Malnutrisi global kini semakin kompleks dengan berbagai penyebab yang ditandai oleh adanya berbagai bentuk malnutrisi yang terjadi secara bersamaan. Di banyak negara, stunting dan wasting pada anak terjadi bersamaan dengan meningkatnya prevalensi obesitas serta penyakit tidak menular terkait pola makan pada orang dewasa. Penurunan kandungan mineral pada tanah dan tanaman juga memperburuk masalah hidden hunger (kelaparan tersembunyi) di seluruh dunia. Dalam rangka mengatasi permasalahan ini, diperlukan investasi yang besar serta perspektif yang lebih luas guna mentransformasikan pendekatan gene-to-plate (dari gen hingga ke meja makan) menjadi suatu kerangka sistem pangan yang berkelanjutan. Panduan ini bertujuan mendorong perubahan mendasar dalam cara memandang masalah malnutrisi, dengan melampaui intervensi yang hanya berfokus pada satu sektor. Pendekatan yang diusulkan menekankan pentingnya memastikan akses sepanjang tahun terhadap pangan yang beragam dan padat gizi melalui pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture), biofortifikasi, serta pemanfaatan keanekaragaman hayati lokal. Sistem pangan yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal merupakan kunci untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor 2 (Zero Hunger) dan nomor 3 (Good Health and Well-being). Transformasi gene-to-plate yang mengintegrasikan produksi pangan, distribusi, dan edukasi gizi menawarkan solusi jangka panjang untuk mengurangi beban malnutrisi.
Selengkapnya https://www.frontiersin.org/journals/public-health/articles/10.3389/fpubh.2026.1755411/full