Skip to content

Private Practitioner Characteristics and Their Potential to Contribute to Tuberculosis Management in Indonesia

Sebuah studi untuk memetakan, mengidentifikasi karakteristik, dan menilai potensi kontribusi praktisi swasta terhadap Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia, khususnya dalam diagnosis dan pelayanan TB. Penelitian ini dilakukan pada Agustus 2017 hingga April 2018 di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Enumerator yang telah dilatih melakukan survei terhadap 30 dari 73 wilayah puskesmas yang dipilih secara acak untuk mengidentifikasi lokasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) swasta serta mencatat karakteristik layanan, termasuk kualifikasi dokter dan jadwal praktik. Peneliti juga menanyakan apakah praktisi swasta menangani pasien dengan infeksi saluran pernapasan (ISR), melakukan pemeriksaan untuk diagnosis TB dalam tiga bulan terakhir, atau sedang menangani pasien TB pada saat wawancara.

Hasilnya, penelitian mengidentifikasi 936 praktisi swasta yang aktif berpraktik, dengan median 27 praktisi (IQR: 12–40) pada setiap wilayah puskesmas. Sebanyak 674 praktisi (72,0%) berhasil diwawancarai, dan 88,1% (594/674) di antaranya melaporkan menangani pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan. Sebagian besar praktisi swasta bekerja di klinik dengan beberapa tenaga medis (78,6%; 530/674), sedangkan 21,4% (144 orang) bekerja di klinik dengan satu tenaga medis. Hanya sebagian kecil praktisi yang bekerja di fasilitas kesehatan yang dilengkapi fasilitas rontgen (10,1%) atau laboratorium (27,1%), dan 23,2% bekerja sama dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Hampir tiga perempat praktisi (70,0%) bekerja di fasilitas kesehatan yang memiliki apotek. Sebanyak 33,3% (209/627) memberikan pelayanan setelah jam kerja pada hari kerja, sedangkan 28,3% (191/674) menyediakan layanan pada hari kerja dan akhir pekan. Dari praktisi yang menangani pasien dengan infeksi saluran pernapasan, 241 orang (40,6%) melaporkan pernah menemukan pasien TB, dan 101 orang (17,0%) sedang menangani pasien TB pada saat wawancara. Secara keseluruhan, para praktisi melaporkan telah mendiagnosis 937 pasien TB dalam tiga bulan terakhir dan sebanyak 354 pasien TB sedang menjalani pengobatan. Studi ini mendapati kesimpulan bahwa praktisi swasta memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pelayanan TB karena jumlahnya banyak, tersebar di seluruh wilayah kota, serta mampu memberikan pelayanan di luar jam kerja reguler. Sebagian praktisi bahkan bekerja di fasilitas kesehatan yang dilengkapi dengan fasilitas rontgen, laboratorium, dan apotek. Oleh karena itu, perlu dikembangkan strategi yang optimal untuk melibatkan praktisi swasta dalam Program Nasional Penanggulangan TB.

Selengkapnya https://link.springer.com/article/10.1186/s12913-026-15446-6

 

Mempelajari
UU No.17/2023 Tentang Kesehatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.