Teknologi telematika sebagai Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia RS dan memperkuat pelayanan kesehatan di daerah sulit dan terpencil

l semi

TOR Semiloka sehari

Teknologi Telematika sebagai Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia RS
dan Memperkuat pelayanan kesehatan di daerah sulit dan terpencil

Ruang Theater, Gedung Perpustakaan Fakultas Kedokteran UGM
Yogyakarta, 17 Juli 2013

l semi

  Pengantar

Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangannya, daerah sulit (terpencil, tertinggal dan perbatasan) menjadi kurang diminati oleh berbagai kalangan profesional sebagai tempat tinggal dan bekerja, tidak terkecuali profesional bidang kesehatan. Salah satu faktor kurang diminati termasuk kesulitan mendapatkan pendidikan dan pelatihan tambahan dan dukungan ilmu pengetahuan.

Untuk itu, Indonesia membutuhkan inovasi dalam mendekatkan tenaga kesehatan di rumah sakit atau puskesmas daerah sulit ke pengembangan ilmu tepat guna. Teknologi tele-informatika sangat tepat untuk dioptimalkan dalam rangka mencapai tujuan ini, sebab penggunaan teknologi ini sudah sangat meluas di kalangan masyarakat. Untuk level RS dan Dinas Kesehatan, Pusdatin Kemenkes telah memasang teknologi komunikasi satelit di berbagai daerah terpencil. Jaringan ini di Papua dipergunakan untuk pelatihan oleh PKMK bekerja sama dengan KINERJA.

Dengan teknologi mutakhir telematika ini dapat dilakukan usaha untuk mendekatkan tenaga kesehatan di rumahsakit di kabupaten dengan sumber ilmu pengetahuan dan ketrampilan medik. Sistem ini dapat dipergunakan antara lain untuk: Tele-training dan e-library; Tele-medicine; dan Tele-conference

Tele-training sering dipergunakan oleh pelatih di daerah yang lebih maju untuk memberikan training di tempat yang sulit. Dengan tele-training pelatihan dapat dilakukan secara lebih rendah biaya, tidak tergantung pada jarak, dan lebih fleksibel waktunya. Untuk memudahkan kepustakaan juga ada e-library.

Di negara maju, misal di Swedia, teknologi telemedicine sudah dikenal luas dan dimanfaatkan secara luas. Di Indonesia, teknologi ini dalam bentuk sederhana sudah mulai dipergunakan dalam chain hospital, program sister hospital, dan berbagai kegiatan kerjasama antara daerah maju dan belum berkembang.

 

  Tujuan

Seminar ini akan membahas mengenai Potensi dan Pengelolaan sistem IT untuk mengembangkan RS di daerah sulit dan melebarkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Secara khusus seminar ini akan membahas:

  1. Membahas pengalaman PKMK menggunakan teknologi telekomunikasi di Papua dan NTT ;
  2. Memahami teknologi VSAT dan sistem jaringan Pusdatin dan Telkom untuk pengembangan.
  3. Membahas sistem tele-training dan telemedicine yang membutuhkan struktur, dana, tenaga ahli, dan kegiatan yang terkoordinasi;
  4. Mengembangkan telehealth dan telemedicine lebih lanjut untuk RS di daerah sulit

 

  Peserta

Partisipan yang diharapkan:

  1. Manajer RS dan Kepala Dinas Kesehatan
  2. Pimpinan Pusdatin dan Kemenkes
  3. Perencana dan pembuat kebijakan di pusat maupun daerah
  4. Dosen-dosen yang tertarik pengembangan teknologi jarak-jauh
  5. Perwakilan NGO asing yang memiliki program peningkatan kapasitas RS di Indonesia
  6. Konsultan manajemen rumah sakit
  7. Peneliti di perguruan tinggi
  8. Mahasiswa S2 Manajemen/Administrasi RS
  9. Pemerhati masalah kesehatan

 

 Agenda

Waktu

Acara

Pembicara/Fasilitator

08.00 – 08.30

Registrasi ulang

 

08.30 – 09.00

Pembukaan:

“Era Tele-Health dimulai”

    Materi Pembukaan Prof. Laksino Trisnantoro

 

 

 

Prof. Laksono Trisnantoro

 

 

 

 

 

Wakil Dekan III FK UGM

 

 

 

 

 

 

Pusdatin/Sekjen Kemenkes

09.00 – 10.30

Panel 1: Pengalaman dan Kebutuhan

 

 

Pengalaman FK UGM di NTT:
Penyusunan Manual Rujukan dengan menggunakan teleconference.

Pengalaman FK UGM melakukan kegiatan tele-training di 4 Kabupaten/Kota di Papua menggunakan VSAT Pusdatin dan Speedy.

Pengalaman RS Harapan Kita dengan RSD Kefa di NTT


 

 

 

Dr. Siti Zaenab MKes

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Ig. Praptorahardjo dan dan Eunice Pricilla S (melalui teleconference)

 

 

 

 

 

Direktur RS Harapan Kita dan Dr. Sutikno SpOG

Moderator:
Laksono Trisnantoro

 

Pembahas:

Kebutuhan RS di daerah sulit untuk menggunakan telehealth dan telemedicine (dari aspek klinis dan non klinis)

Kebutuhan Puskesmas dan Dinas Kesehatan

 

 

 

Direktur RSUD Bajawa

 

Kadinkes Kabupaten Jayapura (melalui teleconference)

 

Diskusi

 

10.30 – 10.45

Coffee Break

 

10.45 – 12.15

Panel 2: Hardware dan Software sebagai pendorong

 

 

Aspek Teknologi:

    1. Jaringan Pusdatin Kementerian Kesehatan
       

    1. Kesiapan daerah untuk VSAT
    2. Perlengkapan di RS dan pusat pembelajaran yang akan menggunakan tele-health dan telemedicine 

 

 

Kepala Pusdatin

 

 

 

 

Nasrulhadi (melalui teleconference dari Papua)

 

 

Aryanto Nugroho

 

 

 

 

Diskusi

 

12.15 – 13.00

Makan Siang

 

13.00 – 15.00

 

 

 

 

 

 

 

15.00 – 15.15

Diskusi Ide dan Kemungkinan Teknis Pelaksanaan:

Arah pengembangan ke depan dan pengembangan web sebagai platform pengembangan.

Program: Pengembangan Puskesmas dan RS untuk tele-training dan telemedicine.

  1. Kegiatan Pengembangan Manajemen
  2. Kegiatan Pengembangan penanganan penyakit (klinis)
  3. Kegiatan telemedicine

Penutupan

Pengembangan Sistem untuk tele-training dan tele-medicine.

  1. Proses kegiatan
  2. Fasilitas dan Teknologi yang dibutuhkan
  3. Anggaran dan sumber pembiayaan
  4. Production House
  5. Insentif untuk terlibat dalam kegiatan ini
  6. Tenaga yang diperlukan

 

 

 

 

 

 

Global Health Vision trough Health Systems and Policy

 

Dr.-Amrizal-M-NurGlobal Health Vision trough Health Systems and Policy
Dr. Amrizal M Nur
Ditulis oleh Faozi Kurniawan, 25 Juni 2013


Challenges in Global Health

Dr. Amrizal dari UNU Malaysia menyampaikan paparan mengenai apa yang menjadi tantangan bagi kesehatan global menjelang berakhirnya isu kesehatan dunia dalam Millenium Development Goals (MDGs). Meskipun banyak yang belum tercapai dalam MDGs, namun perlu ditentukan agenda selanjutnya untuk kesehatan global atau kesehatan dunia. Langkah ini diambil untuk melihat kebersamaan dunia dalam menangani kesehatan di dunia. Situasi terkini dari situasi Global Health yaitu keberadaan pembiayaan kesehatan, mencapai universal coverage untuk kesehatan, efisensi penggunaan sumber daya, dan efektivitas percampuran penyakit kronis. Hal-hal inilah yang mempengaruhi global health.

Situasi tantangan abad 21

Tantangan situasi abad 21 mendatang akan lebih berat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait tantangan abad 21 yaitu berbagai macam kualitas pelayanan kesehatan yang dihasilkan, peningkatan biaya pelayanan kesehatan, kurangnya informasi bagi pembuatan kebijakan yang efektif, cakupan yang rendah pada pelayanan kesehatan, dan keinginan informasi konsumen. Tantangan tersebut menjadi hal yang diperhatikan bagi negara-negara berkembang agar lebih waspada dan mempersiapkan diri.

Untuk menghadapi tantangan kesehatan global, apa saja yang harus diperhatikan? Salah satunya bagaimana pemberlakuan kebijakan kesehatan. Kebijakan kesehatan merupakan arah yang menentukan suatu lembaga, institusi, organisasi, pelayanan dan pendanaan pada sistem pelayanan kesehatan (Gill Walt, 1994).

Tujuan sistem kesehatan sendiri yaitu:

  1. Ketersediaan akses
  2. Efisensi
  3. Kualitas
  4. Keadilan dan pemerataan.

Dr. Amrizal menyatakan bahwa empat hal tersebut yang mampu menjawab tantangan pada sistem kesehatan yang bisa kita lakukan.

Pertama; Permasalahan Effisensi

Ketidakefisienan secara jelas dapat dilihat pada banyak sistem kesehatan sekarang. Hal-hal yang menjadi tantangan ke depan yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan yang tidak efektif dan ketidakjelasan pelayanan, kelebihan pada peresepan obat, kelebihan penggunaan atas prosedur medis dan teknologi, penggunaan yang tidak efisien pada mekanisme pembayaran terhadap provider.

Kedua: Permasalahan Kualitas Pelayanan.

Tantangan ini banyak bermunculan di negara-negara berkembang. Berbagai macam kualitas pelayanan yang dihasilkan oleh banyak negara. Hal ini menimbulkan akibat pada kepuasan dan keselamatan pasien. Karena memang hal ini berhubungan dengan banyak hal yang mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan seperti; kurangnya kapasitas sumber daya, staf kesehatan yang sedikit sehingga bekerjanya di luar batas waktu, pengawasan di luar jangkauan (akreditasi).

Ketiga: Permasalahan pada akses pelayanan kesehatan.

Permasalahan ini muncul di banyak negara. Hal ini banyak disebabkan oleh wilayah geografis yang biasanya dibedakan antara perkotaan, pedesaan dan wilayah terpencil atau sulit dijangkau. Akibat yang kedua yaitu pada kondisi sosial. Ini disebabkan karena kemiskinan yang muncul karena ketidakmampuan dalam membayar pelayanan kesehatan dan tidak adanya perlindungan keuangan akibat pelayanan kesehatan.

Keempat: Permasalahan pada keadilandan pemerataan pelayanan kesehatan.

Permasalahan ini muncul karena ketidakadilan pada sistem. Ketidakadilan disini mungkin disebabkan karena kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan yang sama. Ketidakadilan ini banyak terjadi di negara-negara berkembang. Gambaran yang nyata mengenai ketidakdilan ini seperti distribusi yang tidak merata pada sumber daya kesehatan, fasilitas kesehatan terpusat di perkotaan, bagi tenaga kesehatan di pedesaan tidak dapat insentif yang mencukupi termasuk insentif dokter dan perawat dan di beberapa negara kesehatan dijadikan sebagai alat politik.

Berapa banyak uang dalam Sistem Kesehatan?

Pengeluaran kesehatan tahun 2010 pada Gross Domestic Product (GDP) dala m prosentase, USA masih tertinggi dengan nilai 17,9 persen, Malaysia 4,4 persen, Thailand 3,9 persen dan Indonesia kurang dari angka di atas. Perhitungan Total Health Expenditure (THE) terhadap GDP digambarkan Indonesia 2,2 persen, Malaysia 4,4 persen, dan Thailand 3,7 persen dan untuk ukuran Global mencapai 9,7 persen.

Universal Coverage

Hal terakhir yang menarik dipresentasikan oleh DR. Amrizal M Nurya yaitu mengenai Universal coverage (UC). UC merupakan akses perlindungan terhadap masyarakat untuk pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang sesuai dengan biaya yang dapat diterima. Tantangan ke depan UC adalah bagaimana menyatukan hal-hal berikut menjadi satu tujuan dalan UC. Hal-hal tersebut antara lain: teknologi, fasilitas kesehatan, pembiayaan, sumber daya manusia, kebijakan pemerintah, dan dukungan politik. Keenam hal tersebut sangat penting diperhatikan untuk mengamankan UC. Terutama dalam pembiayaan kesehatan. Tantangan yang dihadapi dalam pembiayaan kesehatan seperti rendahnya cakupan, tidak efisien, mekanisme pembayaran pada pelayanan kesehatan yang buruk. Tantangan dalam pembiayaan kesehatan tersebut harus diminimalisir untuk mengurangi beban adminstrasi yang tinggi, mengurangi kecurangan yang ada dalam pelayanan kesehatan, membuat lebih efisien mekanisme pembayaran terhadap rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk membuat Universal Coverage atau Social Security dapat berkesinambungan.

Health Promotion Policies and Guidelines in ASEAN Economic Community

 

WaranyaTeokulReportase Shared Goals 1-Day 2
Health Promotion Policies and Guidelines in ASEAN Economic Community

WaranyaTeokul-Thai Health Promotion Foundation
Ditulis oleh: Dwijo Susilo, 25 Juni 2013


Waranya memulai presentasi dengan memperkenalkan Thai Health Promotion Foundation (Thai Health) sebagai institusi pemerintahan yang independen yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri sebagai ketua, Menteri Kesehatan sebagai wakil pertama, dan Ahli Promosi Kesehatan sebagai wakil kedua. Thai health beranggotakan sembilan Kementrian terkait dan para ahli independen. Pendanaan Thai Health bersumber dari 2 persen pajak tembakau dan pajak alkohol (USD 120 milyar di tahun 2012).

Waranya selanjutnya menjelaskan model tiga kekuatan yang dipergunakan untuk meningkatkan promosi kesehatan di Thailand, yaitu pengetahuan, kebijakan, dan sosial. Ketiga kekuatan ini saling bersinergi meningkatkan kapasitas individu dan organisasi, inovasi sosial, pemberdayaan masyarakat, lingkungan yang mendukung, dan komunikasi untuk mobilisasi.

Program Thai health dikembangkan dengan menggandeng partner strategis melalui mekanisme bantuan pendanaan. Partner strategis diajak membuat proposal yang didasarkan pada isu utama promosi kesehatan. Propsal akan di-review oleh panel khusus untuk memastikan bahwa program yang akan dikembangkan sesuai dengan arah kebijakan, strategi dan situasi terkini. Partner strategis yang lolos seleksi akan menandatangani kontrak untuk implementasi program yang diajukan.

Waranya kemudian menekankan bahwa dalam mengimplementasikan program-programnya, Thai health menggunakan pendekatan-pendekatan kerja yang meliputi populasi, area dan setting. Populasi dikelompokkan dalam usia pekerja, anak dan remaja, perempuan, orang tua, dan mereka yang tidak beruntung (miskin). Area difokuskan untuk memperkuat keluarga dan komunitas. Setting ditujukan untuk menciptakan dan meningkatkan kebahagiaan organisasi baik pemerintah, swasta maupun sekolah. Pendekatan program kerja didasarkan pada dua hal, yaitu risiko kesehatan (alkohol, tembakau dan kecelakaan) dan health behaviour (makanan).

Thai health memiliki 14 program kerja yang menjadi prioritas, yaitu pengendalian tembakau, pengendalian alkohol, pencegahan kecelakaan, pencegahan risiko kesehatan yang ringan, grup populasi khusus, komunitas sehat, promosi kesehatan untuk anak dan remaja, tempat kerja yang bahagia, aktivitas fisik dan sponsor olah raga, pengetahuan kesehatan dan pemasaran sosial, bantuan pendanaan, orientasi pelayanan kesehatan untuk promosi kesehatan, sistem pendukung untuk promosi kesehatan, dan keamanan pangan.

Waranya menutup presentasinya dengan mengemukakan ancaman potensial terhadap komunitas ekonomi ASEAN, yaitu keamanan pangan, produk tembakau (harga rokok murah, tambahan aroma pada rokok dengan target perokok pemula), perdagangan alkohol, dan pekerja migran illegal.

MDGs, Development, and Global Health-Beyond 2015

 

Prof.-Anthony-B.-Zwi“MDGs, Development, and Global Health-Beyond 2015”
Prof. Anthony B. Zwi
Faculty of Art and Social Sciences
The University of New South Wales
25 Juni 2013


 

Trend dan perkembangan terkini seputar MDGs

Pada awal presentasinya, Prof. Anthony memaparkan beberapa isu terkait MDGs yang sedang hangat dibicarakan baru-baru ini.

Beberapa isu terkait MDGs tersebut antara lain:

  1. Biaya layanan kesehatan
  2. Populasi lanjut usia yang bertambah besar
  3. Pola penyakit yang berkembang saat ini
  4. Peningkatan prevalensi penyakit kronis dan gangguan mental
  5. Mulai meningkatnya pemahaman seputar determinan sosial masalah kesehatan terutama inequality (namun baru disertai aksi yang terbatas).
  6. Peran sektor swasta dalam sistem kesehatan
  7. Kemitraan sektor swasta dengan pemerintah dan masyarakat
  8. Penajaman peran pemerintah secara spesifik dalam sistem kesehatan
  9. Upaya untuk meningkatkan peran filantropis dari sektor swasta atau pribadi
  10. Perspektif untuk memandang masalah terkait kesehatan satu per satu
  11. Berkurangnya peran WHO yang diiringi dengan meningkatnya peran Bank Dunia dan lembaga lainnya.

Demi mempermudah pembahasan, Prof. Anthony memaparkan kembali uraian pembentukan MDGs. MDGs merupakan kesepakatan internasional yang dihasilkan dari pertemuan Millenium Summit 2000. MDGs ditandatangani oleh perwakilan yang berasal lebih dari 200 negara di seluruh dunia. Saat ini MDGs telah dievaluasi kembali oleh berbagai pihak dengan tujuan penyusunan tujuan pembangunan dunia ke depan.

Hal yang dapat dipelajari dari MDGs yang masing berlangsung

Tiga poin penting yang dapat dipelajari dari MDGs yang masih berlangsung antara lain: terdapat kemungkinan untuk menyepakati tujuan pembangunan global ke depan, permasalahan kesehatan sangat diperhatikan dan dinilai penting, serta bantuan yang diberikan dapat difokuskan pada koordinasi dan penentuan prioritas.

Secara spesifik, beberapa isu yang menjadi fokus perhatian diantaranya :

  1. Terbatasnya perhatian pada proses dan konteks yang ada
  2. Beberapa poin MDGs kurang sensitif terhadap kebutuhan dan prioritas yang dimiliki masing-masing negara
  3. Masalah distribusi sering kali menjadi faktor yang menyertai
  4. Kurangnya koordinasi antar sektor sebagai hasil dari belum adanya pengakuan untuk “berbagi agenda” di antara sektor-sektor terkait
  5. Masih sedikitnya perhatian terhadap hak asasi manusia
  6. Belum adanya fokus yang nyata pada aspek keberlangsungan
  7. Masalah terkait institusi dan struktur institusi tersebut

Fitur apa yang diharapkan tercakup dalam MDGs yang akan datang?

Aspek kontekstual dan keberlangsungan (sustainability) menjadi pokok bahasan yang penting dalam penyusunan tujuan pembangunan kesehatan ke depan. Pembagian peran antara pemerintah, masyarakat dan sektor swasta diharapkan dapat menjadi salah satu poin yang dapat dibahas lebih lanjut sebagai penguatan sistem kesehatan. Koordinasi dan penentuan prioritas masalah kesehatan antar negara dapat meningkatkan sensitivitas tujuan pembangunan terhadap kebutuhan yang dimiliki masing-masing negara.

Diskusi

Salah satu isu penting yang mendapat perhatian besat dari peserta mengenai efek dari perdagangan bebas terhadap MDGs. Prof. Anthony menjelaskan bahwa perdagangan bebas kemungkinan dapat menciptakan inequity. Beberapa negara dapat menanggulangi hal ini dan memanfaatkan kesempatan perdagangan bebas untuk meningkatkan pendapatan perkapitanya, namun beberapa negara lain justru semakin mengalami social injustice dan inequity. Berdasarkan analisis Prof. Anthony, market atau pasar lebih baik tidak diletakkan dalam posisi dominan. Kerja sama dengan masyarakat, pemerintah dan sektor swasta lebih perlu ditekankan untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama inilah yang nantinya akan berperan dalam mengimbangi kondisi pasar yang cenderung sulit diprediksi.

Universal Health Coverage: Sharing within the ASEAN Economic Community

 

Dr.-PeerapolReportase Shared Vision II
Universal Health Coverage: Sharing within the ASEAN Economic Community
Dr. Peerapol Suthiwisesak, Sekretaris Jenderal National Health Security Office, Thailand.
Ditulis oleh: dwijo, 24 Juni 2013


Dr. Peerapol memulai presentasinya dengan mengangkat isu jumlah penduduk ASEAN yang mencapai sekitar 598,9 juta atau 8,6% dari populasi dunia dengan status ekonomi antar Negara bervariasi mulai dari USD 760 per kapita hingga USD 40,000 per kapita pada tahun 2012. Hanya empat Negara di ASEAN yang sudah mencapai UHC, yaitu Brunei, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Beberapa Negara sedang dalam proses menuju UHC, yaitu Viet Nam di 2014, Pilipina di tahun 2016 dan Indonesia di tahun 2019.

Dr. Peerapol selanjutnya menjelaskan perjalanan UHC di Thailand yang dimulai pada tahun 1970 ketika GNI per kapita USD 390 dengan menggunakan skema pendapatan rendah (low income scheme). Pada tahun 1983 ketika GNI naik menjadi USD 760 per kapita, Thailand memperkenalkan skema asuransi kesehatan berbasis komunitas (community based health insurance scheme). Thailand mencapai UHC ketika GNI per kapita masih dibawah USD 2000. Pada tahun 2012, UHC Thailand mencakup 99% populasi dengan menggunakan 3 skema.

Dr. Peerapol juga menyampaikan bahwa upaya-upaya yang dilakukan negara ASEAN dalam mencapai UHC sangat beragam, meliputi reformasi keuangan terkait paket manfaat, memperkuat layanan kesehatan dasar, promosi desentralisasi dan partisipasi masyarakat. Keberagaman ini merupakan asset berharga dimana setiap Negara bisa belajar dari pengalaman Negara lainnya.

Dr. Peerapol menekankan beberapa hal mengenai UHC, yaitu

  1. UHC dapat dicapai pada tingkat penghasilan masyarakat yang rendah sekalipun karena inti dari UHC adalah akses ke pelayanan kesehatan, bukan hanya sekedar masalah perlindungan keuangan.
  2. UHC terbukti efektif mengurangi kemiskinan.
  3. Ketersediaan fiskal dan pembiayaan yang inovatif dimungkinkan apabila para pengambil kebijakan memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan pembelian strategis yang didasarkan pada program-program yang cost-effective melalui Health Technology assessment.
  4. Penelitian kesehatan yang berbasis bukti harus dikembangkan guna menjamin pendanaan yang berkelanjutan serta untuk mengatasi tantangan yang muncul.

Dalam kesimpulannya, Dr. Peerapol menyatakan bahwa UHC tidak hanya untuk meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan yang lebih baik dan merata namun juga dapat mengurangi kemiskinan yang merupakan salah satu target MDGs. (Dwijo)

Universal Health Coverage and Medical Industry

 

Prof-LaksonoUniversal Health Coverage and Medical Industry

in 3 South East Asia Countries
Prof. Laksono Trisnantoro, M.SC, Ph.D
Ditulis oleh emmy, 24 Juni 2013


Prof Laksono dari Indonesia memaparkan tentang situasi universal coverage dan industri kesehatan di tiga negara yaitu Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Pemaparan tersebut seputar perubahan pada pembiayaan kesehatan dan industri kesehatan. Apa saja perubahan yang terjadi ketika itu? Indonesia dan Thailand mengalami perubahan dalam hal pembiayaan kesehatan, dimana pemerintah semakin membiayai pelayanan kesehatan dengan kebijakan universal coverage. Hal yang sebaliknya terjadi di Malaysia, secara persentase dibanding pembiayaan swasta, pemerintah Malaysia berkurang. Mengapa? Ada perubahan dalam hal kepuasaan pelayanan dimana sebagian kelompok masyarakat menuntut pelayanan yang lebih baik dari pelayanan sektor publik. Mereka rela membayar pelayanan swasta.

Isu Kebijakan. Isu Kebijakan yang dibahas dalam topik ini yaitu Bagaimana kebijakan pemerintah untuk mencapai Universal Health Care dan mengelola pelayanan kesehatan sebagai sebuah industri? Analisis dari isu tersebut seperti ini: Universal Coverage memberi tekanan pada Anggaran Pemerintah. Pemerintah Malaysia yang menggunakan model tax-based ini merasakan tekanan besar. Hal serupa terjadi juga di negara-negara Eropa Barat. Dalam hal ini, pelayanan kesehatan di sektor swasta merupakan salah satu katup pengaman untuk mengurangi beban finansial kesehatan publik.

Sementara itu, Thailand sebagai negara yang sangat terkemuka dalam universal coverage memberikan tempat untuk pelayanan kesehatan swasta dan pembayaran oleh masyarakat. Hal ini berlaku khususnya untuk kalangan menengah ke atas. Oleh karena itu, memang tetap diperlukan peranan swasta dimana ada kebijakan industri kesehatan yang sebaiknya mendukung pelayanan kesehatan swasta, tetapi harus mempertimbangkan aspek pemerataan. Silahkan  untuk mendapatkan powerpointnya.

 

ASEAN Helath In the Post 2015 Developement Agenda

 

Phusit-PrakongsaiASEAN Helath In the Post 2015 Developement Agenda
Phusit Prakongsai, MD. Ph D
Ditulis oleh: Evita  | 24 Juni 2013


Sektor kesehatan merupakan leading dalam suskesnya pembangunan di era MDG dan memiliki kesempatan untuk mencapai kesehatan dan pengembangan sosial yang lebih baik.

Untuk mempercepat perkembangan pencapaian MDG, dan keberlangsungan pembangunan diperlukan Sustainable Development Goals (SDG) yang selaras dengan kesepakatan global sebelumnya. Pada sustainable agenda, mengajak seluruh negara ASEAN untuk koperatif dalam menentukan target. Secara umum sudah ada peningkatan beberapa indikator pencapaian MDG terutama MDG 4, 5 dan 6dibeberapa negara ASEAN dari tahun 1990-2010.

Well being and Happiness

Wujud komitmen anggota dari WHO-SEARO yaitu bertujuan menjadikan well being and happiness sebagai goals agenda pembangunan pasca MDG 2015. Hal ini diungkapkan olh Dr Phusit bahwa kesetaraan dan hak asasi manusia merupakan inti dari pembangunan dan kesejahteraan kontributor utama pada kebahagiaan individu dan sosialnya. Empat pilar dari well beiing dan happiness adalah :

  1. Pembangunan yang berkelanjutan dan setara dalam sosial dan ekonomi
  2. Pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab
  3. Keberlangsungan lingkungan
  4. Partisipasi masyarakat dan budayanya

Universal Coverage

Dr. Phusit mengungkapkan bahwa kunci dari well being dan happiness adalah Universal Health Coverage yang mampu meningkatkan akses yang merata dan adil (equitable) pada pelayanan kesehatan essensial dengan perlindungan finansial dan sosial. Sebagai tambahan, untuk mencapai agenda MDG yang tidak tercapai dan mencegah perkembangan penyakit tidak menular diperlukan pelayanan kesehatan yang mempertimbangkan aspek preventif dan promotif serta kuratif dan paliatif secara seimbang dan berkelanjutan.

Sistem kesehatan berbasis pelayanan kesehatan primer harus diperkuat untuk meningkatkan efisiensi dalam pelayanan kesehatan. Distribusi sumber dan pembiayaan yang merata dapat dilakukan melalui pemerintahan yang baik atau good governance. Indikator dan target dari masing-masing dimensi human well being harus teridentifikasi dan fokus pada analisis kesetaraan melalui data yang lengkap meliputi pendapatan, usia, gender, tempat tinggal, dan vulnerable group.

Pada akhir presentasi Dr. Phusit menekankan bahwa kepemilikan, kolaborasi antar lintas sektor, keterlibatan stakeholder dan partnership yang lebih luas diperlukan dalam pencapaian agenda pembangunan kesehatan pasca MDG 2015.

Principle of the triangle

segitiga

Financial Risk Protection For Migrants- A New Challenge In The ASEAN Community

Dr-Viroj-TangcharoensathienFinancial Risk Protection For Migrants-
A New Challenge In The ASEAN Community

(Dr. Viroj Tangcharoensathien)
Ditulis oleh Ni Komang, 24 Juni 2013


Pembiayaan atau perlindungan pembiayaan bagi migran di Thailand didasari pertimbangan pemenuhan hak asasi manusia. Pemerintah telah mempertimbangkan berbagai upaya untuk melindungi para pekerja migran maupun non-migran. Dr. Viroj menyatakan bahwa mekanisme perlindungan kesehatan (Health Protection Mechanism) bagi migran melalui enam mekanisme, yaitu:

  1. Health Insurance for peolpe with citizenship problems, atau asuransi kesehatan bagi orang-orang dengan masalah kependudukan. Mekanisme ini diluncurkan pada tahun 2010, melalui pengenaan pajak oleh pemerintah sebesar 2000 baht. Sebagian anggaran dialokasikan kepada penyedia jaringan, sisanya oleh Ministry of Public Health (MoPH). Asuransi ini mencakup 0.45 sampai 0.5 juta migran yang mengalami masalah kependudukan. Hambatannya berupa rendahnya angka penggunaan asuransi karena kesadaran yang rendah, masalah geografis, sosial budaya, serta hambatan bahasa.
  2. Asuransi kesehatan sosial (Sosial Health Insurance), bersifat sukarela, namun cakupannya rendah. MoU dengan tiga negara dan total dana sebesar 0.5 juta (2012).
  3. Compulsory Migrant Health Insurance (CHMI), yang diluncurkan pertama kali tahun 1994, 2001, 2004, terakhir 2013, dimana Compulsory Migrant Health Insurance (CHMI) untuk anak-anak berusia kurang dari 15 tahun sebesar 365 baht.
  4. Out of pocket, sumber utama dan dominan dari pembiayaan kesehatan untuk unregistered migrant, data diregister oleh Compulsory Migrant Health Insurance (CHMI), pembiayaan oleh RS umum.
  5. Exemption by public hospital, pelaksanaan di RS pemerintah yang menangani migran.
  6. International donors, hasilnya sangat tidak signifikan.

Peta Reformasi Pembiayaan
Pemerintah telah membuat peta reformasi pembiayaan kesehatan. Peta ini dibuat untuk para pekerja migran. yang dibuat pemerintah melalui jalan yang sangat panjang bagi pekerja migran adalah dengan membuat platform berbasis bukti yaitu sistem registrasi, data sharing, utilisasi pelayanan, sistem pelaporan pembiayaan, transparansi, kerangka kerja akuntabilitas, complaint handling systems itegrated with 1330 National Health Security Office(NHSO)cost hotline. Langkah selanjutnya yang dilakukan pemerintah Thailand adalah meningkatkan jumlah migran yang diregistrasi, menurunkan jumlah migran yang tidak diregistrasi, membuat skema kontribusi pembiayaan baik bagi pekerja maupun perekrut tenaga kerja.

Skema Pembiayaan
Ketergantungan migran trerhadap pemerintah mendorong adanya perbaikan skema pembebasan pajak pembiayaan yaitu dengan merinci skema di dalamnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, diharapkan dapat membuat skema Compulsory Migrant Health Insurance (CHMI) yang diatur oleh Ministry of Public Health (MoPH), seberapa banyak yang diatur oleh National Health Security Office (NHSO), serta berapa banyak Sistem Health Insurance(SHI) yang diatur oleh Social Security Office (SSO).

Bagaimana Respon Penyedia Pelayan Kesehatan (PPK)
Respon dari penyedia layanan kesehatan yang diharapkan yaitu menggunakan bahasa yang bersahabat dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi pekerja migran. Penggunaan bahasa ini penting untuk lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan migran. PPK diharapkan dapat memahami bagaiman pelayanan kesehatan terhadap migran, pengetahuan akan skema pembiayaan yang diberikan pemerintah dan bagaiamana mengatur manajemen pelayanan.Presentasi di akhiri dengan upaya pemerintah secara maksimal untuk mengatasi migran di Thailand dan bagaimana pembiayaan khususnya pada pelayanan kesehatan. Unsur manajemen pelayanan juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk menjangkau pemerataan kesehatan di Thailand.

Guest Lecture: Global Health and Global Justice Prof. Norman Daniels, Harvard School of Public Health

 

Guest Lecture:

Global Health and Global Justice
Prof. Norman Daniels, Harvard School of Public Health
Muh. Faozi – Bangkok, 24 Juni 2013


Prof.-Norman-Daniels Bangkok-PKMK. Hari Pertama dari pertemuan ketujuh Forum Postgraduate di Naresuan University Thailand disampaikan oleh Prof. Norman Daniels dari Harvard School of Public Health. Prof. Daniels menyampaikan materi terkait kesehatan global yang terkait dengan keadilan global. Permasalahan kesehatan global sedang dibahas terutama dalam forum-forum internasional.

Contoh Masalah Inequality (Ketidaksamarataan)

Beberapa contoh permasalahan kesehatan global yang merepresentasikan ketidaksamarataan antara lain usia harapan hidup di Jepang dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan di Swaziland dan angka kematian balita di Angola 73 kali lebih tinggi dibandingkan di Norwegia. Dua contoh tersebut memperlihatkan ketidakadilan yang terjadi, sekaligus mengilhami perlunya upaya untuk menjembatani kondisi tersebut (global justice). Beberapa konsep yang diajukan antara lain: (1) mencegah terjadinya kutub dalam perdebatan tentang keadilan global (perspektif kosmopolitan dan statis), (2) Perlunya memandang masalah keadilan global dari titik tengah di luar kasus; dimana peran banyak pihak muncul termasuk pemerintah dan institusi lainnya, hal ini memungkinkan terciptanya aturan internasional yang bisa melihat lebih jauh terkait masalah tersebut.

Ketidaksamarataan kesehatan dapat terjadi melalui banyak hal, seperti ketidakadilan domestik (terkait ras, gender, kasta, kelas sosial, kurangnya pembiayaan yang diberikan untuk sektor kesehatan masyarakat, dan sebagainya), ketidasamarataan dalam sektor lain yang berdampak pada sektor kesehatan (keterbatasan geografis, kondisi alam, tenaga kerja, kondisi politik yang sedang terjadi), dan praktek yang berlaku di tingkat internasional yang secara langsung maupun tidak langsung menciptakan ketidaksamarataan antar negara.

Konsep Minimalis terkait Ketidakadilan

Prof. Daniels memaparkan prinsip umum terkait ketidakadilan di tingkat global, yaitu: “Do not harm because harming (innocent) people violates requirements of justice”. Pogge memberikan pandangan melalui sebuah contoh berikut: kemiskinan global merupakan hasil dari berbagai kebijakan dan praktek yang dilakukan oleh negara maju dan institusi yang mereka kendalikan, sehingga banyak ketidakadilan global merupakan hasil dari proses “harming”. Contoh lain dari proses ini, adanya brain drain tenaga kesehatan dari satu negara berkembang yang diberikan kesempatan untuk bekerja di negara maju. Kasus lain yang juga perlu diangkat adalah sulitnya negara berkembang mengakses obat terbaru karena kepemilikan hak paten obat dan tingginya insentif yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan obat tersebut dari negara maju. Isu terkait obat ini terutama berdampak pada sulit berkembangnya inovasi pengobatan di negara berpendapatan rendah, sehingga akibatnya beban penyakit tidak dapat dikurangi, terutama pada kelompok rawan. Hal tersebut mencerminkan masih kurangnya penghargaan terhadap hak asasi manusia untuk memperoleh pengobatan yang laik dan tepat sesuai penyakit. Upaya yang selama ini dilakukan untuk menyelesaikan beberapa isu tersebut telah diinisiasi secara global, namun upaya-upaya tersebut terkesan belum berhasil mengatasi masalah ketidakadilan kesehatan.

Bagaimana Mengurangi Kematian Ibu

Terkait masalah kesehatan ibu dan anak, tingginya angka kematian ibu dan anak di banyak negara berkembang merupakan bukti nyata ketidakadilan kesehatan.Banyak negara maju telah bekerja sama dengan negara berkembang untuk mengupayakan penurunan angka kematian ibu dan anak melalui berbagai intervensi. Dari sekian banyak intervensi tersebut, diperlukan upaya untuk memprioritaskan beberapa intervensi yang dianggap tepat secara ilmiah.

Beberapa negara miskin menghadapi ketidakmerataan tenaga kesehatan. Pemaparan ini juga menjelaskan pentingnya skema penentuan prioritas permasalahan tenaga kesehatan (best outcomes vs fair chances, layanan di pusat kota vs layanan perifer, dan lain-lain). Terdapat beberapa kesamaan pertimbangan antara permasalahandengan tenaga kesehatan, yaitu upaya untuk mengikutsertakan stakeholder terkait (alasan yang mendasari), keterbukaan, berbasis bukti (evidence-based), dan berfokus pada akuntabilitas.

Universal Coverage

Pada kesempatan ini Prof Daniels juga menjelaskan mengenai ‘Universal Coverage’. Manfaat yang diperoleh dari universal coverage bagi masyarakat adalah keadilan terhadap ketidakmerataan. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak masalah yang dihadapi antara lain keterbatasan sumber daya dan kondisi politik. Bukan hanya kebutuhan intervensi seperti vaksin hal yang dibutuhkan dalam menciptakan lembaga yang baik. Berbicara mengenai globalisasi, masyarakat juga harus membutuhkan barang publik. Namun perlu diperjelas barang publik apa yang dibutuhkan, bagaimana syistem surveilannya untuk menentukan pilihan definisinya. Deteksi dini terhadap permasalahan koordinasi dini menjadi mudah dilakukan.

Jika kembali ke konsep bahwa lembaga atau institusi sebaiknya bisa menciptakan solusi yang lebih baik pada kasus ketidakadilan, pemberian insentif terhadap penelitian dan pengembangan obat diharapkan bisa mengatasi hambatan global. Pada pendekatan global seperti pendekatan hak asasi manusia, hal tersebut mempunyai tujuan penting yaitu melibatkan baik institusi lokal maupun institusi global untuk mengatasi masalah ketidaksamarataan kesehatan.

The Seventh Postgraduate Forum 2013

The Seventh Postgraduate Forum
“Health Systems and Policy for the ASEAN Economic Community:
Shared Visions and Goals”

24-25 June 2013
Faculty of Medicine, Naresuan University


Bangkok-Pertemuan ini merupakan pertemuan ke-7 yang diselenggarakan oleh komunitas universitas yang terdiri dari mahasiswa S1, mahasiswa S2 dan mahasiswa S3 dari universitas UNU-IIGH Malaysia, Gadjahmada University dan Naresuan University dari Thailand. Tujuan pertemuan ini terutama pada berbagi informasi, berbagi hasil penelitian, bercerita tentang pengalaman masing-masing pada area sistem kesehatan dan kebijakan, ekonomi kesehatan, pembiayaan kesehatan, kesehatan masyarakat, pendidikan profesi kesehatan, dan bidang lain untuk penelitian yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan dan manajemen kesehatan. Silakan klik pada judul program untuk membaca reportase.

Final Program Schedule

Mon 24th June 2013

09:00 – 09:15

Opening ceremony
Professor Sujin jinayon
President of Naresuan University

09:15 – 09:30

Photography session

09:30 – 10:15

Guest lecture
“Global Health and Global Justice”
Professor Norman Daniels

10:15 – 10:30

Break

10:30 – 11:15

Shared Visions I
“Financial risk protection for migrants – A new challenge in the ASEAN Community”
Dr. Viroj Tangcharoensathien

11:15 – 12:00

Shared Visions I
“ASEAN Health in the Post-2015 Agenda”
Dr.Phusit Prakongsai

12:00 – 13.00

Lunch break

13:00 – 13.45


Shared Visions II
“Universal Health Coverage: Sharing within the ASEAN Economic Community”
Dr.Peerapol Sutiwisesak

13:45 – 14:30

Shared Visions II
“Universal Health Coverage and Medical Industry in 3 South East Asia Countries”
Professor Laksono Trisnantoro

14:30 – 14:45

Break

14:45 – 17:00

Oral Symposium I

CC 2-802

CC 2-728

CC 2-729

17:00 – 18:00

Poster Symposium

18:00 – 20:00

Welcome dinner

Final Program Schedule

Tue 25th June 2013

09:00 – 09:45

Shared Goals I
“Global Health and Development – Challenges for 2015 and Beyond”
Professor Anthony B.Zwi

09:45 – 10:30

Shared Goals I
“Health Promotion Policies and Guidelines in AEC”
Waranya Teokul

10:30 – 10:45

Break

10:45 – 12:00

Oral Symposium II

CC 2-802

CC 2-728

CC 2-729

12:00 – 13.00

Lunch break

13:00 – 13:45

Shared Goals II
“Free Movements of Medical professionals: Policy and Planning”
Associate Professor Prasobsri Ungthavorn

13:45 – 14:30

Shared Goals II
“Global Health Visions through Health Systems and Policy Research”
Dr. Amrizal M Nur

14:30 – 15:00

Conclusion
“Unfinished Health Systems and Policy Research Agendas for AEC”
Professor Supasit Pannarunothai

15:00 – 15:45

Break

15:45 – 16:00

Closing ceremony