LATAR BELAKANG
Pada 17 – 26 Oktober 2022, Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI), Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), dan co-host dari Universitas Mataram, Universitas Jember, Universitas Sam Ratulangi, FKM Universitas Cenderawasih, Universitas Fort de Kock Bukittinggi, Poltekkes Kemenkes Malang, Universitas Dehasen, Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Mulawarman menyelenggarakan diskusi berbagai topik yang berkaitan dengan Transformasi Sistem Kesehatan dalam Forum Nasional XII. Topik Fornas 2022 telah berupaya membahas tentang peranan dari analis kebijakan untuk mendukung transformasi sistem kesehatan yang berkaitan dengan: transformasi dalam pilar pembiayaan kesehatan dengan prioritas pembahas terkait JKN dan BPJS Kesehatan untuk portabilitas serta utilisasi penyakit kardiovaskular; transformasi pembiayaan kesehatan juga membahas tentang pengutannya untuk pelayanan primer; transformasi sistem ketahanan kesehatan dalam Fornas 2022 membahas untuk peningkatan ketahan sektor farmasi dan alat kesehatan beserta tahanan tanggap darurat; dan topik Fornas juga membahas tentang transformasi sistem layanan rujukan terkait pengembangan RS dan layanannya.
Topik Fornas 2022 tidak hanya membahas topik-topik yang berkaitan transformasi pilar kesehatan secara langsung. Terdapat pula beberapa topik yang diselenggarakan dan secara tidak langsung dapat mendukung pelaksanaan transformasi seperti: topik terkait pengembangan Dashboard Sistem Kesehatan (DaSK) Provinsi yang diselenggarakan untuk mengajak perguruan tinggi untuk mengelola data rutin kesehatan dan pengetahuan terkait kebijakan kesehatan di masing-masing provinsi; topik penggunaan data sekunder kesehatan dan teknik advokasi yang membahas praktik untuk peningkatan keterampilan analis kebijakan; dan topik kebijakan diabete melitus yang membahas tentang situasi di lapangan, dan merumuskan usulan kebijakan.
Seluruh kegiatan tersebut diselenggarakan untuk mendukung Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Indonesia mewujudkan transformasi sistem kesehatan. Dukungan yang disediakan dalam Fornas ini adalah penyediaan evidence based dan analisis kebijakan dalam melakukan transformasi agar dapat memperkuat enam pilar tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan yang akan datang. Harapannya, hasil dari Fornas 2022 dapat menjadi pembelajaran dan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan transformasi sistem kesehatan di Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa depan.
TUJUAN
- Membahas tantangan dan strategi kebijakan untuk memperkuat enam pilar transformasi kesehatan
- Menginformasikan kegiatan pasca Fornas XII tahun 2022
- Mensosialisasikan kegiatan Fornas XIII tahun 2023
PESERTA
- Akademisi (dosen dan mahasiswa), peneliti dan analis kebijakan kesehatan di perguruan tinggi masing-masing provinsi
- Peneliti dan analis kebijakan kesehatan di think tank, organisasi profesi, dan organisasi non pemerintah
- Peneliti dan analis kebijakan kesehatan di lembaga pemerintah pusat dan daerah
- Pengambil keputusan bidang kesehatan dan terkait di pemerintah pusat dan daerah
- Pemerhati dan pemangku kepentingan terkait lainnya di bidang kesehatan
WAKTU PELAKSANAAN
Hari, tanggal : Kamis, 27 Oktober 2022
Waktu : 10.00 – 12.00 WIB
AGENDA KEGIATAN
| 10.00 – 10.05 WIB | Pembukaan |
| 10.05 – 10.45 WIB | Talk Show I: Kebijakan Transformasi Kesehatan: Sebagai Tujuan ataukah Sebagai Alat?
Bahan Pemicu:
Panelist:
Fasilitator: Shita Listya Dewi (Kepala Divisi Kesehatan Masyarakat PKMK FK-KMK UGM) |
| 10:45-11:25 | Talkshow II: Bagaimana mendorong Transformasi Kesehatan ke dalam Sistem Kesehatan Daerah (SKD)
Pembahas Para Co-Host Fornas XII
Fasilitator: Shita Listya Dewi (Kepala Divisi Kesehatan Masyarakat PKMK FKKMK UGM) |
| 11:25 – 11:45 WIB | Penutupan Fornas 2022
|
| 11.45 – 12.00 WIB | Penutupan |
REPORTASE
Rangkaian kegiatan Forum Nasional (Fornas) XII Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) 2022 berakhir pada Kamis (27/10/2022). Penutupan Fornas yang mengusung tema “Kebijakan Transformasi Kesehatan: Sebagai Tujuan ataukah Sebagai Alat? Bagaimana agar dapat dipergunakan oleh daerah?” tersebut dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan kanal Youtube Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM. Kegiatan Fornas diselenggarakan oleh JKKI bekerja sama dengan mitra dan 11 perguruan tinggi di Indonesia.
Talkshow I: Kebijakan Transformasi Kesehatan: Sebagai Tujuan ataukah Sebagai Alat?
Kegiatan talkshow dibuka oleh Shita Listya Dewi, MM., MPP., Kepala Divisi Kesehatan Masyarakat PKMK FK-KMK UGM, selaku fasilitator yang memaparkan definisi transformasi sebagai perubahan menyeluruh yang mengarah pada pilar-pilar tertentu untuk mencapai tujuan perbaikan. Seperti telah dibahas pada topik-topik Fornas sebelumnya, transformasi sistem kesehatan di Indonesia menjadi hal yang dibutuhkan berdasarkan berbagai alasan. Namun terdapat pertanyaan besar yang perlu dijawab, yakni bagaimana strategi penerapan transformasi sistem kesehatan di tingkat pusat, provinsi, dan khususnya daerah.
Dra. Pretty Multihartina, Ph.D selaku Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menjelaskan bahwa penerapan transformasi sistem kesehatan berprinsip pada pentingnya kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, peningkatan kapasitas, serta pengawalan melalui monitoring untuk melihat perubahan yang terjadi. Pretty juga menuturkan bahwa penerapan transformasi memerlukan kerangka kerja tertentu yang dapat diadaptasi pemerintah daerah.
Penerapan transformasi di tingkat daerah akan menghadapi banyak tantangan. Seperti dituturkan oleh panelis kedua, Pungkas Bahjuri Ali, S.TP., MS., Ph.D selaku Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, kondisi dan kesiapan daerah yang bervariasi membutuhkan strategi pendekatan yang berbeda. Saat ini, konteks kewilayahan juga masih menjadi pekerjaan rumah yang belum muncul dalam Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) disamping perlunya memasukkan aspek equity secara eksplisit. Pungkas menuturkan meskipun transformasi merujuk pada hal yang praktis, transformasi merupakan hal yang fundamental dalam suatu perubahan besar.
Panelis ketiga, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku ketua JKKI memaparkan bahwa kebutuhan transformasi kesehatan sebagai alat atau tujuan dapat berbeda untuk masing-masing daerah. Sebagai contoh apabila posyandu prima menjadi salah satu pillar transformasi, daerah dengan status kesehatan masyarakat yang baik akan menjadikannya sebagai alat. Sebaliknya, di daerah dengan status kesehatan masyarakat yang kurang, posyandu prima dapat menjadi tujuan transformasi. Oleh karena itu, daerah perlu memahami betul kondisi dan kapasitasnya.
Talkshow II: Bagaimana Penggunaan Transformasi Kebijakan di Daerah?
Pada talkshow II, dibahas mengenai “Studi Kasus: Usaha Penggunaan Kebijakan Transformasi Kesehatan di Penyusunan Sistem Kesehatan Daerah di Kota Balikpapan”.
Pada sesi pertama, Faisal Mansur, MPH selaku konsultan pendamping Dinas Kesehatan Kota Balikpapan memaparkan penguatan sistem kesehatan daerah dari subsistem dan turunannya dalam pelayanan kesehatan. Penguatan sistem memerlukan sinergi dari berbagai stakeholder, berbagai tool, dan tahapan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai contoh, praktik penguatan SKD tersebut telah dilaksanakan di Kota Balikpapan.
Erica Handritha selaku Kepala Sub Program Dinas Kesehatan Kota Balikpapan memaparkan praktik penyusunan sistem kesehatan daerah (SKD) Kota Balikpapan yang bekerja sama dengan PKMK UGM. Saat ini, proses penyusunan SKD sudah berjalan hingga tahap pelaksanaan dan dijadwalkan akan memasuki tahap laporan antara pada akhir Oktober mendatang. Erica juga menuturkan bahwa transformasi ini sangat membantu pemerintah daerah dalam penyusunan peraturan daerah.
Selanjutnya, dilakukan sesi pembahasan oleh para co-host yang merupakan perwakilan mitra perguruan tinggi di Indonesia. Dr. dr. Suryani Yuliyanti, M.Kes selaku Kepala Prodi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran UNISSULA berpendapat bahwa langkah penyusunan SKD oleh pemerintah Kota Balikpapan yang melalui proses analisis masalah, focus group discussion, dan wawancara mendalam sudah tepat. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah terkait pembiayaan. Sebagai referensi, Suryani memaparkan mengenai praktik Pemberian Bantuan Iuran (PBI) di Kota Semarang yang diberikan kepada semua masyarakat yang bersedia menjadi pasien kelas III.
Dr. Abu Khoiri, S.KM., M.Kes selaku Dosen FKM Universitas Jember menuturkan bahwa akademisi dapat berperan memberikan awareness kepada pemerintah daerah mengenai pentingnya SKD dalam penyelesaian masalah kesehatan. Abu juga berpendapat akademisi dapat membantu menutup kesenjangan kognitif melalui edukasi kepada pemerintah daerah maupun stakeholder.
apt. Candra E. Puspitasari, S.Farm., M.Sc selaku Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram menyampaikan bahwa pemerintah daerah perlu menurunkan ego sektoral untuk mewujudkan integrasi yang baik. Sebagai contoh di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, pembiayaan sistem kesehatan telah tersedia, namun adanya prioritas program lain menyebabkan implementasi SKD berjalan kurang optimal. Selain itu, diperlukan juga upaya capacity building untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya SKD di masing-masing daerah.
Dr. Jon Hendri Nurdan, M.Kes, Dosen Prodi S2 Ilmu Kesehatan, Universitas Dehasen menuturkan bahwa persoalan kesehatan tidak bisa hanya diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, melainkan dibutuhkan peran sektor lainnya. Jon menambahkan bahwa keterlibatan stakeholder penting dalam perumusan SKD. Pemerintah daerah dapat berperan sebagai regulator, sementara akademisi berperan sebagai evaluator.
Transformasi dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan dan diperlukan peran berbagai pihak untuk memastikan penerapannya berjalan dengan baik di masing-masing daerah.
Penutupan Fornas 2022
Tri Muhartini, MPA selaku Ketua Fornas JKKI 2022 memaparkan mengenai rencana kegiatan pasca fornas 2022, yakni: pendaftaran mitra Dashboard Sistem Kesehatan (DaSK), pelatihan mitra DaSK, webinar bulanan kesehatan masyarakat, dialog kebijakan Diabetes Mellitus (DM), dan uji coba penanganan DM di Yogyakarta. Selain itu sebagai tindak lanjut Fornas, akan diselenggarakan ujian sesuai topik bahasan Fornas pada 21-25 November 2022.
Prof. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D. selaku Ketua JKKI juga menjelaskan rencana Fornas pada 2023 mendatang. Fornas XIII direncanakan akan dilaksanakan secara hybrid dengan mengoptimalkan peran co-host dan co-organizer, serta berbagai perbaikan lainnya. Laksono menutup kegiatan dengan menyampaikan ucapan terima kasih atas peran serta semua pihak dalam mengupayakan kelancaran kegiatan Fornas XII tahun 2022 ini.
Reporter:
Mashita Inayah R (PKMK UGM)


Acara diawali dengan pengantar oleh dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., Ph.D selaku Ketua Pokja Endokrin Metabolik, yang menyampaikan rangkuman Webinar Dialog Kebijakan Diabetes Melitus (DM) seri 1-9 yang telah dilaksanakan sebelumnya. Pada webinar-webinar sebelumnya, telah dibahas secara komprehensif berbagai analisis kebijakan DM mulai dari level pencegahan, layanan primer, hingga layanan rujukan, serta telah didiskusikan berbagai usulan untuk perbaikan kebijakan DM di masa mendatang. Vina menyimpulkan bahwa diperlukan suatu transformasi kebijakan yang mengedepankan pendekatan inovatif, integratif, dan memiliki kontinuitas yang komprehensif, serta memiliki impact yang dapat diukur dengan indikator-indikator tertentu.
Memasuki sesi pertama, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes menyampaikan usulan kebijakan untuk pencegahan DM di Indonesia. Kebijakan dan program pencegahan DM sebaiknya berfokus pada perbaikan gaya hidup, misalnya dengan membangun kesadaran tentang potensi risiko DM; menanamkan gaya hidup sehat sejak dini; meningkatkan akses makanan sehat; dan menciptakan iklim yang mendorong aktivitas fisik di masyarakat. Supriyati mengusulkan tagline khusus sebagai bentuk promosi kesehatan untuk pencegahan DM, yaitu “Cegah DM dengan SAMPerin”.
Pada sesi kedua, Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA membuka sesi dengan memaparkan tentang aksi-aksi masyarakat sipil dalam diabetes-related upstream policies. Terkait kebijakan pencegahan DM di level hulu, masyarakat dapat terlibat dalam membangun solidaritas ketika berhadapan dengan krisis penyakit, membangun kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, serta menjadi bagian dari komunitas kebijakan untuk pencegahan DM. Agar masyarakat sipil terpacu untuk mendorong terbentuknya kebijakan pencegahan DM, diperlukan sistem peringkat “kota layak kesehatan” di level nasional, sehingga masyarakat di setiap daerah akan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik.
Diskusi panel sesi ketiga dipandu oleh Tri Muhartini, MPA. Panelis pertama, Dr. dr. Mahlil Ruby, M.Kes selaku Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Manajemen Risiko BPJS Kesehatan menyampaikan mengenai program pengelolaan DM yang sudah digagas oleh BPJS Kesehatan, yaitu Prolanis. Agar Prolanis dapat diakses seluruh masyarakat, BPJS telah melakukan inovasi dengan membentuk grup WhatsApp di level FKTP sehingga memudahkan pasien terhubung langsung dengan tenaga kesehatan. Selain itu, BPJS Kesehatan juga sedang mengembangkan telemedisin untuk memudahkan pemantauan pasien.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH, M.Kes, MAS selaku direktur PKMK FK-KMK UGM. Andreasta menyampaikan bahwa transformasi kesehatan yang telah dilaksanakan Kementerian Kesehatan dengan seluruh jajaran di daerah bermuara pada pelayanan kesehatan. Dalam pengembangan layanan unggulan membutuhkan kajian-kajian agar dapat mewujudkan harapan-harapan masyarakat dalam transformasi layanan kesehatan.
Kegiatan presentasi policy brief dimoderatori oleh Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Rumah Sakit PKMK FK-KMK UGM. Pada sesi ini, terdapat satu policy brief terpilih yaitu Kebijakan E-Rujukan Balik dari Rumah Sakit ke Puskesmas untuk Kesinambungan Layanan Kesehatan oleh Asriadi. Setelah sesi penayangan video presentasi policy brief, dilanjutkan dengan sesi pembahasan yang disampaikan oleh Dr. dr. Youth Savitri, MARS selaku Kasubdit Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan Evaluasi RS, Kementerian Kesehatan RI. Youth menyampaikan bahwa proses rujuk balik dari rumah sakit ke layanan primer seperti puskesmas masih terdapat beberapa hal yang perlu dibenahi salah satunya adalah kemampuan puskesmas dalam memberikan obat maupun tindakan seperti yang pasien dapatkan saat di rumah sakit.
Sesi II pada webinar hari ini disampaikan oleh drg. Yuli Kusumastuti Iswandi Putri, M.Kes selaku Kabid Yankes Dinkes Provinsi DIY yang membahas mengenai Peran Dinas Kesehatan Provinsi dalam Mendukung Transformasi Layanan Rujukan. Yuli menyampaikan bahwa pada 2024 terdapat 4 penyakit katastropik yang akan lebih difokuskan yaitu penyakit kanker, jantung, stroke, dan uro-nefrologi. Kemudian dinas kesehatan memetakan rumah sakit dan puskesmas dalam strata dasar, madya, utama, dan paripurna. Berdasarkan ketetapan kementrian kesehatan, strata paripurna akan dilakukan oleh rumah sakit vertikal. Di DIY rumah sakit vertikal yang dimaksud adalah RSUP Dr. Sardjito. Yuli juga menjelaskan bahwa akan mendorong beberapa rumah sakit berdasarkan hasil self assessment terkait kesiapan dan kemampuan melakukan layanan prioritas. Untuk layanan jantung akan berada di RSUD Kota Jogja dengan strata madya. Layanan uro-nefrologi akan berada di RSUD Panembahan Senopati dengan strata madya. Pada RSUD Wates akan memberikan layanan stroke dalam strata utama. Sedangkan pada RSUD Sleman akan memberikan layanan kanker dalam strata utama.
Kegiatan pada ini dimoderatori oleh M.Faozi Kurniawan, MPH selaku Peneliti PKMK FK-KMK UGM. Pada sesi III paparan materi disampaikan oleh Dr. dr. Sri Mulatsih, Sp.A(K)., MPH selaku Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang RSUP Dr. Sardjito dengan judul Peran RS Pusat dalam mendukung transformasi layanan rujukan. Sri menyampaikan bahwa sistem rujukan yang efektif dapat terjalin dengan baik apabila terdapat hubungan yang erat diantara semua tingkat perawatan kesehatan, individu menerima perawatan terbaik, terdapat sistem rujukan yang mampu menjadi indikator kinerja keseluruhan sistem kesehatan dan mencerimnkan kemampuan pemerintah untuk mengelola semua subsistem dan aktor yang terlibat dalam proses rujukan.
Sesi selanjutnya adalah seminar topik Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Saat Krisis Kesehatan dengan Digitalisasi Peta Respon yang dibuka oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep selaku ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM. Pada sesi ini dipaparkan materi terkait : (1) Kebijakan Peta Respon Krisis Kesehatan oleh dr Eko Medistianto, M.EpidI; (2) Penyusunan Peta Respon saat bencana Gempa Mamuju oleh drg. Asran Masdy, SKG, MAP sebagai Kepala Dinas Provinsi Sulawesi Barat; (3) Penyusunan Peta Respon saat bencana Erupsi Semeru oleh dr. Bayu Wibowo IGN sebagai Kepala Dinas Kabupaten Lumajang; dan (4) Penggunaan Teknologi Informasi dalam Penyusunan Peta Respon Krisis Kesehatan oleh Setiaji, ST, M.Si sebagai Staf Ahli Menkes Bidang Teknologi Kesehatan Digital Transformation Office (DTO).
Dari peta respon Dinas Kesehatan dapat mengetahui potensi, kapasitas, kesenjangan yang terjadi, tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan kebutuhan logistik. Hal tersebut juga dialami oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang saat penanganan Erupsi Gunung Semeru. Pada saat tanggap darurat, dinas kesehatan melakukan rapid health assessment untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan kemudian mengaktifkan klaster kesehatan / HEOC. Tim HEOC setiap hari rapat untuk upadate data bencana dan kebutuhan penanganan bencana. Saat itu tim HEOC didampingi dan dibantu oleh relawan FK-KMK UGM, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Lumajang serta MDMC. Salah satu kegiatan HEOC ini adalah penyusunan peta respon, sehingga semua pusat informasi tentang penyebaran relawan dapat dilihat pada pesta respon di HEOC.
Forum Nasional (Fornas) XII Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) pada hari kelima (21/10/2022) mengangkat topik “Transformasi Pembiayaan Layanan Kesehatan Primer: Upaya Pembenahan Sistem Kesehatan Indonesia”. Acara diawali dengan presentasi policy brief yang dipandu oleh Tri Muhartini, MPA. Presentasi pertama dibawakan oleh Dewi Wulandari, S. Kep. Ns. M.Kes mewakili tim (Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc; Prof. Achir Yani S. Hamid, M.N, DNSc.).
Sesi ini dibuka oleh Prof. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku Ketua JKKI. Laksono menekankan kembali topik Fornas kali ini mengenai transformasi layanan kesehatan primer yang berfokus pada manajemen pembiayaan. Indonesian Health Economics Association (InaHEA) dan Ikatan Ekonomi Kesehatan Indonesia (IEKI) turut andil dalam topik kali ini.
Melanjutkan pembukaan dari Laksono, dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH, selaku Ketua IEKI, memberikan keynote speech untuk mengawali sesi pemaparan dan diskusi. Hasbullah menyebutkan bahwa konsep ekonomi kesehatan yang dimaksud mempunyai visi bahwa semua orang harus mendapatkan layanan kesehatan masyarakat tanpa harus mempertimbangkan status ekonominya (ekuitas kesehatan). Hal ini didukung dengan evidence untuk penentuan kebijakan yang menunjukkan efisiensi dan ekuitas. Layanan kesehatan primer sudah seharusnya menjadi prioritas dan perlu diperkuat sebagai salah satu sokoguru sistem kesehatan.
Sesi Pemaparan
Sesi Pembahasan
Sambutan
Pengantar Diskusi
Selepas sesi pendahuluan, dilanjutkan dengan sesi utama bagian I. Sesi ini dipandu oleh Dr. Rimawati, S.H., M.Hum. Narasumber pertama, yakni Drs. Pamian Siregar, M.B.A. selaku Dirut PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, menyampaikan bahwa menurut perspektif industri dalam ketahanan farmasi berdasarkan perhitungan ekonomi, penting sekali untuk mengamankan bahan baku obat. Setelah pandemi, hal ini menjadi lebih jelas lagi dan menjadi kunci bagi ketahanan industri farmasi.
Kegiatan dipandu oleh dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc., Ph.D., Sp.A. Materi pertama disampaikan oleh Dr. Hargo Utomo, M.B.A selaku Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM. Menurut Hargo, kompetisi industri alat kesehatan nasional saat ini masih didominasi oleh produk asing. Untuk itu, diperlukan penguatan kapasitas industri alat kesehatan domestik untuk menyokong ketahanan industri kesehatan nasional dan meraih kepercayaan publik, terhadap produk-produk alat kesehatan dalam negeri untuk mendorong inovasi industri alat kesehatan di Indonesia. Roy Himawan, S.Farm., Apt., MKM selaku Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI melanjutkan dengan menyampaikan Kemenkes RI mengusung program prioritas untuk mewujudkan ketahanan industri alkes dalam negeri. Namun, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi, terutama karena ekosistem industri bahan baku alat kesehatan belum siap untuk menunjang pengembangan industri alat kesehatan di Indonesia. Materi terakhir disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Sebagai penutup, kebijakan Inpres Nomor 2 Tahun 2022 terbit sebagai panduan menuju ketahanan sudah baik, namun saat ini masih berada dalam tahap awal pelaksanaan. Masih diperlukan kolaborasi lintas pihak agar dapat terwujud dan tentunya saling melengkapi kekurangan yang ada.
Dalam forum dengan fokus industri farmasi yang dipandu oleh dr. Lukman Ade Chandra, M.Med., M.Phil. Pembicara pertama, Prof. Dr. apt. Yusi Anggriani, M.Kes dari Universitas Pancasila, memaparkan hasil penelitian yang dilakukannya. Poin penting yang dihasilkan diantaranya; (1) sudah terjadi tier-system dalam obat-obatan, (2) Obat yang berada di luar Formularium Nasional, memiliki pangsa pasar tersendiri baik di dalam maupun luar negeri, (3) Hingga saat ini belum ada data besar dan konsisten terkait data volume dan value obat-obatan, serta (4) Belum tersedia sistem nasional untuk memantau pasar farmasi.
Prof. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D, Dekan Farmasi ITB mengawali diskusi dengan menyampaikan potensi pengembangan industri herbal di Indonesia yang menjanjikan. Upaya pengembangan industri herbal dan kesehatan tradisional bahkan menjadi salah satu fokus transformasi ekonomi di Provinsi Bali, seperti yang disampaikan Guru Besar FMIPA Universitas Udayana, Prof. apt. Dr.rer.nat I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si. Upaya tersebut dilakukan dengan penguatan industri obat tradisional; penguatan pelayanan kesehatan tradisional; dan penguatan Bali Mahosadhi (Balinese Wellness).
Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo menjelaskan universitas berperan mendorong berbagai rekomendasi berbasis data sekunder di level nasional dan provinsi. Hal ini berpotensi digunakan universitas lain sehingga utilitasnya dapat digunakan secara luas. Untuk kebijakan nasional dan daerah sehingga dapat melakukan monitoring aktif di daerah yang dilakukan pihak akademisi,peneliti dan student. Dalam melakukan monitoring aktif, dan di daerah yang dilakukan pihak akademik, peneliti, dan student. Utilisasinya masih belum maksimal pada data di Kemenkes dan BPJS Kesehatan. Oleh karena itu munculnya dashboard DaSK.
Sensa Gudya Sauma Syahra menjelaskan Digital Data Corner (DDC) dilatarbelakangi biological/ medical information menjadi big data terbesar, sumber data penelitian dan data sekunder semakin banyak di lingkup penelitian kesehatan serta perlu pengelolaan yang optimal untuk big data kesehatan. Produk dari DDC adalah website DaSK. DDC ini memiliki layanan data warehouse, pelatihan dan tutorial, serta konsultasi dan pendampingan. Data Visualization ini
dr Lutfan Lazuardi, PhD menjelaskan banyak data kesehatan tersedia dan salah satu strateginya visualisasinya. Mengembangkan visualisasi dengan dashboard untuk memudahkan pemangku kebijakan dan peneliti untuk memvisualisasikan datanya. DaSK tersedia banyak data dan berkontribusi mendapatkan informasi dari universitas. Kita dapat berkolaborasi meningkatkan cakupan dan mutu bagi universitas. DaSK dimanfaatkan oleh peneliti, students dan akademisi.
Tri Murhatini, MPA menjelaskan analisis kebijakan provinsi diharapkan berkolaborasi di universitas masing-masing provinsi sehingga dapat mengelola dashboard provinsi masing-masing. Tujuan mitra DaSK yaitu menyediakan data sistem kesehatan provinsi yang terintegrasi dan terbaru, meningkatkan kemampuan akademisi untuk melakukan riset kebijakan dalam konteks kebijakan kesehatan nasional dan daerah, serta meningkatkan kemampuan akademisi dalam menulis artikel.
Topik 2 pada forum nasional JKKI kali ini mengangkat tema bukti baru dari data sampel BPJS Kesehatan, khususnya pada pelayanan penyakit katastropik dan transformasi kesehatan. Diharapkan dengan memanfaatkan data sampel BPJS Kesehatan dapat menganalisis kondisi beban dalam pelayanan kesehatan, salah satunya menunjang dalam enam transformasi kesehatan yakni pembiayaan kesehatan dalam JKN. Forum Nasional JKKI hari Kedua dibuka oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro selaku Ketua Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia yang menyampaikan seluruh lapisan masyarakat sudah dijamin kesehatannya oleh negara sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN bahwa jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, namun masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan keadilan dari pelayanan katastropik.
Keynote Speech



Terdapat pembahas yang telah hadir pada forum nasional JKKI kali ini yakni pembahas pertama, dr. Yuli Farianti, M.Epid selaku Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK), Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan akan melakukan pengapuan kepada RS di daerah sehingga kualitas layanan bisa tersedia, menghindari angka kematian dan keselamatan pasien mutunya terjaga. Selain itu, data BPJS Kesehatan bisa diakses oleh seluruh daerah, misal kisaran buyer dan penyakit terbanyak sehingga sesi hulu bisa memperkuat promorif-preventif. Untuk mengetahui ekuitas yang belum tersedia di layanan faskes diakibatkan oleh pemertaan faskes dan pemerataan dokter spealias di daerah serta besaran tarif layanan yang kurang, sehingga perlu dilihat lagi oleh BPJS Kesehatan dan tidak ada pasien dirujuk karena tarif layanan yang rendah.
Pembukaan Fornas pada Senin (17/10/2022) dimulai dengan pengantar oleh Prof. Laksono Trisnantoro, sebagai Ketua JKKI. Laksono menyampaikan terima kasih kepada co-host dan mitra yang mendukung pelaksanaan fornas ini. Adapun co-host berasal dari 10 universitas yang tersebar di Indonesia dan juga INAHEA.
Selanjutnya sambutan dari Dekan FK-KMK UGM, dr. Yodi Mahendradata, M.Sc, PhD, FRSPH mengungkapkan walaupun pandemi COVID-19 ini telah mendekati akhir, namun kemungkinan pandemi berikutnya bisa terjadi, Sehingga kesiapan atau preparedness itu yang paling utama dalam menghadapi era pandemi saat ini.
Selanjutnya keynote speech disampaikan oleh dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. selaku Wakil Menteri Kementerian Kesehatan. Dante menyampaikan terkait tantangan sistem kesehatan yaitu tidak meratanya fasilitas kesehatan, kurangnya SDM kesehatan, dan tantangan geografis yang mengakibatkan akses ke layanan yang tidak merata.
Topik pertama Fornas JKKI XII ini adalah Peran dan Posisi Analis Kebijakan dalam Transformasi Sistem Kesehatan. Seminar diselenggarakan pada Senin (17/10/2022) secara daring dan diikuti kurang lebih 300 peserta. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. dr Andreasta Meliala, DPH, M.Kes, MAS selaku Direktur PKMK FK-KMK UGM. Materi pertama oleh Drs. Nana Mulyawan, MKes, Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) yang menyampaikan bahwa peran Analis Kebijakan dalam Transformasi Sistem Kesehatan mengacu pada visi misi Presiden Indonesia tahun 2020-2024.
Materi selanjutnya oleh Dr. Sri Wahyu Wijayanti dari LAN, yang menyampaikan terkait Optimalisasi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan (JFAK). Sri memulai paparannya dengan menyampaikan permasalahan kebijakan saat ini yang kebanyakan belum berbasis bukti. Hal ini karena ada empat hal, yaitu konflik pasal atau ketentuan yang bertentangan dengan peraturan lainnya. Kedua, inkonsisten dalam satu peraturan perundang-undangan beserta turunannya. Ketiga multitafsir pada objek dan subjek yang diatur sehingga menimbulkan ketidakjelasan rumusan.
Materi terakhir disampaikan oleh Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si dari Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik, FISIPOL UGM yang menyampaikan materi terkait tantangan profesi analis kebijakan di era disrupsi. Erwan memulai materinya dengan menyampaikan konteks dunia saat ini yang tengah berubah, seperti mobilitas yang makin mudah, perubahan lingkungan, gaya hiodup, dan pola konsumsi. Hal ini kemudian membawa implikasi pada masalah kesehatan. Dengan kompleksitas ini, maka peran analis kebijakan menjadi krusial.
Sesi berikutnya ialah diskusi dimana banyak peserta yang antusias untuk menyumbangkan ide dan memberi pertanyaan tentang topik yang dibahas di Fornas XII hari pertama ini. Selanjutnya Andreasta menyimpulkan diskusi topik pertama ini bahwa sudah ada keterlibatan yang baik dari analis kebijakan di Kementerian Kesehatan, namun perlu diperhatikan terkait kebijakan yang dihasilkan untuk tidak menimbulkan tantangan yang baru. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan untuk menyederhanakan masalah dan membuat langkah-langkah intervensi masalah menjadi lebih sistematis, dengan juga merefleksikan apa yang perlu disiapkan serta memprediksikan terkait impact kebijakan. Materi dan detail kegiatan Fornas XII dapat diakses di