Usulan Topik Forum Nasional III

 

Untuk mengisi Usulan Topik Forum Nasional III di Surabaya 2012,

Silahkan isi pada form komentar yang sudah disediakan dibawah ini .{jcomments on}

 

Laporan Pembukaan Forum Nasional II

Acara di buka di Hotel Horison Makassar dengan dihadiri oleh sekitar 183 peserta.

Setelah sebelumnya Forum Nasional Kebijakan Kesehatan I sukses diselenggarakan di Jakarta setahun yang lalu, Forum Nasional II diselenggarakan di Makasar pada tanggal 28 sampai dengan 30 September. Jumlah peserta forum yang berlangsung di Hotel Horison kali ini meningkat cukup signifikan. Tahun lalu hanya dihadiri sekitar 120an peserta, tahun ini menjadi lebih dari 180 orang.

Acara ini diselenggarakan bekerja sama dengan Universitas Hasanudin dan dibuka oleh Dr Trihono, PhD, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan mewakili Menteri Kesehatan. Upacara Pembukaan berlangsung semarak dengan ditampilkannya tarian khas Sulawesi Selatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Prof dr Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D selaku ketua panitia penyelenggara dan koordinator jaringan kebijakan kesehatan indonesia ,dilanjutkan oleh Prof dr Alimin Maidin, MPH, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makasar.
Berikut poin-poin sambutannya:

Pengantar program disampaikan oleh Koordinator Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia

Ada beberapa poin penting dalam sambutannya:

  1. Pertemuan Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia ini berasal dari acara tahunan kelompok peneliti dan pengambil keputusan yang berusaha secara rutin bertemu setahun sekali untuk membahas pelaksanaan desentralisasi kesehatan sejak tahun 2002. Pada tahun 2010 yang lalu, kelompok ini merubah diri menjadi Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia. Jaringan ini bersifat informal untuk mengembangkan kemampuan penelitian kebijakan kesehatan serta untuk meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan.
  2. Dalam dua hari ke depan akan ada 48 peneliti dari seluruh Indonesia yang menyajikan hasil penelitian untuk dibahas para pengambil kebijakan di pusat ataupun di daerah. Dengan format ini diharapkan ada komunikasi antara peneliti dengan pengambil kebijakan. Semua presentasi merupakan isu-isu terkini mengenai kebijakan kesehatan di Indonesia.  Tema pertemuan ini memang membahas proses penyusunan kebijakan mulai dari perumusan agenda sampai ke monitoring dan evaluasi kebijakan. Topik yang dibahas secara khusus adalah kebijakan Jampersal dan BOK.
  3. Di hari ketiga akan dibahas pengembangan kelompok kebijakan di perguruan tinggi dan teknik advokasi. Di dalamnya  termasuk bagaimana menangani aspek ideologi dan keterpihakan peneliti di bidang kebijakan kesehatan. Di sela-sela pertemuan ilmiah akan dilakukan kegiatan memperkuat Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia.

Sambutan Selamat Datang Dekan FKM Universitas Hasanudin

  1. Forum ini merupakan kesinambungan dari pertemuan Forum Nasional I pada tahun 2010 di Jakarta. Forum ini merupakan ajang para peneliti untuk membahas hasil penelitiannya, bagaimana kaitannya dengan penetapan kebijakan-kebijakan kesehatan yang akan ditetapkan oleh pemerintah.
  2. Kebijakan kesehatan di Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar bidang kesehatan. Keberagaman  pengaruh tadi hendaknya tidak membuat suatu kebijakan tidak berpihak pada kepentingan rakyat yang akan merasakannya. Oleh karena itu sangat diperlukan beragam pendekatan kemasyarakatan melalui berbagai studi kasus dan penelitian bidang kesehatan yang diharapkan dapat mendukung pengambilan kebijakan yang tepat .
  3. Selama tiga hari berturut-turut para peneliti akan berbicara mengenai berbagai penelitian kebijakan kesehatan terkini. Dari pertemuan ini diharapkan para peserta dapat menimba ilmu tentang Kebijakan Kesehatan yang diprensentasikan oleh keynote speakers dan para peneliti dari berbagai latar belakang disiplin ilmu.

Sambutan Menteri Kesehatan

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan yang diwakili oleh Dr Trihono, PhD, Ka Badan Litbangkes, Kemenkes menyatakan sangat mendukung acara yang diselenggarakan forum kebijakan kesehatan ini. Menteri Kesehatan yang juga adalah peneliti senior menyatakan bahwa pengambilan kebijakan harus berdasarkan bukti (evidence based policy). Untuk itu Kemenkes dalam hal ini Balitbangkes selalu menyelenggarakan penelitian yang dimulai dari SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) sejak tahun 1990an. Kemudian metode penelitian dan instrumennya terus disempurnakan.

Terakhir dilakukan penelitian Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) dan Risfaskes (Riset Fasilitas Kesehatan). Dari berbagai penelitian ini salah satu hasil yang penting adalah ditetapkannya Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Indeks ini sangat bermanfaat dalam penyusunan kebijakan kesehatan di daerah. Karena dengan indeks ini akan dapat diketahui aspek mana yang bisa diintervensi. Misalnya, di daerah ditemukan bahwa Indeks untuk aspek persalinan oleh tenaga kesehatan rendah, maka intervensi dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan sosialisasi serta penyediaan SDM yang sesuai. Dari IPKM ini telah dapat dipetakan daerah mana yang perlu program Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan.

Program ini pada intinya adalah pendampingan ke daerah yang IPKMnya rendah, dan dijalankan selama 3-5 tahun. Tampak bahwa beberapa daerah tertentu IPKMnya memang meningkat. Bila terdapat daerah yang mendapatkan peningkatan IPKM yang sangat signifikan, maka Kemenkes akan memberikan IPKM award. Inisitatif seperti ini adalah bukti komitmen dari Pemerintah untuk terus mendukung pengambilan kebijakan berdasarkan bukti ilimiah.

 

Strategi Mengkomunikasikan Kebijakan

Hasil penelitian mengenai kebijakan kesehatan seringkali mengandung istilah atau jargon yang sulit dimengerti oleh para politisi atau pengambil kebijakan kesehatan sendiri. Laporan penelitian juga seringkali terlalu panjang dan “untuk menyampaikan satu ide membutuhkan 10 halaman” demikian kata Pauline Dole, dari Internasional Development Research Centre (IDRC), Kanada. Hal ini membuat pengambil kebijakan dan politisi, yang memiliki jadwal padat, tidak sempat mencerna dengan baik laporan tersebut dan akhirnya hasil penelitian kebijakan tersebut terabaikan. Oleh karena itu diperlukan strategi khusus untuk menyampaikan hasil penelitian tentang kebijakan kesehatan.

IDRC, sebuah lembaga non pemerintah di Kanada, di sela-sela Kongres International Health Economic Association, menyelenggarakan pelatihan mengenai Strategic Communication di Sheraton Center, Toronto. Dalam pelatihan tersebut nara sumber Pauline Dole, Senior Public Outreach Officer and Public Affairs, menyampaikan berbagai kritik terhadap akademisi dan peneliti yang seringkali terasing dari dunia nyata. Pauline menyatakan bahwa dalam mengkomunikasikan kebijakan kesehatan banyak media yang dapat dimanfaatkan misalnya policy brief, press release, kartun atau bahkan petisi.

Kelemahan utama para peneliti adalah bagaimana menyimpulkan hasil penelitian dalam bahasa yang dipahami oleh orang yang bukan ahli. Selain itu  cara penyampaian juga harus hati-hati. Salah seorang peserta dari Malaysia mengakui hal tersebut. “Saya merasa frustasi ketika harus berhadapan dengan pengambil kebijakan karena hasil penelitian saya tidak dipakai”, demikian katanya. “Saya memang kritis terhadap kebijakan pemerintah jadi mungkin hasil penelitian saya tidak disukai” tambahnya.

Tips dari Pauline dalam mengkomunikasikan hasil penelitian sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan adalah sebagai berikut:

  1. Perhatikan betul “pesan” atau “message” dari hasil penelitian anda. Pesan yang disampaikan harus jelas dan ringkas. Oleh karena kalau ruang lingkup penelitian anda komprehensif dan luas maka harus dipisahkan dalam beberapa pesan.
  2. Kalau perlu ulangi pesan tersebut dalam berbagai kesempatan pertemuan, baik informal maupun formal. Pauline mengilustrasikan bahwa seorang strategic communicator yang baik adalah yang dapat menyampaikan pesannya kepada 3 orang yang berbeda, dan ketika 3 orang tersebut bertemu mereka dapat mengulangi pesan itu kembali “hampir kata demi kata”.
  3. Jangan sampai pengambil kebijakan menerima pesan justru dari orang lain padahal sebenarnya anda sudah pernah menyampaikan pesan yang sama yang berasal dari penelitian anda. Untuk itu “present yourself well” kata Pauline.
  4. Pengambil kebijakan biasanya mempunyai beberapa staf yang mengerti hal-hal teknis. Anda harus menjalin hubungan baik dengan mereka karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai kontak intensif dengan pengambil kebijakan atau politisi tersebut.

Download Presentasi dan Materi dari Pauline Dole 

Pembukaan Kongres Dunia International Health Economic Association

Laporan Hari III

Hari ini, Senin 11 Juli 2011, Konggres resmi di buka. Konggres ini diikuti oleh 1900 peserta dari lebih 50 negara dan akan mempresentasikan 1100 makalah yang membahas berbagai isu terkait ekonomi kesehatan. Terdapat 9 makalah dari Indonesia, yang dipresentasikan oleh peneliti dari UGM, UI, dan Unpad. UGM diwakili oleh 5 makalah, UI 3 makalah dan Unpad 1 makalah.

Pada pembukaan kongres dipresentasikan Keynote speech dari Katherine Ho, Associate Professor dari Columbia University. Isu yang dibahas dalam keynote speech adalah mengenai pengaruh insentif dokter dalam memilih rumah sakit rujukan. Katherine Ho adalah peneliti yang mendapat penghargaan Kenneth J Arrow karena tulisannya mengungkap teori baru dalam ekonomi kesehatan. Dalam kongres ini juga ada beberapa pembicara yang di dunia ekonomi kesehatan cukup terkenal seperti Adam Wagstaff dan Martin Feldstein.

Datang ke kongres dengan ribuan makalah dan peserta seperti ini dapat diibaratkan datang ke supermarket atau departemen store. Kalau anda tidak punya rencana membeli sesuatu, anda akan bingung. Oleh karena itu dalam laporan kali ini saya hanya akan berbagi beberapa topik yang menarik dan relevan untuk kasus Indonesia, seperti topik-topik berikut ini.

Kemungkinan Amerika Serikat mempunyai Single payer Health Insurance

Sesi ini menarik karena saat ini RUU BPJS yang sedang diperdebatkan di  Indonesia akan menggabungkan asuransi kesehatan dalam satu lembaga. Sesi diselenggarakan dalam bentuk debat dengan pembicara William Hsiao dari Harvard University dan Pembahas Stepen Parente dari University of Minnesota, Menarik bahwa dalam debat tersebut terdapat dua kubu universitas yang mendukung dan menentang single payer system. Dalam argumentasinya Hsiao mengatakan bahwa single payer system sebenarnya mungkin di Amerika karena saat ini system Medicare (asuransi kesehatan untuk orang tua) dan Medicaid (asuransi kesehatan untuk orang miskin) juga sudah merupakan single payer. Namun Parente menganggap bahwa dengan single payer Amerika akan lebih dalam terjebak dalam defisit anggaran, pertumbuhan ekonomi akan terhambat dan “amerika akan kembali ke dalam depresi ekonomi”. Melihat perdebatan tersebut tampaknya ada kemiripan dengan Indonesia. Dan tampaknya perdebatan akan sangat panjang, seperti juga di Indonesia.

Inequity (ketidakadilan) dalam akses pelayanan kesehatan di Asia Pasific.

Sesi ini dibuat khusus untuk anggota Equitap, suatu jaringan peneliti dari berbagai negara Asia Pacific. Di sesi ini berbagai negara berbagi hasil penelitiannya mengenai inequity dalam pembiayaan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia termasuk yang masih belum baik kinerjanya dalam menjamin equity dan equality. Indonesia termasuk negara yang menurut Ravindra Rannan-Eliya (Institute for Health Policy, Sri Lanka) pelayanan kesehatannya masih lebih banyak dinikmati oleh orang yang relatif kaya. Tidak seperti Hongkong yang, orang kaya ataupun miskin, dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Hal itu juga terjadi di India dan Vietnam. Menariknya, di Vietnam, penduduk miskin dapat lebih mudah memanfaatkan layanan kesehatan rawat jalan daripada di Indonesia.  Namun tentu saja analisis ini memerlukan akurasi data. Sayangnya masih terdapat data yang kurang akurat yang harus diperbaiki.

Makalah Dari Indonesia

Pada hari Senin dipresentasikan makalah dari Dr. Budi Hidayat, dari Universitas Indonesia. Ahli ekonomi kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat ini meneliti dampak dari program keluarga harapan (PKH) terhadap perilaku mencari pelayanan kesehatan. PKH sebenarnya adalah pemberian uang kepada keluarga miskin agar mereka teratur melakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan persalinan ke tenaga kesehatan. Dr Budi Hidayat kemudian menganalisis apakah betul setelah dijanjikan imbalan uang, kelurga miskin betul-betul memanfaatkan pelayanan kesehatan. Analisisnya, dengan menggunakan teori dan perhitungan ekonometrik yang cukup rumit, membuktikan bahwa betul, terjadi peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan pada masyarakat miskin. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, apakah PKH perlu diteruskan? Hal ini karena saat ini masih dalam tahap uji coba. Dan apabila diteruskan bagaimana sumber pembiayaannya?

Selain itu terdapat presentasi dari Dr. Henni Djuhaeni dari Universitas Pajajaran Bandung. Dalam makalahnya Dr. Henni menyampaikan makalah mengenai upaya kabupaten/kota di propinsi Jawa Barat untuk menjamin kesehatan masyarakatnya. Setelah desentralisasi kesehatan, banyak daerah yang ingin membentuk lembaga Jaminan Kesehatan daerah. Bu Henni mendapatkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat saat ini sudah membentuk lembaga jaminan tersebut. Namun karena keinginan untuk membayar asuransi kesehatan dari masyarakat masih kurang dan dasar hukum pembentukan masih belum jelas, maka diperlukan upaya yang lebih keras.

Pengorganisasian Kongress

Satu hal yang dapat dipelajari dari penyelenggaraan kongres ini adalah dalam hal manajemen penyelenggaraan. Mengorganisasikan 1900 peserta dan 1100 makalah adalah bukan pekerjaan mudah. Untuk itu panitia telah menyiapkannya setahun sebelumnya. Teknologi internet sangat dioptimalkan pemanfaatannya. Semua pemberitahuan dilakukan lewat website dan email. Seluruh ruangan dilengkapi dengan jaringan wi-fi. Disediakan beberapa laptop statis untuk peserta apabila mereka ingin membuka email atau website. Pengaturan waktu presentasi dilakukan terintegrasi dari website. Panitia, yang diketuai Bill Swan, merekrut lebih dari 200 sukarelawan mahasiswa untuk membantu peserta. Kongres ini juga disponsori oleh 26 perusahaan dan lembaga termasuk International  Development Research Center, Canada; USAID dan lainnya.

Makalah Katherine Ho

The Effects of Conditional Cash Transfer Program on Basic Health Care                                               Services in Indonesia

Makalah Equity

Kuliah Umum Prof. Martin Feldstein dari Universitas Harvard.

Apa Peran Ahli Ekonomi Kesehatan dalam Pembangunan Kesehatan?

Martin Feldstein, Professor senior dari Harvard, mempertanyakan hal itu dalam kuliah umumnya di hari kedua Kongres iHea. Tentu saja, perannya sangat besar. Namun menarik kalau kita menyimak lebih jauh kuliah umum Prof. Feldstein. Disebutkan bahwa Amerika Serikat sampai pada keputusan untuk mengesahkan UU pelayanan kesehatan yang baru karena sumbangan para ahli ekonomi kesehatan. 

Feldstein menyebutkan bahwa salah satu  dasar pengambilan keputusan UU itu adalah prediksi-prediksi ekonometrik dari para ahli ekonomi kesehatan. Dari prediksi-prediksi tersebut tampak dalam 10 – 20 tahun mendatang berapa beban fiscal yang harus ditanggung pemerintah. Dan UU yang resminya disebut Patient Protection and Affordable Care Act ini diprediksikan akan menelan biaya $940 Milyar dalam 10 tahun dan mengurangi defisit anggaran $143 Milyar dalam 10 tahun pertama dan $1,2 trilliun dalam 10 tahun kedua.

Pemerintah Amerika Serikat yang sekarang berkuasa dari partai Demokrat memang dianggap cenderung beraliran “kiri” dan Harvard juga termasuk “kubu” demokrat tampaknya. Ciri-ciri dari aliran kiri ini adalah peran pemerintah yang lebih kuat dalam mengendalikan pasar. Sebaliknya Partai Republik adalah partai beraliran “kanan” yang menentang peran pemerintah yang terlalu besar. Tidak mengherankan kalau sekarang UU Patient Protection and Affordable Care Act ini diancam akan dianulir oleh Konggres yang dikuasai mayoritas partai republik.

Sekedar mengingatkan, UU SJSN di Indonesia telah ada sejak 2004 dan ditandatangani oleh Presiden Megawati, dari PDIP yang merupakan “keturunan”  PNI yang mengusung ideology “kiri”. Sampai saat ini UU tersebut dianggap belum dijalankan. Pemerintah sekarang berasal dari partai lain.

Makalah dari UGM

Pada hari ini UGM membawakan makalahnya yang berjudul “Different Impact after Different Management: the case of Health Insurance for the Poor in Indonesia”. Makalah di bawakan oleh dr. Sigit Riyarto, Mkes. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pada sebelum tahun 2007, ketika program masih bernama Askeskin, orang miskin yang memanfaatkan pelayanan kesehatan lebih banyak daripada ketika setelah tahun 2008, ketika program menjadi Jamkesmas. Selain itu, pembayaran langsung (out of pocket payment) dari orang miskin lebih sedikit ketika program bernama Askeskin, dibandingkan ketika bernama Jamkesmas.

Salah seorang peserta menanyakan: Apakah anda sudah menyampaikan hasil penelitian ini kepada pemerintah anda? Dijawab: sudah, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut.

Komentar penanya: itulah mungkin bedanya antara negara maju dengan negara berkembang. Di negara maju, keputusan strategis didasarkan pada studi ilmiah serius dan didukung ahli-ahli yang teruji. Di negara berkembang keputusan didasarkan pada selera politisi dan lambat dijalankan.

(download makalah UGM)

Metodologi Ekonometrik

Kongres kali ini juga merupakan ajang para ahli ekonometri untuk menguji teori dan metode penelitian. Hampir sepertiga dari makalah yang disajikan adalah makalah tentang uji statistik dan metodologi. Sayangnya tidak banyak ahli di Indonesia yang mendalami hal ini. Padahal ini penting untuk pengambilan kebijakan di tingkat mikro maupun makro. Salah satu contohnya, untuk menentukan apakah pembayaran fee for service lebih memuaskan dokter dibanding pembayaran kapitasi? Logikanya bila pembayaran fee for service lebih memuaskan. Namun penelitian dari Canadian Health Service Foundation, salah satu sponsor acara ini, menemukan bahwa jumlah dokter yang lebih suka fee for sevice berkurang dari 50% di tahun 1995 menjadi sekitar 23% di tahun 2007. Untuk menentukan apakah hal itu betul perlu dibuat mathematical modelling yang tepat dengan memperhitungkan semua variabel yang dapat dikontrol atau dapat diperhitungkan. Dengan metode yang tepat dan modelling yang juga telah teruji, akan semakin sulit orang membantah temuan tersebut.

Metode ekonometrik juga penting untuk mengevaluasi kebijakan kesehatan yang telah dilakukan. Seperti laporan hari ke tiga kemarin, evaluasi Jamkesmas dan Askeskin sebenarnya telah dilakukan dengan uji yang cukup sahih. Dan hasilnya ketika bernama Askeskin, jumlah uang yang dikeluarkan ketika sakit lebih sedikit. Selain itu, metode ini penting juga untuk melakukan prediksi atau konsekuensi ekonomis ketika kebijakan akan dikeluarkan. Misalnya di Indonesia telah dikeluarkan kebijakan Jampersal (jaminan persalinan) namun sampai sekarang belum ada studi ekonometrik yang memprediksi berapa tahun akan dapat bertahan kebijakan tersebut? Faktor-faktor apa yang kemungkinan dapat berpengaruh sehingga orang memanfaatkan atau tidak memanfaatkan? Apakah anggaran yang direncanakan cukup? Modeling matematik-ekonometrik yang teruji untuk memprediksi hal-hal tersebut perlu diteliti. Namun salah seorang tokoh peneliti senior dari Indonesia meragukan studi semacam ini akan dilakukan di Indonesia. ” Banyak kebijakan di Indonesia berdasarkan kepentingan sesaat ” begitu katanya.

Makalah dari Indonesia

Hari terakhir dipresentasikan makalah dari DR Mardiati, dosen Universitas Indonesia yang mempresentasikan Tracking Expenditure on HIV-AIDS Program Intervention: Lesson Learned to Achieve Efficient and Sustainable Financing in Indonesia. Dalam penelitian ini terdapat temuan menarik: program AIDS semakin berkurang ketergantungannya dari proyek asing. Dulu tahun 2006 pemerintah hanya berkontribusi 26,58%, namun pada tahun 2008 sudah menjadi 41,96%. Seorang wakil dari Kementrian Kesehatan yang ikut mendengarkan berbisik: “kalau dihitung saham, pemerintah kita berarti masih minoritas ya, jadi ngga punya kekuatan mengambil keputusan”. Disarankan oleh Bu Mardiati: sebaiknya ketergantungan asing semakin dikurangi.

Kongress iHea akhirnya ditutup oleh Thomas Getzen, Executive Director IHEA, dan kongres ke 9 akan diselenggarakan dua tahun lagi di Sydney. Selama kongres website kebijakankesehatanindonesia.net mengalami kenaikan kunjungan seperti tampak pada di bawah ini. Hal ini menunjukkan ketertarikan dari pemerhati kebijakan kesehatan. Mudah-mudahan website ini dapat menyumbangkan perannya untuk menyebarkan informasi terbaru dan dapat menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan.

Statistik Web untuk Kegiatan Toronto dapat dilihat disini

Strategies for Private Sector Engagement and Public Private Partnership (PPP) in Health

Background
Important changes have occurred in Asian countries and these changes involve not only changes in the landscape of the health sector but also increased challenges in strengthening health systems. In many countries in Asia, the private sector as a key resource and player in addressing health sector concerns has become increasingly important.Not only in Asia but around the world, the public sector has successfully engaged the private sector in addressing health system concerns. A multiplicity of health challenges, coupled with resource constraints, make it imperative for professionals in the public sector to learn how to successfully engage the private sector in order to achieve health sector goals.

This course builds on existing approaches in strategies for private sector engagement and public private partnerships in health and aims at providing participants with analytical and policy-making tools that would better enable them to engage the private sector. It will provide participants with a framework both for analyzing the opportunities for engaging the private sector in a health system as well as for designing strategies and approaches for engaging the private sector to achieve national health system goals.

This year, a new module on private sector engagement in the hospital sector has been added; topics covered in this module include: contracting and purchasing, hospital PPP management and implementation, and capacity planning. Thus, in order to allow for broader discussion of the pertinent issues in PPPs, we will offer participants two tracks to choose from,
hospitals and primary care. The course is designed as a regional course and as such draws heavily on Asian experiences in order to provide a practical and realistic perspective.

Goal
The goal of the course is to provide participants with an understanding of when and how to use the different available strategies and policy instruments for engaging the private health sector in attaining health system goals, particularly in the Asia region, the focus being on hospital and primary care.
 

Objectives

By the end of the course, participants are expected to:

  • Understand how to conduct a private health sector assessment in order to develop strategies for engaging the private sector in attaining health goals, the focus being on primary care and hospitals
  • Understand when and how to use key tools such as regulation, contracting, vouchers and quality assurance/ accreditation for engaging the private sector
  • Understand what is involved in using each of the policy tools to be covered, including  implementation and monitoring challenges
  • Gain understanding about how to draft, implement, monitor and evaluate a sound contract that underlies the partnership
  • Be able to apply the knowledge learned in order to identify opportunities for private sector engagement and PPPs in hospital and primary care in their respective coun tries
  • and develop action plans for engaging the private sector in order to better achieve specifi c health system goals.

 

Participants

  • The primary target audiences for this course are:
  • Senior and midlevel policy makers at national and sub-national level
  • Health policy implementers
  • Health sector managers working with the private sector, and
  • Regulators

The following might also fi nd this course useful:

  • Heads/Directors of Private health care organization associations
  • Hospital managers
  • Faculties and researchers in health policy
  • International organizations/donors representatives.

Course Content

  • A framework to think systematically about publicprivate collaboration in hospital and primary care
  • Assessment of the private health sector within the larger health system and reform agenda
  • Mechanisms to improve the chances of achieving national health goals through partnership with the private sector
  • Case studies to provide a better understanding of private sector engagement in the health system

 

Team of Trainers and Resource Persons

  • World Bank Institute, Washington DC, USA
    Peter Berman, April Harding, Jack Langenbrunner, Tazim Mawji and Rui Sousa Monteiro
    Dominic Montagu, University of California, San Francisco, USA
  • Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand
    Siripen Supakankunti, Jiruth Sriratanaban, Chanetwallop Nicholas Kumthong and Chantal Herberholz
  • Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
    Laksono Trisnantoro and Shita Dewi
  • Asian Institute of Management, Makati City, Metro Manila, Philippines
    Maria Elena B. Herrera and Francisco Roman
  • Aga Khan University, Karachi, Pakistan
    Syed Farid-Ul-Hasnain
  • BRAC University, Dhaka, Bangladesh
    Malabika Sarker
  • Chinese University of Hong Kong, Hong Kong SAR,
    People’s Republic of China
    William Ho and EK Yeoh
  • Other resource persons from other ANHSS members
     

Approach and Methodology
This week long program combines a series of lectures, hands-on case studies, team assignments, group discussions and one fi eld visit. Training materials will feature readings covering key concepts and techniques, case studies, and in-depth background readings. The course will provide the participant an opportunity to develop action plans for engaging the private sector and applying PPP concepts and tools in the areas of hospital and primary care.

 

Download Short Course Material :

 

Semiloka Revisi PP 38/2007

 
 
 
Semiloka
Revisi PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan dan NSPK:
Implikasinya terhadap kepemimpinan Kepala Dinas Kesehatan
serta staf Kementerian Kesehatan
Diselenggarakan oleh
KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Bekerjasama dengan
Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Program Pascasarjana IKM
Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (KMPK) FK UGM
Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes)

Kamis – Sabtu, 30 Juni-2 Juli 2011

Tempat: Hotel Saphir Yogyakarta
Jl. Laksda Adi sucipto No. 38 – Yogyakata

Pengantar

Kebijakan desentralisasi kesehatan di Indonesia telah berjalan lebih dari 10 tahun, sejak mulai berlaku di tahun 2000. Masalah yang masih terus dihadapi adalah kejelasan mengenai pembagian wewenang pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten kota. Dalam proses pelaksanaan kebijakan desentralisasi, pada tahun 2004 telah dilakukan amandemen UU yang menghasilkan UU no 32 tahun 2004 dan PP No 38 tahun 2007 tentang pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan daerah. Saat ini pemerintah merasakan bahwa perlu ada perubahan UU no 32 tahun 2004 yang mungkin akan merubah pembagian wewenang yang diatur PP no 38 tahun 2007 termasuk NSPKnya.

Dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri telah mengantisipasi perubahan tersebut dengan membentuk Kelompok Kerja dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 420/MENKES/SK/II/2011 tertanggal 24 Februari 2011 tentang Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Harmonisasi  Peraturan Menteri Kesehatan Terhadap Peraturan Daerah. Salah satu tugas POKJA Harmonisasi adalah melakukan analisis terhadap peraturan di lingkungan Kementerian Kesehatan yang bersinggungan dengan Peraturan Daerah. Dalam kegiatannya POKJA Harmonisasi telah melakukan serangkaian pertemuan  dengan Unit Utama di lingkungan Kementerian Kesehatan di Bogor untuk membahas rancangan revisi PP 38/2007 dan NSPK.

Dalam konteks tersebut, diperlukan pertemuan lanjutan antara Kementerian Kesehatan yang bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri, KMPK-UGM dan Adinkes untuk memberikan masukan mengenai antisipasi perubahan PP 38/2007. Masukan tersebut diharapkan berasal dari pemerintah daerah (khususnya pimpinan Dinas Kesehatan) di Indonesia dan berbagai pakar dari perguruan tinggi.

Disamping itu diperlukan persiapan untuk pengembangan kepemimpinan  Kepala Dinas Kesehatan dalam mengantisipasi perubahan wewenang pemerintah pusat dan propinsi-kabupaten/kota. Dengan demikian diperlukan suatu pembahasan mengenai kepemimpinan di Dinas Kesehatan melalui kegiatan Semiloka Revisi PP 38/2007tentang Pembagian Urusan dan NSPK : Implikasinya terhadap kepemimpinan Kepala Dinas Kesehatan serta staf Kementerian Kesehatan.

Tujuan Semiloka
1.    Mengkaji draft revisi PP38/2007 dan NSPK dari Kementerian Kesehatan;
2.    Memberi masukan ke Kementerian Kesehatan
3.    Membahas implikasi perubahan terhadap kepemimpinan Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan
 

 

Jadwal Kegiatan

Peserta yang diharapkan:
–    Pimpinan dan Pejabat Eselon II dan III Kementerian Kesehatan
–    Kepala Dinas Kesehatan dan Pejabat Struktural Eselon III Dinas Kesehatan Propinsi
–    Kepala Dinas Kesehatan dan Pejabat Struktural Eselon III Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
–    Direktur Rumah Sakit Daerah / Kota
–    Peneliti dan pengamat kebijakan dan manajemen kesehatan

 

INFORMASI PENDAFTARAN

 

Ratna Sary

Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Telp/Fax. +62274-542900, 547659
Mobile. +628164261996
Email. [email protected]

Angelina Yusridar
Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Telp/Fax. +62274-549425 (hunting)
Mobile. +628111498442
Email. [email protected]

RSVP :
DR. Dra Paudah Darmi : 081210777006
Dr. Emilia Arina : 082114324783
Dr. C. Dewi Rusiana : 081804222180

Biaya pendaftaran:
Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) per orang selama 3 hari kegiatan. Fasilitas: Seminar Kit, CD Materi, sertifikat dan konsumsi.

 

silahkan klik untuk pendaftaran online

Daftar Hotel yang Terdekat dengan Hotel Saphir Yogyakarta

Mohon dapat menghubungi panitia jika menghendaki pemesanan kamar di tempat lokasi semiloka yaitu Hotel Saphir Yogyakarta

 

DAY I – 30 Juni 2011

13.30-14.00 : Pengantar Semiloka
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD
14.00-15.00 : Pembukaan dan Pengarahan:  Menteri Kesehatan RI
dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH
15.00-15.30 : Coffe Break
15.30-17.30 :
17.30-18.30 : ISHOMA
18.30-19.30 : Kajian kebutuhan Daerah dalam pelaksanaan pembagian urusan pemerintahan
19.30-22.00 : Penyajian rancangan revisi PP 38/2007 dan NSPK

  1. Kajian DitJen Gizi dan KIA
  2. Kajian DitJen BinFar  dan Alkes
  3. Kajian DitJen BUK