Endometriosis memengaruhi sekitar 18% perempuan di dunia, namun keterlambatan diagnosis dan pengobatan masih sering terjadi. Di Indonesia, penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan yang jelas dalam akses layanan endometriosis. Meskipun jaminan kesehatan nasional telah diterapkan, akses terhadap layanan tetap dipengaruhi oleh kelas pelayanan yang dimiliki pasien, di mana pasien pada kelas terendah memiliki akses paling terbatas terhadap terapi endometriosis. Pasien yang tinggal di Kalimantan, meskipun memiliki kunjungan lebih banyak, cenderung lebih sulit mendapatkan penatalaksanaan endometriosis seperti laparoskopi, operasi non-laparoskopi, maupun terapi non-bedah dibandingkan dengan pasien di Jawa dan Bali.
Temuan ini menyoroti ketimpangan serius dalam sistem kesehatan di Indonesia, di mana keterbatasan jumlah dokter spesialis OB/GYN dan rumah sakit rujukan menyebabkan perempuan terutama di daerah terpencil tidak mendapatkan pelayanan yang optimal. Mengatasi kesenjangan ini melalui reformasi kebijakan dan pemerataan distribusi sumber daya sangat penting untuk meningkatkan penanganan endometriosis serta kesehatan perempuan secara nasional.
Selengkapnya https://raf.bioscientifica.com/view/journals/raf/7/1/RAF-24-0109.xml