Kepatuhan yang rendah terhadap pengobatan merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) di wilayah pedesaan karena dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Sebuah studi mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan berobat Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Penelitian potong lintang (cross-sectional) ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yang mencakup 292 pasien DMT2 di wilayah pedesaan yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang dianalisis meliputi faktor demografi dan faktor yang berkaitan dengan kesehatan.
Hasilnya, laki-laki dan individu dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak patuh terhadap pengobatan, yaitu laki-laki dan pendidikan sekolah dasar atau lebih rendah. Sementara itu, usia yang lebih tua cenderung berhubungan dengan kepatuhan yang lebih baik, meskipun seluruh hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Pasien yang tidak bekerja memiliki peluang lebih rendah untuk tidak patuh dibandingkan pasien yang bekerja. Sebaliknya, individu yang hanya sesekali atau tidak pernah melakukan kunjungan tindak lanjut (follow-up) memiliki peluang jauh lebih tinggi untuk tidak patuh dibandingkan mereka yang rutin melakukan kunjungan, dan kedua hubungan tersebut signifikan secara statistik. Pengetahuan mengenai pengobatan berhubungan signifikan dengan kepatuhan pada analisis tanpa penyesuaian, namun hubungan tersebut tidak lagi signifikan setelah dilakukan penyesuaian. Persepsi terhadap kemudahan akses ke fasilitas kesehatan juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan ketidakpatuhan. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan pada pasien DMT2 di wilayah pedesaan berhubungan secara terbalik dengan status tidak bekerja dan usia yang lebih tua, serta berhubungan secara langsung dengan frekuensi kunjungan tindak lanjut yang lebih rendah, jenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan yang lebih rendah, pengetahuan tentang pengobatan yang kurang baik, dan persepsi akses yang buruk terhadap fasilitas kesehatan. Intervensi perlu difokuskan pada penguatan layanan kesehatan primer di wilayah pedesaan melalui jam pelayanan yang lebih fleksibel, penjangkauan aktif kepada pasien, serta edukasi yang melibatkan keluarga, terutama bagi laki-laki usia produktif.
Selengkapnya https://www.tandfonline.com/doi/full/10.2147/JMDH.S563957