Melibatkan pelayanan kesehatan swasta untuk pencapaian Universal Health Coverage

Hong Kong, 27 Mei 2013

Pidato pembukaan dilakukan oleh Dekan Chinese University Faculty of Medicine dan Kepala Kesehatan dan Makanan Hongkong. Pejabat Kepala Kesehatan dan Makanan Hongkong menyatakan bahwa segmentasi di pelayanan kesehatan terjadi sebagai safety net untuk mereka yang miskin dan memberikan pelayanan saling meguntungkan kepada masyarakat menengah ke atas. Oleh karena itu ada banyak tantangan, antara lain semakin tuanya masyarakat, teknologi yang semakin meningkat. Bagaimana menggunakan prinsip-prinsip efisiensi dan mutu pelayanan dalam pelayanan kesehatan menjadi inti tantangan. Disamping itu, keluhan-keluhan masyarakat perlu diperhatikan sehingga diperlukan regulasi yang baik. Maria Escobar, wakil dari WBI memberikan pernyataan mengenai perlunya menyertakan swasta di dalam Universal Health Coverage (UHC). Apakah mungkin? Hal ini menjadi tantangan untuk masa depan. WBI bertujuan untuk meningkatkan peran dalam peningkatan kapasitas pemerintah untuk melibatkan swasta dalam pencapaian UHC.

Sebagai pembicara dalam sesi pertama adalah Professor EK Yeoh. Chairman, ANHSS, Head- Division of Health System, Policy, and Management, JC School of Public Health and Primary Care The Chinese University of Hongkong. Chairperson Professor Sian M. Griffiths, Director JC School of Public Health and Primary Care The Chinese University of Hongkong Judulnya Trends and Challenges.

Asia merupakan benua besar dengan berbagai perbedaan dalam sistem kesehatan. Ada negara yang menggunakan Social Health Insurance (SHI) seperti Jepang, Korsel, Taiwan, Thailand. Negara-negara dengan Tax Based adalah Hong Kong dan Malaysia, sedangkan negara yang berkembang ke arah SHI adalah Indonesia dan Filipina. Sementara negara yang menerapkan medisave ialah Singapore. Di dalam sistem Social Health Insurance di rumah sakit swasta merupakan fungsi dari sistem kesehaatn melalui SHI. RS Pemerintah dapat berupa korporasi dan bersaing dengan RS swasta. Sejarah di berbagai negara, RS Privat menjadi sangat dominan dalam pelayanan kesehatan.

Ada istilah Comermerzialised mixed health system, ada batas tidak jelas antara struktur swasta dan pemerintah. Pemberian pelayanan kesehatan melalui hubungan pasar dan kemampuan untuk membayar. Kemudian terjadi gejala marketization, commoditazian, privatization, dan liberalisasi. Perilaku RS Pemerintah sama juga dengan RS swasta, terjadi di Vietnam dan China.

Fungsi rumahs akit swasta dalam UHC untuk masyarakat miskin lebih banyak untuk akses. Ada tren yang memisahkan demand pasien yang kelas internasional dengan nasional (menengah bawah), disini muncul medical tourism. Tren yang terjadi adalah perkembangan RS swasta masih banyak yang tumbuh merupakan RS yang kecil. Kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi pertumbuhan RS Swasta. Perbandingan antar negara. Pertanyaan kuncinya ada di stewardship and governance: Bagaimana kemampuan pemerintah mempengaruhi swasta? Melalui pendanaan, melalui regulasi, ataukah informasi.

Sesi kedua dibuka oleh Professor Laksono Trisnantoro, Chairman sesi dengan dua pembicara. Pembicara pertama adalah April Harding, dari the World Bank Washington DC yang membahas peran pemerintah dan pasar dalam sistem RS yang campur.

April Harding menerangkan mengenai pengalaman di berbagai negara, khususnya di negara maju. Saat ini memang terjadi segmentasi pelayanan. RS berbeda-beda , sumber pendanaan, dan pengguna yang juga berbeda. Dalam hal ini dibahas kasus Inggris dan Jerman yang sangat kontras.

Kasus di Inggris

Sekarang ada sekitar 14 persen RS swasta (162) dan RS Pemerintah (1161), total 1323. Mengapa ada RS swasta? 10 persen mempunyai asuransi kesehatan swasta. Mereka tidak mau queue (mengantri). Misal ketika akan mencari konsultasi sub-spesialis dan elective surgery. Masyarakat ingin lebih bisa mengendalikan pelayanan. Mengapa kebijakan pemerintah membiarkan segmentasi ini? Menurut manajer NHS, pelayanan kesehatan swasta adalah diperlukan karena tidak pakai dana NHS. Jika swasta dihilangkan NHS akan mandeg. Pelayanan kesehatan swasta merupakan katup pengaman (pressure valve) yang dapat memberi pendapatan tambahan untuk staf pemerintah dan komoditi ekspor industri. Dengan demikian memang pelayanan swasta dibutuhkan. Namun jika tidak ada kontrol pemerintah, ternyata pasar rumah sakit tidak berjalan dengan baik. Di Inggris, regulasi untuk cost masih lemah sehingga tarif 2 kali lipat di Spanyol dan 80 persen lebih mahal dibanding Australia. Pemerintah sulit mengendalikan karena dananya dari masyarakat dan swasta sendiri, bukan pemerintah.

Kasus di Jerman

Ada tiga jenis RS yaitu (1) Private for profit ( 678 RS), (2) Private non-profit (755 RS), dan RS Pemerintah (630), total 2064. Seluruh pembiayaan berasal dari Social Health Insurance (SHI) yang melayani anggota melalui iga jenis RS ini. Sistem pelayanan kesehatan di Jerman merupakan sistem yang terintegrasi antara pemerintah dan swasta. Berdasarkan catatan sejarah, kebijakan dalam bentuk regulasi harga, regulasi volume, dan regulasi kapasitas ke semua RS (pemerintah dan swasta) telah lama dilakukan. Sebagai gambaran dalam regulasi kapasitas, pemerintah di daerah melakukan perencanaan mengenai jenis dan kapasitas seluruh RS. Jika tidak berada dalam perencanaan maka pelayanan oleh swasta atau pemerintah tidak bisa dibayar oleh asuransi. Pemerintah dapat mengendalikan RS Swasta karena memang semua biaya dari pemerintah (SHI). Disamping itu kebijakan desentralisasi dan kekuatan pemerintah daerah sangat strategis. Kebijakan ini mengurangi kompetisi yang tidak perlu.

Pembicara kedua yaitu Professor Maya Herrera dari Asian Institute of Management, Filipina mengenai pembiayaan yang disalurkan melalui pelayanan kesehatan swasta. Pembiayaan RS swasta dan pemeintah terdiri atas tiga jenis : (1) Pembiayaan Modal; (2) Pembiayaan untuk Pelayanan; dan (3) Pembiayaan untuk yang lainnya. Pembiayaan untuk modal antara lain berasal dari pemerintah, hibah swasta, kredit, dan lain-lain. Pembiayaan untuk pelayanan berasal dari user fee, private health insurance dan dari social Health Insurance. Pembiayaan dari sumber lain-lain, antara lain: dari donor kemanusiaan, subsidi pajak, subsidi lainnya, pemakaian tanah gratis, dll

Apa motivasi swasta? Profit maximisation untuk RS swasta yang for-profit dan revenue maximation (non-profit). Apa motivasi pemerintah memberikan dukungan untuk swasta? Motivasi tersebut tentunya adalah akses dan mutu. Hal yang dikerjakan pemerintah, antara lain: kontrak pemerintah, penggunaan tanah secara bebas misal di Nepal, pengurangan pajak misal di Australia, USA, dan Filipina.

Relevansi 2 sesi ini untuk Indonesia:

Indonesia mempunyai RS Swasta yang terdiri atas : non-profit yang terdiri atas Yayasan dan Perkumpulan, serta for-profit (berbentuk PT). Dalam konteks ini maka pertanyaannya adalah: Apakah perannya sama dalam UHC? Bagaimana penanganan pajaknya? Dalam konteks ini memang perlu dibedakan antara RS Swasta for-profit dan not-for profit. Ada kecenderungan yang melayani pasien BPJS nantinya adalah RS swasta non-profit karena memang ada segmentasi pelayanan. Hal ini terjadi pula di Thailand, khususnya Bangkok. Juga terjadi di Inggris, namun tidak terjadi di Jerman karena memang semua pembayaran berasal dari asuransi kesehatan sosial.

Dalam hal ini ada satu hal sangat penting tentang pengaruh pemerintah di pelayanan swasta yaitu: Bagaimana kekuatan fiskal pemerintah dalam Social Health Insurance? Apakah pemerintah Indonesia mampu mempengaruhi swasta seperti yang terjadi di Jerman? Dalam hal ini kemampuan fiskal pemerintah Indonesia tidak sekuat di Jerman. BPJS terbatas pada sekitar 50 persen orang Indonesia dengan pendanaan yang masih rendah. Di Inggris mencakup sekitar 90 persen, di Jerman 100 persen. Dengan demikian strategi mengajak RS Swasta masuk ke Jamkesmas, KJS, atau BPJS merupakan hal penting dan tidak mudah. Tentunya tidak dengan perintah. Saat ini memang RS Swasta tidak wajib masuk ke skema BPJS. Regulasi membebaskan. Pelajaran penting untuk Indonesia; dIperlukan pemahaman mengenai kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam pelayanan jaminan kesehatan. Pengalaman di Jerman dan di Inggris serta Thailand perlu dipelajari sebaik-baiknya agar terjadi harmoni antara pemerintah dan pelayanan kesehatan swasta.

{jcomments on}

 

Kursus Jarak Jauh Pencegahan Korupsi di Sektor Kesehatan

Kursus Jarak Jauh
Pencegahan Korupsi di Sektor Kesehatan

 

  Latar Belakang

Selama satu dekade pasca reformasi, berbagai kasus korupsi telah terbongkar di sektor kesehatan dalam level pemerintah pusat ataupun daerah. Menjelang pemilu di tahun 2014, dikhawatirkan korupsi akan semakin banyak dan sektor kesehatan dapat menjadi sektor yang rawan. Secara akademik, masalah korupsi di sektor kesehatan perlu dipelajari secara mendalam dalam rangka pencegahan.

 

  Tujuan
 

  1. Menelaah kasus-kasus korupsi di sektor kesehatan
  2. Menelaah budaya korupsi
  3. Menelaah modus operandi korupsi di sektor kesehatan
  4. Meningkatkan penelitian mengenai korupsi di sektor kesehatan
  5. Untuk meningkatkan pengetahuan, niat, dan ketrampilan mencegah korupsi di sektor kesehatan

 

  Bahan Belajar

  • Materi dari Seminar Pencegahan Korupsi di Sektor Kesehatan, 22 mei 2013 https://kebijakankesehatanindonesia.net/component/content/article/1574.html 
  • Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2013 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi tahun 2013. 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-2014. 
  • Matsheza, P. et al. 2011. Fighting Corruption in The Health Sector Methods, Tools, and Good Practices. United Nations Development Programme 

 

  Cara Mengikuti
 

  1. Peserta melakukan pendaftaran melalui Sdri. Hendriana Anggi
  2. Peserta mempelajari sebaik-baiknya materi yang ada di www.kebijakankesehatanindonesia.net. Materi ada yang berupa video, powerpoint, word, dan beberapa referensi tambahan.
  3. Peserta mengikuti ujian melalui jarak-jauh yang dijadwalkan setiap hari Rabu pada pukul 14.00 – 16.00 WIB.
  4. Peserta yang sudah mendaftar akan dikirimi instruksi dan soal ujian melalui email 5 menit sebelum pukul 14.00 WIB.
  5. Peserta mengikuti ujian selama 2 jam (14.00 – 16.00 WIB).
  6. Hasil ujian langsung dikirim melalui email ke alamat yang sudah ditentukan pada akhir jam ujian.
  7. Penilaian akan diumumkan maksimal seminggu kemudian melalui email ke peserta.
  8. Jika gagal menempuh ujian, dapat mengikuti ujian lagi pada hari Rabu minggu berikutnya sampai lulus.
  9. Jika berhasil akan mendapat sertifikat yang akan dikirim melalui Pos Tercatat ke alamat peserta.
  10. Untuk dokter tersedia SKP IDI sejumlah 8 SKP

 

  Informasi dan Pendaftaran

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Sdri. Hendriana Anggi
Gdg. IKM Sayap Utara Lt. 2, Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Mobile   : +6281227938882
Email    : [email protected]

Biaya: Rp 200.000,-

FORMULIR REGISTRASI PESERTA 

Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kebijakan Medik

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Menyelenggarakan Workshop

Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kebijakan Medik:

BPJS sebagai titik singgung dan siapa penelitinya?

Yogyakarta, 11 – 12 Juni 2013

  Pengantar

Penelitian kebijakan kesehatan saat ini semakin berkembang dan dilaksanakan oleh universitas. Dalam konteks penelitian kebijakan kesehatan ada pertanyaan menarik mengenai hubungannya dengan penelitian kebijakan medik. Dalam hal ini memang kebijakan medik merupakan bagian dari kebijakan kesehatan. Pertanyaan ini semakin menarik dengan adanya pemikiran apakah penelitian kebijakan dilakukan oleh unit di Fakultas Kesehatan Masyarakat, ataukah di Fakultas Kedokteran, ataukah kedua-duanya atau bekerjasama. Untuk membahas visi pengembangan penelitian kebijakan kesehatan dan kebijakan medik diperlukan workshop yang mempertemukan peneliti kebijakan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran. Dalam workshop ini, BPJS yang akan berjalan pada tahun 2014 akan menjadi topic utama pembahasan.

 

  Tujuan kegiatan
 

  1. Membahas situasi terakhir lembaga penelitian di FKM dan FK yang tertarik pada kebijakan kesehatan dan kebijakan medik dan masa depannya.
  2. Membahas hubungan dan sinergi antara lembaga penelitian kebijakan kesehatan di FKM dan FK.
  3. Membahas topik penelitian kebijakan di BPJS dan MDG4-5 yang membutuhkan kolaborasi antara FK dan FKM.

 

  Kegiatan

Workshop di Ruang Senat FK UGM (KPTU Lt.2 FK UGM) pada tanggal 11 – 12 Juni 2013,
dengan agenda sebagai berikut :

Hari I, 11 Juni 2013

08.00 – 08.30

Registrasi Peserta

 

08.30 – 09.00

Pengantar

Pembukaan

 

 

 

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

 

 

 

 

 

Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K), Onk., Dekan FK UGM

09.00 – 10.30

Membahas Rencana Penelitian Multi Center tentang BPJS

Penyusunan draft penelitian monitoring dan evaluasi:

  • Topik yang akan diteliti
  • Metode Penelitian yang akan dipergunakan
  • Pelaku penelitian (mahasiswa S1, mahasiswa S2, mahasiswa S3, dan para peneliti)

 

Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, MARS

 

Moderator : Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

10.30 – 11.00

Coffee Break

 

11.00 – 12.30

Diskusi Mengenai Situasi Unit Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kebijakan Medik di FK dan FKM

Bahan yang akan dibahas adalah hasil pelatihan yang akan dilakukan dan pengamatan di beberapa fakultas

Fakultas Kedekteran Universitas Padjajaran 

FK Universitas Mulawarman

Diskusi sesi 2

 

 

 

Pembicara :

FK Universitas Padjajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

FK Universitas Mulawarman

Fasilitator : Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

12.30 – 13.30

Lunch Break

 

13.30 – 15.00

BPJS sebagai titik singgung kebijakan medic dan kesehatan dalam penelitian monitoring dan evaluasi yang independen.

Program Monitoring dan Evaluasi BPJS akankan menjadi tanggungjawab P2JK?

Bagaimana rencana OJK sebagai pengawas independen untuk BPJS?

Diskusi: Dimana peran FK-FKM dalam pengawasan program Jaminan secara independen? Apakah universitas dapat independen? Apakah universitas dapat bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan?

Pembicara :

  1. Kepala Group Penelitian dan Pengembangan PT ASKES Indonesia
  2. Kepala P2JK Kementerian Kesehatan
  3. Direktur Pengawasan Lembaga Keuangan Otoritas dan Direktur Pengawasan Khusus dan Penyelidikan Industri Keuangan NonBank – Kementerian Keuangan

Moderator : Dr. dr. Deni K Sunjaya, DESS

15.00 – 15.30

Coffee Break

 

15.00 – 16.30

Rencana Pengembangan Yayasan dan Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia

  • Perkembangan Jaringan dan Yayasan
  • Sinergi FK dan FKM yang dapat difasilitasi
  • Sumber dana dari perguruan tinggi: Apakah dapat menggunakan dana-dana dari universitas sendiri atau dari Dikti?
 

 

Fasilitator : Prof. Dr. dr. H. Alimin Maidin, MPH

DP2M DIKTI dan Ketua LPPM UGM

 

16.30 – 17.00

Penutup Hari I

 

Notulensi Hari Pertama, silahkan klik notulensi

Hari II, 12 Juni 2013

08.30 – 10.00

Hambatan dan Solusi untuk Mengatasi Masalah, terkait dengan tugas dosen yang harus melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan peran konsultan/peneliti bukan Dosen

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

10.30 – 11.00

Coffee Break

 

11.00 – 12.30

Membahas prospek pembiayaan penelitian payung dan strategi mencarinya.

 

 

Kemungkinan sumber dana:

  • Sumber dana mandiri, dari universitas masing-masing
  • Sumber dana dari BPJS atau OJK
  • Sumber dana dari Kementerian Kesehatan: Balitbang Kemenkes
  • Sumber dana dari badan-badan penelitian asing
 

Pembicara :

Dr. Trihono – Kepala Balitbangkes KemenKes

  1. AusAid
  2. FK Universitas Diponegoro

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FK Universitas Muhamadiyah Jakarta

Moderator : Dr. dr.Felix Kasim, M.Kes

12.30 – 13.30

Lunch Break

 

13.30 – 15.00

Diskusi mengenai Persiapan Teknis Kerjasama Multi Centre dan pertemuan nasional di Kupang tanggal 4 – 7 September 2013.

 

 

  • Harapan mengenai Manfaat Jaringan Kasus Universal Coverage
  • Persiapan teknis kerjasama multi centre
  • Persiapan pertemuan nasional di Kupang untuk membahas rencana penelitian multi-center mengenai monitoring BPJS di tahun 2014

 

 

 

 

Pembicara : Dr. Budiono Santoso, Ph.D

 

Indonesia Network on Access to Health Services – Budiono Santoso

 

Fasilitator : Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc,, Ph.D

 

15.00 – 16.00

Rencana Tindak Lanjut

 

16.00 – 16.30

Penutup

 

Notulensi Hari Kedua, silahkan klik notulensi

 

  Peserta

Peserta terdiri dari 2 bagian :

  1. Peserta Pelatihan Kelompok Riset Kebijakan Kesehatan dari FKM yang telah mengikuti kegiatan PJJ tahap 1 dan Tahap 2 (1 orang peserta dari masing-masing instansi dan 1 orang dekan) 
  2. Peneliti Utama dari Fakultas Kedokteran di Indonesia (1 orang peneliti dan 1 orang Dekan)

Catatan : Dekan mengikuti pada hari I, namun, jika bisa mengikuti selama 2 hari sangat diharapkan.

Dari setiap FK dan FKM terpilih akan mendapat biaya transportasi (ekonomi pp), akomodasi selama pertemuan, paket meeting dan sertifikat. Panitia tidak menyediakan lumpsum, diharapkan lumpsum berasal dari universitas masing-masing. Apabila mengirimkan peserta lebih dari 2 orang, diharapkan pembiayaan dari instansi masing-masing.

 

 Catatan

Pembahasan diskusi di Yogyakarta termasuk pemetaan penelitian terkait dengan pelaksanaan BPJS

Dalam konteks pengembangan penelitian, matriks berikut ini dapat dipergunakan untuk mengembangkan penelitian kebijakan medik dan kebijakan kesehatan dalam konteks BPJS. Lajur ke bawah merupakan proses kebijakan mulai dari Ide kebijakan sampai dengan perubahan di masyarakat. Penelitian dapat mengambil posisi di salahsatu atau berbagai posisi di dalam proses ini. Baris ke kanan adalah lokasi tempat penelitian. Dapat dilakukan di masyarakat sampai ke negara. Dari Micro, Meso, sampai makro.

 

Masya-rakat

Puskesmas

Rumahsakit

Dinas Kesehatan

Kementerian Kesehatan

Negara

Ide Kebijakan

 

 

 

 

 

 

Penelitian Pilot

 

 

 

 

 

 

Penyusunan Naskah Akademik

 

 

 

 

 

 

Penetapan Kebijakan

 

 

 

 

 

 

Pelaksanaan Kebijakan

 

 

 

 

 

 

Evaluasi Kebijakan

 

 

 

 

 

 

Perubahan di Masyarakat

 

 

 

 

 

 

Dengan matriks ini dapat dibahas dimana penelitian kebijakan medik dan kebijakan kesehatan dalam konteks BPJS.

 

  Pendaftaran dan Informasi Lebih Lanjut

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Sdri. Angelina Yusridar / Hendriana Anggi
Gdg. IKM Sayap Utara Lt. 2, Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp. : +62274 – 549425
Mobile: (Angelina Yusri : +628111 498 442), (Hendriana Anggi : +6281227938882)
Email : [email protected] , [email protected]
Web : www.kebijakankesehatanindonesia.net

Arsip Diskusi Bulanan PKMK 2013 Topik Surveilans Respons


Arsip Diskusi Bulanan PKMK 2013
Topik Surveilans Respons

Tanggal

Tema

Makalah yang ditelaah

 Materi Lengkap

8 Mei 2013

Surveilans Respons kematian ibu

Maternal death surveillance and response, Bulletin of the World Health Organization 2011;89:779-779A.

Arsip Diskusi Bulanan PKMK 2013


Arsip Diskusi Bulanan PKMK 2013
Topik Kebijakan dan Manajemen

Tanggal

Tema

Makalah yang ditelaah

 Materi Lengkap

23 Juli 2013

Principal-agent theory & Self-determination theory

Ri Gopalan, S.S., & Durairaj, V. (2012).

Addressing maternal healthcare through demand side financial incentives: experience of Janani Suraksha Yojana program in India. 

Carroll, J.K., dkk. (2012).

A 5A’s communication intervention to promote physical activity in underserved populations.

21 Juni 2013

Implement-Action Fidelity

Ri Hasson, H., dkk. (2012).
Fidelity and moderating factors in complex interventions: a case study of a continuum of care program for frail elderly people in health and social care.

Lipton, R., &Ødegaard, T. (2005).
Causal thinking and causal language in epidemiology: it’s in the details.

16 Mei 2013

Intervention Reporting

Riley, B.L., dkk. (2008) Is reporting on interventions a weak link in understanding how and why they work? A preliminary exploration using community heart health exemplars. Implementation Science 3:27 (20 May 2008).

18 April 2013

Health Behavior Theory

Jeffery, R.W. (2004). How can Health Behavior Theory be made more useful for intervention research? International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity 1:10 (23 July 2004)

Michie, S., dkk. (2011). The behaviour change wheel: A new method for characterising and designing behaviour change interventions. Implementation Science 6:42 (23 April 2011)

27 Maret 2013

Conjoint Analysis

Murti, B. Penerapan Analisis Konjoin untuk Kebijakan Asuransi Kesehatan

Hanbury, A., dkk. (2012). Challenges in identifying barriers to adoption in a theory-based implementation study: lessons for future implementation studies BMC Health Services Research 12:422 (23 November 2012) 

Provisional PDF

14 Februari 2013

Knowledge-Brokering

Ward, V.L., dkk. (2009). Knowledge brokering: Exploring the process of transferring knowledge into action. BMC Health Services Research 9:12 (16 January 2009).

17 Januari 2013

Intervention Mapping

Bartholomew, L.K., & Mullen, P.D. (2011). Five roles for using theory and evidence in the design and testing of behavior change interventions. Journal of Public Health Dentistry 71: S20–S33

Forum Nasional IV Kupang

Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia
Bekerjasama dengan IAKMI

Menyelenggarakan

FORUM NASIONAL IV

Tema:

Tantangan Kebijakan Kesehatan di Indonesia
dalam Menghadapi Stagnasi Pencapaian MDG4 dan MDG5,
dan Semakin Meningkatnya Penyakit Tidak Menular dan AIDS

Grand Mutiara Ballroom and Converence & Hotel On The Rock Kupang

Kupang, 4-7 September 2013

  Pendahuluan

Indikator-indikator pencapaian MDG4 dan MDG5 masih belum tercapai dengan baik di Indonesia. Data terakhir di tahun 2012 menunjukkan terjadinya stagnasi pencapaian. Ada kekawatiran bahwa kebijakan pengurangan kematian ibu dan bayi belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Sementara itu di berbagai daerah dan kalangan masyarakat, termasuk yang mempunyai pendapatan rendah terjadi kecenderungan peningkatan penyakit tidak menular seperti stroke, gagal ginjal, diabetes.

Ada pertanyaan menarik mengapa kebijakan MDG4 dan MDG5 masih belum dapat maksimal dan bagaimana kebijakan menghadapi timbulnya penyakit-penyakit tidak menular dan juga penanganan AIDS dalam konteks akan berlangsungnya BPJS di tahun 2014. Forum Tahunan ke IV Jaringan Kebijakan Kesehatan berusaha membahas masalah ini melalui penelitian empirik dan analisis kebijakan. Forum ini merupakan kelanjutan dari forum-forum sebelumya yang diselenggarakan di Jakarta, Makassar, dan Surabaya.

 

  Tujuan Forum Nasional IV

  1. Membahas evaluasi kebijakan MDG 4 dan MDG5 di Indonesia
  2. Membahas isu kebijakan terkait dengan Non Communicable Disease dan AIDS dalam konteks BJS
  3. Memberikan masukan kepada pengambil kebijakan kesehatan dalam kebijakan peengurangan kematian ibu dan bayi, BPJS, dan AIDS.

Disamping itu akan ada tujuan untuk membahas pola organisasi dan sumber pendanaan Jaringan Kebijakan Kesehatan.

 

 Waktu Kegiatan

Kegiatan ini akan dilaksanakan bersamaan dengan KONAS IAKMI pada :

Hari, tanggal  : Rabu – Sabtu, 4 – 7 September 2013
Tempat          : Hotel On The Rock Kupang dan Grand Mutiara Ballroom and Converence
                      Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 Agenda Kegiatan:

 Waktu

Keterangan Acara dan Ruangan

4 September 2013

Ruangan Ruby Hotel On The Rock Kupang

08.30 – 09.00

Registrasi Peserta Forum Nasional

09.00 – 09.30

SESI PEMBUKAAN

Pengantar Kegiatan :

  1. Laporan Kegiatan dari Ketua Panitia : dr. S.M.J. Koamesah, MMR, MMPK
  2. Laporan Ketua Jaringan Kebijakan Kesehatan : Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D

Pembukaan Secara Resmi : Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang *)

09.00 – 10.30

SESI I

Analisis Kebijakan Kesehatan Ibu dan Anak di Berbagai Daerah : Bagaimana data Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia. Mengapa Terjadi Stagnasi Program?

Pembicara : Tim PKMK FK Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan P2K3 Universitas Nusa Cendana Kupang

Pembahas :

  1. Direktur Bina Kesehatan Ibu Kementerian Kesehatan RI *)
  2. Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI *)

10.30 – 11.00

Coffee Break

11.00 – 12.30

SESI II

Kebijakan Inovatif dalam MDG 4 dan MDG 5 yang Perlu Dikembangkan di Masa Mendatang :
 

  1. Pengalaman Revolusi KIA di NTT
    Pembicara : Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT *)
     
  2. Pengalaman Penggunaan Surveilans Respon dan Angka Absolut di DIY
    Pembicara : Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY *)

Pembahas :

  1. Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI*)
  2. Konsorsium Perguruan Tinggi untuk KIA*)

12.30 – 13.30

Lunch Break

13.30 – 15.00

SESI III
 

  1. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular dalam BPJS
    Pembicara : Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI *)
     
  2. Kebijakan AIDS dalam BPJS
    Pembicara : Dr. Kemal Siregar – Sekretaris KPAN*)
                      Pokja BPJS KPAN *)
     
  3. Kesiapan Sumber Daya di NTT untuk BPJS
    Pembicara : Tim P2K3 Universitas Nusa Cendana Kupang

Pembahas :

  1. Dr. dr. Deni K. Sunjaya, DESS
  2. Kepala PT Askes Indonesia
  3. Kepala P2JK Kementerian Kesehatan RI

15.30 – 17.00

SESI IV
 

  1. Pengantar : Mengapa Perlu Policy Brief?
    Pembicara : Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, MARS
     
  2. Presentasi Makalah Policy Brief Terpilih
    Pembicara : Presentasi dari 3 Peserta Pemenang Policy Brief terbaik

17.00 – 19.00

ISHOMA

19.00 – 21.00

Ruangan Jaspire

Ruangan Pearl

Ruangan Golf

Kelompok BPJS

Pembahasan Proposal Monitoring dan Evaluasi tahun 2014 ke Depan

Pembicara :
 

  1. M. Faozi Kurniawan, SE, Akt., MPH
  2. dr. Tiara Marthias, MPH
  3. Prof. Dr. dr. Alimin Maidin, MPH
  4. Prof. dr. Bhismo Murti, MPH

Pembahas :
 

  1. Kepala PT ASKES Indonesia *)
  2. Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kementerian Keuangan RI *)
  3. Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI *)

Kelompok AIDS

Kick Off Meeting Pembahasan HIV/AIDS dan Kebijakan Penanggulangannya

Pembicara :
 

  1. Dr. Kemal Siregar – Sekretaris KPAN *)
  2. Kepala Subdit AIDS Kementerian Kesehatan RI *)
  3. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

Moderator : Prof. Irwanto, MA, Ph.D

Kelompok KIA

Dr. Hanevi Djasri, MARS

5 September 2013

Grand Mutiara Ballroom and Conference Kupang

09.00 – 17.00

Mengikuti Pembukaan kegiatan KONAS IAKMI di Grand Mutiara Ballroom and Conference

19.00 – 21.00

Ruangan Ruby Hotel On The Rock Kupang

Pertemuan Organisasi Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia

6

Ruang Pearl Hotel On The Rock

Ruang Ruby Hotel On The Rock

IAKMI – Grand Mutiara

Kelompok BPJS

Kelompok AIDS

SIMPOSIUM KIA

SIMPOSIUM DESKES

08.00 – 10.00

Penulisan Proposal BPJS

Konteks Kebijakan AIDS : Epidemiologi dan Perilaku Beresiko

Invited Speakers (Kementerian Kesehatan – IBBS, KPAN – SCP, HCPI – IBBS Lapas)

Free Paper terpilih (4 abstrak)

 

  1. HSB
  2. KIA
  3. MAF
  4. IC
  5. MAPP

 

  1. HETS
  2. NOSSAL

10.00 – 10.30

COFFEE BREAK

10.30 – 12.00

Lanjutan Penulisan Proposal

Kebijakan dan Program HIV dan AIDS di Indonesia

Invited Speakers (KPAN, Kemkes, AusAID, USAID, UN, PKBI/NU, CHAI, SUM, HCPI)

Lanjutan

Lanjutan

12.00 – 13.00

LUNCH BREAK

13.00 – 15.00

Free Paper di Hotel On The Rock Terbagi 3 Ruangan

Topik KIA, BPJS, Kesehatan Jiwa, SDM dan Organisasi dalam Kesehatan, Rokok, Pembiayaan dan Kebijakan Lain-Lain

Implementasi Kebijakan dan Program AIDS

Invited Speakers (Dinkes, KPA Medan, PKNI, IPPI, GWLIna, OPSI)

Free Paper terpilih (4 abstrak)

Free Paper IAKMI

Free Paper IAKMI

15.00 – 15.30

COFFEE BREAK

15.30 – 17.00

Free Paper di Hotel On The Rock Terbagi 3 Ruangan

Topik KIA, BPJS, Kesehatan Jiwa, SDM dan Organisasi dalam Kesehatan, Rokok, Pembiayaan dan Kebijakan Lain-Lain

Membangun Jaringan Kebijakan AIDS Indonesia

Free Paper

Free Paper

7

Grand Mutiara Kupang

08.00 – 12.00

Penutupan KONAS IAKMI

 

  Peserta

Kegiatan pelatihan mengundang para pengambil kebijakan, akademisi (dosen, staf pengajar), peneliti, praktisi kebijakan kesehatan, dan atau siapa pun yang tertarik dengan kebijakan kesehatan untuk mengikuti kegiatan ini.

Biaya Pendaftaran Peserta:

Forum tanggal 4 September : Rp 250.000,-

KONAS IAKMI : Mengikuti biaya keikutsertaan di IAKMI sebagai berikut :

Mahasiswa  : Rp. 300.000,- (sebelum 31 Juli 2013), Rp. 350.000,-
                      (sebelum 31 Agustus 2013), Rp. 400.000 (on site).
Umum          : Rp. 750.000,- (sebelum 31 Juli 2013), Rp. 850.000,-
                      (sebelum 31 Agustus 2013), Rp. 1000.000,- (on site)
Luar Negeri : 100 USD (sebelum 31 Juli 2013), 110 USD
                      (sebelum 31 Agustus 2013), 125 USD (on site).

 

  Keterangan Lebih Lanjut:
 

  1. Stevi Ardianto

    Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran (P2K3)
    Universitas Nusa Cendana Kupang
    Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Lt. 2 
    Jl. Adisucipto, Penfui, Kupang
    Ph. /Fax : 0380 8003169 / +628113829529
    Mobile : +62 85239201007
    Email  : [email protected]
  2. Angelina Yusridar / Hendriana Anggi

    Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
    Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
    Gedung IKM Sayap Utara Lt. 2, Fakultas Kedokteran UGM
    Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
    Ph. /Fax : +62274-549425 (hunting)
    Mobile : +628111409442 / +6281227938882
    Email : [email protected]; [email protected]; [email protected]
    Website : www.kebijakankesehatanindonesia.net

 

Poster KONAS IAKMI A3

Seminar Praktik dan Kebijakan Obat di Indonesia

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran UGM

Menyelenggarakan

Seminar Praktik dan Kebijakan Obat di Indonesia

Selasa, 21 Mei 2013 di Ruang Kuliah S3 Lt.2 Gd Pascasarjana FK UGM

  Latar Belakang

Obat merupakan bagian esensial dari upaya pelayanan kesehatan dan menjadi hal pokok yang harus tersedia secara cukup dan terjangkau bagi masyarakat. Namun, karena adanya keterbatasan informasi di masyarakat, regulasi yang tidak ditegakkan, keterbatasan guideline peresepan obat, serta persaingan industri farmasi, praktik farmasi di Indonesia masih memiliki beberapa tantangan.

Saat ini Indonesia sedang dalam proses penulisan laporan Health System in Transition (HiT) yang dibuat oleh para akademisi dan praktisi kesehatan. Dokumen Health System in Transition adalah laporan dari berbagai negara yang memberikan deskripsi detail mengenai sistem kesehatan negara tersebut, termasuk berbagai reformasi dan kebijakan yang ada seputar kesehatan. Serial Health System in Transition ini dimulai di negara-negara Eropa, yang bertujuan untuk menghasilkan laporan per negara yang berkualitas dan dapat digunakan sebagai perbandingan antar negara, serta sebagai rujukan bagi para pemangku kebijakan kesehatan. Laporan Health System in Transition diperbarui secara rutin, dan telah dipublikasikan oleh berbagai negara di dunia.

Penulisan laporan Health System in Transition untuk Indonesia ini dikoordinir oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan bekerjasama dengan Institute for Health Policy Sri Lanka. Laporan tersebut akan menjadi bagian dari kompilasi profil sistem kesehatan yang untuk kawasan Asia yang dikembangkan oleh The Asia Pacific Observatory on Health Sytems and Policies guna memfasilitasi upaya benchmarking dan pembelajaran untuk penguatan sistem kesehatan masing-masing negara.

Salah satu bagian penting dari laporan HiT ini adalah mengenai informasi farmasi dan kebijakan obat. Untuk mendapatkan laporan yang akurat, maka dibutuhkan pembahasan dan pemaparan dari para ahli di bidang farmasi. Dengan demikian, pertemuan ini akan membahas sistem farmasi dan kebijakan obat di Indonesia sebagai bahan penulisan laporan nasional mengenai sistem kesehatan Indonesia.

 

  Tujuan Diskusi

Seminar yang akan dilaksanakan ini bertujuan untuk:

  1. Memaparkan situasi obat di Indonesia berdasarkan kerangka kerja dari laporan Health in Transition
  2. Mencari masukan-masukan untuk pengembangan penulisan
  3. Menyusun rencana untuk pengembangan policy brief terkait dengan manajemen obat.

 

peser  Peserta

Diskusi ini akan melibatkan elemen-elemen terkait dengan kebijakan obat sebagai berikut:

  1. BPOM
  2. Kementerian Kesehatan Indonesia – Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
  3. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
  4. DPR RI – Komisi Kesehatan
  5. Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada

 

  Jadwal Acara

Yogyakarta, 21 Mei 2013
Pukul: 13.00 – 16.00

Bahan Diskusi:

  1. Bab mengenai kebijakan dan manajemen farmasi di Indonesia
  2. Kerangka kerja laporan HiT untuk bagian manajemen farmasi

(ditulis oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD dan Shita Listya Dewi, SIP, MM, MIP)

 

   Live Streaming

Seminar ini disiarkan secara langsung (Live) melalui Video streaming dan Audio Streaming pada website www.kebijakankesehatanindonesia.net
Bapak/Ibu dapat menyimak siarannya pada jam acara secara gratis.

Diskusi Bulan Mei PKMK Tahun 2013

Diskusi Bulanan Tahun 2013
Pembahasan Artikel Kebijakan dan Manajemen

Kelompok Kerja Kebijakan dan Manajemen Fakultas Kedokteran UGM

Kamis, 16 Mei 2013 (Pukul 14.00 – 16.00 WIB)

  Pengantar

Perkembangan topik dan metode penelitian manajemen berjalan dengan sangat pesat. Perkembangan ini perlu diikuti dengan cara melakukan pembahasan terhadap artikel-artikel kebijakan dan manajemen. Kegiatan ini sangat penting untuk pengembangan kapasitas para dosen, peneliti, dan konsultan yang tergabung pada kelompok kerja Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM serta peminat lain. Kegiatan dilakukan sebulan sekali pada hari Kamis, di pertengahan bulan berjalan. Kegiatan dipancarkan melalui video&audiostreaming sehingga para peserta yang berada di luar Yogyakarta dapat mengikutinya.

 

  Tujuan
 

  1. Membahas perkembangan topik yang menarik dalam kebijakan dan manajemen kesehatan
  2. Membahas metode penelitian , pelatihan, dan konsultasi, yang dipergunakan di berbagai penelitian kebijakan dan manajemen
  3. Menjadi forum untuk pengembangan kemampuan diri untuk para konsultan, peneliti, dan dosen di kelompok kerja kebijakan dan manajemen kesehatan;
  4. Mengembangkan forum komunikasi antara dosen, peneliti, dan konsultan dalam kebijakan dan manajemen pelayanan kesehatan.

 

  Jadwal Acara dan Topik
 

Diskusi Bulanan PKMK 2013

Topik

Konsep-konsep terkait

Makalah yang ditelaah

Fasilitator

Intervention Reporting

Public Health Triangulation, data mining, text mining

Riley, B.L., dkk. (2008) Is reporting on interventions a weak link in understanding how and why they work? A preliminary exploration using community heart health exemplars. Implementation Science 3:27 (20 May 2008).

Rossi Sanusi

 

 

 Materi Presentasi

    1. Kerangka Kerja untuk Menilai & Merancang Proyek Besar


  Arsip Video Presentasi

Seminar Pencegahan Korupsi di Sektor Kesehatan

reportase

KELUARGA ALUMNI GADJAH MADA FAKULTAS KEDOKTERAN YOGYAKARTA
(KAGAMA KEDOKTERAN)

Menyelenggarakan

Seminar Pencegahan Korupsi di Sektor Kesehatan

Rabu, 22 Mei 2013, Pukul 07.30 – 15.00
Ruang Rapat Senat Ged. KPTU Lt.2, Fakultas Kedokteran UGM

 

  Latar belakang

Selama satu dekade pasca reformasi, berbagai kasus korupsi telah terbongkar di sektor kesehatan dalam level pemerintah pusat ataupun daerah. Menjelang pemilu di tahun 2014, dikhawatirkan korupsi akan semakin banyak dan sektor kesehatan dapat menjadi sektor yang rawan. Secara akademik, masalah korupsi di sektor kesehatan perlu dipelajari secara mendalam dalam rangka pencegahan. Dalam hal ini Kagama Kedokteran UGM mempunyai pendapat bahwa tanggung jawab pemberantasan dan pencegahan korupsi perlu dipegang oleh banyak pihak, termasuk perhimpunan alumni. 

 

  Tujuan Kegiatan

• Menelaah Kasus-Kasus Korupsi di Sektor Kesehatan
• Menelah Budaya Korupsi
• Membahas Modus Operandi Korupsi di Sektor Kesehatan dan Pencegahannya.

 

  Jadwal Kegiatan 

Rabu, 22 Mei 2013

Untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran, disarankan agar download dulu powerpoint dan makalah untuk kemudian dipakai untuk dasar melihat video.

07.00-07.30 Registrasi  
07.30 -08.00 Sambutan Ketua KAGAMA KEDOKTERAN

DR. dr. Sugiri Syarief, MPA 

  Sambutan Ketua Panitia

Prof.dr.Laksono Trisnantoro, MSc,Ph.D

Sesi 1: 08.00-10.00 Moderator : Prof.dr.Laksono Trisnantoro,MSc,Ph.D
08.00-08.45

“Catatan Mengenai Modus Operandi Korupsi di Sektor Kesehatan dan Cara Pencegahannya”

ppt Download materi

Iswan Elmi (Deputi Bidang Pencegahan KPK)

08.45-09.30

Korupsi, Pemerintah dan Korporasi

word Download materi

ppt Download materi

Prof. drg. Etty Indriati, Ph.D (Pakar Antropologi UGM)

09.40-10.00 Diskusi
10.00-10.15 Coffee Break
10.15-12.00 Sesi 2 . Moderator : Prof.dr. Budi Mulyono,Sp.PK(K),MM
10.15-11.00

“Titik Titik Lemah dalam Kegiatan di Pemerintahan yang Rawan Untuk Korupsi”

word Download materi

dr. Krisnajaya, MS (Mantan Irjen Kemenkes RI)

11.00-11.45 “Prediksi Korupsi di Masa Mendatang Berdasarkan Struktur Tata Aturan Pembelanjaan Negara”

Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Fak.Hukum UGM 

11.45-12.00 Diskusi
12.00-12.30 ISHOMA
12.30-14.30 Sesi 3. Moderator: Dr.dr. Sugiri Syarief, MPA
12.30-13.15

“Sosialisasi Anti Korupsi di Lingkup Keluarga”

ppt Download materi

Widodo (Pengelola PAUD Fastrack Funschool)

13.15-14.00

“Oleh-Oleh dari Cipinang”

word Download materi

Dr. Achmad Sujudi, Sp.B, MHA (Mantan Menteri Kesehatan RI)

14.00-14.15 Diskusi
14.15-14.30

Kesimpulan dan Penutup

word Download materi

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD.

 

peser Target Peserta

• Direksi dan Pemilik Rumah Sakit
• Pimpinan Pemerintah Daerah
• Pimpinan Partai Politik
• Manajer di Rumah Sakit

 

Diskusi PKMK bulan Mei Tahun 2013

Diskusi PKMK tahun 2013

Pokok Bahasan Surveilans Respons
( Artikel, Kebijakan Kemkes RI)

Kelompok Kerja Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran UGM

8 Mei 2013

  Latar Belakang

Epidemiologi merupakan studi yang mempelajari distribusi dan determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi, serta penerapannya untuk pengendalian masalah kesehatan. Karena penyakit pada manusia tidak tersebar dan terbagi begitu saja secara acak tetapi ada faktor penyebab, maka epidemiologi harus melibatkan pengamatan dan pengukuran yang sistematik tentang frekuensi penyakit dan faktor-faktor yang erat hubungannya dengan kejadian penyakit. Pengamatan secara sistematik dan terus menerus menurut faktor determinan dan distribusi penyakit dan masalah kesehatan yg terjadi adalah surveilans. Dalam tatanan manajemen kesehatan, surveilans berperan sebagai intelijen yang bertugas untuk menghasilkan informasi epidemiologi yang sangat bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan. Surveilans harus ditindak lanjuti dengan respons, dapat berupa respons segera atau respons terencana. Oleh karena itu kegiatan ini sangat penting untuk peningkatan kompetensi para stakeholder, dosen, peneliti, konsultan dan mahasiswa pasca sarjana.

 

  Tujuan
 

  1. Membahas perkembangan kebijakan dan manajemen terkait dengan pelaksanaan surveilans respons.
  2. Membahas metode penelitian, pelatihan dan konsultasi yang dipergunakan dalam surveilans respons.
  3. Meningkatkan kompetensi para stakeholder, dosen, peneliti dan konsultan dalam pemanfaatan sistem surveilans respons proses pengambilan keputusan.
  4. Mengembangkan forum komunikasi antara stakeholder, dosen, peneliti dan konsultan dalam kebijakan dan manajemen kesehatan.

 

  Metode
 

  1. Diskusi ini dipimpin oleh fasilitator yang bertugas :
    –  Memilih dan menjelaskan topik diskusi
    –  Memfasilitasi dan memimpin jalannya tanya jawab
     
  2. Peserta diskusi :
    –  Stakeholder yang terkait dengan topik diskusi ( BBTKL, Pejabat Dinas Kesehatan Provinsi, Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten)
    –  Dosen ,peneliti dan konsultan
    –  Mahasiswa Pasca Sarjana
     
  3. Diskusi akan diselenggarakan sebulan sekali, tempat dan waktu akan disampaikan secara rutin.

Kegiatan ini akan dipancarkan melalui video dan audio streaming, sehingga para peserta yang ada di luar Yogyakarta dapat mengikuti diskusi dengan mendaftar terlebih dahulu.

 

  Jadwal acara :

Diskusi Surveilans Respons PKMK 2013 
8mei 
Bulan Topik Makalah yang ditelaah Fasilitator

Mei

Surveilans respons kematian ibu

Maternal death surveillance and response, Bulletin of the World Health Organization 2011;89:779-779A.

Siti Noor Zaenab

 

 Materi 

  1. Presentasi Proposal Penelitian Surveilans Respons – Sitti Noor Zaenab
  2. Pengantar Diskusi Bulanan (sistem surveilans-respons)
  3. Surveilans Kematian Maternal
  4. Surveilans Respons Kematian Ibu

  Arsip Video Presentasi