Komorbiditas tuberkulosis (TB) dan diabetes melitus (DM) merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang semakin meningkat, terutama di Indonesia, dimana insidensi TB masih tinggi dan prevalensi DM terus bertambah. Komorbiditas DM diketahui meningkatkan risiko terjadinya TB serta memberikan dampak negatif terhadap luaran pengobatan TB. Sebuah studi menganalisis distribusi geografis bersama (co-distribution) TB dan DM beserta faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhinya di Indonesia, sebagai dasar untuk mendukung respon kesehatan masyarakat dan penargetan program skrining. Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, yaitu survei berbasis populasi yang representatif secara nasional.
Hasilnya, prevalensi TB yang diprediksi bervariasi antara 0,1% hingga 3,0%, dengan angka tertinggi ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur, khususnya Papua. Sementara itu, prevalensi DM berkisar antara 0,6% hingga 6,2% dan terkonsentrasi di Pulau Jawa serta Sumatra. Sekitar 62 kabupaten/kota memiliki probabilitas posterior lebih dari 50% bahwa prevalensi TB dan DM secara bersamaan melebihi ambang batas nasional masing-masing. Proporsi penduduk miskin berhubungan secara signifikan dengan peningkatan prevalensi TB (0,106; 95% CrI: 0,039–0,174), sedangkan kepadatan penduduk menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan prevalensi DM (0,198; 95% CrI: 0,156–0,241). Sebaliknya, proporsi penduduk miskin (−0,053; 95% CrI: −0,096 hingga −0,009) dan ketersediaan layanan rumah sakit (−0,071; 95% CrI: −0,116 hingga −0,027) menunjukkan hubungan negatif dengan prevalensi DM. Analisis spasial menunjukkan adanya variasi regional yang bermakna, dengan distribusi bersama TB dan DM yang tinggi ditemukan pada kabupaten/kota dengan tingkat urbanisasi yang cepat dan kemiskinan yang tinggi, termasuk di beberapa wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, dan Kalimantan. Temuan ini menegaskan pentingnya memperkuat integrasi layanan TB dan DM di fasilitas kesehatan, terutama di daerah dengan prevalensi tinggi untuk kedua penyakit tersebut.
Selengkapnya https://link.springer.com/article/10.1186/s40249-026-01432-x