Penggunaan tembakau pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menyebabkan morbiditas signifikan dan kematian dini. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tren prevalensi-nya di Indonesia antara 2009 hingga 2019 serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perubahan yang diamati. Penelitian ini melakukan analisis data sekunder dari tiga gelombang berturut-turut (2009, 2014, dan 2019) Survei Tembakau Remaja Global Indonesia (Indonesian Global Youth Tobacco Survey/IGYTS).
Hasilnya, Prevalensi penggunaan tembakau pada remaja berturut-turut adalah 21,1% (38,2% pada laki-laki; 6,4% pada perempuan), 18,6% (32,7% pada laki-laki; 3,9% pada perempuan), dan 19,8% (36,8% pada laki-laki; 3,5% pada perempuan) pada tiga survei tersebut. Faktor-faktor yang secara konsisten berhubungan di seluruh survei meliputi usia remaja yang lebih tua, jenis kelamin laki-laki, paparan asap rokok lingkungan (secondhand smoke/SHS) di rumah, promosi industri tembakau, kurangnya pengetahuan tentang bahaya asap rokok dan SHS, serta penolakan terhadap larangan merokok di tempat umum. Selain itu, kurangnya paparan media anti-rokok dan kurangnya pengetahuan tentang sulitnya berhenti merokok juga diidentifikasi sebagai faktor risiko dalam data gabungan. Analisis MDA menunjukkan bahwa 88,94% perubahan yang dapat dijelaskan disebabkan oleh perbedaan komposisi variabel penjelas antara dua survei terakhir. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh sosial dan promosi industri tembakau memiliki dampak signifikan terhadap penggunaan tembakau pada remaja di Indonesia. Pemerintah perlu menekankan faktor-faktor ini dalam intervensi pengendalian tembakau.
Selengkapnya https://bmjopen.bmj.com/content/16/3/e105035.abstract