asd
Visi dan Misi
Visi
Menjadi website yang mampu menjadi rujukan pengambil kebijakan, peneliti, dosen dan konsultan dalam kebijakan kesehatan.
Misi
- Meningkatkan mutu kebijakan kesehatan di Indonesia;
- Menyebarkan berbagai ilmu pengetahuan dan informasi mengenai kebijakan kesehatan;
- Menyediakan sarana forum diskusi berbagai Community of Practice di kebijakan kesehatan;
- Menyediakan platform untuk pengembangan pelatihan berbasis web untuk seluruh pihak yang berkepentingan di kebijakan kesehatan;
- Mendukung Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia.
Audiens
Web ini diharapkan dipergunakan oleh:
- Pimpinan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten;
- Pimpinan dan Anggota Komisi Kesehatan di DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten;
- Pimpinan Bappenas, Bappeda Propinsi dan Kabupaten;
- Pimpinan BKKBN, Lembaga KB di Propinsi dan Kabupaten;
- Pimpinan dan Staf BPJS;
- Konsultan kebijakan kesehatan;
- Dosen dan peneliti dalam kebijakan kesehatan;
- Media Massa (Wartawan dan Editor);
- Mahasiswa yang belajar/berminat dalam kebijakan kesehatan;
Form Pendaftaran
coba lagi
rar
Worldwide action needed to address hidden crisis of violence against women and girls
GENEVA – Current efforts to prevent violence against women and girls are inadequate, according to a new Series published in The Lancet. Estimates suggest that globally, 1 in 3 women has experienced either physical or sexual violence from their partner, and that 7% of women will experience sexual assault by a non-partner at some point in their lives.
Yet, despite increased global attention to violence perpetrated against women and girls, and recent advances in knowledge about how to tackle these abuses, levels of violence against women – including intimate partner violence, rape, female genital mutilation, trafficking, and forced marriages – remain unacceptably high, with serious consequences for victims’ physical and mental health. Conflict and other humanitarian crises may exacerbate ongoing violence.
Between 100 and 140 million girls and women worldwide have undergone female genital mutilation (FGM), with more than 3 million girls at risk of the practice every year in Africa alone. Some 70 million girls worldwide have been married before their eighteenth birthday, many against their will.
Although many countries have made substantial progress towards criminalising violence against women and promoting gender equality, the Series authors argue that governments and donors need to commit sufficient financial resources to ensure their verbal commitments translate into real change. Even where laws are progressive, many women and girls still suffer discrimination, experience violence, and lack access to vital health and legal services.
Action needed on causes of violence
Importantly, reviewing the latest evidence, the authors show that not enough is being done to prevent violence against women and girls from occurring in the first place. Although resources have grown to support women and girls in the aftermath of violence (e.g., access to justice and emergency care), research suggests that actions to tackle gender inequity and other root causes of violence are needed to prevent all forms of abuse, and thereby reduce violence overall.
“Globally, 1 in 3 women will experience intimate partner and/or sexual violence by non-partners in their lifetime, which shows that more investment needs to be made in prevention. We definitely need to strengthen services for women experiencing violence, but to make a real difference in the lives of women and girls, we must work towards achieving gender equality and preventing violence before it even starts,” explains Series co-lead Professor Charlotte Watts, founding Director of the Gender Violence and Health Centre at the London School of Hygiene & Tropical Medicine, London, UK. “No magic wand will eliminate violence against women and girls. But evidence tells us that changes in attitudes and behaviours are possible, and can be achieved within less than a generation.”
Ultimately, say the authors, working with both the perpetrators of violence (men and boys) and women and girls will be essential to achieve lasting change, by transforming deeply entrenched societal norms on gender relations and the insidious belief that women are inferior.
Violence is often seen as a social and criminal justice problem, and not as a clinical or public health issue, but the health system has a crucial part to play both in treating the consequences of violence, and in preventing it.
“Health-care providers are often the first point of contact for women and girls experiencing violence,” says Series co-lead Dr Claudia Garcia-Moreno, a physician at WHO, Geneva, who coordinates research and policy on violence against women.
“Early identification of women and children subjected to violence and a supportive and effective response can improve women’s lives and wellbeing, and help them to access vital services. Health-care providers can send a powerful message – that violence is not only a social problem, but a dangerous, unhealthy, and harmful practice – and they can champion prevention efforts in the community. The health community is missing important opportunities to integrate violence programming meaningfully into public health initiatives on HIV/AIDS, adolescent health, maternal health, and mental health.”
Five key actions needed
The Series urges policy makers, health practitioners and donors worldwide to accelerate efforts to address violence against women and girls by taking 5 key actions. First, governments must allocate necessary resources to address violence against women as a priority, recognising it as a barrier to health and development.
Second, they must change discriminatory structures (laws, policies, institutions) that perpetuate inequality between women and men and foster violence.
Third, they must invest in promoting equality, non-violent behaviours and non-stigmatising support for survivors.
Fourth, they must strengthen the role of health, security, education, justice, and other relevant sectors by creating and implementing policies for prevention and response across these sectors, and integrating violence prevention and response into training efforts.
Finally, they must support research and programming to learn what interventions are effective and how to turn evidence into action.
According to Series co-ordinator, Dr Cathy Zimmerman, from the London School of Hygiene & Tropical Medicine, UK, “We now have some promising findings to show what works to prevent violence. Our upcoming challenge is to expand this evidence on prevention and support responses to many more settings and forms of violence. Most importantly, we urgently need to turn this evidence into genuine action so that women and girls can live violence-free lives.”
In a comment accompanying the Series, former US President Jimmy Carter, founder of The Carter Center says, “It is my hope that political and religious leaders will step forward and use their influence to communicate clearly that violence against women and girls must stop, that we are failing our societies, and that the time for leadership is now.”
The Series is published ahead of the 16 days of Activism against Gender Violence (Nov 25–Dec 10, 2014).
source: http://www.who.int
Hasil kegiatan penulisan Draft Policy Brief pada Forum Nasional V JKKI 2014
PENDAHULUAN
Setelah 2 hari pelaksanaan Forum Nasional V, setiap Kelompok Kerja melakukan pengembangan policy brief selama satu hari di Gedung Eyckman Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung pada tanggal 26 September 2014. Penulisan policy brief ini bertujuan untuk memberikan masukan ke seluruh pengambil keputusan di pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota sesuai dengan Kelompok-Kelompok Kerja dan hal-hal umum yang menjadi prioritas bersama.
Penulisan policy brief berdasarkan tanggung-jawab perorangan dan/atau lembaga. Kegitan ini dapat pula dilakukan oleh berbagai lembaga secara bersama-sama. Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia berfungsi sebagai fasilitator penyusunan policy brief, namun tidak bertanggung-jawab atas isi dan penyampaiannya. Tanggung-jawab tetap berada di anggota atau kelompok anggota.
Kegiatan pelatihan penulisan policy brief merupakan langkah awal yang dilakukan oleh Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia untuk merekomedasikan kebijakan kesehatan untuk pemerintahan baru. Policy brief merupakan merupakan salah satu cara dalam menjembatani celah antara peneliti dan para pengambil kebijakan. Isi dari policy brief berbasis pada penelitian yang nantinya akan memberikan kontribusi positif terhadap proses penyusunan & pengambilan kebijakan. Melalui policy brief, diharapkan pemerintah yang baru akan mampu menyusun kebijakan kesehatan berdasarkan prinsip “evidence based policy making” sehingga kebijakan yang lahir tepat sasaran dan mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan yang ada di Indonesia.
PROSES KEGIATAN
Sejumlah 70 orang mengikuti kegiatan ini mulai dari mahasiswa, dosen, peneliti, perwakilan dari pemerintah daerah dan berbagai LSM. Kegiatan ini diawali dengan bedah buku dengan judul “Kebijakan Kesehatan: Prinsip dan Praktik” oleh Dr. Dumilah Ayuningtyas, MARS, dilanjutkan dengan diskusi penyusunan policy brief oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc. PhD.
Bedah buku sebagai pembuka acara dibawakan secara menarik oleh Dr. Dumilah Ayuningtyas, MARS. Sebagai penulis buku, Dr. Dumilah banyak mengangkat isu dan teori kebijakan kesehatan yang meliputi konsep kebijakan dalam bidang kesehatan, pengembangan kebijakan kesehatan, analisis kebijakan, rekomendasi dan advokasi kebijakan. Buku tersebut sangat cocok digunakan sebagai bahan ajar mahasiswa dan rujukan bagi mereka yang berkecimpung dalam institusi kesehatan pemerintah maupun swasta, serta para pejabat publik yang berhubungan dengan bidang kesehatan.
Apa Output kegiatan hari ketiga Forum Nasional V Kebijakan Kesehatan Indonesia?
Output dari kegiatan ini berupa berbagai draft policy brief yang diusulkan dari kelompok-kelompok pokja setelah melakukan dIskusi selama dua hari. Kelompok pembiayaan kesehatan mengusulkan beberapa policy brief dengan topik:
- Perbaikan JKN dan sistem rujukan di daerah yang sulit
- Perbaikan sistem pembiayaan fasilitas kesehatan primer di daerah terpencil.
- Integrasi upaya pelayanan kesehatan masyarakat dalam kebijakan kartu sehat Indonesia
- Kepesertaan JKN dalam mendukung equity pelayanan kesehatan
- Monitoring dan evaluasi JKN yang dilakukan oleh 12 perguruan tinggi. Kemudian, kelompok ini yang terbanyak dapat menyusun usulan.
Kelompok HIV/AIDS mengusulkan topik JKN yang diharapkan inklusif terhadap kelompok marginal. Kelompok Kesehatan jiwa mengusulkan topik pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas sebagian bagian dari kebutuhan basic seven. Kelompok Gizi mengusulkan topik inequity penanganan malnutrisi di Rumah Sakit. Kelompok pelayanan kesehatan mengusulkan topik monitoring dan evaluasi BLUD (policy brief terlampir). Setiap kelompok juga mempunyai berbagai topik di luar apa yang dibahas saat ini.
Apa langkah selanjutnya?
Pasca penyusunan policy brief, kegiatan ini akan di-follow up oleh masing masing pokja melalui penulisan lebih lanjut dan berbagai bentuk advokasi.
Langkah 1: Fasilitasi pengembangan Policy Brief melalui pendekatan Blended Learning di bulan Oktober 2014.
Penulisan lebih lanjut diselenggarakan melalui Blended Learning yang dilakukan melalui www.kebijakankesehatanindonesia.net Pada langkah ini, para penulis Policy Brief akan difasilitasi untuk dapat merumuskan hasil. Metode penulisan menggunakan model dari IDRC, diharapkan dalam waktu empat minggu (maksimal) para penulis policy brief sudah dapat menyelesaikan tulisannya. Pada langkah ini, bagi para peserta yang sudah siap dokumennya dipersilakan untuk masuk ke langkah berikutnya.
Langkah 2: Dimulai pada bulan Oktober 2014 sesuai dengan kesiapan para penulis policy brief.
Para penulis akan didorong untuk membahas dan melaksanakan berbagai strategi untuk melakukan ‘Engagement‘ ke para pengambil kebijakan. Langkah ini diawali dengan pemahaman akan:
- stakeholders dan aktor dalam pengambilan keputusan.
- Bagaimana proses penyusunan keputusan mereka. Apakah transparan atau tidak, terbuka untuk saran dari luar, ataukah tertutup dan berbagai hal lainnya?
- Apakah mempunyai niat baik untuk melakukan perubahan?
Strategi engagement dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan dapat berupa kombinasi dari beragam metode, antara lain:
- Melakukan pertemuan ilmiah membahas topik policy brief;
- Melakukan pertemuan informal dengan dasar policy brief;
- Memberikan langsung ke para pengambil keputusan dan timnya (misal tim transisi);
- Melakukan advokasi melalui media massa,
- Lobby-lobby ke berbagai pihak, misal ke BPJS, pemerintah pusat dan daerah yang terkait.
Langkah 3: Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap proses “engagement” mulai dari penulisan policy brief, penyampaian, tanggapan, sampai ke hasil proses “engagement” (mempengaruhi) proses kebijakan ini.
Langkah 4: Hasil monitoring dan evaluasi terhadap proses advokasi ini akan dibahas pada pertemuan Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia yang rencananya diadakan di Padang pada bulan September 2015.
Ringkasan:
Melalui langkah-langkah ini diharapkan akan ada kesinambungan antar Forum Nasional setiap tahunnya dan para anggota dapat mempunyai pengalaman dalam melakukan pemberian masukan (engagement) ke pengambil kebijakan. Pengalaman-pengalaman ini diharapkan dapat ditulis secara kualitatif untuk menggambarkan antara lain:
- Tanggapan pengambil keputusan untuk usulan kebijakan. Tanggapan ini bervariasi mulai dari serius untuk menindaklanjuti, menolak, ataupun tidak memperhatikan;
- Situasi hubungan antara peneliti dengan pengambil kebijakan.
- Ketahanan para peneliti untuk terus melakukan pengamatan, dan “engangement” ke pengambil kebijakan.
Pengalaman ini dapat dituliskan dan dipelajari untuk pengembangan lebih lanjut. Diharapkan ada penelitian yang menyangkut proses penyusunan kebijakan, termasuk dari perspektif keahlian antropologi (LT).
Testing
Plenary Navigating Global Demographic Transition in a Time of Geopolotical Upheaval
Keynote speaker Chris Murray (Director IHME) menunjukkan modelling dengan data demografi dunia yang menunjukkan bagaimana mayoritas negara-negara di dunia akan mengalami penurunan tingkat penduduk dalam decade-dekade mendatang, namun pertumbuhan ekonomi yg buruk akan memperdalam jurang antara kelompok yang kaya dengan yang rentan. Selain itu, mayoritas penyakit-penyakit tidak menular akan mendominasi, dan bagian terbesarnya adalah penambahan despressive disorder, dan teridentifikasi pula sekitar 500 faktor risiko. Dari 500 faktor risiko tersebut, analisis dilakukan hingga terideintifikasi 17 ancaman utama dan apa ancaman tertingginya. Dari ancaman-ancaman utama terhadap Kesehatan tersebut, terdapat 5 ancaman di posisi teratas yang dapat diubah secara perilaku dan pendekatan system, yaitu obesitas (metabolic driver), Pendidikan rendah (social economy determinant), ketidaksetaraan ekonomi (social determinant), tembakau dan unhealthy aging.
Analisis ini kemudian dibahas oleh panelis terdiri dari Dennis Carrol (AS), Gabriel Leung (Hong Kong), Keizo Takemi (Jepang), Magda Robla (Guinea-Bissou), Melebono Previous Matsoso (Afrika Selatan) untuk melihat bagaimana dampaknya terhadap system Kesehatan. Pesan kunci dari diskusi ini adalah belum ada system Kesehatan yang saat ini siap dengan pooling system yang dapat menanggung beban piramida terbalik yang akan kita hadapi dalam waktu dekat. Sehingga pertanyaan besarnya adalah: siapa yang akan membayar system Kesehatan di masa depan.
Plenary Demographic Transition, Social Equity and Population Diversity
Sesi ini merupakan panel yang terdiri dari Alexander Sasha Bodiroza (UNFPA), Eduardo Banzon (ADB) Fekdemi Akinfaderin, Gretchen Donehower, Reiko Hayashi (Directorate General Social Affairs, Japan).
UNFPA menggarisbawahi konsiderasi ekuitas harus dimasukkan dari awal, bukan sebagai “after-thought”. Sebagai contoh, hak setiap orang untuk mendapatkan dokumentasi kependudukan, karena tanpa dokumen ini mereka akan ‘insivisible’ di dalam system perlindungan sosial dan rentan terhadap berbagai ancaman Kesehatan dan sosial. ADB menyoroti pentingnya penghargaan terhadap pendekatan nasional dan juga kebijaksanaan lokal. Sebagai contoh, di kebayakan negara system perlindungan sosial saat ini masih mengesampingkan layanan Kesehatan tradisional, padahal evidence menunjukkan bahwa Masyarakat membutuhkan dan menginginkan layanan yang bersifat holistic terhadap Kesehatan mereka.
No One Left Behind: Inclusive Policies for Vulnerable and At-Risks Groups in an Era of Demographic Change
Seiring dengan pergeseran demografi global—melalui populasi yang menua, urbanisasi, migrasi, dan perubahan struktur keluarga—kelompok rentan dan berisiko sering kali tetap dikecualikan dari manfaat pembangunan dan kemajuan sosial. Sesi ini mengeksplorasi bagaimana desain kebijakan inklusif dan intervensi inovatif dapat memastikan kesetaraan bagi kelompok rentan dan berisiko, seperti orang tua, penyandang disabilitas, migran, populasi adat, dan minoritas gender. Dengan contoh dari beragam konteks global, sesi ini menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk membangun masyarakat yang kohesif secara sosial dan inklusif di tengah transisi demografis. Prof. Ilona Kickbusch (Global Health Centre, Graduate Institute Geneva, Switzerland) menyampaikan konteks mengapa inklusi lebih penting sekarang di tengah pergeseran demografi. Berikutnya disampaikan dua studi kasus tentang kebijakan yang inklusif.
Assoc.Prof. Trirat Jarutach (Chulalongkorn University, Thailand) menghadirkan model yang komprehensif dan action-driven untuk perumahan ramah lansia—mulai dari perbaikan interior tingkat mikro hingga desain perkotaan tingkat makro. Fokus pada perubahan praktis, sensitif budaya, dan keterjangkauan membuat pendekatan tersebut inklusif dan terukur di seluruh distrik perkotaan Thailand.
Federico Graña (Kementerian Pembangunan Sosial, Uruguay) menyampaikan pengembangan dan promosi undang-undang kesetaraan trans komprehensif Uruguay, yang dikenal sebagai Undang-Undang Komprehensif untuk Trans Persons (UU 19.684), yang diadopsi pada tahun 2018. Undang-undang ini bertujuan untuk membalikkan diskriminasi dan memajukan hak-hak individu transgender, termasuk akses ke perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan pekerjaan. Ini juga mencakup ketentuan untuk perawatan kesehatan yang menegaskan gender, seperti terapi hormon dan pembedahan, yang akan ditanggung oleh negara.
Sesi di kemudian dibahas oleh para panelis. Dr. Renu Khanna (Society for Health Alternatives, India) memberikan perspektif praktis tentang tantangan dan intervensi kebijakan untuk kelompok terpinggirkan, terutama perempuan, di Asia Selatan. Alberto Vásquez (Pusat Kebijakan Inklusif (CIP) dan Presiden, Sociedad y Discapacidad (SODIS), Peru) mengomentari bagaimana menanamkan hak-hak disabilitas dalam kebijakan publik seperti membangun kebijakan fiskal inklusif untuk penyandang disabilitas, mengadvokasi pendekatan sistem perawatan disabilitas berbasis hak, berpusat pada komunitas daripada pelembagaan. Dr. Viviane Oke, MD (Benin) memberikan kisah inspiratif tentang advokasi transformatif untuk kesehatan kaum muda dan wanita. Aplikasi ELLES (yang dia kembangkan) memberikan informasi kesehatan seksual dan reproduksi yang andal dan ramah kaum muda dan menghubungkan perempuan dan anak perempuan dengan profesional kesehatan di seluruh Afrika Sub-Sahara. Dr. Patricia DaSilva (UNFPA) menyampaikan proses perumusan pedoman untuk inklusi penyandang disabilitas yang lebih besar, dan mencakup aspek-aspek seperti prinsip-prinsip partisipasi yang lebih besar, penilaian kebutuhan, dan penggunaan data dalam penyusunan pedoman ini.
——————————————————————-
Social Welfare System, Social Protection, and Fiscal Sustainability
Sesi ini mengeksplorasi model inovatif, tantangan yang muncul, dan solusi kebijakan untuk memperkuat sistem kesejahteraan sosial di berbagai konteks demografis. (Untuk mengeksplorasi bagaimana negara-negara dapat merancang sistem kesejahteraan sosial yang tangguh dan adil yang beradaptasi dengan perubahan demografis, populasi yang menua, dan tekanan fiskal—sambil memanfaatkan inovasi, pendekatan antargenerasi, dan kerja sama global.)
Rintaro Mori (Walikota Kota Takarazuka, Jepang) menyoroti strategi proaktif Jepang dalam pengasuhan, dukungan antargenerasi, dan investasi sosial lokal, bagaimana menyelaraskan anggaran dan layanan kota dengan kebutuhan populasi yang menua, serta menunjukkan peran penting kepemimpinan lokal dalam mengoperasionalkan kebijakan nasional
Aiko Kikkawa (Ekonom Senior, ADB) menyajikan sorotan dari publikasi unggulan ADB “Aging Well in Asia”. Kajian ini berfokus pada keamanan keuangan lansia menggunakan data mikro terperinci di delapan negara Asia, memeriksa kesiapsiagaan, kerentanan, dan kesenjangan dalam perlindungan, serta berbagi temuan pratinjau awal dari studi regional yang sedang berlangsung yang mengembangkan Indeks Kesiapsiagaan Keuangan Usia Tua. Indeks ini menyumbangkan perspektif ekonomi dan berbasis data regional tentang bagaimana merancang sistem kesejahteraan yang berkelanjutan secara fiskal dan inklusif secara sosial untuk populasi yang menua
Dr. Veerathai Santiprabhob (Ketua, TDRI) memberikan perspektif Thailand tentang keberlanjutan fiskal, utang, dan investasi jangka panjang dalam sistem kesejahteraan. Beliau mengeksplorasi trade-off dan prioritas dalam perencanaan anggaran nasional di tengah transisi demografis, serta menyoroti peran think tank ekonomi dalam membentuk kebijakan berbasis bukti yang inklusif
Andrew Reilly (OECD) membahas inovasi desain dalam sistem pensiun publik dan ekuitas antargenerasi. Perspektif OECD yag disampaikan adalah tentang bagaimana mempertahankan sistem pensiun di negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah, serta memperkenalkan alat untuk menilai kecukupan pensiun, cakupan, dan ketahanan fiskal
Sarah Shahyar (UNICEF) menyampaikan pentingnya advokasi untuk memprioritaskan perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak di tengah kendala fiscal, serta menyoroti bukti global yang menghubungkan investasi awal dengan manfaat sosial jangka panjang. UNICEF menekankan sistem inklusif, terutama untuk keluarga yang terpinggirkan dan rentan
People-Centered Long-Term Care: Promising Multisectoral and Community-Based Approaches
Karena negara-negara di seluruh dunia mengalami transisi demografis yang ditandai dengan harapan hidup yang lebih panjang dan tingkat kesuburan yang menurun, permintaan untuk perawatan jangka panjang (LTC) tumbuh pesat. Populasi yang menua membentuk kembali struktur sosial, dinamika keluarga, dan prioritas kesehatan masyarakat. Sementara banyak sistem kesehatan tetap fokus pada perawatan akut, kebutuhan untuk memperkuat model perawatan jangka panjang, berpusat pada orang, dan berakar pada komunitas lebih mendesak dari sebelumnya. Pergeseran demografis juga menunjukkan perlunya pendekatan multisektoral yang melibatkan sektor publik dan swasta untuk memberikan perawatan yang berkelanjutan dan bermartabat di seluruh perjalanan hidup – semuanya dengan keterlibatan yang berarti dari orang dewasa yang lebih tua dalam perencanaan dan implementasi layanan ini.
Komunitas sering berfungsi sebagai garis dukungan pertama bagi orang dewasa yang lebih tua dan mereka yang memiliki kondisi kronis. Ketika diberdayakan, aktor berbasis masyarakat dapat memainkan peran transformatif dalam mengidentifikasi kebutuhan perawatan dan memastikan kesinambungan perawatan. Pada saat yang sama, LTC yang efektif membutuhkan struktur tata kelola yang menjembatani sektor dan skala—mulai dari kebijakan nasional hingga implementasi lokal. Sesi ini akan mengeksplorasi bagaimana negara-negara dapat membangun sistem LTC yang terintegrasi dan tangguh yang inklusif, dipimpin masyarakat, dan didukung oleh kolaborasi multisektoral yang kuat.
Sesi ini menghadirkan Professor Katsuya Ijima (Institute for Gerontology, Japan), yang adalah salah satu penginisasi ‘deklarasi Tokyo’. Professor Ijima menyampaikan pengalaman Jepang untuk mengatasi ‘masyarakat super-penuaan’ melalui strategi multisektoral, dan upaya terbaru menuju sistem yang lebih berkelanjutan sebagai berikut: 1) dari institusi ke komunitas, termasuk keterlibatan sosial, 2) dari penyembuhan ke perawatan, termasuk pencegahan kelemahan multi-segi (fisik, mental, dan sosial), dan 3) dari pemerintah hingga partisipasi multi-pemangku kepentingan, termasuk untuk pembiayaan dan tata kelola.
Sesi ini juga meyampaikan beberapa pendekatan inovatif untuk layanan lansia berbasis komunitas yg dapat dibaca berikut ini:
Securing the Future of Health and Well-Being for All at All Ages: Sustainable Financing Solutions
Sesi ini dilatarbelakangi oleh tantangan global khususnya tantangan pencapaian UHC yang tersisa tinggal 5 tahun lagi, perubahan demografi yang sangat cepat dengan bertambahnya kelompok usial lanjut dan juga kerentanan global akibat berkurangnya secara signifikan beberapa sumber pendanaan global. Sesi ini khususnya berfokus pada bagaimana dana bisa digalang (revenue and pooling), serta bagaimana innovative financing dapat diinisiasi khususnya untuk pembiayaan layanan Kesehatan di sepanjang siklus hidup.
Pertama, Jon Cylus (LSE) menyampaikan bahwa kemampuan negara untuk mengumpulkan pajak dari antara kelompok Masyarakat sangat bergantung pada, salah satunya, seberapa produktif orang pada kelompok usia tertentu; padahal di sisi lain pembiayaan Kesehatan dikumpulkan dengan cara yg selalu sama (konstan). Sehingga dalam waktu dekat, Ketika populasi menua, tentu saja akan muncul ancaman ketidakcukupan, akibatnya ada gap yg harus diisi melalui OOP. Solusinya, pertamaL diversifikasi pajak (misal: health taxes). Dua, Menyusun protecktif coverage policies yang melindungi OOP dari Masyarakat berdasarkan kemampuannya (misal: menggunakan income related cap)
Sesi ini dimoderatori oleh Akihito Watabe (ADB) dan Kiesha Prem (NUS).
Para pembahas kemudian menyampaikan beberapa pandangan dari perspektif negara maju dan middle-income.
Ayako Honda (Hitotsubashi Institute for Advanced Studies, Jepang) menyampaikan mengenai program pembiayaan khusus untuk long-term care yang tersedia di Jepang, memisahkannya dari pembiayaan Kesehatan kelompok usia lain, karena pembiayaan long-term care mencakup pula layanan-layanan berbasis komunitas dan preventif/promotive.
Huijun Cynthia Chen (NUS) menyampaikan strategi yang digunakan Singapura, yaitu (1) centralised purchasing, (2) value-based purchasing, dan (3) subsidi untuk obat kanker dan layanan kanker (tadinya Medihsield menggunakan cap untuk layanan kanker, sisanya dibayar melalui asuransi swasta; namun kemudian hal ini diganti dengan negosiasi layanan yang lebih efektif dan meningkatkan subsidi di layanan tersebut).
Soonman Kwon (Seoul National University, Korea Selatan) menyampaikan strategi lain dalam pengumpulan pendapatan untuk kesehatan. Salah satu contoh negara yang menunggunakan consumption tax dengan earmarked khusus untuk Kesehatan (misalnya Ghana); cara lain adalah contribution base payment, sebagai contoh di Korea pemotongan pajak untuk Kesehatan bukan hanya dari pendapatan gaji, melainkan juga pendapatan non gaji (misal: dividen). Selain itu, diperlukan mekanisme pembayaran lain, misalnya bundled payment karena kapitasi saja tidak akan memadai.
Lluis Vinyals Torres (WHO WPRO) menyampaikan beberapa pembelajaran utama dari regional ini. Pertama, produksi SDM yang berlebihan karena adanya masalah kekurangan tenaga tidak selalu menyelesaikan masalah, jika tidak ada kebijakan yang efektif untuk distribusi SDM tersebut. Kedua, terkadang mekanisme pembiayaan Kesehatan tidak selalu sinkron antara revenue, pooling dan payment.
Sesi ini juga menampilkan Ghina Fadhilla (Indonesia) yang menyampaikan bagaimana beberapa pendanaan (termasuk filantropi) digunakan untuk membiayai Kesehatan di Indonesia, misalnya melalui Dompet Dhuafa dan lain-lain, yang membantu pemerintah dalam pendanaan untuk penanggulangan bencara, layanan berbasis komunitas dan lain-lain. Namun tantangannya adalah pendanaan ini biasanya bersifat ad-hoc, tidak selalu terintegrasi dan tidak berkelanjutan.
Ghina menyarakankan mekanisme yang dapat digunakan Indonesia untuk memastikan bahwa filantropi terintegrasi dengan baik ke dalam prioritas kesehatan nasional. Ini meliputi: (1) Pemetaan sumber daya dan peran untuk mendokumentasikan aktor kunci di seluruh ekosistem pendanaan seperti, siapa yang memegang sumber daya keuangan, siapa yang membutuhkan pendanaan, aktor mana yang telah menerapkan program serupa, siapa penerima manfaat, siapa yang berfungsi sebagai mitra pelaksana, di mana pendanaan paling dibutuhkan. Pendekatan ini membantu memastikan pendanaan yang ditargetkan dengan baik, mendorong intervensi yang lebih komprehensif, mengurangi fragmentasi program dan jangka pendek, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan untuk program masa depan atau terkait; (2) Alat pemantauan dan evaluasi yang terpadu, terintegrasi, dan dapat diakses diperlukan untuk menangkap dan mendokumentasikan dampak pendanaan filantropi. Alat-alat tersebut dapat berfungsi sebagai instrumen pembelajaran untuk mendukung skalabilitas dan keberlanjutan program, membantu menarik pendanaan di masa depan, dan memberikan bukti kepada banyak pemangku kepentingan tentang hasil kesehatan yang didukung oleh filantropi; (3) Hasil bersama, terutama yang selaras dengan prioritas nasional dan regional, harus berfungsi sebagai referensi utama bagi organisasi filantropi saat merancang program mereka. (4) Forum multipihak yang transparan dan bebas konflik diperlukan untuk secara teratur membahas mobilisasi sumber daya domestik untuk keuangan kesehatan yang selaras dengan prioritas nasional. Forum semacam itu juga akan membantu mencegah fragmentasi dan mendukung tujuan yang lebih luas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektoral. Bersama-sama, upaya ini harus didukung dengan revisi undang-undang pengumpulan uang dan barang, dan insentif pajak yang komprehensif untuk filantropi lokal.

Beberapa acara sampingan dalam PMAC 2026
Pelaksanaan PMAC juga seperti biasa diisi oleh berbagai kegiatan lain, misalnya penyampaian berbagai E-poster dan memberikan kesempatan pada hadirin yang tertarik untuk berdiskusi langsung dengan penyusun poster. Berikut ini adalah beberapa poster yang terdapat pada PMAC 2026.
Selain itu, PMAC juga didasari oleh prinsip penyelenggaraan acara yang sehat, yaitu pilihan makanan yang sehat, aktivitas fisik (di pagi hari tersedia program mindful walk di kuil dan taman), relaksasi (tersedia layanan pijat oleh para tunanetra) dan pameran seni yang dibuat oleh anak-anak dari wilayah pedesaan Thailand dan penjualan merchansdise berdasarkan karya seni tersebut. Seluruh kegiatan ini digunakan untuk menggalang donasi dari peserta acara.
Pameran Seni anak-anak terkait tema PMAC 2026.
Poster
Selain itu, PMAC juga didasari oleh prinsip penyelenggaraan acara yang sehat, yaitu pilihan makanan yang sehat, aktivitas fisik (di pagi hari tersedia program mindful walk di kuil dan taman), relaksasi (tersedia layanan pijat oleh para tunanetra) dan pameran seni yang dibuat oleh anak-anak dari wilayah pedesaan Thailand dan penjualan merchansdise berdasarkan karya seni tersebut. Seluruh kegiatan ini digunakan untuk menggalang donasi dari peserta acara.
[widgetkit id=85]
[widgetkit id=36]
[widgetkit id=37]
[widgetkit id=41]
Pengantar Minggu Ini, 1 Juli 2014
Seminar Hygiene di Rumah Sakit

Patient safety merupakan isu yang membutuhkan perhatian khusus dari kalangan kesehatan, baik tenaga kesehatan maupun pengamat kesehatan. Selain pasien bisa mendapatkan pelayanan dan pengobatan terbaik, keselamatan pasien harus diutamakan. Sehingga masyarakat tidak ragu untuk berobat di Indonesia. Sudah banyak media yang melaporkan banyak masyarakat menengah atas yang berobat ke negara tetangga. Patient safety menarik MMR FK UGM dan GIZ Jerman untuk menyelenggarakan Seminar Hygiene di RS pada Jum’at (27/6/2014), Anda dapat hadir di Ruang Senat KPTU FK UGM dengan mendaftar terlebih dahulu (tempat terbatas) atau mengikuti via live streaming di website ini. Informasi selengkapnya dapat disimak pada link berikut Klik Disini
Slideset
The Widgetkit Slideset takes your product showcase to the next level. It provides a sleek way to show multiple sets of items and uses smooth effects while looping through them.
Features
- Clean and very lightweight code
- Eye-catching transition effects
- Fully responsive including all effects
- Support of named custom sets
- Swipe navigation on mobile phones
- Built with HTML5, CSS3, PHP 5.3+ and the latest jQuery version
- Works with Joomla and WordPress
Slide Example
The sets are auto generated (4 items per set), item names are shown and it uses the slide effect and navigation buttons.
[widgetkit id=32]
Zoom Example
The sets are arranged manually, sets names are used as a navigation and it uses the zoom effect.
[widgetkit id=33]
Drops Example
The sets show the item names and it uses the drops effect and navigation buttons.
[widgetkit id=49]
Deck Example
This auto generated sets uses prev/next buttons as a navigation and the deck effect.
[widgetkit id=43]
How To Use
The Widgetkit Slideset takes full advantage of the very user-friendly Widgetkit administration interface. You can create and manage all slidesets and their different items in one place. After you have created a slideset, you can load it anywhere on your website using shortcodes or the universal Widgetkit Joomla module or WordPress widget.
