Sebuah studi dilakukan untuk menilai efektivitas biaya skrining kanker payudara berbasis mammografi di Indonesia dari perspektif sosial, mengingat mammografi belum diterapkan sebagai program skrining nasional. Model simulasi digunakan untuk mengevaluasi berbagai skenario skrining berdasarkan usia (40–65 dan 35–65 tahun), frekuensi (2–5 tahun), dan tingkat partisipasi (50–100%). Parameter model bersumber dari statistik populasi dan literatur ilmiah. Hasilnya, skrining mammografi dinilai cost-effective dibandingkan tanpa skrining pada beberapa skenario, khususnya skrining perempuan usia 40–65 tahun dengan frekuensi 2–4 tahun dan tingkat partisipasi 50–100%. Nilai ICER berkisar antara USD 4.758 hingga USD 7.569 per life year gained, seluruhnya berada di bawah tiga kali PDB per kapita Indonesia. Skrining mammografi layak dipertimbangkan sebagai program nasional di Indonesia. Efektivitas biayanya dipengaruhi oleh tingkat partisipasi, usia sasaran, frekuensi skrining, serta ambang batas kesediaan membayar pemerintah, dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan sumber daya dan prioritas kesehatan lainnya.
Selengkapnya https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212109925000378