyo menjelaskan, akan dibentuk pusat informasi konseling yang penyuluhnya merupakan teman-teman sebaya. Mereka diharapkan dapat lebih mudah menyampaikan pesan ke sesama remaja.

“Pusat informasi dan konseling akan berada di sekolah dan perguruan tinggi,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, indonesia perang melawan narkoba. Mengingat saat ini ada sekitar 4,5 juta orang yang terkena narkoba, dan ada 1,2 juta orang yang sudah tidak bisa direhabilitasi, karena kondisi kecanduannya yang parah. (TW)

{jcomments on}

Ajari Anak Gaya Hidup Sehat Sejak Dini

27jan15

27jan15Kebiasaan hidup bersih dan sehat harus dilatih sejak dini. Untuk itu, Kementerian Kesehatan menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperkuat program Unit Kesehatan Sekolah (UKS) guna menanamkan kebiasaan baik tersebut.

“Kebiasaan baik bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti mencuci tangan sebelum makan atau sesudah berkemih. Atau menjaga kebersihan di lingkungan sekolah,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Nila FA Moeloek usai bertemu dengan Mendikbud Anies Baswedan, di Senayan Jakarta, Selasa (27/1)

Menurut Prof Nila, anak di sekolah juga kurang bergerak dan kurang memiliki kesadaran untuk berolahraga. Ia berharap sekolah bisa lebih kreatif untuk membuat kegiatan atau permainan yang mendorong anak untuk bergerak.

“Di jam istirahat, buat permainan yang membuat anak bergerak dan riang gembira. Setelah itu anak bisa menyerap pelajaran dengan lebih baik, karena peredaran darah lebih lancar dan oksigen bisa lebih cepat ke otak,” tuturnya.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Menkes, konsumsi makanan sehat. Jika sekolah tidak bisa menyediakan kantin sehat, anak harus membawa bekal sehatnya sendiri.

“Karena sekolah dimulai pukul 07.00-15.00 WIB, untuk itu siswa dianjurkan membawa bekal yang cukup karena setiap tiga jam sekali anak harus makan porsi kecil atau snack” ujarnya.

Ditambahkan, kebersihan sanitasi dan kamar mandi juga diperlukan. Karena tempat itu bida menjadi sarang penyakit jika tidak secara rutin dibersihkan.

“Kami berharap UKS ini benar-benar bisa diterapkan di semua sekolah, baik negeri maupun swasta. Dengan demikian, sekolah bisa menjadi tempat pembelajaran hidup sehat,” ucap Menkes menegaskan.

Hal senada dikemukakan Mendikbud Anies Baswedan. Ia berharap revolusi mental dalam bidang kesehatan juga terjadi di sekolah. Misalkan lewat program UKS.

“Kami harap sekolah tidak terbebani oleh program UKS yang nanti kita kembangkan lagi materinya seperti apa. Yang pasti mengajari anak bergaya hidup sehat,”ucap Anies.

Ditambahkan, Kemendikbud pada 2011 lalu memiliki program yang disebut “Program Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah” (PMTAS). Program tersebut kemungkinan akan diterapkan lagi.

“Sebanyak 40 persen anak, terutama di daerah yang berangkat sekolah tanpa sarapan. Melalui PMTAS, kami berharap kendala ini bisa diatasi sehingga anak dapat asupan gizi yang cukup saat belajar di sekolah,” ujarnya.

Anies menyadari untuk mencapai hal itu, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri. Ia akan bekerjasama lintas kementerian seperti dengan Kemenkes, Kementerian Pertanian serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (TW)