Bacaan Baru - 20 Agustus 2013

Dalam minggu ini, kami pilihkan berbagai artikel terkait dengan pelayanan primer. Silahkan klik pada ikon bacaan baru berikut ini:

     open-access-book Viewpoints about collaboration between primary care and public health in Canada

Noori Akhtar-Danesh, Ruta Valaitis, Linda O¿Mara, Patricia Austin, Val Munroe BMC Health Services Research 2013, 13:311 (14 August 2013)

open-access-book Shared decision making for patients with type 2 diabetes: a randomized trial in primary care

Megan E Branda, Annie LeBlanc, Nilay D Shah, Kristina Tiedje, Kari Ruud, Holly van Houten, Laurie Pencille, Marge Kurland, Barbara Yawn, Victor M Montori BMC Health Services Research 2013, 13:301 (8 August 2013)

open-access-book Care pathways across the primary-hospital care continuum: using the multi-level framework in explaining care coordination

Sabine Van Houdt, Jan Heyrman, Kris Vanhaecht, Walter Sermeus, Jan De Lepeleire BMC Health Services Research 2013, 13:296 (6 August 2013)

open-access-book Planning for interprofessional change in primary health care: exploring the use of the Interprofessional Resource Centre

Patterson C, Arthur H, Peachey G, Vohra J, Price D, Pearson D, Mariani R Advances in Medical Education and Practice 2013, 4:117-125. 14 May 2013

Diskusi Panel: Identifikasi Tantangan & Solusi Strategi Implementasi terhadap Dinamika Kebijakan Pendidikan Kedokteran

diskusi-panel

Ditjen Dikti telah menyelenggarakan diskusi panel sebagai implikasi diterbitkannya UU Pendidikan Kedokteran (UU No 20/2013, silahkan  untuk melihat undang-undang tersebut). Tema yang diangkat yaitu Identifikasi Tantangan & Solusi Strategi: Implementasi Terhadap Dinamika Kebijakan Pendidikan Kedokteran. Acara ini berlangsung pada Selasa (20/8/2013) di Lantai III Gedung Ditjen Dikti, Senayan Jakarta.

Acara terbagi dalam dua bagian, yaitu dalam format diskusi panel dan Focus Group Discussion (FGD). Sesi diskusi panel dibuka oleh Dr. Ova Emilia SpOG sebagai wakil dari AIPKI. Pertemuan tersebut dihadiri Dekan-dekan FK dan dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi. Beberapa pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan turut hadir.

Topik pembicaraannya adalah sebagai berikut:

1.  Prof Budi Sampurna
    
(Dosen FK UI, mantan tim penyusun RUU Pendidikan Kedokteran)

prof.-budiDinamika Proses Penyusunan UU Pendidikan Kedokteran

Penyusunan UU Pendidikan Kedokteran mempunyai aspek politis yang dapat dilihat dari proses yang cukup panjang. Dalam makalahnya Prof. Budi memaparkan mengenai proses penyusunan dan isi UU Pendidikan Kedokteran. Proses memakan waktu yang cukup lama, cukup kompleks, dan cukup kontroversial.

Implikasi UU Pendidikan Kedokteran ini adalah: (1) Pendidikan kedokteran diselenggarakan oleh perguruan tinggi, termasuk pendidikan spesialis dan subspesialis; (2) Harus menyediakan RS pendidikan sehingga perlu peningkatan mutu RS; (3) Kemenkes sebagai pengguna terbesar lulusan juga ikut dalam membina pendidikan kedokteran. Dalam UU Pendidikan Kedokteran, ada tambahan baru yaitu dokter layanan primer yang masuk pada minggu-minggu akhir proses penyusunan UU Pendidikan. Untuk memahami isi lengkap silahkan 


 

2. Dr. Illah Sailah
    (Direktur Belmawa, Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

dr-illahSinkronisasi UU Pendidikan Kedokteran dengan berbagai peraturan perundangan-undangan pendidikan tinggi.

Sebagai birokrat Kementerian Kesehatan, Dr. Illah memaparkan mengenai berbagai UU yang terkait dengan pendidikan kedokteran, mulai dari UU Praktek Kedokteran yang mengatur KKU, UU Kesehatan, UURS, UU BPJS yang menjadi domain Kementerian Kesehatan serta UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, UU Pendidikan Tinggi, UU Pendidikan Kedokteran (UU no 20 tahun 2013). Namun UU tersebut hanya bisa berjalan kalau keluar PPP, Perpres dan  Permendikbud yang harus disusun.

Sebagai gambaran, syarat dan ketentuan pembentukan fakultas kedokteran serta penambahan program studi disusun dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Aturan ini harus sinkron dengan UU Pendidikan Tinggi. Disinilah tugas Kementerian untuk melakukan.  Banyak hal dalam UU Pendidikan Kedokteran yang perlu disinkronkan. Silahkan untuk membaca lebih lanjut isi detil dari sinkronisasi peraturan.


 

3. Prof. Menaldi Rasmin, dr, Sp.P(K)
    Ketua Konsil Kedokteran Indonesia

Prof.-Menaldi-RasminPeran Standar kompetensi dan standar pendidikan profesi dokter (UU Praktek Kedokteran) dalam lingkup standar nasional pendidikan kedokteran (UU Pendidikan Kedokteran).

Ketua KKI, Prof. Menaldi meninjau aspek standar pendidikan profesi dokter dan standar nasional pendidikan dokter. Pendidikan Kedokteran berada di tengah antara Sistem Pendidikan Nasional dan Sistem Kesehatan Nasional. Selanjutnya disebutkan berbagai jenis dokter. Namun intinya adalah bagaimana dokter kompeten dalam menjalankan profesinya. Yang penting adalah harus menjawab kebutuhan masyarakat.

Apakah cukup Fakultas Kedokteran di Indonesia. Fakultas Kedokteran ada 73, dengan kemampuan meluluskan 8.100 dokter setiap tahun. Pemegang STR 101.910. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah 96.000. Dokter Spesialis pemegang STR adalah 24.328. Ini yang kurang. Perkembangan Fakultas Kedokteran dari tahun 2000 sampai 2010 adalah dari 52 sampai 72. Seharusnya hanya ada 60 saja. Oleh karena itu jangan sampai over-produksi.  Ketua KKI juga memaparkan mengenai KKNI dalam pendidikan kedokteran yang kontroversial.  Dalam akhir papernya Ketua KKI memaparkan mengenai tantangan dan berbagai aspek dalam UU Pendidikan Kedokteran yang perlu dicermati lebih lanjut. Silahkan untuk  mengikuti papernya.


 

4. Prof. Laksono Trisnantoro
    (Fakultas Kedokteran UGM, mantan Tenaga Pendamping Ahli DPR dalam penyusunan RUU Pendidikan
     Kedokteran)

Prof.-LaksonoMengapa perlu informasi satuan biaya pendidikan? Kajian politk-ekonomi dalam UU Pendidikan Kedokteran

Mengapa satuan biaya pendidikan penting? Adanya pasal-pasal mengenai satuan biaya dan sumber pendanaan fakultas kedokteran bukan masalah praktis saja namun mempunyai akar ideologis.

Dalam konteks adanya tuntutan untuk fakultas kedokteran agar mempunyai satuan biaya, Prof. Laksono memaparkan mengenai latar belakang politik-ekonomi dan ideologi dari kebutuhan informasi ini. UU Pendidikan Kedokteran merupakan inisiatif dari DPR yang anggotanya memang mempunyai pandangan ideologi ke arah sosialisme dalam pendidikan.  Pandangan ideologi ini menekankan mengenai perlunya peran pemerintah yang signifikan dalam pembiayaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan kedokteran.  Berbagai pengamatan saat ini memang menunjukkan minimnya peran pemerintah di bidang pendidikan kedokteran. Dampak yang dirasakan adalah mahalnya pendidikan kedokteran, mutu yang sulit dipertanggung-jawabkan, adanya perilaku tidak terpuji dalam penerimaan mahasiswa baru dan berbagai hal yang dapat menghambat perkembangan mutu pendidikan kedokteran. UU Pendidikan Kedokteran diharapkan dapat merubah situasi ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salahsatu bagian penting UU Pendidikan Kedokteran adalah penetapan prinsip  politik anggaran pendidikan kedokteran. Silahkan  untuk membaca lebih lanjut.


 

5.  Prof Ali Ghufron Mukti
    
Ketua AIPKI

Prof.-Ali-GufronKesiapan FK dalam implementasi UU Pendidikan Kedokteran

Bagaimana kesiapan Fakultas Kedokteran  dalam pelaksanaan UU Pendidikan Kedokteran? Topik ini dibahas Prof. Ghufron sebagai Ketua AIPKI. Ada beberapa hal yang penting yaitu: (1) pemenuhan kompetensi lulusan, (2) program pendidikan spesialis untuk layanan primer, dan (3) kelanjutan program profesi dokter/internship setingkat spesialis. Ada berbagai pertanyaan: Bagaimana kontrol mutu? Siapa yang melakukan? Jika tidak ada sangsi dari pemerintah, kegiatan mutu akan sulit dilakukan. Ini hal yang perlu ditekankan. 

IDI dan AIPKI diharapkan terus  bekerja bersama untuk uji kompetensi. Termasuk mengelola mereka yang  gagal dalam ujian. Selanjutnya Prof. Ghufron menyatakan bahwa dampak positif UU Pendidikan  sangat besar, termasuk pendanaan oleh pemerintah. Dalam konteks di dalam universitas, hubungan antara fakultas dengan rektor perlu diperbaiki agar pendidikan kedokteran tidak menjadi sumber keuangan untuk pendidikan lainnya.  Perlu kerjasama erat berbagai pihak. Silahkan untuk membaca paper Prof. Ali Ghufron Mukti sebagai Ketua AIPKI.


Bacaan Baru

Minggu ini kami pilihkan beberapa artikel ilmiah dari jurnal-jurnal yang Open Access yang berfokus pada:

     open-access-book Interrogating Knowledgeable antenatal care as a pathway to skilled delivery: modelling the interactions between use of services and knowledge in Zambia

Ensor, T., Quigley, P., Green, C., Razak Badru, A., Kaluba, D., Siziya, S.

open-access-book Integrating family planning services into HIV care and treatment clinics in Tanzania: evaluation of a facilitated referral model

Baumgartner, J. N., Green, M., Weaver, M. A., Mpangile, G., Kohi, T. W., Mujaya, S. N., Lasway, C.

open-access-book Capacity of middle management in health-care organizations for working with people—the case of Slovenian hospitals

Brigita Skela Savič, Andrej Robida Human Resources for Health 2013, 11:18 (10 May 2013)

open-access-book Longitudinal study of rural health workforce in five counties in China: research design and baseline description

Huiwen Xu, Weijun Zhang, Xiulan Zhang, Zhiyong Qu, Xiaohua Wang, Zhihong Sa, Yafang Li, Shuliang
Zhao, Xuan Qi, Donghua Tian Human Resources for Health 2013, 11:17 (4 May 2013)

Private Sector in Health Symposium di Sydney

It's hard to believe, but it's been nearly one month since we held the Private Sector in Health Symposium in Sydney. As such, we wanted to take the opportunity to share resources with you from the day.

Spurred on by the keynote presentations, a key question to emerge from the day is 'what exactly do we mean by the private sector'? People often limit the definition to 'for-profit organisations', but from the day we saw a large number of non-state actors operating in health systems around the world. There were also questions of separating out private provision of services from private financing for health services. These are some of the questions we hope to take to the next Symposium.

On that note, David Bishai and Gerry Bloom, the co-organisers of this year's Symposium are pleased to announce that they will be passing the torch to Freddie Ssengooba and Kara Hanson. They'll be working with the Scientific Committee to determine the most appropriate shape, format and location for that -- so watch this space.

In the meanwhile, we'll continue to keep you updated on our processes of institutionalising the Private Sector in Health group.

We're sorry that you couldn't join us in Sydney, but do take a moment to find out what you've missed.

Overview of the day

The day started off with a thoughtful welcome to the country by Millie Ingram, followed by a keynote from Bruce Bonyhady on the recent introduction of the National Disability Insurance Scheme in Australia. In his inspiring keynote, Bruce noted the strong role that the private sector had in reframing the debate around disability in Australia. Instead of focusing on disability solely as a rights issue, he worked with others to reframe it as an economic -- one focused on insurance and risk. He said it sprang from a recognition that: "there are only two types of people in this world, those with a disability, and those who have yet to get a disability". He also noted the reality of changing demographics: disabled children often rely heavily on their parents for care, but are starting to outlive their own parents. From an economic standpoint, he noted that a 1% decrease in informal care from friends and relatives led to a 4% increase in seeking formal care supported by the government, which he argued as unsustainable in the longterm. And so, after being reframed as an economic issue, it quickly became a political one. The government introduced the scheme at the beginning of July, and it is funded by a mill levy on health services that is likely one of the most popular tax rises in Australian history, with over 80% supporting the move. The keynote was a good reminder to us that the role of the private sector in health can be diverse -- it's not always about service provision or financing, but can also be about shifting the discourse and reframing policy debates.

Following the opening keynote, the participants broke out into three rounds of parallel sessions covering a diverse range of issues, such as regulation, influencing quality of care, health financing and a focus on equity. These presentations are available for download on the right side of this email.

In the afternoon, a closing plenary session was delivered by Mushtaque Chowdhury from BRAC, an NGO from Bangladesh that has quickly become one of the world's largest. Mushtaque attempted to explain the Bangladesh health 'miracle' -- that the country has strong health indicators despite limited investment in health from the government. He noted that Bangladesh has the highest life expectancy in the region, as the lowest infant and maternal mortality, but it also spends the least per capita on health. He attributed this 'miracle' to the strong innovation in the non-state sector in Bangladesh. He also focused on the role of entities like BRAC, which view poverty as a complex issue that must be tackled through a number of different initiatives. For example, BRAC runs micro-credit schemes, education programmes, health promotion schemes, and agricultural extension work. His presentation challenged those present at the symposium to rethink the nature of the private sector. BRAC is nearly impossible to categorise -- is it an NGO, a social enterprise, a business, a bank? -- and yet we understand that it has a critical role to play in the Bangladesh health market system and it's not the public sector.

Following Mushtaque's presentation, participants had a constructive discussion to share their reflections from the day as well as chart a way forward. Many were struck by the diversity of the participants, but noted that there were not many representatives of the for-profit private sector at the meeting, and they felt that their contribution would have added significantly to the day. There were also calls to have a clearer definition of what is understood by the term 'the private sector', and to focus on a few core themes in future research. In particular, there was a feeling that not enough was being done on assuring quality of private sector providers and on regulating health markets. There was also a call to separate out two distinct potential roles for the private sector: health service delivery and health financing.

The event concluded with a drinks reception sponsored by HANSHEP and CHMI, who will soon be re-launching its website cataloguing health market innovations -- a valuable resource for all those working on the private sector in health in low- and middle-income countries. 


Storify

storify

View the social story -- Tweets, pictures and videos -- of the Symposium.

 

Pictures

pic

 

Commentary and reactions

  1. Reflections on the iHEA Private Sector in Health Symposium 2013 (HANSHEP)
  2. SHOPS Participates in Private Sector Pre-Day to iHEA World Congress (SHOPS Project)
  3. Innovating to improve the health of women and children (Next Billion)
  4. Private Sector In Health Symposium Review (Future Health Systems)
  5. The Private Sector in Health Symposium (Australia Today)

Keynotes

keynotes

View Bruce Bonyhady's keynote address on the establishment of the Australian National Health Disability Insurance Scheme

 

Presentations

Download presentations from the day

 

 

 

JKKI Juni 2013: Sistem Pembiayaan dan Kebijakan Pengendalian Biaya

Kali ini, Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) telah masuk nomor penerbitan Vol. 2/ No. 2/ Juni/2013 (Anda dapat mengikuti edisi selanjutnya dari jurnal ini melalui pendaftaran Alert System di sisi kanan atas website ini). Edisi jurnal KKI Juni terkait penelitian kebijakan berobat gratis dan implikasinya. Telah disebutkan bahwa dampak positifnya berupa peningkatan utilisasi pelayanan, namun diperkirakan menimbulkan moral hazard dan penurunan motivasi di sisi para penyedia layanan. Masalah utama yang ditemui yaitu keberlanjutan dari sistem berobat gratis karena kebutuhan anggaran dan lemahnya mekanisme pengendalian biaya. Apakah berobat gratis hanya kebijakan politis saja? Jika seperti itu adanya, maka sistem ini hanya bersifat politis sebagai janji pemilu dan merugikan sistem kesehatan. Ataukah sistem berobat ini kebijakan yang aplikatif ? Simak lebih lanjut melalui link berikut 

Kemudian, artikel lain yang dapat Anda simak diantaranya:

Pelaksanaan Kebijakan Obat Generik di Apotek Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau

Evaluasi Implementasi Kebijakan Persalinan Bagi Masyarakat Miskin Oleh Bidan Praktek Swasta di Kota Tanjungpinang

Evaluasi Kebijakan Berobat Gratis di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi

Analisis untuk Penerapan Kebijakan: Analisis Stakeholder dalam Kebijakan Program Kesehatan Ibu dan Anak di Kabupaten Kepahiang

Evaluasi Kebijakan Pembangunan Puskesmas Pembantu di Propinsi Kalimantan Tengah

Dampak Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis terhadap Kepuasan Pasien dalam Menerima Pelayanan Kesehatan Puskesmas di Kota Ambon

The Global Issue of Kidney Disease

image: kidney Di Lancet edisi ini banyak artikel terkait dengan penyakit ginjal dan sistem kesehatan yang mengelolanya. Salah satunya, Lancet melihat adanya perkembangan perspektif global pada penyakit ginjal. Kai-uwe Eckardt dan kolega, dalam laporannya menyatakan penyakit ginjal kronis menjangkiti 10 persen dari populasi dunia, seperti halnya diabetes. Secara jelas, Norman Lameire dan kolega memberikan poin bukti dan prevalensi ginjal kronis secara global, yang sampai saat ini belum diketahui, ia menggunakan definisi yang berbeda.

Silahkan simak paper ini lebih lanjut melalui link berikut 

Dibawah ini adalah Paper lain yang terkait :

  Doctors and pharma in China

  Equity and economics of kidney disease in sub-Saharan Africa

  Pre-eclampsia and the risk of kidney disease

 

Merayakan Ekonomi Kesehatan (Celebrating Health Economics)

Judul diatas tentunya menjadi pertanyaan. Apa yang dirayakan? Dalam hal ini Asosiasi Ekonomi Kesehatan Dunia merayakan sebuah paper fenomenal yang ditulis oleh Kenneth J Arrow pada tahun 1963. Paper ini member inspirasi pada pengembangan ilmu ekonomi kesehatan yang menjadi cabang dari ilmu ekonomi dengan aplikasi di sector kesehatan. Lima puluh tahun setelah publikasi paper tersebut, Ekonomi Kesehatan telah berkembang menjadi sebuah disiplin baru yang Kongres dunianya dihadiri ribuan peserta.

Ekonomi Kesehatan dipraktekkan di berbagai negara, walaupun masih belum maksimal penggunaannya di negara-negara sedang berkembang. Saat ini Board of Directors IHEA dipimpin oleh Anne Millis dari London School of Hygiene and Tropical Medicine. International Health Economics Association (iHEA) juga berkembang pesat dan webnya dapat dilihat di www.healtheconomics.org 

Struktur Kongres Dunia di Sydney terdiri atas Pre Congress, Congress, dan Post Congress. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan di Sydney Convention Center pada tanggal 7 - 10 Juli 2013 di daerah Darling Harbour yang sangat indah. 

panahkk Pembicara dari Indonesia

 

panahkk Mengapa ada laporan ini ?
 
panahkk Anda dapat mengikuti beberapa sesi
      yang
 dilaporkan dengan cara klik icon
      reportase di
 Struktur Kongres

 

panahkk Catatan akhir mengikuti Kongres di
      Sydney

 

panahkk Klasifikasi Keyword Abstrak