Hari Kesehatan Nasional Berbuah Rekor Dunia

Jakarta Memperingati Hari Kesehatan Nasional 2017, Kementerian Kesehatan RI melakukan berbagai kegiatan diantaranya dengan senam peregangan yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

Dari aktivitas itu, bukan hanya tercatat di rekor meraih rekor dunia sebagai senam peregangan dengan jumlah peserta terbanyak yakni mencapai lebih dari 120 ribu orang.

Awalnya senam peregangan ini diajukan untuk rekor di Indonesia saja. Namun, Direktur Rekor MURI, Jaya Suprana menolak hal tersebut.

“Senam hari ini diajukan sebagai rekor Indonesia, tapi setelah saya melihat apa yang terjadi di sini, ini bukan rekor Indonesia tapi rekor dunia. Belum pernah terjadi dimanapun. Jadi, kalian semua adalah pencipta rekor dunia,” kata Suprana saat memberikan kata sambutan ke para peserta senam peregangan di kawasan Bundaran HI, Minggu (12/11/2017).

Piagam penghargaan diberikan kepada Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek didampingi oleh pejabat tinggi Kementerian Kesehatan.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kementerian atau lembaga lain seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Lembaga Administrasi Negara, hingga Badan Intelijen Negara, beberapa perwakilan duta besar Negara tetangga.

Senam peregangan merupakan salah satu aktivitas fisik yang masuk dalam fokus program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) 2017. Dua fokus Germas lainnya adalah makan buah, sayur, ikan, serta cek kesehatan secara berkala.

Senam ini dipilih sebagai salah satu cara meningkatkan aktivitas fisik masyarakat yang kini cenderung banyak duduk. Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan senam peregangan tidak hanya berhenti di sini melainkan menjadi aktivitas rutin yang harus dilakukan setiap hari.

“Senam peregangan ini dilakukan tiga menit sehari dua kali. Kami menghimbau di seluruh kementerian atau lembaga, perkantoran pemerintah maupun swasta kita kebanyakan duduk di kantor, lakukan senam peregangan dua kali sehari setiap jam 10 dan jam 14,” imbuh Nila.

Selain itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang ikut hadir dalam acara itu mengaskan agar masyarkat membiasakan hidup sehat. Beragam cara bisa dilakukan agar bisa tetap sehat, seperti dengan banyak bergerak, olahraga, dan makan sehat. Serta tidur cukup dan rutin memeriksakan kesehatan (deteksi dini).

Cara untuk menjaga kesehatan ternyata ada yang bisa dilakukan dengan murah dan tak perlu mengeluarkan uang.

“Obat penting, tapi berolahraga merupakan kebiasaan sehat. Tidak merokok, merupakan upaya kesehatan yang murah,” ujar Jusuf Kalla.

http://news.liputan6.com/

 

Obesity a bigger threat to world health than malnutrition: Global Nutrition Report 2017

Overweight and obesity are on the rise in almost every country, with 2 billion of the world’s 7 billion people being overweight or obese, says The Global Nutrition Report 2017.

In India, 16% of adult men and 22% of adult women are overweight.

The study, conducted across 140 countries, says there is a less than 1% chance of meeting the global target of halting the rise in obesity and diabetes by 2025.

Undernutrition in children is decreasing globally, but progress is not fast enough to meet internationally-agreed nutrition goals, including the Sustainable Development Goals (SDG) target to end all forms of malnutrition by 2030.

According to the report, 155 million under-fives are stunted; and 52 million children worldwide are defined as wasted, meaning they do not weigh enough for their height.

The report brings to light the crucial need to tackle the double burden of undernutrition and obesity, in order to address India’s national nutrition strategy.

Thirty-eight percent children in India under the age of 5 are affected by stunting, and 21% of under 5s are defined as ‘wasted’ or ‘severely wasted’, meaning they do not weigh enough for their height.

Rising rates of anaemia in women of reproductive age is also a big concern, with the report showing more than half of India’s women and almost one in three women affected worldwide and no country on track to meet global targets.

A staggering 88% of countries studied face a serious burden of two or three forms of malnutrition.

“The world can’t afford not to act on nutrition or we risk putting the brakes on human development as a whole,” said Corinna Hawkes, co-chair, Global Nutrition Report’s Independent Expert Group, and director, of the Centre for Food Policy at City, University of London.

“We will not achieve any of the Global Goals for SDGs by the 2030 deadline unless there is a critical step change in our response to malnutrition in all its forms. Equally, we need action throughout the goals to tackle the many causes of malnutrition.”

Where India stands

  • 38%: Stunted under-5 children
  • 21%: Wasted’ or ‘severely wasted’ under-5 children who weigh less for their height
  • 16%: Overweight adult men
  • 22%: Overweight adult women
  • 51%: Anaemia in women of reproductive age

Source: The Global Nutrition Report 2017

http://www.hindustantimes.com/

 

Penduduk Indonesia Berisiko Tinggi Terkena Katarak

Katarak atau kekeruhan lensa mata merupakan proses degeneratif yang pada umumnya karena faktor usia dan sampai saat ini merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia maupun dunia.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dikeluarkan Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, prevalansi katarak adalah 0,1% per tahun atau setiap tahun di antara 1.000 orang terdapat seorang penderita katarak baru.

Penduduk Indonesia juga memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropis. Sekitar 16%-22% penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun.

Sebagai rangkaian peringatan World Sight Day (WSD) atau Hari Penglihatan Sedunia yang peringatannya jatuh pada Kamis kedua pada Oktober dengan tema Make Vision Count , JEC menyelenggarakan Bakti Katarak di JEC @Kedoya.

“Bakti Katarak merupakan bentuk kontribusi JEC dalam rangka mengurangi jumlah penderita katarak. Hal ini juga sejalan dengan komitmen JEC mendukung program pemerintah Bebas Buta Katarak 2020,” kata Dr Setiyo Budi Riyanto SpM, Ketua Service Katarak dan Bedah Refraktif JEC dan Direktur Utama JEC @Menteng.

Dalam seluruh tindakan operasi katarak, JEC menerapkan standar baku tanpa melihat latar belakang pasien. Dukungan pengalaman dan pengetahuan tenaga medis dalam bidang kesehatan mata modern serta dukungan fasilitas layanan medik dan nonmedik terkini menjadi faktor kesuksesan pelaksanaan operasi.

Untuk setiap kegiatan Bakti Katarak, JEC menjalin kerja sama dengan Perhimpunan Dokter Mata Se- Indonesia (Perdami) dan Gerakan Matahati. “Sebagai upaya menghadirkan layanan terdepan kepada pasien, kami secara konsisten terus menerapkan teknologi mutakhir dan mengembangkan kualitas teknologi operasi mata serta dukungan fasilitas, tim medis dan nonmedis yang kompeten di bidangnya,” papar dr Budi.

Untuk diketahui, setiap tahunnya angka katarak di Indonesia terus mengalami peningkatan, di mana diperkirakan 280.000 angka katarak terus bertambah setiap tahunnya. Sementara penduduk dengan usia 50 tahun ke atas merupakan usia yang paling berisiko terkena katarak.

Namun, ada kondisi tertentu yang dapat menyebabkan katarak terjadi di usia 40 tahun. Umumnya akibat penyakit diabetes melitus. Gula darah yang tidak terkontrol menyebabkan komplikasi pada penglihatan.

Selain diabetes, adanya trauma di bola mata juga bisa memicu katarak usia muda, meski angka kejadiannya masih kecil. Sejak awal berdirinya, JEC secara konsisten menyelenggarakan kegiatan operasi katarak gratis. Sepanjang 2017, sekitar 200 penderita katarak dari masyarakat kurang mampu telah menjalani operasi.

Sebagai tindakan edukasi dan pencegahan, JEC juga melakukan beberapa kegiatan penyuluhan dan seminar bekerja sama dengan lembaga atau institusi guna memberikan pemahaman tentang pentingnya kesehatan mata dan mengimbau secara rutin melakukan pemeriksaan.

“Dengan mengikuti penyuluhan dan seminar yang diselenggarakan JEC, kami berharap dapat membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya kesehatan mata,” kata dr Muhammad Yoserizal SpM, ketua panitia Bakti Katarak. (Sri Noviarni)

https://lifestyle.sindonews.com/

 

 

Menkes Dinilai Berhasil Selenggarakan Kesehatan Haji

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, menerima dua penghargaan penyelenggaraan kesehatan ibadah haji dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi atas keberhasilan penyelenggaraan kesehatan haji Indonesia 2017 atau 1438 Hijriah.

“Saya menyambut gembira dan terima kasih kepada PPIH Bidang Kesehatan Arab Saudi dan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) atas penghargaan dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi atas kegiatan pembinaan pelayanan dan perlindungan kesehatan jemaah haji Indonesia,” kata Menkes dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Kamis (2/11).

Penghargaan yang diterima Menkes ialah “Health Awareness Ambassador Program in Hajj Season 1438 H for Indonesia Hajj Medical Mission 2017” yang sebelumnya telah diberikan oleh Kepala Program Kesadaran Kesehatan dalam Haji, Muneera Khaled Balahmar, kepada dr Etik Retno Wiyati di Gedung KKHI Mekah pada akhir September lalu.

Penghargaan yang kedua ialah penghargaan atas keberhasilan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekah dalam mendukung Program Kesehatan Haji tahun 1438 Hijriah yang sebelumnya diberikan Dirjen Pelayanan Kesehatan Daerah Mekah, Musthafa bin Jamil Baljun, kepada Melzan selaku Kepala Seksi KKHI Mekah di Auditorium RS Wiladah, Mekah, pada 26 September 2017.

Penghargaan ini diterima Indonesia mengingat sejumlah keberhasilan program penanganan kesehatan jemaah haji oleh KKHI, antara lain kegiatan promotif preventif oleh Tim Promotif Preventif, pelayanan kuratif di KKHI, dan pelayanan gerak cepat di lapangan. cit/E-3

http://www.koran-jakarta.com

{jcomments on}

World Health Organisation warns of airborne Madagascar plague spreading to Africa

The organisation has said more than 1,300 people have become infected with the disease, which is primarily affecting Madasgascar off the coast.

It has spent millions of dollars in efforts to fight the disease and has sent specialists to the affected areas in cities like Antananarivo.

Figures from the WHO state at least 93 people have died, and there was a high risk it could spread to countries on the eastern coast of the continent of Africa, like Tanzania, South Africa and Mozambique.

Some of the cases of plague are reported to be pneumonic, which means it can be transmitted by coughing or sneezing, and is airborne.

It is almost always fatal if left untreated, but if caught early enough, can be eliminated with antibiotics.

The disease is caused by the same type of bacteria which wiped out nearly 50 million people in Europe during the years of the Black Death.

Read more at http://talkradio.co.uk/

Puan pastikan penanganan kekerdilan juga entaskan kemiskinan

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani memastikan penanganan masalah kekerdilan pada anak atau “stunting” juga akan mengentaskan kemiskinan di desa-desa.

“Jika sudah ditetapkan mana saja desa di kabupaten itu, dengan program-program yang sudah dimiliki oleh kementerian-lembaga negara tadi, bukan tidak mungkin kalau program intervensi penangan stunting ini dapat menjadi program pengentasan kemiskinan di desa-desa,” kata Puan dalam rapat koordinasi tingkat menteri tentang penanganan kekerdilan di kantor Kemenko PMK Jakarta, Rabu.

Menurut Puan, pembangunan sarana sanitasi, embung desa, sarana air bersih, PAUD, Polindes dan sebagainya dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk melakukan pencegahan tetapi juga dapat mulai membudayakan gerakan hidup bersih dan sehat.

Program intervensi penanganan kekerdilan pada anak menyasar delapan kabupaten untuk tahun 2017.

Sementara itu, program intervensi penanganan kekerdilan di tahun 2018 akan menyasar 100 kabupaten-kota.

“Pada dasarnya semua kementerian dan lembaga sudah punya program intervensi penanganan stunting. Yang terpenting sekarang adalah kita harus menentukan dengan jelas mana saja desa yang menjadi lokasi sasaran program intervensi ini,” tutur Menko PMK.

Desa yang akan ditentukan menjadi sasaran program intervensi adalah desa yang punya angka kekerdilan tinggi dan kekurangan sarana sanitasi, air bersih serta fasilitas layanan kesehatan.

Prevalensi anak yang mengalami kekerdilan di Indonesia tercatat 27,5 persen pada 2016. Angka tersebut telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya dan lebih rendah dari target penurunan stunting yang sebesar 28 persen.

“Meskipun menurun, stunting tetap jadi masalah serius bagi kita,” tegas Menko PMK. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan angka prevalensi kekerdilan maksimal 20 persen.

http://www.antaranews.com/

 

Mugabe, pemimpin kontroversial Zimbabwe jadi duta badan kesehatan PBB

WHO, badan kesehatan dunia PBB, menunjuk Presiden Robert Mugabe dari Zimbabwe sebagai ‘duta’ lembaga itu untuk membantu mengatasi penyakit tidak menular.

Pimpinan WHO yang baru Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus memuji Zimbabwe atas komitmennya terhadap kesehatan masyarakat.

Namun para pengamat mengatakan bahwa di masa pemerintahan Mugabe yang sudah berlangsung selama 37 tahun, layanan kesehatan Zimbabwe justru memburuk.

Disebutkan, pemerintah sering tidak membayar gaji para staf dinas kesehatan, sementara pasokan obat-obatan pun sering mengalami kelangkaan.

Dr Tedros, warga Etiopia, adalah orang Afrika pertama yang memimpin WHO.
Dia terpilih dengan mandat untuk menangani politisasi yang dirasakan di dalam organisasi PBB tersebut.
Pada Juni lalu, Dr Tedros menggantikan Margaret Chan, yang telah 10 tahun memimpin WHO.

Keputusan kontroversial

Imogen Foulkes, BBC News, Jenewa

Penunjukan Robert Mugabe yang berusia 93 tahun ini menimbulkan keheranan di antara banyak negara anggota WHO dan para donor.
Status sebagai duta WHO memang sekadar merupakan status yang sangat simbolis. Namun simbolisme memberikan status itu kepada orang yang kepemimpinannya di Zimbabwe, menurut para pengamat, penuh dengan catatan pelanggaran hak asasi manusia berat, seentara layanan kesehatan negeri itu juga merosot, akan sangat tidak populer.

http://www.bbc.com/

 

Robert Mugabe Was Just Appointed a World Health Organization ‘Goodwill Ambassador’

Zimbabwean President Robert Mugabe has been called a lot of things by supporters and critics over his 94 years on this planet: revolutionary; freedom fighter; dictator; alleged perpetrator of human rights violations. He’s about to add another controversial moniker to the list—”Goodwill Ambassador” to the World Health Organization (WHO).

New WHO director-general Tedros Adhanom Ghebreyesus announced that Mugabe would be a goodwill ambassador to the public health agency at a conference in Uruguay. Mugabe, according to Ghebreyesus, who is from Ethiopia, could then leverage the high profile (if largely symbolic) role “to influence his peers in his region,” ostensibly referring to African countries. Mugabe would be an ambassador on broad health issues like noncommunicable diseases such as heart disease and cancer.

The decision was immediately met with outrage by major public health and medical groups like Cancer Research UK, the World Heart Federation, Action Against Smoking, and about two dozen others who slammed Mugabe’s “long track record of human rights violations.” Zimbabwe has faced long-standing international sanctions over such allegations—including of violent crackdowns on political dissidents, claims of electioneering, and starkly anti-LGBT policies. Economic crises have also rocked the nation, making health recovery efforts that much more difficult.

So why would the WHO make such a controversial appointment? Part of the answer may lie in Zimbabwe’s significant life expectancy reversal in recent years. When Mugabe first came to power in 1980, average life expectancy was just over 59 years, according to the World Bank. It fell precipitously through 1990s and mid-2000s in the wake of the HIV epidemic, ongoing economic turmoil, collapsing health and food resources. “The government of Robert Mugabe presided over the dramatic reversal of its population’s access to food, clean water, basic sanitation, and health care,” wrote the charity group Physicians for Human Rights in 2008, two years after life expectancy in Zimbabwe had fallen catastrophically to just over 42 years.

But Zimbabwe has also taken steps to buck the trend over the past decade and life expectancy is now back to about the level it was at when Mugabe took office. The country has dedicated far more resources toward HIV testing and treatment than many other African nations and enlisted young frontline community health care workers to combat HIV/AIDS and provide primary medical services to local communities. That’s likely what led Tedros to refer to Zimbabwe as “a country that places universal health coverage and health promotion at the center of its policies to provide health care to all” during his speech.

The rationale may not be good enough for many who point to Mugabe’s use of state violence and homophobic policies and rhetoric which may, for instance, lead fewer at-risk men to get tested for HIV/AIDS. But it appears the WHO doesn’t want the perfect to be the enemy of the good in public health initiatives, controversial though the Mugabe decision may be.

source: http://fortune.com/

 

7 000 newborns die every day, despite steady decrease in under-five mortality, new report says

At current trends, 30 million newborns will die within first 28 days of life between 2017 and 2030

News release

19 OCTOBER 2017 | NEW YORK/GENEVA/WASHINGTON DC – Every day in 2016, 15 000 children died before their fifth birthday, 46% of them – or 7 000 babies – died in the first 28 days of life, according to a new UN report.

Levels and Trends in Child Mortality 2017, reveals that although the number of children dying before the age of five is at a new low– 5.6 million in 2016, compared with nearly 9.9 million in 2000 – the proportion of under-five deaths in the newborn period has increased from 41% to 46% during the same period.

“The lives of 50 million children under-five have been saved since 2000, a testament to the serious commitment by governments and development partners to tackle preventable child deaths,” said UNICEF Chief of Health, Stefan Swartling Peterson. “But unless we do more to stop babies from dying the day they are born, or days after their birth, this progress will remain incomplete. We have the knowledge and technologies that are required – we just need to take them where they are most needed.”

At current trends, 60 million children will die before their fifth birthday between 2017 and 2030, half of them newborns, according to the report released by UNICEF, the World Health Organization, the World Bank and the Population Division of UNDESA which make up the Inter-agency Group for Child Mortality Estimation (IGME).

Most newborn deaths occurred in two regions: Southern Asia (39%) and sub-Saharan Africa (38%). Five countries accounted for half of all new-born deaths: India (24%), Pakistan (10%), Nigeria (9%), the Democratic Republic of the Congo (4%) and Ethiopia (3%).

“To achieve universal health coverage and ensure more newborns survive and thrive, we must serve marginalized families,” says Dr Flavia Bustreo, Assistant Director-General for Family, Women’s and Children’s Health at WHO. “To prevent illness, families require financial power, their voices to be heard and access to quality care. Improving quality of services and timely care during and after childbirth must be prioritized.”

The report notes that many lives can be saved if global inequities are reduced. If all countries achieved the average mortality of high-income countries, 87% of under-five deaths could have been averted and almost 5 million lives could have been saved in 2016.

“It is unconscionable that in 2017, pregnancy and child birth are still life-threatening conditions for women, and that 7 000 newborns die daily,” said Tim Evans, Senior Director of Health Nutrition and Population at the World Bank Group. “The best measure of success for Universal Health Coverage is that every mother should not only be able to access health care easily, but that it should be quality, affordable care that will ensure a healthy and productive life for her children and family. We are committed to scaling up our financing to support country demand in this area, including through innovative mechanisms like the Global Financing Facility (GFF). ”

Pneumonia and diarrhea top the list of infectious diseases which claim the lives of millions of children under-five globally, accounting for 16% and 8% of deaths, respectively. Preterm birth complications and complications during labour or child birth were the causes of 30% of newborn deaths in 2016. In addition to the 5.6 million under-5 deaths, 2.6 million babies are stillborn each year, the majority of which could be prevented.

Ending preventable child deaths can be achieved by improving access to skilled health-professionals during pregnancy and at the time of birth; lifesaving interventions, such as immunization, breastfeeding and inexpensive medicines; and increasing access to water and sanitation, that are currently beyond the reach of the world’s poorest communities.

For the first time, mortality data for older children age 5 to 14 was included in the report, capturing other causes of death such as accidents and injuries. Approximately 1 million children aged 5 to 14 died in 2016.

“This new report highlights the remarkable progress since 2000 in reducing mortality among children under age 5,” said UN Under-Secretary-General for Economic and Social Affairs Mr. LIU Zhenmin. “Despite this progress, large disparities in child survival still exist across regions and countries, especially in sub-Saharan Africa. Yet many deaths at these ages are easily preventable through simple, cost-effective interventions administered before, during and immediately after birth. Reducing inequities and reaching the most vulnerable newborns, children and mothers are essential for achieving the SDG target on ending preventable childhood deaths and for ensuring that no one will be left behind.”

The report also notes that:

  • In sub-Saharan Africa, estimates show that 1 child in 36 dies in the first month, while in the world’s high income countries, the ratio is 1 in 333.
  • Unless the rate of progress improves, more than 60 countries will miss the UN Sustainable Development Goal (SDG) to end preventable deaths of newborns by 2030 and half would not meet the target of 12 neonatal deaths per 1,000 live births by 2050. These countries account for about 80% of neonatal deaths in 2016.

Notes to editors

Broadcast quality images and b-roll available here. Download the report here.

About UN-IGME

The United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation or UN IGME was formed in 2004 to share data on child mortality, harmonise estimates within the UN system, improve methods for child mortality estimation report on progress towards child survival goals and enhance country capacity to produce timely and properly assessed estimates of child mortality.

UN-IGME is led by UNICEF and includes WHO, the World Bank Group and the United Nations Population Division of the Department of Economic and Social Affairs. For more information visit: http://www.childmortality.org/ 

sumber: http://www.who.int/

 

Peneliti: 62 Ribu Warga Indonesia Tewas Akibat Polusi Udara

Jakarta – Jika diibaratkan, Indonesia seperti berada di sebuah persimpangan yang penuh dilematika. Ditakdirkan dengan kekayaan alam yang melimpah namun begitu sulit untuk diolah. Punya banyak sumber daya mineral ternyata tak menjadikan Indonesia tampak 100 persen sejahtera.

Ada begitu banyak ancaman yang mengintai apabila seluruh kekayaan alam itu dikeruk secara rakus tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan kesehatan.

Saat ini, pasokan listrik di Indonesia sangat bergantung dari jumlah batu bara yang terkandung di dalam perut bumi. Tanpa memikirkan keseimbangan lingkungan, Tanah Air terus memanfaatkan energi dari satu sumber saja.

Jika ditelaah lebih dalam, pemakaian batu bara sebagai pemasok listrik akan menimbulkan gas buangan yang dapat memperparah kondisi udara.

Pencemaran udara — khususnya partikel PM 2,5 dan PM 10 — akibat pemanfaatan batu bara sebagai sumber tenaga listrik akan semakin parah apabila pemerintah terus mengutamakan PLTU Batu Bara sebagai sumber energi utama.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2016 lebih dari 80 persen negara di dunia memiliki tingkat pencemaran udara yang melebihi ambang batas.

Sebuah analisis terbaru dari International Energy Agency (IEA) tahun 2016 bahkan memperkirakan, polusi udara bertanggung jawab atas kematian dini 60 ribu orang di Indonesia.

Isu lingkungan beserta dampaknya dipandang kian gawat dan memprihatinkan. Untuk itu, sebuah acara bertajuk Addressing Indonesia’s Air Pollution Through Energy Policy Change diadakan guna menginformasi masyarakat seputar ancaman yang akan kita hadapi di masa depan.

Selain itu, acara ini juga bermaksud untuk mengajak semua warga Indonesia untuk beralih menggunakan energi terbarukan yang jauh lebih ramah lingkungan dan tak menimbulkan kerusakan alam sama sekali. Karena Indonesia tak boleh hanya bergantung pada satu sumber daya saja.

Acara yang diselenggarakan oleh beberapa badan seperti International Institute for Sustainable Development (IISD), Global Subsidies Initiative (GSI), dan Centre for Energy Research Asia (CERA) ini menghadirkan beberapa peneliti, pakar, pegiat lingkungan dan pihak internasional yang resah akan kondisi dunia saat ini, termasuk Indonesia.

Dalam pemaparannya Peneliti Senior IISD Philip Gass menyebut, ada mitos yang harus dihapuskan dari pemikiran masyarakat dunia terutama pemangku kebijakan di Indonesia yang mengatakan bahwa energi terbarukan adalah sebuah opsi yang ‘mahal’.

“Jika kita telaah bersama, jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk penyediaan fasilitas dan sistem energi terbarukan memang lebih mahal dibanding penggunaan energi fosil (batu bara). Tetapi hitung-hitungan kami mengungkap fakta lain. Untuk penyediaan pasokan listrik lewat energi terbarukan akan membutuhkan biaya sebesar 11 sen per kwh,” ujar Philip Gass saat menjelaskan persentasinya kepada media yang hadir di Rework Kuningan Jakarta, Rabu (18/10/2017) siang.

“Beda halnya dengan biaya yang dikeluarkan untuk pasokan listrik lewat energi fosil, hanya membutuhkan 4 cent per kwh,” tambahnya.

Namun, jumlah yang dikeluarkan untuk efek pencemaran lingkungan akan jauh lebih besar. Pemerintah harus mempertimbangkan efek rumah kaca, pembuangan emisi gas yang dikeluarkan akan membutuhkan biaya yang menyamai pasokan listrik lewat energi terbarukan.

“Jumlahnya akan sama saja, 11 sen per kwh, ditambah dengan ancaman lingkungan dan kesehatan warga Indonesia akibat pencemaran udara tersebut,” pungkas Philip.

Selain itu, manusia tak bisa selalu bergantung pada pemanfaatan energi fosil. Kekayaan mineral yang ada di perut bumi ada batasannya. Beda dengan energi terbarukan yang memanfaatkan energi matahari, angin, air, ombak dan lainnya yang tak akan pernah habis.

Jika, pasokan batu bara sudah menipis dan langka tentu hal ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Secara otomatis harga listrik akan naik dan membuat masyarakat tercekik dengan nominal uang yang harus dibayar untuk menggunakan listrik.

62 Ribu Warga Indonesia Meninggal Akibat Pencemaran Udara

International Institute for Sustainable Development (IISD) punya angka seputar biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk pasokan listrik menggunakan energi fosil di tahun 2015.

Dari total biaya dan efek kerugian lingkungan serta kesehatan, tiap tahunnya pemerintah Indonesia menghabiskan uang sekitar US$ 644 juta atau setara dengan Rp 8,5 triliun.

Sedangkan pembiayaan pasokan listrik lewat energi terbarukan — tanpa menanggung biaya kerugian kerusakan alam dan kesehatan — tiap tahunnya menghabiskan US$ 133 juta atau setara dengan Rp 1,8 triliun.

“Rp 8,5 triliun adalah angka yang begitu besar. Lebih baik biaya sebanyak itu digunakan untuk hal yang lebih berguna,” ujar Philip.

“Bayangkan saja, dengan uang sebanyak itu setara dengan jumlah rata-rata pendapatan bagi 3,3 juta orang Indonesia dan dapat menyekolahkan sekitar 485 ribu siswa jurusan hukum di Universitas Gajah Mada untuk satu semester. Dan apabila Rp 8,5 triliun dibagikan kepada seluruh orang Indonesia, maka setiap warga akan menerima uang sebesar Rp 33 ribu,” paparnya.

Bicara soal efek kesehatan, IISD sendiri tahun 2012 mencatat ada sekitar 62 ribu masyarakat Indonesia yang tewas akibat polusi udara — meski tak semua akibat efek pemanfaatan batu bara.

Apabila dipersempit, total warga Indonesia yang meninggal akibat efek pengolahan batu bara sebanyak 6500 orang untuk tahun 2015.

Jadi kesimpulannya, apabila hanya melihat biaya produksi saja tentu pemanfaatan energi fosil untuk listrik jauh lebih murah. Tetapi ada banyak efek yang harus kita pertimbangkan untuk kelangsungan hidup.

Denmark dan Swedia Kampanyekan Energi Terbarukan Dunia

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Head of Develompent Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia, Kurt Morck Jensen dan Head of Unit Swedish Energy Agency, Paul Westin.

Sebagai dua negara di Kawasan Nordik yang terlebih dahulu menerapkan sistem energi terbarukan, kedua perwakilan kedubes itu membagi pengalaman yang tak mudah bagi negaranya ketika ingin menerapkan sistem serupa.

“Ada beberapa alasan mengapa Denmark mengajak pemerintah Indonesia untuk beralih pada energi terbarukan. Salah satunya agar anak cucu di Tanah Air dapat hidup dengan aman dan tentram di bumi yang kita pijak saat ini,” ujar Jensen.

“Pada tahun 1973, terjadi krisis energi di dunia. Untuk itu negara kami menyadari bahwa minyak bumi dan batu bara bukan satu-satunya alternatif. Ada begitu banyak energi yang disediakan untuk alam. Maka dari itu kami memulai hal tersebut,” tambahnya.

Jensen juga mengatakan, sejak 35 tahun yang lalu Denmark memulai pemanfaatan energi terbarukan. Salah satu energi utama yang dimanfaatkan oleh Denmark adalah ‘angin’.

“Dapat kami jelaskan, perjalanan hingga titik ini tidaklah mudah. Ada banyak krikil penghalang. Diskusi juga begitu alot. Pasalnya, perencanaan penerapan energi terbarukan tak hanya berbicara seputar ilmu pengetahuan belaka, melainkan cara kita berbicara di ranah politik dan parlemen. Ada beberapa regulasi yang harus kami hadapi sebelumnya,” jelas Jensen.

“Atas perhatian kami, pemerintah Denmark sudah bekerja sama dengan pihak Indonesia melalui dirjen energi terbarukan yang terbentuk sejak tahun 2013. Kala itu, kami memberikan hibah bantuan dan kini sudah beranjak pada ranah strategis kolaborasi,” tambahnya.

Sama halnya dengan Denmark, pihak Swedia pun mendukung penuh apabila Indonesia akan serius untuk beralih ke energi terbarukan.

“Kami tak pernah melarang Indonesia menggunakan hasil kekayaan alamnya seperti batu bara. Tetapi ingat, dalam konteks masa depan, sepatutnya Indonesia tak boleh bergantung pada satu sumber energi saja. Kalian harus bergerak dan tak boleh berdiam diri,” ujar Paul Westin.

“Saat terjadi krisis energi akibat penambangan batu bara, kandungan sulfur pada tanah begitu tinggi. Terjadi kerusakan pada hutan, bahkan bangunan-bangunan rumah seketika anjlok,” jelasnya.

Pemerintah Denmark dan Swedia Kenakan Pajak Polusi (Green Tax)

Meski begitu, Denmark dan Swedia memahami tentang perbedaan antara masyarakat di negaranya dan Indonesia. Bagi mereka harus ada pemahaman yang diberikan kepada masyarakat luas — terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

“Tentu banyak orang yang masih awam dengan pengenalan sumber energi terbarukan. Namun, lewat sini masyarakat harus tahu bahwa penggunaan energi fosil sangat merugi. Uang yang dikeluarkan sebaiknya digunakan untuk pendidikan gratis dan biaya berobat. Tentu hal ini akan jauh lebih bermanfaat,” ujar Paul.

“Di Swedia sendiri, masyarakat akan disadarkan dengan bahaya emisi gas. Setiap orang akan dikenakan pajak apabila membuang emisi gas dan hal itu dikenal dengan Green Tax atau pajak polusi. Setiap orang akan dikenakan biaya sekitar US$ 100 atau setara dengan Rp 1,3 juta per ton gas emisi,” tambah Paul.

Jensen menanggapi hal ini dalam konteks lain. Bagi dirinya, apabila kebijakan seperti ini diterapkan dalam birokrasi akan jauh lebih memberi efek.

“Masing-masing kandidat dalam pemilihan umum bahkan mengkampanyekan hidup sehat dengan program kenaikan biaya Green Tax. Jadi, lingkungan yang sehat sudah menjadi gaya hidup,” ujar Jensen.

sumber http://global.liputan6.com/